• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDIDIKAN KESEHATAN PADA REMAJA TENTANG PRE MENSTRUASI SINDROME (PMS) DAN PENATALAKSANAAN PRE MENSTRUASI SINDROME

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENDIDIKAN KESEHATAN PADA REMAJA TENTANG PRE MENSTRUASI SINDROME (PMS) DAN PENATALAKSANAAN PRE MENSTRUASI SINDROME"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

15

PENDIDIKAN KESEHATAN PADA REMAJA TENTANG PRE MENSTRUASI SINDROME (PMS) DAN PENATALAKSANAAN PRE MENSTRUASI SINDROME (PMS) DI SMP 6

MUHAMMADIYAH PALEMBANG

Mardalena1, Selvy Apriani1

Program Studi Diploma Kebidanan STIKes Muhammadiyah Palembang Email. 1[email protected], 2[email protected]

ABSTRAK

Kesehatan reproduksi pada remaja salah satunya menyangkut pemerolehan informasi, edukasi, dan konseling mengenai kesehatan reproduksi yang benar dan dapat dipertanggung jawabkan. Wanita mengalami mensruasi setiap bulanya, pada saat menstruasi sering muncul keluhan khusnya para wanita muda usia produktif. Sindrome premenstruasi merupakan gangguan yang umum terjadi, ditandai dengan gejala fisik dan emosional yang terjadi selama siklus menstruasi. Gejala ada yang bersifat cukup berat, parah atau sangat berat, sehingga menganggu kehidupan sehari-hari. Sebanyak 80% dari wanita usia produksif telah mengalami perubahan secara fisik dan emosional. Sekitar 40%

dari wanita-wanita dari usia yang produksi mengalami gejala-gejala premenstruasi cukup untuk mempengaruhi hidup mereka sehari-hari sampai tarap tertentu, dan sebanyak 3% sampai 5% yang mengalami kelemahan cukup parah. Sebanyak 20-40% wanita usia produktif mengalami beberapa gejala sindroma premenstruasi (PMS) cuku berat dan sebsar 5% bersifat sangat berat yang menganggu kehidupan mereka. Tujuan kegiatan ini diharapkan mampu memberikan akan meningkatkan pengetahuan sisawa mengenai PMS Dan dapat mendeteksi dan menangani masalah PMS secara mandiri dan sedini mungkin. Program ini dengan sasaran remaja atau siswa SMP. Hasil terjadi peningkatan pengetahuan siswi tentang premenstruasi Syndrome dan dapat melakukan teknik penanganan secara manidiri dan sedini mungkin.

Keywords: Remaja, Menstruasi, Pre Mestruasi Sindrome

ABSTRACT

Reproductive health in adolescents is one of them concerning the acquisition of information, education, and counseling regarding reproductive health that is true and accountable. Women experience menstruation every month, during menstruation complaints often arise especially for young women of productive age. Premenstrual syndrome is a common disorder, characterized by physical and emotional symptoms that occur during the menstrual cycle. There are symptoms that are quite severe, severe or very severe, thus disturbing daily life. As many as 80% of productive age women have experienced changes physically and emotionally. About 40% of women of production age experience enough premenstrual symptoms to affect their daily lives to a certain extent, and as many as 3% to 5% experience severe weakness. As many as 20-40% of productive age women experience some of the symptoms of severe and as much as 5% premenstrual syndrome (PMS) that are very severe which disrupt their lives. The purpose of this activity is expected to be able to provide students with increased knowledge about PMS and can detect and handle PMS problems independently and as early as possible. This program is targeted at adolescents or middle school students. The results of increased student knowledge about premenstrual syndrome and can carry out self-management techniques as early as possible.

Keywords: Adolescence, Menstruation, Pre menstrual syndrome

(2)

16 PENDAHULUAN

Pembangunan kesehatan diarahkan untuk mempertinggi derajad kesehatan. Upaya mewujudkan derajat kesehatan masyarakat adalah untuk meningkatkan keadaan kesehatan yang lebih baik dari sebelumnya. Derajad kesehatan yang optimal adalah tingkat kesehatan yang tinggi dan mungkin dapat dicapai suatu saat sesuia dengan kondisi dan situasi serta kemampuan yang nyata dari setiap orang atau masyarakat dan harus diusahakan peningkatan secara terus menerus (Depkes RI, 2010)

Penyelenggaraan upaya kesehatan oleh pemerintah salah satunya dilaksanakan melalui kegiatan kesehatan reproduksi. Kesehatan reproduksi merupakan keadaan sehat secara fisik, mental, dan sosial secara utuh, tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan yang berkaitan dengan sistem, fungsi, dan proses reproduksi pada laki-laki dan perempuan. (UU Kesehatan RI, 2009).

Kesehatan reproduksi pada remaja salah satunya menyangkut pemerolehan informasi, edukasi, dan konseling mengenai kesehatan reproduksi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Sebagai upaya pemeliharaan kesehatan remaja agar terbebas dari berbagai gangguan kesehatan yang dapat menghambat kemampuan menjalani kehidupan reproduksi secara sehat (Ramdani, 2012)

Faktor yang mempengaruhi kesehatan reproduksi remaja salah satunya adalah lingkungan, yang meliputi lingkungan keluarga, lingkungan sekolah serta lingkungan masyarakat sekitrnya. Oleh karena itu orang tua atau orang yang berhubungan dengan remaja perlu mengetahui ciri perkembangan jiwa remaja, pengaruh lingkungan terhadap perkembangan jiwa remaja serta masalah gangguan maupun gangguan jiwa remaja.

Pengetahuan tersebut dapat membantu mendeteksi secara dini bila terjadi perubahan yang menjurus pada hal yang negatif (Dekes RI, 2008).

Wanita mengalami periode mensruasi atau haid, mulai dari usia remaja hingga menoupose. Ketika seorang anak perempuan remaja, pristiwa yang manandai pubertas adalah menstruasi yang pertama (menarcea). Haid atau menstruasi merupakan proses keluarnya darah yang terjadi secara periodik atau siklik endometrium. Pada saat haid sering muncul keluhan khusnya para wanita muda usia produktif. Sayangnya tidak semua anak perempuan mendapatkan informasi tentang proses menstruasi dan kesehatan selama menstruasi sehingga dapat melakukan persiapan yang cukup untuk mengenali dan menyambutya (Kasdu, 2008).

Sindrome premenstruasi merupakan gangguan yang umum terjadi pada wanita pada pertengahan, ditandai dengan gejala fisik dan emosional yang konsisten, terjadi selama siklus

(3)

17

menstruasi. Gejala-gejala tersebut ada yang bersifat cukup berat dan parah atau sangat berat, sehingga menganggu kehidupan sehari-hari. Sebanyak 80% dari wanita usia produksif telah mengalami perubahan secara fisik dan emosional. Sekitar 40% dari wanita-wanita dari usia yang produksi mengalami gejala-gejala premenstruasi cukup untuk mempengaruhi hidup mereka sehari-hari sampai taraf tertentu, dan sebanyak 3% sampai 5% yang mengalami kelemahan cukup parah. Sebanyak 20-40% wanita usia produktif mengalami beberapa gejala sindroma premenstruasi (PMS) cuku berat dan sebsar 5% bersifat sangat berat yang menganggu kehidupan mereka (Halbreich, et.al: Christiany, 2006: Tenkir, Fisseha dan Ayele,2002)

Wanita yang mengalami sindroma premensruasi sindrome, perlu waspada ada kemungkinan terjadi endomentriosis dalam tubuh. Jika disertai perdarahan sebelum masa haid kemungkinan kelainan di rahim/selaput dinding rahim, seperti mioma uteri (Kusdu, 2008).

Penanganan pada remaja putri yang mengalami sindroma premenstruasi adalah dengan mengatur pola makan yang memenuhi gizi seimbang. Sehingga kebutuhan tubuh akan zat-zat gizi terpenuhi, terutama zat besi yang dibutuhkan saat remaja sedang haid. Penanganan lain dapat dilakukan dengan memeriksakan ke tenaga kesehatan (Kudus, 2008)

Penyebab yang pasti dari sindrom premenstruasi tidak diketahui tetapi berhubungan dengan faktor-faktor sosial, budaya, biologi, dan psikis. Sindrome premenstruasi terjedai pada sekitar 70-90% wanita pada usia subur lebih sering ditemukan pada wanita berusia 20- 40 tahun (Medicastore, 2009)

Menurut Prawirohardjo (2011) bahwa remaja putri membutuhkan informasi atau pendidikan tentang proses dan kesehatan selama menstruasi, terutama sindrome premenstruasi beserta penanganannya. Remaja putri akan mengalami kesulitan menghadapi menstruasi seperti halanya premenstruasi sindrome jika sebelumnya mereka belum pernah mengetahui atau mebicarakan baik dengan teman sebaya atau dengan ibu atau keluarga.

Berdasarkan data yang diperoleh dari SMP 6 Muhammadiyah Palembang, siswi wanita pada kelas XI dan XII di SMP 6 Muhammadiyah Palembang tersebut sejumlah 50 orang.

Dari hasil yang didapat bahwa mahasiswi jika mengalami PMS, maka sering mengalami peningkatan emosional, kurang konsentrasi bahkan sampai tidak masuk sekolah dan setalh dilakukan wawancara langsung siswi sebagian belum mengetahui secara benar apa yang dimaksud degan PMS dan ada juga yang belum tahu bagaimana cara penatalaksanaan yang baik dalam mengurangi PMS, untuk itu kami tertarik melakukan pendidikan kesehtan dan

(4)

18

cara penatalaksanaan yang baik tentang PMS pada siswi di SMP 6 Muhammadiyah Palembang, sehingga mahasiswi dapat mengidentefikasi dan melakukan penatalaksanaan secara mandiri tentang PMS.

Tujuan dari pengabdian masyarakat diharapkan dapat meningkatkan penegetahuan siswi mengenai PMS dan dapat mendeteksi serta menangani masalah PMS secara mandiri dan sedini mungkin.

METODE PELAKSANAAN

Pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di SMP 6 Muhammadiyah Palembang, siswi wanita pada kelas XI dan XII. Pada pengabdian masyarakat ini variabel yang akan dilihat adalah pengetahuan siswi tentang PMS, lalu setelah di dapatkan pengetahuan siswa mengenai PMS maka siswa akan diajarkan Penatalaksanaan PMS secara mandiri dengan cara demonstrasi kompres hangat kering dan teknik latihan nafas dalam mengurangi masalah yang terjadi pada PMS.

Kegiatan dalam pengabdian masyarakat ini pendidikan kesehatan tentang PMS serta cara menanggulanginya dilakukan dengan rangkaian proses kegiatan sebagai berikut:

1. Persiapan

Persiapan dimulai dari penyusunan proposal kegiatan, pembuatan Standar Operasional kegiatan, perincian kegiatan yang dilakukan, pembagian tugas pada saat pelaksanaan kegiatan (tugas ketua, anggota dan tim pelaksana).

2. Koordinasi

Berkoordinasi dengan pihak sekolah ijin kegiatan pengabmas dan kontrak kegiatan dengan pihak sekolah.

3. Pengkajian dan penilaian awal (pretest).

Melakukan pengkajian untuk mengetahui berapa banyak siswi yang memiliki pengetahuan kurang tentang keputihan. Pengkajian pengetahuan terseut menggunakan kuisioner. Hasil pengkajian didapatkan 15 siswi yang mempunyai pengetahuan kurang tentang keputihan.

4. Implementasi

Memberikan ppendidikan kesehatan tentang PMS serta membuat kelompok teman sebaya yang membahas tentang keputihan.

5. Demonstrasi cara penatalaksananan masalah PMS secara mandiri yaitu teknik kompres hangat dan latihan nafas dalam mengurangi masalah saat PMS

(5)

19 6. Penilaian kedua (post test)

Penilaian perubahan pengetahuan siswi tentang PMS untuk mengetahui perbedaan pengetahuan siswi setelah di beri pendidikan kesehatan.

7. Pembinaan

Melakukan pembinaan pada siswi yang di tunjuk sebagai ketua teman sebaya, sehingga siswi tersebut dapat menjadi wadah utuk tempat bertanya mahasiwi yang lain dalam pengetahuan dan penatalaksanaan penaggulangan PMS

8. Evaluasi

Melakukan evaluasi program pengabdian masyarakat yang telah dilakukan dan Pembuatan laporan kegiatan pengabdian masyarakat

PEMBAHASAN

1. Pengetahuan siswa sebelum dilakukan pendidikan kesehatan tentang PMS dan Penatalaksanaan PMS

Tabel 1: Pengetahuan siswa sebelum dilakukan pendidikan kesehatan tentang PMS dan Penatalaksanaan PMS

Kelas Pengetahuan

Jumlah Baik Kurang

I 8 14 22

II 11 17 28

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa sebelum dilakukan pendidikan kesehatan ada 22 siswi kelas 1 dan 17 siswi kelas 2 yang memiliki penegetahuan kurang tentang pendidikan kesehatan pada IMS.

2. Pengetahuan siswa sesudah dilakukan pendidikan kesehatan tentang keputihan

Tabel 2: Pengetahuan siswa sesudah dilakukan pendidikan kesehatan tentang PMS dan Penatalaksanaan PMS

Kelas

Pengetahuan

Jumlah Baik Kurang

I 19 3 22

II 26 2 28

(6)

20

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa sesudah dilakukan pendidikan kesehatan ada 19 siswi kelas 1 dan 26 siswi kelas 2 yang memiliki penegetahuan baik tentang pendidikan kesehatan tentang keputihan

Definisi Sindroma premenstruasi merupakan kumpulan gejala fisik, psikologis dan emosi yang terkait dengan siklus menstruasi wanita; gejala

biasanya timbul 6-10 hari sebelum menstruasi dan menghilang ketika menstruasi dimulai.

Efiologi. Banyak dugaan bahwa sindroma premenstruasi terjadi akibat kombinasi dari berbagai faktor yang kompleks dimana salah satunya adalah akibat perubahan hormonal yang terjadi sebelum menstruasi. Selain faktor hormonal, peranan faktor gaya hidup diantaranya aktivitas fisik dan mikronutrien juga tidak bisa diabaikan, Olah raga teratur dapat membantu mengurangi sindroma premenstruasi selain memberikan tubuh yang sehat.

Penelitian Christiany, dkk (2009) mendapatkan hubungan yang bermakna antara asupan kalsium dan magnesium dengan sindroma premenstruasi. Penyebab sindroma premenstruasi berhubungan dengan beberapa faktor diantaranya:

a. Faktorhormonal

Ketidak seimbangan kadar hormon estrogen dan progesteron dimana estrogen sangat berlebih hingga melampaui batas normal sedangkan progesteron kadarnya menurun

b. Faktor kimiawi

Kadar serotonin yang berubah-ubah selama siklus menstruasi, dimana aktivitas serotonin sendiri berhubungan dengan gejala depresi, kecemasan, kelelahan, agresif dan lain sebagainya. Kadar serotonin yang rendah ditemukan pada wanita dengan sindroma premenstruasi

c. Faktorgenetik

Insiden sindroma premenstruasi dua kali lebih tinggi pada kelahiran kembar satu telur (monozigotik) dibandingkan kelahiran kembar dua telur (dizigotik).

d. Faktor psikologis

Stress sangat besar pengaruhnya terhadap sindroma premenstruasi. Gajala - gajala sindroma premenstruasi akan makin nyata dialami oleh wanita yang terus menerus mengalami tekanan psikologi

(7)

21 e. Faktor Aktivitas Fisik

Kebiasaan olahraga yang kurang dapat memperberat sindroma premenstruasi.

Aktivitas fisik telah direkomendasikan untuk mengurangi keparahan sindroma premenstruasi. Namun masih sedikit bukti yang mendukung jelas hubungan aktivitas fisik dengan sindroma premenstruasi. Aktivitas fisik secara teratur di rekomendasikan untuk mengurangi kelelahan dan depresi terkait sindroma premenstruasi. Beberapa sumber menyatakan latihan erobik adalah alternatif yang efektif untuk mengurangi sindroma premenstruasi.

Beberapa mekanisine biologis dapat menjelaskan hubungan aktivitas fisik dengan sindroma premenstruasi. Aktivitas fisik dapat meningkatkan endorphin, menurunkan estrogen dan hormon steroid lainnya, meningkatkan transportasi oksigen dalam otot, mengurangi kadar kartisol dan meningkatkan keadaan psikologis. Semua mekanisme ini mendukung hubungan terbalik aktivitas fisik dengan sindroma premenstmasi, dimana makin teratur aktivitas fisik maka akan semakin berkurang keparahan sindroma premenstruasi

Menurut Dusek (2001) prevalensi dismenorel pada masa menjelang menstmasi jauh lebih tinggi pada perempuan yang tidak berolah raga secara teratur. Secara psikologis aktivitas fisik dapat membangun mood, meningkatkan rasa percaya diri, dan meningkatkan kemarripuan mengatasi tantangan.'

f. Kalsium

Penelitian menunjukkan bahwa kalsium berpengaruh terhadap gangguan mood dan perilaku yang berlangsung selama sindroma premenstruasi. Gejala-gejala seperti gelisah, hidrasi dan depresi mulai sembuh pada seseorang dengan sindroma premenstruasi yang mengkonsumsi kalsium dengan tanpa efek samping. Asupan harian yang direkomendasikan untuk kalsium adalah l00mg/'hari. Peneltian Jacobs dan Susan (2000) juga menyatakan bahwa pemberian kalsium murni terbukti secara signifikan menghasilkan 50% pengurangan gejala sindroma premenstruasi.Asupan tinggi kalsium dengan jumlah 1.336 mg/hari dapat memperbaiki gejala-gejala gangguan mood , perilaku, nyeri dan retensi air selama siklus menstruasi. Sumber utama kalsium berasal dari susu dan hasil olahan lainnya seperti yogurt dan keju. Pentingjuga untuk memenuhi asupan 400-800 IU vitamin D setiap hari bersamaan dengan kalsium untuk mendapatkan efek yang maksimal.

(8)

22 g. Magnesium

Asupan magnesium yang cukup tiap harinya beirpengaruh terhadap sindroma premenstruasi yang dialami. Penelitian Ramadani (2012) mendapatkan pengaruh yang signifikan antara tingkat konsumsi magnesium dengan sindroma premenstruasi pada mahasiswi.8 Temuan ini didukung oleh Christiany (2006) yang menyebutkan ada hubungan antara asupan magnesium dengan sindroma premenstruasi.

Asupan harian yang direkomendasikan untuk magnesium adalah 250mg/hari.

Magnesium yang diberikan selama fase luteal siklus menstruasi sampai dengan saat darah menstruasi keluar terbukti dapat mengurangi skor total gejala dan kelompok afeksi negatif. Sumber magnesium terbaik adalah sayuran hijau, seperti bayam. Sumber lainnya adalah kacang, biji-bijian, gandum, oatmeal, yogurt, kedelai,alpokat, danpisang.

h. Vitamin B

Vitamin B6 dapat membantu meringankan depresi dan gelisah yang terkait dengan PMS. Hasil penelitian menunjukkan hubungan yang signifikan antara pemberian vitamin B kompleks dengan sindroma premenstruasi, ditandai dengan berkurang hingga hilangnya keluhan fisik dan psikologi terkait sindroma premenstruasi. Dosis vitamin B6 yang direkomendasikan adalah 50-100 mg per hari. Makanan sumber utama vitamin B6 meliputi sereal, sayuran (wortel, bayam, kacang polong), telur dan daging. Gejala Terdapat kurang lebih 200 gejala yang dihubungkan dengan PMS namun gejala yang paling sering ditemukan adalah iritabilitas (rnudah tersinggung) dan disforia (perasaan sedih). Gejala mulai dirasakan 6-10 hari menjelang menstruasi berupa gejala fisik maupun psikis yang mengganggu aktivitas sehari-hari dan menghilang setelah menstruasi.

Gejala

Terdapat kurang lebih 200 gejala yang dihubungkan dengan PMS namun gejala yang paling sering ditemukan adalah iritabilitas (rnudah tersinggung) dan disforia (perasaan sedih).

Gejala mulai dirasakan 6-10 hari menjelang menstruasi berupa gejala fisik maupun psikis yang mengganggu aktivitas sehari-hari dan menghilang setelah menstruasi.

Gejala sindroma premenstruasi meliputi gejala fisik, emosi dan perilaku. Gejala fisik diantaranya; kelemahan umum (lekas letih, pegal, linu), acne (jerawat), nyeri pada kepala, punggung, perut bagian bawah, nyeri pada payudara, Gangguan saluran cerna (rasa penuh/kembung), konstipasi, diare, perubahan nafsu makan, sering merasa lapar (food

(9)

23

cravings). Gejala emosi dan perilaku; mood menjadi labil (mood swings), iritabilitas (mudah tersinggung), depresi, kecemasan, gangguan konsentrasi, insomnia (sulit tidur).

Tidak semua tanda dan gejala di atas selalu muncul, namun wanita dikategorikan mengalami sindroma premenstruasijika didapatkan satu gejala emosi dan satu gejala fisik yang dialami saat pramenstruasi (6-10 hari menjelang menstruasi) setidaknya dua siklus berturut-turut, berdampak negatif terhadap aktivitas harian, dan gejala menghilang setelah menstruasi berakhir.

Cara mendiagnosa sindroma premenstruasi tidak ada tes laboratorium khusus untuk mendiagnosa wanita dengan sindroma premenstruasi. Alat diagnostik yang dapat membantu adalah catatan harian menstruasi, yang berisi gejala-gejala fisik dan emosi selama berbulanbulan. Jika perubahan-perubahan yang terjadi secara konsisten sekitar ovulasi (midcycle atau hari ke 6-10 kedalam siklus menstruasi) dan berlangsung sampai aliran menstruasi mulai, maka sindroma premenstruasi kemungkinan adalah diagnosa yang akurat.

National Institute of Mental Health membuat kriteria diagnostik premenstrual syndrome yaitu peningkatan 30% intensitas gejala premenstrual syndrome dari siklus hari ke 5 sampai ke 10 sebelum menstruasi berilansung dan catat perabahan-perubahan gejala minimal 2 siklus yang berurutan pada kalender gejala harian yang terstandarisasi, saat perempuan mendapat satu saja gejala fisik dan satu gejala emosional, selama tiga kali masa menstruasi berturat- turut, hal itu sudah dapat disebut menderita PMS, Gejala fisik yang kerap dirasakan saat PMS adalah kram, sakit perut, sakit kepala. mual, payudara bengkak, nyeri otot dan punggung, serta pembengkakan di tungkai tangan dan kaki. Sedangkan gejala psikologisnya, yaitu mudah marah, kesepian, tidak konsentrasi, malas,dan sulit tidur.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dari pengabdian masyarakat ternyata siswi mengatakan belum tau mengenai masalah PMS dan bagaimana cara penanggulangan PMS dan setelah dilakukan pendidikan kesehatan tentang PMS serta demonstrasi cara penanggulangan secara dini mengenai PMS.

(10)

24 UCAPAN TERIMA KASIH

Kami ucapkan Trimaksih kepada Kepala Sekolah SMP 6 Muhammadiyah beserta guru dan staf SMP 6 Muhammadiyah Palembang atas bantuannya selama melakukakn pengabdian masyarakat di sana.

DAFTAR PUSTAKA

Cyristiany, I Hubungan Status Gizi, asupan zat gizi mikro dengan sindrome premenstruasi pada remaja putri di SMU sejahtera surabaya. Tesis.Yogjakarta : UGM

Depkes RI. (2010).Capaian Pembangunan Kesehatan tahun 2011.Jakarta

Dusek,J.B. (1997). Adolescent Devolopment and Behavior.Chicago:Science Reserch Associates.inc

Fegge, A. (2012). Terapi Akupresur Manfaat dan Teknik Pengobatan. Yogyakarta:

Crop Cirele Crop

French, Linda. (2005).Dysmenorrhea. American Family Physician, 71(2), 285-291

Halbreich et al. Clinical diagnostik critenna for premenstrua syndrome and guidelines for their quantifikasiom for research studies. Journal gynecology endocrinology. 2007:23 (3) PP 113-130

Kasdu, D. 2008. Solusi Problem Wanita Dewasa. Jakarata.Puspa Swarna, Anggoru.IKAPI Prawiriwiharjo, Sarwono. 2011.Ilmu Kebidanan.Jakarta:Yayasan Bina Pustaka Sarwono

Prawirowiharjo

Ramdani, Mery. 2012.Premenstrual Syndrome (PMS). Jurnal Kesehatan Masyarakat. Vol 7 No.1

Ramadhani, Alvian.2012.Keefektifan Pendekatan Brain Based Learning Terhadap Peningaktan Prestasi Belajar IPA Pada Siswa Cerebral Palsy Kelas Vidi SLB N 1 bantul 18. Sripsi.Yogjakarta.Universitas Negeri Yogjakarta

Tenkir A, Fisseha, N dan Ayele B. Premenstrual Sydrome prevenlency and Effect on academic and sosial Perforrmance of students in jimma university. Ethopia. Ethopia journal health; 2002 Dev :17 PP 181-188

Undang-undang Kesehatan Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009

Gambar

Tabel 1: Pengetahuan siswa sebelum dilakukan pendidikan kesehatan tentang PMS dan  Penatalaksanaan PMS  Kelas  Pengetahuan  Jumlah  Baik  Kurang  I  8  14  22  II  11  17  28

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil integrasi data ini seorang manager untuk mengontrol laporan atau mengontrol data-data yang ada pada masing-masing cabang cukup dengan memanfaatkan data yang sudah

Djuanda, Jawa Barat, dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa aspek yang bertalian dengan pertumbuhan ikan oskar (Amphilophus citrinellus) di waduk tersebut,

Dalam laporan ini dibahas tentang desain dan pembuatan cetakan souvenir khas kota Palembang, cetakan permanen ini dimaksudkan untuk memperbaiki cara masyarakat Palembang

Dunia saat sedang dilanda sebuah pandemi yaitu Covid-19 yang merupakan sebuah virus yang berasal dari Wuhan China. Akibat adanya pandemi tersebut muncul banyak

pengembalian investasi atau lebih dikenal dengan nama return on investment (ROI) merupakan rasio yang menunjukkan hasil ( return ) atas jumlah aktiva yang digunakan

• Permenpan-RB Nomor 3 Tahun 2010 tentang Jabatan Fungsional PLP dan Angka Kreditnya Dan Peraturan Bersama antara menteri Pendidikan Nasional dan Kepala BKN Nomor 02/V/PB/2010 Nomor

Temperatur air atau steam yang rendah (pada permukaan deposit padatan) akan menyebabkan terjadinya perpindahan panas ke permukaan tersebut, sehingga temperaturnya

Kandungan kontaminan tersebut dipengaruhi oleh jenis rumah sakit, jumlah tempat tidur, jumlah pasien rawat inap dan jalan, jenis pelayanan dan iklim suatu negara sehingga