• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Indonesia terbentuk dari beberapa kerajaan dan sebagai penguasa jalur maritim, Kerajaan Sriwijaya menguasai seluruh wilayah laut dan pesisir di Sumatera, Malaka, Kalimantan, Jawa, Filipina, Sulawesi, Papua, Maluku, Thailand, Vietnam, dan lainnya. Namun, dalam penguasaan wilayah pesisir dan daratannya, Sriwijaya hanya mengambil peranan sebagai “penyalur” dari komoditas yang dihasilkan dari wilayah pesisir tersebut dengan membuat berbagai pelabuhan atau dermaga. Pemilik atau penanggung jawab wilayah diserahkan kepada masyarakat atau kekuatan lokal. Pada 1670, di Makassar berkumpul para Matoa (pemuka kelompok masyarakat Bugis-Wajo) dari Lombok, Sumbawa, dan Paser (Kalimantan Selatan). Mereka membicarakan aturan-aturan dan tata tertib yang harus dipatuhi dalam pelayaran dan perdagangan. Perundingan ini dipimpin Amanna Gappa, Matoa dari Wajo, sehingga tradisi pelayaran yang lahir dari perundingan ini disebut hukum pelayaran dan perdagangan Amanna Gappa. Hukum Amanna Gappa diterapkan oleh Belanda dalam mengelola pelayaran di Nusantara sehingga diadopsi ke dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang sekarang ini.

Kondisi geografis negara Indonesia sangat mendukung pertumbuhan buah kelapa di mana Indonesia memiliki garis pantai terpanjang di dunia, hal ini membuat Indonesia menjadi negara pengekspor kelapa tertinggi di dunia yaitu sebanyak 20,16% (dua puluh koma enam belas per seratus). Produk kelapa dan sabut kelapa Indonesia yang paling banyak diekspor adalah kelapa olahan yang dikeringkan, air kelapa, serat sabut kelapa, dan sabut baku kelapa. Pada Januari hingga November 2015 misalnya, nilai ekspor serat sabut kelapa 5,99 (lima koma sembilan puluh sembilan) juta dollar AS dan sabut baku kelapa 4,67 (empat koma enam puluh tujuh) juta dollar AS.

Indonesia merupakan eksportir kelapa dan sabut kelapa kedua terbesar di

(2)

dunia setelah Filipina. Pada 2014, kontribusi Indonesia mencapai 20,16 persen dari total nilai ekspor dunia sebesar 1,21 miliar dollar AS (Kompas, 9 Februari 2017).

Untuk mendistribusikan hasil produk pertanian di negara maritim atau negara kepulauan harus dilakukan pengangkutan yang terstruktur dengan baik, sehingga barang yang diangkut sampai ke tempat tujuan dengan selamat dan dalam waktu yang cepat.

Pengangkutan merupakan kegiatan untuk memindahkan penumpang dan atau barang dari satu tempat ke tempat lain dengan selamat.

Pengangkutan menurut Purwosutjipto adalah perjanjian timbal balik antara pengangkut dengan pengirim, di mana pengangkut mengikatkan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan barang dan/atau orang dari suatu tempat ke tempat tujuan tertentu dengan selamat, sedangkan pengirim mengikatkan diri untuk membayar uang angkutan (Purwosutjipto, 1991:2). Pengangkutan niaga pada hakikatnya adalah menyewakan alat pengangkut kepada penumpang dan/atau pengirim barang, baik dijalankan sendiri ataupun dijalankan orang lain (Abdulkadir, 1998:13).

Seiring dengan perkembangan metode perdagangan yang semakin maju, kini di Indonesia mulai banyak perusahaan penyedia jasa pengiriman barang atau ekspeditur. Untuk mendukung keberlangsungan perusahaan ekspeditur bekerjasama dengan pengusaha kapal atau pengangkut.

Perkembangan usaha dalam bidang jasa pengangkutan yang mulai mendapat tanggapan positif dari perusahaan-perusahaan industri yang membutuhkan jasa tersebut untuk mengirimkan barangnya ke perusahaan lain atau ke konsumen, ternyata juga mengakibatkan terjadinya kasus-kasus yang pada dasarnya berkaitan dengan masalah pertanggungjawaban pihak pengangkut (Suwardi, 2011:18).

Perusahaan pengiriman barang melalui laut juga disebut usaha Ekspedisi Muatan Kapal Laut (EMKL) yang pada dasarnya bergerak dalam

(3)

bidang pengangkutan mempunyai peranan sangat luas dan penting dalam pembangunan ekonomi. Perusahaan pengiriman masih harus memenuhi kewajiban terhadap pemilik barang yang menitipinya untuk dikirimkan, sehingga apabila terjadi kerusakan, musnah, ataupun hilangnya barang tersebut, pengangkutlah yang harus bertanggung jawab.

Pelabuhan menjadi pendukung utama di dalam usaha Ekspedisi Muatan Kapal Laut (EMKL) maka dari itu pelabuhan harus mempersiapkan sarana prasarana fasilitas pendukung utama mobilitas gerak barang yaitu gudang. Gudang ini berfungsi untuk menampung semua arus barang masuk dan keluar dari ekspeditur yang memiliki izin dan kontrak untuk menyimpan dan menampung barang di gudang pelabuhan. Salah satu pendukung badan usaha transportasi yaitu Ekspedisi Muatan Kapal Laut (EMKL). Pada hakekatnya EMKL dalam memperlancar pengangkutan melalui laut bertanggungjawab sebagai perantara dalam mengurus kepentingan pengirim dan penerima yang akan menyelesaikan pengurusan dokumen-dokumen dan pekerjaan lain yang berhubungan dengan penerimaan/praktek atau kenyataannya (Sudjatmiko, 1985:8).

Pihak-pihak yang terlibat dalam pengangkutan barang adalah shipper, carrier, dan consignee. Dari ketiga pihak tersebut, posisi EMKL yaitu sebagai ekspeditur yang berperan sebagai kuasa pengirim (shipper) atas dasar pemberian kuasa dari pengirim. Pihak EMKL melakukan tindakan atas nama EMKL pribadi walaupun untuk kepentingan pihak pengirim.

Namun dalam pengoperasian, ekspeditur sering dirugikan baik materiil maupun immateriil atas keterlambatan pengiriman barang baik karena kealpaan maupun kesengajaan dari pihak pengangkut. Konsumen selalu menuntut pertanggungjawaban terhadap perusahaan pengirim (Ekspeditur) barang bukan kepada perusahaan jasa pengangkut. Seperti contoh pada kasus PT Agility Internasional terhadap PT Indoexim Internasional 2015, dalam kasus tersebut PT Agility Internasional dituntut oleh PT IndoExim Internasional karena keterlambatan pengiriman serta

(4)

kerusakan barang yang di muat dalam peti kemas yang mana proses pengemasan barang tidak dilakukan oleh PT Agility tetapi pihak shipper yaitu PT IndoExim sendiri, serta keterlambatan barang juga dikarenakan proses dari bea cukai negara asing yang mengharuskan menahan barang terlebih dahulu. Sedangkan yang terlibat dalam proses pengangkutan tidak hanya PT Agility saja.

Kemudian kasus berikutnya adalah terhambatnya pengiriman barang- barang logistik maupun hasil produk pertanian disebabkan oleh force majeur seperti tenggelamnya Kapal Motor Cahaya Nusantara yang mengangkut 50 (lima puluh) ton beras sejahtera dari Kota Merauke ke kampung Distrik Tubang, Kabupaten Merauke, Papua dan tenggelam di perairan Pulau Hebe yang dikutip oleh metromerauke.com pada Senin tanggal 9 (sembilan) November 2017. Selanjutnya terdapat kasus karamnya kapal pengangkut kebutuhan pokok seperti beras, kopi, gula, dan minuman yaitu KM Bulungan Putra di Nunukan, Kalimantan Utara di kutip oleh kompas.com pada hari Minggu tanggal 6 Agustus 2017, kapal tersebut karam karena menabrak tanggul dan pada saat bongkar muatan kapal tersebut bocor dan tenggelam.

Kasus selanjutnya adalah penundaan keberangkatan kapal dalam mengangkut beras seberat 2750 (dua ribu tujuh ratus lima puluh) ton dari Banyuwangi tujuan Flores, penundaan keberangkatan kapal tersebut dikarenakan kebocoran pada lambung kapal bernama Kapal Bahtera Sejati (KBS) sehingga menyebabkan kemiringan kapal dan tidak memungkinkan untuk berlayar (Beritanasional.id pada 5 Agustus 2017).

Banyak lagi peristiwa hukum yang berkaitan dengan perjanjian pengangkutan khususnya pertanggungjawaban perusahaan pengirim barang.

Mengenai hal tersebut belum ada peraturan secara khusus yang mengatur tentang risiko yang terjadi dalam pangangkutan laut, tetapi dengan tidak adanya peraturan yang secara khusus mengatur tentang pengangkutan laut tidak akan menutup kemungkinan bagi para pihak untuk membuat suatu perjanjian pengangkutan. Ekspeditur harus menjamin keselamatan barang

(5)

yang dikuasakan akan dapat dilaksanakan dengan baik sesuai dengan perjanjian.

Dari beberapa kasus mengenai pengangkutan laut di atas, terdapat beberapa penelitian yang mengkaji mengenai tanggung jawab pengangkut berdasarkan hukum pengangkutan laut, seperti pada artikel “Carrier's liability under international maritime conventions and the uncitral draft convention on contracts for the international carriage of goods wholly or partly by sea”

(Su Tongjiang, Wang Peng, 2009:345) yang ditulis oleh Su Tongjiang dan Wang Peng yang berisi analisis dan review mengenai peraturan, instruksi, dan konvensi-konvensi yang mengatur tentang pegangkutan barang melalui laut yang ternyata belum memperjelas tentang batas tanggung jawab pengangkut.

Kemudian penelitian dengan judul “Pertanggung Jawaban Pengangkutan Serta Ganti Kerugian Terhadap Penumpang dan Barang Angkutan Disebabkan Kelalaian Dari Pihak Pengangkut” yang ditulis oleh Putra Halomoan Hasibuan yang mengkritisi mengenai pertanggungjawaban pengangkut serta bagaimana sistem penentuan ganti rugi oleh pengangkut (Putra Halomoan H, 2009:10). Sebuah penelitian oleh Novry Noldy Pandeiroth tentang “Tanggung Jawab Ekspedisi Muatan Kapal Laut Dalam Pengiriman Barang Melalui Laut Di Pelabuhan Tanjung Mas Semarang”

(Novry Noldy, 2015:02), mengkritisi hampir sama dengan penelitian Putra Hamoloan, hanya saja dalam penelitian ini berisi tanggung jawab ekspedisi muatan kapal laut karena kerusakan barang yang diangkut serta sistem pembayaran ganti kerugiannya.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, karya ilmiah ini bukan hanya membahas permasalahan mengenai pertanggungjawaban pengangkut saja namun disertai hak ekspeditur dari segi perjanjian pengangkutan laut, hal yang berbeda dari karya ilmiah yang sudah ada yaitu penulisan ini mengkaji mengenai perlindungan hukum ekspeditur atas keterlambatan pengiriman barang hasil produk pertanian yang dikaji dari segi klausul klausul dalam perjanjian pengangkutan yang digunakan dalam penyelenggaraan

(6)

pengangkutan laut serta peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia dan penelitian ini belum pernah dilakukan dan bukan hasil duplikasi ataupun plagiarisme dari penelitian yang sudah ada.

B. Rumusan Masalah

Adapun masalah-masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana prosedur pengiriman barang hasil produk pertanian yang dilindungi dan sesuai dengan peraturan yang ditetapkan Pemerintah?

2. Apa perlindungan hukum terhadap perusahaan ekspeditur yang dimuat dalam perjanjian pengangkutan laut?

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Objektif

a. Mengetahui dan mendapatkan data mengenai prosedur pengiriman barang hasil produk pertanian yang dilindungi dan sesuai dengan peraturan yang ditetapkan pemerintah.

b. Mengetahui perlindungan hukum terhadap perusahaan ekspeditur yang dimuat dalam perjanjian pengangkutan laut.

2. Tujuan Subjektif

a. Mampu menjelaskan mengenai prosedur pengiriman barang hasil produk pertanian yang dilindungi serta sesuai dengan peraturan yang ditetapkan pemerintah.

b. Mampu menjelaskan perlindungan terhadap perusahaan ekspeditur yang dimuat dalam perjanjian pengangkutan laut.

c. Memenuhi persyaratan akademis guna memperoleh gelar Sarjana Hukum dalam bidang Ilmu Hukum di Fakultas Hukum Universitas Negeri Sebelas Maret.

D. Manfaat penelitian a. Manfaat Teoritis

1) Mampu memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan di bidang ilmu hukum pada umumnya dan terkhusus

(7)

dalam kaitannya dengan penegakan hukum terhadap perlindungan ekspeditur atas keterlambatan pengiriman barang hasil produk pertanian berdasarkan perjanjian pengangkutan laut.

2) Untuk menambah literatur dan bahan-bahan informasi ilmiah mengenai penegakan hukum terhadap perlindungan ekspeditur atas keterlambatan pengiriman barang berdasarkan perjanjian pengangkutan laut.

3) Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan jawaban atas permasalahan yang diteliti.

b. Manfaat Praktis

1) Memberikan tambahan pengetahuan dan masukan bagi pihak-pihak yang terkait dengan permasalahan yang terkait dengan penelitian ini.

2) Sebagai sarana untuk mengembangkan daya penalaran, pembentuk pola pikir dinamis sekaligus untuk mengetahui kemampuan penulis dalam menerapkan ilmu yang diperoleh.

E. Metode Penelitian

Metode yang digunakan oleh peneliti untuk meneliti permasalahan seperti telah diuraikan di atas dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah sebagai berikut:

1. Jenis Penelitian

Berdasarkan judul penelitian dan rumusan masalah penelitian yang digunakan termasuk dalam kategori penelitian hukum normatif, yaitu metode penelitian hukum yang dilakukan dengan meneliti bahan pustaka atau data sekunder belaka (Soerjono Soekanto, 2001:13-14).

2. Sifat Penelitian

Penelitian yang dilakukan ini mempunyai sifat preskriptif. Sebagai penelitian yang bersifat preskriptif maka penelitian ini mempelajari tujuan hukum, nilai-nilai, keadilan, validasi aturan hukum, konsep-konsep hukum, dan norma-norma sebagai ilmu terapan. Ilmu hukum menerapkan

(8)

standar prosedur, ketentuan-ketentuan, rambu-rambu dalam melaksanakan aktifitas hukum (Peter Mahmud Marzuki, 2014:69-70).

3. Pendekatan Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan perundang-undangan atau Statute Approach. Pendekatan perundang-undangan adalah pendekatan yang dilakukan dengan menelaah semua undang-undang dan regulasi yang bersangkut paut dengan isu hukum yang ditangani (Peter Mahmud Marzuki, 2014:24).

4. Jenis dan Sumber Data Penelitian

Data-data yang digunakan dalam penelitian ini didapat dari keterangan atau pengetahuan yang diperoleh secara tidak langsung, atau disebut sebagai Data Sekunder.

Sumber data sekunder terdiri atas tiga bahan hukum yaitu:

a. Bahan hukum primer adalah bahan yang isinya mengikat karena dikeluarkan oleh pemerintah, terdiri atas berbagai peraturan perundang-undangan, putusan-putusan pengadilan, dan traktat (Burhan Ashshofa, 2010:103). Bahan hukum primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata;

3) Kitab Undang-Undang Hukum Dagang;

4) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran;

5) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2010 Tentang Angkutan di Perairan;

6) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2010 Tentang Angkutan di Perairan;

(9)

7) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2002 tentang Perkapalan;

8) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 61 Tahun 2000 tentang Kepelabuhan;

9) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 64 Tahun 2015 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 61 Tahun 2000 tentang Kepelabuhan;

10) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2010 tentang Kenavigasian;

11) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2000 tentang Kepelautan;

12) Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 13/M-DAG/PER/3/2012 tentang Ketentuan Umum di Bidang Ekspor;

13) The Hague Rules;

14) The Hague-Visby Rules;

15) Hamburg Rules;

16) United Nations Convention of International Sales of Goods 1980;

17) Incoterms 2015;

18) UCP 600

b. Bahan hukum sekunder adalah bahan-bahan yang isinya membahas bahan primer berupa buku, artikel, laporan penelitian, dan berbagai karya tulis lainnya yang berkaitan dengan rumusan masalah penulis dalam penelitian ini (Burhan Ashshofa, 2010:103).

c. Bahan hukum tersier adalah bahan hukum yang bersifat menunjang bahan primer dan hukum sekunder berupa kamus, buku pegangan, almanak dan sebagainya yang bisa menjadi bahan rujukan (Burhan Ashshofa, 2010:103-104).

(10)

5. Teknik Pengumpulan Data

Studi Kepustakaan (library research) adalah suatu pengumpulan bahan hukum tertulis dengan menggunakan context analisys. Teknik ini berguna untuk mendapatkan landasan teori dengan mengkaji, mempelajari, dan memberi catatan terhadap buku-buku, peraturan perundang-undangan, dokumen, laporan arsip, dan hasil penelitian lainnya yang berhubungan dengan masalah yang diteliti (Peter Mahmud Marzuki, 2014:237).

6. Validitas Data

Cara pengumpulan data dengan beragam tekniknya harus benar- benar sesuai dan tepat untuk menggali data yang diperlukan bagi kemantapan hasil penelitiannya (H.B. Sutopo, 2006: 91). Data-data yang digunakan dalam penelitian ini diambil melalui sumber yang sah dan legal serta melalui situs resmi milik pemerintah, instansi dan situs organisasi internasional, yaitu situs e-library, e-journal, direktori Mahkamah Agung dan situs yang berdomain goverment serta situs resmi milik United Nations atau PBB.

7. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah analisis secara kualitatif dengan menggunakan model analisis interaktif. Di mana analisa data disajikan berdasarkan konsep tertentu dalam kerangka teori yang telah diuraikan sebelumnya. Data yang diperoleh dalam obyek penelitian diolah dan dikonfirmasikan dengan opini dari responden yang berkompeten yang sedang diamati.

Berdasarkan paparan tersebut kemudian ditarik kesimpulan dan saran.

Selain itu juga bermanfaat untuk memecahkan masalah-masalah yang telah disebutkan dalam rumusan masalah. Dengan demikian dalam

(11)

penelitian ini terdapat model analisis yang meliputi : reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

Untuk lebih jelasnya, teknik analisis data tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :

Bagan 1. Teknik Analisis

Sumber : (H.B. Sutopo, 2002 : 96)

a. Reduksi data merupakan bagian dari proses analisis yang mempertegas, memperpendek, membuat fokus, membuang hal-hal yang tidak penting dan mengatur data sedemikian rupa sehingga kesimpulan penelitian dapat dilakukan.

b. Penyajian data merupakan satu rangkaian informasi yang memungkinkan kesimpulan penelitian dapat dilakukan. Sajian data ini harus mengacu pada rumusan masalah yang telah dirumuskan sebagai pertanyaan penelitian sehingga narasi yang tersaji merupakan deskripsi mengenai kondisi rinci untuk menceritakan dan menjawab setiap permasalahan yang ada.

c. Penarikan simpulan, simpulan akhir tidak akan terjadi sampai pada waktu proses pengumpulan data berakhir. Simpulan perlu

Pengumpulan Data

Penarikan simp ulan/

verifikasi

Sajian Data Reduksi Data

(12)

diverifikasi agar benar-benar bisa dipertanggungjawabkan yang dilakukan dengan mengembangkan ketelitian supaya simpulan penelitian menjadi lebih kokoh dan lebih bisa dipercaya.

F. Sistematika Penulisan Hukum

Penelitian ini akan menjabarkan dalam bentuk sistematika penelitian yang terdiri dari 4 (empat) bab, di mana tiap-tiap bab terbagi dalam sub- sub bagian yang dimaksud untuk memudahkan pemahaman mengenai isi penelitian hukum ini. Adapun sistematika yang digunakan dalam penelitian hukum ini adalah sebagai berikut:

BAB I. PENDAHULUAN

Bab ini berisi ulasan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian, dan sistematika penulisan hukum yang di gunakan dalam penelitian ini.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini diuraikan mengenai beberapa kerangka teori dan kerangka pemikiran atau kerangka konseptual yang menjadi dasar menjawab permasalahan yang berkaitan dengan judul dan permasalahan yang diteliti.

BAB III. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini akan memaparkan hasil penelitian yang kemudian diperkaya dengan analisis sehingga menghasilkan pembahasan atas pokok-pokok permasalahan seperti yang telah dirimuskan sebelumnya. Bab ini akan memberikan uraian jawaban secara sistematis mengenai permasalahan antara lain Prosedur Pegiriman dan Pengangkutan Barang Hasil Produk Pertanian Melalui Laut dan Perlindungan Hukum Terhadap Ekspeditur berdadarkan Perjianjian Pengangkutan Laut.

(13)

BAB IV. PENUTUP

Bagian akhir penulisan hukum ini berisi beberapa kesimpulan dan saran berdasarkan analisis dari data yang diperoleh selama penelitian sebagai jawaban dari rumusan masalah yang penulis buat untuk nantinya dapat menjadi bahan pemikiran dan pertimbangan untuk menuju perbaikan sehingga bermanfaat bagi semua pihak.

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

Referensi

Dokumen terkait

Latar Belakang: Persiapan mental merupakan hal yang tidak kalah pentingnya dalam proses persiapan operasi karena mental pasien yang tidak siap atau labil dapat

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahasa Indonesia dalam publikasi tersebut belum memuaskan karena terdapat beberapa kesalahan, seperti kesalahan penulisan kata

Segala puji bagi Allah s.w.t Rabb Semesta Alam, karena atas izin-Nya, skripsi yang berjudul “Hubungan Antara Umur dan Lama Paparan Dengan Penurunan Daya Dengar Pada Pekerja

Pendapatan Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71 ayat (2) bersumber dari pendapatan asli Desa terdiri atas hasil usaha, hasil aset, swadaya dan partisipasi, gotong

Ketiga tesis di atas secara substantif memang meneliti tentang pemasaran pendidikan di sebuah lembaga, baik pada sekolah tingkat menengah maupun sekolah tinggi. Akan

Penyusunan tugas akhir ini merupakan salah satu syarat yang harus ditempuh oleh setiap mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Diponegoro dalam

Pengendalian derivatif (D) menggunakan tingkat perubahan sinyal error sebagai elemen prediksi pada aksi pengendalian. Komponen derivatif tidak dapat digunakan sebagai

20 Tahun 2001 Tentang Pemilikan Saham Dalam Perusahaan yang Didirikan Dalam Rangka Penanaman Modal Asing yakni dalam rangka lebih mempercepat peningkatan dan perluasan kegiatan