• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

A. LATAR BELAKANG

Kecintaan terhadap tanah air merupakan ajaran Islam yang sangat mendasar sejajar dengan kecintaan terhadap agama itu sendiri. Bermula dari itulah maka dapat disaksikan bagaimana para ulama, kiai dan guru ngaji kita sangat menentang perilaku orang-orang yang melalui tindakan atau ucapannya berusaha merubah pemahaman bangsa tentang rasa kecintaan terhadap tanah air dengan alasan tidak berdalil dan berlandasan dalam al- Qur’an. Mereka mungkin lupa atau memang tidak tahu sejarah, bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia lahir atas kekuatan yang berasal dari rasa cinta tanah air.

Sebagaimana kita ketahui bahwa Indonesia lahir atas dasar kesadaran dan keinginan yang kuat untuk merdeka dari tangan-tangan kuasa penjajah di bumi Nusantara. Kemerdekaan yang terbebas dari penindasan dan keterinjakan di bawah sistem kolonialisme dan imperialisme. Perjuangan- perjuangan para tokoh sudah banyak digulirkan demi membebaskan negeri tercinta dari para penjarah asing yang merampas segalanya dari rakyat Nusantara. Perjalanan panjang selama berabad-abad itu akhirnya terbayar oleh Proklamasi yang dikumandangkan oleh Soekarno, sebagai tanda awal lahirnya negara Indonesia yang merdeka.

Tak mudah memang memproklamirkan kemerdekaan negeri yang selama kurang lebih 350 tahun dijajah. Perlu kesadaran penuh bagi rakyatnya didampingi para pejuang menumbuhkan sikap nasionalisme, sebuah sikap yang menjadi dasar kerelaan memperjuangkan diri melawan penjajahan demi kemerdekaan. Nasionalisme merupakan manifestasi kecintaan dan kesetiaan tertinggi kepada tanah air, negara dan bangsa. Nasionalisme Indonesia sebagai dasar pembentukan negara dan karakter bangsa di dalamnya

1

(2)

terkandung penghargaan terhadap pluralisme, humanisme dan hak-hak asasi manusia.

Nasionalisme sendiri terdiri dari dua kata, nasional dan isme. Kata nasional berarti kebangsaan dan bersifat bangsa. Sedangkan kata isme berarti paham atau ajaran. Jadi nasonalisme adalah (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri, atau kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial dan aktual bersama-sama untuk mencapai, mempertahankan, mengabdikan identitas, integritas, kemakmuran dan kekuatan bangsa1.

Indonesia adalah negeri yang plural, bangsa yang beragam suku, budaya, adat, bahasa, agama dan kemasyarakatannya. Namun hal tersebut tak menyurutkan semangat bangsa ini untuk bersatu, saling menguatkan dan berjuang melawan penindasan, karena semua sadar bahwa untuk mencapai kemerdekaan tidak bisa dilakukan secara personal melainkan kesatuan dan persatuan semua rakyatnya. Kehendak bangsa Indonesia untuk melenyapkan kekuasaan kolonial dan imperial penjajah di tanah air menjadi semangat kebangkitan rakyat, yang menjadi ciri semangat nasionalisme Indonesia.

Di tengah lamanya masa penjajahan itu, banyak lahir tokoh-tokoh pejuang yang menjadi sosok sentral pemimpin perlawanan penjajah di tiap wilayah Nusantara, mereka mengabdikan segala kemampuan, bukan hanya di segi strategi perang namun juga segi pendidikan dan keagamaan demi menyadarkan rakyat pentingnya perjuangan demi kemerdekaan. Lahirlah seorang tokoh ulama terkenal, Syekh Nawawi Al-Bantani yang hidup di tahun 1815-1897 M2.

Syekh Nawawi Al-Bantani merupakan ulama Indonesia yang mempunyai kiprah yang sangat besar di Indonesia juga di Timur Tengah.

Reputasi keilmuannya tak hanya diakui oleh para cendekiawan Nusantara tapi juga para sarjana Muslim Timur Tengah. Bahkan Universitas al-Azhar Kairo

1 Tim Penyusun Kamus Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1989), hal. 509

2 Samsul Munir Amin, Sayyid Ulama Hijaz (Biografi Syaikh Nawawi al-Bantani), (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2009) hal. 11

(3)

Mesir menjuluki Syekh Nawawi al-Bantani dengan sebutan “Sayyidu

‘Ulama-il Hijaz” atau jawara para ulama Hijaz3.

Meski dapat dikatakan bahwa kehidupan Syekh Nawawi al-Bantani tidak terlalu lama di Nusantara -karena kecintaan dan pengabdian Syekh Nawawi di bidang pendidikan keagamaan di Timur Tengah- namun semangat nasionalisme Syekh Nawawi tidak pernah padam. Hal tersebut terbukti saat Syekh Nawawi pulang dari masa pendidikannya di Makkah, di usianya yang ke-18 ia pulang dengan maksud membantu ayahnya mengajar di Pesantren4. Syekh Nawawi menyaksikan praktik-praktik ketidakadilan, kesewang- wenangan dan penindasan dari Pemerintah Hindia Belanda. Syekh Nawawi melihat semua itu karena kebodohan yang masih menyelimuti rakyat Nusantara, sehingga hal tersebut membuat semangat jihad nasionalisme berkobar. Syekh Nawawi mengobarkan semangat rakyat Banten (Jawa) untuk melawan penjajah, yang membuatnya menjadi incaran Permerintah Belanda.

Melihat kondisi tanah air yang kurang kondusif, ia kembali lagi ke Makkah, namun hal itu tidak mengurangi perhatiannya terhadap tanah air. Ia termasuk ulama anti-kolonialisme Belanda yang pernah membentuk Koloni Jawa, sebuah perhimpunan masyarakat Jawa (Nusantara) yang bermukim di Makkah. Sikapnya yang tidak agresif dan reaksioner membuatnya memilih jalur pendidikan dan keagamaan sebagai medium kaderisasi bagi santri- santrinya yang di kemudian hari menjadi tokoh-tokoh pelopor bagi pergerakan kemerdekaan Indonesia5.

Semangat nasionalisme dan keilmuannya tertuang pula pada penafsiran- penafsirannya terhadap ayat-ayat al-Qur’an. Dimana dalam skripsi ini mencoba menganalisis pemikiran Syekh Nawawi al-Bantani melalui karya tafsirnya yang masyhur yaitu Kitab Marah Labid atau juga yang terkenal dengan sebutan Tafsir Al-Munir.

3 Tim Penyusun LTM PBNU, 100 Ulama Dalam Lintas Sejarah Nusantara (Jakarta:

Lembaga Ta’mir Mesjid – PBNU, 2015) hal. 257

4 Salman Iskandar, 55 Tokoh Muslim Indonesia Paling Berpengaruh (Solo: Tinta Medina, 2011) hal. 64

5 Tim Penyusun LTM PBNU, 100 Ulama Dalam Lintas Sejarah Nusantara, Op Cit., hal.

259.

(4)

Al-Qur’an memang tidak menyebutkan secara khusus term atau lafal yang berarti nasionalisme, namun unsur-unsur nasionalisme (secara ma’nawiyah) dapat kita temukan di dalam al-Qur’an. Berdasar lima prinsip nasionalisme menurut Sartono Kartodirdjo, berupa; (1) Kesatuan (unity), (2) kemerdekaan (liberty), (3) persamaan (equality), (4) kepribadian (personality) dan (5) performance dalam arti kualitas atau prestasi yang dibanggakan kepada bangsa lain6.

Pengalaman hidup Syekh Nawawi al-Bantani di masa penjajahan dan ikut andil menyebarkan semangat nasionalisme dengan memilih jalur pendidikan dan keagamaan agar masyarakat sadar pentingnya memperjuangkan kemerdekaan, menjadi hal yang perlu dikaji. Berangkat dari sinilah penulis ingin mengkaji tentang tafsir ayat-ayat Nasionalisme yang beliau uraikan dalam tafsir Marah Labid.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan paparan latar belakang di atas, maka menjadi perlu merumuskan masalah yang dibahas dalam skripsi ini, yaitu:

1. Bagaimana penafsiran Syekh Nawawi al-Bantani tentang ayat-ayat Nasionalisme dalam Tafsir Marah Labid?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan dari penelitian ini tak lain ialah untuk menganalisis penafsiran Syekh Nawawi al-Bantani tentang ayat-ayat Nasionalisme dalam Tafsir Marah Labid, walaupun pasti menghasilkan sesuatu yang jauh dari kesempurnaan, namun penulis berusaha dan berikhtiar untuk sedapat mungkin mendekati objektifitas pembahasan.

6 Lihat Sartono Kartodirdjo, Sejarah Nasional Kebudayaan Indonesia, Diktat Kuliah Program Pascasarjana Universitas Gajah Mada Yogyakarta tahun 1992, lihat juga Ali Maschan Moesa, Nasionalisme Kiai, Kontruksi Sosial Berbasis Agama. (Yogyakarta: LkiS, 2007) hal. 31

(5)

Manfaat disusunnya skripsi ini adalah sebagai salah satu syarat penulis untuk menyelesaikan jenjang pendidikan Strata 1 jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon.

Penulis melakukan penelitian ini dengan harapan agar sedikit banyaknya berguna bagi semua kalangan, dapat dijadikan sumbangsih bagi perkembangan pemikiran dan pengamalan nilai-nilai nasionalisme dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Selain itu, dengan dibahasnya nilai-nilai nasionalisme, diharapkan agar seluruh warga negara Indonesia dapat lebih mengenal kearifan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan bersama-sama bersatu dalam kesatuan dan persatuan menjaga kemerdekan NKRI dari segala jenis penjajahan.

D. Telaah Pustaka

Untuk menghindari terjadinya pengulangan dalam penelitian, maka penulis melakukan telaah pustaka sebelumnya. Sesuai dengan masalah yang telah dirumuskan di atas, penulis menemukan beberapa literatur yang berhubungan dengan permasalahan yang dibahas, antara lain:

Skripsi Duriyati, “Telaah Pemikiran Nasionalisme Soekarno Dalam Perspektif Pendidikan Islam” Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, 2004. Dalam Skripsi ini membahas tentang pemikiran Nasionalisme Soekarno yang subtansinya mengarah pada pembebasan, patriotisme, kemanusiaan, pluralisme, demokratisasi serta persatuan. Dalam mencirikan nasionalismenya, Soekarno cenderung membedakan Nasionalisme menjadi dua bagian, yaitu Nasionalisme Barat dan Nasionalisme Timur. Di samping itu juga mempunyai nilai relevansi dengan pendidikan Islam, seperti halnya metode pendidikan dan pengajaran dalam rangka pendidikan Islam sangat banyak terpengaruh oleh prinsip-prinsip kebebasan dan demokrasi. Islam telah meyerukan adanya persamaan prinsip dan kesempatan yang sama dalam belajar sehingga terbukalah jalan yang mudah untuk belajar bagi semua orang. Termasuk prinsip pendidikan Islam yang juga mengedepankan persamaan, kebebasan, demokratisasi serta humanisme.

(6)

Skripsi Mansata Indah Maratona, “Pendidikan Islam dan Penguatan Nasionalisme Bangsa Indonesia (Telaah Atas Pemikiran KH Abdurrahman Wahid Pada Buku Islamku Islam Anda Islam Kita dan Islam Kosmopolitan)”.

Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, 2008. Dalam skripsi ini membahas pandangan Gus Dur mengenai Nasionalisme dalam Islam dan peran pendidikan Islam dalam memperkuat jiwa Nasionalisme bangsa Indonesia dan relasi yang tepat antara Nasionalisme dan agama.

Skripsi Hisyam Ma’mun, “Nasionalisme Indonesia (Studi Filosofis Konsep Kebangsaan Bung Karno)” Jurusan Aqidah Filsafat Fakultas Adab Dakwah Ushuluddin IAIN Syekh Nurjati Cirebon, 2011. Dalam skripsi ini membahas tentang pemikiran nasionalisme Soekarno yang subtasnsinya mengarah pada bentuk nasionalisme yang tercipta dari rasa cinta manusia dan kemanusiaan.

Nasionalisme yang bukan chauvinis, nasionalisme yang bukan tiruan dari Barat tetapi nasionalisme yang lahir dari Timur dan bersifat ke-Timuran.suatu bentuk nasionalisme yang cintanya pada tanah air bersendi pada budi nurani manusia yang lahir dari semangat persamaan dan persaudaraan sebagai sesama bangsa.

Skripsi Mhd. Ikhsan Kolba Siregar, “Metode Syaikh Nawawi Al-Bantani Dalam Menafsirkan Al-Qur’an (Sebuah Tinjauan Terhadap Tafsir Mirahu Labid)”. Mahasiswa Jurusan Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sulthan Syarif Kasim Riau Pekanbaru, tahun 2011. Skripsi ini mencoba untuk mengetahui metode, corak dan kecenderungan Syekh Nawawi dalam menafsirkan al-Qur’an, serta menjelaskan kelebihan dan kekurangan tafsir Marah Labid karya Syekh Nawawi al-Bantani.

Skripsi Luqman Chakim, “Tafsir Ayat-ayat Nasionalisme dalam Tafsir Al- Ibriz karya KH. Bisri Mustofa”. Mahasiswa Fakultas Ushuluddin Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang, 2014. Dalam skripsi ini membahas pemikiran KH. Bisri Mustofa terhadap ayat-ayat yang menjelaskan tentang unsur-unsur Nasionalisme dalam Tafsir Al-Ibriz.

Uraian beberapa karya tulis di atas, masih belum penulis temukan kajian yang khusus menjelaskan tafsir ayat-ayat tentang nasionalisme dalam al-Qur’an dengan fokus kajian pada hasil pemikiran Syekh Nawawi al-Bantani, Tafsir

(7)

Marah Labid . Sehinga penulis menganggap perlu untuk melakukan penelitian mengenai hal tersebut.

E. Metode Penelitian

Untuk memudahkan penulis dalam membahas masalah ini, maka penulis menggunakan metode penelitian sebagai berikut;

1. Metode Pendekatan Penelitian

Mengenai pendekatan, penulis menggunakan metode pendekatan kajian tafsir tematik/maudhu’i.Tafsir maudhu’i ialah upaya menafsirkan ayat-ayat al- Qur’an mengenai suatu terma tertentu, dengan mengumpulkam semua ayat atau sejumlah ayat yang dapat mewakili dan menjelaskannya sebagai suatu kesatuan untuk memperoleh jawaban atau pandangan al-Qur’an secara utuh tentang terma tertentu, dengan memperhatikan tertib turunnya masing-masing ayat dan sesuai dengan asbabun nuzul bila dipandang perlu.

Menurut M. Quraiah Shihab bahwa ada beberapa langkah dalam sistematika tafsir maudhu’i, yaitu:

1. Menetapkan masalah yang dibahas,

2. Menghimpun seluruh ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan masalah tersebut,

3. Menyusun urut-urutan ayat terpilih sesuai dengan perincian masalah dan atau masa turunnya, sehingga terpisah antara ayat Makkiy dan Madaniy.

Hal ini untuk memahami unsur pentahapan dalam pelaksanaan petunjuk- petunjuk al-Qur’an,

4. Mempelajari/memahami korelasi (munasabaat) masing-masing ayat dengan surah-surah di mana ayat tersebut tercantum (setiap ayat berkaitan dengan terma sentral pada suatu surah),

5. Melengkapi bahan-bahan dengan hadis-hadis yang berkaitan dengan masalah yang dibahas,

6. Menyusun outline pembahasan dalam kerangka yang sempurna sesuai dengan hasil studi masa lalu, sehingga tidak diikutkan hal-hal yang tidak berkaitan dengan pokok masalah,

(8)

7. Mempelajari semua ayat yang terpilih secara keseluruhan dan atau mengkompromikan antara yang umum dengan yang khusus, yang mutlak dan yang relatif, dan lain-lain sehingga kesemuanya bertemu dalam muara tanpa perbedaan atau pemaksaan dalam penafsiran,

8. Menyusun kesimpulan penelitian yang dianggap sebagai jawaban al-Qur’an terhadap masalah yang dibahas.7

Berdasar pendekatan metode maudhu’i diatas, penulis menghimpun ayat-ayat al-Qur’an yang berkenaan dengan unsur-unsur Nasionalisme terkait lima prinsip Nasionalisme menurut Sartono Kartodirdjo, lalu kemudian dilakukan analisis terhadap tafsir ayat-ayat tersebut dengan menelaahnya dari kitab tafsir Marah Labid karya Syekh Nawawi Al-Bantani, kemudian hasil analisis diuraikan secara deskriptif. Penulis sertakan pula pendapat-pendapat para tokoh terkait konsep-konsep tentang Nasionalisme.

2. Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode atau teknik kepustakaan (library research), Penelitian kepustakaan yaitu sumber data yang dikumpulkan dari buku kepustakaan yang berkaitan dengan objek yang diteliti.8 Untuk lebih mempermudah, penulis membagi sumber data menjadi dua bagian: Pertama, sumber data primer yang merupakan sumber pokok yang mana di dalamnya mencakup literatur-literatur teori Nasionalisme baik secara umum ataupun yang terkait pandangan Sartono Kartodirdjo tentang lima prinsip nasionalisme dan Kitab Tafsir Marah Labid yang menjelaskan penafsiran Syekh Nawawi Al-Bantani mengenai unsur-unsur Nasionalisme dalam al-Qur’an.

Selanjutnya dalam menentukan ayat-ayat al-Qur’an yang menjelaskan unsur-unsur nasionalisme, penulis mengambil pendapat Khotibul Umam al- Hafidz –selaku guru penulis- yang mencocokkannya dengan pandangan Sartono Kartodirdjo tentang lima prinsip nasionalisme. Pendapat itu beliau

7 Abdullah, Taufiq dan Karim, Rush (ed), Metodologi Penelitian Agama, (Yogyakarta:

Tiara Wacana, 1989) hal. 141

8 Kailan, Metode Penelitian Kualitatif Bidang Filsafat, (Yogyakarta: Paradigma, 2005). h.

138.

(9)

kemukakan saat penulis bertanya dalam sesi wawancara tentang ayat apa saja dalam al-Qur’an yang berkaitan dengan tema nasionalisme. Beliau merumuskan unsur-unsur nasionalisme dalam al-Qur’an yang dibahas dalam analisis tafsir Marah Labid, antara lain sebagai berikut:

 Cinta Tanah Air, QS. Al-Baqarah ayat 126 dan Al-Mumtahanah ayat 8-9;

 Persatuan, QS. Ali-Imran ayat 103;

 Patriotisme, QS. At-Taubah ayat 41;

 Kesamaan dalam keberagaman suku bangsa (pluralisme), QS. Al- Hujurat ayat 13;

 Pembebasan, QS. An-Nisa’ ayat 75.9

Kedua, sumber data sekunder berupa referensi atau literatur-literatur lain yang memiliki kaitan dengan tema permasalahan yang diangkat penulis, baik berupa artikel, jurnal, maupun ensiklopedia.

3. Metode Analisis Data

Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan data.10 Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini disesuaikan dengan objek permasalahan yang dikaji. Sebagaimana tersebut di atas, objek penelitian yang dikaji dalam tulisan ini berupa pemikiran, maka objek penelitian tersebut dianalisis dengan mengunakan analisis diskriptif yang meliputi dua jenis pendekatan.

a. Pendekatan analisis isi (Content analysis) yaitu analisis terhadap pemikiran Syekh Nawawi al-Bantani tentang ayat-ayat Nasionalisme dalam tafsir

9 Sesi wawancara pada tanggal 13 Oktober 2016, di kediaman Kyai Khotibul Umam al- Hafidz. Sebagai murid, penulis meminta pendapat beliau tentang tema skripsi yang penulis teliti.

Beliau mengajukan tema nasionalisme dan memberikan pendapat tentang ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan tema nasionalisme.

10 Nana Sudjana dan Ahwal Kusuma, Proposal Penelitian di Perguruan Tinggi, (Bandung:

Sinar Baru AldaSindo, 2000). hal. 103.

(10)

Marah Labid dalam rangka untuk menguraikan secara lengkap literatur dan teliti terhadap suatu obyek penelitian.11 Hal ini yang nantinya penulis gunakan dalam bab IV untuk mengetahui nilai Nasionalisme yang terkandung di dalam tafsir Marah Labid.

b. Pendekatan historis–sosiologis pendekatan ini digunakan untuk menganalisis pemikiran Syekh Nawawi al-Bantani dengan melihat seberapa jauh pengaruh tingkat sosial-kultural dalam membentuk cara pandang Syekh Nawawi terhadap realitas yang dihadapinya, cara pandangan kemudian membentuk pola pikir (Mode of thought) Syekh Nawawi sehingga mempengaruhi kostruksi pemikiranya dalam menafsirkan ayat-ayat tentang Nasionalisme dalam tafsir Marah Labid.

F. Sistematika Penulisan

Mengenai sistematika penulisan, penulis membagi penelitian menjadi lima bab, bab pertama berisi tentang latar belakang, penulis memaparkan pandangan umum tentang Nasionalisme secara global dan memunculkan ayat- ayat yang berkait dengan unsur-unsur Nasionalisme dalam al-Qur’an. Latar belakang inilah yang kemudian mengantarkan penulis kepada pembahasan topik utama.

Selanjutnya penulis merumuskan masalah dalam bentuk pertanyaan- pertanyaan yang dijawab oleh penelitian ini. Penulis juga menjelaskan tujuan dan manfaat penulisan supaya penelitian ini dapat terarah menuju kesimpulan yang dimaksud. Mengenai metode penelitian yang dilakukan, telaah pustaka juga sistematika penulisan dicantumkan di bab pertama.

Pada bab dua, penulis fokus membahas landasan teori yang dipakai, dilihat dari berbagai aspek. Berbagai macam teori tentang pembahasan tema, dalam hal ini adalah teori-teori Nasionalisme dan pembahasan ayat al-Qur’an

11 Sumadi Suryabrata B.A., Metodelogi Penelitian (Jakarta: Pelajar Press, 1997), hal. 19

(11)

tentang Nasionalisme disertakan dalam bab dua. Hal ini dimaksudkan agar kesimpulan yang nanti dilahirkan berdasarkan kepada teori-teori yang ilmiah.

Dijelaskan pula secara ringkas tentang sejarah Nasionalisme Indonesia.

Bab ketiga, penulis membahas mengenai perjalanan hidup Syekh Nawawi al-Bantani yaitu biografi beliau dan karya-karnya, juga dijelaskan telaah kitab Tafsir Marah Labid.

Bab empat tahap analisis, berisi analisis penafsiran Syekh Nawawi Al- Bantani terhadap ayat-ayat Nasionalisme, juga membahas relevansinya dengan pemikiran politik masa kini.

Pada bab terakhir, berisi deskripsi kesimpulan akhir dari pembahasan dan hasil analisis pada bab-bab sebelumnya. Pada bab ini hasil dari penelitian disajikan sebagai jawaban dari rumusan masalah pada bab pertama.

Referensi

Dokumen terkait

47 Batasan masalah penelitian ini adalah: (1) Penelitian ini dilakukan pada kelas XI TIPTL-1 sebagai kelas kontrol dan kelas XI TIPTL-2 sebagai kelas eksperimen di

1. Kesatuan merupakan prinsip yang utama di mana unsur-unsur seni rupa saling menun+ang satu sama lain dalam mementuk k$mp$sisi yang agus dan serasi. !ntuk

“Para peserta dihimbau untuk me- nyebarkan pengetahuan yang sudah mereka pelajari keke- luarga dan komunitas masing- masing sehingga makin banyak masyarakat Indonesia yang

dugaan pelanggaran oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden menurut UUD. Dari ketentuan di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : berkaitan dengan MA. MA merupakan puncak

Untuk memudahkan suatu penelitian maka perlu dibuat suatu kerangka pikir penelitian yang menggambarkan suatu hubungan dari variabel independen dalam hal ini motivasi

1) Materi pembelajaran karya sastra novel yang akan menjadi pokok bahasan untuk didebatkan, diberitahukan kepada peserta didik satu atau dua minggu sebelumnya. Guru juga

Hasil dari penelitian ini adalah bahwa pembelajaran melalui Active Learning In Higher Education (ALIHE) pada mata kuliah pendidikan IPA SD di jurusan PGSD FIP UNJ dapat

Penggunaan motif batik sidomukti saat nyamping dalam acara mitoni ini bermakna agar sang anak kelak dapat menjadi seseorang yang memiliki kedudukan dan kekuasaan