BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia cenderung mengalami penurunan sejak tahun 1991-2015 yaitu dari 390 menjadi 305/100.000 kelahiran hidup (Kementerian Kesehatan RI, 2019). AKI di Indonesia masih tidak dapat memenuhi target MDG’s tahun 2015 (102/100.00 kelahiran hidup), sedangkan target SDG’s tahun 2030 adalah 70/100.000 kelahiran hidup (Bappenas, 2015). Perdarahan merupakan salah satu penyebab AKI (27,03%) yang dapat terjadi selama masa nifas dan salah satunya akibat dari ruptur perineum (Kementerian Kesehatan RI, 2019). Hampir dua pertiga kematian ibu disebabkan oleh penyebab langsung yaitu perdarahan (25%), infeksi atau sepsis (15%), eklamsia (12%), abortus yang tidak aman (13%), partus macet (8%), dan penyebab langsung lain seperti kehamilan ektopik, embolisme, dan hal – hal yang berkaitan dengan masalah anestesi (8%). Sedangkan sepertiga lainnya disebabkan oleh penyebab tidak langsung yaitu keadaan yang disebabkan oleh penyakit atau komplikasi lain yang sudah ada sebelum kehamilan atau persalinan dan memberat dengan adanya kehamilan atau persalinan, seperti terdapatnya penyakit jantung, hipertensi, diabetes, hepatitis, anemia, malaria atau AIDS (19%) (Rahmawati,dkk,2014).
Proses melahirkan memiliki resiko terjadinya ruptur perineum. Penelitian yang dilakukan oleh Irene et al (2015) menemukan bahwa 91% pimipara yang melahirkan dengan persalinan pervaginam spontan akan
mengalami ruptur perineum baik dengan episiotomi atau ruptur perineum spontan. (Irene et al, 2015). Perineum akan mengalami pelebaran sebesar 170% akibat posisi janin yang melintang (sisi ke sisi) dan 40-60% dalam posisi vertikal (depan ke belakang) selama terjadinya crowning . Pelebaran perineum yang melewati kapasitas batas maksimal pelebaran perineum tersebut yang menyebabkan terjadinya ruptur perineum. (Kapoor, Thakar, dan Sultan, 2015; Meriwether et asl., 2016).
Studi terbaru menunjukkan bawah angka laserasi perineum pada wanita primipara tanpa episiotomi adalah 56,7% dan 30% dari laserasi tersebut membutuhkan penjahitan. Faktor yang berkaitan dengan peningkatan resiko penjahitan yaitu primipara, usia yang lebih tua (penambahan usia tiap tahun memiliki resiko rupture 7%), persalinan bayi besar atau malposisi, etnik Asia dan Hispanik, aktivitas seksual yang kurang saat trimester ketiga, penggunaan anestesi epidural, dan penggunaan instrument persalinan seperti penggunaan forceps atau vakum (Grobman et al., 2015; Kapoor et al., 2015; Lawrence, Rebecca, Noelle, Dusty, & Clifford, 2017; Leal et al., 2014; Vale de Castro Monteiro et al., 2016).
Tingginya angka trauma pada luka perineum memiliki arti bahwa morbiditas postpartum berkaitan langsung dengan eksitensi dan keparahan trauma perineum (Persico, et al., 2013). Komplikasi yang berkaitan dengan trauma perineum kemungkinan dapat membahayakan bagi kesehatan wanita baik jangka pendek ataupun jangka panjang setelah persalinan yang mempengaruhi mobilitas, eliminasi vesikalis dan intestinal, perawatan umum bayi lahir dan kegiatan sehari-hari lainnya (Lawrence et al., 2017). Jika
perbaikan segera dilakukan pada perineum adekuat, maka hasil keluaran jangka panjang dari trauma perineum dapat ditingkatkan baik pada gejala dan kualitas hidup setelah proses melahirkan (Reid, 2014).
Intervensi yang dapat dilakukan untuk ruptur perineum diantaranya penjahitan pada ruptur perineum, kompres dingin, obat anti nyeri seperti analgesik dan antiinflamasi, serta pengobatan sekunder (Dudley, Kettle, dan Ismail, 2013). Penelitian yang dilakukan oleh Wiseman et al (2019) pada ruptur perineum spontan derajat 2 di Rumah Sakit National Health Service (Inggris) menunjukkan bahwa 1,9% mengalami infeksi atau luka jahitan yang rusak yang memiliki hubungan dengan status luka peruineum yang kompromis (peningkatan keparahan luka atau jahitan yang buruk). Penelitian tersebut juga menemukan bahwa ibu-ibu mengeluhkan kurangnya informasi dan pengawasan pascapersalinan yang buruk oleh bidan dan dokter. Diagnosis dan pengobatan sering tertunda karena ketergantungan dokter terhadap tanda-tanda eksternal dari infeksi luka (Wiseman et al, 2019). Insiden penyembuhan luka perineum yang tertunda sebesar 4,9% yang diakibatkan dari luka perineum yang tidak menyatu dan adanya infeksi klinis (McGuinness, Noor, dan Nacion, 1991).
Proses tersebut dapat terganggu atau penyembuhannya terlambat akibat dari berbagai faktor seperti usia, nutrisi, nyeri, dan hygiene yang buruk (Ari, et al., 2019; Kamrava dan Mahmoud, 2013; Nugorho dkk, 2014; Wiseman, et al., 2019). Usia yang lebih tua memiliki respon penyembuhan lambat dan mempengaruhi semua fase proses tersebut (Gerstein, et al., 1993). Nutrisi akan menghasilkan karbohidrat, asam amino, lemak dan zat-zat mikro
lainnya yang berfungsi sebagai sumber engeri utama dalam proses penyembuhan luka (Guo (Guo dan DiPietro, 2010; Shepherd, 2003). Nyeri setelah proses melahirkan dan penjahitan dapat menyebabkan stres akbiat dari terganggunya aktivitas ibu sehari-hari dan dalam melakukan perawatan bayinya (Ari et al, 2019). Personal hygiene yang buruk juga merupakan resiko terjadinya infeksi dan stres yang merupakan faktor sistemik dan faktor lokal yang mempengaruhi proses penyembuhan luka (Guo dan DiPietro, 2010).
Luka laserasi jalan lahir biasanya terdapat sedikit jaringan yang hilang karena luka ini hasil tindakan episiotomi atau laserasi. Penyembuhan pada fase-fase akan tergantung pada beberapa faktor termasuk ukuran dan tempat luka, kondisi fisiologis umum pasien, cara perawatan luka perineum yang tepat dan bantuan ataupun intervensi dari luar yang ditujukan dalam rangka mendukung penyembuhan. Akibat perawatan perineum yang tidak benar dapat mengakibatkan kondisi perineum yang terkena lokhea dan lembab akan sangat menunjang perkembangbiakan bakteri yang dapat menyebabkan timbulnya infeksi pada perineum. Munculnya infeksi pada perineum dapat merambat pada saluran kandung kencing ataupun pada jalan lahir yang dapat berakibat pada munculnya komplikasi infeksi kandung kencing maupun infeksi pada jalan lahir. Infeksi tidak hanya menghambat proses penyembuhan luka tetapi dapat juga menyebabkan kerusakan pada jaringan sel penunjang, sehingga akan menambah ukuran dari luka itu sendiri, baik panjang maupun kedalaman luka. (Herawati,2010),
Proses penyembuhan luka terdapat tiga fase, yaitu: fase inflamasi (24
jam pertama–48 jam), fase proliferasi (48 jam–5 hari), dan Fase maturasi (5
hari-berbulan-bulan). Dalam proses penyembuhan luka sebaiknya
mendapatkan asuhan yang baik, apabila tidak mendapat asuhan yang baik
maka akan menimbulkan keadaan yang patologi (Primadona dan
Susilowati,2015). Provinsi Papua merupakan salah satu daerah Indonesia
bagian Timur yang sebagian besar masih mempunyai angka TFR di atas 3 anak per wanita (BKKBN, 2020). Penelitian yang dilakukan oleh Yuni Hukubun (2019) menemukan bahwa kejadian ruptur perineum spontan sebesar 50,9% (654 ruptur perineum) dari 1283 total persalinan tanpa episiotomy (Hukubun, 2019).
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di RSUD Serui pada bulan Oktober hingga Desember (2019) menunjukkan bahwa kejadian ruptur perineum sebesar 41,9% terbagi menjadi ruptur spontan (10,8%) dan episiotomi (30,7%). Derajat ruptur perineum terdiri dari derajat 1 (4%), derajat 2 (34,6%), derajat 3 (2%), dan derajat 4 (2%), serta sekitar 3,9% mengalami perlambatan penyembuhan luka jahitan perineum, dimana penyembuhan luka terjadi lebih dari 7 hari (Register Kamar Bersalin, 2019; Register Poli Kandungan RSUD Serui, 2019). Data lain juga didapat bahwa terdapat 4 pasien mengalami perlambatan luka perineum, dimana pada proses maturasi terjadi lebih dari 7 hari. Perlambatan luka perineum adalah lambatnya proses penyembuhan luka dari fase inflasmasi sampai fase maturasi, dimana normal penyembuhan luka sekitar 5-7 hari.
Tingginya angka kelahiran dan kejadian ruptur perineum di Papua, maka diperlukan tindakan khusus oleh petugas kesehatan terutama
bidan. Misalnya memberikan pendidikan kesehatan
tambahan perawatan luka perineum postpartum selama masa kehamilan,
persalinan dan nifas. Karena 1 dari 10 wanita yang mengalami robekan
perineum saat persalinan pervaginam yang membutuhkan penjahitan akan mengalami resiko terjadinya infeksi luka perineum (Johnson, Thakar, dan Sultan, 2012). Profil Kesehatan Indonesia 2016 menunjukan bahwa kematian maternal ibu di sebabkan infeksi sebesar 11% (Perbawati, Ma'ruf, & Munawir, 2018).
Latar belakang di atas merupakan alasan peneliti ingin
melakukan analisis terhadap faktor-faktor risiko yang mempengaruhi proses penyembuhan ruptur perineum yaitu usia, nutrisi, nyeri, dan personal hygiene pada ibu nifas di hari ketiga dan hari ketujuh di RSUD Serui, Kepulauan Yapen, Papua
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Identifikasi Masalah
Angka kelahiran yang tinggi di Indonesia bagian Timur salah satunya di daerah Kepulauan Yapen menimbulkan kekhawatiran salah satunya kejadian ruptur perineum saat wanita melahirkan. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses penyembuhan luka perineum pada wanita sangat penting diketahui agar dapat meningkatkan kualitas kesehatan wanita baik sebagai individu atau seorang ibu.
Apa saja faktor yang mempengaruhi proses penyembuhan luka perineum pada ibu nifas di RSUD Serui, Kepulauan Yapen, Papua? 1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi proses
penyembuhan luka perineum pada ibu nifas di RSUD Serui, Kepulauan Yapen, Papua.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Mengetahui karakteristik ibu nifas di RSUD Serui, Kepulauan Yapen, Papua
b. Menganalisis pengaruh usia terhadap proses penyembuhan luka perineum hari ke 7 pada ibu nifas
c. Menganalisis pengaruh nutrisi terhadap proses penyembuhan luka perineum di hari ke 7 pada ibu nifas
d. Menganalisis pengaruh nyeri terhadap proses penyembuhan luka perineum di hari hari ke 7 pada ibu nifas
e. Menganalisis pengaruh personal hygiene terhadap proses penyembuhan luka perineum di hari hari ke 7 pada ibu nifas f. Menganalisis faktor yang paling berpengaruh terhadap proses
penyembuhan luka perineum 1.4 Manfaat
Penelitian ini menjadi bukti ilmiah terhadap faktor yang mempengaruhi proses penyembuhan luka perineum dan dapat digunakan sebagai bahan ajar bagi mahasiswa kebidanan.
1.4.2 Manfaat Praktis
Penelitian ini dapat menjadi acuan bagi tenaga kesehatan terutama bidan dalam memberikan advokasi tentang proses penyembuhan luka perineum.