PERTUMBUHAN TANAMAN PADI ( Oryza sativa L.) PADA CEKAMAN Fe
YANG DIBERI SERBUK BIJI KELOR (Moringa oleifera Lamk.) DI KULTUR HARA
SKRIPSI
OLEH :
GEO JUANDORO / 150301094 PEMULIAAN TANAMAN
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2021
PERTUMBUHAN TANAMAN PADI ( Oryza sativa L.) PADA CEKAMAN Fe
YANG DIBERI SERBUK BIJI KELOR (Moringa oleifera Lamk.) DI KULTUR HARA
SKRIPSI
OLEH :
GEO JUANDORO / 150301094 PEMULIAAN TANAMAN
Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat untuk dapat Memperoleh Gelar Sarjana di Program Studi Agroteknologi Minat Pemuliaan Tanaman Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara, Medan
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2021
i ABSTRAK
GEO JUANDORO: Pertumbuhan Tanaman Padi (Oryza sativa L.) pada Cekaman Fe yang Diberi Serbuk Biji Kelor (Moringa oleifera Lamk.) di Kultur Hara, dibimbing oleh KHAIRUNNISA LUBIS dan DIANA SOFIA HANAFIAH.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan beberapa varietas tanaman padi pada cekaman Fe yang diberi serbuk biji kelor di kultur hara.
Penelitian dilaksanakan di jalan Flamboyan Raya kec, Medan Selayang, Tanjung Sari, Medan pada Maret 2020 sampai dengan Febuari 2021 menggunakan rancangan petak terbagi dengan dua faktorial dan tiga ulangan. Faktor pertama adalah varietas (limboto, inpari 30, sigambiri merah, sigambiri putih). Faktor kedua adalah media cekaman Fe (0 ppm, 150 ppm, 300 ppm) dan data yang diperoleh dianalisis menggunakan sidik ragam yang dilanjutkan dengan uji DMRT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan yang nyata pada pertumbuhan tanaman padi setiap varietas terhadap karakter (tinggi tanaman, panjang akar, volume akar, diameter sebaran akar, jumlah cabang akar, bobot basah akar, bobot kering tajuk, bobot basah tajuk, bobot kering tajuk) pada media kultur hara yang diberi cekaman Fe yang ditambahi serbuk biji kelor. Varietas yang memiliki pertumbuhan terbaik adalah varietas sigambiri putih (V4). Ada pengaruh cekaman Fe yang nyata pada pertumbuhan tanaman padi terhadap seluruh karakter amatan di media kultur hara yang ditambahkan serbuk biji kelor.
Media cekaman Fe terbaik adalah cekaman Fe 300 ppm + serbuk biji kelor (P2) dibandingkan perlakuan cekaman Fe 150 ppm + serbuk biji kelor (P1). Ada interaksi beberapa varietas padi terhadap cekaman Fe yang ditambahkan serbuk biji kelor di kultur hara terhadap karakter anakan, volume akar, bobot basah tajuk, bobot kering tajuk, bobot basah akar dan bobot kering akar. Interaksi terbaik adalah pada varietas inpari 30 di media kultur hara Fe 300 ppm + serbuk biji kelor (V2P2).
Kata Kunci : Fe, kultur hara, padi, serbuk biji kelor
ii ABSTRACT
GEO JUANDORO: Growth of rice plants (Oryza sativa L.) in Fe stress-given powder of Moringa seeds (Moringa oleifera Lamk.) in nutrient culture, supervised by KHAIRUNNISA LUBIS and DIANA SOFIA HANAFIAH. The objective of this research was to study the growth response of several rice plant varieties to Fe stress which was given Moringa seed powder in nutrient culture. The research was conducted at Flamboyan Raya Street, Medan Selayang, Tanjung Sari, Medan from March 2020 to February 2021 using a split-plot design with two factorials and three replications, the first factor are varieties (limboto, Inpari 30, Sigambiri Merah, Sigambiri Putih). Second factor are the Fe stress medium (0 ppm, 150 ppm, 300 ppm), and the data obtained were analyzed using analysis variance and continued with the DMRT test. The results showed that there were significant differences in the growth of rice plants of each variety on the characters (plant height, root length, root volume, root distribution diameter, number of root branches, root wet weight, crown dry weight, crown wet weight, crown dry weight). on nutrient culture media that was given Fe stress with Moringa seed powder added. The variety that has the best growth is the white sigambiri variety (V4). There was a significant effect of Fe stress on the growth of rice plants on all observed characters in nutrient culture media with Moringa seed powder added.
The best Fe stress medium was 300 ppm Fe stress + Moringa seed powder (P2) compared to 150 ppm Fe stress + Moringa seed powder (P1). There was an interaction of several rice varieties on Fe stress added with Moringa seed powder in nutrient culture on tiller character, root volume, crown wet weight, shoot dry weight, root wet weight, and root dry weight. The best interaction was in Inpari 30 variety in 300 ppm Fe nutrient culture media + Moringa seed powder (V2P2).
Keywords : fe, nutrient culture, rice, moringa seed powder
iii
RIWAYAT HIDUP
Geo Juandoro lahir di Jakarta di tanggal 22 Juni 1997. Anak dari Bapak Lody Zulkarnaen Slawat dan Ibu Sri Mulyani Dewi. Penulis merupakan anak ketiga dari tiga saudara.
Pendidikan formal yang pernah ditempuh adalah SDN CILANGKAP 04 PAGI Jakarta Timur tahun 2009, SMP NEGERI 192 Jakarta Timur pada tahun 2012, SMA NEGERI HUTAMA Bekasi tahun 2015. Penulis terdaftar masuk program studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) pada tahun 2015.
Selama perkuliahan, penulis mengikuti organisasi kemahasiswaan Himpunan Mahasiswa Agroteknologi (HIMAGROTEK).
Penulis melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di PT. Perkebunan
Nusantara IV Kebun Tinjowan, Kabupaten Simalungun pada tahun 2018 dan
Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kelurahan Perjuangan, Kecamatan Teluk Nibung,
Kota Tanjung Balai, Sumatera Utara pada Juli – Agustus 2019.
iv
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas Berkat dan RahmatNya sehingga penulis dapat menyelesaikan usulan penelitian ini dengan sebaik-baiknya.
Adapun judul dari usulan penelitian ini adalah “Pertumbuhan Tanaman Padi (Oryza Sativa L.) Pada Cekaman Fe Yang Diberi Serbuk Biji Kelor (Moringa Oleifera Lamk.) Di Kultur Hara yang ditujukan sebagai salah satu syarat untuk memenuhi gelar Sarjana di Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih
kepada Dr.Khairunnisa Lubis,SP.,MP selaku ketua pembimbing dan Dr. Diana Sofia Hanafiah,SP.,MP selaku anggota pembimbing yang telah banyak
membantu memberikan saran, petunjuk dan bimbingan dalam menyelesaikan skripsi ini serta kepercayaan kepada penulis mulai dari penetapan judul, pelaksanaan penelitian sampai pada ujian skripsi, serta Dr. Ir. Sarifuddin, MP selaku ketua Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara beserta staf pegawainya.
Disamping itu, penulis juga mengucapkan terimakasih kepada kedua
orangtua penulis yang selalu mendukung, mendoakan dan bahkan ikut
berkontribusi saat pelaksanaan penelitian hingga penulisan skripsi ini. Penulis
juga mengucapkan terimakasih kepada teman-teman saya yang telah banyak
membantu saya mulai dari seminar proposal, pelaksanaan penelitian hingga ujian
skripsi yang tidak dapat saya ucapkan satu persatu disini.
v
Penulis sadar bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna menyempurnakan skripsi ini. Akhir kata Penulis mengucapkan terimakasih dan semoga skripsi ini bermanfaat bagi pihak yang membutuhkan.
Medan, Oktober 2021
Penulis
vi DAFTAR ISI
ABSTRAK. ... ..i
ABSTRACT...ii
RIWAYAT HIDUP...iii
KATA PENGANTAR...iv
DAFTAR ISI...vi
DAFTAR TABEL...viii
DAFTAR TABEL...ix
DAFTAR LAMPIRAN...x
PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1
Tujuan Penelitian ... 3
Hipotesis Penelitian ... 3
Kegunaan Penelitian ... 4
TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Padi ... 5
Syarat Tumbuh Tanaman padi ... 7
Tanah ... 7
Iklim ... 8
Varietas Tanaman Padi ... 8
Toksisitas Besi (Fe) ... 11
Kultur Hara ... 12
Biji Kelor ... 14
BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ... 16
Bahan dan Alat ... 16
Metode Penelitian ... 16
PELAKSANAAN PENELITIAN Pembuatan Larutan. ...21
Penanaman Pada Media Pasir ...21
Persiapan Tempat Media Tumbuh ...21
Pengisian Larutan Cekaman Fe ...21
Pemberian Serbuk Biji Kelor ...22
Pemberian Larutan Nutrisi AB mix ...22
Penanaman pada Media Kultur Hara ...22
vii
Parameter Pengamatan ...23
Tinggi Tanaman (cm) ...23
Jumlah Daun (helai) ...23
Jumlah Anakan Padi ...23
Panjang Akar Relatif (cm) ...23
Bobot Basah Akar (g) ...23
Bobot Basah Tajuk (g) ...23
Bobot Kering akar (g) ...24
Bobot Kering Tajuk (g) ...24
Volume Akar (cm) ...24
Diameter Sebaran Akar (cm)...24
Jumlah Cabang Akar ...24
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Sidik Ragam Gabungan Karakter Amatan di Kultur Hara. ...26
Pengaruh Varietas dan Media Cekaman Fe ...27
Pengaruh Interaksi Antara Varietas dengan Media Cekaman Fe ...30
Penampilan Morfologi Tajuk dan Akar pada Beberapa Varietas Tanaman Padi ... 37
Pendugaan Parameter Genetik ...41
Heritabilitas ...41
Analisis Korelasi antar Karakter ...43
Pembahasan. ...45
Pengaruh Varietas pada Pertumbuhan Tanaman Padi pada Media Kultur Hara yang diberi Serbuk Biji Kelor ...45
Pengaruh Media Cekaman Fe Terhadap Pertumbuhan Tanaman Padi pada Media Kultur Hara yang diberi Serbuk Biji Kelor ...46
Pengaruh Interaksi Varietas dan media cekaman Fe Terhadap Pertumbuhan Tanaman Padi di Kultur Hara yang diberi Serbuk Biji Kelor ...50
Heritabilitas...54
Korelasi Antar Karakter ...56
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ...58
Saran ...58
DAFTAR PUSTAKA
viii
DAFTAR TABEL
No. Hal
1. Sidik Ragam RPT (Rancangan Petak Terbagi) Dua Faktor ... 18
2. Sidik Ragam 2 faktor gabungan karakter amatan di kultur hara ... 26
3. Pengaruh varietas dan media cekaman Fe pada karakter tinggi tanaman, panjang akar, anakan, jumlah daun, volume akar, diameter sebaran akar dan jumlah Cabang akar ... 27
4. Pengaruh varietas dan media cekaman Fe pada karakter bobot basah tajuk, bobot kering ajuk, bobot basah akar dan bobot kering akar ... 29
5. Interaksi antara varietas dan media cekaman Fe pada karakter jumlah anakan ... 30
6. Interaksi antara varietas dan media cekaman Fe pada karakter volume akar... 31
7. Interaksi varietas dan media cekaman Fe pada karakter jumlah cabang akar ... 32
8. Interaksi varietas dan media cekaman Fe pada karakter bobot basah tajuk ... 33
9. Interaksi varietas dan media cekaman Fe pada karakter bobot basah akar ... 34
10. Interaksi varietas dan media cekaman Fe pada karakter bobot kering tajuk ... 35
11. Interaksi varietas dan media cekaman Fe pada karakter bobot kering akar ... 36
12. Nilai heritabilitas dan KKG ... 41
13. Analisis korelasi antar karakter ... 44
ix
DAFTAR GAMBAR
No. Hal 1. Perbedaan penampilan tanaman padi varietas limboto pada media kultur hara
tanpa pemberian Fe 0 ppm (V1P0) dan pemberian Fe dengan taraf 150 ppm + serbuk biji kelor (V1P1), 300 ppm + serbuk biji kelor (V1P2) ... 37 2. Perbedaan penampilan tanaman padi varietas inpari 30 pada media kultur hara
tanpa pemberian Fe 0 ppm (V2P0) dan pemberian Fe dengan taraf 150 ppm + serbuk biji kelor (V2P1), 300 ppm + serbuk biji kelor (V2P2) ... 38 3. Perbedaan penampilan tanaman padi varietas sigambiri merah pada media
kultur hara tanpa pemberian Fe 0 ppm (V3P0) dan pemberian Fe dengan taraf 150 ppm + serbuk biji kelor (V3P1), 300 ppm + serbuk biji kelor (V3P2) ... 39 4. Perbedaan penampilan tanaman padi varietas sigambiri putih pada media
kultur hara tanpa pemberian Fe 0 ppm (V4P0) dan pemberian Fe dengan taraf 150 ppm + serbuk biji kelor (V4P1), 300 ppm + serbuk biji kelor
(V4P2) ... 40
x
DAFTAR LAMPIRAN
No. Hal
1. Bagan penelitian ...63
2. Jadwal pelaksanaan penelitian ...64
3. Deskripsi varietas padi ...65
3.1Deskripsi varietas inpari 30 ...65
3.2Deskripsi varietas sigambiri merah ...66
3.3 Deskripsi varietas sigambiri putih ...67
3.4 Deskripsi varietas Limboto ... 68
4. Data pengamatan tinggi tanaman 4 MST ... 69
5. Data pengamatan panjang akar 4 MST ... 70
6. Data pengamatan anakan 4 MST ...71
7. Data pengamatan jumlah daun 4 MST ... 72
8. Data pengamatan volume akar 4 MST ... 73
9. Data pengamatan diameter sebaran akar 4 MST ... 74
10. Data pengamatan jumlah cabang akar 4 MST ... 75
11. Data pengamatan bobot basah tajuk 4 MST ... .76
12. Data pengamatan bobot kering tajuk 4 MST ...77
13. Data pengamatan bobot basah akar 4 MST ... 78
14. Data pengamatan bobot kering akar 4 MST ... 79
15. Foto penelitian ... 80
16 Foto tanaman per ulangan ...81
17. Foto supervisi online bersama dosen pembimbing ... 82
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Padi merupakan komoditas tanaman pangan penghasil beras yang memegang peranan penting dalam kehidupan ekonomi Indonesia Beras merupakan sebagai makanan pokok yang sangat sulit digantikan oleh bahan pokok lainnya diantaranya jagung, umbi-umbian, sagu dan sumber karbohidrat lainnya, sehingga keberadaan beras menjadi prioritas utama masyarakat dalam memenuhi kebutuhan asupan karbohidrat yang dapat mengenyangkan dan merupakan sumber karbohidrat utama yang mudah diubah menjadi energi. Padi sebagai tanaman pangan dikonsumsi kurang lebih 90% dari keseluruhan penduduk Indonesia untuk makanan pokok sehari-hari (Saragih,2001)
Produksi padi di Indonesia tahun 2019 bekisar 54,60 ton sedangkan pada
tahun 2020 dari Januari hingga desember 2020 jika dikonversikan menjadi beras
dengan angka konversi GKG (Gabah Kering Giling) ke beras tahun 2020 setara
dengan 54,65 juta ton beras, sehingga meningkat sebesar 45,17 ribu ton (0,08
persen) dibandingkan 2019. Jika dibandingkan antara bulan yang sama di tahun
yang berbeda, peningkatan produksi tertinggi terjadi pada bulan Mei 2020, yaitu
sekitar 1,86 juta ton dibandingkan produksi pada Mei 2019. Penurunan produksi
padi yang cukup signifikan terjadi pada bulan Maret 2020, yaitu sebesar 2,87 juta
ton dibandingkan produksi padi pada Maret 2019. Produksi padi tertinggi 2020
terjadi pada bulan April, yaitu mencapai 9,77 juta ton dan produksi terendah
terjadi pada Januari, yaitu sebesar 1,62 juta ton. Hal ini berbeda dengan tahun
2019, di mana produksi padi tertinggi terjadi pada bulan Maret, yaitu sebesar 9,17
juta ton, sementara produksi terendah terjadi pada bulan Desember, yaitu sebesar 1,70 juta ton. Jika produksi padi dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, produksi padi tahun 2020 setara dengan 31,33 juta ton beras, atau meningkat sebesar 21,46 ribu ton (0,07 persen) dibandingkan dengan produksi beras tahun 2019 diperkirakan sebesar 31,31 juta ton. (BPS 2020).
Lahan sawah cenderung berkurang akibat adanya alih fungsi lahan dengan laju rata-rata 1,0-1,5% atau sekitar 75-90 ribu ha per tahun yang tidak terimbangi oleh pencetakan sawah baru. Bahkan 42% lahan sawah irigasi terancam beralih fungsi menjadi lahan perkebunan yang mengalami perluasan areal yang cukup pesat dalam 20 tahun terakhir, yaitu dari 8,77 juta ha pada tahun 1986 menjadi 18,5 juta ha pada tahun 2006 (BBSDLP, 2008).
Alih fungsi lahan menyebabkan terjadinya pergeseran lahan tanam padi.
Pergeseran lahan tanam tersebut mengarah ke lahan-lahan marginal, salah satunya lahan masam. Keracunan besi pada padi selain disebabkan tingginya kadar besi dalam larutan tanah juga dapat disebabkan oleh faktor lingkungan seperti ketidakseimbangan, hara tanah selalu tergenang (Sahrawat., 2004) dan penggunaan varietas yang peka seperti IR 64 (Suhartini dan Makarim, 2009).
Keracunan besi terjadi karena penyerapan unsur Fe+
2yang melebihi 300 ppm
(Yamauchi dan Peng, 1995) yang berakibat terganggunya beberapa proses
metabolisme dalam tanaman (Bode et al., 1995). Gejala keracunan besi beragam
diantara genotipe padi, dan umumnya adalah adanya bercak coklat keunguan dari
daun yang diikuti dengan pengeringan (Peng dan Yamauchi, 1993). gejala
keracunan besi pada tanaman ditunjukkan dengan menurunnya tinggi tanaman,
berkurangnya anakan, dan berkurangnya klorofil tanaman (Fageria et al, 2008).
Penggunaan biji kelor sebagai biokoagulan untuk mengurangi Fe, serta menjernihkan air. Biji kelor juga terbukti dapat digunakan sebagai koagulan dalam menurunkan kadar besi karena memiliki kandungan protein kationik yang mengandung zat aktif 4-alfa4-rhamon-siloxy-benzil-isothicyanate, serta sebagai koagulan dalam menurunkan kadar ion besi dan mangan dalam air (Srawaili, 2007). Penurunan kadar logam paling besar terjadi pada konsentrasi serbuk biji kelor sebanyak 30 gram dengan waktu yaitu selama 20 menit bahwa semakin besar kadar serbuk biji kelor yang diberikan maka akan semakin besar pula luas permukaan serbuk biji kelor dalam menyerap logam timbal dalam air, sehingga penurunan konsentrasi logam timbal akan menurun sesuai dengan banyaknya kadar serbuk biji kelor yang diberikan atau diaplikasikan (Nugroho, et al. 2014).
Tujuan penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui respon pertumbuhan beberapa varietas tanaman padi (Oryza sativa L.) terhadap cekaman Fe yang diberi perlakuan serbuk biji kelor (Moringa oleifera Lamk.) di kultur hara.
Hipotesis Penelitian
- Adanya perbedaan pertumbuhan varietas tanaman padi pada media cekaman Fe yang ditambahi serbuk biji kelor di kultur hara.
- Adanya pengaruh cekaman Fe pada varietas padi kultur hara yang ditambahi serbuk biji kelor.
- Adanya interaksi beberapa varietas tanaman padi terhadap cekaman Fe
yang ditambahin serbuk biji kelor di kultur hara.
Kegunaan Penelitian
Kegunaan penulisan yang dilakukan adalah sebagai salah satu syarat untuk
mendapatkan gelar sarjana di Program Studi Agroteknologi Fakultas
Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dan sebagai bahan informasi bagi
pihak yang membutuhkan.
TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman
Menurut Van Steenis (1978) klasifikasi tanaman padi (Oryza sativa L.)dalam taksonomi adalah Kingdom: Plantae, Divisi: Spermatophyta, sub Divisi:
Angiospermae, Class: Monocotyledonae, Ordo: Graminales, Famili: Graminaceae Genus: Oryza,Spesies : Oryza sativa L.. Genus Oryza termasuk kecil, hanya sekitar 25 spesies, di mana 23 adalah spesies liar dan dua yang banyak dibudidayakan yaitu Oryza sativa L. dan Oryza glaberrima Steud (Vaughan et al, 2003).
Padi merupakan tanaman semusim dengan sistem perakaran serabut.
Terdapat dua macam perakaran padi yaitu akar seminal yang tumbuh dari akar primer radikula pada saat berkecambah dan akar adventif sekunder yang bercabang dan tumbuh dari buku batang muda bagian bawah. Akar adventif tersebut menggantikan akar seminal. Perakaran yang dalam dan tebal, sehat, mencengkeram tanah lebih luas serta kuat menahan kerebahan memungkinkan penyerapan air dan hara lebih efisien terutama pada saat pengisian gabah (Suardi,2002).
Batang padi berbentuk bulat, berongga dan beruas-ruas. Antar ruas
dipisahkan oleh buku. Ruas-ruas sangat pendek pada awal pertumbuhan dan
memanjang serta berongga pada fase reproduktif. Pembentukan anakan
dipengaruhi oleh unsur hara, cahaya, jarak tanam dan teknik budidaya. Batang
berfungsi sebagai penopang tanaman, mendistribusikan hara dan air dalam 6
tanaman dan sebagai cadangan makanan. Kerebahan tanaman dapat menurunkan
hasil tanaman secara drastis. Kerebahan umumnya terjadi akibat melengkung atau
patahnya ruas batang terbawah, yang panjangnya lebih dari 4 cm (Makarim danSuhartatik, 2009).
Daun padi tumbuh pada batang dan tersusun berselang-seling pada tiap buku. Tiap daun terdiri atas helaian daun, pelepah daun yang membungkus ruas, telinga daun (auricle) dan lidah daun (ligule). Daun teratas disebut daun bendera yang posisi dan ukurannya tampak berbeda dari daun yang lain. Satu daun pada awal fase tumbuh memerlukan waktu 4-5 hari untuk tumbuh secara penuh, sedangkan pada fase tumbuh selanjutnya diperlukan waktu yang lebih lama, yaitu 8-9 hari. Jumlah daun pada tiap tanaman bergantung pada varietas.
Varietasvarietas baru di daerah tropis memiliki 14-18 daun pada batang utama (Makarim dan Suhartatik, 2009).
Malai terdiri atas 8-10 buku yang menghasilkan cabang-cabang primer yang selanjutnya menghasilkan cabang sekunder. Tangkai buah (pedicel) tumbuh dari buku-buku cabang primer maupun cabang sekunder (Yoshida, 1981).
Bunga padi secara keseluruhan disebut malai. Tiap unit bunga pada malai dinamakan spikelet yaitu bunga yang terdiri atas tangkai, bakal buah, lemma, palea, putik, dan benang sari serta beberapa organ lainnya yang bersifat inferior.
Tiap unit bunga pada malai terletak pada cabang-cabang bulir yang terdiri atas
cabang primer dan sekunder. Tiap unit bunga padi pada hakekatnya adalah floret
yang hanya terdiri atas satu bunga, yang terdiri atas satu organ betina (pistil) dan
enam organ jantan (stamen). Stamen memiliki dua sel kepala sari yang ditopang
oleh tangkai sari berbentuk panjang, sedangkan pistil terdiri atas satu ovul yang
menopang dua stigma (Makarim dan Suhartatik, 2009).
Gabah terdiri atas biji yang terbungkus oleh sekam. Bobot gabah beragamdari 12-44 mg pada kadar air 0%, sedangkan bobot sekam rata-rata adalah 20%bobot gabah. Perkecambahan terjadi apabila dormansi benih telah dilalui. Benihtersebut berkecambah apabila radikula telah tampak keluar
menembus koleorhizadiikuti oleh munculnya koleoptil yang membungkus daun (Yoshida, 1981).
Pertumbuhan tanaman padi dibagi dalam tiga fase, yaitu fase vegetatif (awal pertumbuhan sampai pembentukan bakal malai/primordial), fase generatif/reproduktif (primordial sampai pembungaan), dan fase pematangan (pembungaan sampai gabah matang). Fase vegetatif merupakan fase pertumbuhan organ-organ vegetatif, seperti pertambahan jumlah anakan, tinggi tanaman, bobot, dan luas daun. Lama fase reproduktif untuk kebanyakan varietas padi di daerah tropis umumnya 35 hari dan fase pematangan sekitar 30 hari. Perbedaan masa pertumbuhan ditentukan oleh lamanya fase vegetatif. Varietas IR64 matang dalam 110 hari mempunyai fase vegetatif 45 hari, sedangkan IR8 yang matang dalam 130 hari fase vegetatifnya 65 hari (Makarim dan Suhartatik, 2009).
Syarat Tumbuh Tanah
Padi biasa ditanam pada lahan kering dataran rendah, sedangkan pada
areal yang lebih terjal dapat ditanami di antara tanaman keras. Tanaman padi
dapat tumbuh pada berbagai tipe tanah. Reaksi tanah (pH) optimum berkisar
antara 5,5-7,5. Permeabilitas pada sub horison kurang dari 0,5 cm/jam (BPTP
Aceh, 2009).
Tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman padi adalah tanah sawah yang kandungan fraksi pasir, debu, lempungdalam perbandingan tertentu dan air dalam jumlah yang cukup. Padi dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang ketebalan lapisan atasnya antara 18–22 cm dengan pH antara 4–7 (Siswoputranto, 1996).
Iklim
Tanaman padi dapat tumbuh dengan baik di daerah tropis maupun subtropispada 45°LU sampai 45°LS, cuaca panas dan kelembaban tinggi dengan musim hujan 4 bulan. Curah hujan yang baik, rata-rata 200 mm per bulan atau 1.500 - 2.000 mm/tahun, dengan distribusi selama 4 bulan. Suhu optimum untuk pertumbuhan tanaman padi adalah 23 °C dan ketinggian tempat yang cocok untuk tanaman padi berkisar antara 0–1500 m dpl (Siswoputranto, 1996).
Pada lahan basah (sawah irigasi), curah hujan bukan merupakan faktor pembatas tanaman padi, tetapi pada lahan kering tanaman padi membutuhkan curah hujan yang optimum >1.600 mm/tahun. Padi gogo memerlukan bulan basah yang berurutan minimal 4 bulan. Bulan basah adalah bulan yang mempunyai curah hujan >200 mm dan tersebar secara normal atau setiap minggu ada turun hujan sehingga tidak menyebabkan tanaman stress karena kekeringan. Suhu yang optimum untuk pertumbuhan tanaman padi berkisar antara 24 – 29
oC (BPTP Aceh,2009).
Varietas Padi
Tanaman padi pada varietas Sigambiri Putih merupakan golongan indica
(cere). Memiliki umur pada di dataran rendah 110-114 hari dan pada dataran
tinggi 159- 163 hari, memiliki bentuk yang tegak dan tinggi ±140 cm. Memiliki
anakan produktif 11-13 batang, Batang padi bewarna hijau, ketebalan : ±0.8 cm dan warna batang tanpa malai ±124 cm. Daun padi biasanya bewarna hijau, warna tepi daunnya hijau tua, permukaannya kasar, panjang ±68 cm dan lebar ±1.8 cm.
Padi mempunyai warna lidah coklat susu dengan bentuk lidah tumpul, warna telinga hijau kekuningan dan posisi daun bendera agak tegak. Leher malai pendek dengan tipe malai terbuka dan merunduk, panjang malai sekitar 25-26 cm. Pada umumnya tanaman padi Sigambiri Putih 50% berbunga di dataran rendah umur 90 hari dan di dataran tinggi ±124 hari. Padi varietas Sigambiri Putih mempunyai Gabah berukuran medium dengan panjang ±0.76 cm dan lebar ±0.32 cm. Bobot padi 1000 butir gabah ±27 gr; beras Sigambiri Putih berukuran medium, dengan panjang beras ±0.7 cm dan lebar ±0.3 cm. Warna beras padi Sigambiri Putih pada umumnya agak putih/kecoklatan. Potensi hasil padi Sigambiri Putih mencapai 4.53 t/ha dan mempunyai kadar amilosa sekitar 26.88%. Ketinggian tempat tanaman padi varietas Sigambiri Putih sampai 1300 mdpl dengan toleran suhu rendah. Padi varietas Sigambiri Putih mempunyai toleran terhadap keracunan alumunium dan mempunyai tekstur nasi pera. Padi varietas Sigambiri Putih mempunyai ekspresi atau kombinasi genotif (Yusuf, 2014).
Tanaman padi varietas Limboto termasuk golongan indica (cere). Padi
varietas Limboto mempunyai umur berkisar antara 115-125 hari. Padi varietas
Limboto mempunyai bentuk tanaman tegak dengan mempunyai tinggi tanaman
berkisar antara 110-132 cm. Anakan padi varietas Limboto yang berproduktif
memiliki 12-18. Batang padi Limboto bewarna hijau dengan warna daunnya hijau
dan permukaan daunnya kasar. Posisi daun padi Limboto tegak dengan daunnya
yang mendatar. Bentuk gabah pada tanaman padi Limboto adalah bulat besar
dengan warna kuning bergaris kecoklatan. Bobot padi Limboto 1000 butir gabah adalah 28g dengan tekstur nasi sedang dan mempunyai kadar amilosa 24%.
Potensi hasil padi Limboto mencapai 6,0 t/ha dan cocok ditanam pada lahan kering yang subur ddengan ketinggian tempat ± 500 mdpl (Suprihatno dkk, 2009)
Tanaman padi varietas Sigambiri Merah termasuk golongan indica (cere).
Umur padi varietas Sigambiri Merah di dataran rendah berkisar 114-118 hari dan di dataran tinggi 161- 163 hari yang mempunyai bentuk tanaman tegak dengan tinggi ±140 cm. Anakan padi Sigambiri Merah berproduktif sekitar 11-13 batang.
Batang padi sigambiri merah bewarna hijau tua yang mempunyai ketebalan ±0.7 cm dan warna batang tanpa malai ±124 cm. Daun padi Sigambiri Merah bewarna hijau dengan tepi daun hijau tua, permukaannya kasar dengan panjang ±70 cm dan lebar ±1.8 cm. Pada padi Sigambiri Merah mempunyai posisi daun bendera agak tegak dan leher malai pendek dengan tipe malai terbuka dan merunduk. Panjang malai biasamya berkisar 25-27 cm. Padi Sigambiri Merah ketika 50% berbunga didataran rendah berumur ±90 hari dan di dataran tinggi berumur 123 hari; Gabah tanaman padi Sigambiri Merah mempunyai ukuran medium dengan panjang ±0.77 cm dan lebar ±0.34 cm. Bobot padi Sigambiri Merah dengan 1000 butir gabah
±27 gr. Beras Sigambiri Merah berbentuk medium dengan panjang beras ±0.6 cm dan lebar ±0.25 cm. Beras Sigambiri Merah bewarna merah tua, potensi hasil padi Sigambiri Merah mencapai 4.84 t/ha dengan mempunyai kadar amilosa 26.74%.
Ketinggian tempat tanaman padi ini adaptif sampai 1300 mdpl dengan toleran
suhu rendah. Padi Sigambiri Merah mempunyai torelan terhadap keracunan
alumunium dan mempunyai tekstur nasi pera dengan ekspresi atau kombinas
genotif (Yusuf, 2014).
Tanaman padi varietas Inpari 30 termasuk golongan indica (cere). Padi varietas Inpari 30 mempunyai umur berkisar 111 hari dan padi varietas Inpari 30 ini juga mempunyai bentuk tanaman yang tegak dengan mempunyai tinggi tanaman berkisar 101 cm. Padi varietas Inpari 30 memiliki daun bendera yang tegak. Bentuk gabah varietas Inpari 30 berbentuk panjang ramping dan bewarna kuning bersih. Padi varietas Inpari 30 memiliki kerontokan sedang dengan kerabahan sedang. Tekstur nasi padi varietas Inpari 30 pulen yang mempunyai kadar amilosa ± 22,4%. Berat 1000 butir padi varietas Inpari 30 sebesar 27 g dengan rata - rata hasilnya 7,2 t/Ha dan potensi hasilnya 9,6 t/Ha. Padi varietas Inpari 30 mempunyai ketahanan terhadap hama yang agak rentan terhadap wereng batang coklat. Varietas Inpari 30 juga agak rentan terhadap penyakit hawar daun bakteri. Padi varietas Inpari 30 dianjurkan ditanam di sawah irigasi dataran rendah sampai ketinggian 400 m dpl didaerah luapan sungai, cekungan dan rawan banjir (Sasmita dkk, 2019).
Toksisitas Besi Fe
Keracunan besi (Fe) pada padi sawah merupakan kendala utama dalam produksi padi di daerah tropis dan subtropis yang disebabkan tingginya kadar besi larut dalam tanah. Keracunan Fe seringkali terjadi pada tanah Ultisol, Oxisol dan lahan pasang surut sulfat masam dengan kemasaman dan kadar Fe aktif yang tinggi (Sahrawat, 2004).
Gejala toksisitas Fe pada padi hanya terjadi pada kondisi spesifik yaitu
dalam kondisi tergenang. Kondisi reduksi di lahan sawah tergenang menyebabkan
toksisitas Fe melalui pelarutan semua bentuk Fe menjadi bentuk terlarut
(Fe
2+) yang melibatkan mikroba pelarut. Jumlah besi ferro yang tinggi di
dalam larutan tanah juga dapat mengakibatkan terjadinya ketidak seimbangan hara mineral yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman (Audebert, 2006).
Gejala toksisitas Fe beragam di antara genotipe padi, dan umumnya adalah adanya bercak coklat keunguan dari daun yang diikuti dengan pengeringan. Gejala visual yang khas berhubungan dengan proses toksisitas Fe, terutama terjadinya akumulasi polyphenol-teroksidasi yang disebut bronzing atau yellowing pada padi. Karena mobilitas Fe yang rendah dalam tanaman, gejala yang khas dimulai dengan bercak berwarna coklat kemerahan dari daun tua. Bercak berwarna tembaga kemudian meluas ke seluruh daun, perkembangan gejala selanjutnya ujung daun menjadi kuning-jingga kemudian kering dari bagian atas (Peng dan Yamauchi, 1993).
Salah satu dinamika ion yang paling menonjol dalam penggenangan tanah masam adalah kelarutan besi dari ion Fe+
3menjadi Fe+
2yang berpotensi menyebabkan keracunan pada tanaman padi, yang bila tidak terkendalikan dapat menurunkan produksi rata-rata 60%. Perubahan bentuk Fe+
3menjadi Fe+
2terjadi karena adanya perubahan suasana oksidatif menjadi reduktif. Reaksi tersebut melibatkan aktivitas mikroba tanah menstimulasi proses reduksi Fe+
3menjadi Fe+
2, meningkatkan pH, menurunkan Eh, dan terjadi peningkatan ketersediaan P. Reaksi reduksi besi dapat digambarkan berikut ini (Yoshida, 1981).
Fe(OH)
3+ 3H
+Fe
+2+ 3 H
2O Kultur Hara
Tanaman hasil seleksi in vitro, selanjutnya harus diuji sifat toleransinya baik di rumah kaca atau di lapang. Pada umumnya, metode seleksi terhadap Al
Aktifitas mikroba