Jurnal Administrasi Bisnis - Perpajakan (JAB)|Vol. 6 No. 2 2015| perpajakan.studentjournal.ub.ac.id
1 ANALISIS PAJAK HIBURAN DAN PENDAPATAN ASLI DAERAH KOTA BATU
TAHUN 2009 – 2013
(Studi Pada Dinas Pendapatan Daerah Kota Batu Jawa Timur)
Rega Nur Puspanita Mochammad Al Musadieq Gunawan Eko Nurtjahjono
PS Perpajakan, Jurusan Administrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Brawijaya, [email protected]
ABSTRACT
Local taxes has a range of the potential to become a source of local revenue. One of the potential is entertainment tax. The potential entertainment tax is one of the source of local tax revenue in Kota Batu. Entertainment tax has many important role to the local revenue. In general, if the potential of the entertainment tax gain, then local revenue received will increase and contribute taxes to local revenues have a significant effect. Entertainment tax in Batu City have revenue realization that every year will increase, but the entertainment tax revenue targets are not always fulfilled. Overview of entertainment tax and local revenues consists the analysis of the rate of growth, analysis of effectiveness, analysis of the potential and contribution analysis. Entertainment tax growth is expected to be increased so that the contribution of entertainment tax can have optimal results. The potential tax that exists in Batu City especially entertainment tax to seize the optimally. Departement of Revenue Batu City always tries to approach to taxpayers.
Keywords : Growth Rate, Effectiveness, Contribution, Entertainment Tax, Local Revenues
ABSTRAK
Pajak daerah memiliki berbagai potensi untuk menjadi sumber penerimaan daerah salah satu potensi tersebut adalah pajak hiburan. Potensi pajak hiburan merupakan salah satu sumber dari penerimaan pajak daerah di Kota Batu. Pajak hiburan memiliki peran yang cukup besar terhadap pendapatan asli daerah. Secara umum, jika potensi pajak hiburan semakin banyak maka pendapatan daerah yang diterima akan meningkat dan kontribusi pajak terhadap pendapatan asli daerah berpengaruh signifikan. Pajak hiburan di Kota Batu memiliki realisasi penerimaan yang setiap tahunnya meningkat akan tetapi target penerimaan pajak hiburan tidak selalu terpenuhi. Analisis yang digunakan adalah analisis laju pertumbuhan, analisis efektivitas, analisis potensi dan analisis kontribusi. Pertumbuhan pajak hiburan diharapkan dapat ditingkatkan sehingga kontribusi pajak hiburan dapat mendapatkan hasil yang optimal. Potensi yang ada di Kota Batu khususnya sektor pajak hiburan agar di manfaatkan secara optimal. Bagi Dispenda Kota Batu diupayakan agar selalu melakukan pendekatan kepada wajib pajak.
Kata kunci : Laju Pertumbuhan, Efektivitas, Kontribusi, Pajak Hiburan, Pendapatan Asli Daerah
PENDAHULUAN
Pajak daerah memiliki fungsi anggaran dan fungsi mengatur, menurut Mardiasmo (2013:1) yang dimaksud dengan “fungsi anggaran adalah pajak merupakan sumber pendapatan daerah yang digunakan untuk membiayai pengeluaran, sedangkan fungsi mengatur yaitu daerah dituntut untuk dapat mengatur pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan dalam hal perpajakan”. Sistem pemungutan pajak daerah memiliki 2 (dua) sistem yaitu official assessment dan self assessment.
Menurut Supramono dan Damayanti (2005:10), “sistem official assessment merupakan penentuan besarnya utang pajak dilimpahkan kepada pemerintah (fiskus), sedangkan sistem self assessment perhitungan besarnya pajak dan pelaporan dilakukan oleh Wajib Pajak (WP) sendiri”.
Pajak daerah memiliki berbagai potensi untuk menjadi sumber penerimaan daerah salah satu potensi tersebut adalah pajak hiburan. Pajak hiburan merupakan pungutan yang ditujukan
Jurnal Administrasi Bisnis - Perpajakan (JAB)|Vol. 6 No. 2 2015| perpajakan.studentjournal.ub.ac.id
2 pada penyelenggaraan hiburan dengan dipungut
biaya. Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Batu No. 6 Tahun 2010, “hiburan adalah tontonan, pertunjukan, permainan, dan/atau keramaian yang dinikmati dan dikenakan biaya”.
Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan ukuran potensi daerah dalam pelaksanaan kegiatan daerah/otonomi daerah. Besarnya PAD diharapkan dapat mewujudkan otonomi daerah yang mandiri tanpa tergantung dengan pemerintah pusat. Pemerintah daerah diharapkan menggali sumber penerimaan PAD yang dapat menunjang pengeluaran daerah yang lebih produktif.
Peningkatan PAD dapat dilakukan dengan intensifikasi dan ekstensifikasi. Intensifikasi dilakukan dengan pemungutan secara teliti dan ketat, sedangkan untuk ekstensfikasi yaitu menggali sumber yang dapat dijadikan pendapatan daerah yang baru. Halim (2004:67) “PAD adalah semua penerimaan daerah yang berasal dari sumber ekonomi asli daerah”.
Kota Batu adalah kota di Provinsi Jawa Timur yang terletak 800 meter dari permukaan laut. Pertumbuhan perekonomian Kota Batu dianggap mengalami peningkatan, hal ini didorong dengan adanya hiburan yang dimiliki dan peningkatan penerimaan pendapatan asli daerah (PAD). Pelaku usaha sektor hiburan meningkat dari tahun ke tahun, dilihat data potensi dan banyaknya tempat usaha baru yang dibuka. Sektor hiburan menurut Peraturan Daerah Kota Batu No. 6 Tahun 2010 meliputi “pagelaran kesenian/musik/tari/busana pameran, pacuan kuda, balap kendaraan bermotor, permainan ketangkasan, panti pijat/refleksi, pertandingan olahraga, tempat wisata, persewaan VCD, pusat kebugaran dan karaoke”. Penelitian ini akan mengambil sektor hiburan terkait persewaan DVD, permainan ketangkasan, panti pijat, taman wisata, dan karaoke.
Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kota Batu merupakan satuan kerja perangkat daerah yang mempunyai tugas memungut pajak daerah termasuk pajak hiburan. WP hiburan diperoleh dari pendataan WP yang memiliki potensi yang memungkinkan dalam memungut pajak hiburan yang ada di Kota Batu dan pendaftaran sukarela WP ke Dispenda. Potensi pajak hiburan merupakan jumlah WP hiburan yang terdaftar
pada Dispenda Kota Batu yang melakukan pungutan pajak terhadap subjek pajak dan menyetorkan pajak terutang kepada Dispenda Kota Batu. WP hiburan inilah yang akan menunjang tercapainya target pendapatan asli daerah (PAD) Kota Batu.
Secara umum, jika potensi pajak hiburan semakin banyak maka pendapatan daerah yang diterima akan meningkat dan kontribusi pajak terhadap PAD berpengaruh signifikan. Pajak hiburan di Kota Batu memiliki realisasi penerimaan pajak hiburan yang setiap tahunnya meningkat akan tetapi target penerimaan pajak hiburan tidak selalu terpenuhi. Berdasarkan pada latar belakang, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Analisis Pajak Hiburan dan Pendapatan Asli Daerah Kota Batu (Studi Pada Dinas Pendapatan Daerah Kota Batu)”.
TINJAUAN PUSTAKA Pendapatan Asli Daerah
Menurut Muluk (2009:77), “pendapatan asli daerah atau locally raised revenue merupakan pendapatan yang ditentukan dan dikumpulkan secara lokal”. Sementara itu menurut Widjaja (1998:42), “PAD merupakan salah satu modal dasar pemerintah daerah dalam mendapatkan dana pembangunan dalam memenuhi belanja daerah dan usaha daerah guna memperkecil ketergantungan dalam mendapatkan dana dari pemerintah tingkat atas (subsidi)”. Sedangkan menurut Halim (2004:67) “PAD adalah semua penerimaan daerah yang berasal dari sumber ekonomi asli daerah”.
Berdasarkan Pasal 285 ayat (1) Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah menyebutkan Pendapatan Asli Daerah terdiri atas :
1. Pajak Daerah; 2. Retribusi Daerah;
3. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan;
4. lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah. Tinjauan Umum Perpajakan
Menurut Soemitro dalam Anshari (2006:5), “pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa timbal balik (kontraprestasi), yang langsung dapat
Jurnal Administrasi Bisnis - Perpajakan (JAB)|Vol. 6 No. 2 2015| perpajakan.studentjournal.ub.ac.id
3 ditunjukkan dan yang digunakan untuk
membayar pengeluaran umum”. Berdasarkan Undang-Undang KUP 2007, “pajak adalah kontribusi wajib pajak kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung”. Pajak merupakan iuran yang dilakukan masyarakat kepada negara dengan tidak mendapatkan keuntungan secara langsung. Pajak Daerah
Disebutkan dalam pasal 1 ayat (10) Undang-Undang No. 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah menjelaskan bahwa “pajak daerah yang selanjutnya disebut pajak, adalah kontribusi wajib kepada daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pajak daerah merupakan Pendapatan Asli Daerah yang dapat dikelola sebesar-besarnya untuk kepentingan daerah tersebut. Pungutan yang dilakukan pemerintah daerah berdasarkan peraturan perundang-undangan disebut juga pajak daerah”. Pajak Hiburan
Berdasarkan Pasal 42 ayat (1) Undang-Undang No. 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang dimaksud “pajak hiburan adalah pajak atas jasa penyelenggaraan hiburan dengan dipungut bayaran”. Pengenaan pajak hiburan disesuaikan dengan keadaan yang memungkinkan suatu daerah, dimana daerah dapat mengecualikan jenis hiburan dengan ketentuan daerah sebagai objek pajak.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Menurut Siregar (2014:15), “penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih (independent) tanpa membuat perbandingan atau penghubungan dengan variabel yang lain”. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif karena data yang didapat dinyatakan dengan angka dan dapat dihitung serta dianalisis khususnya data tentang pajak
hiburan dan pendapatan asli daerah yang telah disediakan oleh Dispenda Kota Batu.
Analisis yang dilakukan adalah analisis laju pertumbuhan, analisis efektivitas, analisis potensi, dan analisis kontribusi.
Rumus yang digunakan untuk menghitung laju pertumbuhan menurut Halim (2004:163) yaitu :
Keterangan :
GX : laju pertumbuhan penerimaan pajak hiburan per tahun
Xt : realisasi penerimaan pajak hiburan pada tahun tertentu
X(t -1) : realisasi penerimaan pajak hiburan pada tahun sebelumnya
GY : laju pertumbuhan PAD per tahun Yt : realisasi penerimaan PAD pada tahun
tertentu
Y(t -1) : realisasi penerimaan PAD pada tahun sebelumnya
Tabel 1. Kriteria Laju Pertumbuhan Pajak Hiburan No. Persentase Laju Pertumbuhan Kriteria
1. 85% - 100% Sangat berhasil
2. 70% - 85% Berhasil
3. 55% - 70% Cukup Berhasil
4. 30% - 55% Kurang Berhasil
5. Kurang dari 30% Tidak Berhasil Sumber : Halim (2004:163)
Menurut Halim (2004:164) rumus yang digunakan dalam menghitung tingkat efektivitas penerimaan pajak hiburan adalah :
Keterangan :
1. Hasil perbandingan tingkat pencapaian diatas 100% berarti sangat efektif;
2. Hasil perbandingan tingkat pencapaian 100% berarti efektif;
3. Hasil perbandingan tingkat pencapaian dibawah 100% berarti tidak efektif.
Menurut Yuwono (2013:53) rumus untuk menghitung potensi pajak hiburan dirumuskan sebagai berikut :
Keterangan : TT : Tarif Tiket
JP : Jumlah Pengunjung JH : Jumlah Hari
TPH : Tarif Pajak Hiburan
𝐺𝑋 =𝑋𝑡 − 𝑋 (𝑡 − 1) 𝑋 (𝑡 − 1) 𝑥 100% GY = Yt − Y(t − 1) Y(t − 1) x 100% 𝐸𝑓𝑒𝑘𝑡𝑖𝑣𝑖𝑡𝑎𝑠 = 𝑅𝑒𝑎𝑙𝑖𝑠𝑎𝑠𝑖 𝑃𝑎𝑗𝑎𝑘 𝐻𝑖𝑏𝑢𝑟𝑎𝑛 𝑇𝑎𝑟𝑔𝑒𝑡 𝑃𝑎𝑗𝑎𝑘 𝐻𝑖𝑏𝑢𝑟𝑎𝑛 𝑥 100% 𝑃𝑜𝑡𝑒𝑛𝑠𝑖 𝑃𝑎𝑗𝑎𝑘 𝐻𝑖𝑏𝑢𝑟𝑎𝑛 = {( 𝑇𝑇 𝑥 𝐽𝑃 ) 𝑥 𝐽𝐻} 𝑥 {𝑇𝑃𝐻}
Jurnal Administrasi Bisnis - Perpajakan (JAB)|Vol. 6 No. 2 2015| perpajakan.studentjournal.ub.ac.id
4 Menurut Halim (2004:163) rumus yang dapat
digunakan untuk menghitung kontribusi adalah :
Tabel 2. Kriteria Nilai Kontribusi
No. Persentase Kontribusi Kriteria
1. 0 - 10% Sangat Kurang 2. 10,10% - 20% Kurang 3. 20,10% - 30% Cukup 4. 30,10% - 40% Sedang 5. 40,10% - 50% Baik 6 ˃ 50% Sangat Baik Sumber : Supriadi (2015)
HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Laju Pertumbuhan
Analisis laju pertumbuhan digunakan untuk mengetahui pertumbuhan penerimaan seperti pajak hiburan dan PAD pada tahun yang ditentukan. Cara menghitung laju pertumbuhan yaitu dengan mengurangi realisasi pajak hiburan atau PAD pada tahun tertentu di kurangi dengan realisasi tahun sebelumnya, hasil dari selisih realisasi tersebut dibagi dengan realisasi pada tahun sebelumnya.
1. Analisis Laju Pertumbuhan Pajak Hiburan Kota Batu
Laju pertumbuhan pajak hiburan Laju pertumbuhan pajak hiburan dapat dilihat pada tabel 3 di bawah ini.
Tabel 3. Laju Pertumbuhan Penerimaan Pajak Hiburan Kota Batu Tahun 2009 – 2013 Thn Realisasi Pajak Hiburan (Rp) Perubahan (Rp) Pertumbuh an Per Tahun (%) Kriteria 2009 1.978.360.490 - - - 2010 2.766.190.750 787.830.260 39,82 Kurang Berhasil 2011 3.751.062.526 984.871.776 35,60 Kurang Berhasil 2012 3.402.281.809 -348.780.717 -9,30 Tidak Berhasil 2013 6.286.088.670 2.883.806.861 85,07 Sangat Berhasil Rata-rata 3.636.796.849 1.076.932.045 37,80 Kurang Berhasil Sumber : Data diolah, 2015
Dari tabel 3 dapat dilihat bahwa rata-rata pertumbuhan pajak hiburan sebesar 37,80% dengan kriteria kurang berhasil.
2. Analisis Laju Pertumbuhan Pendapatan Asli Daerah Kota Batu
Laju pertumbuhan pendapatan asli daerah Kota Batu dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 4. Laju Pertumbuhan Penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Batu Tahun 2009 – 2013
Thn Realisasi PAD (Rp) Perubahan (Rp) Pertum buhan Per Tahun (%) Kriteria 2009 17.386.741.568,44 - - - 2010 17.735.602.953,95 348.861.385,51 2,01 Tidak Berhasil 2011 30.257.308.053,14 12.521.705.099,19 70,60 Berhasil 2012 38.794.059.670,38 8.536.751.617,24 28,21 Tidak Berhasil 2013 59.670.241.826,89 20.876.182.156,51 53,81 Kurang Berhasil Rata-rata 32.768.790.814,56 10.570.875.064,61 38,66 Kurang Berhasil Sumber : Data diolah, 2015
Dari tabel 4 dapat dilihat bahwa rata-rata pertumbuhan pendapatan asli daerah sebesar 38,66% dengan kriteria kurang berhasil. Perbandingan laju pertumbuhan pajak hiburan dan pendapatan asli daerah dapat dilihat pada gambar 1 berikut.
Gambar 1. Pertumbuhan Pajak Hiburan dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Batu Tahun 2009 – 2013
Sumber : Data diolah, 2015 Analisis Efektivitas
Efektivitas adalah tercapainya tujuan organisasi dalam melakukan kegiatan dengan pencapaian berhasil atau tidak. Efektivitas digunakan untuk mengukur rasio keberhasilan. Data yang diperlukan dalam menghitung efektivitas pajak hiburan Kota Batu adalah target pajak hiburan Kota Batu yang ditetapkan oleh Dispenda Kota Batu dan realisasi penerimaan pajak hiburan Kota Batu, sedangkan efektivitas untuk PAD Kota Batu adalah target PAD Kota Batu dan realisasi PAD Kota Batu.
-100% 0% 100%
2009 2010 2011 2012 2013
Laju Pertumbuhan Pajak Hiburan
Laju Pertumbuhan Pendapatan Asli Daerah
𝐾𝑜𝑛𝑡𝑟𝑖𝑏𝑢𝑠𝑖 = 𝑋
Jurnal Administrasi Bisnis - Perpajakan (JAB)|Vol. 6 No. 2 2015| perpajakan.studentjournal.ub.ac.id
5 1. Analisis Efektivitas Pajak Hiburan Kota Batu
Tabel 5. Efektivitas Pajak Hiburan Kota Batu Tahun 2009 – 2013 Thn (a) Target Pajak Hiburan (Rp) (b) Realisasi Pajak Hiburan (Rp) (c) Efektivitas Pajak Hiburan (%) (d) (𝑑) = (𝑐) (𝑏) 𝑥 100% 2009 2.800.000.000 1.978.360.490 70,65% 2010 4.000.000.000 2.766.190.750 69,15% 2011 3.155.000.000 3.751.062.526 118,89% 2012 2.830.000.000 3.402.281.809 120,22% 2013 5.380.000.000 6.286.088.670 116,84%
Sumber : Data diolah, 2015
Pencapaian efektivitas terendah terjadi pada tahun 2010 dengan persentase 69,15%. Pencapaian efektivitas tertinggi terjadi pada tahun 2012 dengan persentase 120,22%.
2. Analisis Efektivitas Pendapatan Asli Daerah Kota Batu
Tabel 6. Efektivitas Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Batu Tahun 2009 – 2013
Thn (a) Target PAD (Rp) (b) Realisasi PAD (Rp) (c) Efektivitas PAD (d) (𝑑) = (𝑐) (𝑏) 𝑥 100% 2009 22.581.000.000 17.386.741.568,44 76,99% 2010 30.000.000.000 17.735.602.953,95 59,12% 2011 30.000.000.000 30.257.308.053,14 100,86% 2012 33.200.000.000 38.794.059.670,38 116,85% 2013 50.793.502.612 59.670.241.826,89 117,48%
Sumber : Data diolah, 2015
Pencapaian efektivitas terendah terjadi pada tahun 2010 dengan persentase 59,12%. Pencapaian efektivitas tertinggi terjadi pada tahun 2013 dengan persentase 117,48%.
Analisis Potensi
Potensi pajak hiburan merupakan
pencerminan dari keadaan yang sebenarnya Pemerintah Kota Batu, hal ini diperlukan untuk mengetahui seberapa besar potensi pajak hiburan yang ada di Kota Batu.
Tabel 7. Total Potensi Pajak Hiburan Kota Batu Tahun 2009 – 2013
No. Tahun Potensi Pajak Hiburan
1. 2009 Rp 2.384.545.000 2. 2010 Rp 3.031.507.500 3. 2011 Rp 3.785.597.500 4. 2012 Rp 1.884.221.250 5. 2013 Rp 2.094.187.500 TOTAL Rp 13.180.058.750 Sumber : Data diolah, 2015
Analisis Kontribusi
Analisis kontribusi digunakan untuk mengetahui besarnya sumbangan yang diberikan oleh penerimaan pajak hiburan terhadap PAD. Tabel 8. Kontribusi Penerimaan Pajak Hiburan
Terhadap Pendapatan Asli Daerah Kota Batu Tahun 2009 – 2013 Thn (a) Realisasi Pajak Hiburan (Rp) (b) Realisasi Pendapatan Asli Daerah (Rp) (c) Rasio Kontribusi (%) (d) Ketera ngan (𝑑) = (𝑏) (𝑐) 𝑥 100% 2009 1.978.360.490,00 17.386.741.568,44 11,38 Kurang 2010 2.766.190.750,00 17.735.602.953,95 15,60 Kurang 2011 3.751.062.526,00 30.257.308.053,14 12,40 Kurang 2012 3.402.281.809,00 38.794.059.670,38 8,77 Sangat Kurang 2013 6.286.088.670,00 59.670.241.826,89 10,53% Kurang
Sumber : Data diolah, 2015 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan, penelitian ini memberikan kesimpulan berupa analisis pajak hiburan dan PAD Kota Batu yang terdiri atas laju pertumbuhan, efektivitas, dan kontribusi pajak hiburan terhadap PAD, yang dijabarkan sebagai berikut :
1. Pertumbuhan pajak hiburan Kota Batu tahun 2009 – 2013 mengalami fluktuasi. Laju pertumbuhan pajak hiburan terendah terjadi pada tahun 2011 ke 2012, sedangkan pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2012 ke 2013;
2. Efektivitas pajak hiburan pada tahun 2009 – 2013 mengalami fluktuasi. Efektivitas terendah pajak hiburan terjadi pada tahun 2010, dan efektivitas tertinggi terjadi pada tahun 2012; 3. Potensi pajak hiburan tertinggi terjadi pada
tahun 2011 dan potensi terendah terjadi pada tahun 2012. Setiap tahun potensi pajak hiburan meningkat, dikarenakan pada tahun 2012 ada pergantian peraturan daerah maka pajak hiburan menurun;
4. Kontribusi pajak hiburan terhadap PAD Kota Batu mengalami fluktuasi. Tahun 2009 – 2011 kontribusi pajak hiburan terhadap PAD memiliki kriteria kurang, dan tahun 2012 memiliki kriteria sangat kurang. Pada tahun 2013 kontribusi pajak hiburan terhadap PAD memiliki kriteria kurang. Kontribusi tertinggi terjadi pada tahun 2010 dan kontribusu terendah terjadi pada tahun 2012.
Jurnal Administrasi Bisnis - Perpajakan (JAB)|Vol. 6 No. 2 2015| perpajakan.studentjournal.ub.ac.id
6 Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan diatas, maka peneliti mencoba memberi saran antara lain :
1. Pertumbuhan pajak daerah di Kota Batu lebih ditingkatkan lagi karena pajak daerah merupakan komponen PAD yang memiliki penerimaan terbesar dibandingkan dengan komponen PAD yang lain, apabila pajak daerah meningkat maka PAD meningkat. Pertumbuhan pajak daerah yang tinggi dapat dilakukan dengan meminimalisir jumlah tunggakan WP dan melakukan pungutan terhadap WP yang kurang sadar dalam membayar pajak terutangnya. WP yang tidak patuh dalam membayar pajak terutang dapat dikenakan sanksi administrasi oleh Dispenda Kota Batu berupa bunga sebesar 2% (dua persen) setiap bulan berdasarkan Peraturan Daerah Kota Batu Nomor 6 Tahun 2010 tentang Pajak Hiburan;
2. Kontribusi pajak hiburan terhadap PAD harus ditingkatkan agar penerimaan pajak khususnya dalam sektor hiburan dapat menyumbang PAD lebih besar. Dispenda Kota Batu selaku perangkat daerah yang mengelola pajak daerah seharusnya lebih menggali sumber pajak daerah dan dapat mengelola pajak daerah agar mendapatkan hasil yang optimal. Dispenda Kota Batu dapat meningkatkan kontribusi pajak daerah dengan cara intensifikasi dan ekstensifikasi agar PAD Kota Batu dapat meningkat sehingga mempercepat pembangunan daerah;
3. Dispenda Kota Batu melakukan upaya pendekatan kepada WP agar tidak terjadi kecurangan dalam pengurangan pajak terutang atau salah persepsi terkait pajak terutang dan dapat tercapainya kesepakatan berdasarkan asas keadilan dengan cara wajib pajak terbuka dalam pelaporkan pendapatan agar tidak terjadi kesalahpahaman mengenai pajak terutangnya;
4. Meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) aparatur dengan mengikuti diklat pendidikan maupun studi banding dengan instansi lain agar dapat bertukar informasi terkait permasalahan dan penyelesaian yang ada pada instansi luar daerah guna pembangunan daerah khususnya Kota Batu dan mencegah
kelalaian Wajib Pajak dalam melaporkan pajaknya.
DAFTAR PUSTAKA
Anshari, Tunggul. 2006. Pengantar Ilmu Hukum. Malang: Bayu Media Publishing
Halim, Abdul. 2004. Manajemen Keuangan Daerah Edisi Revisi. Yogyakarta: UPP AMP YKPN Bunga Rampai.
Mardiasmo. 2013. Perpajakan Edisi Revisi. Yogyakarta: ADI OFFSET.
Muluk, M.R.Khairul. 2009. Peta Konsep Desentralisasi Dan Pemerintahan Daerah. Surabaya: ITS Press.
Peraturan Daerah Kota Batu Nomor 6 Tahun 2010 tentang Pajak Hiburan.
Siregar, Sofyan. 2014. Statistik Parametrik untuk Penelitian Kuantitatif: dilengkapi dengan Perhitungan Manual dan Aplikasi SPSS Versi 17. Jakarta: Bumi Aksara.
Supramono & Theresia W. Damayanti. 2005. Perpajakan Indonesia: Mekanisme Dan Potongan. Yogyakarta: Andi Offset.
Supriadi, Dara Rizky. 2015. Kontribusi Pajak hiburan dalam Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah di Kota Malang. Skripsi.
Yuwono, Firman Hadi K. 2013. Analisis dan Kontribusi Pajak Hiburan terhadap Pendapatan Asli Daerah. Skripsi.
Widjaja, A.W. 1998. Titik Berat Otonomi Daerah: Pada Daerah Tingkat II. Jakarta: PT.Raja Grafindo. Republik Indonesia Undang-Undang Nomor 28 Tahun
2009 tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah.
Republik Indonesia Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.
Republik Indonesia Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan