Fakultas Ilmu Komputer
Universitas Brawijaya
9518
Pengembangan Multimedia Pembelajaran Interaktif Berbasis Grafis Untuk Mata Pelajaran Pemrograman Dasar Menggunakan Model APPED Pada
Jurusan Multimedia di SMK Negeri 4 Malang
Hanif Aulia Kusuma1, Hanifah Muslimah Az-Zahra2, Admaja Dwi Herlambang3
Program Studi Pendidikan Teknologi Informasi, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya Email: 1[email protected], 2[email protected], 3[email protected]
Abstrak
Salah satu dampak perubahan struktur kurikulum (dari kurikulum 2006 menjadi kurikulum 2013) adalah terdapat mata pelajaran pemrograman dasar pada jurusan Multimedia kelas X yang sebelumnya tidak ada. Hal tersebut menyebabkan permasalahan, diantaranya yaitu tidak ada sumber belajar yang relevan dan berdasarkan hasil evaluasi materi fungsi selama melaksanakan Lesson Study pada jurusan Multimedia-C kelas X, 28 siswa dari 37 siswa mendapat nilai di bawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Dari permasalahan tersebut perlu dikembangkan Multimedia Pembelajaran Interaktif (MPI) dengan menggunakan model APPED dengan tujuan meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil evaluasi Produk MPI dinyatakan valid oleh peneliti pada tahap ongoing evaluation, untuk tahap alpha test penilaian dari ahli materi yaitu sebesar 97,80% dan termasuk kategori “sangat valid”, untuk penilaian dari ahli media yaitu sebesar 68,90% dan termasuk kategori “valid”, dan untuk penilaian dari ahli instruksional yaitu sebesar 82,50% dan termasuk kategori “sangat valid”, kemudian produk MPI disebarluaskan untuk mengetahui tingkat efektivitas produk dalam pembelajaran dengan melakukan uji beda menggunakan Wilcoxon signed-rank Test dan menghasilkan Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,000 dikarenakan nilai tersebut lebih rendah dari 0,050 maka dapat disimpulkan bahwa produk MPI dianggap efektif.
Kata kunci:multimedia pembelajaran interaktif, model APPED, multimedia, pemrograman dasar.
Abstract
One of the impacts of the change in curriculum structure (from the 2006 curriculum to the 2013 curriculum) is that there are basic programming subjects in the Department of Multimedia class X which previously did not exist. This has caused problems, including the lack of relevant learning resources and the results of evaluating the function material while carrying out Lesson Study in the Multimedia- C class X, 28 students out of 37 students scored below the KKM (Minimum completeness criteria). These problems need to be developed in Interactive Learning Multimedia (MPI) using the APPED model to improve student learning outcomes. The results of the MPI product evaluation were declared valid by researchers at the ongoing evaluation stage, for the alpha test stage the assessment of material experts was 97.80% and included in the category of "very valid", for the assessment of media experts which amounted to 68.90% and included the category " valid ", and for the assessment of instructional experts that is equal to 82.50% and belongs to the category of" very valid ", then MPI products are distributed to determine the level of effectiveness of the product in learning by conducting different tests using the Wilcoxon signed-rank test and producing Asymp. Sig. (2-tailed) of 0,000 because the value is lower than 0.050, it can be concluded that MPI products are considered effective.
Keywords: interactive multimedia learning, APPED model, multimedia, basic programming.
1. PENDAHULUAN
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 pasal 1 tentang Standar Nasional Pendidikan, Kurikulum merupakan sekumpulan rancangan dan kaidah tentang bahan pelajaran,
isi dan tujuan serta sebagai landasan pelaksanaan kegiatan pembelajaran dalam rangka mencapai tujuan pendidikan yang sudah ditentukan.
Dengan berlangsung nya kurikulum 2013 menuntut agar sumber belajar bersifat interaktif, sesuai dengan Peraturan Pemerintah nomor 32
Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya
tahun 2013 pasal 1 ayat 19 yang mendefinisikan pembelajaran sebagai proses interaksi antara murid dengan murid yang lain, antara murid dengan pendidik dan antara murid dengan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.
Ada 9 jurusan di SMK Negeri 4 Malang diantaranya adalah: Animasi, Design Grafika, Multimedia, Rekayasa perangkat Lunak, Produksi Grafika, Teknik Komputer dan Jaringan, Mekatronika, Logistik, dan Perhotelan.
Dengan berlakunya Kurikulum 2013 hal tersebut berkonsekuensi terhadap perubahan struktur kurikulum yang di dalamnya terdapat mata pelajaran yang harus ditempuh untuk suatu jurusan dalam satuan pendidikan tertentu. Salah satu perubahan struktur kurikulum 2013 yang diresmikan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2018 adalah terdapat materi pemrograman dasar pada jurusan Multimedia kelas X yang sebelumnya tidak ada, hal ini menyebabkan keterbatasan media pembelajaran dan sumber belajar.
Berdasarkan website
multimediagrafika.com yaitu website resmi untuk jurusan multimedia di SMK N 4 malang, jurusan Multimedia merupakan jurusan berbasis teknologi informasi yang dirancang untuk mempersiapkan peserta didik agar mampu menyampaikan informasi dengan menggunakan berbagai macam media yang ada seperti: audio, video, teks, animasi dan grafis. Penyampaian informasi pada jurusan multimedia dapat melalui televisi, multimedia interaktif dan media lainnya agar penyampaian informasi lebih menarik.
Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dilaksanakan dalam kurun waktu 6 minggu mulai dari tanggal 24 September hingga tanggal 9 November 2018 di SMK Negeri 4 Malang, selama pelaksanaan nya terdapat beberapa permasalahan yang dihadapi siswa jurusan Multimedia-C kelas X. Setelah melakukan wawancara tidak terstruktur menurut pengajar pemrograman dasar di SMK Negeri 4 Malang berpendapat bahwa siswa jurusan Multimedia sulit belajar materi pemrograman dasar, karena peserta didik pada jurusan Multimedia lebih fokus mendesain daripada belajar program yang bersifat abstrak, oleh sebab itu materi perlu divisualisasikan, materi yang divisualisasikan yaitu macam-macam proses yang ada pada bab fungsi, hal tersebut didukung oleh teori Clark dan Lyons (2011), yang menyatakan bahwa apabila materi terdapat proses maka perlu divisualisasikan, teori tersebut diterapkan di dalam multimedia pembelajaran interaktif
(MPI). Selain itu alasan siswa tidak paham materi fungsi diperkuat dari hasil ujian mereka selama peneliti melaksanakan Lesson Study pada jurusan Multimedia-C kelas X, 28 dari 37 peserta didik memperoleh nilai di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 70, dan semua siswa tidak bisa menyelesaikan permasalahan membuat fungsi untuk menentukan bilangan ganjil atau genap. Dari permasalahan tersebut, materi pemrograman dasar dipilih sebagai isi konten MPI terutama untuk bab fungsi, multimedia pembelajaran interaktif dipilih dikarenakan menurut penelitian yang dikerjakan oleh Pratama pada tahun 2017, perolehan belajar peserta didik terbukti meningkat sesudah menggunakan MPI, serta media dapat membantu siswa dalam memahami materi (Munir, 2012, p.132) selain itu menyesuaikan kompetensi lulusan jurusan Multimedia di SMK Negeri 4 Malang yaitu siswa Multimedia harus bisa membuat multimedia interaktif untuk menyampaikan informasi. Dari hasil observasi laboratorium pemrograman dasar di SMK Negeri 4 Malang terdapat hambatan yaitu jaringan internet yang tidak stabil dan belum ada MPI untuk pelajaran pemrograman dasar pada jurusan Multimedia, dikarenakan hambatan tersebut peneliti ingin mengembangkan multimedia pembelajaran interaktif yang bersifat offline dengan harapan dapat digunakan apabila tidak ada koneksi internet.
Kerangka MPI yang diproduksi menggunakan metode Drill And Practice, pemilihan metode tersebut menyesuaikan siswa Multimedia-C kelas X yang dianggap sudah mempelajari materi fungsi pada mata pelajaran pemrograman dasar pada semester 1, sedangkan uji coba produk MPI dilaksanakan pada tanggal 26 Juli 2019. Manfaat dari penerapan metode Drill And Practice pada MPI adalah agar kemampuan siswa meningkat dalam memecahkan masalah menggunakan fungsi (Surjono, 2017 p.49).
Jadi dari uraian diatas, peneliti ingin mengembangkan media pembelajaran interaktif dengan menggunakan authoring tools yang bersifat offline dengan materi pemrograman dasar terutama pada bab fungsi dan memvisualisasikan materi berupa proses yang ada pada fungsi untuk jurusan multimedia kelas X. Dalam pengembangan nya peneliti melakukan penelitian berjenis R&D dengan menggunakan model APPED, model APPED dipilih karena merupakan salah satu jenis penelitian R&D dan memiliki esensi yang sama
yaitu kegiatan meneliti dan mengembangkan (Surjono, 2017, p.65), selain itu tahapan di dalam model APPED memiliki langkah yang berfokus untuk mengembangkan MPI, dimulai dari analisis dan penelitian awal; perancangan;
produksi; evaluasi dan diakhiri dengan diseminasi, berdasarkan kelima tahap tersebut berfokus pada produk MPI yang dikembangkan, dikarenakan tahap evaluasi dilaksanakan setelah MPI sudah diproduksi sehingga menghasilkan produk yang layak berdasarkan saran para ahli dan dilanjutkan dengan diseminasi untuk mengetahui tingkat efektivitas produk MPI berbeda dengan model ADDIE, pada model ADDIE terdapat kerancuan dikarenakan produk MPI dapat langsung diimplementasikan tanpa melalui tahap evaluasi. Serta menerapkan prinsip multimedia pembelajaran dengan tujuan mengurangi beban kognitif pengguna MPI interaktif sehingga hasil belajar dapat meningkat (Mayer, 2009 disitasi dalam Surjono, 2017 pp.26-35).
2. METODOLOGI
Model APPED adalah salah satu model yang dapat diterapkan untuk mengembangkan MPI, sebagai salah satu jenis dari ranah penelitian R
& D, Model APPED memiliki esensi yang sama dengan penelitian R & D yaitu diawali dari kegiatan analisis kemudian dilakukan pengembangan berdasarkan data analisis.
terdapat 5 langkah pada model ini diantaranya adalah: kegiatan analisis dan penelitian awal, merancang produk MPI, mengembangkan produk MPI, mengevaluasi produk MPI, dan Diseminasi
(Surjono, 2017, pp.65-74)
. Langkah model APPED dapat dilihat pada Gambar 1.Gambar 1. Tahapan APPED Tahap pertama yang perlu dilakukan pada model APPED adalah kegiatan analisis kebutuhan dan penelitian awal. Pada analisis kebutuhan, peneliti perlu mendeskripsikan kesenjangan antara kondisi subjek sebelum
dilakukan penelitian dengan harapan peneliti setelah subjek sudah menggunakan produk MPI, sedangkan penelitian awal merupakan proses untuk memperoleh informasi yang lebih spesifik tentang pengembangan MPI. Pada tahap perancangan dilakukan pembuatan dokumen outline, flowchart, screen design dan storyboard. Setelah tahap perancangan tahap selanjutnya adalah tahap produksi yaitu proses menghasilkan produk MPI. Selanjutnya adalah tahap evaluasi hal yang perlu dilakukan dalam tahap evaluasi yaitu: pengujian ongoing, tes alfa, dan tes beta. Pengujian ongoing adalah pengujian yang dilakukan sendiri oleh pengembang, tes beta adalah evaluasi yang dilakukan oleh beberapa subjek pengguna MPI dengan ketentuan minimal 3 subjek atau lebih (kelipatan 3) dengan komposisi subjek dengan kapasitas di bawah rata-rata, subjek dengan kapasitas rata-rata dan subjek dengan kapasitas di atas rata-rata (dalam penelitian ini subjek yang dimaksud adalah siswa dan kapasitas mengacu pada nilai) dan tes alfa adalah pengujian yang dilakukan oleh para ahli (ahli materi, ahli media, dan ahli instruksional). Tahap terakhir yang perlu dilakukan adalah tahap diseminasi yaitu melakukan uji coba produk MPI dengan mengadakan eksperimen di lapangan (sekolah) dalam penelitian ini eksperimen dilakukan kepada 37 siswa.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Bab ini membahas tentang hasil penelitian berdasarkan model APPED.
3.1. Hasil Analisis dan Penelitian Awal Siswa sudah mempelajari bab fungsi pada semester 1, oleh sebab itu alur yang digunakan pada MPI ini menggunakan metode Drill And Practice dikarenakan diseminasi dilakukan pada saat siswa sudah mempelajari materi tersebut.
3.2. Hasil Perancangan dan Produksi
Salah satu hasil dari tahap perancangan adalah perancangan Screen Design. Screen Design berguna sebagai acuan peneliti dalam menentukan objek yang tersedia pada MPI hasil perancangan Screen Design dapat dilihat pada Gambar 2.
A •Analisis & Penelitian Awal
P •Perancangan
P •Produksi
E •Evaluasi
D •Diseminasi
Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya Gambar 2 Screen Design
Screen Design pada Gambar 2 merupakan salah satu acuan dalam mengembangkan produk MPI. Terdapat 10 scene pada MPI, berikut adalah beberapa scene sebelum direvisi pada tahap evaluasi.
Gambar 3. Scene Play
Gambar 3. merupakan Scene yang pertama kali muncul pada saat pengguna MPI menjalankan produk MPI. Pada Scene tersebut belum menerapkan prinsip coherence dikarenakan masih tahap produksi (belum dievaluasi oleh para ahli).
Gambar 4. Scene Menu
Gambar 4. merupakan halaman yang ada pada scene menu utama. Pada Gambar 4.
terdapat 5 tombol menu yang disajikan dalam bentuk mind map. Pada Gambar 4 menerapkan prinsip personalization yaitu prinsip yang menyertakan karakter dengan audio dan menggunakan bahasa sehari-hari.
Gambar 5. Scene Materi
Gambar 5. merupakan contoh halaman yang ada pada scene materi, pada Gambar 5.
terdapat penjelasan source code yang disajikan dalam bentuk animasi. Prinsip spatial contiguity diterapkan pada Gambar 5 yaitu penjelasan dan animasi terletak pada halaman yang sama.
Terdapat juga penerapan prinsip temporal contiguity yaitu penjelasan audio dan animasi berjalan secara bersamaan. Terdapat penerapan prinsip modality dan multimedia, yaitu penjelasan dari animasi berupa audio.
Gambar 6. Scene Quiz
Gambar 6 merupakan hasil produksi halaman quiz, pengguna MPI dituntut untuk mengerjakan soal latihan sebanyak 15 butir soal.
Pada Gambar 6 terdapat radio button sebagai pilihan jawaban yang tersedia, apabila pengguna MPI sudah yakin dengan jawaban yang dipilih maka untuk menuju soal berikutnya pengguna MPI harus menekan tombol konfirmasi jawaban.
Pada halaman quiz juga terdapat nyawa sebagai batasan pengguna MPI dalam menjawab quiz.
Adanya kuis dalam MPI merupakan penerapan prinsip interactivity.
3.3. Hasil Evaluasi dan Diseminasi
Pada tahap ongoing evaluation peneliti melakukan evaluasi produk MPI berdasarkan beberapa aspek, ongoing evaluation dilakukan oleh peneliti selama peneliti mengembangkan produk MPI. Berikut pada Tabel 1. merupakan hasil validasi produk MPI saat melakukan ongoing evaluation.
Tabel 1. Ongoing Evaluation
No. Aspek Fungsi Keterangan
1. Semua tombol bekerja Valid 2. Tidak ada error pada MPI Valid 3. Tidak ada elemen
multimedia yang menyebabkan MPI macet
Valid
No. Aspek Isi Keterangan
4. Tidak ada kesalahan konsep/materi
Valid
5. Tidak ada kesalahan tata tulis dan ejaan.
Valid
6. Materi sesuai dengan target pengguna MPI
Valid
No. Aspek Tampilan Keterangan
7. Ketepatan pemilihan jenis huruf
Valid
8. Ketepatan pemilihan ukuran huruf
Valid
9. Penggunaan warna tidak berlebihan
Valid
10. Tata letak serasi Valid
Setelah dilakukan pengujian ongoing, tahap selanjutnya adalah melakukan alpha test yang dinilai oleh para ahli. Berikut pada tabel 2.
Merupakan hasil penilaian produk MPI berdasarkan para ahli.
Tabel 2. Alpha Test
Evaluator Presentase Keterangan
Ahli Materi 97,8% ”Sangat Valid”
Ahli Media 68,9% “Valid”
Ahli Intruksional
82,5% “Sangat Valid”
Selanjutnya adalah tahap beta test dilakukan dengan cara mewawancarai 3 siswa berdasarkan kategori tertentu. Berikut pada tabel 3.
merupakan hasil Beta test.
Tabel 3. Beta Test
No. Inisial Nilai pre-
test
Nilai post- test
1. APP 42,5 82
2. HHM. 48 57
3. RDN 55,5 85
Setelah tahap evaluasi, tahap terakhir yang perlu dilakukan adalah diseminasi, pada tahap
diseminasi peneliti melakukan eksperimen menggunakan desain One-Group Pretest-Pos test dan menghasilkan nilai pre-test dan post-test siswa, kemudian nilai tersebut dianalisis untuk mengetahui tingkat keefektifan produk MPI.
Sebelum melakukan uji perbedaan, perlu dilakukan uji normalitas. Tabel 4. merupakan hasil uji normalitas untuk nilai pre-test dan post- test.
Tabel 4. Uji Normalitas
Pre-test Post-test
N 37 37
Mean 42,62 65,22
Std.Deviation 14,27 16,57
Asymp. Sig. (2-tailed) 0,020 0,059
Nilai signifikansi untuk pre-test sebesar 0,020 dan
post-testsebesar 0,059, dikarenakan nilai signifikansi pre-test kurang dari 0,05, maka distribusi nilai pada
pre-test dianggap tidak normal, oleh sebabitu perlu dilakukan transformasi agar data terdistribusi normal. Tabel 5. merupakan hasil transformasi signifikansi data pre-test.
Tabel 5. Transformasi Pre-Test
No. Transformasi Asymp. Sig. (2-tailed)
1 Log positif 0,000
2 Log negatif 0,000
3 SQRT positif 0,000
4 SQRT negatif 0,052
5 Reciprocal positif 0,000
6 Reciprocal negatif 0,000
Berdasarkan Tabel 5. hanya transformasi menggunakan SQRT negatif yang memiliki nilai signifikansi diatas 0,05, untuk mengetahui perbedaan antara nilai pre-test dan nilai post-test maka nilai post-test juga ditransformasi menggunakan SQRT negatif, namun setelah ditransformasi nilai signifikansi post-test menjadi 0,00 dan dianggap tidak terdistribusi dengan normal, oleh sebab itu peneliti menggunakan uji Wilcoxon signed-rank Test dan menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,000, dikarenakan nilai tersebut dibawah 0,05 maka
Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya
disimpulkan penggunaan MPI memiliki dampak yang baik dalam pembelajaran.
4. KESIMPULAN
Dalam mengembangkan MPI metode yang digunakan adalah Drill And Practice, dikarenakan siswa telah dianggap belajar materi fungsi pada tanggal 07 November 2018, pelaksanaan diseminasi dilaksanakan pada tanggal 26 Juli 2019. Materi yang terdapat pada MPI yaitu materi fungsi, dikarenakan berdasarkan hasil belajar siswa lebih banyak yang mendapat nilai di bawah KKM (70) daripada di atasnya. Materi pada MPI divisualisasikan, dalam hal ini yang divisualisasikan yaitu proses yang ada pada fungsi seperti: pengiriman argumen ke dalam parameter fungsi, proses mendapatkan return value (nilai kembalian), penggunaan fungsi bawaan pada bahasa pemrograman. Di dalam MPI yang dikembangkan terdapat latihan soal sebanyak 30 butir soal, setiap selesai mengerjakan butir soal terdapat feedback berdasarkan jawaban siswa, pada soal tersebut terdapat tantangan berupa batasan siswa dalam menjawab soal.
Pada tahap diseminasi peneliti melaksanakan desain eksperimen One-Group Pretest-Posttest. Hasil dari eksperimen tersebut adalah nilai pre-test dan post-test siswa, dari hasil yang didapatkan kemudian dianalisis untuk mengetahui daya beda antara pre-test dan post- test siswa, peneliti melakukan Wilcoxon signed- rank Test sebagai uji beda dan menghasilkan Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,000 dikarenakan nilai tersebut lebih rendah dari 0,050 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai pre-test dan post-test dengan kata lain MPI yang dikembangkan terbukti efektif dalam pembelajaran dikarenakan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
5. DAFTAR PUSTAKA
Ananda, R., ed., 2014. Metodologi Penelitian Kuantitatif [e-book]
Bandung: Citapustaka Media 2014.
Tersedia di: repositori uinsu <
http://repository.uinsu.ac.id/553/1/MET ODOLOGI%20PENELITIAN%20KU ANTITATIF.pdf> [Diakses 26 Januari 2019]
Arifin, Z., 2012. Evaluasi Pembelajaran.
[e-book] Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Islam Kementrian Agama RI
2012. Tersedia di: DOCPLAYER
<https://docplayer.info/303008- Evaluasi-pembelajaran-drs-zainal- arifin-m-pd.html> [Diakses 10 April 2019].
Clark, R. C. & Mayer, R. E., 2016. E- Learning And The Science Of Instruction. [e-book] Amerika: Wiley 2016.
Tersedia di: Library Genesis
<http://library1.org/_ads/C1D9FAE69A 4C9894E7035191C1524E70>
[Diakses 10 April 2019].
Clark & Lyons, 2011. Graphics for Learning Proven Guidelines for Planning, Designing, and Evaluating Visuals in Training Materials. [e-b
ook]
United States: Wiley 2011.
Field, A., 2009. DISCOVERING STATISTICS USING SPSS (And Sex And Drugs And Rock ‘N’ Roll). [e-book]
Dubai: Oriental Press. Tersedia di:
<https://www.google.com/url?sa=t&rct
=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&v ed=2ahUKEwjug_HEybPkAhUUheYK HUS8A_kQFjAAegQIARAC&url=http s%3A%2F%2Ffaculty.psau.edu.sa%2Ff iledownload%2Fdoc-6-pdf-
a46e10627f49a5333cdcd0b700790f8b- original.pdf&usg=AOvVaw0yyui_fY4 Y3LwcUV4nkjKQ> [Diakses 18 Agustus 2019].
Hidayah, N., 2015. Pengembangan
Multimedia Pembelajaran
Pemrograman Dasar Untuk Kelas X Smk. S1. Universitas Negeri Yogyakarta. Tersedia di: <
https://eprints.uny.ac.id/30889/1/Nur%
20Hidayah%20-
%2010520241023.PDF> [Diakses 07 Februari 2019].
Machali, I., 2015. Statistik Itu Mudah Menggunakan Spss Sebagai Alat Bantu Statistik [e-book] Yogyakarta: Lembaga Ladang Kata. Tersedia di: Research Gate
<https://www.researchgate.net/publicati on/309464242_STATISTIK_ITU_MU DAH_Menggunakan_SPSS_Sebagai_A lat_Bantu_Statistik> [Diakses 18 Agustus 2019].
Munir, 2012. Multimedia Konsep Dan Aplikasi Dalam Pendidikan [e-book]
Bandung: Alfabeta, CV. Tersedia di:
Perpustakaan UPI <
http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/P RODI._ILMU_KOMPUTER/19660325 2001121MUNIR/BUKU/MULTIMEDI A%20Konsep%20%26%20Aplikasi%2 0dalam%20Pendidikan.pdf> [Diakses 16 Januari 2019].
Peraturan Pemerintah nomor 32 tahun 2013 tentang perubahan atas peraturan pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan.
Jakarta: Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia.
Peraturan Direktur Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor:
07/D.D5/KK/2018 tentang Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan . (SMK)/Madrasah Aliyah (MAK). Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.
Sarwono, J., 2006. Metodologi Penelitian Kuantitatif & Kualitatif [e-book]
Yogyakarta: Graha Ilmu 2006. Tersedia
di: caridokumen
<https://caridokumen.com/queue/buku- metodologi-penelitian-kuantitatif-dan- kualitatif-oleh-jonathan-sarwono- _5a449cf8b7d7bc7b7a734e4e_pdf?que ue_id=5a625adab7d7bc064df72210>
[Diakses 26 Januari 2019].
Sugiyono, 2018. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D.
Bandung: ALFABETA,CV.
Surjono, H. D., 2017. MPI Konsep dan Pengembangan. [e-book] Tersedia di:
Blog UNY
<http://blog.uny.ac.id/hermansurjono/fil es/2018/02/Multimedia-Pembelajaran- 2017-Cetak-smSC.pdf> [Diakses 16 Januari 2019].