i
Prosiding
PERAN DOKTER HEWAN DALAM PENINGKATAN KESEHATAN HEWAN, LINGKUNGAN, DAN MANUSIA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS GADJAH MADA
2016
ii
Prosiding
PERAN DOKTER HEWAN DALAM PENINGKATAN KESEHATAN HEWAN, LINGKUNGAN, DAN MANUSIA
Hak Cipta dilindungi oleh Undang-undang Hak Cipta tahun 1987 Dilarang memproduksi dengan cara apapun
tanpa seijin tertulis dari penerbit
ISBN: 978-602-73684-1-5
Design Cover:
Drh. Dito Anggoro, M.Sc.
Diterbitkan oleh:
Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada
2016
iv
Prosiding
PERAN DOKTER HEWAN DALAM PENINGKATAN KESEHATAN HEWAN, LINGKUNGAN, DAN MANUSIA
Reviewer:
- Dr. Drh. Maxs Urias E. Sanam, M.Sc. (Universitas Cendana) - Dr. Luthfiralda Sjahfirdi, M.Biomed. (Universitas Indonesia) - Dr. drh. Hera Maheswari, MSc. (Institut Pertanian Bogor)
- Dr. Adi Suratman (Universitas Udayana)
- Prof. Dr. drh. Pudji Astuti, MP. (Universitas Gadjah Mada)
- Dr. drh. Soedarmanto Indarjulianto (Universitas Gadjah Mada)
- Dr. drh. Tri Untari, M.Si. (Universitas Gadjah Mada)
- Dr. drh. Yanuartono, MP. (Universitas Gadjah Mada)
- Dr. drh. Sitarina Widyarini, MP., Ph.D (Universitas Gadjah Mada)
- Dr. drh. Penny Humaidah H., M.Biotech. (Universitas Gadjah Mada)
- Dr. drh. Dwi Priyo Widodo, MP. (Universitas Gadjah Mada)
- Dr. drh. Claude Mona Airin, MP. (Universitas Gadjah Mada)
- Endah Choiriyah, SIP., M.Si. (Universitas Gadjah Mada)
v DAFTAR ISI
Halaman Judul ……… i
Kata Pengantar ... iii
Review Proceeding ... iv
Daftar Isi …..………...……….… v
ANALISIS SEKUENSING DAN FILOGENETIK NUKLEOTIDA BOVINE VIRAL DIARRHEA VIRUS ISOLAT INDONESIA BERDASARKAN REGION KHUSUS 5’-UTR S. Lilis, H. Wuryastuti, R. Wasito, M.F. Karimy...……….. 1
STUDI GAMBARAN DARAH ULAR SANCA BATIK (Broghammerus reticulatus) LOKALITAS SUMATRA Slamet Raharjo, Soedarmanto Indarjulianto, Yanuartono, Hary Purnamaningsih, Alfarisa Nururrozi, Tan Cheng Jie...………... 7
KONDISI KLINIS, PROFIL FUNGSI HATI DAN GINJAL SAPI POSITIF LEPTOSPIROSIS DI KABUPATEN KULON PROGO DAN SLEMAN Guntari Titik Mulyani...………. 12
EFEK INFUSI INTRA-UTERUS EKSTRAK DAUN GAMAL (GLIRICIDIA SEPIUM) SEBAGAI ANTIBAKTERI, ANTIFUNGAL, DAN ANTI-INFLAMASI PADA SAPI PERAH DENGAN KASUS REPEAT BREEDING AKIBAT ENDOMETRITIS SUBKLINIS Prayitno, Adam Darsono, Arina Rahma Hidayah, Windi Maharani, Muhammad Kholish Naf’an, dan Christin Marganingsih Santosa... 17
APLIKAKSI SALEP EKSTRAK KUNYIT PUTIH (Curcuma alba) TERHADAP KESEMBUHAN FISIK LUKA IRIS KULIT ANJING (Canis familiaris) Sri Hartati, Slamet Raharjo, Irkham Widiyono, Alfarisa Nururrozi... 24 11 PENGARUH SUPLEMEN MOLASES MINERAL BLOK TERHADAP KADAR KALSIUM DAN FOSFOR SAPI PERANAKAN ONGOLE DI GUNUNGKIDUL Yanuartono, Adhit Dwi Oktawan, Deny H. Tambunan, Soedarmanto Indarjulianto, Alfariza Nururrozi, Rusmihayati... 28
PENGEMBANGAN TEKNIK SEROLOGI DENGAN METODE CO-AGGLUTINATION TEST UNTUK PEMERIKSAAN EDWARDSIELLA ICTALURI PADA IKAN PATIN DI KABUPATEN SERDANG BEDAGAI SUMATERA UTARA Ali Akbari, Surya Amanu... 32
PEMBERIAN AMMONIUM CHLORIDE UNTUK MENURUNKAN KRISTALISASI STRUVIT PADA KASUS FELINE UROLITHIASIS Alfarisa Nururrozi, Soedarmanto Indarjulianto, Dhasia Ramandani, dan Aidah Rahmanita... 38
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI Avibacterium paragallinarum DARI AYAM DI WILAYAH KABUPATEN KUPANG DENGAN GEJALA SNOT Elisabeth Tangkonda, Antin Y.N. Widi, A.E.T.H. Wahyuni, Charles Rangga Tabbu 43 IDENTIFIKASI KOKSIDIOSIS PADA SAPI DI YOGYAKARTA DAN SEKITARNYA Penny H Hamid, Joko Prastowo, Yuli Purwandari Kristianingrum... 49
PROFIL IMUNOKROMATOGRAFI RAPID TEST SEBAGAI ALAT DETEKSI AVIAN INFLUENZA VIRUS PADA UNGGAS DI PASAR BURUNG KUPANG, SURABAYA Nurul Hidayah, dan Retina Yunani…... 54
vi
POTENSI KRIM BRASSICA OLERACEA VAR CAPITATA F. RUBRA SEBAGAI ANTIFUNGI DERMATOFITOSIS
Muhammad Kholish Naf’an, Sarah Nuraida Setyaputri, Endah Purwati, Nimas Hapsari,
Ratna Nurhayati, Siti Isrina Oktavia Salasia... 58 INFEKSI CACING STRONGYLE PADA SAPI DI DAERAH DIY DAN SEKITARNYA
Endah Purwati, Penny Humaidah Hamid…... 62 DETEKSI DENGAN HEMAGLUTINASI PASIF UNTUK DIAGNOSIS CEPAT PENYAKIT
IRIDOVIRUS PADA IKAN KERAPU (Epenephelus sp)
Surya Amanu, Dwi Sulistiyono…... 67 PENINGKATAN EKSPRESI INTERFERON GAMMA PADA RETINA MATA ANAK
MENCIT YANG LAHIR DARI INDUK YANG DIIINFEKSI TOXOPLASMAGONDII
Lucia Tri Suwanti,Mufasirin,Hani Plumeriastuti…... 73 PENANGANAN KASUS SUSPECT PANLEUKOPENIA PADA KUCING DOMESTIK
Popy Hudayani, Hary Purnamaningsih…... 77 GAMBARAN HISTOPATOLOGI KULIT KELINCI SCABIOSIS PASCA TERAPI
DENGAN SALEP CRUDE EKSTRAK DAUN PERMOT (Passiflora foetida Linn.)
Hana Eliyani dan Poedji Hastutiek... 82 SOLUSI LUKA KRONIS DIABETES TERINFEKSI MRSA (METICHILLIN RESISTANT
STAPHYLOCOCCUS AUREUS) DENGAN MUKUS MODIFIKASI LELE (Clarias bathracus)
Dion Adiriesta Dewananda, Raden Mas Ravi Hadyan, Megaria Ardiani, Utami Tri
Khasanah, Siti Isrina Oktavia Salasia, Novra Arya Sandi…... 87 EVALUASI STATUS KALSIUM DAN FOSPOR DARAH PADA SAPI SEHAT DAN
SAPI AMBRUK DI WILAYAH GUNUNG KIDUL
Hary Purnamaningsih, Soedarmanto Indarjulianto,Retno Widyastuti, Ika Tuti ... 91 JUMLAH FIBROBLAS PADA LUKA TIKUS DIABETES SETELAH APLIKASI TOPIKAL
EKSTRAK DAUN BINAHONG (ANREDERA CORDIFOLIA (TEN.) STEENIS)
Devita Anggraeni, Claude Mona Airin, Slamet Raharjo... 96 PREVALENSI DAN UJI SENSITIVITAS ANTIBIOTIK TERHADAP Escherichia coli
SEROTIPE O157 PADA AYAM BURAS YANG DIPERDAGANGKAN DI KOTA KUPANG
Nathasya Pelt, Maxs U. E. Sanam, Elisabet Tangkonda 102
IDENTIFIKASI DAN UJI SENSITIVITAS ANTIBIOTIK TERHADAP Pasteurella multocida ASAL SAPI YANG DIPOTONG DI RUMAH PEMOTONGAN HEWAN KUPANG
Harrold Subu Taopan, Maxs Sanam, Elisabet Tangkonda... 106 PARAMETER ERITROSIT PADA UJI TOKISITAS SUBKRONIS EKSTRAK N-HEXANA
RUMPUT KEBAR (Biophytum petersinum Klotzsch) ENDEMIK PAPUA
Priyo Sambodo, Dwi Nurhayati, Purwaningsih, Claude Mona Airin, Trini Susmiati ……… 111 EKSPRESI GLIAL FIBRILLARY ACIDIC PROTEIN DAN β AMYLOID PADA OTAK
TIKUS YANG DIINDUKSI DENGAN TRIMETYLTIN SEBAGAI MODEL PENYAKIT ALZHEIMER
Yuli Purwandari K, Sitarina Widyarini, Kurniasih... 114
vii
PENGARUH WAKTU KOLEKSI TERHADAP KUALITAS EJAKULAT KALKUN
Mario Bravian Perkasa, Redy Ardian Kustopo, Muhammad Najib Nasaqi, Sri Gustari….. 118 EKSPRESI GEN DMRT1 PADA EMBRIO AYAM (Galuus sp.)
Asmarani Kusumawati, Ninik Istiyawati... 123 KERAGAMAN JENIS SPESIES BAKTERI DAN SIFAT SENSITIVITAS TERHADAP
ANTIBIOTIK DARI KASUS DERMATITIS PADA ANJING
A.E.T.H. Wahyuni, Tri Untari, Sidna Artanto, VinsaCantya Prakasita, YovinaMeideline
Hendrata, Karenhhapukh Cynthia Riyanti ……….….. 126 EFEK RESTRIKSI PAKAN DAN AIR SELAMA 48 JAM TERHADAP GAMBARAN
HEMATOLOGIK PADA ITIK
Irkham Widiyono, Sri Hartati... 131 PROFIL BIOKIMIA DARAH SAPI POTONG SIMPO DAN PO
Surya Agus Prihatno, Sri Gustari... 136 KONDISI INFESTASI CACING GASTROINTESTINAL KUDA DI KELOMPOK KUSIR
ANDONG GAMPING, SLEMAN, DIY
Yuriadi, Hastari Wuryastuti, Sri Hartati, Ida Tjahajati, Irkham Widiyono, Soedarmanto Indarjulianto, Yanuartono, Guntari Titik Mulyani, Hary Purnamaningsih, Slamet Raharjo,
Alfarisa Nururrozi ……….. 139
RESPON FISIOLOGIS DOMBA DI LINGKUNGAN SEMI ARID PASCA INOKULASI DENGAN VAKSIN ANTRAKS
Maxs U.E. Sanam, Diana A. Wuri, Elisabet Tangkonda... 144 EFEKTIVITAS DESINFEKTAN AMONIUM QUARTENER, FENOL DAN FORMALDEHID
TERHADAP BAKTERI MYCOBACTERIUM AVIUM SUBSPESIES
PARATUBERCULOSIS (MAP) PADA PERMUKAAN REPLIKA LANTAI KANDANG
Uti Ratnasari H, Ika Suharti, Julia Rosmaya R, Surati ………. 149 PENINGKATAN KUALITAS SUSU SAPI PERAH DI KELOMPOK SAPI PERAH UPP
KALIURANG DESA HARGOBINANGUN KECAMATAN PAKEM KABUPATEN SLEMAN MELALUI SKRINING TAFILOKOKAL MASTITIS DENGAN UJI LATEX AGLUTINASI
Imron Rosyadi, Siti Isrina Oktavia Salasia ……… 153 STUDI SALEP EKSTRAK DAUN BINAHONG (Anredera cordifolia) DAN RIMPANG
KUNYIT (Curcuma domestica) TERHADAP KESEMBUHAN FISIK LUKA IRIS KULIT ANJING (Canis familiaris)
Slamet Raharjo, Sri Hartati, Agus Budi Santosa, Sugiyono, Alfarisa Nururrozi …... 159 KADAR FOSFOR DALAM DARAH SAPI AMBRUK DI DAERAH KABUPATEN SLEMAN,
GUNUNGKIDUL, DAN GROBOGAN
Yanuartono, Sumbodo,Afif Muhammad Akrom, Soedarmanto Indarjulianto, Alfariza
Nururrozi, Norman Haribowo ……… 163 DETEKSI MUTASI GEN NAV DOMAIN II DAN III SEGMEN 6 Aedes aegypti DARI
DENPASAR, BALI
Penny Humaidah H, Vika Ichsania N, Ni Made Ritha Krisna Dewi, Anis Widyasari,
Purwati………...….. 168
viii
TINGKAT RESISTENSI AVIBACTERIUM PARAGALLINARUM PENYEBAB INFECTIOUS CORYZA (SNOT) ISOLAT LOKAL DARI BERBAGAI UNGGAS TERHADAP ANTIBIOTIK
Agnesia Endang Tri Hastuti Wahyuni, Charles Rangga Tabbu, Sidna Artanto,
Dwi Cahyo Budi Setyawan,Vinsa Cantya Prakasita, Lynda Nugrahaning Imanjati …....…. 172 INFEKSI TREMATODA GASTROINTESTINAL PADA SAPI DI WILAYAH DAERAH
ISTIMEWA YOGYAKARTA DAN SEKITARNYA
Sarah Nuraida Setyaputri¹ , Penny Humaidah Hamid…... 176 PROFIL LEUKOSIT DAN HISTOPATOLOGIK PANKREAS PENGECATAN
IMMUNOHISTOKIMIA TIKUS DIABETIK KARENA INDUKSI STREPTOZOTOCIN (STZ) Christin Marganingsih Santosa, Adam Darsono, Lilik Puspita Sari,
Dian Muslimah1, Bambang Hariono…... 181 AKTIVITAS FORMULA EKSTRAK HERBAL VIRANUR, MENIRAN (Phyllanthus niruri L.), DAN TEMUGIRING (Curcuma heyneana) TERHADAP KADAR ALANIN
TRANSAMINASE DAN KREATININ PADA AYAM LAYER
Sri Hartati, Tri Untari, Bambang Sutrisno, Ida Fitriana... 187 STUDI KASUS: IDIOPATHIC EOSINOPHILIC GASTROENTERITIS PADA KUCING
MIXED-BREED PERSIA-ANGORA
Novra A. Sandi,Siti Isrina Oktavia Salasia, Irkham Widiyono ……… 191 Case Report : RENAL FAILURE PADA ANJING DACHSHUND
Aidah Rahmanita, Sri Hartati, Asmarani Kusumawati, Alfarisa Nururrozi ……….. 200 P o s t e r ………
LAPORAN KASUS:
DERMATOFITOSIS DAN PENANGANANNYA PADA ANJING GERMAN SHEPHERD Deden Nur Sidik, Sitarina Widyarini, Alfarisa Nururrozi, Soedarmanto Indarjulianto ………
202
203 LAPORAN KASUS:
DIAGNOSIS DAN TERAPI CONJUNGTIVITIS, RHINITIS, SCABIES DAN ANKILOSTOMIASIS PADA KUCING
Fathurrahman Fajri, Dwi Priyo Widodo, Soedarmanto Indarjulianto ………...……… 205 ANTI BIOTIK SENSITIVITAS TERHADAP Bacillus cereus YANG DIISOLASI DARI
DAGING SAPI
Lucia R. Winata Muslimin, Fatmasari, Adryani Ris, Abdul Wahid Jamaluddin,
Siti Arifah ……….. 207
IDENTIFIKASI CACING NEMATODA PADA SALURAN PENCERNAAN BABI DI MAKASSAR
Lucia Muslimin, Noeveling Inriani, Adryani Ris, Rasdiyanah, Fedri Rell, Yuko Mulyono .. 209 RESISTENSI AVIBACTERIUM PARAGALLIANRUM PENYEBAB SNOT ISOLAT AYAM
PETELUR TERHADAP BEBERAPA JENIS ANTIBIOTIKA
Agnesia Endang Tri Hastuti Wahyuni, Charles Rangga Tabbu, Sidna Artanto,Dwi Cahyo
Budi Santosa, Vinsa Cantya Prakashita, Lynda Nugrahaning Imanjati ……… 211
ix
PEMETAAN KASUS KOASISTENSI DIAGNOSTIK LABORATORIK (KODIL) DEPARTEMEN MIKROBIOLOGI FAKULTAS KEDOTERAN HEWAN PERIODE 2014-2015
Agnesia Endang Tri Hastuti Wahyuni, Widya Asmara, Surya Amanu, Tri Untari, Michael
Haryadi Wibowo, Sidna Artanto ……… 213 IDENTITAS LARVA 3 INFEKTIF CACING STRONGYL DI WILAYAH Daerah Istimewa
Yogyakarta
Maulana Supama P., Penny Humaidah H. ………..
215
BASELINE UJI CDC CYPERMETHRIN NYAMUK AEDES AEGYPTI DARI JAKARTA Vika Ichsania Ninditya., Penny Humaidah Hamid ………
LAPORAN KASUS: PENGOBATAN KOKSIDIOSIS PADA KAMBING DI DUSUN KEDOKAN SAMIGALUH KULONPROGO
Triatmojo, Chandra Dwi Kurniawan, Soedarmanto Indarjulianto ……….
217
219 LAPORAN KASUS: PENANGANAN COCCIDIOSIS DAN KONJUNGTIVITIS PADA
KUCING
Alfitra Setyawijaya, Soedarmanto Indarjulianto... 221
91
EVALUASI STATUS KALSIUM DAN FOSFOR DARAH PADA SAPI SEHAT DAN SAPI AMBRUK DI WILAYAH GUNUNGKIDUL
1Hary Purnamaningsih, 1Soedarmanto Indarjulianto, 2Retno Widyastuti, 3Ika Tuti
1Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKH UGM, 2Pusat Kesehatan Hewan Nglipar, Gunungkidul,
3Pusat Kesehatan Hewan Patuk, Gunungkidul E-mail : [email protected]
ABSTRAK
Salah satu penyebab sapi ambruk adalah kurangnya makromineral dalam tubuh sapi seperti kalsium dan fosforor. Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi status makromineral kalsium dan fosfor pada sapi sehat dan sapi ambruk. Penelitian ini menggunakan 25 ekor sapi sehat secara klinis dan 9 ekor sapi ambruk di wilayah Gunungkidul. Masing-masing kelompok sapi tersebut diambil darahnya sebanyak 3 ml secara intra vena , darah dimasukkan ke tabung non koagulan untuk pemeriksaan kalsium dan fosfor. Pemeriksaan kalsium dan fosfor dilakukan di Laboratorium Komersial dengan menggunakan alat Cobas® c 501 (Roche Diagnostic Ltd., Switzerland). Data hasil penelitian dianalisis secara statistik dengan uji T. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada sapi sehat rata-rata kalsium 2.65
± 0,41 mmol/L dan fosfor 1,61± 0,47 mmol/L sedangkan pada sapi ambruk menunjukkan kalsium 2,04± 0,40 mmol/L dan fosfor 1,62 ± 0,57mmol/L .Hasil perhitungan statistik menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan (P<0,05) pada kalsium darah antara sapi sehat dan sapi ambruk sedangkan fosfor darah tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan (P > 0,05) antara sapi sehat dan sapi ambruk. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa status kalsium pada sapi ambruk mengalami penurunan (hypocalcemia) dibanding sapi sehat meskipun status fosfor dalam kondisi normal.
Kata kunci : kalsium, fosfor, sapi ambruk, hypocalcemia
PENDAHULUAN
Sapi ambruk merupakan kasus yang sering ditemukan di beberapa wilayah berkapur di Indonesia termasuk di Puskeswan Wilayah Gunungkidul. Sementara ini kasus tersebut di lapangan hampir selalu didiagnosa sebagai hipokalsemia. Diagnosis tersebut diambil berdasarkan pemeriksaan fisik/klinis, tanpa dikuatkan dengan pemeriksaan laboratorik.
Sehingga pengobatan yang diberikan belum dapat memberikan hasil yang optimal, dan seringkali berakhir dengan kematian ataupun dijual.
Salah satu penyebab sapi ambruk adalah kurangnya makromineral yang ada dalam tubuh sapi, termasuk kalsium (Ca), dan fosfor (P). Kalsium, dan fosfor merupakan makromineral yang sangat esensial bagi tubuh baik pada manusia maupun ternak. Kurang lebih 99% Ca dan 85% P dalam tubuh manusia berada dalam tulang dan selebihnya berada dijaringan lunak dan cairan tubuh. Mineral tersebut berperan penting dalam berbagai fungsi seperti permeabilitas sel, proses enzimatik, penyusun dinding sel, sistem penyangga cairan
92
tubuh, transmisi genetik, sumber energi tubuh dan regulasi metabolisme lemak, protein dan karbohidrat (McDonald et al., 2002). Kalsium (Ca) merupakan elemen mineral yang paling banyak dibutuhkan oleh tubuh ternak. Ca memiliki peranan penting sebagai penyusun tulang dan gigi. Sekitar 99 % dari total tubuh terdiri dari Ca. Selain itu Ca berperan sebagai penyusun sel dan jaringan dan juga diperlukan dalam pembekuan darah dan kontraksi otot jantung (McDonald et al., 2002). Menurut Piliang (2002), fungsi Ca yang tidak kalah pentingnya adalah sebagai penyalur rangsangan-rangsangan syaraf dari satu sel ke sel lain. Akibat keterlibatan makromineral yang sangat kompleks tersebut maka defisiensi mineral juga sangat luas dampaknya sehingga disamping kasusnya sering bersifat subklinis, gejala klinis yang munculpun tidak mudah dibedakan dari gangguan yang lain. Defisiensi mineral ini akan mengakibatkan terjadinya gangguan pertumbuhan (hewan muda), kehilangan berat badan, penurunan nafsu makan, kelemahan, peningkatan hipersensitivitas dan bila defisiensi cukup berat maka akan terjadi perubahan pada tulang yang ditandai dengan penurunan mineralisasi, gangguan pertumbuhan, perubahan bentuk dan fraktur seperti yang terjadi pada rakhitis, osteomalasia dan osteoporosis
Defisiensi Ca sering terjadi pada hewan yang banyak diberi pakan konsentrat tanpa disertai suplementasi Ca. Gangguan/penyakit yang timbul akibat dari defisiensi Ca adalah hipokalsemia. Pada sapi betina yang baru beranak, defisiensi Ca dapat menyebabkan terjadinya Milk fever. Penyakit ini ini ditandai dengan terganggunya kontraksi otot dan sistim syaraf, sehingga sapi tidak dapat berdiri (ambruk). Turunnya kadar Ca dalam darah seringkali juga disertai dengan turunnya kadar Mg dan P.
Problematika peternakan ruminansia di Indonesia kemungkinan besar juga tidak dapat dilepaskan dari kualitas dan ketersediaan pakan. Kualitas dan kuantitas yang kurang memadai dan kandungan mineral yang rendah dapat terjadi akibat adanya perubahan musim. Kejadian demikian pernah diteliti pada onta yang digembalakan secara bebas di padangan pada musim hujan dan kemarau. Penelitian pada sapi potong (sapi Bali) di Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa kelompok ternak tersebut memiliki status Ca yang sangat jelek, kadar Ca dalam darah dibawah 9 mg/dl. Status Ca yang jelek tersebut diduga disebabkan oleh pengelolaan pakan dan sistem pemeliharaan yang dilakukan secara tradisional (Sonjaya, 1996).
Unsur mineral ke dua di dalam tubuh setelah kalsium adalah fosfor (P) yaitu 29% dari total mineral tubuh atau sekitar 80-85% total P tubuh (Payne and Williamson, 1993; Pilliang, 2002). Fosfor (P) memegang peranan penting didalam proses kontraksi otot, pembentukan tulang dan aktifitas sekretoris. Selain itu P berperan sebagai bahan utama penghasil energi tinggi (ATP) yang berguna untuk semua aktivitas sel (Kamal, 1994). Bagi ruminansia P yang terkandung di dalam saliva sangat penting, sebagai buffer fosfat yang mengatur pH isi rumen, selain itu P bagi ruminansia adalah sumber multiplikasi flora dan fauna rumen ( Payne, 1977).
93
Kekurangan P merupakan kekurangan mineral yang sangat berarti dan mempunyai nilai ekonomi dibandingkan yang lain pada ternak yang pakan pokoknya hijauan. Mineral ini sangat penting dalam pembentukan tulang sehingga bila terjadi kekurangan dapat menyebabkan gangguan tulang misalnya rakitis dan osteomalasia, dapat juga terjadi kekakuan sendi dan kelemahan otot (Tilman et al., 1983) .Pengaruh dari kekurangan mineral ini terlihat dengan menurunnya nafsu makan. Hewan akan berusaha menggantinya dengan makanan tulang, kayu, kain dan benda-benda lain yang tidak biasa dimakan (Maynarrd et al., 1979).
Penelitian ini ditujukan untuk mengevaluasi status kalsium dan fosfor darah pada sapi potong yang sehat maupun yang ambruk di wilayah Gunungkidul. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang status kesehatan sapi di wilayah tersebut dan dapat membantu dalam upaya peningkatan pengelolaan kesehatan ternak.
METODE PENELITIAN
Sebanyak 34 ekor sapi di wilayah Gunungkidul terdiri dari 25 ekor sapi sehat secara klinis dan 9 ekor sapi yang menunjukkan gejala klinis ambruk digunakan dalam penelitian ini.
Lima (5) ml darah diambil dari sapi melalui vena Jugularis. Darah ditampung dalam tabung tanpa antikoagulan. Serum dipisahkan secara sentrifugasi dengan kecepatan 6.000 rpm selama 10 menit. Selanjutnya ditampung dalam tabung microtube dan disimpan pada suhu - 20 sampai dilakukan analisa kalsium dan fosfor . Data kadar kalsium dan fosfor yang diperoleh disajikan dalam rerata dan simpangannya dan dianalisis secara statistik menggunakan uji T.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Rerata kadar kalsium antara kelompok sapi sehat dan sapi ambruk dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Rerata kadar kalsium (mmol/L) pada kelompok sapi sehat dan kelompok sapi ambruk
Kadar kalsium (mmol/L)
Sapi sehat Sapi ambruk
2.65± 0.41 2.04 ± 0.40
Analisis statistik terhadap kadar kalsium darah antara sapi potong yang sehat dengan sapi ambruk menunjukkan perbedaan yang signifikan (P<0.05) dengan perbandingan rerata kadar kalsium 2.65 ± 0.41mmol/L pada sapi sehat dan 2.04 ± 0.40 mmol/L pada sapi ambruk.
Rerata kadar kalsium pada kelompok sapi ambruk lebih rendah dibandingkan dengan kelompok sapi sehat dan nilai reratanya menunjukkan di bawah standar normal. Nilai normal untuk kalsium darah pada sapi menurut Kelly (1984) adalah 2.30-3.00 dan menurut Kraff dan Duerr (1999) 2.30 – 2.80 mmol/L. Rerata kadar kalsium kelompok sapi ambruk pada penelitian
94
ini lebih rendah dibandingkan standar normalnya dan dapat diartikan terjadi penurunan kadar kalsium (hypocalcaemia) pada kelompok sapi yang ambruk. Kejadian hypocalcemia telah dilaporkan pula oleh Khawar, et al.,(1990) di Saskatchewan untuk sapi potong dengan kondisi ambruk mempunyai kadar calcium 1.47± 0,20 mmol/L , sedangkan pada sapi potong sehat 3.00 ± 0.19 mmol/L. Meskipun kejadian parturient paresis jarang terjadi pada sapi potong, namun ketika diamati gangguan ini bisa berasal dari saluran pencernaan. Menurut Blood, et al., (1989) dan Janzen (1976), penyakit – penyakit yang mendepres motilitas saluran pencernaan pada sapi potong dapat menyebabkan hypocalcemic paresis yang menjadikan sapi ambruk. Champness & Hamilton (2007) menyatakan bahwa berkurangnya Ca dapat disebabkan oleh beberapa hal , antara lain : jumlah mineral Ca dan P dalam pakan yang berlebihan sehingga akan menurunkan jumlah vitamin D yang berpengaruh pada jumlah Ca dalam darah; Ca dan P dari dalam darah berpindah ke kolostrum saat sapi menjelang melahirkan; nafsu makan menurun biasa terjadi pada 8 – 16 jam menjelang melahirkan, akibatnya ketersediaan kalsium yang diserap juga menurun ; sapi-sapi tua akan mengalami penurunan penyerapan Ca, dan ketidak seimbangan komposisi Ca dan P dalam pakan.
Rerata kadar fosfor antara kelompok sapi sehat dan sapi ambruk dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Rerata kadar fosfor (mmol/L) pada kelompok sapi sehat dan kelompok sapi ambruk
Kadar fosfor (mmol/L)
Sapi sehat Sapi ambruk
1,61± 0,47 1,62 ± 0,57
Kadar fosfor pada sapi sehat 1,61± 0,47 mmol/L dan kadar fosfor sapi ambruk 1,62 ± 0,57 mmol/L. Perhitungan statistik menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan (P >
0.05) kadar fosfor pada sapi sehat dan sapi ambruk. Kadar fosfor darah pada kedua kelompok sapi tersebut dalam kondisi normal. Hadzimusic dan Krnic (2012) menyatakan secara fisiologis normal kandungan phospor darah berkisar 1,4 – 2,5 mmol/L.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa status kalsium pada sapi ambruk mengalami penurunan (hypocalcemia) dibanding sapi sehat meskipun status fosfor dalam kondisi normal.
UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih diucapkan kepada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia atas dukungan keuangan untuk penelitian ini (Penelitian Dosen Muda,No. Kontrak : LPPM-UGM/391/LIT/2013
95 DAFTAR PUSTAKA
Blood, D.C., Radostits, O.M. 1989. Veterinary Medicine, 7th ed. Bailliere Tindall,London . 381, 402-409, 943, 1104 -1115
Champness, D and Hamilton, 2007. Milk Fever (Hypocalcaemia) in Cows. Agriculture Note.
Department of Primary Industries State of Victoria.
Janzen, E., 1976. Hypocalcemic Paresis in Beef Cows in Northeeastern Alberta. Can. Vet J : 17 , 298-300
Hadzimusic, N and Krnic, J., 2012. Values of Calcium, Phosporus and Magnesium Concentration in Blood Plasma of Cows in Dependence on the Reproductive Cycle and Season. J Fac. Vet. Med. Instanbul Univ. 38 (1) : 1-8
Kamal, M., 1994. Nutrisi Ternak 1. Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Khawar, H.; Fred, J.W., Stephen, P.C., 1990. Hypocalcaemia associated with muscular
weakness and recumbency in beef cows in western Saskatchewan. Can Vet J; 31: 34- 35
Kelly, W.R., 1984. Veterinary Clinical Diagnosis, 3rd ed. Bailliere Tindall London : 344-345 Kraft, W., Duer, U.M. 1999. Klinische labordiagnosticin der Tiermedizin's Anflage,
Sclauer,Stutgarf. 252-258.
McDonald, P., R. A. Edward., J. F. D. Greehalgh, & C. A. Morgan. 2002. Animal Nutrition. Fifth Edition. Longman Scientific and Technical, Inc. New York.
Maynard, L.A., Loosli, J.K., Hintz, H.F., and warner, R.G., 1979. Animal Nutrition 7 th edition.
New Delhi : Tata McGraw, Hill Publishing Company Limited : 152; 223-228
Payne, J.M., 1977. Metabolic Disease in Farm Animal, William Heinemann Medical Books Ltd., London : 33-56
Piliang, W. G. 2002. Nutrisi Mineral. Edisi Kelima. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Sonjaya, H. 1996. Respon profil makromineral darah terhadap suplementasi mineral pada sapi Bali jantan muda yang berasal dari tiga daerah yang berbeda. Bulletin Peternakan 2(02 ): 116-123.