• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertumbuhan cabai (Capsicum annuum L.) dengan pemberian Gigaspora margarita dan bokashi jerami padi pada tanah gambut

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pertumbuhan cabai (Capsicum annuum L.) dengan pemberian Gigaspora margarita dan bokashi jerami padi pada tanah gambut"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

63

Pertumbuhan cabai (Capsicum annuum L.) dengan pemberian Gigaspora margarita dan bokashi jerami padi pada tanah gambut

Agus Merdekawati1, Riza Linda1, Mukarlina1

1Program Studi Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Tanjungpura, Jl. Prof. Dr. H. Hadari Nawawi, Pontianak,

Email korespondensi: [email protected]

Abstract

Peat soil has nutrient availability which is relatively low and soil acidity which is high and therefore contributes to the growth of hybrid pepper (Capsicum annuum). One of the efforts to improve the growth of hybrid pepper is by using Vesicles Arbuscular Mycorrhizal fungus (VAM) Gigaspora margarita and rice straw bokashi as organic fertilizer. This study aims to determine the growth of hybrid pepper plants on peat soil which is inoculated with VAM fungi and rice straw bokashi. This research had been done from August to November 2013. The findings of MVA inoculated fungi did not significantly affect on the plant height and number of leaves but significantly affect on wet weight, dry weight and the percentage of root infection. The treatment of rice straw bokashi did not significantly affect the plant height, the numbers of leaves and the wet weight but significanty affect on the dry weight and percentage of root infection. The interaction between VAM and rice straw bokashi had no significant effects on all the parameters observed.

The concentrations of VAM fungal inoculation VAM and the treatment of rice straw bokashi showed that the highest influence on each parameter is 15 g and 600 g respectively.

Keywords :Capsicum annuum, Gigaspora margarita, Mycorrhizal, Rice Straw Bokashi

PENDAHULUAN

Cabai hibrida (C.annuum L.) merupakan tanaman hortikultura unggul yang memiliki nilai ekonomis dalam konsumsi rumah tangga maupun keperluan industri makanan. Cabai hibrida memiliki kemampuan adaptasi pada lingkungan di Kalimantan Barat. Lahan di Kalimantan Barat yang berpotensi sebagai lahan pertanian sebagian besar adalah tanah gambut, dengan luas lahan untuk pertanian sekitar 694.714 Ha (Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, 2008).

Permasalahan yang terjadi pada pertanian di lahan gambut adalah ketersediaan unsur hara yang relatif rendah dan kemasaman tanah tinggi sehingga berpengaruh bagi pertumbuhan tanaman.

Alternatif yang digunakan dalam meningkatkan pertumbuhan cabai hibrida adalah dengan menggunakan Mikoriza Vesikula Arbuskula (MVA) dan bokashi jerami padi sebagai pupuk organik yang berperan sebagai sumber unsur hara.

G. margarita memiliki hifa untuk menginfeksi akar membantu dalam menyerap posfor (P) yang tidak tersedia bagi tanaman pada daerah yang

tidak dapat terjangkau oleh akar di tanah dan melindungi perakaran dari serangan patogen.

Gigaspora merupakan salah satu tipe mikoriza vesikular-arbuskular yang memproduksi azygospora dalam tanah sehingga mampu membantu dalam serapan P dalam tanah ke sistem perakaran tanaman (Rao, 1994).

Unsur hara di tanah gambut dapat pula ditingkatkan dengan penambahan pupuk organik yang memanfaatkan bahan organik sebagai bahan pengomposan yaitu jerami padi. Menurut Tata 2000 dalam Nurlenawati et al., 2010 pupuk bokashi jerami padi merupakan hasil pengomposan bahan-bahan organik dari limbah organik jerami padi yang dapat membantu ketersediaan hara, memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kegiatan biologi dan tanah menjadi produktif melalui proses alamiah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan tanaman cabai hibrida (C. annuum L.) di tanah gambut yang diinokulasi dengan jamur MVA G. Margarita dan bokashi jerami padi.

(2)

64 METODE PENELITIAN

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan selama 4 bulan yaitu bulan Agustus hingga November 2013. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi, Rumah Kasa Laboratorium Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dan Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak.

Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan 2 faktor perlakuan Faktor pertama yaitu G. margarita dengan konsentrasi 0, 5, 10 dan 15 g/polibag. Faktor kedua yaitu bokashi jerami padi dengan konsentrasi 0, 200, 400 dan 600 g/polibag. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali sehingga diperoleh 48 unit perlakuan.

Cara Kerja

Pembuatan Bokashi Jerami Padi

EM4 (Effective Microorganism) 250 ml dan gula pasir 250 g dilarutkan ke dalam 25 liter air. Jerami padi 25 kg dipotong ukuran ±5 cm dicampur merata dengan pupuk kandang sapi10 kg, sekam 2,5 kg dan dedak 5 kg. Campuran bahan disiram dengan larutan EM4 dan gula sampai kandungan air campuran mencapai 50 % (Syahbandi, 2002).

Campuran ditutup rapat dengan karung goni selama 2 minggu dengan kondisi suhu dipertahankan agar tidak lebih dari 50oC dan dikontrol setiap hari, apabila suhu lebih dari 50oC karung penutup dibuka lalu campuran dibolak- balik. Pengomposan yang telah matang diamati sesuai dengan standar kualitas kompos (Habibi, 2008; Mariana 2005; SNI 19-7030-2004).

Persiapan Media Penyemaian

Tanah gambut dicampur pupuk kandang dan pasir dengan perbandingan 2:1:1, diayak hingga diperoleh campuran yang halus. Media semai ditambah furadan dan disiram dengan air hingga media menjadi agak basah. Media semai dimasukkan ke dalam akua gelas. Benih yang siap disemai sebanyak 2 biji diratakan pada media dengan kedalaman 1 cm, dan ditutup dengan media semai (Prajnanta, 1994). Media disiram dengan air menggunakan sprayer. Penyemaian dilakukan selama 21 hari. Bibit yang memiliki 4 helaidaun dan tinggi 15 cm siap dipindahkan pada media tanam (Hamid, 2011).

Persiapan Media Tanam

Tanah gambut diambil pada kedalaman 0-20 cm dibeberapa titik dan dikompositkan, serta dikering anginkan. Tanah diayak menggunakan ayakan kawat berdiameter 5 mm dan dimasukkan ke dalam polibag berukuran 50x50 cm sebanyak 8 kg/polibag dicampur bokashi jerami padi dengan konsentrasi sesuai perlakuan, ditambahkan kapur dolomit 273 g berdasarkan perhitungan kebutuhan kapur/polibag dan diaduk hingga rata. Campuran media ditempatkan kembali dalam polibag dan diinkubasi selama 2 minggu pada suhu 29oC.

Jamur G. margarita diberikan sesuai dengan perlakuan dengan cara disebar ratakan pada media tanam dengan kedalaman 5 cm dari permukaan tanah, kemudian ditutup kembali dengan media tanam dan diinkubasi selama 1 minggu pada suhu 29oC.

Pemindahan Bibit

Pemindahan bibit ke media tanam dilakukan pada pagi hari pukul (06.30-09.30 WIB) atau sore hari pukul (16.30-18.00 WIB). Satu polibag berisi satu tanaman cabai. Penyiraman dilakukan 2 kali sehari yaitu pagi (07.00-08.00 WIB) dan sore (17.00- 18.00 WIB). Penanggulangan gulma dilakukan dengan cara manual dengan mencabut gulma- gulma disekitar tanaman (Sriyati, 2005)

Pembuatan Preparat dan Perhitungan Infeksi Akar

Akar tanaman cabai yang muda dari masing- masing perlakuan dicuci dengan air mengalir.

Akar dimasukkan ke dalam gelas beker dicuci dengan hipoklorit selama 5 menit dan dibilas dengan akuades. Akar direndam dengan KOH 10% dan dipanaskan dengan hotplate pada temperatur 60oC selama 2 jam sampai berwarna putih kemudian akar dibilas beberapa kali dengan akuades sampai bersih dari larutan KOH 10%.

Akar direndam dengan larutan HCl 2% selama 5 menit. Akar dibilas dengan akuades dan dikeringkan dengan kertas saring dalam cawan petri dan dimasukkan dalam gelas beker.

Pewarnaan dilakukan dengan merendam akar dalam larutan Trypan blue sampai warna biru tampak terserap pada akar (± 10 menit). Akar yang telah terendam dicuci menggunakan larutan Lactoglycerol selama ± 15 menit. Akar dipotong

±1 cm dan disusun sebanyak 3 kelompok , setiap kelompok terdiri dari 10 potong akar, kemudian diletakkan di gelas objek, ditutup dengan kaca penutup dan diamati di bawah mikroskop (Kormanik dan Mc. Graw 1982 dalam Kembario 2011).

(3)

65 Persentase akar yang terinfeksi dihitung dengan

rumus :

Jumlah akar yang terinfeksi

Jumlah seluruh akar yang diamati 100 %

Tingkat infeksi akar berdasarkan kriteria yang diamati menurut The Institut Of Mycorrhizal Research and Development, USDA Forest Service dalam Novisa (2006), yang terdiri dari 5 kelas yaitu:

1. Kelas 1, bila infeksi 0 % - 5 % (sangat rendah)

2. Kelas 2, bila infeksi 6 % - 25 % (rendah) 3. Kelas 3, bila infeksi 26 % - 50 % (sedang) 4. Kelas 4, bila infeksi 51 % - 75 % (tinggi) 5. Kelas 5, bila infeksi 76 % - 100 % (sangat

tinggi)

Parameter Pengamatan

Pengamatan dilakukan pada waktu awal masa generatiftanaman atau 48 hari setelah tanam (HST). Parameter pertumbuhan yang diamati yaitutinggi tanaman (cm), jumlah daun, berat basah tanaman (g), berat kering tanaman (g) serta infeksi akar oleh jamur mikoriza (%). Selain itu, parameter lingkungan juga diukur yaitu suhu udara, kelembapan udara, analisis tanah, dan analisis bokashi jerami padi.

Analisis Data

Data pertumbuhan dianalisis dengan ANAVA taraf uji 5% menggunakan SPSS 18. Bila terdapat pengaruh nyata paling tidak satu faktor utama dilanjutkan dengan Uji Duncan pada taraf uji 5%

(Gaspers, 1991).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Analisis Tanah Gambut dan Bokashi Jerami Padi Hasil analisis tanah yang digunakan sebagai media tanam dalam penelitian disajikan dalam Tabel 1.

Tabel 1. Analisis Tanah Gambut Sebelum Penanaman

Parameter Hasil Analisis

pH H2O 3,82

pH KCL 2,76

C-Organik (%) 50,53

N-Total (%) 1,07

P2O5 (ppm) 329, 59

Kalium (cmol (+) kg-1) 1,96 Kalsium (cmol (+) kg-1) 1,72 Mg (cmol (+) kg-1) 0,49 KTK (cmol (+) kg-1) 106,11

Hasil analisis bokashi jerami padi sebagai pupuk organik disajikan dalam Tabel 2.

Tabel 2. Analisis Bokashi Jerami Padi

Parameter Hasil Analisis

Ph 7,11

C-Organik (%) 36,16

N-Total (%) 1,82

Rasio C/N 19,88

Fosfor (%) 0,85

Kalium (%) 1,30

Kalsium (%) 0,29

Magnesium (%) 0,10

Tinggi Tanaman dan Jumlah Daun Cabai Hibrida Parameter tinggi tanaman dengan pemberian inokulan jamur Mikoriza Vesikula Arbuskula (MVA) G. Margarita tidak berpengaruh nyata (F3,32=0,814, p=0,496) dan bokashi jerami padi menunjukkan hasil tidak berpengaruh nyata (F3,32=2,522, p=0,075). Interaksi antara keduanya menunjukkan hasil tidak berpengaruh nyata (F9,32=0,393, p=0,930). Parameter jumlah daun yang diinokulasi jamur MVA menunjukkan hasil tidak berpengaruh nyata (F3,32=0,915, p=0,445), pemberian bokashi jerami padi menunjukkan hasil tidak berpengaruh nyata (F3,32=0,820, p=0,493) dan interaksi antara keduanya menunjukkan hasil tidak berpengaruh nyata (F9,32=1,252, p=0,300).

Berat Basah dan Berat Kering Cabai Hibrida Perlakuan inokulasi jamur MVA G. Margarita menunjukkan hasil yang berbeda nyata terhadap berat basah tanaman cabai hibrida (F3,32=14,376, p=0,001). Konsentrasi 15 g tidak berbeda nyata dengan konsetrasi 10 g namun berbeda nyata dengan konsentrasi 0 g dan 5 g (Tabel 3). Hasil tidak berbeda nyataterhadap berat basah tanaman cabai hibrida ditunjukkan pada pemberian bokashi jerami padi (F3,32=1,194, p= 0,328) dan interaksi antara kedua perlakuan (F9,32=1,143, p=0,363).

Tabel 3. Rerata Berat Basah Tanaman Cabai Hibrida (g) Dengan Perlakuan Inokulasi Jamur MVA Taraf faktor G. Margarita Berat Basah Tanaman

0 g 59,61a

5 g 65,55a

10 g 89,14b

15 g 96,77b

Keterangan: angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata menurut Uji Duncan pada taraf 5%.

Inokulasi jamur MVA G. Margarita menunjukkan hasil yang berbeda nyata pada berat kering

(4)

66 tanaman cabai hibrida (F3,32=18,04, p=0,001),

inokulasi MVA G. margarita konsentrasi 15 g tidak berbeda nyata dengan konsentrasi 10 g dan berbeda nyata dengan konsentrasi 0 g dan 5 g (Tabel 4). Pemberian bokashi jerami padi menunjukkan hasil yang berbeda nyata terhadap berat kering tanaman (F3,32=4,085, p=0,015), pemberian bokashi jerami padi pada konsentrasi 15 g berbeda nyata dengan konsentrasi 0 g, 200 g, dan 400 g (Tabel 5), sedangkan interaksi keduanya menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata (F9,32=4,085, p>0,005).

Tabel 4. Rerata Berat Kering Cabai Hibrida (g) Dengan Perlakuan Inokulasi JamurMVA

Taraf faktor G. Margarita Berat Kering

0 g 7,4458a

5 g 8,3917b

10 g 9,5608c

15 g 10,1508c

Keterangan: angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata menurut Uji Duncan pada taraf 5%.

Tabel 5. Rerata Berat Kering Cabai Hibrida (g) Dengan Perlakuan Bokashi Jerami Padi

Taraf faktor Bokashi Berat Kering

0g 8,4358a

200 g 8,6017a

400 g 8,7917a

600 g 9,7200b

Keterangan: angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata menurut Uji Duncan pada taraf 5%.

Persentase Infeksi Akar

Inokulasi jamur MVA G. Margarita menunjukkan hasil berbeda nyata untuk persentase infeksi akar (F3,32=44,133, p=0,001), perlakuan inokulasi jamur MVA dengan konsentrasi 15 g tidak berbeda nyata konsentrasi 10 gdan berbeda nyata dengan konsentrasi 0 g dan 5 g (Tabel 6).

Pemberian bokashi jerami padi menunjukkan hasil yang berbeda nyata pada persentase infeksi akar (F3,32=5,997, p=0,002). Konsentrasi bokashi 600 g berbeda nyata dengan konsentrasi 0 g, 200 g, dan 400 g(Tabel 7). Interaksi antara inokulasi MVA dan pemberian bokashi jerami padi menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata (F9,32=1,576, p=0,165).

Tabel 6. Rerata Persentase Infeksi Akar Cabai Hibrida (%) Dengan Perlakuan Inokulasi JamurMVA Taraf faktor G. Margarita Persentase infeksi akar

0 g 8,75a

5 g 13,41b

10 g 19,33c

15 g 19,75c

Keterangan: angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata menurut Uji Duncan pada taraf 5%.

Tabel 7. Hasil Rata-rata Persentase Infeksi Akar Cabai Hibrida (%) Dengan Perlakuan Bokashi Jerami Padi

Taraf faktor Bokashi Persentase infeksi akar

0g 13,91a

200 g 14,41a

400 g 14,75a

600 g 18,17b

Keterangan: angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata menurut Uji Duncan pada taraf 5%.

Pembahasan

Pemberian inokulan jamur MVA dan bokashi jerami padi dengan konsentrasi 5 g, 10 g, dan 15 g menunjukkan hasil yang tidak berbeda terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun. Pemberian jamur MVA dan bokashi jerami padi diduga belum mampu memicu pertumbahan sel pada meristem pucuk dan primordia daun. Kondisi ini dapat disebabkan kandungan N-Total tanah gambut dan bokashi jerami padi sangat rendah <2% (Tabel 1).

Menurut Buckman & Brady (1982), nitrogen dibutuhkan tanaman untuk merangsang pembentukan dan pertumbuhan vegetatif tanaman seperti daun dan tinggi tanaman. Hasil penelitian Gunadi dan Subhan (2007) menunjukkan bahwa pada tanaman tomat yang diinokulasi jamur MVA memiliki hasil yang sama yaitu tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun.

Berat basah tanaman yang diinokulasi jamur MVA G. Margarita dengan konsentrasi 15 g sebesar 96,77 g memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan konsentrasi lainnya (Tabel 6). Berat basah tanaman berhubungan erat dengan penyerapan air dan unsur hara yang diserap oleh akar tanamanyang digunakan proses fotosintesis. Muin et al., (2002) menyatakan tanaman yang bersimbiosis dengan jamur MVA akan mampu menyerap air dan hara yang lebih baik sehingga laju fotosintesis akan meningkat dan fotosintat yang dihasilkan akan meningkat pula.

Pemberian bokashi jerami padi tidak memberikan pengaruh nyata terhadap berat basah tanaman yang diduga karena tingginya C-organik tanah gambut sebesar 50,53% (Tabel 1) dan C-organik bokashi jerami padi sebesar 36,16% (Tabel 2).

Tanah gambutyang nilai C-organiknya tinggi akan menyebabkan laju dekomposisi tanah menjadi lambat sehingga akar akan menyerap air dalam jumlah yang besar. Menurut Sarief 1986 dalam Suriyani 2012, tanah gambut kandungan C total dan C/N yang tinggi akan membuat dekomposisi tanah yang lambat dan membuat kondisi tanah

(5)

67 menjadi lembab sehingga tanaman akan kelebihan

air dan dapat berpengaruh terhadap tanaman.

Berat kering tanaman menunjukkan dari banyaknya unsur hara yang diserap persatuan biomassa dan bahan organik yang dihasilkan dari fotosintesis. Rerata berat kering tanaman tertinggi jamur MVA diperoleh pada konsentrasi 15 g yaitu 10,15 g (Tabel 4). Idwar dan Ali (2000) menyatakan bahwa inokulasi jamur MVA berpengaruh terhadap berat kering tanaman karena jamur MVA mempunyai hifa-hifa yang berasosiasi dengan perakaran tanaman sehingga pengambilan unsur hara menjadi lebih baik.

Pemberian bokashi jerami padi konsentrasi 600 g memberikan nilai yang tertinggi untuk berat kering tanaman sebesar 9,72 g (Tabel 5).

Peningkatan ketersediaan hara akan berpengaruh terhadap peningkatan serapan hara sehingga peningkatan bobot biomassa tanaman akan menjadi baik (Blair, 1993).

Persentase infeksi akar pada konsentrasi 15 gr perlakuan inokulasi jamur MVA memberikan nilai yang tertinggi yaitu 19,75% (Tabel 6). Jamur MVA yang diberikan akan menginfeksi perakaran pada tanaman sehingga hifa-hifa yang berasosiasi dengan perakaran tanaman akan membantu dalam penyerapan unsur hara. Menurut Hanfiah 2009 dalam Sagala 2013, prinsip kerja mikoriza yaitu menginfeksi perakaran tanaman inang dengan memproduksi jalinan hifa sehingga tanaman yang mengandung mikoriza meningkatkan penyerapan unsur hara. Perlakuan kontrol menunjukkan persentase akar yang terinfeksi oleh jamur MVA, ini dapat disebabkan adanya jamur MVA yang berasal dari media sehingga menyebabkan akar terinfeksi. Penelitian Sancayaningsih et al., (2000) menujukkan bibit jagung yang dinokulasi jamur MVA pada perlakuan kontrol terdapat persentase infeksi akar sebesar 8,9%.

Faktor lingkungan yang mendukung pertumbuhan tanaman yaitu suhu udara, kelembapan udara dan pH. Faktor lingkungan untuk suhu udara selama penelitian berkisar antara 24-35oC. Suhu ini masih termasuk dalam suhu yang optimal. Menurut Hamid (2011), pertumbuhan cabai hibrida memerlukan suhu optimal adalah 24-28oC.

Kelembapan udara dan pH saat penelitian berkisar antara 86-92% dan 6-7 yang optimal untuk pertumbuhan cabai hibrida. Nurlenawati et al., (2010) menyatakan kelembapan udara yang optimal untuk pertumbuhan tanaman adalah 75%.

DAFTAR PUSTAKA

Balai Besar Litbang SDLP (Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, 2008,Laporan Tahunan, Konsorsium Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim pada Sektor Pertanian. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, Bogor

Blair G.J, 1993, Plant Nutrition, University of New England, New England

Buckman H.O & Brady N.C, 1982, Ilmu Tanah, Terjemahan Prof. dr. Soegiman, Bhratara Karya Aksara, Jakarta

Gaspers, 1991, Metode Perancangan Percobaan, CV Armico, Bandung

Gunadi N & Subhan, 2007, “Respons Tanaman Tomat Terhadap Penggunaan Jamur Mikoriza Di Lahan Marjinal”, Hortikultural, vol.17, no.2, hal 138-

149, diakses 28 Juni 2014

<http://hortikultural.litbang.deptan.go.id/jurnal_

pdf/172/gunadi_tomat.pdf>

Habibi L, 2008, Pembuatan Pupuk Kompos Dari Limbah Rumah Tangga, Titian Ilmu, Bandung Hamid A, 2011, Bertanam Cabai Hibrida, Agromedia

Pustaka, Jakarta

Idwar &Ali M, 2000, “Pengaruh Mikoriza Vesikular Arbuskular terhadap Keefisienan Penggunaan Pupuk oleh Tanaman Jagung (Zea mays L.)”, Natur Indonesia, vol. 2, no. 2, hal. 168-178,

diakses 20 Maret 2014,

<http://www.pps.unud.ac.id/disertasi/pdf- thesis>

Kembario B, 2011, Pengaruh inokulasi Fungi Mikoriza Arbuskula dan Abu Kayu Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Cabai Merah Pada Tanah Gambut, Skripsi, Universitas Tanjungpura, Pontianak

Mariana, 2005, Pengaruh Bokashi Jerami padi dan Residunya Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Sawi Putih Pada Tanah Aluvial, Skripsi, Universitas Tanjungpura, Pontianak

Muin A, Ekamawantati H.A. & Pandawangi A., 2002, Uji Efektivitas Cendawan Mikoriza Arbuskula Lokal Hasil Isolasi dari Lokasi Hutan Tanaman Industri PT. Inhutani III di Sanggau Kalimantan Barat, Laporan Penelitian

Novisa, V, 2006, Analisis Kandungan Merkuri dan Infeksi Mikoriza Arbuskula pada Beberapa Jenis Tumbuhan Pionir dari Areal Bekas Penambangan Emas, Skripsi, Universitas Tanjungpura, Pontianak

Nurlenawati N, Asmanur J, & Nimih, 2010, “Respon Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Cabai merah (Capsicum annuum L.) Varietas Prabu Terhadap Berbagai Dosis Pupuk Fosfat dan Bokashi Jerami Limbah Jamur Merang”, Agrikultural, vol. 4, no. 1, hal. 13-19, diakses19 Februari 2014, <http://widyagama.ac.id/pertanian/wp- content/uplo>

Prajnanta F, 1994, Agribisnis Cabai Hibrida, Penebar Swadaya, Jakarta

(6)

68 Rao N.S.S, 1994, Mikroorganisme Tanah dan

Pertumbuhan Tanaman, Edisi Kedua, UI-Press, Jakarta

Sagala Y, Hanafiah A.S & Razali, 2013, “Peranan Mikoriza Terhadap Pertumbuhan, Serapan P dan Cd Tanaman Sawi (Brassica juncea L.) Serta Kadar P dan Cd Andisol Yang Diberi Pupuk Fosfat Alam”, Agroekoteknologi, vol. 2, no.1, hal 487-500, diakses 30 April 2014,

<http://jurnal.usu.ac.id/index.php/agroekoteknol ogi/article/view/5866/0>

Sancayaningsih R.P, Setiadi Y, Moeljopawiro S. &

Soedarsono J, 2000, “Pengaruh Densitas Propagul dan Cara Aplikasi Inokulum Fungi Mikoriza Arbusular (FMVA) terhadap Tinggi Infeksi dan Berat Kering Tanaman Jagung (Zea mays)”, Biodiversity, vol. 2, no. 10, hal. 567- 581, diakses 24 April 2014 <http://i- lib.ugm.ac.id/jurnal/download.php/datald=344>

SNI 19-7030-2004, Spesifikasi Kompos Dari Sampah Organik Domestik<http://inswa.or.id/wp- content/upload/2012/07/Spesifikasi-kompos- SNI.pdf>

Sriyati, 2005, Pengaruh Bokashi Jerami padi dan Dolomit Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Sawi Putih Pada Tanah PMK Bekas Penambangan Emas, Skripsi, Universitas Tanjungpura, Pontianak

Suriyani, 2012, Pengaruh Pemberian Bokashi Kayambang Terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit Pada Tanah Gambut, Skripsi, Universitas Palangkaraya, Palangkaraya, diakses

25 September 2014

<http://jamurtiramputihsuriyanisuryanto.blogspo t.com/2012/02/pengaruh-pemberian-bokashi- kayambang.html?m=1>

Syahbandi A, 2002, Pengaruh Bokashi Alang-alang dan Dolomit Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Cabe Merah pada Tanah Aluvial, Skripsi, Universitas Tanjungpura, Pontianak

Gambar

Tabel  3.  Rerata  Berat  Basah  Tanaman  Cabai  Hibrida  (g) Dengan Perlakuan Inokulasi Jamur MVA  Taraf faktor G
Tabel 4. Rerata Berat Kering Cabai Hibrida (g) Dengan  Perlakuan Inokulasi JamurMVA

Referensi

Dokumen terkait

Segala puji tercurah limpahkan pada Allah SWT, yang mana hanya karena rahmat dan pertolongan-Nya penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir yang berjudul “Pengaruh

PERNYATAAN Ketika saya dikuasai oleh amarah, saya menentang banyak nasehat dari orang lain Ketika marah, saya ingin berkelahi dengan orang lain Orang terdekat menjadi sasaran

Apabila pengeluaran pemerintah sektor industri pengolahan meningkat 1 persen (semula Rp 60.062 juta menjadi Rp 60.662 juta), pembentukan modal tetap sektor industri

penelitian ini bertujuan untuk menganalisispengaruh gaya kepemimpinan, kompensasi terhadap motivasi kerja karyawan, menganalisispengaruh gaya kepemimpinan, kompensasi dan motivasi

Pada pengendalian Prototype Car Bomb shield sudah diuji coba menggunakan aplikasi desktop yang dibuat secara terpisah, proses pengujian Prototype Car Bomb shield antara

Pendekatan ini bertujuan sebagai pedoman dalam penyusunan Landasan Perencanaan dan Perancangan Arsitektur Rumah Sakit Khusus Mata Kelas B di Kabupaten

Primjer takvih odgovora je treće pitanje ankete, koje glasi „ smatrate li da je crowdfunding ozbiljan naĉin za prikupljanje sredstava za projekt?“, tu se dobio