• Tidak ada hasil yang ditemukan

Potensi Konsultan Perjalanan Wisata dan Pramuwisata dalam Upaya Pencegahan Masalah Kesehatan pada Wisatawan di Bali.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Potensi Konsultan Perjalanan Wisata dan Pramuwisata dalam Upaya Pencegahan Masalah Kesehatan pada Wisatawan di Bali."

Copied!
47
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN AKHIR PENELITIAN

HIBAH GRUP RISET UDAYANA

Potensi Konsultan Perjalanan Wisata dan Pramuwisata dalam Upaya

Pencegahan Masalah Kesehatan pada Wisatawan di Bali

Ketua Peneliti : dr. I Md. Ady Wirawan, MPH, PhD NIDN. 0028127705

Anggota Peneliti : Prof. dr. Dewa Nyoman Wirawan, MPH NIDN. 0010104802

Program Studi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat

Program Pascasarjana, Universitas Udayana

(2)
(3)

ii

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ...ii

DAFTAR TABEL ... iii

DAFTAR GAMBAR ... iii

RINGKASAN ... iv

ABSTRACT ... v

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 2

1.3. Tujuan Penelitian ... 2

1.4. Manfaat Penelitian ... 3

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 4

2.1. Usaha Pariwisata ... 4

2.2. Biro Perjalanan Wisata, Agen Perjalanan Wisata, dan Pramuwisata ... 4

2.3. Perjalanan Wisata ... 6

2.4. Peran Konsultan Perjalanan Wisata dalam Kesehatan Wisata ... 8

BAB 3 METODE PENELITIAN ... 11

3.1. Rancangan Penelitian ... 11

3.2. Populasi dan Sampel ... 11

3.3. Variabel Penelitian ... 12

3.4. Analisis Data ... 14

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN ... 15

4.1. Karakteristik Biro Perjalanan Wisata ... 15

4.2. Karakteristik Responden ... 15

4.3. Pengetahuan Mengenai Risiko Kesehatan pada Wisatawan ... 17

4.4. Pengalaman dalam Pemberian Informasi Kesehatan ... 18

4.5. Sumber Informasi ... 20

4.6. Persepsi terhadap Pelibatan dalam Upaya Kesehatan Wisata ... 21

BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN ... 24

5.1. Simpulan ... 24

5.2. Saran ... 24

DAFTAR PUSTAKA ... 25

(4)

iii

Lampiran 1. Persetujuan Sebelum Penjelasan dan Informed Consent ... 27

Lampiran 2. Kuisioner Penelitian ... 29

Lampiran 3. Panduan Pewawancara ... 33

Lampiran 4. Personalia Tenaga Peneliti ... 37

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Jumlah Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Indonesia dari Tahun 2009-2014 ... 7

Tabel 2 Karakteristik Biro Perjalanan Wisata ... 15

Tabel 3 Karakteristik Konsultan Perjalanan Wisata dan Pramuwisata ... 16

Tabel 4 Pengetahuan Responden Mengenai Risiko Kesehatan pada Wisatawan di Bali... 17

Tabel 5 Pengalaman Responden dalam Pemberian Informasi Kesehatan dan Risiko terkait Wisata ... 19

Tabel 6 Jenis Informasi yang Diharapkan oleh Responden ... 20

Tabel 7 Sumber Informasi yang Biasa dan Paling Sering Diakses Responden ... 20

Tabel 8 Persepsi Responden terhadap Pelibatan dalam Upaya Kesehatan Wisata ... 22

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Tren Linear Peningkatan Jumlah Wisatawan Mancanegara yang Datang ke Indonesia Berdasarkan Asal Wisatawan. ... 7

Gambar 2 Surveilans Geosentinel Penyakit pada Wisatawan yang Kembali Tahun 2007-2011 .. 9

Gambar 3 Perbandingan Tingkat Pengetahuan Antara Konsultan Perjalanan Wisata dengan Pramuwisata ... 18

(5)

iv

RINGKASAN

Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia, termasuk Bali, meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun. Tren peningkatan jumlah wisatawan ini juga diikuti oleh peningkatan morbiditas dan mortalitas terkait dengan perjalanan dan aktivitas wisata.

Konsultan perjalanan wisata seperti agen perjalanan wisata, dan staf di biro perjalanan wisata, serta pramuwisata merupakan kelompok profesional yang melakukan kontak dengan sebagian besar wisatawan. Mereka melakukan komunikasi terkait dengan persiapan perjalanan dan paket wisata yang ditawarkan, hingga tiba dan melakukan aktivitas wisata di tempat tujuan. Beberapa riset telah mengungkapkan bahwa kolaborasi antara sektor kesehatan dengan industri wisata memiliki peran yang besar dalam menurunkan angka morbiditas dan mortalitas penyakit atau kejadian yang tidak diinginkan yang terkait dengan wisata. Akan tetapi, belum ditemukan literatur dan publikasi ilmiah yang memuat informasi detail mengenai sejauh mana peran konsultan perjalanan wisata dan pramuwisata di daerah tujuan wisata. Penelitian ini dilaksanakan untuk menggali potensi mereka dalam upaya pencegahan penyakit atau masalah kesehatan yang terkait dengan wisata.

Penelitian survei cross-sectional telah dilakukan pada bulan Juli sampai dengan Oktober 2015 dengan melibatkan 500 responden yang bekerja atau memiliki afiliasi dengan 250 biro perjalanan wisata (BPW) yang dipilih secara acak sistematik dari daftar anggota ASITA Bali. Data penelitian dikumpulkan melalui wawancara tatap muka dengan menggunakan kuisioner oleh pewawancara yang sudah dilatih.

Hasil penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan responden terhadap isu-isu umum terkait kesehatan wisatawan di Bali baik, dengan mean persentase (SD) 67,1% (11,9%) pada konsultan perjalanan wisata dan 66,2% (10,0%) pada kelompok pramuwisata. Hampir separuh responden (47,5% untuk konsultan perjalanan wisata dan 48,7% untuk pramuwisata) belum/jarang menyampaikan informasi kesehatan dan upaya pencegahannya, tetapi sebagian besar responden selalu/sering menyampaikan risiko aktivitas wisata dan upaya pencegahannya. Pramuwisata cenderung lebih sering menyampaikan informasi kesehatan dibandingkan dengan konsultan perjalanan wisata (p=0,003). Sebagian besar (>68%) responden memiliki persepsi terhadap pelibatan dalam upaya kesehatan wisata yang sangat baik, dimana kelompok pramuwisata memiliki persepsi yang lebih baik dibandingkan kelompok konsultan perjalanan wisata (p=0,03).

(6)

v

ABSTRACT

The number of international travelers to Indonesia, including Bali, has increased significantly. This trend has been accompanied by the increase risks of travel-related health problems among travelers. Travel consultants and tour guides are in a key position to inform travelers about travel-related health problems. Many studies have highlighted that collaboration between health sectors and tourism industries has significant roles in reducing travel-related morbidity and mortality. However, to the best of our knowledge, there has been no evidence on the roles of tourism industries at destination countries. This paper aims to assess travel consultant and tour guide perceptions on their possible involvement in the travel health preventive measures in Bali.

A cross-sectional survey was conducted between July and October 2015, involving 500 respondents (250 travel consultants and 250 tour guides), who were chosen systematically from the list of Association of The Indonesian Tours and Travel Agency members in Bali. Data were collected using questionnaires by trained interviewers. Perception indicators were developed using social learning theory and health belief model concepts.

Both groups have a good level of knowledge on general health issues related to travelers in Bali, with mean percentage (SD) of 67.1% (11.9%) and 66.2% (10.0%) for travel consultant and tour guide, respectively; and there is no difference in the level of knowledge between the two groups (p=0.78). Previous experiences show that tour guides were more likely to give

information on health issues and activity-related risks to travelers (p=0.003). Both groups have good level of perception on the possible involvement in the travel health programs, although tour guides have statistically better perceptions (p=0.03)

(7)

1

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1.

Latar belakang

Jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang signifikan. Data BPS Indonesia (1) menunjukkan bahwa peningkatan jumlah wisatawan mancanegara meningkat secara linear dalam 5 tahun terakhir. Pada tahun 2014, jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia berkisar 9,5 juta orang, meningkat dari sekitar 7 juta wisatawan pada tahun 2010. Tren yang sama juga ditunjukkan oleh

wisatawan domestik, dengan jumlah wisatawan pada tahun 2014 lebih dari 87 juta orang, meningkat tajam dari sekitar 46 juta orang pada tahun 2010.(2) Tren ini juga terjadi di Bali sebagai salah satu tujuan wisata favorit dunia. Sekitar 26,2% wisatawan mancanegara yang ke Indonesia menjadikan Bali sebagai daerah tujuan utama mereka.(3)

Tren peningkatan jumlah wisatawan juga diikuti oleh peningkatan morbiditas dan mortalitas terkait dengan perjalanan dan aktivitas wisata.(4) Masalah lainnya ditunjukkan oleh berbagai studi yang menyatakan bahwa wisatawan umumnya tidak peduli dan memiliki persepsi yang tidak akurat mengenai bahaya atau hazard dan risiko terkait kesehatan yang ada di daerah tujuan wisata yang akan dikunjungi.(5)

Konsultan perjalanan wisata seperti agen perjalanan wisata dan staf di biro perjalanan wisata merupakan kelompok profesional yang melakukan kontak dengan sebagian besar wisatawan. Agen perjalanan wisata di negara asal dan agen serta biro perjalanan wisata di negara tujuan wisata melakukan komunikasi awal terkait dengan persiapan perjalanan dan paket wisata yang ditawarkan, hingga tiba dan melakukan aktivitas wisata di tempat tujuan.(6) Beberapa

penelitian telah mengungkapkan bahwa kolaborasi antara sektor kesehatan dengan industri wisata memiliki peran yang besar dalam menurunkan angka morbiditas dan mortalitas

penyakit atau kejadian yang tidak diinginkan yang terkait dengan wisata. Melibatkan konsultan perjalanan wisata dalam aktivitas promosi kesehatan merupakan salah satu upaya potensial yang dapat digunakan untuk mewujudkan tujuan menciptakan pariwisata yang sehat.(7) Beberapa publikasi ilmiah menunjukkan bahwa kontak antara wisatawan dengan agen perjalanan wisata memberikan peluang penerapan upaya-upaya promosi kesehatan yang terkait perjalanan wisata. Ivatts (8) dalam penelitiannya terhadap 145 agen perjalanan wisata di Western Australia, menemukan bahwa sekitar 56% travel agent menyatakan selalu

(8)

2 wisatawan. Hampir semua travel agent melakukan diskusi terkait asuransi perjalanan wisata, dan sekitar 52% bersedia untuk diikutkan lebih lanjut dalam upaya-upaya kesehatan wisata. Penelitian lain yang melibatkan 708 agen perjalanan wisata di Québec, Kanada, juga

mendapatkan bahwa sekitar 81% responden setuju jejaring antara sektor kesehatan

masyarakat dengan agen perjalanan wisata sangat penting dalam upaya pencegahan penyakit terkait wisatawan.(9)

Akan tetapi sangat sedikit bahkan belum ditemukan, literatur dan publikasi ilmiah yang

memuat informasi detail mengenai sejauh mana konsultan perjalanan wisata dan pramuwisata di daerah tujuan wisata bisa berperan dalam upaya kesehatan di daerah pariwisata. Oleh karena itu, penelitian ini dilaksanakan untuk dapat memberikan gambaran karakteristik konsultan perjalanan wisata dan pramuwisata di Bali dan bagaimana potensi mereka dalam upaya pencegahan penyakit atau masalah kesehatan yang terkait dengan wisata.

1.2.

Rumusan Masalah

Sebagai daerah tujuan wisata, penting untuk mengetahui sejauh mana peran konsultan perjalanan wisata dan pramuwisata dalam upaya pencegahan masalah kesehatan pada wisatawan, akan tetapi data yang terkait dengan hal ini belum ada. Beberapa permasalahan yang penting untuk dikaji terutama terkait dengan karakteristik konsultan perjalanan wisata dan pramuwisata di Bali, sejauh mana mereka mengetahui risiko kesehatan yang terkait wisata di Bali, sejauh mana mereka sudah memberikan informasi terkait risiko kesehatan yang ada, bagaimana persepsi mereka dalam hal pelibatan konsultan perjalanan wisata dan pramuwisata dalam menyampaikan informasi kesehatan terkait wisata, dan informasi apa yang mereka butuhkan untuk meningkatkan layanan kepada wisatawan khususnya dalam penyediaan informasi kesehatan.

1.3.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menggali persepsi konsultan perjalanan wisata dan pramuwisata di Bali dalam upaya pencegahan penyakit atau masalah kesehatan pada wisatawan.

Secara khusus, penelitian ini menilai:

Karakteristik konsultan perjalanan wisata dan pramuwisata di Bali

(9)

3 Informasi apa yang mereka butuhkan untuk meningkatkan layanan kepada wisatawan khususnya dalam penyediaan informasi kesehatan.

Bagaimana persepsi mereka dalam hal pelibatan konsultan perjalanan wisata dan pramuwisata dalam pencegahan masalah kesehatan terkait wisata

Apakah terdapat perbedaan persepsi antara konsultan perjalanan wisata dengan pramuwisata dalam hal upaya pelibatan mereka dalam upaya pencegahan masalah kesehatan terkait wisata

1.4.

Manfaat Penelitian

Dengan mengetahui karakteristik konsultan perjalanan wisata dan pramuwisata, serta sejauh mana persepsi mereka terkaitupaya pencegahan masalah kesehatan kepada wisatawan, maka dapat disusun upaya kolaborasi yang efektif yang melibatkan sektor kesehatan dan industri wisata terutama biro perjalanan wisata dalam upaya pencegahan permasalahan kesehatan pada wisatawan.

(10)

4

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Usaha Pariwisata

Secara umum industri wisata memiliki 3 komponen dasar, yaitu penyedia layanan wisata (suppliers of travel services), operator aktivitas wisata (tour operators), agen perjalanan wisata (retail travel agents). Yang termasuk dalam penyedia layanan wisata, misalnya penyedia layanan transportasi (udara, darat, laut), akomodasi (hotel, motel, penginapan), dan restoran. Operator aktivitas wisata umumnya ada dalam bentuk badan usaha yang menyediakan paket wisata, sedangkan agen perjalanan wisata (APW) adalah badan usaha yang melakukan promosi dan penjualan layanan yang disediakan oleh supplier dan operator.(10) Biro perjalanan wisata (BPW) dapat bertindak sebagai operator sekaligus juga agen perjalanan wisata, termasuk menyediakan jasa pramuwisata.

Menurut Peraturan Pemerintah no 67 tahun 1996 (11) tentang Penyelenggaraan

Kepariwisataan, usaha pariwisata digolongkan ke dalam usaha jasa pariwisata, pengusahaan objek daya tarik wisata, dan usaha sarana pariwisata. Usaha jasa pariwisata sendiri meliputi penyediaan jasa perencanaan, jasa pelayanan, dan jasa penyelenggaraan pariwisata. Jenis usaha jasa pariwisata dapat berupa usaha:

1. Jasa biro perjalanan wisata 2. Jasa agen perjalanan wisata 3. Jasa pramuwisata

4. Jasa konvensi, perjalanan insentif dan pameran 5. Jasa impresariat

6. Jasa konsultan pariwisata 7. Jasa informasi pariwisata

2.2.

Biro Perjalanan Wisata, Agen Perjalanan Wisata, dan Pramuwisata

Melihat komponen-komponen utama industri wisata, peran konsultan perjalanan wisata dapat dilaksanakan oleh biro perjalanan wisata, agen perjalanan wisata, dan pramuwisata. Menurut PP 67 tahun 1996, kegiatan usaha Biro Perjalanan Wisata (BPW) meliputi jasa (11):

(11)

5 2. Penyelenggaraan dan penjualan paket wisata dengan cara menyalurkan melalui Agen

Perjalanan Wisata dan atau menjualnya langsung kepada wisatawan atau konsumen 3. Penyediaan layanan pramuwisata yang berhubungan dengan paket wisata yang dijual 4. Penyediaan layanan angkutan wisata

5. Pemesanan akomodasi, restoran, tempat konvensi, dan tiket pertunjukan seni budaya serta kunjungan ke objek dan daya tarik wisata

6. Pengurusan dokumen perjalanan, berupa paspor dan visa atau dokumen lain yang dipersamakan

7. Penyelenggaraan perjalanan ibadah agama 8. Penyelenggaraan perjalanan insentif

Melihat ruang lingkup kegiatan usaha yang dijalankan, BPW merupakan badan usaha yang dapat memberikan berbagai informasi khususnya yang terkait dengan paket wisata dan informasi daerah tujuan wisata. Lebih lanjut, pemerintah mewajibkan BPW untuk memenuhi jenis dan kualitas komponen perjalanan wisata yang dikemas dan atau dijanjikan dalam paket wisata, memberikan pelayanan secara optimal bagi wisatawan yang melakukan pemesanan, pengurusan dokumen dan penyelenggaraan perjalanan, dan yang paling penting BPW bertanggungjawab atas keselamatan wisatawan yang melakukan perjalanan wisata berdasarkan paket wisata yang dijualnya. Aspek keselamatan yang dimaksud juga terkait dengan risiko kesehatan yang nantinya dapat dialami oleh wisatawan.

Sedangkan kegiatan usaha Agen Perjalanan Wisata (APW) meliputi (11):

1. Pemesanan tiket angkutan udara, laut, dan darat baik untuk tujuan dalam negeri maupun luar negeri

2. Perantara penjualan paket wisata yang dikemas oleh Biro Perjalanan Wisata

3. Pemesanan akomodasi, restoran dan tiket pertunjukan seni budaya, serta kunjungan ke objek dan daya tarik wisata

4. Pengurusan dokumen perjalanan berupa paspor dan visa atau dokumen lain yang dipersamakan.

Sebagai profesi yang berhubungan langsung saat aktivitas wisata dilaksanakan, tenaga pramuwisata juga memiliki peran yang cukup penting. Tenaga pramuwisata umumnya

(12)

6 persyaratan profesionalisme tenaga pramuwisata yang disediakan. Disamping itu, usaha jasa pramuwisata diwajibkan mempekerjakan tenaga pramuwisata yang telah memenuhi

persyaratan keterampilan yang berlaku dan secara terus menerus melakukan upaya peningkatan keterampilan tenaga pramuwisata yang bersangkutan. Dalam hal ini peluang untuk menyelipkan materi risiko kesehatan daerah wisata sangat terbuka.

2.3.

Perjalanan Wisata

Kegiatan perjalanan wisata dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu wisata domestik, wisata inbound, dan wisata outbound.(12) Aktivitas wisata domestik mencakup wilayah yang masih

berada pada satu negara. Sebagai contoh, perjalanan wisata yang dilakukan dari Maluku ke Bali, atau sebaliknya. Sebagai negara kepulauan, dengan karakteristik penyakit yang berbeda-beda antar satu wilayah di Indonesia, wisata domestik juga dapat menjadi faktor risiko penyebaran beberapa penyakit, khususnya malaria, dengue, tuberkulosis dan sejenisnya. Wisata inbound, terkait dengan aktivitas wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia. Wisata jenis ini memiliki karakteristik khusus terkait dengan risiko kesehatan yang mungkin dialami oleh wisatawan yang akan melakukan aktivitas di Indonesia. Tidak hanya itu, wisatawan mancanegara juga bisa membawa penyakit dari luar negeri untuk kemudian disebarkan pada penduduk lokal di Indonesia.

Wisata outbound, merupakan jenis wisata yang dilakukan oleh orang Indonesia ke luar negeri. Hampir sama dengan inbound tour, wisatawan Indonesia memiliki kerentanan tersendiri terdapat berbagai bahaya dan risiko kesehatan yang mungkin ada di tempat yang akan

dikunjungi. Demikian juga risiko wisatawan Indonesia untuk menularkan penyakit yang dibawa dari Indonesia ke tempat tujuan nantinya.

(13)

7 Tabel 1 Jumlah Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Indonesia dari Tahun 2009-2014

Asal 2009 2010 2011 2012 2013 2014

Amerika 229,824 258,584 297,061 312,209 333,150 358,707 Eropa 978,369 1,038,420 1,045,865 1,108,521 1,243,005 1,332,593

Afrika 28,375 27,200 31,640 41,583 51,298 56,503

Timur Tengah 122,069 144,661 175,885 148,788 188,676 195,518 Asean 2,772,684 3,052,285 3,284,664 3,375,291 3,581,420 3,751,074 Asia Pasifik 2,192,409 2,481,794 2,814,616 3,058,070 3,404,580 3,741,016 Total 6,323,730 7,002,944 7,649,731 8,044,462 8,802,129 9,435,411

Sumber: BPS (2015), diolah. (1)

Seperti disampaikan sebelumnya, tren peningkatan perjalanan wisata terutama wisata mancanegara terus terjadi. Mengingat tren linear yang ada maka, (1) jumlah wisatawan inbound yang akan datang ke Indonesia dan ke Bali pada khususnya akan terus meningkat

pada tahun-tahun mendatang.

Gambar 1 Tren Linear Peningkatan Jumlah Wisatawan Mancanegara yang Datang ke Indonesia Berdasarkan Asal Wisatawan.

Dengan dimulainya masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) pada tahun 2015 ini, maka jumlah kunjungan wisatawan khususnya yang berasal dari negara-negara anggota ASEAN akan

bertambah. Hal ini sangat penting mengingat meskipun karakteristik penyakit-penyakit negara anggota ASEAN sangat mirip, akan tetapi kerentanan penduduk antar negara berbeda, dan resistensi patogen terhadap pengobatan standar saat ini juga berbeda.

0 1.000.000 2.000.000 3.000.000 4.000.000 5.000.000 6.000.000 7.000.000 8.000.000 9.000.000 10.000.000

2009 2010 2011 2012 2013 2014

Amerika

Eropa

Afrika

Timur Tengah

Asean

Asia Pasifik

(14)

8

2.4.

Peran Konsultan Perjalanan Wisata dalam Kesehatan Wisata

Wisatawan merupakan kelompok populasi yang penting secara epidemiologi, karena memiliki mobilitas yang tinggi, cepat berpindah dari satu destinasi wisata ke destinasi lainnya.(14) Mereka memiliki potensi terpapar penyakit dan kejadian yang tidak diinginkan diluar tempat asal, sehingga terkadang kasus ringan jarang dilaporkan dan jarang mencari pengobatan. Melihat karakteristik ini, terdapat kemungkinan terjadinya impor penyakit ke tempat asal dan demikian juga sebaliknya, kemungkinan ekspor penyakit ke tempat tujuan juga ada. Hal ini akan meningkatkan risiko perubahan daerah non endemis menjadi endemis terhadap suatu penyakit.

Meskipun secara ekonomi peningkatan jumlah wisatawan mancanegara memiliki dampak positif, akan tetapi tren ini akan juga diikuti oleh peningkatan risiko kesehatan yang terkait. Dalam sebuah penelitian (15) didapatkan risiko kesehatan yang mungkin terjadi pada wisatawan adalah sebagai berikut. Dari setiap 100.000 wisatawan ke negara berkembang:

50.000 akan mengalami masalah kesehatan 8.000 akan memerlukan penanganan dokter 5.000 akan memerlukan istirahat di tempat tidur 1.100 akan tidak mampu beraktivitas rutin 300 akan memerlukan perawatan rumah sakit 50 akan memerlukan evakuasi udara

1 akan meninggal

(15)

9 Gambar 2 Surveilans Geosentinel Penyakit pada Wisatawan yang Kembali Tahun 2007-2011 Konsultan perjalanan wisata secara teoritis (10) dapat berperan banyak dalam upaya-upaya pencegahan permasalahan kesehatan pada wisatawan. Pertama adalah perannya dalam hal pemberian informasi perlu tidaknya sertifikat vaksinasi, yang terkait aspek legal dalam mengunjungi suatu wilayah. Sebagai contoh perlunya sertifikat vaksinasi meningitis untuk berkunjung ke daerah Saudi Arabia. Peran lainnya adalah dalam memberikan rekomendasi vaksinasi yang diperlukan untuk pencegahan penyakit-penyakit tertentu. Misalnya, saat terjadi wabah rabies di Bali, maka konsultan perjalanan wisata dapat menyampaikan pentingnya vaksinasi rabies pra-exposure kepada wisatawan sebelum berkunjung. Atau saat sudah berada di Bali, konsultan perjalanan wisata maupun pramuwisata dapat memberikan informasi apa yang mesti dilakukan jika tergigit atau tercakar binatang yang berpotensi menularkan rabies. Selain itu, upaya kemoprofilaksis juga bisa disampaikan kepada wisatawan yang berisiko tertular suatu penyakit, tetapi bisa dicegah dengan pemberian obat-obatan tertentu. Sebagai contoh, wisatawan yang akan berkunjung ke daerah Nusa Tenggara Barat, atau kawasan timur Indonesia lainnya, bisa disarankan untuk berkonsultasi ke petugas kesehatan untuk

mendapatkan obat pencegahan. Konsultan perjalanan wisata dan pramuwisata juga dapat dimanfaatkan dalam pemberian saran-saran terkait situasi kesehatan yang secara umum ada di suatu wilayah pada waktu-waktu tertentu. Pada saat kasus demam berdarah meningkat misalnya, konsultan perjalanan wisata dapat memberikan informasi mengenai upaya

(16)

10 perjalanan wisata dan pramuwisata, termasuk menyampaikan pentingnya asuransi perjalanan, informasi repatriasi dan kondisi layanan medis di darerah destinasi wisata.

Sebuah penelitian di Kanada (7) mendapatkan bahwa dengan melibatkan agen perjalanan wisata rujukan wisatawan yang berisiko ke klinik wisata untuk mendapatkan konseling pra-wisata meningkat secara bermakna. Penelitian ini menunjukkan bahwa 65% APW melaporkan terjadinya peningkatan wisatawan yang melakukan konseling (p=0,03). Pemilik atau manajer APW cenderung lebih sering melaporkan adanya peningkatan dari sebelum adanya inervensi oleh peneliti (OR = 7.25; 95% CI: 1.64–32.06). Peningkatan rujukan cenderung lebih tinggi dilakukan oleh APW yang sudah lama beroperasi, yang memiliki jam kerja lebih lama, dan yang memiliki riwayat merujuk sebelumnya.

Pada penelitian terhadap 145 APW di Western Australia (8) didapatkan bahwa 56% sudah memberikan informasi kesehatan secara umum kepada wisatawan yang akan berkunjung ke daerah berisiko terjadinya masalah kesehatan. Hampir semua APW sudah mendiskusikan asuransi perjalanan, tetapi sangat sedikit yang sudah mendiskusikan masalah kesehatan spesifik. Lebih dari 80% APW memiliki pengetahuan yang baik terutama mengenai yellow fever, malaria, dan keamanan pangan, akan tetapi sebagian besar memiliki pengetahuan yang

kurang mengenai demam berdarah dan altitude sickness, atau penyakit yang muncul pada lingkungan ketinggian.

Penelitian lain yang melibatlan 708 APW di Québec, Kanada, (9) menyatakan bahwa 81% responden yakin kalau APW dapat berperan penting dalam upaya pencegahan masalah kesehatan pada wisatawan. Peran yang paling penting bisa dilakukan menurut responden adalah dengan merujuk calon wisatawan untuk mendapatkan konseling pra-wisata di klinik-klinik wisata. Mayoritas APW mendapatkan informasi risiko kesehatan dari klinik-klinik-klinik-klinik wisata, namun demikian 40% responden berharap mendapatkan informasi lengkap dari departemen kesehatan setempat secara reguler, dan 28% lebih suka mencari informasi sendiri melalui Internet.

(17)

11

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1.

Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan rancangan survei cross-sectional. Survei dilakukan untuk mendapatkan data deskriptif, dan analisis cross-sectional dilakukan untuk membandingkan persepsi konsultan perjalanan wisata dengan pramuwisata.

3.2.

Populasi dan Sampel

Populasi Target : Konsultan perjalanan wisata dan pramuwisata di Bali

Populasi Terjangkau : Konsultan perjalanan wisata dan pramuwisata di Bali yang bekerja atau melakukan aktivitas usahanya melalui Biro Perjalanan Wisata yang menjadi anggota resmi ASITA (Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies), yang saat ini berjumlah 376 buah.

Sampel penelitian dihitung dengan menggunakan EpiInfo StatCalc, dengan besar populasi 376, tingkat kepercayaan 95%, expected frequency APW dan Pramuwisata yang memiliki persepsi baik 50%, dan deviasi hasil yang masih bisa diterima sebesar 5%, maka didapatkan hasil perhitungan adalah 190, ditambah dengan 10%, maka jumlah sampel minimal adalah sebesar 209 buah.

Mengingat konsultan perjalanan wisata dan pramuwisata sangat terkait dengan aktivitas biro perjalanan wisata, maka pada penelitian ini dipilih 250 BPW secara acak sistematik dari daftar anggota ASITA Bali. Kerangka sampel dibuat secara alfabetik dari data yang ada di laman: http://www.asitabali.org/asita_member.php

(18)

12

3.3.

Variabel Penelitian

Data dikumpulkan menggunakan kuisioner yang sebelumnya diujicobakan. Variabel-variabel penelitian yang digali beserta definisi operasional adalah sebagai berikut:

1. Karakteristik BPW, yang meliputi

Biro Perjalanan Wisata (BPW) adalah badan usaha yang menawarkan berbagai paket perjalanan wisata dan informasi daerah tujuan wisata, dan terdaftar sebagai anggota ASITA Bali.

Jenis perjalanan wisata yang dilayani. Data dikelompokkan menjadi 3 kelompok, yaitu inbound tour, outbound tour, dan wisata domestik.

Inbound tour : pelayanan wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia

Outbound tour: pelayanan wisatawan Indonesia yang berkunjung ke mancanegara

Wisata domestik: pelayanan wisatawan Indonesia yang berasal dari luar Bali

Lama menjalankan usaha. Dihitung dari mulai BPW didirikan sampai saat pengumpulan data, dinyatakan dalam tahun dan bulan.

Jumlah karyawan: Banyaknya karyawan yang dimiliki termasuk unsur pimpinan. Ada tidaknya kebijakan terkait kesehatan wisatawan

2. Karakteristik responden (konsultan perjalanan wisata dan pramuwisata)

Konsultan perjalanan wisata adalah karyawan yang memiliki tugas utama sebagai agen perjalanan wisata, menawarkan, memberikan informasi, dan melakukan komunikasi dengan wisatawan terkait paket wisata yang dimiliki oleh BPW.

Pramuwisata adalah individu yang memberikan panduan dan mendampingi wisatawan saat aktivitas yang ada di paket wisata yang dimiliki BPW dilaksanakan.

Umur. Dihitung dari tanggal lahir, atau usia saat ulang tahun terakhir, dinyatakan dalam tahun

Jenis kelamin. Sesuai dengan yang tertera di kartu identitas, dan konfirmasi saat wawancara

Riwayat pendidikan. Pendidikan formal tertinggi yang ditamatkan. Dikelompokkan menjadi: Tidak Sekolah, SD, SMP, SMA, PT

Riwayat pendidikan khusus: Lama pendidikan atau latihan khusus yang pernah diikuti terkait dengan pekerjaan sebagai konsultan perjalanan wisata atau pramuwisata. Dinyatakan dalam tahun dan bulan.

(19)

13 Pengalaman kerja. Lama menggeluti profesi, yang dihitung dari mulai menjalani profesi sampai saat wawancara dilakukan, dinyatakan dalam tahun dan bulan.

Waktu bekerja. Rata-rata lama bekerja dalam seminggu, dinyatakan dalam jam per minggu.

Posisi dalam perusahaan. Jabatan yang dimiliki dalam perusahaan, dikelompokkan sebagai: pemilik, manajer atau selevel, koordinator subunit atau selevel, staf pelaksana 3. Pengetahuan risiko kesehatan di Bali

Pengetahuan konsultan perjalanan wisata dan pramuwisata terhadap isu-isu penting terkait risiko kesehatan pada wisatawan yang ada di Bali, diukur menggunakan kuisioner. Isu-isu utama yang diukur terkait: rabies, demam berdarah, keamanan pangan (diare, oplosan), hazard/bahaya aktivitas wisata air dan wisata alam, penyakit kulit, dan penyakit menular seksual.

4. Pemberian informasi atau konsultasi kesehatan yang pernah dilaksanakan

Pernah tidaknya menyampaikan inromasi kesehatan yang terkait wisata selama ini, dan seberapa sering

5. Informasi yang diharapkan

Informasi yang diharapkan didapatkan oleh responden terkait kesehatan wisata Sumber infromasi yang paling sering di akses oleh responden

Sumber informasi kesehatan yang menurut responden paling diharapkan

6. Persepsi konsultan perjalanan wisata dan pramuwisata. Persepsi responden dalam hal pelibatan mereka dalam upaya pencegahan masalah kesehatan pada wisatawan. Diukur dengan menggunakan kuisioner, yang terdiri dari komponen-komponen utama yang dikembangkan berdasarkan konsep Social Learning Theory dan Health Belief Model, sebagai berikut:

Efikasi diri terkait pelibatan dalam upaya kesehatan wisata (self-efficacy)

Kekhawatiran yang dirasakan (perceived susceptibility) terhadap risiko kesehatan yang dialami oleh wisatawan, dan keparahan yang dapat ditimbulkan (perceived severity) Manfaat yang didapat bila terlibat (Expected benefits of involvement)

(20)

14

3.4.

Analisis Data

(21)

15

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.

Karakteristik Biro Perjalanan Wisata

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas (83,2%) Biro Perjalanan Wisata (BPW) memiliki karyawan kurang dari 25 orang.

Tabel 2 Karakteristik Biro Perjalanan Wisata

Karakteristik Statistik

Jumlah karyawan, median (IQR) 13 (12)

Jumlah karyawan, kategori (n,%)

< 25 208 (83,2%)

26 – 50 28 (11,2%)

51 – 75 5 (2,0%)

76 – 100 4 (1,6%)

> 100 5 (2,0%)

Kebijakan kesehatan (n,%)

Ada 107 (42,8%)

Tidak 143 (57,2%)

Jenis Kebijakan Kesehatan (n,%)

Informasi kesehatan sebelum tiba 39 (15,6%) Informasi kesehatan saat wisata 41 (16,4%) Prosedur rujukan ke pelayanan kesehatan 53 (21,2%)

Lainnya 39 (15,6%)

Tabel 2 juga menunjukkan bahwa hampir separuh (42,8%) dari BPW sedikit tidaknya sudah memiliki kebijakan yang terkait dengan kesehatan wisatawan, diantaranya informasi

kesehatan sebelum wisatawan tiba, informasi kesehatan saat melakukan aktivitas wisata, dan prosedur rujukan jika terjadi permasalahan kesehatan pada wisatawan. Hal ini menunjukkan bahwa masalah kesehatan pada wisatawan sudah menjadi perhatian bagi industri wisata dalam menjalankan operasi wisatanya.

4.2.

Karakteristik Responden

(22)

16 proporsi yang lebih banyak tingkat pendidikan di perguruan tinggi, sedangkan pramuwisata kebanyakan memiliki tingkat pendidikan SMA atau yang sederajat.

Tabel 3 Karakteristik Konsultan Perjalanan Wisata dan Pramuwisata

Karakteristik Statistik Total

Konsultan Wisata Pramuwisata

Jumlah Responden 250 250 500

Umur (tahun) (n) 248 248 496

mean (SD) 37 (10,3) 38 (10,2)

Jenis kelamin (n,%) 500

Wanita 95 (38,0 %) 41 (16,4%)

Pria 155 (62,0 %) 209 (83,6%)

Riwayat Pendidikan (n, %) 500

Tidak sekolah 0 0

SD 0 0

SMP 0 0

SMA 80 (32,0%) 161 (64,4%)

PT 170 (68,0%) 89 (35,6%)

Lama pelatihan terkait pekerjaan (bulan) (mean, SD)

8,4 (14,8) 7,4 (13,2) 500 Lama pelatihan terkait kesehatan wisatawan

(hari) (mean, SD)

10,0 (44,6) 5,9 (27,3) 500 Pengalaman kerja dalam tahun (bulan)

(median, Q1 – Q3)

10,0 (5.8 - 18) 10,1 (4 - 19) 494 Waktu kerja dalam seminggu (jam)

(mean, SD)

45,8 (6,8) 50,1 (12,35) 500

(23)

17

4.3.

Pengetahuan Mengenai Risiko Kesehatan pada Wisatawan

Pengetahuan responden mengenai risiko kesehatan yang secara umum ada di Bali dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4 Pengetahuan Responden Mengenai Risiko Kesehatan pada Wisatawan di Bali

Pengetahuan Responden Skor Tertinggi Konsultan Wisata Pramuwisata Pengetahuan tentang rabies

• mean (SD)

• % terhadap skor tertinggi

5,3 (1,3) 66,3%

5.3 (1,3) 66,3%

8

Pengetahuan tentang deman berdarah • Mean (SD)

• % terhadap skor tertinggi

2,8 (0,5) 92,3%

2,7 (0,5) 91,3%

3

Pengetahuan tentang keamanan pangan (diare)

• Mean (SD)

• % terhadap skor tertinggi

2,2 (0,6) 73,3%

2,1 (0,5) 70,0%

3

Pengetahuan tentang alkohol oplosan • mean (SD)

• % terhadap skor tertinggi

1.5 (0.9) 37,5%

1.5 (0.9) 37,5%

4

Pengetahuan tentang penyakit menular seksual

• mean (SD)

• % terhadap skor tertinggi

2,3 (0,6) 76,7%

2,3 (0,6) 76,7%

3

Pengetahuan secara keseluruhan • mean (SD)

• % terhadap skor tertinggi (SD)

14,1 (2,5) 67,1% (11,9%)

13,9 (2,1) 66,2% (10,0%)

21

Secara keseluruhan kedua kelompok responden memiliki pengetahuan yang baik terkait isu-isu kesehatan yang secara umum ada di Bali, dengan presentase kemampuan menjawab

pertanyaan sebesar 67,1% untuk konsultan perjalanan wisata dan 66,2% untuk kelompok pramuwisata. Akan tetapi, ada poin khusus dimana kedua kelompok hanya mampu menjawab sekitar 37,5%, yaitu pertanyaan mengenai bahaya dan pencegahan keracunan minuman beralkohol oplosan (methanol).

(24)

18 Uji Two-sample Wilcoxon rank-sum (Mann-Whitney) test, menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna untuk tingkat pengetahuan antara kedua kelompok ini (z = 0.275, Prob >|z| = 0.7836).

Gambar 3 Perbandingan Tingkat Pengetahuan Antara Konsultan Perjalanan Wisata dengan Pramuwisata

Sebagai pembanding, hasil penelitian pada 145 agen perjalanan wisata di Western Australia (8), menunjukkan lebih dari 80% responden memiliki pengetahuan yang baik terutama mengenai yellow fever, malaria, dan keamanan pangan, akan tetapi sebagian besar memiliki pengetahuan yang kurang mengenai pengetahuan spesifik daerah tujuan seperti demam berdarah dan altitude sickness, atau penyakit yang muncul pada lingkungan ketinggian.

4.4.

Pengalaman dalam Pemberian Informasi Kesehatan

(25)

19 Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan pramuwisata lebih sering menyampaikan informasi mengenai risiko kesehatan dan bahaya terkait aktivitas wisata yang ada di Bali, dan perbedaan ini bermakna secara statistik.

Tabel 5 Pengalaman Responden dalam Pemberian Informasi Kesehatan dan Risiko terkait Wisata

Pengalaman Konsultan wisata Pramuwisata Total p*

Apakah pernah menyampaikan informasi mengenai risiko kesehatan yang ada di Bali kepada wisatawan? (n,%)

Tidak, Jarang 135 (54,2%) 102 (40,8%) 237 (47,5%) 0,003 Sering, Selalu 144 (45,6%) 148 (59,2%) 262 (52,5%)

Apakah pernah memberikan saran upaya pencegahan

terhadappenyakit atau risiko kesehatan yang ada di Bali? (n,%)

Tidak, Jarang 132 (53,0%) 111(44,4%) 243 (48,7%) 0,05 Sering, Selalu 117 (46,9%) 139(55,6%) 256 (51,3%)

Pernahkah anda menyampaikan informasi mengenai bahaya suatu aktivitas wisata? (n,%)

Tidak, Jarang 79 (31,7%) 59 (23,6%) 138 (27,7%) 0,04

Sering, Selalu 170 (68,3%) 191 (76,4%) 361 (72,3%) Pernahkah anda memberikan saran upaya pencegahan

terhadap bahaya akibat aktivitas wisata yang ada di Bali? (n,%)

Tidak, Jarang 84 (33,7%) 71(28,4%) 155 (31,1%) 0,20

Sering, Selalu 165 (66,3%) 179 (71,6%) 344 (68,9%)

* Uji chi-squared

Perbedaan ini kemungkinan disebabkan karena kesempatan yang dimiliki atau waktu

komunikasi yang dihabiskan oleh pramuwisata dengan wisatawan lebih banyak dibandingkan dengan konsultan perjalanan wisata. Dari aktivitas yang dilakukan, pramuwisata lebih banyak menemani wisatawan di tempat wisata, sehingga lebih leluasa dalam menyampaiakn berbagai informasi termasuk mengenai risiko kesehatan dan bahaya dari suatu aktivitas wisata.

(26)

20

4.5.

Sumber Informasi

Pada penelitian ini, juga digali mengenai informasi apa yang diharapkan diperoleh oleh responden terkait dengan kesehatan dan keselamatan wisatawan. Lebih jauh juga digali sumber-sumber informasi yang sering diakses oleh responden, sebagaimana tercantum pada Tabel 6 dan Tabel 7.

Tabel 6 menunjukkan bahwa ada 3 jenis informasi utama yang diharapkan diperoleh oleh responden terkait dengan kesehatan dan keselamatan wisatawan, yaitu informasi mengenai penyakit yang sedang meningkat kasusnya di Bali, risiko terkait aktivitas wisata yang ada, dan upaya-upaya untuk pencegahan pada isu-isu tersebut.

Tabel 6 Jenis Informasi yang Diharapkan oleh Responden Jenis Informasi* Konsultan Wisata

(n=250)

Pramuwisata (n=250)

Total (n=500) Penyakit yang sedang

meningkat kasusnya 144 (34,8%) 126 (32,4%) 270 (33,6%)

Risiko terkait aktivitas wisata 126 (30,5%) 115 (29,6%) 241 (30,0%) Upaya pencegahan penyakit 104 (25,1%) 108 (27,8%) 212 (26,4%)

Lainnya 40 (9,6%) 40 (10,3%) 80 (10,0%)

* Jawaban bisa lebih dari satu

Tabel 7 Sumber Informasi yang Biasa dan Paling Sering Diakses Responden Sumber Informasi Konsultan Wisata Pramuwisata Total

Sumber informasi yang biasa diakses*

Televisi 182 (30,1%) 153 (27,4%) 335 (28,8%)

Koran 137 (11,8%) 137 (24,5%) 274 (23,6%)

Internet 197 (32,6%) 172 (30,8%) 369 (31,7%)

Radio 35 (5,8%) 40 (7,2%) 75 (6,4%)

Lainnya 53 (8,7%) 57 (10,1%) 110 (9,5%)

Sumber informasi yang paling sering diakses

Televisi 50 (20,0%) 62 (24,8%) 112 (22,4%)

Koran 25 (10,0%) 38 (15,2%) 63 (12,6%)

Internet 148 (59,2%) 113 (45,2%) 261 (52,2%)

Radio 4 (1,6%) 7 (2,8%) 11 (2,2%)

Lainnya 23 (9,2%) 30 (12,0%) 53 (10,6%)

(27)

21 Sumber informasi yang umumnya diakses oleh responden adalah televisi, koran, Internet, dan radio. Sedangkan sumber informasi yang paling sering diakses adalah Internet, baik oleh kelompok konsultan perjalanan wisata (59,2%), maupun oleh kelompok pramuwisata (45,2%). Perkembangan teknologi sangat berpengaruh pada kemudahan responden dapam mengkases informasi. Pada penelitian ini, proporsi responden yang menjadikan Internet sebagai sumber informasi utama (52,2%) jauh lebih tinggi dari hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan di Québec, Kanada. Pada penelitian tersebut, dari 708 agen perjalanan wisata yang disurvei, mayoritas mendapatkan informasi risiko kesehatan dari klinik-klinik wisata, dan 28% responden lebih suka mencari informasi sendiri melalui Internet.(9)

4.6.

Persepsi terhadap Pelibatan dalam Upaya Kesehatan Wisata

Tabel 8 menunjukkan persepsi responden terhadap kemungkinan pelibatan mereka dalam memberikan informasi mengenai risiko dan upaya pencegahan terkait kesehatan dan

keselamatan wisatawan. Secara umum skor 1 adalah untuk persepsi yang sangat kurang dan 4 adalah skor yang sangat baik, kecuali pada pernyataan negatif yang terdapat pada komponen pernyataan Hambatan yang ada untuk bisa terlibat (expected barriers to involvement) , interpretasi persepsi adalah sebaliknya. Pada analisi data, maka keseluruhan nilai akan dijumlahkan dikurangi dengan nilai yang terkait dengan pernyataan negatif tersebut diatas. Pada semua komponen persepsi yang dinilai, terlihat bahwa sebagian besar responden (>68%) memiliki pandangan yang positif terhadap pelibatan mereka dalam upaya kesehatan dan

kesela ata wisatawa . Pada ko po e terakhir ya g di ilai, yaitu Keinginan untuk terlibat (Intent to involve) , dapat dilihat ahwa 0, % respo de e iliki persepsi ya g aik (3 ,0% baik dan 32,6% sangat baik).

(28)

22 Tabel 8 Persepsi Responden terhadap Pelibatan dalam Upaya Kesehatan Wisata

Komponen Persepsi dan Pernyataan Skor Persepsi

1 2 3 4

Efikasi diri terkait pelibatan dalam upaya kesehatan wisata (self-efficacy) Saya bisa menyampaikan informasi risiko kesehatan,

sehingga klien saya tetap sehat selama wisata

15 (3,0%) 46 (9,2%) 171 (34,2%) 268 (53,6%) Saya merasa nyaman mendiskusikan risiko kesehatan

yang terkait dengan wisatawan dengan klien saya

19 (3,8%) 85 (17,0%) 182 (36,4%) 214 (42,8%) Kekhawatiran yang dirasakan (perceived susceptibility and severity)

Saya merasa khawatir dengan kesehatan dan keselamatan wisatawan yang menjadi klien saya

37 (7,4%) 44 (8,8%) 145 (29,0%) 274 (54,8%) Saya percaya, permasalahan kesehatan terkait

aktivitas wisata dapat memiliki dampak yang serius terhadap klien 15 (3,0%) 26 (5,2%) 136 (27,2%) 323 (64,6%) Manfaat yang didapat bila terlibat (expected benefits of involvement)

Saya percaya, klien yang tetap sehat selama wisata akan datang lagi atau ikut mempromosikan ke jaringannya. 8 (1,6%) 16 (3,2%) 87 (17,4%) 389 (77,8%) Menyampaikan risiko kesehatan dan pencegahannya

selama wisata memberi nilai tambah pada profesi saya

16 (3,2%) 49 (9,8%) 165 (33,0%) 270 (54,0%) Dengan menyampaikan risiko kesehatan yang ada,

risiko sakit terkait wisata pada klien saya berkurang.

30 (6,0%) 38 (7,6%) 191 (38,2%) 241 (48,2%) Hambatan yang ada untuk bisa terlibat (expected barriers to involvement)

Saya terlalu sibuk untuk memberikan informasi mengenai risiko kesehatan pada wisatawan

250 (50,0%) 162 (32,4%) 58 (11,6%) 30 (6,0%) Saya khawatir, kalau informasi risiko kesehatan

disampaikan, klien saya tidak akan ikut paket wisata yang ditawarkan 207 (41,4%) 139 (27,8%) 82 (16,4%) 72 (14,4%) Saya tidak tahu klien mana yang mesti saya berikan

penjelasan mengenai risiko kesehatan atau tidak

247 (49,4%) 136 (27,2%) 77 (15,4%) 40 (8,0%) Saya tidak tahu informasi kesehatan apa yang harus

saya sampaikan ke klien saya

235 (47,0%) 149 (29,8%) 82 (16,4%) 34 (6,8%) Norma subyektif terkait pelibatan industri wisata (Subjective norms)

Klien saya berharap agar saya juga menyampaikan informasi terkait risiko kesehatan

34 (6,8%) 120 (24,0%) 154 (30,8%) 192 (38,4%) Biro perjalanan wisata merupakan tempat yang tepat

untuk menyampaikan informasi kesehatan terkait wisata 40 (8,0%) 94 (18,8%) 168 (33,6%) 198 (39,6%) Menyampaikan informasi risiko kesehatan pada klien

merupakan bagian dari pekerjaan saya

60 (12,0%) 119 (23,0%) 167 (33,4%) 154 (30,8%) Keinginan untuk terlibat (Intent to involve)

Saya berkeinginan untuk terlibat dalam penyampaian informasi mengenai risiko kesehatan pada wisatawan

(29)

23 Perbandingan tingkat persepsi antara kelompok konsultan perjalanan wisata dengan kelompok pramuwisata dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar 4 Perbandingan Skor Persepsi antara Konsultan Perjalanan Wisata dengan Pramuwisata

(30)

24

BAB 5

SIMPULAN DAN SARAN

5.1.

Simpulan

• Tingkat pengetahuan responden terhadap isu-isu umum terkait kesehatan wisatawan di Bali baik, dengan mean persentase (SD) 67,1% (11,9%) pada konsultan perjalanan wisata dan 66,2% (10,0%) pada kelompok pramuwisata. Akan tetapi masih ada ruang untuk peningkatan pengetahuandalam beberapa isu spesifik, misalnya isu keracunan minuman berlakohol oplosan (methanol).

• Hampir separuh responden (47,5 %untuk konsultan perjalanan wisata dan 48,7% untuk pramuwisata) belum/jarang menyampaikan informasi kesehatan dan upaya

pencegahannya, tetapi sebagian besar responden selalu/sering menyampaikan risiko aktivitas wisata dan upaya pencegahannya. Pramuwisata cenderung lebih sering menyampaikan informasi kesehatan dibandingkan dengan konsultan perjalanan wisata (p=0,003).

• Sebagian besar (>68%) responden memiliki persepsi terhadap pelibatan dalam upaya kesehatan wisata yang sangatbaik, dimana kelompok pramuwisata memiliki persepsi yang lebih baik dibandingkan kelompok konsultan perjalanan wisata (p=0,03)

• Dengan melihat tingkat pengetahuan, pengalaman dalam penyampaian informasi kesehatan atau keselamatan, dan tingkat persepsi, dapat disimpulkan bahwa baik konsultan perjalanan wisata maupun pramuwisata memiliki potensi yang besar untuk dilibatkan dalam upaya yang terkait dengan kesehatan dan keselamatan wisatawan.

5.2.

Saran

Melihat potensi yang dimiliki sangat besar, maka baik pramuwisata maupun konsultan perjalanan wisata dapat dilibatkan dalam upaya-upaya kesehatan dan keselamatan wisatawan.

Untuk menjamin keberlangsungan, pembuatan jejaring informasi kesehatan wisata sangat diperlukan dengan melibatkan sektor kesehatan dan sektor wisata termasuk industri wisata seperti konsultan perjalanan wisata dan pramuwisata.
(31)

25

DAFTAR PUSTAKA

1. BPS Indonesia. Jumlah Kedatangan Wisatawan Mancanegara ke Indonesia Menurut Negara Tempat Tinggal, 2002-2014 [Internet]. Badan Pusat Statistik. 2015. Available from: http://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1388

2. BPS Indonesia. Jumlah Tamu Indonesia pada Hotel Bintang dan Non Bintang Menurut Provinsi Tahun 2003-2014 [Internet]. Badan Pusat Statistik. 2015. Available from: http://www.bps.go.id/index.php/Subjek/view/16#subjekViewTab3

3. BPS Indonesia. Statistik Transportasi 2013. Jakarta: Badan Pusat Statistik Indonesia; 2014.

4. A. Yung, T. Ruff, J.Torresi, K. Leder DO. Manual of Travel Medicine: a pre-travel guide for health care practitioners. 2nd ed. Melbourne: IP Communications; 2004.

5. Zuckerman JN. Principles and Practice of Travel Medicine. New York: John Wiley & Sons Ltd; 2001.

6. Provost S. Evaluation of a public health newsletter intended for travel agents. J Travel Med. 2003;

7. MacDougall LA, Gyorkos TW, Leffondré K, Abrahamowicz M, Tessier D, Ward BJ, et al. Increasing referral of at-risk travelers to travel health clinics: evaluation of a health promotion intervention targeted to travel agents. J Travel Med. 2001;8(5):232–42. 8. Ivatts SL, Plant AJ, Condon RJ. Travel Health: Perceptions and Practices of Travel

Consultants. J Travel Med. 1999 Jun;6(2):76–80.

9. Provost S, Gaulin C, Piquet-Gauthier B, Emmanuelli J, Venne S, Dion R, et al. Travel Agents and the Prevention of Health Problems among Travelers in Québec. J Travel Med. 2002 Jan 8;9(1):3–9.

10. Schiff AL. Travel Industry and Medical Professionals. In: DuPont HL, Steffen R, editors. Textbook of Travel Medicine and Health. 2nd ed. Hamilton, London: B.C Decker Inc.; 2001. p. 11–3.

11. Presiden Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah No 67 tahun 1996 tentang Penyelenggaraan Kepariwisataan.

12. Yoeti OA. Tours and Travel Marketing. Jakarta: Pradnya Paramita; 2003.

13. Pitana IG, Diarta IK. Pengantar Ilmu Pariwisata. Yogyakarta: Andi Publishing; 2009. 14. WHO. International Health Regulations 2005. 2nd ed. Geneva: World Health

(32)

26 15. Reid D, Keystone JS, Cossar JH. Health Risks Abroad: General Considerations. In: DuPont

HL, Steffen R, editors. Textbook of Travel Medicine and Health. 2nd ed. Hamilton, London: B.C Decker Inc.; 2001. p. 3–9.

(33)

27

LAMPIRAN

Lampiran 1. Persetujuan Sebelum Penjelasan dan Informed Consent

Penjelasan Sebelum Persetujuan

Judul Penelitian : Potensi Konsultan Perjalanan Wisata dan Pramuwisata dalam Upaya Pencegahan Masalah Kesehatan pada Wisatawan di Bali

Perkenalkan nama saya ..., saya adalah tim peneliti dari Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Pusat Unggulan Kesehatan Pariwisata, Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana.

Saya mendapatkan tugas untuk mengumpulkan data, melalui wawancara, kepada Bapak/Ibu selaku konsultan perjalanan wisata / pramuwisata.

Tujuan dari penelitian kami adalah untuk menggali persepsi, tanggapan atau sikap dari konsultan perjalanan wisata dan pramuwisata di Bali dalam upaya pencegahan penyakit atau masalah kesehatan pada wisatawan.

Penelitian ini merupakan salah satu kontribusi awal dari kami dalam upaya pengembangan sektor kepariwisataan di Bali, khususnya dalam bidang kesehatan.

Kami menjamin kerahasiaan identitas dan informasi yang Bapak/Ibu berikan, dan hanya akan menggunakan informasi tersebut untuk kepentingan penelitian saja.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai penelitian ini, Bapak/Ibu dapat menghubungi Ketua Tim Peneliti:

dr. I Made Ady Wirawan, MPH, Ph.D HP: 081239394465

Email: ady.wirawan@unud.ac.id

Demikian informasi yang bisa saya sampaikan, semoga Bapak/Ibu berkenan untuk diwawancarai.

Tim Peneliti,

(34)

28

INFORMED CONSENT

Pernyataan Pemberian Izin oleh Responden

Judul Penelitian : Potensi Konsultan Perjalanan Wisata dan Pramuwisata dalam Upaya Pencegahan Masalah Kesehatan pada Wisatawan di Bali

Ketua Peneliti : dr. I Made Ady Wirawan, MPH. Ph.D Pewawancara :______________________________ Responden :______________________________

Saya yang bertanda tangan di bawah ini, secara sukarela dan tidak ada unsur paksaan dari siapapun, bersedia berperan serta dalam penelitian ini.

Saya telah diminta dan telah menyetujui untuk diwawancara sebagai responden dalam penelitian mengenai peran konsultan perjalanan wisata dan pramuwisata dalam upaya kesehatan wisata di Bali.

Pewawancara telah menjelaskan tentang penelitian ini beserta dengan tujuan dan manfaat penelitiaannya. Dengan demikian, saya menyatakan kesediaan saya dan tidak berkeberatan memberi informasi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada saya. Saya mengerti bahwa identitas diri dan juga informasi yang saya berikan akan dijamin kerahasiaannya oleh peneliti dan hanya digunakan untuk tujuan penelitian saja.

Tempat :

Tanggal :

Responden : ______________________ (Nama) __________________(Tanda Tangan)

(35)

29

Lampiran 2. Kuisioner Penelitian

Potensi Konsultan Perjalanan Wisata dan Pramuwisata dalam Upaya Pencegahan Masalah Kesehatan pada Wisatawan di Bali

Isi dengan tanda rumput [ √ ] pada kotak yang tersedia atau dengan jawaban yang sesuai A. Karakteristik Biro Perjalanan Wisata

Pertanyaan ini ditujukan pada pihak manajemen atau langsung pada konsultan perjalanan wisata.

Untuk responden pramuwisata (data A dikosongkan)

A1. Nama Biro Perjalanan Wisata ... A2. Jenis perjalanan wisata yang terutama

dilayani

1. Inbound Tour 2. Outbound Tour 3. Wisata Domestik

A3. Lama menjalankan usaha Tahun Bulan

A4. Jumlah karyawan termasuk pimpinan Orang A5. Apakah biro ini memiliki kebijakan

khusus

yang terkait dengan kesehatan wisatawan?

1. Ya, ke A6. 2. Tidak, ke B1.

A6. Kalau ya, kebijakan dalam hal apa? Informasi kesehatan sebelum tiba

Sebutkan! Informasi kesehatan saat wisata

Prosedur rujukan ke pelayanan kesehatan Lainnya (sebutkan):___________________ ___________________________________ B. Karakteristik responden (konsultan perjalanan wisata atau pramuwisata)

B1. Status responden 1. Konsultan Perjalanan Wisata

2. Pramuwisata

B2. Umur Tahun

B3. Jenis kelamin 1. Wanita 2. Pria

B4. Riwayat pendidikan 1. TS 2. SD 3. SMP

4. SMA 5. PT

B5. Lama pelatihan khusus terkait pekerjaan Tahun Bulan B6. Lama pelatihan terkait kesehatan

wisatawan

Tahun Bulan

B7. Pengalaman kerja Tahun Bulan

(36)

30 C. Pengetahuan risiko kesehatan pada wisatawan di Bali dan upaya pencegahannya

Isi dengan tanda rumput [ √ ] untuk jawaban yang sesuai (bisa lebih dari satu)

C1. Apakah Anda pernah mendengar tentang Rabies (Anjing Gila) ?

0. Tidak 1. Ya

C2. Hewan apa saja yang ada di kawasan wisata di Bali yang sering menularkan Rabies?

2. Anjing 1. Kera 0. Tidak tahu

C3. Kalau ada wisatawan yang tergigit atau tercakar oleh binatang seperti anjing atau kera, apa yang disarankan?

2. Cuci luka dengan air dan sabun 1. Mencari pertolongan medis 1. Vaksinasi Rabies

0. Tidak tahu C4. Apakah Anda pernah mendengar tentang demam

berdarah (DB, Dengue)?

0. Tidak 1. Ya

C5. Apa yang menularkan penyakit demam berdarah ini? 1. Nyamuk 0. Tidak tahu C6. Untuk pencegahan demam berdarah, apa yang bisa

dilakukan saat berada diluar ruangan?

1. Menggunakan repellent 0. Tidak tahu

C7. Apa yang bisa menyebabkan wisatawan mengalami diare?

1. Makanan/minuman yang tidak bersih atau higienis

0. Tidak tahu C8. Apa yang sebaiknya dilakukan wisatawan agar tidak

terkena diare?

1. Rajin mencuci tangan

1. Tidak makan/minum di tempat sembarangan

0. Tidak tahu C9. Apakah Anda pernah mendengar ada wisatawan yang

keracunan minuman oplosan (Methanol)?

0. Tidak 1. Pernah C10. Apa saran yang bisa diberikan pada wisatawan agar

tidak mengalami keracunan minuman oplosan?

1. Tidak minum arak

1. Minum minuman keras yang resmi

1. Hindari minuman campuran/ cocktail di Bar

0. Tidak tahu C11. Apa saja bahaya bagi wisatawan yang melakukan

hubungan seksual dengan wanita/pria penjaja seks

1. Terkena penyakit kelamin atau penyakit menular seksual

0. Tidak tahu C12. Apa saja upaya pencegahan, agar wisatawan tidak

terkena penyakit yang menular akibat hubungan seksual

(37)

31 D. Pemberian informasi atau konsultasi kesehatan yang pernah dilaksanakan

Isi dengan tanda rumput [ √ ] untuk satu jawaban yang paling sesuai

D1. Pernahkah Anda menyampaikan informasi mengenai risiko kesehatan yang ada di Bali kepada wisatawan?

0. Tidak 1. Jarang

2. Sering 3. Selalu (Probing: Seberapa sering?)

D2. Pernahkah Anda memberikan saran upaya pencegahan terhadap penyakit atau risiko kesehatan yang ada di Bali? (Probing: Seberapa sering?)

0. Tidak 1. Jarang

2. Sering 3. Selalu

D3. Pernahkah Anda menyampaikan informasi mengenai bahaya suatu aktivitas wisata?

0. Tidak 1. Jarang

2. Sering 3. Selalu (Probing: Seberapa sering?)

D4. Pernahkah anda memberikan saran upaya pencegahan terhadap bahaya akibat aktivitas wisata yang ada di Bali? (Probing: Seberapa sering?)

0. Tidak 1. Jarang

2. Sering 3. Selalu

E. Informasi yang diharapkan dan sumber informasi

Isi dengan tanda rumput [ √ ] untuk jawaban yang sesuai (bisa lebih dari satu), atau tuliskan jawaban yang tidak tersedia pilihannya

E1. Informasi apa saja yang Anda perlu tahu terkait dengan kesehatan wisatawan

Penyakit yang sedang meningkat kasusnya

Risiko terkait aktivitas wisata Upaya pencegahan penyakit Lainnya, sebutkan:

E2. Darimana biasanya Anda mendapatkan berbagai informasi?

Televisi Koran

Internet Radio

Lain-lain, sebutkan:

E3. Dari semua sumber tersebut, dari mana paling sering mendapatkan atau mencari informasi?

Televisi Koran

Internet Radio

Lainnya: ___________________ E4. Apakah Anda bersedia jika diikutkan dalam

program-program terkait pencegahan penyakit pada wisatawan?

(38)

32 F. Persepsi terhadap pelibatan dalam upaya kesehatan wisata

Lembar ini diisi sendiri oleh responden atau dengan bantuan pewawancara (Lihat Pedoman Pewawancara)

Untuk pernyataan-pernyataan berikut, berikan nilai (lingkari atau silang) seberapa besar Anda setuju dengan pernyataan tersebut. Nilai 1 adalah paling rendah, dan nilai 4 adalah paling tinggi

F1. Saya bisa menyampaikan informasi risiko kesehatan, sehingga klien saya tetap sehat selama wisata

1 2 3 4 F2. Saya merasa nyaman mendiskusikan risiko kesehatan yang terkait

dengan wisatawan dengan klien saya

1 2 3 4 F3. Saya merasa khawatir dengan kesehatan dan keselamatan wisatawan

yang menjadi klien saya?

1 2 3 4 F4. Saya percaya, permasalahan kesehatan terkait aktivitas wisata dapat

memiliki dampak yang serius terhadap klien

1 2 3 4 F5. Saya percaya, klien yang tetap sehat selama wisata akan datang lagi atau

ikut mempromosikan ke jaringannya

1 2 3 4 F6. Menyampaikan risiko kesehatan dan pencegahannya selama wisata

memberi nilai tambah pada profesi saya

1 2 3 4 F7. Dengan menyampaikan risiko kesehatan yang ada, risiko sakit terkait

wisata pada klien saya berkurang

1 2 3 4 F8. Saya terlalu sibuk untuk memberikan informasi mengenai risiko

kesehatan pada wisatawan

1 2 3 4 F9. Saya khawatir, kalau informasi risiko kesehatan disampaikan, klien saya

tidak akan ikut paket wisata yang ditawarkan

1 2 3 4 F10. Saya tidak tahu klien mana yang mesti saya berikan penjelasan mengenai

risiko kesehatan atau tidak

1 2 3 4 F11. Saya tidak tahu informasi kesehatan apa yang harus saya sampaikan ke

klien saya

1 2 3 4 F12. Klien saya berharap agar saya juga menyampaikan informasi terkait

risiko kesehatan

1 2 3 4 F13. Biro perjalanan wisata merupakan tempat yang tepat untuk

menyampaikan informasi kesehatan terkait wisata

1 2 3 4 F14. Menyampaikan informasi risiko kesehatan pada klien merupakan bagian

dari pekerjaan saya

1 2 3 4 F15. Saya berkeinginan untuk terlibat dalam penyampaian informasi

mengenai risiko kesehatan pada wisatawan

1 2 3 4

(39)

33

Lampiran 3. Panduan Pewawancara

Potensi Konsultan Perjalanan Wisata dan Pramuwisata dalam Upaya Pencegahan Masalah Kesehatan pada Wisatawan di Bali

A. Karakteristik Biro Perjalanan Wisata

Pertanyaan ini ditujukan pada pihak manajemen atau langsung pada konsultan perjalanan wisata.

Untuk responden pramuwisata (data A dikosongkan)

A1: Biro Perjalanan Wisata (BPW) adalah badan usaha yang menawarkan berbagai paket perjalanan wisata dan informasi daerah tujuan wisata, dan terdaftar sebagai anggota ASITA Bali.

A2: Pilih layanan BPW yang paling utama (dominan) dilakukan

Inbound tour: pelayanan wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia Outbound tour: pelayanan wisatawan Indonesia yang berkunjung ke mancanegara Wisata domestik: pelayanan wisatawan Indonesia yang berasal dari luar Bali A3: Lama menjalankan usaha.: Dihitung dari mulai BPW didirikan sampai saat pengumpulan data, dinyatakan dalam tahun dan bulan.

A4: Jumlah karyawan: Banyaknya karyawan yang dimiliki termasuk unsur pimpinan.

A5 dan A6: Kebijakan khusus terkait kesehatan wisata, sesuai pengelompokkan pada pilihan di A6, kalau tidak ada ditulis pada tempat yang disediakan

B. Karakteristik responden (konsultan perjalanan wisata atau pramuwisata)

B1: Konsultan perjalanan wisata adalah karyawan yang memiliki tugas utama sebagai agen perjalanan wisata, menawarkan, memberikan informasi, dan melakukan komunikasi dengan wisatawan terkait paket wisata yang dimiliki oleh BPW.

Pramuwisata adalah individu yang memberikan panduan dan mendampingi wisatawan saat aktivitas yang ada di paket wisata yang dimiliki BPW dilaksanakan. Pada penelitian ini yang dipilih adalah pramuwisata yang dimiliki oleh BPW, atau yang memiliki afiliasi atau kerjasama baik langsung maupun tak langsung dengan BPW

B2: Umur: dihitung dari tanggal lahir, atau usia saat ulang tahun terakhir, dinyatakan dalam tahun

B3: Jenis Kelamin: sesuai dengan data di kartu identitas, atau konfirmasi saat wawancara B4: Riwayat pendidikan: pendidikan formal tertinggi yang ditamatkan. Dikelompokkan menjadi: Tidak Sekolah (TS), SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi (PT)

(40)

34 B6: Riwayat pelatihan kesehatan wisata: pernah atau tidak mendapatkan pelatihan terkait penyampaian informasi kesehatan terkait wisata, dinyatakan dalam tahun dan bulan.

B7: Pengalaman kerja. Dihitung dari mulai menjalani profesi sampai saat wawancara dilakukan, dinyatakan dalam tahun dan bulan.

B8: Waktu bekerja. Rata-rata lama bekerja dalam seminggu, dinyatakan dalam jam per minggu. C. Pengetahuan risiko kesehatan pada wisatawan di Bali dan upaya pencegahannya

Isi dengan tanda rumput [ √ ] untuk jawaban yang sesuai (jawaban bisa lebih dari satu) Pengetahuan konsultan perjalanan wisata dan pramuwisata terhadap isu-isu umum terkait risiko kesehatan pada wisatawan yang ada di Bali, diukur menggunakan kuisioner. Isu-isu utama yang diukur terkait: rabies, demam berdarah, keamanan pangan (diare, oplosan), dan penyakit menular seksual.

Pertanyaan ditanyakan oleh pewawancara secara terbuka. Jawaban dikelompokkan oleh pewawancara sesuai dengan pilihan yang ada pada kuisioner. Jika responden memberikan jawaban yang ada diluar pilihan, maka dianggap tidak tahu.

D. Pemberian informasi atau konsultasi kesehatan yang pernah dilaksanakan

Isi dengan tanda rumput [ √ ] untuk SATU jawaban yang paling sesuai

Pertanyaan diawali dengan menanyakan pernah tidaknya menyampaikan informasi kesehatan yang terkait wisata selama ini, dan jika iya, digali lebih dalam seberapa sering.

Sebagai estimasi untuk menentukan pilihan, kurang dari 50% dianggap jarang, dan lebih dari 50% dianggap sering.

Tidak pernah dan selalu, definisinya jelas.

E. Informasi yang diharapkan dan sumber informasi

Isi dengan tanda rumput [ √ ] untuk jawaban yang sesuai (bisa lebih dari satu), atau tuliskan jawaban yang tidak tersedia pilihannya pada tempat yang disediakan

Pertanyaan ditanyakan oleh pewawancara secara terbuka. Jawaban dikelompokkan oleh pewawancara sesuai dengan pilihan yang ada pada kuisioner. Jika responden memberikan jawaban yang ada diluar pilihan, maka jawaban ditulis pada tempat yang disediakan.

F. Persepsi terhadap pelibatan dalam upaya kesehatan wisata

Lembar ini diisi sendiri oleh responden atau dengan bantuan pewawancara

Untuk pernyataan-pernyataan yang ada, berikan nilai (lingkari atau silang) seberapa besar responden setuju dengan pernyataan tersebut.

Nilai 1 adalah paling rendah, dan nilai 4 adalah paling tinggi

(41)

komponen-35 komponen utama yang dikembangkan berdasarkan konsep Social Learning Theory dan Health Belief Model.

Berikut adalah pernyataan-pernyataan yang harus diisi oleh responden sendiri (self-administred), beserta alternatif pertanyaan jika ditanyakan langsung oleh pewawancara:

No Self-administered Kuisioner Pertanyaan alternatif jika ditanyakan langsung

Efikasi diri terkait pelibatan dalam upaya kesehatan wisata (self-efficacy) F1 Saya bisa menyampaikan informasi risiko

kesehatan, sehingga klien saya tetap sehat selama wisata

Seberapa besar Anda yakin bisa memberikan informasi mengenai risiko kesehatan agar kliennya tetap sehat? Kalau diberikan nilai dari 1-4, berapa nilainya?

F2 Saya merasa nyaman mendiskusikan risiko kesehatan yang terkait dengan wisatawan dengan klien saya

Seberapa besar Anda merasa nyaman untuk mendiskusikan risiko kesehatan yang terkait dengan wisatawan?

Kalau diberikan nilai dari 1-4, berapa nilainya?

Kekhawatiran yang dirasakan (perceived susceptibility) F3 Saya merasa khawatir dengan kesehatan

dan keselamatan wisatawan yang menjadi klien saya?

Seberapa besar Anda merasa khawatir dengan kesehatan dan keselamatan wisatawan yang menjadi klien Anda? Kalau diberikan nilai dari 1-4, berapa nilainya?

Keparahan yang dapat ditimbulkan (perceived severity) F4 Saya percaya, permasalahan kesehatan

terkait aktivitas wisata dapat memiliki dampak yang serius terhadap klien

Seberapa besar Anda percaya,

permasalahan kesehatan terkait aktivitas wisata dapat memiliki dampak yang serius terhadap klien? Kalau diberikan nilai dari 1-4, berapa nilainya?

Manfaat yang didapat bila terlibat (expected benefits of involvement) F5 Saya percaya, klien yang tetap sehat

selama wisata akan datang lagi atau ikut mempromosikan ke jaringannya

Seberapa besar Anda percaya, klien yang tetap sehat selama wisata akan datang lagi atau ikut mempromosikan ke jaringannya? Kalau diberikan nilai dari 1-4, berapa nilainya?

F6 Menyampaikan risiko kesehatan dan pencegahannya selama wisata memberi nilai tambah pada profesi saya

Seberapa besar Anda setuju bahwa menyampaikan risiko kesehatan dan pencegahannya selama wisata memberi nilai tambah pada profesi Anda? Kalau diberikan nilai dari 1-4, berapa nilainya?

F7 Dengan menyampaikan risiko kesehatan yang ada, risiko sakit terkait wisata pada klien saya berkurang

Seberapa besar Anda setuju bahwa dengan menyampaikan risiko kesehatan yang ada, risiko sakit terkait wisata pada klien Anda berkurang?

(42)

36 Hambatan yang ada untuk bisa terlibat (expected barriers to involvement)

F8 Saya terlalu sibuk untuk memberikan informasi mengenai risiko kesehatan pada wisatawan

Apakah anda merasa terlalu sibuk untuk memberikan informasi mengenai risiko kesehatan pada wisatawan?

Kalau diberikan nilai dari 1-4, berapa nilainya?

F9 Saya khawatir, kalau informasi risiko kesehatan disampaikan, klien saya tidak akan ikut paket wisata yang ditawarkan

Seberapa besar Anda merasa khawatir, kalau informasi risiko kesehatan disampaikan, klien Anda tidak akan ikut paket wisata yang ditawarkan?

Kalau diberikan nilai dari 1-4, berapa nilainya?

F10 Saya tidak tahu klien mana yang mesti saya berikan penjelasan mengenai risiko kesehatan

Seberapa besar Anda merasa tidak tahu klien mana yang mesti diberikan penjelasan mengenai risiko kesehatan?

Kalau diberikan nilai dari 1-4, berapa nilainya?

F11 Saya tidak tahu informasi kesehatan apa yang harus saya sampaikan ke klien saya

Seberapa besar Anda merasa tidak tahu informasi kesehatan apa yang harus disampaikan ke klien Anda?

Kalau diberikan nilai dari 1-4, berapa nilainya?

Norma subyektif terkait pelibatan industri wisata (Subjective norms) F12 Klien saya berharap agar saya juga

menyampaikan informasi terkait risiko kesehatan

Seberapa besar Anda yakin klien berharap agar Anda juga menyampaikan informasi terkait risiko kesehatan?

Kalau diberikan nilai dari 1-4, berapa nilainya?

F13 Biro perjalanan wisata merupakan tempat yang tepat untuk menyampaikan

informasi kesehatan terkait wisata

Seberapa besar Anda setuju bahwa Biro perjalanan wisata merupakan tempat yang tepat untuk menyampaikan informasi kesehatan terkait wisata?

Kalau diberikan nilai dari 1-4, berapa nilainya?

F14 Menyampaikan informasi risiko

kesehatan pada klien merupakan bagian dari pekerjaan saya

Seberapa besar Anda setuju bahwa menyampaikan informasi risiko kesehatan pada klien merupakan bagian dari

pekerjaan Anda?

Kalau diberikan nilai dari 1-4, berapa nilainya?

Keinginan untuk terlibat (Intent to involve) F15 Saya berkeinginan untuk terlibat dalam

penyampaian informasi mengenai risiko kesehatan pada wisatawan

Seberapa besar Anda berkeinginan untuk terlibat dalam penyampaian informasi mengenai risiko kesehatan pada wisatawan?

(43)

37

Lampiran 4. Personalia Tenaga Peneliti

Biodata Ketua Peneliti

A. Identitas Diri

1. Nama Lengkap (dengan gelar) dr. I Md. Ady Wirawan, MPH, Ph.D L 2. Jabatan Fungsional Lektor

3. Jabatan Struktural Ketua PSKM FK Unud

4. NIP 197712282005011001

5. NIDN 0028127705

6. Tempat dan Tanggal Lahir Bangli, 28 Desember 1977

7. Alamat Rumah Jl. Sekar Tunjung X no 54, Denpasar 8. Nomor Telepon/HP (0361) 464927 / 081239394465 9. Alamat Kantor Jl. PB Sudirman, Denpasar

10. Nomor Telepon (0361) 222510

11. Alamat e-mail ady.wirawan@unud.ac.id 12. Lulusan yang telah dihasilkan S-1= 7 orang

13. Mata Kuliah yg diampu 1.Kesehatan Pariwisata

2.Penilaian dan Pengendalian Hazard di Tempat Kerja

3.Higiene Industri

4.Struktur dan Fungsi Tubuh Manusia 5.Kesehatan dan Keselamatan Kerja B. Riwayat Pendidikan

Program S-1 S-2 S-3

Nama Perguruan Tinggi

Universitas Udayana Monash University University of Otago Bidang Ilmu Kedokteran Kesehatan Masyarakat Kesehatan Kerja

dan Penerbangan

Tahun Masuk 1995 2007 2011

Tahun Lulus 2001 2008 2015

Judul Skripsi/ Thesis/Disertasi

Epidemiologi Demam Berdarah di Kecamatan Ubud

Framework for Civil Aviation OHS system in Indonesia Cardiovascular Risk Assessment of Airline Pilots Nama Pembimbing/ Promotor

Dr. dr. I Wayan Weta, MS, Sp.GK

Dr. David Fish, MBBS, FAFOM, FAFPHM

A/ Prof. Peter D. Larsen, Ph.D C. Pengalaman Penelitian

No Tahun Judul Penelitian Pendanaan

Sumber Jumlah (Rp) 1. 2006 Hubungan Kebisingan dan Hipertensi

pada Penabuh Gamelan di Kecamatan

(44)

38 Batubulan, Gianyar, Bali

2. 2009 Analisis patogroup serta keragaman genetik Escherichia coli patogen yang diisolasi dari penderita kejadian luar biasa muntah berak di Karangasem

Hibah Udayana 50.000.000

3. 2010 Survey Kesehatan Kerja Pekerja Migran di Pemukiman Kumuh Kota Denpasar

DHS 5.000.000

4. 2012-2014

Cardiovascular risk assessment in airline pilots (PhD Research Project)

University of Otago dan Wellington Medical Research Foundation

830.000.000

D. Pengalaman Pengabdian Kepada Masyarakat

No. Tahun Judul Pengabdian Kepada Masyarakat Pendanaan

Sumber Jumlah (Rp) 1. 2006 Pencegahan Penularan Flu Burung

pada Manusia melalui Penerapan Biosecurity pada Pekerja Peternakan Unggas di Babahan, Tabanan

DIPA Unud 4.000.000

2. 2009 Pembinaan Pedagang Makanan Olahan di Lingkungan Sekolah untuk

Meningkatkan Kualitas Makanan bagi anak-anak

DIPA Unud 5.000.000

3. 2009 Penguatan dan Perluasan Layanan PMTCT Komprehensif di Bali

Global Fund (GF-ATM)

281.660.000

E. Pengalaman Penulisan Artikel Ilmiah dalam Jurnal

SCOPUS Author ID: 55253245300, h-index: 2

No. Judul Artikel Ilmiah Volume/Nomor Nama Jurnal 1. Developing a framework for civil aviation

occupational health and safety system in Indonesia

Vol 12, No 02, 2009, pp.54-58

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 2. Public health responses to climate change

health impacts in Indonesia

Vol. 22, No. 1, Jan 2010, pp. 25-31

Asia Pacific Journal of Public Health

3. Cardiovascular Risk Score and

Cardiovascular Events among Airline Pilots: a C

Gambar

Tabel 1 Jumlah Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Indonesia dari Tahun 2009-2014
Gambar 2 Surveilans Geosentinel Penyakit pada Wisatawan yang Kembali Tahun 2007-2011
Tabel 2 Karakteristik Biro Perjalanan Wisata
Tabel 3 Karakteristik Konsultan Perjalanan Wisata dan Pramuwisata
+6

Referensi

Dokumen terkait

This study uses monthly CPO price data from 2011 to 2014, which covering 5 importing countries, namely China, India, Germany, The Netherlands, Italy, a group of importing

dengan menggunakan visual manajemen, 5S dan Kanban Berdasarkan analisis penarikan akar permasalahan menggunakan fishbone yang bertujuan mencari faktor pemborosan

Dengan demikian pelaksanaan UN hanya pada beberapa mata pelajaran akan mendorong guru untuk cenderung mengajarkan hanya mata pelajaran tersebut, karena yang lain tidak akan

Macromedia based Flash Learning in Bahasa Indonesia, so it can improve the retelling skills of students. Learning to use Macromedia Flash allows effective and innovative

Teknik analisis data kualitatif yang digunakan dalam penelitian adalah. analisis deskriptif kualitatif berdasarkan konsep yang dikembangkan oleh

Kecenderungan defisit yang terjadi ini menunjukkan bahwa di Kota Palu memiliki curah hujan yang rendah, evapotranspirasi yang tinggi, sehingga ketersediaan air

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian kupang sebesar 15% adalah yang terbaik dalam hal meningkatkan konsumsi, produksi telur, konversi pakan

Agar penelitian ini dapat dilaksanakan dengan baik dan terarah maka masalah dalam penelitian ini dibatasi yaitu meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa melalui