• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH PEMIKIRAN PENDIDIKAN ESENSIALISME

N/A
N/A
MUSLIMIN

Academic year: 2022

Membagikan "MAKALAH PEMIKIRAN PENDIDIKAN ESENSIALISME"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

i

Disusun untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Filsafat Pendidikan Islam Multikultural

Dosen Pengampu Dr. H. Muhammad Anang Firdaus, M.Fil.I

DI SUSUN OLEH:

KELOMPOK 4

MUSLIMIN NIM 161920211120009 FAISAL AMAL

SARIF

NIM 161920211120007

PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MULTIKULTUR PROGRAM STUDI PASCASARJANA

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) FATTAHUL MULUK PAPUA

2021

(2)

ii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat serta hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas Makalah yang berjudul

“Pemikiran Pendidikan Esensialisme dalam perspektif Islam”. Dengan adanya suatu tugas makalah, penulis sangat bersyukur karena bisa menambah wawasan serta pengetahuan faktual.

Trimakasih pula kepada Dosen Mata kuliah Bapak Dr. H. Muhammad Anang Firdaus, M.Fil.I yang telah memberikan arahan beserta teman-teman seangkatan, sehingga makalah ini selesai tepat pada waktunya. Walaupun masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini, namun penulis berharap agar makalah ini dapat dipergunakan dan di manfaatkan baik di dalam kampus atau di luar kampus.

Akhirnya kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan.

Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bai para pembaca umumnya. Sekian dari penulis mengucapkan banyak terima kasih .

Jayapura

Penulis

(3)

iii

KATA PENGANTAR ... ii DAFTAR ISI... iii BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ... 1 B. Rumusan Masalah ... 2 C. Tujuan Penulisan ... 2 BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian dan Konsep Dasar Aliran Pendidikan Esensialisme ... 3 B. Aliran Pendidikan Esensialisme dalam Perspektif Islam ... 9 BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ... 13 B. Rekomendasi ... 13

(4)

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pemikiran pendidikan esensialisme adalah suatu aliran filsafat yang menginginkan agar manusia kembali kepada kebudayaan lama. Warisan sejarah yang telah membuktikan kebaikan-kebaikan bagi kehidupan manusia. Aliran ini juga didasarkan pada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Kebudayaan yang telah di wariskan kepada penerusnya hingga sekarang.1

Disisi lain, aliran esensialisme memiliki pendapat jika pandangan yang mudah berubah, kurang terarah dan tidak pasti, mudah goyah, timbul karena pendidikan bertumpu pada dasar pandangan yang fleksibilitas dalam segala bentuk.2

Esensialisme memandang bahwa kebudayaan moderen dewasa ini terdapat gejala-gejala penyimpangan dari jalan yang telah ditanamkan oleh kebudayaan warisan masa lalu. Menurut paham ini, kebudayaan modern sekarang terdapat kesalahan, yaitu kecendrungannya, bahkan gejala-gejala penyimpangannya dari jalan lurus yang telah ditanamkan kebudayaan warisan. Fenomena-fenomena sosial kultural yang tidak diinginkan, hanya dapat diatasi dengan kembali secara sadar melalui pendidikan. Dalam hal pendidikan, esensialisme menyebutkan Education as cultura lconservation, yaitu pendidikan sebagai pemeliharaan kebudayaan.3

Ditunjang lagi pada era sekarang, pendidikan berlangsung terasa telah demikian Modern, sehingga berbeda dengan proses pendidikan yang

1Muhammad Anwar, Filsafat Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2015), hlm 160

2Rizal Mustasyir, Filsafat Analitik: Sejarah Perkembangan, dan Peranan Para Tokohnya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), hlm 1

3Muhammad Ichsan Thaib, Esensialisme Dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Islam, Volume 4, No 2 Juli-Desember 2015, hlm 744

(5)

pernah berlangsung sebelumnya, yaitu suatu masa lampau yang sangat panjang berlalu. Kenyataan ini tentu tidak dapat terlepaskan dari keterkaitan manusia dengan perubahan-perubahan atas dasar pengalaman-pengalaman baru yang dilaluinya.4 Dengan latar belakang di atas penulis akan menganalisis dan mencoba menggali pengertian dam konsep dasar aliran pendidikan esensialisme serta aliran pendidikan esensialisme dalam perspektif Islam.

B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian dan konsep dasar aliran pendidikan esensialisme?

2. Bagaimana aliran pendidikan esensialisme dalam perspektif Islam?

C. Tujuan Penulisan

1. Mengetahui pengertian dan konsep dasar aliran pendidikan esensialisme?

2. Mengetahui aliran pendidikan esensialisme dalam perspektif Islam?

4Saidah, Pemikiran Esensialisme, Eksistensialisme, Perenalismen, dan Pragmatisme dalam perspektif Pendidikan Islam, Jurnal al-Asas, Vol. 5, No 2, (Oktober 2020), hlm 17

(6)

3

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian dan Konsep Dasar Aliran Pendidikan Esensialisme 1. Pengertian aliran pendidikan esensialisme

Secara etimologi esensialisme berasal dari bahasa Inggris yakni essential yang berarti inti atau pokok dari sesuatu, dan isme berarti aliran, mazhab atau paham.5 Sedangkan, secara terminologi esensialiseme adalah suatu aliran filsafat yang menginginkan manusia kembali kepada kebudayaan-kebudayaan lama yang telah terbukti kebaikan-kebaikannya dalam kehidupan manusia.

Aliran pendidikan esensialisme ini muncul pada awal tahun 1930, dengan beberapaorang pelopornya, seperti William C. Bagley, Thomas Brigger, Frederick Breed, dan Isac L Kandel. Pada tahun 1983, mereka membuat suatu lembaga yang disebut “The esensialits commite fpr the advanced of American Education”.

Pelopor esensialisme ialah Bagley, seorang guru besar pada “teacher collage”

Columbia University.6

Menurut essensialisme nilai-nilai tertanam dalam warisan budaya atau sosial adalah nilai-nilai kemanusiaan yang terbentuk secara berangsur-angsur dengan melalui kerja keras dan susah payah selama beratus tahun, dan telah teruji dalam gagasan dan cita-cita yang telah teruji dalam perjalanan waktu. Aliran filsafat pendidikan Essensialisme ini menganggap nilai-nilai berbudi pekerti yang baik itu terletak pada warisan-warisan budaya, yang telah membuktikan kebaikan- kebaikannya bagi kehidupan manusia.

Filsafat Essensialisme merupakan filsafat pendidikan konservatif yang dirumuskan sebagai suatu kritik terhadap praktek pendidikan progresif di sekolah-

5Muhammad Ichsan Thaib, Esensialisme Dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Islam, Volume 4, No 2, (Juli-Desember 2015), hlm 733

6Dahniar, Filsafat Pendidikan Esensialisme, Azkia Volume 15, No 2 (Januari 2021), hlm 163

(7)

sekolah, para essensialisme berpendapat bahwa fungsi utama sekolah adalah menyampaikan warisan budaya dan sejarah kepada generasi muda dimana pendidikan harus menanamkan nilai-nilai luhur yang tertata. Aliran esensialisme merupakan aliran pedidikan yang didasarkan pada nilai-nilai kebudayaan yang ada sejak awal peradaban umat manusia. Aliran filsafat ini menginginkan agar manusia kembali kepada kebudayaan lama, karena kebudayaan lama telah banyak membawa kebaikan untuk manusia. Filsafat pendidikan esensialisme merupakan perpaduan antara ide-ide filsafat idealisme dan realisme. Aliran tersebut akan tampak lebih mantap dan kaya akan ide-ide, apabila hanya mengambil salah satu dari aliran atau posisi sepihak. Pertemuan dua aliran tersebut bersifat elektik, yakni keduanya berposisi sebagai pendukung, tidak ada yang melebur menjadi satu atau tidak melepaskan identitas dan ciri masing- masing.7

2. Konsep Dasar Aliran Pendidikan Esensialisme

Pendidikan merupakan suatu sistem yang memiliki keterkaitan antara suatu aspek dengan aspek yang lainnya. Aspek-aspek tersebut meliputi tujuan, kurikulum, pendidik dan peserta didik.

a. Tujuan Pendidikan.

Tujuan pendidikan dalam aliran esensialisme adalah menyampaikan warisan budaya dan sejarah melalui pengetahuan yang telah bertahan sepanjang waktu diikuti oleh keterampilan, dengan demikian pendidikan dapat diketahui semua orang dan tidak berubah-ubah. Tidak hanya keterampilan saja, tetapi diikuti juga oleh sikap dan nilai-nilai yang tepat, sehingga dapat membentuk unsur-unsur inti (esensial) dari sebuah pendidikan.8 Pendidikan esensialisme juga memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang telah memiliki kejelasan dan tahan lama, sehingga tetap stabil dan nilai-nilai yang terpilih

7Anwar, Filsafat Pendididkan Islam, (Bandung: 2015), hlm 163

8Helaluddin, Restrukturisasi Pendidikan Berbasis Budaya: Penerapan Teori Esensialisme di Indonesia, Dimensi Pendidikan dan Pembelajaran, Volume 6, No. 2, (2018), hlm 75-82.

(8)

5

memiliki tata yang jelas. Tujuan umum dari filsafat pendidikan esensialisme adalah membentuk pribadi bahagia di dunia dan akhirat. Maka, isi dalam pendidikan esensialisme mencakup ilmu pengetahuan, kesenian dan segala hal yang berhubungan dengan kehendak manusia.9

b. Kurikulum

Bagi filsafat pendidikan esensialisme, kurikulum merupakan sebuah miniatur dunia yang dapat dijadikan sebagai alat ukur kebenaran, kenyataan dan kegunaan. Maka, dalam sejarah perkembangannya, filsafat pendidikan esensialisme menerapkan berbagai pola kurikulum, diantaranya adalah idealisme dan realisme. Idealisme dalam pendidikan esensialisme merupakan suatu upaya dalam mengembangkan kepribadian siswa sesuai kebenaran yang berasal dari sang pencipta. Idealisme modern berpandangan pada aspek spiritual yang menganggap bahwa realita sama dengan substansi gagasan-gagasan (ide). Dan dibalik dunia yang fenomenal ini terdapat jiwa yang tak terbatas, yakni kuasa Tuhan sebagai pencipta adanya kosmos dan manusia sebagai makhluk yang berpikir dan berada dibawah kekuasaan Tuhan. Sedangkan realisme dalam pendidikan esensialisme diartikan sebagai sebuah upaya untuk dapat mengarahkan siswa dalam menguasai ilmu pengetahuan. Sebagai salah satu eksponen dari esensialisme, realisme modern menitikberatkan tujuannya pada alam dan dunia fisik.10 Sebagai sebuah aliran yang membentuk corak esensialisme, kedua aliran ini bersifat elektrik, yakni saling mendukung antara satu dengan yang lainnya, tidak melebur menjadi satu dan tidak saling menghilangkan identitas masing- masing aliran.

Bogoslousky menegaskan, agar kurikulum dapat terhindar dari adanya pemisahan mata pelajaran antara satu dengan yang lainnya, maka kurikulum dapat

9M. Yunus Abu Bakar, Problematika Pendidikan Islam di Indonesia, Manajemen dan Pendidikan IslamVoulume 1, No. 1 (Juli-Desember, 2015), hlm 100.

10Afifuddin Harisah, Filsafat Pendidikan Islam: Prinsip dan Dasar Pengembangan, Inspiratif Pendidikan (Yogyakarta: Deepublish, 2018), hlm 110.

(9)

diibaratkan sebagai sebuah rumah yang terdiri dari empat komponen, sebagai berikut.

1. Universum, yakni menjadikan pengetahuan sebagai latar belakang adanya manifestasi kehidupan manusia yang terdiri dari kekuatan alam, asal usul tata surya, dan lain-lain. Maka, dapat dipahami bahwa basis dari pengetahuan adalah ilmu alam yang diperluas.

2. Sivilisasi, merupakan sebuah karya yang dihasilkan oleh manusia sebagai akibat dari kehidupan masyarakat. Dengan adanya sivilisasi, manusia dapat mengawasi lingkungan sekitarnya, sehingga dapat hidup dengan aman dan sejahtera.

3. Kebudayaan, merupakan sebuah karya yang dihasilkan manusia yang mencakup kesenian, kesusastraan, agama, filsafat dan penilaian mengenai lingkungannya.

4. Kepribadian merupakan sebuah bagian yang bertujuan untuk membentuk kepribadian yang ideal.11

Berdasarkan beberapa penjelasan di atas, maka dapat difahami bahwa kurikulum dalam filsafat pendidikan esensialisme diibaratkan seperti balok-balok yang tersusun secara teratur, mulai dari yang paling sederhana hingga yang paling kompleks. Sehingga, apabila kurikulum disusun atas dasar pikiran, maka pendidikan dapat berjalan dengan harmonis. Sehingga peranan sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan dapat berfungsi sesuai dengan prinsip- prinsip dan kenyataan sosial yang ada di masyarakat.

11Abu Bakar, Filsafat Pendidikan Islam., hlm 174

(10)

7

c. Pendidik

Bagi aliran filsafat pendidikan esensialisme, pendidikan berpusat pada seorang pendidik atau guru. Guru merupakan seorang yang lebih mengetahui dan menguasai pengetahuan jika dibandingkan dengan peseta didiknya. Guru memegang posisi tertinggi dalam dunia pendidikan, maka dalam filsafat pendidikan esensialisme ruang kelas sepenuhnya ada dalam pengaruh dan kekuasaan seorang guru. Tugas seorang guru tidak hanya sebagai seorang yang harus membekali dirinya dengan banyak pengetahuan saja, akan tetapi juga perlu melengkapi dirinya dengan skill dalam menyampaikan materi dengan baik kepada peserta didiknya. Dengan adanya skill yang dimiliki oleh seorang guru, maka akan dapat memantik minat belajar siswa yang cukup tinggi. Karenanya, filsafat pendidikan esensialisme menekankan otoritas seorang guru dalam menyampaikan pengetahuan yang dimilikinya serta nilai- nilai pokok yang ada dalam kurikulum.

Sehingga guru menjadi seorang figure yang dalam pendidikan esensialisme secara keseluruhan berpusat pada dirinya dalam melestarikan dan mentransmisikan ilmu kepada para peserta didik dan generasi selanjutnya melalui budaya dan sejarah, hikmah dan pengetahuan.12

d. Peserta Didik.

Dalam filsafat esensialisme, fokus utama dalam proses belajar adalah membentuk intelektualitas peserta didik. Siswa didorong untuk dapat berpikir secara jelas dan logis. Sesuai dengan tujuan dari pendidikan esensialisme, yakni menginginkan peserta didiknya untuk dapat menguasai disiplin-disiplin dasar subjek pengetahuan sebagai upaya dalam memecahkan berbagai permasalahan yang dihadapinya, baik masalah pribadi maupun masyarakat sekitar. Maka, tujuan utama dari filsafat esensialisme bagi peserta didik adalah mempersiapkan peserta didiknya dalam bermasyarakat dan beradab.

12Almi Novita dan Yunus Abu Bakar, Dirasat: Manajemen dan Pendidikan Islam, Volume 7, No 1, (Juni 2021), hlm 16.

(11)

Filsafat esensialisme berpandangan bahwa ditengah perubahan dan keanekaragaman yang terjadi di dunia ini, terdapat pokok utama dalam bidang pendidikan yang bersifat tetap. Misalnya, seorang anak (peserta didik) harus tetap mempelajari nilai-nilai yang ada dalam masyarakat dan menjadikan pendidikan agama sebagai nilai pokok tertinggi dalam dunia pendidikan dibandingkan dengan partisipasi naturalis, sehingga tidak muncul keraguan terhadap hal-hal yang esensial (mendasar).13

Disebutkan oleh Yunus dalam karyanya, esensialisme juga memimiliki prinsip-prinsip pendidikan sebagai berikut:14

a. Pendidikan harus dilakukan melalui usaha keras, karena pendidikan tidak begitu saja timbul dari dalam diri peserta didik.

b. Inisiatif dalam pendidikan ditekankan pada pendidik bukan peserta didik.

c. Inisiatif proses pendidikan adalah asimilasi dari mata pelajaran yang telah ditentukan. Dengan kata lain, Metode-metode tradisional yang berkaitan dengan disiplin mental merupakan metode-motede yang diutamakan dalam proses pendidikan di sekolah.

d. Sekolah harus mempertahankan metode-metode tradisional yang berkaitan dengan disiplin mental.

e. Tujuan akhir pendidikan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan umum.

Dengan demikian, pendidikan yang berlandaskan aliran esensialisme berusaha mengenal potensi peserta didik untuk dikembangkan melalui upaya lembaga pendidikan secara sitemik. Dalam hal ini peserta didik didorong untuk belajar sendiri dengan bimbingan dan arahan guru, sedangkan metode tradisional digunakan sebagai upaya pembentukan mental peserta didik melalui internalisasi nilai-nilai budaya yang telah mengakar di masyarakat di mana sekolah itu berada,

13Ibid., hlm 17

14A. Yunus, Telaah Aliran Pendidikan Progrevisme dan Esensialisme dalam perspektif Filsafat Pendidikan Islam, Volume 2, No 1, (Januari 2016), hlm 37

(12)

9

dalam arti bahwa proses pendidikan beserta pembentukan mental peserta didik tidak terlepas dari budaya yang telah teruji dan terbukti unggul di masyarakat.

B. Aliran Pendidikan Esensialisme dalam Perspektif Islam

Pada hakikatnya, dasar dan tujuan dari pendidikan Islam identik dengan tujuan dari ajaran Islam itu sendiri, berasal dari sumber utamanya yakni al-Qur’an dan Hadits. Terdapat beberapa pandangan yang perlu diperhatikan mengenai konsep pendidikan esensialisme dalam pandangan filsafat pendidikan Islam, diantaranya adalah pandangan ontologi, epistemologi dan aksiologi. Ketiga pandangan ini dapat dijadikan sebagai alat ukur dalam pengembangan pendidikan Islam.

1. Pandangan Ontologi Esensialisme.

Ontologi esensialisme merupakan sebuah konsep pendidikan yang menjelaskan bahwa alam ini diatur oleh tata yang pasti dan tiada cela. Maka bentuk, sifat, kehendak, dan cita-cita manusia harus disesuaikan dengan tata alam yang ada. Dalam hal ini, filsafat pendidikan Islam berpandangan pada konsep the creature of God, dimana Allah SWT sebagai sang pencipta alam semesta telah mengatur seluruh alam beserta seluruh ciptaan-Nya. Maka, secara luas dapat kita pahami bahwa filsafat pendidikan Islam telah menguasai seluruh aspek dalam pendidikan dengan Tuhan (Allah SWT) sebagai sang pencipta, manusia sebagai ciptaan-Nya, dan Rasul sebagai penghubung antara khalik dengan makhluk-Nya.15 Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an sebagai berikut:























Terjemahannya:

“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah”.

15Abu Bakar, Filsafat Pendidikan Islam., hlm 175

(13)

Dapat disimpulkan bahwa Allah SWT pencipta semua makhluk dan segala sesuatu. Seperti malaikat, jin, manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, matahari, bulan, bintang dan segala yang ada di alam ini, Allah SWT menciptakan setiap makhluk secara sempurna dan dalam bentuk yang sebaik-baiknya dengan ukuran yang paling tepat.

Penjelasan berikutnya bahwa yang menjadikan dasar dalam esensialisme dapat tertulis sebagai berikut:

“Nature is a primary self-evident reality, a starting point in philosophizing… The primary qualities of experience exist in the physical world… There is something which produces my sensations and perceptions… which can not be known to be mental in character… Mind is like a mirror receiving images from the physical world… The mind of child is similar to a blank sheet of paper upon which the world proceeds to write its impressions16

Kemudian ide pokok ontologis yang dijadikan dasar pada aliran esensialisme tercermin dalam kutipan sebagai berikut:

“Ultimate reality is of the same substance as ideas… Behind the phenomenal world is an infinite Spirit which is both substructure and creator of the cosmos… The existence of God is made necessary by certain factors in selfhood… The self is the prime reality… Man as a thinking being is a part of God… By examining his own ideas and testing their consistency, man can achieve truth… The self reads meaning and unity into the objective world”17

2. Pandangan Epistemologi Esensialisme.

Epistemologi esensialisme merupakan teori kepribadian manusia sebagai refleksi Tuhan. Karena jika rasionya mampu memikirkan kesemestaannya, maka manusia akan menyadari realitanya sebagai mikrokosmos. Berdasarkan hal inilah, manusia dapat memproduksi pengetahuannya secara tepat mengenai benda-benda, ilmu alam, sosial, biologi dan agama. Filsafat pendidikan Islam, memberikan

16Sembodo Ardi Widodo, Pendidikan Dalam Perspektif Aliran-aliran Filsafat, (Yogyakarta: Idea Press, 2015), hlm 99

17Ibid., hlm 99

(14)

11

pandangan yang lebih luas mengenai hal ini. Sebagaimana disebutkan dalam al- Qur’an sebagai berikut:

ْيَحْوَا َ كلِ ٰذَكَو ُناَمْيك ْلَا َلَ َو ُبٰتككْلا اَم ْيكر ْدَت َتْنُك اَمۗ َنَكرْمَا ْنك م اًح ْوُر َكْيَلكا ٓاَن

ٍطاَ كصِ ٰلٰكا ْٓيكدْ َتََل َكهنكاَوۗ َنَكداَبكع ْنكم ُءۤا َشهن ْنَم ٖهكب ْيكدْهنَّ ا ًرْوُن ُهٰنْلَعَج ْنككٰلَو مٍْيكقَت ْ سُّم

Terjemahannya:

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) ruh (Al- Qur'an) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab (Al-Qur'an) dan apakah iman itu, tetapi Kami jadikan Al- Qur'an itu cahaya, dengan itu Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sungguh, engkau benar- benar membimbing (manusia) kepada jalan yang lurus, (Q.S. Asy- Syu’ara/26: 52)18

Melalui ayat tersebut dapat kita pahami bahwa al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi umat manusia untuk menuju ke arah yang lurus. Dan yang menjadi dasar pandangan epistemologi esensialisme dalam pendidikan Islam terletak pada pengetahuan manusia yang memandang pengetahuan sebagai sebuah potensi yang dimiliki manusia yang terbentuk berdasarkan kemampuan nalar, kadar dan tingkatan yang berbeda karena disesuaikan dengan obyeknya.19

3. Pandangan Aksiologi Esensialisme.

Pandangan aksiologi dipengaruhi oleh pandangan ontologi dan epistemologi. Pandangan aksiologi beraggapan bahwa nilai-nilai dalam aliran ini berasal dari pandangan idealisme dan realisme, karena pada dasarnya aliran esensialisme terbentuk melalui kedua aliran tersebut. Filsafat pendidikan Islam, memandang aksiologi sebagai sebuah prinsip penting yang mengandung nilai praktis dalam bidang pendidikan, yakni mengenai keyakinannya yang memaknai

18Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Bandung: Jumanatul, 2015), hlm 489

19Op. Cit., hlm 176.

(15)

akhlak sebagai sebuah aspek terpenting dalam hidup. Karena akhlak tidak hanya terbatas antar manusia saja, melainkan juga antara manusia dengan sang pencipta (Allah SWT). Maka, inti dari konsep ini adalah membentuk pribadi bahagia di dunia dan akhirat.20

Aliran pemdidikan esensialisme juga memiliki ciri-ciri sebagaimana yang di sebutkan oleh Wiliam C. Bagley sebagai berikut:21

a. Minat-minat yang kuat dan tahan lama sering timbul dari upaya-upaya belajar awal yang memikat atau menarik perhatian Bukan karena dorongan dari dalam diri siswa.

b. Pengawasan pengarahan, dan bimbingan orang dewasa adalah melekat dalam masa balita yang panjang atau keharusan ketergantungan yang khusus pada spesies manusia.

c. Oleh karena kemampuan untuk mendisiplinkan diri harus menjadi tujuan pendidikan, maka mengakkan disiplin adalah suatu cara yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut. Dikalangan individu ataupun bangsa, kebebasan yang sesungguhnya selalu merupakan suatu yang yang dicapai melalui perjuangan, tidak pernah merupakan pemberian.

d. Esensialisme menawarkan sebuah teori yang kokoh, kuat tentang pendidikan, sedangkan sekolah-sekolah pesaingnya (progresivisme) memberikan sebuah teori yang lemah.

Adapun aliran pendidikan Esensialisme memiliki kelebihan dan kelemahan, diantaranya:22

20Ibid., hlm 176-177.

21Dahniar, Filsafat Pendidikan Esensialisme, Azkia Volume 15, No 2 (Januari 2021), hlm 166

22Nurul Aulia Fadilah, Aliran Esensialisme dan Tokoh-tokoh Filsifnya, https://www.kompasiana.com/nurulauliaf/ di akses pada Selasa, 05 Oktober 2021, pukul 12.30 WIT.

(16)

13

a. Kelebihan pendidikan esensialisme

1. Suatu ide atau gagasan manusia bersumber dari Allah SWT.

2. Memberikan dasar pendidikan yang fleksibilitas, artinya bahwa memberikan keterbukaan terhadap perubahan dan toleran tidak terikat dengan doktrin tertentu.

3. Pendidikan berpijak pada nilai kestabilan.

4. Peran guru sebagai model yang baik untuk digugu dan ditiru.

b. Kelemahan pendidikan esensialisme

1. Sekolah tidak boleh menetapkan kebijakan sosial yang mengakibatkan adanya orientasi yang terikat tradisi pada pendidikan.

2. Para pemikir esensialisme umumnya berpendapat filsafat yang berbeda, bahkan memandang ilmu sastra, bahkan pelajaran IPA, teknik dan kejuruan lah penting diperlukan siswa agar memberi konstribusi pada masyarakat.

3. Inisiatif hanya ditekankan pada pendidik semata, bukan pada peserta didik.

(17)

13

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Esensialisme adalah suatu aliran pendidikan yang mengingginkan manusia kembali kepada kebudayan-kebudayaan lama yang telah terbukti kebenarannya. Adapun konsep aliran pendidikan esensialisme diantaranya; tujuan pendidikan, kurikumlum, pendidik, dan peserta didik.

2. Aliran pendidikan esensialisme dalam perspektif Islam dapat dilihat dalam tiga pandangan diantaranya; 1) pandangan Ontologi, 2) pandangan epistemology, dan 3) pandangan aksiologi. Dimana ketiga-tiganya saling keterkaitan dan saling menopang satu sama lainnya.

B. Rekomendasi

Penulis berharap, penulisan makalah ini bisa bermanfaat bagi pembaca umumnya dan penulis khususnya, serta penulis memberikan rekomendasi, bahwa makalah ini membutuhkan penjelasan lebih mendalam terkait dengan pandangan- pandangan esensialiseme agar terkupas jelas aliran pendidikan esensialisme dalam perspektif Islam seperti bagaimana.

(18)

14

BAB III PENUTUP

A. Yunus, Telaah Aliran Pendidikan Progrevisme dan Esensialisme dalam perspektif Filsafat Pendidikan Islam, Volume 2, No 1, Januari 2016.

Afifuddin Harisah, Filsafat Pendidikan Islam: Prinsip dan Dasar Pengembangan, Inspiratif Pendidikan, Yogyakarta: Deepublish, 2018.

Almi Novita dan Yunus Abu Bakar, Dirasat: Manajemen dan Pendidikan Islam, Volume 7, No 1, Juni 2021.

Anwar, Filsafat Pendididkan Islam, Bandung: Idea Preaa, 2015.

Dahniar, Filsafat Pendidikan Esensialisme, Azkia Volume 15, No 2, Januari 2021.

Helaluddin, Restrukturisasi Pendidikan Berbasis Budaya: Penerapan Teori Esensialisme di Indonesia, Dimensi Pendidikan dan Pembelajaran, Volume 6, No. 2, 2018.

Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Bandung: Jumanatul, 2015.

M. Yunus Abu Bakar, Problematika Pendidikan Islam di Indonesia, Manajemen dan Pendidikan IslamVoulume 1, No. 1, Juli-Desember, 2015.

Muhammad Anwar, Filsafat Pendidikan, Jakarta: Kencana, 2015.

Muhammad Ichsan Thaib, Esensialisme Dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Islam, Volume 4, No 2 Juli-Desember 2015.

Muhammad Ichsan Thaib, Esensialisme Dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Islam, Volume 4, No 2, Juli-Desember 2015.

Rizal Mustasyir, Filsafat Analitik: Sejarah Perkembangan, dan Peranan Para Tokohnya, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007.

Saidah, Pemikiran Esensialisme, Eksistensialisme, Perenalismen, dan Pragmatisme dalam perspektif Pendidikan Islam, Jurnal al-Asas, Vol. 5, No 2, Oktober 2020.

Sembodo Ardi Widodo, Pendidikan Dalam Perspektif Aliran-aliran Filsafat, Yogyakarta: Idea Press, 2015.

(19)

15

Nurul Aulia Fadilah, Aliran Esensialisme dan Tokoh-tokoh Filsifnya, https://www.kompasiana.com/nurulauliaf/ di akses pada Selasa, 05 Oktober 2021, pukul 12.30 WIT.

Referensi

Dokumen terkait

Tindak pidana materiil adalah suatu perbuatan pidana yang melarang menimbulkan akibat tertentu (akibat yang dilarang atau akibat konstitutif).. terjadi atau timbulnya

Pada bab ini disajikan data dan pembahasan, penelitian yang berjudul “Efektifitas Pengembangan Lembar Kerja Siswa Geografi Dengan Metode Stad (

Lebih dari 20% cell dengan nilai harapan > 5, kita tidak bisa menggunakan Chi Square test.

Ni'matullah Erbe mengenang sosok Seketaris Fraki Golkar Sulsel tersebut seb-agai sahabatvans sangat baik Menurut Ketua parta] OemokaiSuil sel ini, Ince tangke

Variabel penelitian yang digunakan untuk menentukan untuk menentukan faktor - faktor pengembangan kawasan wisata pantai Hamadi di kota Jayapura antara lain ada 21

Untuk kemudahan dalam pengelolaan dan kinerja kearsipan modern dan Jasa perusahaan outsourcing pengelolaan dokumen menggunakan program-program aplikasi di setiap

Dengan demikian pada penelitian ini diharapkan di peroleh suatu kondisi bioreaktor hidrolisis- acidogenesis dengan tipe ABR dimana pada reaktor ini tidak

Faktor – faktor lain yang dapat mempengaruhi perusahaan untuk melakukan pergantian auditor (auditor switching) secara sukarela (voluntary), yaitu pergantian manajemen,