Accepted:
Desember 2021
Revised:
Februari 2022
Published:
Februari 2022
Studi Aliran Filsafat Pendidikan Islam Serta Implikasinya Terhadap Pengembangan Pendidikan Islam
Muhammad Syafiq Mughni
Universtas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya E-mail: [email protected]
M. Yunus Abu Bakar
Universtas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya E-mail: [email protected]
Abstract
The long journey of Islamic education that has grown to date is strongly influenced by the thoughts of its driving figures in implementing the existing learning system in the educational institutions they develop. The thoughts of the education driving figures are driven by the intersection between the socio-cultural realities faced by these figures with the religious thoughts they profess, namely Islam. With the literature study method, this study aims to identify the schools in Islamic educational philosophy, the purpose of this research is to find out the construction of Islamic thought, especially Muslim philosophers about education, because we know that education is a human way of life. The results of this research can later be used as a philosophical foundation for every educational practitioner. In the results of this study found the schools of Islamic education philosophy, namely 1) al-muhafid 2) Al-Diniy Al-Aqlaniy and 3) al-dzara'iy. In addition to finding the schools in Islamic educational philosophy, this study also finds the implications of these schools with the development of Islamic education curriculum. The pattern of development of Islamic education in the perspective of the al-Muhafidz school only has an orientation to form students who are aware of the hereafter, in contrast to the Al- Diniy Al-Aqlaniy school, in addition to being oriented towards the sciences of the hereafter, in its educational development this school also integrates religious education and natural education. and arithmetic. As for the flow of al-dzara'iy more to the practical sciences.
Keywords: Philosophy; Development; Education
Abstraksi
Perjalanan panjang pendidikan Islam yang telah tumbuh berkembang hingga saat ini sangat dipengaruhi oleh pemikiran tokoh-tokoh penggeraknya dalam melaksanakan sistem pembelajaran yang ada pada lembaga pendidikan yang mereka kembangkan.
Pemikiran tokoh penggerak pendidikan didorong oleh persinggungan antara realitas sosial-kultural yang dihadapi tokoh tersebut dengan pemikiran agama yang mereka anut yakni agama Islam. Dengan metode studi pustaka Penelitian ini bertujuan untuk mengenalisa aliran-aliran dalam filsafat pendidikan Islam, tujuan dalam penelitian ini ialah untuk mengetahui kontruksi pemikiran para tokoh Islam, khususnya para filsuf Muslim tentang pendidikan, karena kita tahu bahwa pendidikan merupakan way of life manusia, lebih lanjut lagi Hasil penelitian ini nantinya juga bisa dijadikan sebuh landasan filosofis bagi setiap praktisi pendidikan. Dalam hasilnya penelitian ini menemukan Aliran-aliran filsafat pendidikan Islam yakni 1) al-muhafid 2) Al- Diniy Al-Aqlaniy dan 3) al-dzara’iy. Selain menemukan aliran dalam filsafat pendidika Islam, penelitian ini juga menemukan adanya implikasi aliran-aliran tersebut dengan pengembangan kurikulum pendidikan Islam. Pola pengembangan pendidikan Islam perspektif aliran al-muhafidz hanya mempunyai orientasi membentuk pserta didik yang sadar akhirat saja, berbeda dengan aliran Al-Diniy Al- Aqlaniy, selain berorientasi kepaa ilmu-imu akhirat, dalam pengembangan pendidikannya aliran ini juga mengintregasikan pendidikan agama dan pendidikan alam dan ilmu hitung. Sedangkan untuk aliran al-dzara’iy lebih kepada ilmu-ilmu yang praktis.
Kata Kunci: Filsafat; Perkembangan; Pendidikan.
Pendahuluan
Transformasi pola dan konsep pendidikan Islam dari mulai era sahabat nabi hingga era modern ini tidaklah terlepas dari rumpun-rumpun pemikiran para filsuf, baik filsuf Muslim atau filsuf barat. Hal ini menunjuukkan bahwa dunia modern sangatlah berhutang banyak pada dunia kuno, artinya sekian perubahan dalam segmen pendidikan ini secara mendalam sudah difikirkan diera kuno dulu.
Kendatipun demikian, produk-produk pemikiran filosofis yang radikal dan integral tersebut tidaklah luput dari kondisi sosial ekonomi, politik dan budaya yang mempengaruhi pola berfikir filsuf tersebut. Jadi, jika kita mau mendalami sebuah pemikiran filsuf penddikan maka kita juga harus menganalisa situasi yang bersinggungan dengan filsuf tersebut, sehingga diharapkann nantinya kita bisa mengetahui secara holistik tentang apa dan bagaimana motiv pemikian tersebut muncul dan dikembangkan pada saat itu.1
1 Ahmad Salim, “Implikasi Aliran Filsafat Pendidikan Islam Pada Menejemen Pendididikan,”
LITERASI (Jurnal Ilmu Pendidikan) 5, no. 1 (2017): 13.
Dalam Islampun demikian, persinggungan antara filsuf pendidikan Islam yang berada di barat dan filsuf pendidikan Islam yang berada di timur tidak begitu sama, ada banyak titik singgung, hal ini disebabkan oleh pemaknaan Islam itu sendiri, dalam segmen-segmen tertentu agama Islam dimaknai sebagai suatu realitas historis yang bisa dikaji, diragukan dan disusun sebuah konsep ajarnya, dan dalam segmen-segmen yang lain agama Islam dimaknai sebagai suatu normativitas yang permanen dan tidak bisa ditafsir ulang.2 Hubungan antara pendidikan dan falsafat pendidikan menjadi sedemikian pentingnya, sebab ia menjadi dasar yang menjadi tumpuan suatu sistem pendidikan. Falsafat pendidikan berperanan penting dalam suatu sistem pendidikan karena ia berfungsi sebagai pedoman bagi usaha-usaha perbaikan, meningkatkan kemajuan dan sebagai dasar yang kokoh bagi tegaknya sistem pendidikan.3
Apalagi Islam. Dalam sejarahnya, filsuf Islam pernah terbagi menjdi dua firqoh besar, yakni filsuf yang berada di Timur dengan nuansa mayoritas masyarakat yang sudah mapan secara spiritual dan norma keagamaan dengan firqoh filsuf Muslim yang berada di barat yangmana nuansa sosial dan budayanya sudah tentu jauh berbeda. Artinya, sosio-kultural yang bersinggungan dengan masing-masing filsuf tersebut akan sangat dapat mempengaruhi, sehingga dalam khazanah pemikiran filsafat Islam murni, ada sebuah kajian tentang apa hakikat pendidikan Islam yakni ontolgi, bagaimaan cara menjalankan pendidikan Islam, hingga nilai atau value dan fungsi pendidikan Islam yang dalam hal dikaji sesuai sumber utama keilmuan Islam yakni al-qur’an dan al-hadist.4
Pendidikan Islam, dalam teori dan praktiknya pernah mengalami trnasformsi pemaknaan, metodologi dan fungsinya. Ini dikarenak ia sebagai hal yang konseptual bersumber pada akal dan wahyu, tidak seperti prouduk pemikiran pendidikan barat pada umunya, yang hanya mengunakan rasio dan akal serta didukung dengan adanya sosio kultral, politik dan ekonomi untuk menyusun sebuah konsep baku pendidikan.
Dalam Islam, taraf ideal dari sebuah konsep pendidikan ialah ketika konsep pendidikan tersbeut mencakup dua dimensi, yakni dimensi teosentris dan dimensi antroposentris.5
Mengkaji filsafat pendidikan Islam berarti melakukan sebuah kajian yang mendalam, radikal, integral, luas dan tak jarang menuntut kita untuk mempelajari
2 M Amin Abdullah, “Falsafah Kalam Di Era Postmodernisme” (1995).3
3 Yunus Abu Bakar, “Filsafat Pendidikan Islam,” Inspiratif Pendidikan 6, no. 2 (2017): 2.
4 Ibid. 17
5 Abd. Rachman Assegaf, Filsafat Pendidikan Islam: Pradigma Baru Pendidikan Hadhari Barbaris Integratif Interkonektif, 2011.20
ilmu-ilmu lain dalam Islam, layaknya sastra bahasa, Tafsir, Hadist, psiko-analisis, sosiologi, ekonomi dan politik, sehingga nantinya produk pengkajiannya bisa mendalam dan integral.6 Berbeda dengan filsafat pendidikan barat, yang dari awal dibangunnya di yunani dulu hanya berfokus pada asal kejadian segala sesuatu yang ditimbang dari rasio, dan segala bentuk instrumen penialain kebenaran ialah akal.
Kemudian instrumen kebenaran berubah, berawal dari rasio manuia ke dogma gereja. Pada fase kedua khazanah keilmuan barat, instrumen kebenaran dibawah oleh geraja yang dipelopori oleh Thomas Aquinas.7 Dan pada saat yang sama, ketika barat tidak lagi bertuhan pada rasio manusia, manuskrip-manuskrip pengetahuan barat diboyong ke timur dan diterjemhkan. Maka jangan heran, acap kali produk pemikiran barat juga ikut mewarnai setiap derap pendidikan Islam hingga kini.
Dalam khazanah keilmuan barat, sebuah pengetahuan tidaklah lahir dari pandangan suatu Agama terstentu. Bahkan dalam beberapa kasus, pengetahuan diklaim sebagi sesuatu yang bebas nilai. Sehingga hasil akhirnya juga bebas intervensi.8 Tetapi, kendatipun demikian, jika dikaji lebih dalam tidalah seperti itu, sebenarnya hanya terbebas dari suatu Nilai Agama apapaun. karena pada saat itu Agama dianggap sebagai sesuatu yang menyesatkan, dungu dan menyebabkan seorang yang mendalami agama akan cenderung berpasrah dan tidak menggunakan rasionya.9 Sebuah pengetahuan dalam khazanah pemikiran barat hanya dibangun diatas tradisi dan diperkuat oleh spekulasi-spekulasi filosofis. Akibatnya tak hran, jika antara era satu dengan era yang lain sebuah instrument kebenaran mengalami pergeseran.
Hal yang demkian sangatlah jauh berbeda dengan filsafat pendidikan Islam, yangmana pondasi dan akar kebenarannya selalu tetap, yakni al-qur’an dan al-hadist.
Seperti yang penulis singgung daiatas bahwa firqoh filsuf pendidikan Islam tegolong menjadi dua firqoh besar, yang pertama ialah golongan yang mempunyai corak pemikiran kritis, dan yang kedua mempunyai corak tradisionalis.10 Hal ini disebabkan karena konsep pengkajian filsafat pendidikan Islam ada yang ditumpukan pada tujuan pendidikan Islam, ada juga yang ditumpukan kepada dasar
6 Mohammad Noor Syam, Filsafat Kependidikan Dan Dasar Filsafat Kependidikan Pancasila (Usaha Nasional, 1986).221
7 Ahmad Tafsir, “Filsafat Umum Dan Hati Sejak Thales Sampai Capra” (Rosdakarya, Bandung, 2004). 43
8 Iu Rusliana, “Filsafat Ilmu Bahan Ajar Mata Kuliah Filsafat Ilmu Mahasiswa PTAI Dan Umum”
(Refika Aditama, 2017). 30
9 Tafsir, “Filsafat Umum Dan Hati Sejak Thales Sampai Capra.”. 43
10 Muhaimin, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam (Pustaka Pelajar bekerjasama dengan PSAPM, Pusat Studi Agama, Politik, dan …, 2003). 4
dan hakikat pendidikan Islam dan juga metode serta tata-cara pendidikan Islam, sehingga tak heran jika memunculkan beberapa golongan yang tidak bermuara pada titik temu yang sama.
Tapi walaupun dikarenakan wilayah dan budaya yang ditempati para filsuf Muslim berbeda-beda sehingga menyebabkan pemikiran merekapun beragam, setidaknya ada satu perspektif yang bisa mengakumulasikan pemikiran mereka, kentalnya perspektif agama terhadap pendidikan di kalangan filsuf Muslim menjadi perekat pemikiran mereka untuk merumuskan konsep pendidikan Islam yang ideal.
Hanya saja kerangka etik ini belum mampu memunculkan keseragaman dalam hasil pemikran. Tetapi akan sangat mustahil juga jika pemikiran meraka tidak beragam, ketika mereka mengalami hidup dalam derasnya arus pemikiran yang lahir dari asimilasi antara pemikiran Islam murni dengan warisan khazanah keilmuan helenistik, Budaya india dan budaya Persia yang pada saat kholfah al-makmun sangat membahana.11
Bedasarkan dasar pemikiran diatas, maka Penelitian ini berfokus pada aliran- aliran dalam filsafat pendidikan Islam, dalam pengkajiannya nanti penulis memfokuskan pada tiga tokoh, yakni Al-Ghazali, Ikhwan as-shafa dan ibnu khaldun.
Sebab menurut penelusuran penulis mereka bertiga inilah sebagai represtasi dari masing-masing firqoh pemikiran filsafat pendidiakn Islam. Dalam aliran Konservatif diwakiliki oleh Al-Ghazali, dalam aliran Religius-rasional diwakili oleh Ikhwan As- shofa dan dalam aliran Pragmatis-Progresif diwakili oleh Ibnu Khaldun. Setelah penulis mengkaji tentang masing-masing pemikiran pendidikan Islam pada setiap firqoh tersebut, penulis akan memperbandingkan antara Aliran Filsafat Islam dan Alran Filsfaat Umum, hingga nanti akan ditemukan sebuah impliaksi terhadap konsep pendidikan Islam. Baik nanti implikasinya dengan kurikulum, metode, atau bahkan evaluasi pendidikan Islam.
Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif, yang berfokus ada pencarian aliran-aliran filsafat pendidikan Islam dalam lieratr-litarut tertentu. Dengan menggunkan teknik analisis pustaka atau library research penelitin menguraikan sgala sumebr pustaka yang ada untuk mnemukan implikasi dari alran-aliran fisafat pendidikan Islam terhadap pengembangan pendidikan Islam. Adapun litarur itu terdiri dari jurnal-jurnal yang yang sudah terindeks oleh sinta. Hal ini dilakukan untuk memperoleh landasan teori dan
11 Ibid. 70
menyimpulkan hasil pembahsan yang sesuai, sehingga memudahkan penulis menyelesaikan artikelnya dari sumber-sumber yang terkait.
Hasil Penelitian dan Pembahasan Aliran Al-muhafidz12
Aliran Al-muhafidz menurut hemat penulis merupakan aliran Konservatif- Tradisiolis. Aliran ini memaknai pendidikan Islam dengan makna yang sangat sempit, yakni hanya ilmu-ilmu yang dibutuhkan dan ilmu-ilmu yang memberikan manfaat kelak di akhirat. Pemikiran dari firqoh ini mewajibkan seseorang yang menuntut ilmu harus diawali dengan mempelajari Al-qur’an, bahkan jika memungkinkan seseorang tersebut diupayakn untuk menghafalkan ayat demi ayat dalam Al-Qur’an. Selanjunya mempelejari Ulumul Al-Qur’an, karena dengan mempelajari Ulumul Al-Qur’an seserang yang mencari ilmu tersebut bisa memahami dengan seksama maksud dan motiv ayat demi ayat dalam Al-Qur’an.
Maka jika kedua mata pelajaran tersebut sudah selesai, dilanjutkan dengan mempelajari Al-Hadist dan Ulumul Al-Hadist, karena Al-Hadist merupakan sumber pengetahuan kedua setelah Al-qur’an bagi umat Islam. Setelah itu para penuntut ilmu atau peserta didik mulsim diarahkan untuk mempelajari ilmu ushul dan Nahwu atau tata bahasa. Hal ini diamaksudkan agar para peserta didik Muslim secara paripurna mampu memahami dan menafsirkan maksud dan tujuan dari Al-qur’an.13
Tokoh-tokoh dalam aliran ini antara lain ialah: Imam Al-Ghazali, Nasuruddin Al-tusi, Ibnu jama’ah, Sahnun, Ibnu hajar Al-haitami, dan Al-qobisi. Para tokoh dalam aliran ini membuat klasifikasi ilmu pengetahuan, yakni Ilmu pengetahuan yang wajib dipelajari secara indvidu dan ilmu pengetahuan yang wajib dipelajari secera keterwakilan. Nasiruddin al-tusi dalam kitabnya mengibaratkan yang pertama sebagai makanan pokok, jika sesorang tidak memiliki dan mengenyam itu maka seserorang tersebut kelaparan dan mati. Selanjutnya, ia mengibaratkan jenis ilmu yang kedua dengan Obat, yangmana obat hanya dokonsumsi hanya ketika terpaksa saja.
Imam Al-Ghzali juga membagi jenis-jenis ilmu yang dapat dipelajari oleh peserta didik Muslim, yakni ada yang dinamakan ilmu yang terpuji dan ilmu yang tercela, untuk ilmu yang terpuji ialah jenis ilmu-ilmu agama dan kebutuhan ibadah seseorang. Sedangkan jenis ilmu yang tercela ialah Ilmu Ukur, Imu Mantiq, Ilmu
12 Salim, “Implikasi Aliran Filsafat Pendidikan Islam Pada Menejemen Pendididikan.”. 15
13 Muhammad Jawwad Rido, Tiga Aliran Utama Teori Pendidikan Islam; Perspektif Sosiologis- Filosofis (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2002).60
Ketuhanan (theologi), dan Ilmu Kealaman. Lebih lanjut Imam Al-Ghazali membrikan tambahan yakni:
a. Ilmu ukur dan hitung bisa dipelajari ketika ilmu itu memnag dibutuhkan dan tidak mengarah pada perbuatan tercela dan bisa memungkiri Tuhan seperti halnya menghitung Bintang dan Rotasi bulan untuk meramalkan suatu kejadian b. Ilmu Mantiq dan theologi, ialah ilmu yang mempelajari tentang tatacara menyusun argumentasi, definisi, dan berdebat, maka ilmu ini dikawatirkan akan menjurus ke seuah hal yang terscela, ketika seseorang mandalam Ilmu Maniq dan seseorang tersebut menyusun argmentasi bahwa Tuhan itu tidak ada.
c. Ilmu kealaman, ilmu ini juga dikategorikan oleh imam Al-ghazali sebagai Imu yang terera karena betentangn dengan Syara’. Adapun ilmu kelaman ialah imu yang mempelajari tentang anatomi tubuh manusia, keculi jika memang benar- benar dibutuhkan untuk sebuah pengobatan dan kedokteran maka itu diperbolehkan.14
Pandanagn aliran Al-muhafidz atau Konservatif-tradisionalis ini cenderung vertikal, dan sesuai dengan pemaknaan mereka tentang vitalitas ilmu, yang tidak lain hanyalah agar bisa mendekat kepada Allah SWT. Imam Al-Ghazali dengan tegas menyatakan instrumen untuk mendekatkan diri kepada Allah hanyalah bisa dilakukan dengan menggunkaan rasio dan akal budi. Dengan Rasiolah manusia bisa menerima titah Allah SWT sebagai Khalifah di Bumi dan dengan akal budilah manusi bisa mendekatkan diri kepada-Nya.
Aliran Al-Diniy Al-Aqlaniy
Menurut hemat penulis, aliran ini mempunyai corak berpikir yang Religius- rasionalis, sebenarnya aliran ini tidak jauh berbeda dengan aliran sebelumnya, yakni Konservatif-Tradisionalis, hanya saja aliran yang kedua ini cenderung Rasional Filosofis, hal ini karena disebabkan oleh zaman dan letak geografis para tokoh pemikiran aliran ini berbeda dengan aliran yang pertama tadi.
Ikhan As-shofa ialah tokoh yang dianggap penulis sebagai representasi dari corak pemikiran Al-diniy Al-Aqlaniy ini. Ia mengakui bahwa segala ilmu dan sastra yang tidak mengantakan seserang menuju ke akhirat maka ilmu tersebut akan menjadi boomerang suatu saat kelak. Ia berpendapat bahwa Ilmu merupakan penggambaran dari Jiwa seseorang yang mempelajarinya, maka lawan dai ilmu adalah kebodohan. Artinya tiadanya gambaran bagi seseorang. Dan percayalah bahwa jiwa seorang ‘alim dan seseorang masih dalam tahap belajar itu sama, yakni
14 Ibid. 75
sama-sama berusaha untuk menggerakkan setiap potensi pribadi dan melahirkan hal- hal yang tersipmpan dalam Jiwa.15
Jiwa pelajar ialah jiwa yang berpotnsi untuk mengetahui, artinya setiap pelajar harus mempunyai kesiapan untuk belajar. Sebuah proses pembelajaran menurut aliran ini tidak lain untuk mentransformasikan potensi-potensi manusia agar menjadi manusia yang mampu berkembang sesuai psikomotorik. Konepsi seperti ini sudah terlihat berbeda dengan konsep pengetahuan berbasis intuitif yang dimiliki oleh aliran pertama tadi (konservatif-Tradisionalis).
Aliran ini menempatkan filsfat diatas agama, aliran ini menggunakan filsafat sebagai landasan untuk memahami agama dan ilmu. Ini disebabkan penilaian mereka tantang kebudayaan suku badui yang bersahaja, untuk menyikapi formasi nalar orang badui yang seperti itu maka filsafat digunakan sebagai landasan untuk memahami agama. Sedangkan bagi mereka yang mempunyai Pengetahuan tinggi diharuskan untuk menggunakan ta’wil agar tidak terperanhkap dala pemahaman lafdzi-indrawi.
Untuk itulah aliran ini berupaya dengan sungguh mengolaborasian antara filsfat dan agama, sehingga aliran ini merubah Ilmu pengetahuan dari puncak spekulasi murni yang tidak dapat dijangkau layaknya metafisika, kearah ilmu yang bisa dijangkau secara aktif-praksis.16
Selain Ikhwan As-shoffah yang tergolong dalam alian Al-diniy Al-aqlaniy ini terdapat juga beberapa pemikir Muslim yang corak pemikirannya cenderung Religius-Rasionalis. Anatara lain ialah Al-farabi, Ibnu Sina, Ibnu Maskawih. Hal yang menarik bagi para peneliti ialah aliran ini merupakan aliran pemikir Muslim yang dengan getol mengolaborasikan antara filsafat dan agama, dan juga kemesrahan mereka dengan madzhab-madzhab Rasionalis Yunani, bahkan ada dari beberapa peneliti yang menyebut aliran Ikhwan As-shofa dengan “Pemburu Hikmah ke Barat”. Dengan titik tempur mereka yang sangat bebeda itu maka mereka merumuskan kaidah kaidah dan landasan pendidikan baru bagi kaum Muslim.
Al-farabi misalnya, ia telah menganalisis manusia secara fungsional-organik, dari hasil analisanya ia menemukan enam tingkatan potensi insani manusia yang menjadi pusat perkembngan eksisteninya. Temuan Al-farabi menyatakan bahwa ketika manusia baru saja lahir maka potensi insani yang berfungsi hanyalah Fitrah Al-ghodziyah (pencernaan), setelah itu baru muncul adanya potensi Perasa, maka dari itu anak dalam usia dini ketika sudah bisa menjalankan pencernaanya dengan baik maka aktivitas merespon warna akan muncul, sehingga diikuti oleh
15 Ibid. 79
16 Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005).47
kecenderungan-kecenderungan pada anak tersebut untuk beraksi. Selanjutnya, potensi menghafal dan merekam mulai muncul, setelah anak tersebut merespon setiap fenomena indrawi yang ia lihat, maka selanjutnya akan ia rekam dan ia hafal.
Dan selanjutnya setelah potensi merekam itu sempurna maka akan lahir potensi Eksplorasi-Imajinasi, ini yang disebut dengan Fitrah Mutahoyyilah. Dalam tahap ini anak tersebut mulai bisa memilah dan memilih sekian model penampakan indrawi yang ia lihat, ia sudah bisa mengasosiakan apa yang sudah masuk dalam indranya, ia rekam lalau ia hafal. Dan yang terakhir ialah Potensi Menalar atau yang disebut dengan Fitrah Al-muthlaqah, yakni dalam fase ini, anak sudah bisa mingidentfikasi antara mana warna yang terang dan mana warna yang redup. Potensi yang terakhir inilah yang membuat anak akan kretaif, inovatif dan imajinatif dengan cara mengasosiasikan setiap fenomen yang ia lihat.17
Hasil analisis yang dilakukan al-farabi tersebut sudahlah jelas, bahwa harapannya sebuah pola pendidikan Islam harus menyesuikan masa perkembangan potensi insani yang dimiliki peserta didik tersebut. Sehingga tidak akan terjadi yang dinamakan “ejakulasi-dini” dalam proses pendidikan Islam. Sebab jika perkembangan ini tidak diperhatkan maka akan menyebabkan kerusakan pada perkebangan peserta didik.
Dikala aliran ini mendapatkan gencaran kritik dari Imam Al-Ghazali tentang Ilmu kealaman mereka yang tidak sesuai syara’, ilmu-imu tersebut justru menemukan posisi yang terhormat dalam khazanah ilmu pengetahuan, bahkan sekelas dengan ilmu matematika dan ilmu agama.
Aliran Al-Dzara’iy
Corak pemikiran Aliran ini cenderung Pragmatis-Progresif, dan Ibnu Khaldun lah yang paling representatif dalam corak pemikiran ini. Aliran in sebenarnya tidak kurang komprehensifnya dengan aliran Religious-Rasionalis, yakni dalam pemaknaan tujuan penidikan Islam lebih mengarah ke sebuah hal yang bersifat aplikatif-praksis.
Selain pemaknaan ulang tentang ontologi pendidikan Islam, aliran ini juga memetakan ilmu pengetahuan berdasarkan tujuan-fungsionalnya, bukan hanya bedasarkan hakikat dan nilai subtansinya belaka. Maka dari itu aliran ini membagi
17 Rido, Tiga Aliran Utama Teori Pendidikan Islam; Perspektif Sosiologis-Filosofis. 90
jenis ilmu pengetahun menjadi dua. Yakni macam Ilmu yang bersifat Instristik dan macam Ilmu yang bersifat Ekstrinsik-Instrumental.18
Untuk jenis pertama, yakni macam ilmu yang bersifat intrinsik antara lain Ilmu-ilmu Keagmaan, Tafsir, Hadist, Fiqih, Kalam, Ontologi dan Teologi dari cabang Filsafat. Sedangkan yang tergolong Macam ilmu yang kedua yakni golongan ilmu Ekstrinsik antaa lain Tata-gramatikal bahasa, Ilmu Hitung, Ushul Fiqh dan Filsafat. Aliran filsafat pendidikan Islam ang dikembangkan oleh Ibnu Khaldun ini merupakan sebuah Angin segar bagi khazanah keilmuan Islam, ketika aliran konsevatif berfokus pada pembatas skulerissi pendidikan Islam, dan aliran rasional- religius berfokus pada pengakumuliasian segala jenis keilmuan Islam, sehingga sangat banyak yang dimasukkan dalam kaetegori ilmu pengetahuan, maka aliran Pragmatis ini hanya mengakomodir keilmuaan yang bersifat praksis yang terikat dengan kebutuhan langsung manusia. Baik kebutuhan tersebut berupa pemantapan mental, pemapanan inteleltual dan dahaga spiritual.19
Walapun ibnu khaldun berusaha mengolaborasikan anatara falsah dan agama tetapai kecenderungan ibnu khaldun terhadap filsafat terlihat lebih dominan.
Disadari atau tidak ketika ia memberikan penegasan bahwa al-fikr (akal-rasio) adalah sebuah instrument pemahaman dari beberapa hal yang sebelumnya belum ia ketahui. Selain itu, ketia ia menjadikan eksplorasi intelektual sebagai alat yang istimewa untuk menganalisa gejala-gejala yang timbul belakagan. Ia memahami bahwa eksplorasi intelektuan denga al-fikr merupakan metoe objektif dala penyingkapan hukum alam. Dan yang terakhir ialah ketika ia menilai bahwa sebuah konsep pembelajaran ialah sebuah aktifitas al-fikr maka akal kecerdasan sangat berkompeten dalam meyelesaikan hal ini. Sehingga menjadikan seorang pembelajar menjadi paripurna dengan al-fikrnya.
Persinggungan antara FPI dan FPU
Sebenarya tidaklah patut jika kita memperbandingkan antara filsafat pendidikan Islam dan filsafat pendidikan umum (barat) yangmana kedunya ini sudah jelas dari hulunya. Sudah dijelaskan diatas bahwa Filsafat pendidikan umum hanya berorientasi ke ranah Rasional, sedangkan untuk Filsafat pendidian Islam ialah ranah asmilasi akal dan wahyu. Tetapi, jika memperbadingkannya ini dalam hal epistimologi kayaknya agak sedikit mungkin. Yakni ketika sebuah sistem filsafat
18 Muhammad bin Khaldun and Al-Allamah Abdurrahman, Mukaddimah Ibnu Khaldun (Pustaka Al Kautsar, 2001).536
19 Ibid. 600
pada umumya sangat menentangkan antara wahyu dengan akal, tetapi tidak untuk filsafat pendidikan Islam, akal dan wahyu berjalan beriringan walupun tekadang porsinya yang berbeda. Maka disini penulis akan mencoba merumuskan sebuah tinjauan yang berbeda anatar filsafat pendidikan Islam dan filsafat pendidikan umum. Anatara lain:
a. Ditnjau dari Idelogi20
Idelogi berasal dari kata idea atau idein dan logos atau logia yang mempunyai artian nalar yang terorganisir, yang mempunyai orientasi dan simbol-simbol yang menjadi dasar bagi segala hal.21 Islam memiliki konsepsiidelologi yang sanagt berbeda dengan barat, apalag barat modern.
Idelogi Islam yang sudah final ini bersumber dari Al Qur’an dan al-Hadist, Sedangkan Barat memiliki idelogi yang fariatif, idelogi-ideologi yang diusung oleh paham barat ialah nalar berfikir yang hanya berasal dari paham rasional murni bukan rasiobal religious seperti konsep-konsep yang diusung oleh beberapa filsuf muslim yang berada di barat. Alhasil corak ideologinya cenderung materialis-kapitalis walaupun tidak smua, karean di barat juga ada beberapa filsuf yang masih memegang teguh dogma agama sebagai ladasan berpikirnya, sepertihalnya tomas Aquinas.22 Tetapi walaupun begitu tetaplah berbeda, karena barat mayoritas agama Kristen yang pastinya pula beredoman pada injil bukan al-quran dan al-hadist. Menurut hemat penulis, perbedaan mendasar ini yang mnyebabkan bedanya pendidikan yang dikembangkan dengan nalar orientasi liberal dengan nalar orientasi religus.
b. Ditinjau Dari Nilai23
Dalam teorinya, nilai bisa dibagi menjadi dua, yakni value dan scors. Dan yang dimakusd penulis dalam literatur ini ialah Nilai yang berupa value, dalam kajian Aksiologi sistematika filsafat ilmu, value dibagi menjadi dua yakni Etika dan Estetika, dalam etika terkandung sesuatu antara benar dan salah, sedangkan dalam estetika terkandung sesuatu anatara indah dan hina. Maka dalam hal ini nilai-nilai yang menjadi titik singgung antara paham filsafat Barat dan paham filsafat Islam ialah sesuatu yang bersifat Normatif yang menentukan tingkah
20 Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam: Di Sekolah, Madrasah, Dan Perguruan Tinggi (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2005). 88
21 Ahmad Mubaligh, “Relasi Bahasa Dan Ideologi,” Lingua: Jurnal Ilmu Bahasa Dan Sastra 5, no. 2 (2010).
22 Tafsir, “Filsafat Umum Dan Hati Sejak Thales Sampai Capra.”. 24
23 Ramayulis, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Kalam Mulia, 2019). 5
laku yang diinginkan bagi suatu sistem.24 Dalam hal ini, Nilai Pendidikan Islam sudah pasti bersumber dari nilai-nilai Al Qur’an dan al-Hadist, baik nilai-nilai tersebut tergolong sebagai nilai theosentris atau humansentris, kaean al-qur’an dan al-hadzit ialah sebuah rujuan umat muslim yang sudah final, dengan kelenturannya al-qur’an dan al-hadist bisa terus berlaku seiring berjalannya zaman. Sedangkan nilai pendidikan pendidikan yang dikembangkan dengan bertumpu pada nalar filsafat Barat ialah berupa kebudayaan humansntris yang dibuat dan disepakati berdasarkan akal fikiran dan kondisi sosial. Hal ini sangat jelas ketika kita membaca dan mendalami Kontrasnya konsepsi pendidikan yang dikembangan oleh Plato di Akademi Plato dan konsepsi pendidikan yang dikembangkan oleh John Dewey. Karena memang hanya bertumpu pada kondisi sosial politik yang disepakati akal pikiran saja.25
c. Ditinjau Dari Orientasi
Pendidikan Islam secara tegas mengarahkan para peserta didik untuk matang secara intelektul dan mapan secara spiritual. Hal inilah yang menjadi dasar bahwa Pendidikan Islam mempunyai dua orientasi, yakni orientasi duniawi dan orientasi ukhrawi. Karena spiritual tanpa intelektual akan menjadi pincang dan intelektual tanpa spiritual akan buta.26 Hal ini sangat berbeda dengan tradisi intelektual yang dikembangkan oleh barat, pendidikan Barat orientasinya hanya pada perkara duniawi semata. Artinya pendidikan barat lebih prakts-pragmatis, pendidikan harus terikat efesiens waktu, tempat dan situasi. Sedangkan didalam Islam kehidupan akhirat merupakan realitas dari kehidupan dunia yang fana. Hal inilah yan nantnya akan membuat konsep pengembangan lembaga pendidikan sangat berbeda, antara lembaga pendidikan yang bertump pada landasan filosofis barat dan landasan filosofis Islam.
Apabila suatu lembaga pendidikan bertumpu pada nalar pemikiran filsafat pendidikan Islam, maka akan ditemukan rmpun rumpun integritas keilmuan antara agama dan sains, anatara agama dan sains, karena memang kedua kutub tersebut tidak bia dipisahkan.
24 Ade Imelda, “Implementasi Pendidikan Nilai Dalam Pendidikan Agama Islam,” Al-Tadzkiyyah:
Jurnal Pendidikan Islam 8, no. 2 (2017): 227–247.
25 Ahmad Tafsir, “Pengantar Filsafat Pendidikan Islam” (Bandung: PT. Al-Ma’arif, 1989). 57
26 Mujamil Qomar, Epistemologi Pendidikan Islam: Dari Metode Rasional Hingga Metode Kritik (Jakarta: Erlangga, 2005). 76
d. Ditinjau dari Pendekatan27
Sebenaranya, didalam filsafat pendidikan ilam sendiri terdapat dua pendekatan. Yakni pendekatan wahyu dan pendekatan sejarah. Pendeatan wahyu digunkaan untuk mengurakan Nalar dasar pemikran Islam yang berseumber pada al-qur’an. Didalam pendekatan pertama ini menggunakan instrument akal budi dan rasio relegius. Memaknai al-qur’an yang digunakan sebagai lanasan dan orientasi pendidikan Islam tidak bisa hanya menggunakan literalistic atau hanya lafdziyah saja. Dalam hal ini rasio digunakan untuk sebagai pengarah penafsiran dari norma-norma yang terkandung dalam al- qur’an tersebut.28 Selanjutnya pendekatan sejarah, pendekatan sejarah dalam filsafat pendidikan Islam digunakan untuk menela’ah emikiran-pemikiran filsuf muslim terkait pendidikan, hal ini dharapkan mampu memberikan pembaharuan dan tidak mennggalkan tradisi yang baik.
Kedua pendekatan tersebut pastilah sangat berbeda dengan pendekatan yang digunakan oleh barat yang bersifat empiris-matrealis untuk menguraikan konsepsi tentang Pendidikan.29
Implikasi Aliran FPI Terhadap pengembangan Pendidikan Islam.30
Para praktisi pendidikan Islam harusnya sadar secara kritis-tranformatif bahwa pendidikan hars diolah mulai dari hulu hingga hilir. Artinya para praktisi pendidikan tidak bisa langsung mengoreksi dan mengganti metode dan pendekatan dalam pendidikan sebelum perumusan falsafah pendidikan di sebuah lembaga pendidikan tertentu dianggap final. Inilah kenapa menjadi penting ntuk mengetahui implikasi sebuah teori filsafat dan keterhubungannya dengan pelaksanaan pendidikan dewasa ini, hal inilah yang menjadikan pendidikan islam selalu bisa menghadirkan angina segar yang bisa mentransformasikan peserta didik dalam segi kognitif, afektif dan psikomotorik. Bermula dari perspektif profesionalitas-teknikalis, para ahli pendidikan Muslim membedakan 'secara tegas antara pendidikan (al-tarbiyah) dan pengajaran (al-ta'lim) dan Pelatihan (Ta’dib).
Para Pemikir Pendidikan Muslim menuntut agar pengajaran ragam ilmu pengetahuan dilaksanakan secara bertahap, dari yang sederhana menuju hal yang kompleks seiring dengan taraf kematangan dan kesanggupan Peserta Didik dalam
27 Ibid. 71
28 Arifin Zein, “Tafsir Alquran Tentang Akal (Sebuah Tinjauan Tematis),” Jurnal At-Tibyan: Jurnal Ilmu Alqur’an dan Tafsir 2, no. 2 (2017): 233–245.
29 Ummi Mahmudah, “Perbandingan Filsafat Pendidikan Barat Dan Pendidikan Islam” (n.d.).
30 bin Khaldun and Abdurrahman, Mukaddimah Ibnu Khaldun. 98
menguasainya. Apabila hal yang semestinya diajarkan pada tingkat lanjut, diajarkan pada tingkat awal, maka ia akan mengalami ketidak sanggupan dalam memahami dan jauh dari kesiapan diri untuk belajar, sehingga perolehan ilmu terasa amat sulit.
Sebaliknya, Peserta Didik akan rnenjadi malas dan berpaling dari konsentrasi belajar.
Dan hal ini akan berakibat pada jenuhnya pengajaran.
Maka dengan kacamata corak pemikiran pendidikan dari tiga aliran filsafat diatas, berikut ini akan dikaji implikasi pengembangan pendidikan Islam dipandang dari kacamata aliran filsafat pendidikan Islam. Penentuan mazhab atau aliran filsafat pendidikan Islam ini bersifat elektif yaitu dengan memilih mazhab-mazhab yang dianggap telah masyhur, dan telah menjadi wacana umum dalam ranah kajian filsafat pendidikan Islam.
a. Aliran Al-muhafidz
Sebuah tinjauan tentang aliran ini sudah penulis ungkapkan diatas bahwa aliran ini lebih berorientasi kepada religious-konsevatif. Artinya dalam aliran ini, urgensi penddikannya ialah dalam hal pendidikan-pendidikan Agama dan Epistimologi memahami Agama. Dapat dipastikan sebuah lembaga pendidikan islam yang dalam falsafahnya berakar kepada aliran ini maka lembaga pendidikan tersebut cenderung kuno dan anti pembaruan, lembaga tersebut hanay berfokus pada pemaknaan teks, konsep pendidikannya literalisitik, dan Orientasi bsarnya ialah pembentukan akhlak dan karakter manusia yang paripurna sebagai Abdullah.
Sebuah lembaga pendidikan Islam yang mengikuti falsafah ini akan membagi scenario pendidikan menjadi tiga tingakat, yakni tingkat awal (Ula), tingkat tengah (Wustho), dan tingkat akhir (Ulya). Untuk tingkatan yang pertama proses pendidikan hanya berputar kepada keyakinan, pemahaman konteks dengan menggunakan metode Doktrinasi, selanjutya untuk tahap tengah atau wustho, proses pendidikan akan lebih berfariatif, yakni dengan memunculkan argument- argumen yang berlawanan dengan konep keyakinan pesera didik yang sudah dikontruksi sejak dasar (Ula), untuk jenjang yang ketiga atau jenjang ulya, konsep pendidikanna sudah memberikan stimulus pada peserta diik untuk bisa menyusun sebuah argumentasi aqliyah yang dapat digunakan untuk menghegemonikan keyakinan mereka.
Dalam hal Evaluasi Pembelajaran, menurut hemat penulis lembaga penddikan Islam yang memilih aliran ini untuk dijadikan falsafah pendidikannya akan menggunakan jenis evaluasi acuan patokan (Criterian Referenced Evaluation) dan evaluasi acuan etik. Evaluasi yang pertama digunakan untuk mengukur
prestasi belajar siswa (ranah kognitif). Evaluasi yang kedua digunakan untuk mengukur kepribadian (personality).31 Untuk Criterian Referenced Evaluation diliha dari bagaaman proses peserta didik menysun sebuah argument yang bisa menguatkan keyakinannya dan untuk evaluasi etik dilihat dari bagaimana peserta didik mengamalkan apa yang sdah mereka yakini. Pendidikan-pendidikan seperti ini bia dijumpai di beberapa pesantren salaf di Jawa Timur, seperti Ploso Kediri, Lirboyo Kediri dan Langitan Tuban.
b. Aliran Al-dinny Al-aqlaniy
Learning to know menjadi peran sentral dalam lembaga pendidikan Islam yang mengikuti falsafah al-dinny al-aqlani. Coraknya ialah Rasional-Religius, pastinya akan sangat berbeda dengan lembaga pendidika islam yang mengikuti falsafah al-muhafdz diatas. Aliran ini menganggap penting adanya sebuah ilmu pengetahuan sains, social dan teknologi yang diintregasikan32 dengan nilai-nilai agama islam.
Skenarion pendidikan agama Islam dalam bagian inilebih moderat, fleksiel an saling keterhubungan dengan displin-disiplin imu lain, Materi Pendidikan Agama selain berisikan nilai-nilai pokok ajaran Islam, juga merupakan asimilasi dari nilai-nilai sosial, dan llmu-ilmu kealaman. Lembaga pendidikan Islam yang menganut alian ini akan sangat aspiratif terhadap bakat dan minat peserta didik dalam hubungannya dengan bidang-bidang kognitif, afektif, dan psikomotor.
Peserta didik akan dibentuk menjadi manusia yang aktif dan dijadikan sebagai pangkal dari pembelajaran, maka proses pembelajaran pendidikan agama Islam dalam ruang kelas harus diupayakan pada pengaktifan peserta didik.
Lembaga pendidikan ila yang rasionalis-religius akan menyusun sebuah konsp ajar berbasis Problem, sudah tidak lagi tentan pemahan sebuah teks, melainkan bagaimana peserta didik bisa menela’ah sebuah konteks dengan berpijak pada teks-teks agama. Pembelajaran berpusat pada siswa (student centered). Metode diskusi kelompok, dalam pandangan penulis cukup efektif dalam memupuk keberanian dan memunculkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran di ruang kelas.33
Evaluasi pembelajaran pendidikan agama Islam yang cocok bisa menggunakan evaluasi acuan patokan (Criterian Referenced Evaluation) untuk
31 Moch Tolchah, “Implikasi Filsafat Pendidikan Dalam Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Perspektif Kuntowijoyo,” Fikrotuna 11, no. 01 (2020).
32 Abdullah, “Falsafah Kalam Di Era Postmodernisme.”
33 Tolchah, “Implikasi Filsafat Pendidikan Dalam Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Perspektif Kuntowijoyo.”
mengukur ranah kognitif dengan asumsi, nantinya diharapkan bahwa peserta didik akan mempunyai kemampuan sesuai dengan apa yang dipelajari alias mampu menguasai materi dan mampu menjalankan tugas tertentu yang diberikan oleh Pendidik.
Lembaga pendidikan modern sangat banyak yang menggunakan pangkal pemikiran aliran ini sebagai falsafah pendidikannya, contoh paling jelas dari produk aliran ini ialah lembaga pendidikan formal moder berbasis asrama atau pesantren.34
c. Aliran Al-Dzara’iy
Menurut hemat penulis, kaena dalam aliran yang ketiga in berorientasi kepada kebutuhan-kebutuhan yang bersifat praktis-pragmatis. Maka Lembaga Pendidikan Islam yang tergolong dalam aliran ini ialah lembaga-lemba kursus, les, program takhosus. Karena dalam kacamata aliran Al-Dzara’iy, pengembangan pendidikan Islam diarahkan pada upaya menanamkan pemahaman kepada siswa agar peka terhadap realitas sosial, mampu menggali problem-problem sosial, ketidakadilan dan penyimpangan yang terjadi dalam kehidupan sosial. Kemampuan menggali dan menemukan problem sosial membutuhkan kemampuan rasional/daya pikir, dan agar mampu menyelesaikan problem tersebut dalam masyarakat diperlukan kecakapan dalam berkomunikasi dan bekerja sama dengan baik dengan elmen-elmen masyarakat.
Maka dalam aliran ini, peserta didik dituntut untuk tidak hanya mnguasai kompetensi intelektual dan personal, tapi juga kompetensi sosial dan vokasional.
Pendidikan agama Islam dapat diarahkan pada upaya-upaya terbentuknya kompetensi-kompetensi tersebut. Adapun materi kurikulum pendidikan agama Islam merupakan Rangkaian Acuan yang berisikan masalah-masalah sosial, ekonomi, politik yang beraneka ragam, yang dihadapi umat manusia, termasuk masalah-masalah sosial dan pribadi.35
Materi pendidikan agama Islam juga berisi persoalan sosial dan budaya yang dihadapi masyarakat, dan merupakan hal yang penting untuk disampaikan kepada anak didik. Maka isi Pengembangan Pendidikan agama Islam hendaknya lebih meningkatkan porsi pada kajian-kajian sosial dan budaya, demi menciptakan kesadaran dan daya kritis peserta didik terhadap situasi sosial yang
34 Qomar, Epistemologi Pendidikan Islam: Dari Metode Rasional Hingga Metode Kritik.
35 Tolchah, “Implikasi Filsafat Pendidikan Dalam Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Perspektif Kuntowijoyo.”
ada di sekitarnya.36 Maka pendekatan CTL (Contextual Teaching and Learning) yang merupakan upaya mengkaitkan materi pelajaran dengan situasi dunia nyata/konteks kehidupan sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) atau yang disimulasikan, sehingga siswa dapat menghubungkan antara pengetahuan yang diperolehnya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai bagian dari lapisan masyarakat, dapat diterapkan dalam proses pembelajaran pendidikan agama Islam
Penutup
Filsafat dan pendidikan merupakan dua kutub yang saling mewarnai dan saling keterkaitan. Pendidikan para perkembangannya memerlukan filsafat untuk dignakan sebebagai pola pemikiran yang integral, mendasar, menyeluruh dan radikal. Corak filsafat Pendidikan Islam Terbagi Menjadi tiga, yakni Konservatif diwakiliki oleh Al-Ghazali, dalam aliran Religius-rasional diwakili oleh Ikhwan As-shofa dan dalam aliran Pragmatis-Progresif diwakili oleh Ibnu Khaldun. Perbedaan mendasar antara Filsafat pendidikan Islam dan filsafat pendidikan umum dapt ditinjau dari segi Ideologi, Nilai, Orientasi dan Penekatan. Implikasi Filsafat Pendidikan Islam terhadap Pola pendidikan Islam ialah dalam hal merumuskan mata pelajaran yang akan diampuh oleh peserta didik, selain itu FPI juga membantu pendidikan menemukan identitasnya, apakah suatu lembaga pendiikan tersbut menganut Ragam pemikiran Konservatif atau Pragmatis-Progresif
Daftar Pustaka
Abdullah, M Amin. “Falsafah Kalam Di Era Postmodernisme” (1995).
Assegaf, Abd. Rachman. Filsafat Pendidikan Islam: Pradigma Baru Pendidikan Hadhari Barbaris Integratif Interkonektif, 2011.
Bakar, Yunus Abu. “Filsafat Pendidikan Islam.” Inspiratif Pendidikan 6, no. 2 (2017): 269.
Imelda, Ade. “Implementasi Pendidikan Nilai Dalam Pendidikan Agama Islam.” Al- Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam 8, no. 2 (2017): 227–247.
bin Khaldun, Muhammad, and Al-Allamah Abdurrahman. Mukaddimah Ibnu
36 Ibid.
Khaldun. Pustaka Al Kautsar, 2001.
Mahmudah, Ummi. “Perbandingan Filsafat Pendidikan Barat Dan Pendidikan Islam” (n.d.).
Mubaligh, Ahmad. “Relasi Bahasa Dan Ideologi.” Lingua: Jurnal Ilmu Bahasa Dan Sastra 5, no. 2 (2010).
Muhaimin. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam: Di Sekolah, Madrasah, Dan Perguruan Tinggi. Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2005.
———. Wacana Pengembangan Pendidikan Islam. Pustaka Pelajar bekerjasama dengan PSAPM, Pusat Studi Agama, Politik, dan …, 2003.
Nasution, Hasyimsyah. Filsafat Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005.
Qomar, Mujamil. Epistemologi Pendidikan Islam: Dari Metode Rasional Hingga Metode Kritik. Jakarta: Erlangga, 2005.
Ramayulis. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia, 2019.
Rido, Muhammad Jawwad. Tiga Aliran Utama Teori Pendidikan Islam; Perspektif Sosiologis-Filosofis. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2002.
Rusliana, Iu. “Filsafat Ilmu Bahan Ajar Mata Kuliah Filsafat Ilmu Mahasiswa PTAI Dan Umum.” Refika Aditama, 2017.
Salim, Ahmad. “Implikasi Aliran Filsafat Pendidikan Islam Pada Menejemen Pendididikan.” Literasi (Jurnal Ilmu Pendidikan) 5, no. 1 (2017): 13.
Syam, Mohammad Noor. Filsafat Kependidikan Dan Dasar Filsafat Kependidikan Pancasila. Usaha Nasional, 1986.
Tafsir, Ahmad. “Filsafat Umum Dan Hati Sejak Thales Sampai Capra.”
Rosdakarya, Bandung, 2004.
———. “Pengantar Filsafat Pendidikan Islam.” Bandung: PT. Al-Ma’arif, 1989.
Tolchah, Moch. “Implikasi Filsafat Pendidikan Dalam Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Perspektif Kuntowijoyo.” Fikrotuna 11, no. 01 (2020).
Zein, Arifin. “Tafsir Alquran Tentang Akal (Sebuah Tinjauan Tematis).” Jurnal At- Tibyan: Jurnal Ilmu Alqur’an dan Tafsir 2, no. 2 (2017): 233–245.
Copyright © 2022 Journal Dirasah: Vol.5, No.1, Februari 2022, p-ISSN: 2615-0212, e-ISSN;
2621-2838
Copyright rests with the authors
Copyright of Jurnal Dirasah is the property of Jurnal Dirasah and its content may not be copied oremailed to multiple sites or posted to a listserv without the copyright holder's express writtenpermission. However, users may print, download, or email articles for individual use.
https://ejournal.iaifa.ac.id/index.php/dirasah