P-ISSN 2549-5909 E-ISSN 2549-5917
Open Access at: http://journal.univ-ekasakti-pdg.ac.id
PELUANG DAN PROSPEK AGRIBISNIS PADI DI KOTA PADANG
THE OPPORTUNITY AND PROSPECT OF PADDY AGRIBUSINESS AT PADANG PREFACE
Murnita
Fakultas Pertanian Universitas Ekasakti Padang. E-mail: [email protected] INFO ARTIKEL ABSTRAK
Kata kunci:
agribisnis, padi, dana, investasi
Water Resources and Irrigation Sector Management Program Phase II (WISMP-II) atau program pengelolaan sektor irigasi dan sumber daya air, dengan arah kegiatan yaitu penguatan kelembagaan petani pengelola air di antaranya gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air (GP3A). Salah satu satu usahatani yang dapat dilakukan oleh GP3A adalah agribisnis padi karena komoditasnya strategis dan berperan penting dalam perekonomian serta ketahanan pangan nasional. Kajian ini bertujuan untuk: menganalisis kelayakan usaha komoditas padi di Kota Padang dan alternatif strategi dalam pengembangan komoditas padi serta mengidentifikasi jenis kegiatan Pengembangan Dana Inverstasi Agribisnis yang dapat dilakukan oleh GP3A. Data yang dikumpulkan data: primer, sekunder, dan input-output agribisnis. Pengkajian menggunakan analisis SWOT (Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman), sedangkan untuk kelayakan menggunakan analisis finansial R/C rasio dan B/C rasio.
Hasil yang didapatkan dari pengkajian agribisnis padi di Kota Padang yaitu layak secara ekonomi karena memberikan rasio R/C dan B/C > 1. Alternatif strategi yang dapat dilakukan dengan: (a) Tingkatkan kemampuan manajemen dan penguasaan teknologi bagi petani dalam pengembangan produk (beras sehat), (b) Tingkatkan pelaksanaan sekolah lapang khususnya bagi generasi muda, dan (c) Pembangunan sarana UPPO sehingga menghasilkan pupuk dan pestisida organik (pengembangan dana investasi agribisnis).
Copyright © 2017 JAS. All rights reserved.
156
ARTICLE INFO ABSTRACT
Keywords:
agribusiness, paddy, fund, investation
Water Resources and Irrigation Sector Management Program Phase II (WISMP-II) is especially the affirmation of farmer institution as Union of Farmer Group of Water User (GP3A). One of the farming that can be done by GP3A is paddy agribusiness due to the strategic commodity and has important role in economy, and also national food tenacity. This study aims to: analyze the feasibility of paddy commodity at Padang City and alternative strategies in development of paddy commodity, and also the activity in development of agribusiness investment fund that can be done by GP3A. The data collected are primary, secondary, and agribusiness input-output data.
The assesment is done using SWOT analysis (Strength, Weakness, Oppotunity, and Threat), while for the feasibility uses financial analysis R/C ratio and B/C ratio. The result that is obtained from the assesment of paddy agribusiness at Padang City are economically due to have R/C and B/C ratio greater than one. The alternative strategies are: (a) increase management capabilites and mastery of technologies for farmer to development the product (healthy rice), (b) increase the implementation of field school, especially young generation, and (c) the construction of UPPO facilities to produce fertilizer and organic pestisides (development of agribusiness investment fund).
Copyright © 2017 JAS. All rights reserved.
PENDAHULUAN
Water Resources and Irrigation Sector Management Program Phase II (WISMP-II) merupakan salah satu program yang dikembangkan dalam rangka mewujudkan reformasi kebijakan pengelolaan irigasi. Arah kegiatan WISMP-II yaitu penguatan kelembagaan petani pengelola air antara lain perkumpulan petani pemakai air (P3A), dan gabungan perkumpulan petani pemakai air (GP3A).
Salah satu satu usahatani yang dapat dilakukan oleh GP3A adalah agribisnis padi.
Hal ini dikarenakan komoditasnya strategis dan berperan penting dalam perekonomian serta mempertahankan swasembada beras. Peluang tersebut terlihat dari program empat sukses pembangunan pertanian yang kesemuanya terkait dengan pembangunan ketahanan pangan dan kemandirian pangan. Di antaranya adalah pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan, salah satunya adalah swasembada beras secara berkelanjutan. Dijelaskan oleh Kementerian Pertanian (2014) bahwa dengan peningkatan produktivitas padi 1,5% per tahun dengan indeks panen 1,52 diperkirakan dapat mempertahankan swasembada beras hingga tahun 2025.
Pembangunan pertanian bertujuan dalam meningkatan pendapatan serta kesejahteraan masyarakat yang menjadi petani dan pelaku usaha di bidang pertanian (Kementerian Pertanian, 2011). Sedangkan konsep pembangunan pertanian yang
berkelanjutan adalah akumulasi investasi secara konsisten (Williamson, 1995; dan Suryana, 2005). Investasi pada sektor pertanian sangat diperlukan untuk menghasilkan nilai tambah dan pertumbuhan ekonomi, serta meningkatkan pendapatan petani. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Kementerian Pertanian (2016) dana investasi agribisnis dalam WISMP-II untuk mengembangkan kegiatan agribisnis yang dikelola GP3A pada daerah irigasi terpilih, dengan tujuan meningkatkan pengembangan unit usaha agribisnis yang dikelola oleh GP3A secara terpadu di lahan beririgasi melalui peningkatan kapasitas petani dan kelembagaannya. Selanjutnya meningkatkan kemampuan GP3A dalam mengembangkan jejaring dan kemitraan usaha untuk mendukung usaha anggota GP3A di wilayahnya. Bentuk dana investasi agribisnis ada WISMP-II adalah: Rice Milling Unit (RMU), Unit Pengelola Pupuk Organik (UPPO) dan alsintan Mini Combain.
Agar dana investasi mengalir efisien dan menimbulkan pengaruh kepada kesejahteraan, perlu diidentifikasi karakteristik ekonomi setiap komoditi pertanian dalam kaitan hulu, hilir maupun penunjang. Pendekatan agribisnis seperti itu akan membantu menyediakan alternatif investasi dan penelaahan dalam peran ekonomi (output, nilai tambah, pendapatan), maupun manfaat sosial (tenaga kerja) secara bersamaan (Soekartawi, 2009).
Keberhasilan dana investasi agribisnis ini akan ditentukan oleh adanya dukungan yang kuat dalam sinergisitas antar instansi terkait, dalam hal ini Pemerintah Daerah (Provinsi dan Kabupaten/kota), BUMN, swasta, dan petani, sehingga dapat berjalan sesuai dengan harapan. Kelembagaan yang ada di tingkat petani seperti gapoktan, Kelompok Usaha Agribisnis Terpadu (KUAT), dan kelembagaan lainnya dapat berfungsi dengan baik sebagai wadah petani berkolaborasi, sehingga pengembangan dana investasi agribisnis komoditi padi dapat berjalan dengan baik.
Dengan implementasi dana investasi secara komprehensif, diharapkan dapat mewujudkan terciptanya peningkatan nilai tambah dan penerimaan petani, yang pada akhirnya diharapkan dapat memberikan dampak terhadap peningkatan pendapatan asli daerah (PAD), penumbuhan simpul-simpul agribisnis, pemantapan ketahanan pangan dan peningkatan kesejahteraan petani di kawasan binaan. Dengan demikian, Peluang dan Prospek Agribisnis Padi di Kota Padang dapat menjawab apa yang diharapkan oleh Pemerintah Kota Padang. Tujuan dari pelaksanaan penelitian Peluang dan Prospek Agribisnis Padi di Kota Padang yaitu:
a. Menganalisis kelayakan usaha komoditas padi di Kota Padang b. Alternatif strategi dalam pengembangan komoditas padi.
c. Mengidentifikasi jenis kegiatan Pengembangan Dana Inverstasi Agribisnis yang dapat dilakukan oleh GP3A.
158
METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di (GP3A) Limapal terletak di Kecamatan Pauh dan GP3A Selingka Fajar berada di Kecamatan Koto Tangah. Lokasi penelitian ini ditentukan secara sengaja (purposive) dengan mempertimbangkan bahwa GP3A tersebut merupakan lingkup kegiatan WISMP-II. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 15 Mei 2017 sampai dengan 15 Juli 2017.
Jenis Data dan Teknik Pengambilan Sampel
Jenis data yang digunakan merupakan data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara para ahli. Sampel dalam penelitian ini ditentukan secara sengaja (puposive sample) dengan pertimbangan untuk memudahkan menggali data-data yang diperlukan, yaitu dari orang-orang yang benar-benar terlibat dan memahami kajian yang sedang dilakukan. Pengambilan sampel dalam penelitian ini tidak hanya petani padi saja tetapi meliputi pelaku usaha, pejabat instansi pemerintah dan stakeholder yang berhubungan dengan masalah yang sedang diteliti (pertimbangan keahlian responden). Responden penelitian berjumlah 40 orang yang terdiri dari: 1) Petani 30 orang, 2) Pedagang beras 2 orang, 3) Pemilik UPPO 2 orang, 4) Pemilik RMU 2 orang, 5) Instansi terkait 2 orang dan 6) Konsumen akhir 2 orang.
Data sekunder yang dikumpulkan antara lain: arah kebijakan daerah dari instansi terkait, luas tanam, luas panen, produktivitas, produksi padi, data kelembagaan tani (kelompok), data lembaga perkreditan dan data lain yang menunjang tercapainya tujuan penelitian. Teknik Pengumpulan Data dengan cara: interview, observasi, dan dokumentasi.
Analisis Data
Penelitian ini menggunakan dua jenis analisis data yaitu:
1. Analisis Kelayakan finansial
Kelayakan pengusahaan komoditas padi yang ada di Kota Padang dilakukan analisis finansial usahatani padi. Variabel yang diperlukan adalah biaya input/faktor produksi dan output/produk yang dihasilkan dalam budidaya padi.
Data yang didapatkan akan digunakan untuk menghitung kelayakan finansial usahatani padi yang meliputi instrumen Revenue/Cost (R/C) Ratio. Menurut Darsono (2008) dalam Sari (2011) R/C rasio merupakan metode analisis untuk mengukur kelayakan usaha dengan menggunakan rasio penerimaan (revenue) dan biaya (cost). Selanjutnya Benefit/Cost Ratio dan Break Event Point (BEP), Instrumen Return of Investment (ROI).
Menurut Suratiyah (2008) metode analisis yang digunakan untuk menentukan layak atau tidaknya usaha untuk dijalankan adalah dengan menghitung Revenue Cost Ratio (R/C Ratio) dan Benefit Cost Ratio (B/C Ratio). Bila nilai Revenue Cost Ratio (R/C Ratio) dan B/C Ratio >1, maka usaha tersebut layak secara finansial untuk dilakukan, sedangkan bila Revenue Cost Ratio (R/C Ratio) dan B/C Ratio <1 maka usaha tersebut dianggap tidak layak dilaksanakan. Selain itu dihitung nilai Break Event Point (BEP) dan juga nilai Return of Investment (ROI).
2. Analisis SWOT
Untuk mencapai tujuan upaya pengembangan komoditi padi digunakan analisis SWOT. Data yang dikumpulkan terdiri dari data karakteristik petani responden, data produksi padi, data luas lahan padi, data biaya produksi, faktor eksternal dan internal dan lain-lain, lalu dianalisis sesuai dengan data yang dikumpulkan sedang faktor internal dan ekternal dianalisis dengan menggunakan metode analisis SWOT (Rangkuti, 1999).
HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Kelayakan Usahatani Padi
Untuk mengetahui kelayakan pengembangan usahatani padi sawah digunakan analisis Revenue of Cost Ratio (R/C). Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa R/C > 1 (Tabel 1) untuk kedua GP3A, berarti usaha tani padi tersebut layak dilakukan. Jika dilihat dari kedua GP3A yang ada maka R/C di GP3A Limapal lebih besar dibanding GP3A Selingka Fajar. Besarnya B/C ratio GP3A Limapal karena produksi per ha di GP3A juga lebih besar dan biaya total yang dikeluarkan lebih kecil sehingga keuntungan yang diperoleh petani juga lebih tinggi.
Hasil analisis usaha diperoleh R/C = 2,5 untuk GP3A Selingka Fajar artinya setiap pengeluaran Rp 1,00,- akan menerima pengembalian sebesar Rp 2,5; B/C = 1,95 artinya setiap pengeluaran Rp 1,00,- akan mendapatkan keuntungan bersih sebesar Rp 1,95,- BEP dalam produksi adalah 4.196 kg artinya suatu usaha tani padi tidak akan rugi jika sudah berproduksi sebesar 4.196 kg/ha. Selanjutnya untuk GP3A Limapal nilai R/C adalah 3,6 berarti setiap pengeluaran Rp1,00,- maka akan menghasilkan pengembaliannya Rp 3,6. B/C = 3,03 berarti setiap Rp 1,00,- modal yang ditanamkan makan akan mendapatkan keuntungan Rp3,03. Nilai BEP Harga = Rp 2.791, berarti jika harga gabah sebesar Rp 2.791/kg maka petani tidak untung dan tidak rugi, selanjutnya nilai BEP produksi adalah 5.075 yang berarti jika petani
160
mempunyai produksi padi per musim tanamnya 5.075 kg, maka petani tersebut tidak untung dan tidak rugi.
Tabel 1.
Produksi dan Kelayakan Usahatani Padi di GP3A Limapal dan Selingka Fajar
No. Uraian GP3A Limapal GP3A Selingka Fajar
1 Luas tanam (ha) 1 1,2
2 Produksi (ton) 6,0 6,5
3 Produktifitas (ton/ha) 6,0 5,4
4 Penerimaan (Rp/MT) 19.800.000 17.820.000
5 Biaya Produksi (variabel Rp/MT) 3.050.000 3.985.000
6 Pendapatan (Rp/MT) 16.750.000 13.835.000
7 Biaya tetap (Rp/MT) 2.482.000 3.095.000
8 Biaya Total (Rp/MT) 5.532.000 7.080.000
9 Keuntungan (Rp/MT) 14.268.000 10.740.000
10 R/C 3,6 2,5
11 B/C 3,03 1,95
12 BEP harga (Rp) 2.791 2562
13 BEP Produksi (kg) 5.075 4.196
Analisis SWOT
Analisis SWOT ini menghasilkan strategi berbagai alternatif yang dapat memaksimumkan kekuatan dan peluang serta meminimumkan kelemahan dan ancaman, sehingga dapat dilihat bagaimana strategi pengembangan agribisnis padi melalui pemanfaatan dana investasi di wilayah kerja WISMP-II. Hasil penelitian evaluasi faktor internal dan eksternal pada pengembangan agribinis komoditas padi di Kota Padang pada GP3A Limapal dan GP3A Selingka Fajar seperti Tabel 2 dan 3.
Berdasarkan Tabel 2 indikator kekuatan yang dimiliki untuk pengembangan agribisnis padi pada GP3A Limapal diketahui bahwa kebijakan pemerintah dalam program swasembada pangan dengan nilai bobot x rating =40, bahan baku pupuk organik cukup tersedia dengan nilai bobot x rating = 32, dan indikator kekuatan yang terakhir yaitu sudah ada menggunakan alsintan dengan nilai bobot x rating = 12. Sedangkan indikator kekuatan yang dimiliki untuk pengembangan agribisnis padi pada GP3A Selingka Fajar yaitu: kebijakan pemerintah dalam program swasembada pangan menempati rating pertama dengan nilai 40, produktifitas lahan sawah meningkat rating ke dua dengan nilai 36, dan terendah adalah sudah ada menggunakan alsintan dengan nilai 12.
Indikator kelemahan yang dimiliki GP3A Limapal dalam pengembangan agribisnis padi meliputi: lahan berubah fungsi dengan nilai bobot x rating = 6, ketergantunan terhadap pupuk kimia dengan nilai bobot x rating = 7, dan paling akhir yaitu Pengetahuan dan keterampilan petani dalam pengolahan masih rendah dengan nilai bobot x rating 27. Selanjutnya indikator kelemahan yang dimiliki GP3A Selingka Fajar dalam pengembangan agribisnis padi meliputi: petani berumur tua merupakan rating pertama dengan nilai 5, urutan kedua adalah Lahan berubah fungsi dengan nilai 6, dan urutan terakhir adalah pengolahan masih
masih rendah dengan nilai 36. Berdasarkan hal tersebut, maka kelemahan yang terbesar pada GP3A Limapal ini adalah lahan berobah fungsi dan ketergantungan terhadap pupuk kimia, dan GP3A Limapal yaitu petani berumur tua.
Tabel 2.
Faktor-Faktor Strategi Internal (IFAS) pada pengembangan agribisnis komoditi padi di GP3A Limapal dan Selingka Fajar
Pada Tabel 3 ditampilkan indikator peluang dalam pengembangan agribisis padi di GP3A Limapal dan Selingka Fajar. Indikator peluang di GP3A Limapal dalam
No Uraian
GP3A Limapal GP3A Selingka Fajar Bobot Ranting Bobot x
Ranting Bobot Ranting Bobot x Ranting A. KEKUATAN
1. Kebijakan
pemerintah dalam program
swasembada pangan
10 4 40 10 4 40
2. Motivasi petani bahwa bertani adalah sumber mata pencaharian
14 1 14 14 1 14
3. Sudah ada menggunakan alsintan
6 2 12 6 2 12
4. Bahan baku pupuk organik cukup tersedia
8 4 32 8 3 24
5. Produktifitas lahan sawah bisa
ditingkatkan
12 2 24 12 3 36
Jumlah A 50 122 50 126
B KELEMAHAN
1. Petani berumur tua 5 3 15 7 1 7
2. Lahan berubah fungsi
6 1 6 6 1 6
3. Pengetahuan dan keterampilan petani dalam pengolahan masih rendah
9 3 27 9 4 36
4. Ketergantungan terhadap pupuk kimia
7 1 7 5 1 5
5. Modal yang lemah 6 3 18 6 3 18
6. Manajemen usaha
tani masih kurang 7 3 21 7 4 28
7. RMU yang belum komplit
10 3 30 10 3 30
Jumlah B 50 124 50 130
TOTAL 100 246 100 256
Selisih kekuatan dengan kelemahan
-2 -4
162
pengembangan agribisnis padi yaitu: dukungan pemerintah daerah merupakan bobot x rating tertinggi dengan nilai 48, Adanya KUR (penyedia modal usaha) dengan nilai bobot x rating = 40, dan indikator peluang urutan akhir yaitu kesesuaian lahan (geografis) dengan nilai bobot x rating = 20.
Tabel 3.
Faktor-Faktor Strategik Eksternal (EFAS) pada pengembangan agribisnis komoditi padi di GP3A Limapal
No
. Uraian
GP3A Limapal GP3A Selingka Fajar Bobot Ranting Bobot x
Ranting Bobot Ranting Bobot x Ranting A. PELUANG
1. Adanya KUR (penyedia modal usaha)
10 4 40 10 3 30
2. Dukungan pemerintah daerah
12 4 48 12 4 48
3. Meningkatnya permintaan beras terkait dengan pertambahan penduduk
10 4 40 10 4 30
4. Kemitraan
kelembagaan yang cukup baik
9 1 9 9 1 18
5. Mulai dikenalnya beras
sehat 8 3 24 8 2 16
6. Kesesuaian lahan (geografis)
10 2 20 10 1 20
Jumlah A 59 181 59 162
B. ANCAMAN
1. Perubahan iklim 6 1 6 6 1 6
2. Minat generasi muda sebagai petani semakin berkurang
8 1 8 8 1 8
3. Mahal dan
ketidakstabilan sarana produksi dilokasi
4 3 12 4 2 8
4. Posisi tawar petani
yang rendah 7 3 21 7 3 21
5. Perubahan pola makan 8 4 32 8 4 32
6. Perubahan komoditi yang ditanam (padi berubah menjadi jagung)
8 3 24 8 3 24
Jumlah B 41 103 41 99
Total 100 284 100 261
Selisih Peluang-
Ancaman 78 98
Sedangkan indikator peluang untuk pengembangan agribisnis di GP3A di Selingka Fajar yaitu: dukungan pemerintah pusat merupakan rating pertama dengan nilai 48, Adanya KUR (penyedia modal usaha) dengan nilai 30, meningkatnya permintaan
seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk merupakan rating keempat dengan 30, dan mulai dikenalnya beras sehat dengan nilai 16. Dengan demikian peluang terbesar yang dimiliki baik oleh GP3A Limapal mapun GP3A Selingka Fajar adalah dukungan pemerintah daerah.
Selanjutnya Indikator ancaman untuk GP3A Limapal terdiri dari: Perubahan iklim dengan nilai bobot x rating = 6, Minat generasi muda sebagai petani semakin berkurang dengan nilai bobot x rating = 8, dan paling terakhir ancamannya Perubahan pola makan dengan nilai bobot x rating 32. Demikianpula Indikator ancaman untuk FP3A Selingka Fajar terdiri dari: perubahan iklim dengan nilai 6, minat generasi muda sebagai petani semakin berkurang dengan nilai rating 8, daya beli dan ketidakstabilan sarana produksi dilokasi merupakan dengan nilai 8, dan perubahan pola dengan nilai 32. Dengan demikian indikator ancaman terbesar yang dihadapi oleh GP3A Limapal dan Selingka Fajar adalah perubahan iklim.
Pada Gambar 1 menunjukkan posisi strategi pengembangan agribisnis padi di GP3A Limapal dan Selingka Fajar berada pada kuadran III (Strategi Turn-araund) yang artinya petani memiliki peluang besar dalam pengembangan agribisnis padi.
Namun di samping itu petani memiliki kelemahan internal. Posisi strategi ini menekankan pada mengatasi kelemahan-kelemahan internal yang ada agar dapat memanfaatkan peluang tersebut secara optimal.
Keterangan
Wilayah I : Strategi Agresif Wilayah III : Strategi Turn-araund Wilayah II : Strategi Difersifikasi Wilayah IV : Strategi Defensif
Gambar 1. Matrik Posisi Pengembangan Agribisnis Padi di GP3A Limapal dan Selingka Fajar
Selanjutnya untuk menentukan keberadaan strategi pengembangan agribisnis padi di GP3A Limapal dan GP3A Selingk Fajar digunakan matrik skor bobot total IFAS (Gambar 2). Berdasarkan hasil matrik Gambar 2 strategi pengembangan agribisnis padi baik untuk GP3A Limapal dan Selingka Fajar berada pada sel 5, berarti berada pada Growth strategy yang merupakan pertumbuhan perusahaan itu sendiri. Hal ini digunakan untuk mencapai pertumbuhan, baik dalam penjualan (produksi), aset,
164
profit, maupun kombinasi dari ketiganya. Hal ini dapat dicapai dengan cara menurunkan biaya produksi, mengembangkan produk baru dalam hal ini beras sehat, menambah kualitas produk atau jasa, atau meningkatkan akses ke pasar yang lebih luas.
Usaha yang dapat dilakukan yaitu meminimalkan biaya (minimize cost), salah satunya melalui pemakaian alsintan dan mengurangi pemakian pupuk kimia dengan substitusi dengan pupuk organik. Alternatifnya adalah pembuatan pupuk dan pestisida organik dengan bahan baku yang tersedia di lokasi petani sehingga menekan biaya untuk membeli pupuk kimia, akibatnya dapat meningkatkan profit.
Cara ini merupakan strategi terpenting apabila kondisi GP3A tersebut berada dalam pertumbuhan yang cepat dan terdapat kecenderungan pesaing untuk melakukan perang harga dalam usaha untuk meningkatkan pangsa pasar. Dengan demikian, GP3A yang belum mencapai critical mass (mendapat profit dari large-scale production) akan mengalami kekalahan.
Keberadaan skor bobot total IFAS pada sel 5 yang berarti relatif lebih defensif, yaitu menghindari kehilangan penjualan dan kehilangan profit. GP3A yang berada di sel ini dapat memperluas pasar, fasilitas produksi, dan teknologi melalui pengembangan internal maupun eksternal melalui akuisisi atau joint ventures dengan GP3A lain yang juga mengembangkan agribisnis padi.
Kuat
3,0 - 4,0 Sedang
2,0 - 2,99 Lemah
1,0 - 1,99
Tinggi
3,0 - 4,0 1 2 3
Sedang
2,0 - 2,99 4 5 6
Rendah
1,0 - 1,99 7 8 9
Gambar 2. Skor bobot total IFAS GP3A Limapal dan GP3A Selingk Fajar Untuk memetukan alternatif strategi yang dapat digunakan dalam pengembangan agribisnis padi di GP3A Limapal digunakan analisa SWOT. Berdasarkan hasil SWOT, maka strategi untuk mengembangkan agribisnis padi dalam rangka meningkatkan kesejahteraan petani pada GP3A Limapal dan Selingka Fajar di Kota Padang seperti pada Tabel 4.
Strategi yang dapat dilakukan untuk meminimalkan kelemahan dan menghadapi ancaman dalam pengembangan agribisnis di GP3A Limapal dan Selingka Fajar adalah strategi W-O untuk pengembangan dana investasi agribisnis yaitu pembangunan sarana UPPO. Hal ini juga didukung dengan sumber bahan organik
insitu berupa jerami padi, dengan luas lahan sawah di GP3A Limapal sekitar 476 ha akan menghasilkan kompos 1.190 ton dan di GP3A Selingka Fajar dengan luas lahan sawah di GP3A Selingka Fajar sekitar 272,2 ha akan menghasilkan kompos 680,5 ton.
Menurut Balittanah (2008) hasil samping panen padi berupa limbah jerami padi yang konversinya per hektar mencapai 5 ton. Selanjutnya penyusutan jerami segar menjadi kompos mencapai 50%.
Sedangkan untuk pengembangan dana investasi agribisnis berupa mini combine tidak bisa karena topografinya miring, akibatnya luasan lahan yang sempit alat mini combine sulit masuk ke lahan. Di sisi lain untuk RMU tidak begitu dibutuhkan karena jumlah RMU untuk lokasi GP3A Limapal sudah mencukupi untuk luasan sawah yang ada yaitu ada 6 unit RMU dan GP3A Selingka Fajar terdapat 3 unit RMU. Di samping itu juga perlu ditingkatkan kemampuan manajemen dan penguasaan teknologi bagi petani dalam menciptakan beras sehat, dan aktifkan kembali pelaksanaan sekolah lapang khususnya bagi generasi muda.
Tabel 4.
Strategi untuk mengembangkan agribisnis padi di GP3A Limapal dan Selingka Fajar Kota Padang
No
. Strategi GP3A Limapal GP3A Selingka Fajar
I. Strategi S-O 1. Tingkatkan akses finansial terhadap lembaga keuangan
2. Pendampingan yang bersahabat dalam menghasilkan beras sehat 3. Perluasan pasar
1. Tingkatkan akses finansial terhadap lembaga keuangan 2. Tingkatkan motivasi petani
karena bertani adalah sumber mata pencaharian utama dengan pendampingan yang bersahabat
II. Strategi W-O 1. Pembangunank sarana UPPO sehingga menghasilkan pupuk dan pestisida organik.
2. Tingkatkan kemampuan manajemen dan penguasaan teknologi bagi 3. Tingkatkan pelaksanaan sekolah
lapang khususnya bagi generasi muda.
1. Pembangunan sarana UPPO sehingga menghasilkan pupuk dan pestisida organik guna mengasilkan beras sehat 2. Tingkatkan kemampuan
manajemen dan penguasaan teknologi bagi petani 3. Tingkatkan pelaksanaan
sekolah lapang khususnya bagi generasi muda.
III. Strategi S-T 1. Penyesuaian pola tanam 2. Mamfaatkan limbah pertanian
menjadi pupuk dan pestisida alami 3. Gerakan gemar menkonsumsi
produk dalam negeri
1. Penyesuaian pola tanam 2. Mamfaatkan limbah pertanian
menjadi pupuk dan pestisida alami
3. Ciptakan beras sehat
4. Gerakan gemar menkonsumsi produk dalam negeri
IV. Strategi W-T 1. Tingkatkan koordinasi dengan semua lembaga terkait
2. Buat kebijakan dan regulasi keuangan yang tepat untuk kegiatan pengembangan agribisnis padi.
1. Tingkatkan koordinasi dengan semua lembaga terkait
2. Buat kebijakan dan regulasi keuangan yang tepat untuk kegiatan pengembangan agribisnis padi.
166
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat diambil simpulan sebagai berikut:
1. Usahatani padi baik untuk GP3A Limapal maupun GP3A Selingka Fajar layak secara ekonomi karena memberikan rasio R/C dan B/C > 1, keuntungan finansial dan ekonomi positif, maka usahatani padi tersebut memliki keuntungan kompetitif dan komparatif dalam menggunakan sumberdaya ekonomi.
2. Strategi pengembangan agribisnis padi sawah di Kota Padang dapat dilakukan sebagai berikut: (a) Tingkatkan kemampuan manajemen dan penguasaan teknologi bagi petani dalam pengembangan produk (beras sehat), (b) Tingkatkan pelaksanaan sekolah lapang khususnya bagi generasi muda.
3. Jenis kegiatan pengembangan dana investasi agribisnis di GP3A Limapal dan Selingka Fajar Kota Padang yaitu berupa UPPO.
DAFTAR PUSTAKA
(Balittanah] Balai Penelitian Tanah. 2008. Pemupukan Berimbang dengan Uji Tanah Sawah. Puslitbang Tanah dan Agroklimat Balitbang Pertanian. Deptan.
Kementerian Pertanian. 2011. Pedoman Umum PUAP. Jakarta.
Kementerian Pertanian. 2014. Rencana Kinerja Tahunan (RKT). Jakarta
Kementerian Pertanian. 2016. Pedoman Penyusunan Poposal Agribisnis Bagi Petani Pemakai Air. Jakarta
Rangkuti, F. 1999. Analisa SWOT Tehnik Membedah Kasus Bisnis. PT. Gramedia Pusaka Utama. Jakarta.
Sari, Reny Puspita. 2011. Analisis Nilai Tambah dan Kelayakan Usaha Agroindustri Chip Ubi Kayu Sebagai Bahan Baku Pembuatan MOCAF (Modified Cassava Flour) di Kabupaten Trenggalek. Malang.
Soekartawi. 2009. Agribisnis. Teori dan Aplikasinya. Rajawali Pers Universitas Brawijaya. Jakarta.
Suratiyah, Ken. 2008. Ilmu Usaha Tani. Penebar Swadaya. Jakarta.
Suryana, A. (2005) Pembangunan Pertanian Berkelanjutan Andalan Pembangunan Nasional. Seminar Sistem Pertanian Berkelanjutan untuk Mendukung Pembangunan Nasional 15 Pebruari 2005. Solo: Universitas Sebelas Maret.
Williamson, O. E. 1995. The institutions and governance of economic development and reform. Proceeding of the World Bank Annual Conference on Development Economics 1994. IBRD-World Bank, Washington, Hal. 171-197.