PEMINDAHAN IBU KOTA NEGARA DALAM PERSPEKTIF HUKUM DAN KONSTITUSI
Adv. Prof. Denny Indrayana, S.H., LL.M., Ph.D.
FGD DPD RI: Pemindahan Ibukota Negara
Melbourne, 21 Oktober 2021
ALUR PEMBAHASAN
3. Masalah dan Solusi terkait Pemindahan Ibu Kota Negara Indonesia
1. Pemindahan Ibu Kota Negara Ditinjau Dari Aspek Hukum dan Konstitusi
4. Sistem Pemerintahan dan Aspek
Kelembagaan Ibu Kota Negara baru
2. Pemindahan Ibu Kota Negara di Beberapa
Negara Lain
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGANAN YANG
TERKAIT DENGAN PEMINDAHAN IBU KOTA NEGARA
UUD NRI 1945
UU 29/2007 tentang Pemerintahan DKI Jakarta sebagai Ibukota NKRI
UU 23/2014 tentang Pemerintahan Daerah
UU 23/1999 tentang Bank Indonesia
UU 24/2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan
UU 21/2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan
UU 39/2008 tentang Kementerian Negara
UU 16/2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia
UU 14/2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik
• PP 12/2008 tentang Pedoman Penyusunan dan Tata Tertib DPRD Provinsi, Kabupaten, dan Kota
• PP 17/2018 tentang Kecamatan
• PP 24/2018 tentang Pelayanan Perizinan Berusaha
Terintegrasi Secara Elektronik
• PP 33/2018 tentang
Pelaksanaan dan Wewenang Gubernur sebagai Wakil Pemerintahan Pusat
UU 10/2016 tentang Penetapan PERPPU 1/2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota
UU 3/2002 tentang Pertahanan Negara
UU 5/1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria
UU 26/2007 tentang Penataan Ruang
UU 41/2009 tentang Perlindungan Tanah Pertanian dan Pangan Berkelanjutan
UU 24/2007 tentang
Penanggulangan Bencana UU 33/2009 tentang Perfilman
• PP 23/2008 tentang Peran Serta
Lembaga Internasional dan Lembaga Asing Non Pemerintah dalam
Penanggulangan Bencana
• PP 22/2008 tentang Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan Bencana
• PP 21/2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana
• Perpres 1/2019 tentang Badan Nasional Penanggulangan Bencana
• PP 59/2013 tentang Pengamanan Presiden, Wakil Presiden, Mantan Presiden, Mantan Wakil
Presiden beserta Keluarganya serta Tamu Negara setingkat Kepala Negara/Kepala Pemerintahan
• PP 68/2014 tentang Penataan Wilayah Pertahanan Negara
Konstruksi Pemindahan Ibu Kota Negara
Ditinjau dari Aspek Hukum dan Konstitusi
Frasa ”Ibu Kota Negara”
dalam UUD 1945
Pasal 2 ayat (2):
“Majelis Permusyawaratan Rakyat bersidang sedikitnya sekali dalam lima tahun di
Ibu Kota Negara.”
Pasal 23G ayat (1):
“Badan Pemeriksa Keuangan
berkedudukan di Ibu Kota Negara, dan
memiliki perwakilan di setiap provinsi.”
Penetapan Presiden Nomor 2 Tahun 1961
• Penpres 2/1961 tentang Pemerintahan Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta Raya
• Kemudian menjadi UU PNPS Nomor 2 Tahun 1961
UU Nomor 10 Tahun 1964
UU Nomor 11 Tahun 1990
• Tentang Susunan
Pemerintahan Daerah Khusus Ibu Kota
Negara Republik Indonesia Jakarta
• UU ini kemudian mencabut dua UU sebelumnya
• Tentang Pernyataan
Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta Raya Tetap
Sebagai Ibu Kota Negara Republik Indonesia
dengan Nama Jakarta
Pengaturan Ibu Kota Negara dalam Sejarah Indonesia
UU NOMOR 34 TAHUN 1999
tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Negara Republik
Indonesia Jakarta
UU NOMOR 29 TAHUN 2007
tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai Ibukota
Negara Kesatuan Republik Indonesia
PENGATURAN IBU KOTA NEGARA PASCA REFORMASI
Pemindahan Ibu Kota
Negara
Secara de jure
Keputusan Darurat
Secara de facto
3 Jenis Pemindahan Ibu Kota Berdasarkan
Sejarah Negara Republik Indonesia
Apakah Presiden Berwenang Penuh Terkait Pemindahan
Ibu Kota Negara?
BAB III
KEKUASAAN PEMERINTAHAN NEGARA
Pasal 4
(1) Presiden Republik Indonesia memegang kekuasaan pemerintahan menurut Undang-Undang Dasar.
(2) Dalam melakukan kewajibannya Presiden dibantu oleh satu orang Wakil Presiden.
Pasal 5
(1) Presiden berhak mengajukan rancangan undang-undang kepada Dewan Perwakilan Rakyat.*
(2) Presiden menetapkan peraturan pemerintah untuk menjalankan undang-undang sebagaimana mestinya.
KEWENANGAN PRESIDEN
Commander -in-Chief Appointment
Power
Pardoning Power
Legislative Power
Treaty-making
Power Veto Power
Chief Executive
Chief Diplomat Chief-of-State
Presidential
Power
Kekuasaan Presiden pasca Amandemen UUD NRI 1945
• Kekuasaan penyelenggaraan pemerintahan: kekuasaan Presiden sebagai pemegang tinggi kekuasaan pemerintahan (Pasal 4 ayat (1), (2) UUD 1945)
• Kekuasaan di bidang peraturan perundang-undangan: kekuasaan Presiden mengajukan RUU dan membahasnya dengan DPR, kekuasaan untuk membentuk peraturan pemerintah pengganti undang-undang (Perpu) (Pasal 5 ayat (1), (2), dan Pasal 22 UUD 1945)
• Kekuasaan di bidang yudisial: kekuasaan memberikan grasi dan amnesti yang memperhatikan pertimbangan Mahkamah Agung, dan dalam pemberian amnesti dan abolisi Presiden memperhatikan pertimbangan DPR (Pasal 14 ayat (1), dan (2) UUD 1945)
• Kekuasaan dalam hubungan luar negeri: kekuasaan mengadakan perjanjian dengan negara lain, kekuasaan menyatakan perang dengan negara lain, kekuasaan mengadakan perdamaian dengan negara lain, serta kekuasaan mengangkat dan menerima duta dan konsul (Pasal 11 ayat (1), (2), (3), dan Pasal 13 UUD 1945)
• Kekuasaan menyatakan keadaan bahaya: Presiden dapat menyatakan negara dalam keadaan bahaya tanpa memerlukan persetujuan terlebih dahulu dari DPR (Pasal 12 UUD 1945)
• Kekuasaan sebagai pemegang kekuasaan tertinggi angkatan bersenjata: Presiden memegang kekuasaan tertinggi atas Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara (Pasal 10 UUD 1945)
• Kekuasaan memberi gelar dan tanda kehormatan lainnya (Pasal 15 UUD 1945)
• Kekuasaan membentuk Dewan Pertimbangan Presiden (Pasal 16 UUD 1945)
• Kekuasaan mengangkat dan memberhentikan menteri-menteri (Pasal 17 ayat (1), (2), (3), dan (4) UUD 1945)
• Kekuasaan mengangkat, menetapkan, atau meresmikan pejabat-pejabat negara lainnya (pasal 23F ayat (1), (2) dan pasal 24 ayat (1), (2), serta (3) UUD 1945)
Achmad Fauzi, Hukum Lembaga Kepresidenan.
Ibu Kota Negara Merupakan Produk
Undang-Undang
Oleh karena Ibu Kota Negara ditetapkan melalui
Undang-Undang maka keputusan perpindahannya juga harus melalui produk Undang-Undang.
Maka dari itu kewenangan keputusan perpindahan
Ibu Kota Negara berada ditangan pengubah UU.
Wewenang Siapa?
(Pasal 20 UUD NRI 1945)
Selain Presiden dan DPR, DPD Juga Perlu Dilibatkan
• Bidang-bidang terkait yang menjadi wewenang DPD, yaitu:
- Otonomi Daerah;
- Hubungan Pusat dan Daerah;
- Pembentukan, Pemekaran, dan Penggabungan Daerah;
- Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Ekonomi lainnya; dan
- Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah.
• Pemindahan ibu kota penting melibatkan DPD karena terkait dengan bidang-bidang yang menjadi wewenangnya melalui fungsinya di bidang legislasi, yaitu:
- Mengajukan Rancangan Undang-Undang (RUU) kepada DPR.
- Ikut membahas Rancangan Undang-Undang (RUU) bersama DPR.
Melihat situasi politik yang ada saat ini, bukan perkara sulit bagi Presiden Jokowi
mewujudkan
pemindahan Ibu Kota Negara pada periode
2019-2024. Kendala ada pada penanganan
pandemi Covid-19.
Pemindahan Ibu Kota Negara di
Beberapa Negara Lain
Pemindahan Ibu Kota Negara merupakan fenomena yang umum dan telah dilaksanakan oleh banyak negara
Negara yang telah memindahkan Ibu Kotanya.
• Brazil: Rio de Janiro ke Brasilia (1960)
• Malaysia: Kuala Lumpur ke Putrajaya (1999)
• Kazakhstan: Almaty ke Astana (1997)
• Australia: Sydney ke Canberra (1920s)
• Myanmar: Yangon ke Naypyidaw (2000)
• Pakistan: Karachi ke Islamabad (1960s)
• Nigeria: Lagos ke Abuja (1991)
Negara yang berencana akan memindahkan Ibu Kotanya.
• Korea Selatan: Seoul ke Sejong City
• Mesir: Kairo ke Ibu Kota Administratif Baru
BEST PRACTICE PEMINDAHAN IBU KOTA NEGARA
Washington DC (USA) Brasilia (Brazil) Sejong City (Korea Selatan) Putrajaya (Malaysia) Periode
Pembangunan
1790 – 1922 (132 tahun)
1956 – 1961
(5 tahun untuk pusat pemerintahan)
2005 – 2030 (rencana 25 tahun)
1996 – 2001
(5 tahun untuk pusat pemerintahan)
Jumlah Penduduk Eksisting (2016): Kawasan inti 670.000 jiwa
Kawasan Metropolitan 6.1 juta jiwa
Rencana: 500.000 jiwa Eksisting (2018): 2.9 juta jiwa
Rencana: 500.000 jiwa Eksisting (2016): 254.000 jiwa
Rencana: 330.000 jiwa Eksisting (2016): 70.000 jiwa
Jarak dengan Ibu
Kota Sebelumnya 427 km 1.162 km 121 km 25 km
Biaya APBN yang digunakan
3x besaran APBN untuk 10 tahun pertama masa konstruksi
8.1 milyar USD
(hanya untuk biaya konstruksi awal) Proyeksi 22 milyar USD 8 milyar USD
Fungsi Utama
• Pemerintahan
• Perumahan
• Taman, Rekreasi, RTH
• Kawasan Bisnis
• Memorial, Museum, dll
• Pemerintahan
• Perumahan
• Pusat olahraga
• Taman, Kebun Binatang
• Bioskop, Restoran, Teater
• UKM
• Pemerintahan
• Science Park
• Pusat Pendidikan
• Kota Pendidikan
• Pemerintahan
• RTH
• Kawasan Bisnis
Status Ibu Kota dan Pusat Pemerintahan Ibu Kota dan Pusat Pemerintahan (Rencana) Ibu Kota dan Pusat Pemerintahan
Pusat Pemerintahan
(Ibu Kota tetap di Kuala Lumpur)
Luas Area 17.900 ha 581.400 ha 7.300 ha 4.900 ha
WASHINGTON DC (USA)
ACCOUNTABILITY HAS NO EXCUSE!!
Alasan Pemindahan Ibu Kota Negara:
• USA pernah memindahkan Ibu Kota Negaranya beberapa kali (Philadelphia, Baltimore, Lancaster, York, Princeton, Annapolis, Trenton, dan terakhir New York)
• New York merupakan negara bagian dari USA
• Permasalahan di Ibu Kota sebelumnya yaitu New York
sebagai pintu gerbang masuknya imigran pada tahun 1700 – 1800
• Pemilihan lokasi Ibu Kota Negara yang bukan merupakan bagian dari negara bagian AS manapun
• Sifat Ibu Kota Negara yang permanen
• Dapat diawasi langsung oleh Pemerintahan Federal USA
Proses politik pemindahan Ibu Kota Negara USA cenderung mudah dan cepat dikarenakan terdapat kesamaan visi dan misi. Keputusan pemindahan Ibu Kota Negara tersebut disetujui pada rapat kongres AS dan telah mendapatkan izin dari Konstitusi AS pada tahun 1790.
ACCOUNTABILITY HAS NO EXCUSE!!
Alasan Pemindahan Ibu Kota Negara:
• Memperbarui kebanggaan nasional dengan
membangun Ibu Kota yang modern di abad 21
• Meningkatkan kesatuan nasional dengan membuka lahan kosong di tengah-tengah negara Brazil
• Tuntutan pemerataan ekonomi yang menjadi alasan dibangun Kota Brasilia jauh dari Rio de Janeiro
• Permasalahan pada Ibu Kota Negara sebelumnya yaitu Rio de Janeiro, seperti kepadatan penduduk, kemiskinan, transportasi, infrastruktur
BRASILIA (BRAZIL)
Dengan tujuan untuk melaksanakan pemerataan ekonomi dan persebaran penduduk yang terkonsentrasi pada Ibu Kota Negara sebelumnya yaitu Rio de Janeiro, proses politik pemindahan Ibu Kota Negara Brazil berlangsung mudah dan cepat didukung
dengan proses pembangunan infrastrukturnya selama 5 tahun.
ACCOUNTABILITY HAS NO EXCUSE!!
Alasan Rencana Pemindahan Ibu Kota Negara:
• Mengurangi kepadatan penduduk yang terkonsentrasi di Seoul
• Meningkatkan national competitiveness
• Pemerataan pembangunan ekonomi
• Alasan keamaan. Seoul dinilai terlalu dekat dengan perbatasan dengan Korea Utara
SEJONG CITY (SOUTH KOREA)
Proses politik pemindahan Ibu Kota Negara di Korea Selatan cenderung tertib dikarenakan perencanaan dan penganggaran yang matang serta alasan keamanan yang kuat dan dapat
diterima oleh masyarakat pada umumnya.
ACCOUNTABILITY HAS NO EXCUSE!!
Alasan Rencana Pemindahan Ibu Kota Negara:
• Mengurangi kepadatan penduduk yang terkonsentrasi di Jakarta, dan pulau Jawa
• Pemerataan pembangunan ekonomi
• Relokasi Ibu Kota Negara ke tempat yang berada di tengah-tengah wilayah NKRI
• Bencana alam yang sering terjadi di Jakarta
• Krisis ketersediaan air tanah di Jakarta
• Krisis lahan di Jakarta
INDONESIA?
Proses politik pemindahan Ibu Kota Negara di Indonesia cenderung dilakukan dengan tergesa-gesa dan tanpa perencanaan yang matang.
Ditambah banyaknya polemik politik yang terjadi dalam proses
perencaan tersebut serta adanya pandemi Covid-19 yang semestinya dapat dijadikan prioritas disampaing pemindahan Ibu Kota Negara.
Masalah dan Solusi terkait Pemindahan
Ibu Kota Negara Indonesia
PERMASALAHAN YANG MUNGKIN TIMBUL
Implikasi yang dihadapi oleh DKI Jakarta sebagai
daerah yang
kekhususannya dimiliki karena kedudukannya sebagai Ibu Kota Negara
2
Pemindahan Ibu Kota Negara adalah proyek
yang sangat besar
sehingga rawan terhadap korupsi
4
Bentuk Pemerintahan Ibu Kota Negara baru.
Mengingat daerah yang saat ini dicanangkan menjadi Ibu Kota Negara merupakan penggabungan
dua wilayah
1
Karena pemindahan Ibu Kota Negara jelas
memakan waktu yang tidak sebentar, maka
mungkin saja
pemerintahan periode selanjutnya tidak sepakat
dan tidak mau
melanjutkan pemindahan Ibu Kota Negara
3
1 Separated Capitals
Kedua kabupaten (Penajam dan Kutai Kertanegara) menjadi ibu kota dengan keduanya tetap terpisah.
Konsep ini memiliki kelemahan yakni adanya 2 pemerintahan sebagai ibu kota akan mempersulit kordinasi dan pelaksanaan tugas.
2 Fused Capital
Kedua kabupaten disatukan menjadi satu kabupaten, namun tetap di bawah pemerintahan provinsi Kalimantan Timur.
3 Special Capital
Kedua kabupaten disatukan, namun tidak di bawah Provinsi Kalimantan Timur, melainkan langsung dibawah pemerintah pusat (contoh: hubungan
Washington D.C dengan US)
4 Provincial Capital
Kedua kabupaten disatukan dan menjadi satu Provinsi baru sebagai Daerah Khusus Ibu kota (yang ada seperti ibu kota
5 Special Authority
Dibentuk badan khusus pengelola ibukota yang
bertanggung jawab langsung kepada presiden (seperti
badan otorita Batam)
Pilihan Bentuk Ibu Kota Baru
1
Implikasi Terhadap DKI Jakarta
• Pemindahan Ibu Kota Negara tidak lantas mengubah kekhususan DKI Jakarta karena bagaimanapun tergantung pada pilihan politik pembentuk Undang-Undang. Artinya, bisa saja DKI Jakarta tetap menjadi daerah khusus dengan alasan-alasan historisnya sebagai Ibu Kota Negara.
• Pasal 18B ayat (1) UUD 1945:
“Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan undang-undang.”
• Selama masih berstatus khusus, secara konstitusional Jakarta tidak akan mengalami banyak perubahan dalam pengelolaan pemerintahan daerahnya.
• Namun, jika kekhususan Jakarta tidak lagi diberikan, maka Jakarta akan tunduk pada Undang-Undang tentang Pemerintahan Daerah.
2
Gejolak Politik ditengah Proses Pemindahan Ibu Kota Negara
3
• Pemindahan Ibu Kota Negara membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
• Ada kemungkinan pemerintahan berikutnya (Presiden – DPR – DPD) sepakat untuk tidak melanjutkan proses pemindahan Ibu Kota Negara.
• Karena dasar hukum pemindahan Ibu Kota adalah UU, maka penghentiannya juga dapat dilakukan dengan UU.
• Meskipun pemindahan Ibu Kota Negara dibatalkan dengan UU baru ditengah jalan.
Namun, pembangunan infrastruktur dengan konsep Public Private Partnership (PPP) tetap
akan berjalan. Karena dalam konsep PPP, Pemerintah mendudukkan diri dalam hubungan
Business-to-Business.
Pemindahan Ibu Kota Negara Rawan Korupsi
GREASE THE WHEEL
SAND THE WHEEL
Korupsi dapat membuat
pembangunan menjadi lebih efektif.
Seperti kemudahan mendapat perizinan yang dipersulit. Korupsi
dapat memfasilitasi masuknya investasi ke dalam pasar dengan
tingkat regulasi yang tinggi.
Selalu ada harga yang disesuaikan atas setiap penyuapan terhadap
aparat. Korupsi dapat membuat pembangunan rendah kualitas,
pada akhirnya membahayakan setiap pihak.
4
LALU LINTAS UANG DAN PERSETUJUAN DALAM PROYEK PEMINDAHAN
IBU KOTA INDONESIA
UU KPK TERBARU
1. KPK dibawah eksekutif (tidak lagi lembaga negara independen);
2. Pimpinan KPK tidak lagi penanggung jawab tertinggi;
3. Dewan Pengawas: izin penyadapan; izin
penggeledahan; izin penyitaan; boleh rangkap jabatan;
tidak ada larangan bertemu tersangka.
4. Korupsi yang menjadi perhatian masyarakat bukan lagi kewenangan KPK;
5. Harus berkordinasi dengan kejaksaan dalam hal penuntutan;
6. Pegawai KPK menjadi ASN;
7. Kewenangan supervisi berkurang karena hilangnya pasal yang mengatur kewenangan KPK untuk
melakukan pengawasan, penelitian, atau penelahaan terhadap instansi yang menjalankan tugas dan
wewenang melakukan pelayanan publik.
Sistem Pemerintahan dan Aspek
Kelembagaan Ibu Kota Negara Baru
OPSI BENTUK PEMERINTAHAN IBU KOTA NEGARA BARU
OPSI KETERANGAN
I Pemerintahan Provinsi Apabila Ibu Kota Negara baru diputuskan untuk menjad wilayah administrasi baru atau daerah otonom, baik dalam bentuk provinsi baru maupun kotamadya baru, maka berimplikasi pada perlunya melakukan revisi pada UU 25/1956 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Otonom, termasuk Provinsi Kalimantan Timur.
Pun hal yang sama apabila nantinya Ibu Kota Negara baru dalam bentuk kotamadya, maka perlu
melakukan revisi pada UU 7/2002 tentang Pembentukan Kabupaten Penajam Paser Utara di Provinsi Kalimantan Timur dan UU 47/1999 tentang Pembentukan Kabupaten Kutai yang diubah namanya
menjadi Kabupaten Kutai Kartanegara berdasarkan PP 8/2002.
II Pemerintahan Kota
III Kawasan Khusus (yang
dikelola oleh Badan Otorita) dalam wilayah Provinsi
Apabila Ibu Kota Negara baru nantinya berbentuk sebuah kawasan khusus yang dikelolah oleh Badan Otorita, maka tahapan-tahapan di atas tidak perlu dilakukan, karena tidak akan berimplikasi pada
pemerintahan Provinsi Kalimantan, maupun pemerintahan Kabupten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Kutai Kartanegara. Hal yang perlu dilakukan adalah merevisi UU 29/2007 tentang Pemerintahan DKI Jakarta sebagai Ibukota NKRI.
Dasar pembentukan: Pasal 360 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah
PEMERINTAHAN KHUSUS IBU
KOTA NEGARA (BADAN OTORITA)
Pasal 1 ayat (8) RUU IKN:
Pemerintahan Khusus Ibu Kota Negara […] yang selanjutnya disebut
Pemerintahan Khusus IKN […] adalah pemerintahan yang bersifat khusus di IKN […] yang diatur dengan Undang-Undang ini.
Pasal 8 RUU IKN:
Pemerintahan Khusus IKN […] diselenggarakan oleh Otorita IKN.
Salah satu klausul dalam RUU Ibu Kota Negara adalah mengenai
pemerintahan khusus yang akan diselenggarakan oleh sebuah
badan otorita, sebagaimana tertuang dalam Pasal 1 ayat 8 juncto
Pasal 8 RUU IKN sebagai berikut:
PENGATURAN LEBIH LANJUT MENGENAI BADAN OTORITA IBU KOTA NEGARA DALAM RUU IKN
RUU IBU KOT A NEGARA
Pasal 1 ayat (9) RUU IKN:
Otorita Ibu Kota Negara yang selanjutnya disebut Otorita IKN adalah lembaga pemerintah setingkat kementerian yang dibentuk untuk melaksanakan persiapan, pembangunan, dan pemindahan Ibu Kota Negara, serta
penyelenggaraan Pemerintahan Khusus IKN.
Pasal 1 ayat (10) RUU IKN:
Kepala Otorita Ibu Kota Negara yang selanjutnya disebut Kepala Otorita IKN adalah pimpinan Otorita IKN yang berkedudukan setingkat menteri yang bertanggung jawab atas pelaksanaan persiapan, pembangunan, dan pemindahan Ibu Kota Negara, serta penyelenggaraan Pemerintahan Khusus IKN […].
Pasal 9 ayat (1) RUU IKN:
Pemerintahan Khusus IKN […] dipimpin oleh Kepala Otorita IKN dan dibantu oleh seorang Wakil Kepala Otorita IKN yang ditunjuk, diangkat, dan diberhentikan langsung oleh Presiden.
Pasal 10 ayat (1) RUU IKN:
Kepala dan Wakil Kepala Otorita IKN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 memegang jabatan selama 5 (lima)
tahun terhitung sejak tanggal pelantikan dan sesudahnya dapat ditunjuk dan diangkat kembali dalam masa jabatan
yang sama.
IBU KOTA TANPA PILKADA?
Hal lain yang diatur dalam RUU IKN adalah tidak ada pemilihan kepala daerah (Pilkada) untuk Pemerintahan Khusus IKN, dikarenakan semuanya akan ditunjuk langsung oleh presiden yang menjabat.
Pasal 9 ayat (1) RUU IKN:
Pemerintahan Khusus IKN […] dipimpin oleh Kepala Otorita IKN dan dibantu oleh seorang Wakil Kepala Otorita IKN yang ditunjuk, diangkat, dan diberhentikan langsung oleh Presiden.
Pasal 10 ayat (1) RUU IKN:
Kepala dan Wakil Kepala Otorita IKN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 memegang jabatan selama 5 (lima) tahun terhitung sejak tanggal pelantikan dan sesudahnya dapat ditunjuk dan diangkat kembali
dalam masa jabatan yang sama.
Penjelasan Pasal 10 ayat (1) RUU IKN:
Mekanisme pemilihan Kepala Otorita IKN dan Wakil Kepala Otorita IKN dilakukan berbeda dengan mekanisme pemilihan kepala daerah.
Kemudian dalam Pasal 13 RUU IKN, dikecualikan dari ketentuan PUU yang mengatur daerah pemilihan dalam pemilihan umum dimana IKN hanya turut serta dalam Pilpres, Pileg DPR, dan Pileg DPD.
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN YANG TERKAIT DENGAN PEMINDAHAN IBU KOTA NEGARA
No. Peraturan Perundang-Undangan Keterkaitan
1. Undang-Undang Dasar Tahun 1945 Pasal 2 ayat (2): Majelis Permusyawaratan Rayat bersidang sedikitnya sekali dalam lima tahun di Ibu Kota Negara
Pasal 23G ayat (1): Badan Pemeriksa Keuangan berkedudukan di Ibu Kota Negara dan memiliki perwakilan di setiap provinsi
2. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2007 tentang
Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia
Terdapat 27 Pasal yang harus diubah atau disesuaikan apabila Ibu Kota Negara dipindahkan ke Kalimantan Timur
3. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah
Pasal 399 harus diubah atau disesuaikan karena secara jelas menyebutkan
“Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta”
4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia
Pasal 5 ayat (1): Bank Indonesia berkedudukan di Ibukota Negara Republik Indonesia
Pasal ini harus diubah atau disesuaikan mengingat adanya wacana Lembaga negara di bidang ekonomi dan bisnis tetap berada di Jakarta
5. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan
Pasal 3 ayat (1): LPS berkedudukan di Ibukota Negara Republik Indonesia Pasal ini harus diubah atau disesuaikan mengingat adanya wacana Lembaga negara di bidang ekonomi dan bisnis tetap berada di Jakarta
6. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan
Pasal 3 ayat (1): OJK berkedudukan di Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia
Pasal ini harus diubah atau disesuaikan mengingat adanya wacana Lembaga negara di bidang ekonomi dan bisnis tetap berada di Jakarta
7. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara
Pasal 2: Kementerian berkedudukan di Ibu Kota Negara Republik Indonesia Pasal ini harus diubah atau disesuaikan mengingat adanya wacana Lembaga negara di bidang ekonomi dan bisnis tetap berada di Jakarta
8. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia
Pasal 4 ayat (1): Kejaksaan Agung berkedudukan di Ibukota Negara Republik Indonesia
9. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang keterbukaan Informasi Publik
Pasal 24 ayat (2): Komisi Informasi Pusat berkedudukan di Ibukota Negara 10. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2009 tentang
Perfilman
Pasal 58 ayat (2): Lembaga sensor film sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berkedudukan di Ibukota Negara Republik Indonesia
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN YANG TERKAIT DENGAN PEMINDAHAN IBU KOTA NEGARA
Dan masih banyak peraturan perundang-undangan yang
lain terkait dengan pemindahan Ibu Kota Negara.
Bentuk Praksis Kontribusi yang dapat dilakukan DPD RI terkait Pemindahan Ibu Kota Negara
Melakukan kajian mendalam dan menuangkannya dalam
bentuk Naskah Akademik (NA) tentang RUU Ibu Kota
Baru dan RUU Perubahan UU DKI Jakarta
Mengawal secara aktif
pembahasan RUU Ibu Kota baru dan RUU Perubahan DKI Jakarta antara Presiden-
DPR-DPD
Mendukung perlawanan terhadap korupsi dan pelemahan terhadap KPK, terutama terkait dengan isu
yang akan menghambat
pemindahan Ibu Kota
Kesimpulan
1. Pemindahan Ibu Kota Negara harus ditetapkan dengan Undang-Undang yang pembahasannya melibatkan Presiden, DPR, dan DPD;
2. Terdapat masalah hukum yang akan muncul yakni mengenai bentuk pemerintahan Ibu Kota Negara baru, yaitu bentuk pemerintahan DKI Jakarta, kemungkinan dibatalkannya rencana pemindahan Ibu Kota Negara oleh pemerintahan periode selanjutnya, dan potensi korupsi;
3. Kontribusi praksis yang dapat DPD RI lakukan adalah dengan melakukan kajian mendalam dan menuangkannya dalam bentuk Naskah Akademik (NA), mengawal secara aktif
pembahasan RUU Ibu Kota baru dan RUU Perubahan DKI Jakarta antara Presiden-DPR-DPD, dan mendukung perlawanan terhadap korupsi dan pelemahan terhadap KPK, terutama
terkait dengan isu yang akan menghambat pemindahan Ibu Kota Negara.
INTEGRITY Programs
• INTEGRITY Scholarship
• INTEGRITY Constitutional Discussion
• INTEGRITY Legal Training
• INTEGRITY Legal Update
• INTEGRITY Constitutional Advocacy
https://www.integritylawfirm.id/category/program
LITIGATION | CONSULTATION | RESEARCH