• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSIDING SEMINAR NASIONAL VOKASI DAN TEKNOLOGI 2017 (SEMNASVOKTEK)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PROSIDING SEMINAR NASIONAL VOKASI DAN TEKNOLOGI 2017 (SEMNASVOKTEK)"

Copied!
430
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

PROSIDING

SEMINAR NASIONAL VOKASI DAN TEKNOLOGI 2017

(SEMNASVOKTEK)

Disunting Oleh :

Kadek Yota Ernanda Aryanto, S.Kom.,M.T. Ph.d I Made Agus Wirawan, S.Kom, M.Cs

Putu Hendra Suputra, S.Kom., M.Cs I Gede Partha Sindu, S.Pd., M.Pd. Gede Saindra Santyadiputra, S.T, M.Cs Agus Aan Jiwa Permana, S.Kom, M.Cs

Diselenggarakan pada tanggal 28 Oktober 2017

Diselenggarakan oleh:

Fakultas Teknik dan Kejuruan, Universitas Pendidikan Ganesha

Jl. Udayana Kampus Tengah

Singaraja, Bali 81116 http://ftk.undiksha.ac.id

(3)

Dr. I Nyoman Jampel, M.Pd. (Universitas Pendidikan Ganesha)

Prof. Dr. Ida Bagus Putu Arnyana, M.Si. (Universitas Pendidikan Ganesha) Prof. Dr. I Wayan Lasmawan , M.Pd. (Universitas Pendidikan Ganesha) Dr. I Gusti Ngurah Pujawan, M.Kes. (Universitas Pendidikan Ganesha) Drs. I Wayan Suarnajaya, MA., Ph.D. (Universitas Pendidikan Ganesha) Dr. I Gede Sudirtha, S.Pd., M.Pd. (Universitas Pendidikan Ganesha) Dr. Gede Rasben Dantes, S.T., M.T.I. (Universitas Pendidikan Ganesha) Dr. Komang Setemen, S.Si., M.T. (Universitas Pendidikan Ganesha) Cokorda Istri Raka Marsiti, S.Pd., M.Pd. (Universitas Pendidikan Ganesha) Reviewer

Prof. Dr. Susanto (Universitas Negeri Semarang)

Prof. Dr. Muchlas Samani (Universitas Negeri Surabaya)

Harry Budi Santoso, S.Kom, M.Kom, Ph.D (Universitas Indonesia)

Dr. Ir. H. Syaad Patmantara, M.Pd. (Teknik Elektro, Universitas Negeri Malang) Dr. Danny Meirawan (Universitas Pendidikan Indonesia)

Dr. Eng. Agus Setiawan, M.Si. (Universitas Pendidikan Indonesia) Dr. Mochamad Bruri Triyono, M.Pd. (Universitas Negeri Yogyakarta) Dr. I Gede Sudirtha, S.Pd, M.Pd. (Universitas Pendidikan Ganesha) Dr. Gede Rasben Dantes, M.T.I (Universitas Pendidikan Ganesha) Dr. Nyoman Santiyadnya, S.Si., M.T. (Universitas Pendidikan Ganesha) Dr. Kadek Rihendra Dantes, S.T., M.T. (Universitas Pendidikan Ganesha) Dr. Ketut Agustini S.Si., M.Si. (Universitas Pendidikan Ganesha)

Dr. Komang Setemen S.Si., M.T. (Universitas Pendidikan Ganesha) Kadek Yota Ernanda, Ph.D (Universitas Pendidikan Ganesha) Dr. Gede Indrawan (Universitas Pendidikan Ganesha)

Dr. Ketut Widiartini (Universitas Pendidikan Ganesha) Komite Pelaksana

Ketua Pelaksana : A.A. Gede Yudhi Paramartha, S.Kom., M.Kom. (Universitas Pendidikan Ganesha)

Wakil Ketua : I Made Ardwi Pradnyana, S.T., M.T. (Universitas Pendidikan Ganesha) Sekretaris : I Gede Pasek Yasa, S.Sos (Universitas Pendidikan Ganesha)

Bendahara : Ni Nyoman Sri Supadmi (Universitas Pendidikan Ganesha)

Kesekretariatan : Dr. Ni Ketut Widiartini, S.Pd.,M.Pd (Universitas Pendidikan Ganesha) Acara : Dr. Ketut Agustini, S.Si, M.Si. (Universitas Pendidikan Ganesha) Prosiding : Kadek Yota Ernanda Aryanto, S.Kom.,M.T. Ph.d (Universitas

Pendidikan Ganesha)

Publikasi : Gede Aditra Pradnyana, S.Kom., M.Kom. (Universitas Pendidikan Ganesha)

IT : I Made Putrama, S.T, M.Tech (Universitas Pendidikan Ganesha) Penggalian Dana : Ketut Udy Ariawan, S.T., M.T. (Universitas Pendidikan Ganesha) Perlengkapan : K. Satiawan, S.T. (Universitas Pendidikan Ganesha)

(4)

Om Swastiastu, Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, dan Salam Sejahtera buat kita semua.

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat asung kerta wara nugraha beliau, Seminar Nasional Vokasi dan Teknologi (SEMNASVOKTEK) yang diselenggarakan oleh Fakultas Teknik dan Kejuruan Universitas Pendidikan Ganesha dapat dilaksanakan untuk kedua kalinya.

Seminar Nasional Vokasi dan Teknologi yang disingkat SEMNASVOKTEK, merupakan kegiatan berskala nasional, yang ditujukan untuk memfasilitasi bertemunya mahasiswa, dosen, praktisi, dan ahli pada bidang Pendidikan, Informatika, Teknik Elektro/Elektronika, Teknik Mesin, Vokasi dan Kejuruan (Tata Boga, Tata Busana, Kecantikan, dan Pariwisata) dalam sebuah forum ilmiah, serta memfasilitasi publikasi hasil studi, hasil penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat.

Pelaksanaan SEMNASVOKTEK tahun ini merupakan kegiatan yang dilakukan kedua kalinya yang dilaksanakan di Hotel Grand Inna Bali Beach Sanur Bali pada tanggal 28 Oktober 2017 dengan tema “Inovasi pada Bidang Vokasional dan Teknologi dalam Membangun Sumber Daya Manusia yang Kompeten dan Kompetitif”. SEMNASVOKTEK 2017 diikuti oleh 55 pemakalah baik dari Provinsi Bali maupun dari luar Provinsi Bali.

Adapun Pembicara utama dalam kegiatan ini adalah Prof. Dr. Susanto (Ketua Asosiasi Dosen dan Guru Vokasi Indonesia), Dr. Mochamad Bruri Triyono, M.Pd. (Universitas Negeri Yogyakarta), dan Dr. I Nyoman Jampel, M.Pd. (Rektor Universitas Pendidikan Ganesha). Kami mengucapkan Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang mendukung kegiatan ini, dan saya sebagai ketua panitia SEMNASVOKTEK 2017 menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada panitia baik dosen, pegawai dan mahasiswa dalam penyelenggaraan kegiatan ini. Kami memohon maaf jika ada sesuatu yang kurang berkenan dalam kegiatan ini. Semoga Kegiatan ini bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan, kesejahteraan masyarakat dan bagi kita semua.

Akhir kata, saya tutup laporan ini dengan Paramasanthi Om çanti, çanti, çanti Om

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Denpasar, 28 Oktober 2017 Ketua Panitia Pelaksana

(5)

SEMINAR NASIONAL VOKASI DAN TEKNOLOGI

Tema: Inovasi pada Bidang Vokasional dan Teknologi dalam Membangun Sumber Daya Manusia yang Kompeten dan Kompetitif

Jumat, 28 Oktober 2017

Om Swastiastu, Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, dan Salam Sejahtera buat kita semua.

Kita patut memanjatkan puji syukur kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa, karena hari ini kita dapat melaksanakan Seminar Nasional Vokasi dan Teknologi yang ke-2 dengan tema “Inovasi pada Bidang Vokasional dan Teknologi dalam Membangun Sumber Daya Manusia yang Kompeten dan Kompetitif”. Kegiatan ini digagas dan diselenggarakan oleh Fakultas Teknik dan Kejuruan, Universitas Pendidikan Ganesha.

Saya mengucapkan selamat kepada Fakultas Teknik dan Kejuruan Universitas Pendidikan Ganesha yang sudah membangun wadah akademik ini, sehingga para dosen, peneliti, maupun praktisi baik di lingkungan Universitas Pendidikan Ganesha, maupun dari luar lembaga, memiliki ruang untuk saling berbagi pengalaman dan pengetahuannya di bidang Vokasi dan Teknologi. Saya berharap bagi seluruh peserta seminar dapat memanfaatkan kegiatan ini dengan sebaik-baiknya.

Publikasi ilmiah dalam seminar bereputasi nasional maupun internasional berperan sebagai media aktualisasi diri para akademisi, peneliti, dan praktisi dalam pengembangan ilmu pengetahuannya. Negara-negara yang memiliki mutu pendidikan dan IPTEK yang bagus cenderung memiliki jumlah publikasi nasional maupun internasional yang tinggi. Oleh karena itu, kegiatan ini merupakan salah satu wadah bagi para peneliti untuk mempublikasikan hasil karya ilmiahnya. Penelitian adalah proses tanpa henti, maka publikasikanlah hasil-hasil penelitian Saudara. Sehingga universitas tidak menjadi menara gading yang hasil-hasil penelitiannya tidak menjangkau masyarakat.

Sesuai dengan Instruksi Presiden melalui Kebijakan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, terkait dengan: (1) Moratorium pendirian universitas, memperbanyak politeknik, institut, dan akademi berbasis vokasi; (2) Moratorium pendirian SMA, memperbanyak SMK; (3) Alih fungsi 30.000 guru adaptif menjadi guru produktif; (4) Mengutamakan pengangkatan guru vokasi 10 tahun ke depan sebanyak 61.000 guru. Oleh karena itu, Fakultas Teknik dan Kejuruan Universitas Pendidikan Ganesha, sebagai fakultas yang menyelenggarakan pendidikan di bidang vokasi dan teknologi harus mampu menjawab tantangan ini. Saya berharap Fakultas Teknik dan Kejuruan dapat turut serta berkontribusi menyiapkan guru dalam bidang vokasi serta berperan serta dalam proses alih fungsi guru adaptif menjadi guru produktif. Selain itu, ke depan Fakultas Teknik dan Kejuruan diharapkan dapat membuka program-program studi vokasi yang prospektif untuk mendukung kebijakan pemerintah.

(6)

bagi kita semua, masyarakat dan kemanusiaan.

Selamat berbagi ilmu dan pengetahuan. Om Santhi, Shanti, Shanti, Om.

Denpasar, 28 Oktober 2017

Rektor Universitas Pendidikan Ganesha,

Dr. I Nyoman Jampel, M.Pd. NIP. 195910101986031003

(7)

TANTANGAN REVOLUSI INDUSTRI KE 4 (I4.0) BAGI PENDIDIKAN VOKASI . . . 1 Mochamad Bruri Triyono

PEMBENTUKAN KARAKTER UNTUK MEMPERKUAT SUMBER DAYA

MANUSIA YANG INOVATIF . . . 6 I Nyoman Jampel

RANCANGAN CONTENT E-LEARNING PROBLEM BASED MATA KULIAH DSK DI JURUSAN PTI UNDIKSHA . . . 16

I Gede Partha Sindu and A.A. Gede Yudhi Paramartha

REKAYASA ULANG SISTEM INFORMASI AKADEMIK POLITEKNIK

MANUFAKTUR ABC DALAM JARINGAN BERBASIS WEB INTERNET . . . 24 Sasmito Budi Utomo

OPTIMASI PARAMETER MARSHALL STABILITY PADA ASPAL BETON MENGGUNAKAN PENDEKATAN HYBRID NEURAL NETWORK – GENETIC

ALGORITHM . . . 33 Achmad Baroqah Pohan and Jimmi Jimmi

PENGEMBANGAN MANAJEMEN INFORMASI BAHAN AJAR DENGAN MEDIA BLOG SEBAGAI PENUNJANG REFERENSI PEMBELAJARAN BAGI

GURU-GURU SEKOLAH DASAR KECAMATAN KUBU DAN ABANG . . . 41 Ni Ketut Sari Adnyani, Ni Kadek Putus Asrini and Ni Nyoman Mandriani

Pengembangan aplikasi pembelajaran tempat bersejarah di lima benua untuk siswa sd

berbasis multimedia . . . 49 Theresia Wihelmina Mado and Josef Meda

SISTEM INFORMASI PEMBIMBINGAN SKRIPSI ONLINE BERBASIS WEB

(STUDI KASUS: FTK, UNDIKSHA) . . . 56 A.A. Gede Yudhi Paramartha, I Gede Mahendra Darmawiguna and Ni Ketut Kertiasih PENGEMBANGAN SISTEM LAYANAN ADMINISTRASI SATU PINTU BAGI

ALUMNI: STUDI KASUS . . . 65 I Made Putrama, Gede Aditra Pradnyana and I Gede Partha Sindu

The Development of Visual Communication Design Through Interactive Multimedia

about Instant Ogoh-ogoh . . . 73 Elly Herliyani

perancangan arsitektur infrastruktur SISTEM PEMANTAU LAB BERBASIS ARDUINO 82 I Made Agus Wirawan, Gede Saindra Santyadiputra and Nyoman Sugihartini

IMPLEMENTASI KONSEP PERANCANGAN MODEL KONSEPTUAL BASIS DATA STUDI KASUS: PERANCANGAN BASIS DATA SISTEM INFORMASI

ADMINISTRASI BEASISWA DI UNDIKSHA . . . 90 I Made Ardwi Pradnyana, Agus Aan Jiwa Permana and I Made Putrama

Sistem Rekonstruksi Materi Pembelajaran Berbasis Objek Pembelajaran Granular . . . 99 A.A. Gede Yudhi Paramartha, I Ketut Purnamawan, Ni Wayan Marti and Putu

(8)

UNTUK SISWA SEKOLAH . . . 112 Agus Aan Jiwa Permana

PENGEMBANGAN TEGANGAN PANEL SURYA PORTABLE BERBASIS CLOSE

LOOP BOOST CONVERTER . . . 120 I Gede Nurhayata, Nyoman Santiyadnya and Luh Krisnawati

SMART GARDEN MENGGUNAKAN ARDUINO UNO DAN LABVIEW . . . 130 Arif Ainur Rafiq and Sugeng Dwi Riyanto

IMPLEMENTATION SYSTEM OF STUDENTS GUIDANCE BASED ON WEB

SERVER AND ANDROID . . . 137 Ghiri Basuki Putra and Fardhan Arkan

Karakteristik Output Bioelectrical Impedance Gerakan Bahu dengan Metoda K-Means Cluster Analysis . . . 146

Hastuti Hastuti, Juli Sardi and Ali Basrah Pulungan

PENGEMBANGAN MEDIA TRAINER ELEKTRONIKA DALAM PEMBELAJARAN TEKNIK ELEKTRONIKA PADA PENDIDIKAN VOKASI TEKNIK ELEKTRO

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI PADANG . . . 153 Elfizon Bustami, Mukhlidi Muskhir and Oriza Candra

RANCANG BANGUN ALAT TELEMONITOR ARITMIA JANTUNG BERBASIS

WEB . . . 161 Wahyu Kusuma

ANALISA ENERGY COMPACTION PADA DEKOMPOSISI WAVELET. . . 168 Dewa Ayu Kadek Pramita, I Made Oka Widyantara and Dewa Made Wiharta

SISTEM AKUISISI DATA NIRKABEL KARAKTERISTIK MODUL SURYA . . . 176 Krismadinata Krismadinata, Remon Lapisa and Miftahul ’Ainul Hayati

RANCANGAN ANTENA TELEMETRI BIQUAD 5.800 MHZ WAHANA TERBANG FOTOGRAMETRI . . . 182

Gede Saindra Santyadiputra, I Wayan Sutaya, I Gede Mahendra Darmawiguna and Ketut Udy Ariawan

KARAKTERISTIK PAPAN PARTIKEL SEKAM PADI VARIASI CAMPURAN

DEDAK (SEKAM PADI GILING), DAN RASIO KOMPAKSI . . . 192 Mohammad Nurhilal

PERBEDAAN OPASITY GAS BUANG MESIN DIESEL DIRECT INJECTION

MENGGUNAKAN BAHAN BAKAR D90J10 DAN D90LPM10 . . . 200 Jhonni Rentas Duling, Wiyogo Wiyogo and Debora Debora

PEMANFAATAN TEKNIK PENDINGINAN PASIF UNTUK MENINGKATKAN

PERFORMA TERMAL BANGUNAN RESIDENSIAL DI INDONESIA . . . 208 Remon Lapisa, M. Yasep Setiawan, Arwizet, Fahmi Rizal, Krismadinata and Nasruddin

(9)

LISTRIK GASKI (GANESHA SAKTI) DENGAN PERANGKAT LUNAK ANSYS 14.5. . 226 Yudi Prihadnyana, Gede Widayana and Kadek Rihendra Dantes

PENGARUH ORIENTASI SERAT TERHADAP KEKUATAN IMPAK DAN MODEL PATAHAN KOMPOSIT POLYESTER BERPENGUAT SERAT KELAPA (COCOS

VERIDIS) . . . 235 Kadek Odi Supertama Yasa, Nyoman Pasek Nugrama and Kadek Rihendra Dantes

FAKTOR PENDORONG KEBERHASILAN PEMANFAATAN FASILITAS SOSIAL BAGI PENINGKATAN KESEJAHTERAAN KELUARGA Studi kasus di RW07 Bukit Indah, Kelurahan Serua, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan . . . 244

Lilik Aslichati and Setyo Kuncoro

PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN PROSES BERBASIS KKNI PADA

... . . . 249 P Wayan Arta Suyasa and Dewa Gede Hendra Divayana

PENGEMBANGAN MEDIA INTERAKTIF MENGGUNAKAN ADOBE FLASH CS 6 PADA MATA PELAJARAN MENGANALISIS RANGKAIAN LISTRIK DI SMK N 1 PADANG . . . 255

Krismadinata Krismadinata and Fandy Arieska Wanda

Penyematan Aspek Vokasional Pada Program Akademik di Lingkungan Pendidikan

Tinggi Teknik . . . 262 Muchlas

STUDI KELAYAKAN PEMBUKAAN PRODI S1 TEKNIK ELEKTRO . . . 272 I Gede Ratnaya, Agus Adiarta, I Putu Suka Arsa and I Gede Nurhayata

Penyiapan Sumber Daya Manusia di Bidang Vokasional Melalui Pengembangan

Program Studi Pendidikan Kejuruan Strata Dua . . . 276 I Gede Sudirtha, Risa Panti Ariani, Made Diah Anggendari and Luh Masdarini

PENERAPAN PEMBELAJARAN BERBASIS LINGKUNGAN PADA

PEMBELAJARAN SANITASI HIGIENE DAN KESELAMATAN KERJA DI SMK

PARIWISATA TRIATMAJAYA SINGARAJA . . . 284 Ni Wyn Ratna Dewi, Ni Dsk Md Sri Adnyawati and Luh Masdarini

KAJIAN KELAYAKAN PEMBUKAAN PRODI D III TEKNIK LISTRIK FAKULTAS TEKNIK DAN KEJURUAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA . . . 295

Luh Krisnawati, Agus Adiarta, Nyoman Santiyadnya and Ketut Udy Ariawan PEMBUATAN PAES PENGANTIN SOLO PUTRI DENGAN MENGGUNAKAN

WELAT LATINO DI BLK KABUPATEN SEMARANG . . . 301 Ade Novi Nurul Ihsani, Maria Krinawati, Wulansari Prasetyaningtyas and Herlina

(10)

MENINGKATKAN KREATIVITAS MAHASISWA TATA BUSANA . . . 318 Yenni Idrus

TENUN 3 DIMENSI PADA INDUSTRI TENUN PUTRI AYU KECAMATAN

BLAHBATUH KABUPATEN GIANYAR PROVINSI BALI . . . 323 Kadek Megayanti, I Gede Sudirtha and Made Diah Angendari

PENDAYA GUNAAN BALAI PERTEMUAN PERUMAHAN BUMI SAWANGAN

INDAH, DEPOK . . . 333 Tutisiana Silawati Silawati

PEMANFAATAN TEKNOLOGI IRIGASI TETES UNTUK MANGATASI PRODUKSI TANAMAN SAYUR-SAYURAN . . . 337

Melchior Bria, Lodofikus Dumin and Agus Fanani Setya Budi

KELOMPOK PEDULI HIV/AIDS KELURAHAN KWITANG KECAMATAN SENEN DAN KELURAHAN KEBON SIRIH KECAMATAN MENTENG JAKARTA PUSAT . . . . 344

Ernirita Rita, Giri Widakdo Widakdo and Nana Supriyatna Supriyatna

PELATIHAN VIDEO EDITING TINGKAT SMK SE-KOTA SINGARAJA (KAJIAN

RESPON PELATIHAN) . . . 353 Nyoman Sugihartini, Ketut Agustini and I Made Ardwi Pradnyana

PERAN TEKNOLOGI INFORMASI BAGI KADER POSYANDU DALAM

KEGIATAN PENDATAAN K.I.A . . . 360 Aji Supriyanto and Budi Hartono

Peningkatan Produksi Kopi Lonsilar pada KUD Beringin di Apui melalui

Pengembangan Mesin . . . 366 Folkes E. Laumal, John A. Wabang, Edwin P. Hattu and Paulus E. Plaimo

PELATIHAN KETERAMPILAN KEJURUAN BIDANG BOGA DAN KECANTIKAN PADA REMAJA PUTRI DI JURUSAN PENDIDIKAN KESEJAHTERAAN

KELUARGA UNDIKSHA . . . 374 I Dewa Ayu Made Budhyani, Made Diah Angendari and Ni Desak Sri Adnyawati

PELATIHAN FOTOGRAFI UNTUK SMP, SMA, DAN SMK DI KOTA SINGARAJA . . . 380 I Gede Ratnaya, Nyoman Santiyadnya, Luh Krisnawati, I Gede Nurhayata, I Gede

Siden Sudaryana and Ni Made Wahyuni

PEMBUATAN KATALOG PRODUK KERAJINAN TENUN SONGKET DESA

JINENGDALEM BULELENG . . . 385 Luh Joni Erawati Dewi, Ni Ketut Kertiasih and I Ketut Purnamawan

PENGEMBANGKAN BAHAN AJAR BERBASIS MULTIMEDIA BERORIENTASI PEMBERDAYAAN KARAKTERISTIK SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP) DI JEMBRANA . . . 390

(11)

PEMBUATAN MATERIAL KOMPOSIT BAGI SISWA SMK SE-KABUPATEN

BULELENG . . . 402 I Nyoman Pasek Nugraha, Kadek Rihendra Dantes and Nyoman Arya Wigraha

PERANCANGAN MODEL PENGAJARAN LIFE SKILLS DI PRODI TEKNIK

I N F O R M A T I K A U N I V E R S I T A S P A S U N D A N.. . . 4 09 Caca E. Supriana

(12)

1

TANTANGAN REVOLUSI INDUSTRI KE 4 (i4.0) BAGI PENDIDIKAN

VOKASI

Moch Bruri Triyono

ABSTRACT

ABSTRAK

Pascasarjana, Universitas Negeri Yogyakarta Email: [email protected]

Changes in current and future labor needs fast reaction as a result of the fourth industrial revolution (i4.0). The 4th industrial revolution has technological features that blend with society and the human body, robotics, computational quantum, biotechnology, 3D printing, automation of vehicles, internet, blended virtual and physical systems. These conditions will affect the performance of vocational education that is ready for graduates to work, especially in terms of curriculum development, how to adapt and change readiness of the educators. Changes in learning in accordance with the era of i4.0 will have an impact on the role of ideal vocational education roles educator. If the role of educators is retained as a deliver of knowledge, they will lose their role by enhancing their technology and learning methods. These conditions must be addressed by increasing the competence of educators who support knowledge for exploration and creation through independent learning. The definition of new offenders should be immediately discovered through searching and research on seven domains in the vocational teacher's teaching competence. Vocational education must learn and work with industry through various data. In addition, educators should develop their own expertise including how the learners' data, career guidance through big data utilization, so that educators and learners can immediately adapt to the changes of i4.0.

Keywords: Industrial Revolution, Vocational Education, New Competencies

Perubahan kebutuhan tenaga kerja saat ini dan masa depan sudah mulai terlihat perubahannya akibat revolusi industri ke empat (i4.0). Revolusi industri ke 4 mempunyai ciri teknologi yang menyatu dengan masyarakat dan tubuh manusia, robotik, quantum komputasi, bioteknologi, 3D printing, otomasi kendaran, internet, sistem virtual dan fisik bekerjasama yang secara global. Kondisi ini akan memengaruhi kinerja pendidikan vokasi yang menyiapkan lulusannya untuk bekerja, khususnya dalam hal pengembangan kurikulum, penyesuaian perangkat pembelajaran dan kesiapan berubah para pendidiknya. Perubahan dalam pembelajaran sesuai dengan era i4.0 akan berdampak pada peran pendidikan vokasi khususnya peran pendidiknya. Jika peran pendidik masih mempertahankan sebagai penyampai pengetahuan, maka mereka akan kehilangan peran seiring dengan perkembamgan teknologi dan perubahan metode pembelajarannya. Kondisi tersebut harus diatasi dengan menambah kompetensi pendidik yang mendukung pengetahuan untuk eksplorasi dan penciptaan melalui pembelajaran mandiri. Definisi kompetensi baru harus segera ditemukan melalui penelusuran dan penelitian tentang tujuh domain dalam kompetensi mengajar guru vokasi. Pelaku pendidikan vokasi harus belajar cepat berubah bekerjasama dengan industri dan mengenali kompetensi baru seperti apa yang dibutuhkan oleh industri melalui pemanfaatan berbagai data. Selain itu, pendidik harus mengembangkan keahliannya sendiri termasuk bagaimana mengelola data peserta didik, bimbingan karir melalui pemanfaatan big data, sehingga pendidik dan peserta didik dapat segera beradaptasi terhadap perubahan i4.0.

(13)

2 PENDAHULUAN

Pendidikan vokasi yang berada di jalur professional mempunyai tujuan yang berbeda dengan pendidikan jalur akademi. Pendidikan vokasi lebih mengutamakan menyiapkan tenaga kerja terampil baik untuk lulusan jenjang pendidikan menengah (SMK) maupun pendidikan tinggi (Diploma). Sifatnya yang harus menyesuaikan dengan kebutuhan di dunia kerja menyebabkan sifat pendidikan vokasi yang lebih lentur dan harus cepat beradaptasi terhadap perubahan. Kurikulum yang terlalu kaku akan berdampak pada kualifikasi dan kompetensi yang menjauh dari tuntutan dunia kerja. Tidak terkecuali pendidikan guru vokasi di LPTK yang harus memikirkan dan bertindak cepat dimulai dari penyesuaian paradigma pembelajaran yang memasukkan literasi digital pada semua mata kuliah, terutama mata kuliah vokasional.

Dunia kerja saat ini dan masa depan sudah terlihat semakin mengarah pada pemanfaatan berbagai perangkat digital, perubahan yang sangat cepat dari dunia kerja atau industri baik industri barang maupun jasa sudah dimulai dengan adanya revolusi industri ke 4. Revolusi industri ke 4 mempunyai ciri teknologi yang menyatu dengan masyarakat dan tubuh manusia, robotik, quantum komputasi, bioteknologi, 3D printing, otomasi kendaran, internet, sistem virtual dan fisik bekerjasama secara global.

Menghadapi dunia kerja yang perubahannya tidak lagi dapat diprediksi secara liner, sekaligus menghadapi revolusi industri ke 4, maka sudah saatnya pendidikan vokasi mulai menyesuaikan dengan berbagai perubahan agar siap melayani para peserta

didik yang berasal dari generasi milenial dari sisi pedagogi, sekaligus pengaruh digitalisasi pada teknologi di dunia kerja dari sisi i4.0. Michael Härtel:2015, “Today in all social areas, extensive digital skills are a key qualification. Like reading, writing and arithmetic, information and communication technologies (ICT), above all the internet, represent a cultural technique”, pernyataan tersebut mempertegas bahwa keterampilan digital sejajar dengan kualifikasi dasar pada umumnya yaitu membaca, menulis, berhitung yang harus dikuasai oleh siapapun tak terkecuali pendidik dan para peserta didik.

REVOLUSI INDUSTRI KE-EMPAT

A. REVOLUSI INDUSTRI

• Revolusi industri pertama dimulai pada abad 18-19 melalui industri pertanian, besi, tekstil, mesin uap, pertumbuhan masyarakat perkotaan dan pingiran, serta pertumbuhan penduduk yang mebutuhkan tempat tinggal yang meluas.

• Revolusi industri kedua tahun 1870-1914, berkembangnya tenaga mekanik, baja, minyak, tenaga listrik (sampai saat ini masih ada 17% bagian dunia tanpa listrik), produksi masal, telepon, lampu pijar,

telegram, mesin mobil,

ketenagkerjaan.

• Revolusi industri ketiga tahun 1980 sd sekarang, ditandai dengan revolusi digital atau computer, perubahan dari analog ke digital teknologi, semi-conductor, main frame, PC, internet, otomasi, TIK meskipun saat ini masih sekitar 50% dunia kekurangan akses internet. Sedangkan revolusi industri ke empat seperti yang tersebutkan di

(14)

3 depan berciri teknologi yang menyatu dengan masyarakat dan tubuh manusia, robotik, quantum komputasi, bioteknologi, 3D printing, otomasi kendaran, internet, sistem virtual dan fisik bekerjasama secara global.

Revolusi industri selalu berdampingan dengan munculnya ekonomi baru, perpaduan antara digitalisasi, generasi milenial, serta revolusi industri memunculkan industri kreatif yang kunci ada pada kreatifitas individu yang didukung oleh perkembangan teknologi digital. Industri kreatif sering disebut sebagai industri budaya atau ekonomi kreatif yang termasuk dalam ciri-ciri revolusi indusri keempat tentang teknologi yang menyatu dengan masyarakat, internet dan system virtual dan fisik yang bekerjasama secara global. Beberapa contoh yang bercirikan i4.0 adalah perusahaan Uber, Grab, Gojek, Gofood, Traveloka, Alibaba, Facebook, online shop, serta berbagai industri dan otomasi yang memanfaatkan digitalisasi dalam aktifitas kerjanya.

Revolusi industri ke empat melalui digitalisasi diberbagai bidang akan menghubungkan jutaan manusia melalui web, secara tajam meningkatkan efesiensi bisnis dan organisasi, serta memperbarui lingkungan hidup melalui manajemen asset yang lebih baik (Klaus Schwab: 2017). Selain itu, revolusi industri yang sangat cepat perkembangannya, telah merubah disiplin keahlian yang mengkombinasikan multiple teknologi untuk kinerja otomasi sehingga menggeser bidang keahlian yang bersifat mono seperti teknik mesin, listrik, bangunan serta lainnya, selanjutnya akan memunculkan bidang keahlian yang dibutuhkan untuk mengatasi dan menerapkan teknologi baru sehingga kondisi ini dapat merubah seluruh system

pembelajaran yang sudah biasa dilaksanakan.

Keuntungan atau manfaat yang besar dari revolusi industri ke empat dari sisi konsumen adalah selalu ada produk baru dan paling baru artinya perubahan jenis dan kualitas produk terus dan cepat berkembang seiring dengan peningkatan layanan, efisiensi dan produktifitas. Selain itu tantangan besar dalam hal ketidak setaraan keadilan antara pemilik dan pekerja, memunculkan keadaan apakah hidup saya akan tergangu?, apakah saya akan kehilangan pekerjaan?. Kondisi ini akan berlangsung seiring dengan mulainya revolusi i4.0, kegamangan untuk mulai menyesuaikan melalui diri sendiri dan lingkungan akan semakin menjauhkan kualifikasi seseorang dengan kebutuhan kerjanya yang pada akhirnya akan meningkatkan ketidakmampuan seseorang terhadap perubahan di dunia kerja. Padahal trends 2025 (world economic forum 2017) akan ditandai dengan 10% masyarakat akan menggunakan baju yang terkonesi dengan internet, 10% kacamata baca akan terhubung dengan internet, digitalisasi pajak, 90% penduduk menggunakan smart phone, 80% masyarakat akan menggunakan internet untuk interaksi hariannya.

Penggerak revolusi industri i4.0 secara fisik dapat dilihat melalui penggunaan mobil yang mampu bergerak sendiri artinya bukan sekedar otomasi gerak kendaran, akan tetapi termasuk manajemen kinerja kendaraan itu sendiri. Selain itu printing 3D akan nyata digunakan untuk memproduksi barang, sehingga produk barang tersebut tidak selalu harus masal akan tetapi lebih bersifat seperti yang diinginkan oleh pelanggan atau konsumennya. Perkembangan robot yang terus berkolaborasi antara manusia dengan mesin serta penggunaan material cerdas

yang ringan, bersih dan

(15)

4 penggerak i4.0. Di sisi lain, peran digital dalam hal internet untuk berhubungan antar manusia, sensor, remote monitor serta uang digital dan peran biologi dalam hal genetika, biologi sintetik, dan rekayasa juga sebagai penggerak i4.0.

Dampak i4.0 pada ketenagakerjaan merupakan data yang sangat bermanfaat untuk pengembangan dan penyesuaian pendidikan dan pelatihan di pendidikan vokasi. Dampak tersebut antara lain sifat pekerjaan, kemampuan beradaptasi, kecepatan untuk berubah, dan pekerja pengganti. Sementara itu dampak yang lain adalah tidak menciptakan pekerjaan baru, ada pemohon sebagai pekerja baru untuk kerja yang sudah ada,, pertumbuhan pekerja dengan gaji tinggi, pekerja kognitif dan kreatif, mengurangi pekerjaan yang berpenghasilan rendah, bersifat rutin atau pengulangan kerja, keterampilan rendah/bayaran rendah vs keterampilan tinggi / bayaran tinggi.

Dampak terhadap keterampilan adalah bagaimana menyesuaikan keterampilan yang sudah mereka punyai dengan kebutuhan di dunia kerja. Kebutuhan kritis untuk mengantisipasi trend dan kebtuhan tenaga kerja masa depan, variasi trend tersebut diciptakan oleh industri dan kondisi geographi. Selain itu persentase kebutuhan keterampilan di tahun 2020 antara lain diprediksi: • Kemampuan kognitif 52% • Keterampilan system 42% • Mengatasi masalah komplek 40% • Keterampilan konten 40% • Keterampilan proses 39% • Keterampilan social 37% • Keterampilan manajemen sumber daya 36% • Keterampilan teknik 33% • Kemampuan yang bersifat fisik 31% Persentase tersebut merupakan data yang dapat digunakan untuk menyesuaikan kurikulum serta strategy pembelajarannya di semua program studi pendidikan vokasi.

B. PERAN DAN KOMPETENSI BARU DI PENDIDIKAN VOKASI

Perubahan dalam pembelajaran sesuai dengan era i4.0 akan berdampak pada peran pendidikan vokasi khususnya peran pendidiknya. Jika peran pendidik masih mempertahankan sebagai penyampai pengetahuan, maka mereka akan kehilangan peran seiring dengan perkembamgan teknologi dan perubahan metode pembelajarannya. Kondisi tersebut harus diatasi dengan menambah kompetensi pendidik yang mendukung pengetahuan untuk eksplorasi dan penciptaan melalui pembelajaran mandiri. Definisi kompetensi baru harus segera ditemukan melalui penelusuran dan penelitian tentang tujuh domain dalam kompetensi mengajar guru vokasi (Ye-weon Jeon, dkk: 2017) yaitu teaching design, teaching and learning guidance, research on teaching content, research on teaching methods, career and interpersonal relationship guidance, management support for school and class, cooperation

Selain peran pendidik, pendidikan vokasi harus menyiapkan bimbingan karir dan pengembangan karir peserta didik, lebih mengutamakan kompetensi lulusannya nanti seperti apa daripada ijasahnya, membentuk akses untuk pendidikan yang global, meningkatkan personal development khususnya tentang keterampian sosial. Selain itu untuk penataan kelembagaan, program studi yang ada tidak perlu diganti dengan yang baru akan tetapi lebih pada

(16)

5 menyesuaikan sesuatu yang baru kedalam program studi yang sudah ada, meningkatkan kinerja pendidikan vokasi pada level yang lebih tinggi dengan menerapkan model pembelajaran problem solving dan berpikir system, serta keterhubungan dengan pihak industri yang sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja. Dalam kontek pembelajaran abad 21, pembelajaran yang menerapkan kreativitas, berpikir kritis, kerjasama, keterampilan komunikasi, kemasyarakatan dan keterampilan karakter, tetap harus dipertahankan bahwa sebagai lembaga pendidikan vokasi peserta didik tetap memerlukan kemampuan teknik. Pemanfaatan berbagai aktifitas pembelajaran yang mendukung i4.0 merupakan keharusan dengan model resource sharing dengan siapapun dan dimanapun, pembelajaran kelas dan lab dengan augmented dengan bahan virtual, bersifat interaktif, menantang, serta pembelajaran yang kaya isi bukan sekedar lengkap.

Melalui kesadaran terhadap tantangan yang sudah ada di dunia kerja melalui revolusi i4.0, dan kesiapan untuk berubah akan mendekatkan pendidikan vokasi pada kondisi ketenagakerjaan sekarang dan masa depan.

SIMPULAN

Revolusi industri ke empat sedang berlangsung, masyarakat dihadapkan pada

perubahan gaya hidup, perubahan industri, pasar kerja, dan pendidikan. Pendidik harus mampu menanggapi perubahan ini, peran penyampai pengetahuan segera berubah menjadi peran pendamping untuk menemukan dan menciptakan melalui belajar mandiri. Untuk hal tersebut pendidik vokasi harus belajar cepat berubah bekerjasama dengan industri dan mengenali kompetensi baru seperti apa yang dibutuhkan oleh industri melalui pemanfaatan berbagai data. Selain itu, pendidik harus mengembangkan keahliannya sendiri termasuk bagaimana mengelola data peserta didik, bimbingan karir melalui pemanfaatan big data, sehingga pendidik dan peserta didik dapat segera beradaptasi terhadap perubahan.

DAFTAR RUJUKAN

Global Risk Report, World Economic Forum

Michael Härtel:

www.unevoc.unesco.org/up/ICT_TV ET_UNEVOC_Haertel_ELA2015.pd f

Klaus Schwab: word economic forum: https://www.weforum.org/about/the- fourth-industrial-revolution-by-klaus-schwab

Ye-weon Jeon, dkk, 2017 Developing the competencies of vocational teachers in the age of 4th industrial revolution, the 13th AASVET annual conference 22 Oktober 2017, Seoul

(17)

6

I.N. Jampel 1

ABSTRACT

ABSTRAK

PEMBENTUKAN KARAKTER UNTUK MEMPERKUAT SUMBER

DAYA MANUSIA YANG INOVATIF

1 Jurusan Teknologi Pendidikan, Universitas Pendidikan Ganesha Email: [email protected]

Character building is most particularly needed in the era where values are challenged by the todays’ developments in communication and information technologies that develop exponentially. This calls for reformation in the teaching paradigm to meet these challenges, because education holds a very strategic role in providing the experiences that expose the students to interact with other people in educative interactions that allow them to internalize good values for building their characters. Not only teachers and the grown ups around the students should set examples of behaviors that reflect values, but education should divert its focus from globalizing the students to a more localized and individualized approaches to students. This means, the local wisdom with which the students grow should also be recognized as part of the values that should be internalized for building their characters. This will educate the students to be better persons while being rooted to their local values, building them into intellectuals that will act based on meaningful and valuable wisdom that come from their own society, making their development meaningful and purposeful for the improvement of their own beings and their society, to act locally while thinking globally. Thus, they would be able to adapt to innovations while being strongly rooted to characters values. This is specifically important to implement in educational institutions that are mainly aimed at preparing students to be future teachers. When educations for these future educators are fortified with character educations, they will develop as innovative teachers while always reflect character values in their behaviors; they will also set example to their students while at the same time combining innovations and values into their teachings. Thus, hopefully, our younger generations will grow to be more innovative while behaving based on character values.

Keywords: adaptive, cooperative learning, deduktif

Pendidikan karakter sangat dibutuhkan pada jaman sekarang, ketika nilai-nilai sedang ditantang oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang sangat pesat. Karena itu, perlu sebuah reformasi paradigma pendidikan agar bisa mengantarkan dunia pendidikan kita menghadapi tantangan globalisasi ini, sebab pendidikanlah yang menjadi kunci sebagai penyedia berbagai pengalaman belajar yang menuntut peserta didik untuk berinteraksi dengan orang lain yang memungkinkan mereka untuk menginternalisasi nilai-nilai yang dapat membentuk karakter mereka. Untuk itu, guru dan orang dewasa di lingkungan anak harus mampu menjadi teladan bagi mereka dalam bertindak dan bersikap agar selalu mencerminkan nilai-nilai karakter yang baik. Lebih jauh, pendidikan juga tidak boleh hanya berpusat pada globalisasi tetapi harus menerapkan pendekatan-pendekatan yang lebih terlokalisasi dan personal. Artinya, pendidikan dan penanaman karakter harus mencakup nilai-nilai kearifan lokal yang berasal dari lingkungan peserta didik. Pendidikan yang memadukan pemahaman mengenai globalisasi namun penerapannya dipadukan dengan nilai-nilai kearifan lokal akan membentuk peserta didik menjadi manusia yang berkembang secara intelektual dan bijaksana. Karena perkembangan mereka selalu dikaitkan dengan lingkungan tempat mereka bertumbuh dan nilai-nilai kearifan lokal di dalamnya, sehingga perkembangan anak menjadi lebih bermakna. Peserta didik yang berkembang dengan cara demikian akan mampu beradaptasi dengan inovasi di bidang teknologi dan ilmu pengetahuan tanpa harus kehilangan jati diri dan nilai-nilai kearifan lokal mereka. Paradigma pendidikan ini terutama sangat penting bagi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan yang bertugas mencetak calon guru yang akan menjadi pendidik generasi penerus bangsa. Jika pendidikan untuk para calon guru selalu memadukan adaptasi terhadap globalisasi dan nilai-nilai kearifan lokal, maka mereka akan berkembang menjadi calon pendidik yang berkarakter sekaligus memiliki wawasan untuk membantu pembangunan karakter peserta didik yang akan mereka bimbing sehingga mampu membentuk generasi penerus yang selalu dilandasi nilai-nilai karakter yang baik dalam berinovasi.

(18)

7 PENDAHULUAN

Melahirkan sumber daya manusia (SDM) unggul merupakan idaman dari seluruh bangsa di dunia. Sumber daya manusia adalah yang utama dibandingkan dengan sumber daya lainnya. SDM unggul yang diharapkan di masa depan adalah SDM yang memiliki karakter kuat dan kreatif dalam menghadapi segala persoalan terutama dalam rangka menghadapi persaingan yang semakin ketat. Semua bangsa di dunia ini sepakat dan sangat menyadari bahwa membangun sumber daya manusia pada hakikatnya tidak dapat dilakukan dengan cara lain selain melalui pendidikan. Pendidikan adalah satu-satunya di dunia ini digunakan sebagai sarana dalam membangun sumber daya manusia dan memanusiakan manusia. Sehingga tidak satupun negara di dunia ini yang tidak menempatkan investasinya di bidang pendidikan, bahkan menjadikan pendidikan sebagai investasi yang paing besar.

Sejalan dengan tujuan pendidikan dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 3 disebutkan “tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab", maka secara umum ada dua dimensi tujuan pendidikan itu yaitu pendidikan untuk mencerdaskan pikiran manusia dan pendidikan untuk menjadikan manusia memiliki moral dan karakter yang kuat. Kedua dimensi pendidikan ini harus berjalan secara bersinergi dalam usaha manusia

untuk mencapai tujuan. Untuk itu kunci membangun manusia unggul harus berpusat pada upaya membangun potensi kecerdasannya dan karakternya.

Permasalahan mendasar yang dihadapi lembaga pendidikan sekarang ini lebih banyak berkaitan dengan masalah moral dan karakter. Masalah-masalah lain yang muncul biasanya bersumber dari hal tersebut. Untuk itu sangat perlu disadari bahwa lembaga pendidikan tidak bisa mengabaikan pendidikan karakter dan moral dalam proses penyelenggaraan pendidikannya. Meminjam istilah Theodore Rosevelt Presiden Amerika Serikat ke-26 yang mengatakan bahwa “mendidik seseorang hanya pada pikirannya saja dan tidak pada moralnya sama artinya dengan mendidik seseorang yang akan berpotensi menjadi ancaman bagi masyarakat”, maka dari itu sangat penting artinya untuk membangun pemahaman bersanma betapa pentingnya pendidikan karakter/moral. Penguatan karakter melalui pendidikan adalah satu hal yang harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh oleh institusi pendidikan. Lebih dari sekedar pendidikan karakter, akan tetapi dalam makalah ini lebih menekankan pada upaya menumbuhkan dan penguatan karakter melalui pendidikan, serta menjadikan karakter sebagai salah satu kunci SDM unggul.

Pada dasarnya, seseorang itu akan ditunjukkan atau dilihat dari eksistensi mereka masing-masing. Eksistensi seseorang terlihat karena karakter yang dimilikinya. Setiap orang pada dasarnya telah memiliki karakternya masing-masing. Dalam konteks membangun SDM unggul, yang menjadi permasalahan adalah apakah karakter yang dimiliki merupakan karakter

(19)

8 unggul yang mampu dan sesuai dengan yang dibutuhkannya dalam menghadapi setiap persoalan yang ada. Selanjutnya dalam tulisan ini, dibahas indikator-indikator karakter bagaimana yang dibutuhkan untuk menjadi manusia unggul dalam menghadapi tantangan global. Pendidikan harus dipersiapkan untuk menjadi kekuatan yang dapat memberikan inspirasi dan juga sumbangan nyata dalam permasalahan ini. Pendidikan berperan strategis dalam memberikan pengalaman dan menciptakan latar interaksi edukatif yang berbasis nilai-nilai dalam pembentukan karakter.

METODE

2.1 Peran Strategis Dunia Pendidikan dalam Mencerdaskan dan Penguatan Karakter

Telah disepakati di atas bahwa pendidikan merupakan satu-satunya alat yang digunakan manusia untuk memanusiakan manusia. Melalui pendidikan dipertaruhkan semua harapan besar itu. Oleh sebab itu, pendidikan dengan segala komponennya harus dapat disinergikan untuk merencanakan dan memfasilitasi pengalaman yang berarti kepada seluruh peserta didiknya melalui pembelajaran. Pendidik sebagai salah satu komponen pendidikan, harus mampu memfasilitasi peserta didiknya agar mampu bereksplorasi sehingga mereka akan kaya pengalaman yang berharga, sehingga dapat digunakan sebagai dasar dalam memecahkan permasalahan. Dalam proses pembelajaran, pendidik dapat mengintegrasikan aktifitas belajar yang dapat memenuhi pencapaian tujuan instruksional dan tujuan penanaman nilai-nilai karakter secara terintegrasi. Untuk itu dalam pembelajaran, pendidik tidak

hanya menuntut peserta didiknya hanya memberikan jawaban, akan tetapi perlu memfasilitasi mereka agar memiliki motivasi untuk memiliki keterampilan bertanya, mencoba, mencari sendiri jawaban, dan mampu mengkonstruksi pengetahuan/keterampilan, serta mengekspresikan jawabannya melalui kesempatan mengemukakan pendapatnya. Nilai-nilai karakter melalui pengalaman seperti ini mungkin tidak akan mereka peroleh dan mungkin sangat sulit untuk diperoleh di tempat lain. Untuk itulah peran pendidikan melalui peningkatan peran pendidik sangat dibutuhkan. Pendidik yang baik adalah mereka yang tidak hanya mampu menjadikan anak didiknya menjadi manusia cerdas, memiliki kompetensi, akan tetapi menjadikan anak didiknya memiliki karakter yang kuat. Inilah peran strategis pendidikan yang sering dilupakan dan diabaikan selama ini.

Sesuai kesepakatan yang telah disebut di atas pendidikan sebagai sarana mencerdaskan dan sekaligus membentuk karakter secara terintegrasi. Pendidik sebagai manajer pembelajaran harus memiliki kepekaaan terhadap permasalahan belajar. Mereka harus mampu memberikan solusi pembelajaran yang dapat dijadikan pengalaman yang bermanfaat bagi peserta didiknya. Pendidik harus mampu memberikan ruang untuk para peserta didiknya mendapat kesempatan mengaktualisasikan diri. Hal ini merupakan salah satu bentuk penanaman nilai kreatifitas. Bagaimana mungkin seseorang akan dapat menjadikan “singkong” menjadi makanan sehat yang bernilai ekonomi tinggi tanpa pernah memberikan kesempatan anak untuk mencoba pengetahuannya, keterampilannya, serta memberikan

(20)

9 kesempatan melatih dirinya untuk berkreasi. Latuconsina (2014:24) memberikan ilustrasi bahwa semua potensi yang ada di dalam dan di luar diri manusia tidak langsung menjadi prestasi sebelum ada aktualisasi. Aktualisasi dalam hal ini sangat berguna sebagai sarana pembentukan kreatifitas. Kreatifitas sangat diperlukan untuk menghasilkan sesuatu yang lebih bagus (inovatif). Sangat terlihat sekali bagaimana peran pendidikan dalam menumbuhkan kreatifitas. Melalui kreatifitas akan mampu melahirkan inovasi. Lebih lanjut dalam Latuconsina (2014:194), untuk mengatasi berbagai masalah terkait dengan rendahnya kreatifitas dalam pendidikan diperlukan creative teacher dan creative teaching yang mengandung makna guru yang mampu menjadi orang kreatif dalam hidupnya dan guru yang mampu memberikan layanan pembelajaran secara kreatif yang harus disinergikan secara seimbang untuk menghasilkan pembelajaran yang baik.

Inovasi bukan merupakan barang baru, kebanyakan dari produk, benda, alat, maupun jasa yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari dibuat oleh manusia adalah berasal dari kreatifitas yang mampu membuat sesuatu menjadi lebih bermanfaat, bernilai guna, dan bernilai ekonomis lebih dari produk, benda, atau jasa sebelumnya. Dalam hal ini peran dunia pendidikan kembali diperhitungkan. Pendidikan yang mampu mencerdaskan dan mampu membentuk karakter yang kuat dan tangguh dan selalu memiliki kemauan berusaha menjadi manusia kreatif.

Menyinggung tentang pendidikan, pendidikan kejuruan atau vokasi yang akhir-akhir ini oleh pemerintah sangat diperhatikan dan sangat diharapkan perannya dalam mengatasi permasalahan

ketenagakerjaan dan pengangguran. Pendidikan kejuruan/vokasional memiliki paradigma pendidikan yang berbeda dengan pendidikan pada umumnya. Pendidikan kejuruan dengan berbagai istilahnya, seperti yang dijelaskan oleh Hanafi (2014:3), bahwa pendidikan kejuruan mempunyai misi khusus, yaitu: pertama - mendorong peserta didik lebih berdaya saing dalam bidang pekerjaan, sehingga mereka dapat mencapai tujuan karir untuk kelayakan hidup, dan kedua - menjadikan pertumbuhan ekonomi suatu negara lebih kuat dalam persaingan internasional melalui peningkatan keterampilan pekerja dan produktivitasnya. Permasalahan yang terjadi justru lulusan pendidikan kejuruan masih dipertanyakan. Beberapa hasil penelitian di beberapa negara membandingkan antara lulusan pendidikan akademik dan vokasi memberikan gambaran bahwa pendidikan vokasi tidak lebih baik jika dibandingkan dengan pendidikan akademik (Hanafi, 2014:3-4).

Terkait permasalahan itu, pendidikan kejuruan di Indonesia perlu berbenah agar mampu mewujudkan harapan-harapan yang telah diwacanakan oleh pemerintah. Penguatan karakter melalui integrasi nilai-nilai karakter seperti yang telah dibahas di atas sangat perlu diintegrasikan kedalam aktifitas pembelajaran pada pendidikan kejuruan/vokasi. Internalisasi karakter dalam konteks ini tidak dalam bentuk mata pelajaran, tetapi sebagai dampak iringan (nurturant effect) dari pembelajaran yang dilakukan dengan mengaitkan dan memunculkan nilai-nilai karakter ke dalam aktifitas pembelajaran yang sejatinya dapat menyentuh pengembangan kemampuan pada ranah sikap dan psikomotornya (bukan hanya kognitifnya saja), melalui internalisasi, dan membuat aktifitas

(21)

10 pembelajaran yang kontekstual (mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari atau konteks senyatanya). Untuk itu, sangat dibutuhkan pendidik yang memiliki kompetensi dan kecerdasan, komitmen, dan budaya yang dapat mengakomodasi tujuan-tujuan pendidikan kejuruan/vokasi. LPTK (khususnya Fakultas Teknik dan Kejuruan) sangat berkepentingan terhadap hal tersebut. Oleh karena itu, perlu dilakukan kolaborasi antara pendidikan kejuruan/vokasi dengan LPTK di bawah naungan Fakultas Teknik dan Kejuruan.

Gagasan di atas menggambarkan bahwa dalam penguatan karakter perlu dilakukan internalisasi nilai-nilai karakter agar peserta didik memiliki konsep yang kuat tentang nilai-nilai yang dapat dimanfaatkan sebagai dasar berpikir dan bertindak. Selain pembelajaran di kelas, internalisasi nilai-nilai karakter dapat juga dilakukan di luar di kelas, seperti kegiatan ekstra kurikuler dan kegiatan-kegiatan tertentu yang dirancang khusus yang terkait dengan kegiatan sosial di lembaga pendidikan. Dalam kegiatan tersebut tentunya melibatkan seluruh civitas dan sebagai seorang pendidik harus mampu menampilkan diri sebagai contoh atau tauladan.

2.2 Keunggulan Berbasis Karakter Berdasarkan pembahasan di atas, menjadikan manusia unggul melalui pendidikan adalah suatu keniscayaan. Membentuk karakter merupakan hal yang sangat esensial namun tidak mudah untuk dilakukan. Karakter terbentuk melalui suatu proses yang berkelanjutan dan sudah barang tentu diikuti dengan komitmen yang kuat. Dalam perjalanan hidup manusia pembentukan karakter berlangsung dan melekat dengan segala keadaan dan kondisi

dimana manusia berada dan berproses. Ada beberapa sarana untuk penanaman pendidikan karakter, mulai dari keluarga, lingkungan sekolah, maupun masyarakat. Keluarga adalah tempat awal untuk pembentukan karakter yang kemudian dilanjutkan sekolah dan juga didukung oleh lingkungan masyarakat. Ketiganya saling berkaitan membentuk suatu hubungan yang sangat erat yang saling mendukung. Pembentukan karakter sebaiknya ditanamkan sejak dini karena itu akan terpatri dalam pribadi tiap individu. Setelah melewati masa pembentukan karakter di lingkungan keluarga, selanjutnya sekolah merupakan lembaga pendidikan yang memiliki peran yang sangat besar dalam pembentukan karakter. Hampir setiap anak menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah. Sehingga tidak disangkal lagi, sekolah/lembaga pendidikan formal dijadikan sarana dan wadah yang efektif untuk pembentukan karakter.

Kenyataan masih menunjukkan, pendidikan formal saat ini ditenggarai belum mampu menunjukkan perannya secara signifikan dalam pendidikan karakter. Dalam praktek pembelajaran, masih dijumpai praktek pembelajaran yang tidak menyentuh dan mengintegrasikan pembentukan karakter. Para pendidik masih menyelenggarakan pembelajaran sebatas mengajar yang masih berkisar pada tataran pemenuhan tujuan kognitif atau pengetahuan yang bersipat hafalan. Peserta didik tidak dikondisikan untuk melakukan aktifitas pembelajaran yang bermakna dalam menanamkan nilai-nilai membentuk karakter, mereka sangat kurang untuk diajak bereksplorasi, berkreasi, serta berargumen. Pembelajaran semacam ini sangat jauh dari harapan kita untuk membentuk generasi yang unggul.

(22)

11 Untuk itu perlu dirumuskan paradigma baru pendidikan dengan berbagai indikator yang secara langsung dapat dijadikan pedoman atau rumuskan untuk dapat diintegrasikan ke dalam pendidikan dan aktifitas pembelajaran. Pendidikan karakter bukan sesuatu yang diajarkan, akan tetapi seuatu yang dibentuk melalui kegiatan/aktifitas yang terintegrasi dengan pembelajaran. Dalam konteks global, Cheng (2005:19) merumuskan konsep baru dalam bentuk perubahan paradigma baru di bidang pendidikan dalam menghadapi tantangan di era milinea baru. Ada tiga konsep yang harus diinterasikan ke dalam reformulasi pendidikan. Pendidikan saat ini harus berubah menuju triplization paradigm in education yang dinyatakan dalam paradigma globalization, localization, dan individualization. Bahkan lebih lanjut dijelaskan, dalam paradigma baru tersebut perlu dikembangkan contextual multiple inteligensi (CMI) siswa, dan proses dari pada globalization, localization, dan

individualization dalam proses pendidikan sebagai inti kegiatan pembelajaran dalam rangka menciptakan generasi baru. Menciptakan generasi baru menurut Cheng, lebih lanjut dijelaskan adalah generasi yang mampu menjadi pemimpin dalam konteks teknologi, ekonomi, sosial, politik, dan budaya. Oleh Cheng disebut dengan contextual multiple intelligence (CMI) yang terdiri dari kecerdasan teknologi, kecerdasan ekonomi, kecerdasan sosial, kecerdasan politik, dan kecerdasan budaya, yang merupakan perspektif yang sangat mendasar yang harus dimiliki oleh lulusan pendidikan, dengan kata lain mereka para lulusan tidak hanya menguasai professional skill dan pengetahuan, tetapi juga memiliki kemampuan kecerdasan tingkat tinggi dan kreatifitas untuk mengembangan lebih lanjut dan inovasi (Cheng, 2005:19-22). Secara ringkas reformasi paradigma pendidikan yang diungkapkan di atas dapat dilihat dan diilustrasikan melalui Gambar 1 dan Tabel 1.

Gambar 1. Pentagon Theory of CMI Developmen for Education (dikutif dari Cheng 2015:22)

Learning Intelligence Technolo gical Econom ic Social Intelligen Political Intelligen Cultural Intelligen

(23)

12

Tabel 1. Contextualized Multiple Inteligences and Expected Outcomes Of Education

Human Nature in Social Contexts Contextualized Multiple Inteligences Definition of the Contextualized Multiple Inteligences Expected Outcomes of Education

• Technological Person • Technological Inteligence

• It refers to the ability to think, act anad manage technologically ana maximize the benefits of various types of technology

• A technologically intelegent teader and citizen who can contribute to the technological

development of the society

• Economic Person • Economic Inteligence • It refers to the ability to think, act and manage economically and to optimize the uses of various resources

• An economically intelligent leader leader and citizen who can contribute to the economic

development of the society

• Social Person Social Inteligence • It refers to the ability to think, act and manage

socially and to effectively develop harmonious interpersonal relationship • A socially intelegent leader and citizen who can contribute to

the social

development of the society

• Political Person • Political Inteligence • It refers to the ability to think, act , and manage politically and to enhance win-win outcomes in situasions of competing resources and interests • A politically intelligent leader and citizen who can contribute to the political

development of the society

• Cultural Person • Cultural Inteligence • It refers to the ability to think, act, and manage culturally, to optimize the use of multi-cultural assets and to create new values

• A cultural intelegent leader and citizen who can contribute to

the cultural

development of the society

• Learning Person • Learning Inteligence • It refers to the ability to

learn and think

creatively and critically and to optimize the use of

biological/physiological abilities

• A continuously earning leader and citizen who can contribute to the learning development of the society • Contextualized Multiple People • Contextualized Multiple Inteligences (CMI) • Ii refers to the comprehensive ability including technological, economic, social, political, cultural and learning intelegences as well as intelligence trenfer and creation

• A CMI leader and citizen who can creatively contribute to the technological, economic, social, political, cultural and learning developments of the society

(24)

13 Satu hal penting yang perlu dikedepankan dan harus dilakukan dalam pendidikan kita adalah bagaimana pentingnya melihat dan memanfaatkan peluang sebagai suatu proses kreatif. Steve Jobs (pendidiri perusahaan Apple) menyebutkan ada satu kata kunci yang sangat penting hubungannya dengan peluang. Kata kunci tersebut diistilahkan dengan connecting the dot, yang bermakna luar biasa yaitu menghubungkan berbagai titik untuk menemukan sesuatu yang sangat jitu. Inilah yang disebut dengan proses kreatif. Dari pengalaman-pengalaman hidup yang bermacam-macam kemudiaan dihubung-hubungkan melalui proses kreatif sampai berhasil menemukan sebuah produk (dalam Latuconsina, 2014:38).

Berbicara tentang bagaimana memanfaatkan peluang, maka dalam pendidikan perlu dimasukkan nilai-nilai yang merupakan ciri-ciri dari manusia yang sanggup menangkap peluang, seperti yang ditulis oleh Latuconsina (2014:39), yaitu:

1. Creative: bisa mengolah apa yang lama menjadi baru atau menemukan sesuatu yang baru.

2. Intuitive: punya ketajaman intuisi karena sering melihat ke dalam dirinya.

3. Communicative: punya kemampuan berkomunikasi dengan orang lain untuk memperluas jaringan kerja. 4. Self- motivated: punya dorongan

yang kuat untuk berubah kearah yang lebih baik.

5. Passion: punya gairah dan tekad yang kuat serta punya kecintaan terhadap apa yang dilakukan.

6. Talented: punya kecakapan menggunakan bakat yang dimiliki.

7. Initiative: kaya ide dan punya prakarsa.

8. Sense of responsibility: punya kesadaran bertanggungjawab yang lebih besar untuk memperbaiki diri. Dari beberapa pendapat dan pandangan di atas, guna mengemban tugas mulia dan amat berat ini, lembaga pendidikan secara terus menerus harus mampu merumuskan pemikiran-pemikiran kreatif yang mampu menjalankan tugas mulia tersebut untuk menciptakan sumber daya manusia yang cerdas dan unggul yang memiliki ciri seperti dirumuskan di atas. Pendidikan harus mampu mengarahkan pengembangan sumber daya manusia yang pandai memanfaatkan pengetahuan, keterampilan, sikap, yang berlandaskan nilai-nilai dan budaya untuk menjawab tantangan, serta mampu memanfaatkan peluang. Lembaga pendidikan harus mampu menumbuhkan kesadaran kepada peserta didiknya tentang tantangan, peluang yang sedang dan akan dihadapi serta bagaimana menjawabnya dengan keterampilan/ keahlian yang harus dimiliki.

2.3 Budaya Learning dan Literasi dalam Pendidikan Karakter

Dalam kaitannya dengan membangun keunggulan sumber daya manusia, salah satu hal prinsip yang harus dikedepankan oleh pendidikan adalah membangun budaya learning dan budaya literasi. Latuconsina (2014:132) menjelaskan, learning merupakan sumber kreativitas, hanya dengan learning manusia kemudian belajar untuk bisa berubah memperbaiki diri. Semua manusia pada dasarnya adalah makhluk pembelajar. Hal ini dibuktikan sebelum istilah pendidikan digunakan untuk merujuk pada pengembangan diri secara umum,

(25)

14 manusia telah menerapkan learning (pembelajaran). Semua konsep pendidikan yang dijalankan saat ini adalah satu bentuk dari upaya merealisasikan dan melembagakan proses pembelajaran. Pembelajaran yang dimaksud adalah proses yang ditempuh manusia untuk mengubah ketidakmampuannya (inability) menjadi bentuk kemampuan baru (new ability). Budaya belajar tidak boleh melemah. Lemahnya budaya belajar berarti melemahnya kreativitas.

Sejalan dengan penumbuhan budaya belajar dan literasi, saat ini di sekolah ada yang namanya Gerakan Literasi Sekolah. Gerakan ini diwujudkan dengan mewajibkan peserta didik membaca buku nonpelajaran selama 10-15 menit sebelum pembelajaran dimulai. Suatu gerakan luar biasa yang memiliki tujuan menumbuhkan budaya membaca dan menulis (literasi) di kalangan civitas sekolah. Gerakan ini diharapkan merangsang terjadinya peningkatan kemampuan memahami dan memanfaatkan informasi secara analitis, kritis, dan reflektif bagi semua warga sekolah (kepala sekolah, peserta didik, dan guru).

Dengan adanya gerakan literasi ini lembaga pendidikan memberikan kesempatan kepada seluruh civitasnya agar tumbuh budaya belajar dan literasi melalui penyediaan ruang, waktu, maupun fasilitas penunjang lainnya, sehingga menjadi aktivitas yang membudaya dan selanjutnya dapat menjadi jalan penghubung kearah pembentukan karakter dalam hal penumbuhan kemampuan berpikir kritis dan kemampuan kreatif. Sutrianto, dkk. (2016:2) menjelaskan Gerakan Literasi Sekolah (GLS), memandang literasi sebagai upaya penumbuhan budi pekerti yang menekankan pada kemampuan mengakses, memahami,

dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, seperti: menyimak, membaca, menulis, melihat, dan/atau berbicara. Syahriyani (2010:72) dalam penelitiannya menemukan bahwa budaya literasi merupakan kegiatan ilmiah yang perlu dioptimalkan. Akan tetapi semangat membangun budaya literasi belum berjalan secara optimal di kalangan mahasiswa. Sebaliknya, mahasiswa tengah mengalami kecenderungan delitenisme dan bahkan pendangkalan berpikir. Mereka hanya cukup tahu tema umum tanpa mengetahui detail-detail informasi yang masuk. Dengan melihat kenyataan seperti itu, dalam keadaan seperti ini, guru/dosen sebagai pendidik memiliki peran penting. Pendidik harus mengambil tindakan-tindakan nyata yang dapat mempengaruhi dan mengubah karakter anak didiknya. Tindakan tersebut seperti yang disarankan oleh Licona (2013:119-120), bahwa pendidik harus tetap melakukan tindakan-tindakan penanaman nilai-nilai karakter walaupun hasilnya belum tampak dan terlihat pasti, akan tetapi pendidikan/penanaman nilai-nilai harus tetap dilakukan dengan membangun hubungan antara pendidik-peserta didik. Hal ini mendasari sifat dari semua hal yang lainnya. Peserta didik akan merasa, guru/dosennya menghormati dan peduli mereka, kemungkinan besar mereka tidak akan bisa terbuka kepada apapun juga yang mungkin ingin diajarkan guru/dosennya, jika guru/dosennya tidak mempedulikannya. Guru itu adalah model bagi siswanya, banyak guru menjadi pembimbing yang hebat, walaupun tanpa disadari. Sama halnya dengan perkembangan intelektual, perkembangan moral/karakter memiliki kesamaan, Licona menyebut dengan istilah

(26)

15 sleeper effect; yaitu pengaruh campur tangan guru/dosen yang mungkin tidak akan terlihat sampai beberapa waktu kemudian.

SIMPULAN

Dalam upaya membangun sumber daya manusia unggul, pendidikan adalah satu-satunnya sarana yang dapat digunakan oleh manusia. Betapa pentingnya peran pendidikan dalam hal ini. Untuk itu pendidikan perlu mereformasi paradigma pendidikannya dengan berpedoman kepada visi kita dalam menghadapi perkembangan global, melalui berbagai strategi yang tentunya tidak hanya berpikir globalisasi, akan tetapi juga merujuk kepada perhatian kita tentang lokalisasi dan individualisasi. Perhatian pendidikan kita tidak hanya terkonsentrasi kepada globalisasi akan tetapi perlu memperkuat nilai-nilai budaya lokal sebagai basis pertahanan menghadapi globalisasi, dan juga memperkuat individu (sumber daya manusianya) dengan penguatan kecerdasan mereka yang multi untuk menghadapi semua permasalahan hidup.

Pendidikan sangat berperan penting dalam mewujudkan tujuan tersebut. Semua komponen pendidikan harus bersinergi menuju pencapaian tujuan. Pendidik sebagai komponen penting dan strategis dalam kaitannya membangun interaksi edukatif antar komponen pendidikan. Tanpa campur tangan pendidik yang kreatif hal ini tidak akan dapat tercapai dengan baik. Lembaga pendidikan (sekolah/ perguruan tinggi)

harus dapat membangun dan

mengembangkan akses yang seluas-luasnya sebagai tempat/ ruang bagi peserta didiknya mengaktualisasikan segala potensi-potensi kreatifnya.

DAFTAR RUJUKAN

Alfi Syahriyani, 2010. Optimalisasi Budaya Literasi di Kalangan Mahasiswa: Upaya Meretas Komunikasi Global. Jurnal UI Untuk Bangsa, Seri Sosial dan Humaniora, Volume 1, Desember 2010: h.72). Cheng, Yin Cheong, 2005. New Paradigm

for Re-engineering Education. Globalization, Localization, and Individualization. Netherlands: Springer

Hanafi, Ivan, 2014. Pendidikan Teknik dan Vokasional. Bandung: PT Refika Aditama.

Latuconsina, Hudaya, 2014. Pendidikan Kreatif Menuju Generasi Kreatif dan Kemajuan Ekonomi Kreatif di Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Licona, Thomas, 2013. Pendidikan Karakter Panduan Lengkap Mendidik Siswa Menjadi Pintar dan Baik. Terjemahan: Lita S. Bandung: Nusa Media.

Sutriantno, dkk, 2016. Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Menengah Atas. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Kementrian Pendidikan dan Kebudayan Republik Indonesia. Undang-undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional.

(27)

16

RANCANGAN CONTENT E-LEARNING PROBLEM BASED MATA

KULIAH DSK DI JURUSAN PTI UNDIKSHA

I Gede Partha Sindu1, A.A. Gede Yudhi Paramartha2

1Jurusan Pendidikan Teknik Informatika FTK UNDIKSHA); 2Jurusan Manajemen Informatika FTK UNDIKSHA

Email: [email protected]

ABSTRACT

The purpose of this research is to develop e-Learning content of basic computer system course (DSK) with problem based learning model and to describe expert content response, media expert, and design expert on e-Learning content of DSK course with problem based learning model. The method used in this research is the research and development, with development design that is using Dick & Carey Model and with the insertion of software development process using Waterfall Model. The results obtained in the form of product content e-Learning courses DSK with problem based learning model. Based on the results of expert test contents, media experts, and media design experts obtained product results e-Learning DSK courses worthy of use in Basic Computer Systems lectures.

Keywords: Basic computer systems, e-Learning , problem based learning

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan content e-Learning mata kuliah dasar sistem komputer (DSK) dengan model problem based learning serta mendeskripsikan tanggapan ahli isi, ahli media, dan ahli desain terhadap content e-Learning mata kuliah DSK dengan model pembelajaran berbasis masalah(Problem Based Learning).Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pengembangan (research and development), dengan desain pengembangan yaitu menggunakan Model Dick & Carey dan dengan penyisipan proses pengembangan perangkat lunak menggunakan Model Waterfall. Hasil yang diperoleh yaitu berupa produk konten e-Learning mata kuliah DSK dengan model problem based learning. Berdasarkan hasil uji ahli isi, ahli media, dan ahli desain media diperoleh hasil produk e-Learning mata kuliah DSKlayak digunakan dalam perkuliahan Dasar Sistem Komputer.

Kata kunci: dasar sistem komputer, e-Learning ,problem based learning

PENDAHULUAN

Kemampuan berpikir kreatif merupakan salah satu modal dasar yang harus dimiliki oleh peserta didik untuk menghadapi persaingan di era global. Pentingnya kemampuan berpikir kreatif untuk dikembangkan juga tercermin pada tujuan pendidikan nasional dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 3 yaitu untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Mahaesa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,

cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Kemampuan berpikir kreatif peserta didik dalam pembelajaran perlu dikembangkan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional dan menghadapi era globalisasi. Kemampuan berpikir kreatif membentuk peserta didik yang mampu mengungkapkan dan mengelaborasi gagasan orisinal untuk pemecahan masalah.

Menurut Santyasa (2011), salah satu lingkungan belajar yang mampu

(28)

17 mengakomodasi tumbuh kembangnya kemampuan pemecahan masalah bagi pebelajar adalah pembelajaran berbasis masalah (Problem-Based Learning/PBL). PBL merupakan model pembelajaran yang berlandaskan filosofi John Dewey, bahwa guru atau pembelajar seharusnya mendorong siswa atau pebelajar terlibat dalam tugas yang berorientasi masalah yang berkaitan dengan dunia pebelajar dan pebelajar harus aktif dalam kegiatan pembelajaran. PBL adalah model pembelajaran yang menjadikan masalah sebagai basis pembelajaran. Model pembelajaran berbasis masalah adalah suatu model pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata yang bersifat ill-structured sebagai suatu konteks bagi pebelajar untuk belajar tentang keterampilan berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang essensial dari materi pelajaran. Model problem-based learning merupakan salah satu alternatif pilihan pendekatan dalam pembelajaran yang relevan untuk saat ini. Model problem-based learning akan memberi wahana tumbuh dan berkembangnya keterampilan pemecahan masalah berdasarkan pola-pola penalaran yang rasional, analitis, sintetis, dan reflektif (Sadia, 2007). Seorang ahli bernama John Dewey mengungkapkan bahwa problem-based learning berakar pada prinsip “learning by doing and experiencing” (Akinoglu, 2007).

Pembelajaran berbasis masalah berusaha membantu siswa menjadi pembelajar yang mandiri dan otonom. Hal tersebut sejalan dengan paham konstruktivisme yang menganggap bahwa manusia hanya dapat

memahami melalui segala sesuatu yang dikonstruksinya sendiri. Bimbingan guru yang berulang-ulang, mendorong dan mengarahkan siswa untuk mengajukan pertanyaan, mencari penyelesaian terhadap masalah nyata (Nurhadi et al., 2004). E-Learning yang tersedia saat ini di UNDIKSHA menggunakan salah satu LMS (Learning Management System) Open Source yang sangat populer yaitu Moodle. Penggunaan e-Learning sangat mendukung dalam proses perkuliahan. Oleh karena itu, untuk mendukung mata kuliah Dasar Sistem Komputer, dengan bantuan media berupa pemanfaatan

teknologi informasi, maka

dikembangkanlah materi (content) Dasar Sistem Komputer dalam pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) dengan memanfaatkan Learning . Dengan adanya pemanfaatan e-Learning yang berkualitas, diharapkan mahasiswa yang biasanya pasif di kelas, dapat berperan lebih aktif nantinya dalam mengikuti proses pembelajaran.

Selain itu, dengan mengetahui pola belajar mahasiswa melalui media E-Learning yang disediakan, diharapkan dapat dijadikan acuan oleh dosen atau pengajar dalam membimbing mahasiswanya untuk dapat berkembang lebih baik lagi. Pada akhirnya, diharapkan dapat membangun mahasiswa yang berjiwa mandiri dan memungkinkan tumbuhnya kreativitas berpikir yang selanjutnya mempercepat terjadinya proses belajar mengajar.

METODE

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian

Gambar

Gambar 1.  Pentagon Theory of CMI Developmen for Education (dikutif dari Cheng 2015:22) Learning Intelligence Technological Economic Social IntelligenPolitical IntelligenCultural Intelligen
Tabel 1. Contextualized Multiple Inteligences and Expected Outcomes Of Education  Human Nature in Social
Gambar 1. Tahapan Pengembangan dengan  Model Dick and Carey
Gambar 3. Halaman Perkuliahan dengan sintaks Problem Based Learning  Halaman  perkuliahan  terdapat  daftar  istilah
+7

Referensi

Dokumen terkait

PENINGKATAN KEAKTIFAN DAN PRESTASI BELAJAR MAHASISWA PENDIDIKAN BIOLOGI UAD MELALUI MODEL BELAJAR PROBLEM BASED LEARNING PADA MATA KULIAH METODOLOGI PENELITIAN. Trianik

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan di atas, dapat disimpulkan bahwa implementasi Blended Learning pada mata kuliah Pembelajaran

Model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) adalah model yang melibatkan siswa untuk memecahkan masalah yang berorientasi pada kerangka kerja teoritis

Hasil dan pembahasan penelitian meliputi karakteristik lapisan tanah penutup, kesesuaian mata bor dengan karakteristik lapisan tanah penutup, kesesuaian mata bor dengan

vii PENGARUH MODEL PROBLEM-BASED LEARNING PBL BERBANTU AUTOGRAPH TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MATEMATIS SISWA DI SMA NEGERI 13 DEPOK Nandarika Darakonita, Ishaq Nuriadin &

Berdasarkan dari beberapa mahasiswa pendidikan kimia 2015 yang telah mengampuh mata kuliah Kimia Fisika dari hasil wawancara tidak langsung, diketahui bahwa mata kuliah Kimia Fisika

vii 48 ANALISIS KETERAMPILAN PROSES SAINS DAN SIKAP BERKARAKTER MAHASISWA PADA MATA KULIAH KEANEKARAGAMAN HEWAN DENGAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

Dari hasil analisis kebutuhan e-modul pembelajaran kimia pendekatan STEM mata kuliah kewirausahaan Pendidikan Kimia FKIP Universitas Sriwijaya topik peningkatan produktivitas telur ayam