ANALISIS YURIDIS TERHADAP PERIKATAN JUAL BELI TANAH YANG MENGANDUNG PERBUATAN MELAWAN HUKUM DALAM
PUTUSAN NOMOR 43/PDT.G/2009/PN.TPI SKRIPSI
Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Syarat-Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas
Sumatera Utara
OLEH:
HERLIZA 160200418
DEPARTEMEN HUKUM KEPERDATAAN PROGRAM KEKHUSUSAN HUKUM PERDATA BW
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2021
ABSTRAK Herliza*
Edy Ikhsan**
Eko Yudhistira***
Suatu akta Perikatan Jual Beli (PJB) merupakan akta autentik yang menjadi alat bukti yang kumulatif berdasarkan Pasal 1868 KUHPer. Akta autentik haruslah dibuat oleh pejabat yang berwenang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Akta Perikatan Jual Beli (PJB) adalah akta yang harus dibuat dihadapan notaris. Namun bagaimana bila akta tersebut hanya diberikan oleh staff notaris dan penandatanganan akta tersebut dilakukan tidak dihadapan notaris? Serta bagaimana legalisasi akta yang dilakukan notaris tidak dihadapan para pihak? Hal ini merupakan perbuatan melawan hukum yang dilakukan notaris. Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini bagaimana jika PJB Tanah yang telah dilegalisasi oleh Notaris mengandung Perbuatan Melawan Hukum. Bagaimana Perbuatan Melawan Hukum yang didasarkan oleh ketiadaan itikad baik dalam pembuatan akta aut entik, bagaimana kekuatan hukum PJB tanah serta peralihan hak atas tanah yang didasari oleh perbuatan melawan hukum, bagaimana analisis yuridis terhadap putusan wanprestasi PJB tanah yang mengandung perbuatan melawan hukun dalam putusan Nomor 43/PDT.G/2009/PN TPI.
Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah hukum normatif dan studi putusan yang menggunakan bahan kepustakaan penelitian, yaitu bahan hukum primer, sekunder dan tersier. Teknik pengumpulan data menggunakan data pustaka yang menganalisa secara sistematis buku-buku, perundang-undangan serta bahan-bahan lainnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab terjadinya perbuatan melawan hukum dalam PJB ialah PJB yang telah dilegalisasi oleh notaris namun para pihak menandatangani PJB tersebut tidak dihadapan Notaris yang bersangkutan sehingga Notaris telah melakukan perbuatan melawan terhadap Undang-Undang Jabatan Notaris Pasal 56. Dengan adanya perbuatan melawan hukum yang dilakukan notaris maka PJB tersebut menjadi cacat hukum dan sudah seharusnya dibatalkan keabsahannya oleh hakim, dengan batalnya PJB tersebut maka batal juga perbuatan hukum setelah adanya PJB tersebut. Namun hakim Pengadilan Negeri Tanjung Pinang tidak membatalkan keabsahan PJB tersebut dengan alasan kurangnya bukti yang dihadirkan Para Tergugat dalam persidangan.
Kata Kunci: Wanprestasi, Perbuatan Melawan Hukum, Perjanjian Perikatan Jual Beli
.
* Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
** Dosen Pembimbing I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
*** Dosen Pembimbing II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan karunia-Nya yang telah memberikan kekuatan serta kemampuan untuk menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul “ANALISIS YURIDIS TERHADAP PERIKATAN JUAL BELI TANAH YANG MENGANDUNG PERBUATAN MELAWAN HUKUM DALAM PUTUSAN NOMOR 43/PDT.G/2009/PN.TPI”. Penulisan skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Hukum Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Semoga penulisan ini bermanfaat bagi ilmu pengetahuan dan para pembaca sekalian. Penulis sadar bahwa terdapat banyak kekuarangan dan kesalahan dalam penulisan skripsi ini sehingga segala kritik dan saran akan sangat berguna bagi penulis.
Selama penulisan skripsi ini, penulis mendapatkan banyak bantuan, dukungan, semangat, saran, motivasi dan doa dari berbagai pihak, terkhusus kedua orang tua penulis yakni Ayah Bornok Silaban dan Ibu Jenti Lumbantoruan. Terima kasih atas semua doa dan dukungan serta kasih sayang yang tidak terhingga kepada penulis selama menyelesaikan skripsi ini, dan bahkan penulis tidak dapat membalas jasa-jasanya.pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada:
1. Bapak Dr. Muryanto Amin S.Sos., M.Si., sebagai Rektor Universitas Sumatera Utara;
2. Bapak Dr. Mahmul Siregar S.H., M.Hum., sebagai Dekan Fakultas
Hukum Universitas Sumatera Utara;
3. Ibu Dr. Agusmidah S.H., M.Hum., sebagai Wakil Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;
4. Ibu Puspa Melati S.H., M.Hum., sebagai Wakil Dekan II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;
5. Bapak Dr. Mohammad Ekaputra S.H., M.Hum., sebagai Wakil Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;
6. Prof. Dr. Rosnidar Sembiring S.H., M.Hum., sebagai Ketua Departemen Hukum Keperdataan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;
7. Bapak Dr. Edy Ikhsan S.H., MA., selaku Dosen Pembimbing I yang telah banyak memberikan dukungan, arahan dan meluangkan waktunya dalam memberikan bantuan dalam proses bimbingan skripsi ini;
8. Bapak Eko Yudhistira Kalo S.H., M.Kn., selaku Dosen Pembimbing II yang telah banyak memberikan dukungan, arahan dan meluangkan waktunya dalam memberikan bantuan dalam proses bimbingan skripsi ini;
9. Ibu Faradilla Yulistari Sitepu S.H., M.H., selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah banyak meluangkan waktu untuk memberikan nasehat kepada penulis, selama penulis menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;
10. Seluruh Dosen, Staf Pegawai dan Tata Usaha di Fakultas Hukum Universitas
Sumatera Utara yang telah mengajar dan memberikan ilmu yang terbaik,
serta membimbing dan membantu penulis selama menjalani studi di Fakultas
Hukum Universitas Sumatera Utara;
11. Teristimewa kepada saudara kandung penulis Rudi Iwan Tono Silaban, Jonlenon Jadi Aman Silaban, Bunga Pransa Silaban dan Alm. Ronaldo Robinson Silaban yang selalu memberikan doa, dukungan, motivasi serta dorongan kepada penulis;
12. Keluarga Besar penulis Silaban Family dan Lumbantoruan Family, terimakasih atas dukungan, motivasi dan doa yang telah diberikan kepada penulis;
13. Sahabat terkasih penulis Fritz Hernandez Silalahi dan Oktayola Estirana Sembiring (stbk 16) yang telah banyak meluangkan waktu, memberikan dukungan, memberikan bantuan, serta doa selama penulis menjalani proses perkuliahan sampai tahap penyelesaian skripsi ini;
14. Rekan, sahabat dan juga yang telah penulis anggap sebagai adik yaitu Vinni Hediana Sinaga (stbk 17) yang memberi semangat serta meluangkan waktu menemani penulis mengerjakan skripsi;
15. Teman-teman dan sahabat penulis di kelompok kecil Yahaziel Efraim KMK UP FH yaitu Edwin, Haposan, Sri, Kinski, dan Gilbert. Abang Dian Prawiro Napitupulu sebagai abang rohani yang selalu sabar dan memberikan nasehat;
16. Rekan-rekan termanis Prayudha 16 Menwa USU, yang selalu memberikan nasehat, motivasi, bantuan serta banyak waktu yang diluangkan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini;
17. Keluarga Besar UKM Merpati Putih FH, senioren hingga adik-adik yang
tidak mungkin penulis sebutkan satu persatu, karena atas bantuan serta
motivasi dan dorongan yang kalian berikan maka penulis dapat menyelesaikan skripsi ini;
18. Keluarga Besar UKM Resimen Mahasiswa (Menwa) USU, senioren hingga adik-adik yang tidak mungkin saya sebutkan satu persatu, karena atas bantuan serta motivasi yang kalian berikan maka penulis dapat menyelesaikan skripsi ini;
19. Ibu Cholderia Sitinjak, SH., M.Hum yang memberikan bantuan, motivasi dan saran sehingga penulis dapat memulai serta menyelesaikan penulisan skripsi ini;
20. Putri Melati Siahaan dan Nensi Saragih yang selalu memberikan dukungan dan semangat;
21. Teman-teman stambuk 2016 & IMP (Ikatan Mahasiswa Perdata) lainnya.
Terima kasih atas waktu dan bantuannya.
Demikianlah yang dapat penulis sampaikan, akhir kata penulis sekali lagi mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu penulis yang tidak dapat disebutkan namanya satu per satu. Semoga skripsi ini bermanfaat dan berdaya guna.
Medan, Juli 2021 Penulis
Herliza
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... vi
BAB I: PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang... 1
B. Rumusan Masalah ... 8
C. Tujuan Penulisan ... 8
D. Manfaat Penulisan ... 9
E. Tinjauan Pustaka... 10
F. Keaslian Penulisan... 10
G. Metode Penelitian ... 12
H. Sistematika penulisan... 15
BAB II : PERBUATAN MELAWAN HUKUM YANG DIDASARKAN OLEH KETIADAAN ITIKAD BAIK DALAM PEMBUATAN AKTA AUTENTIK ... 17
A. Tinjauan Umum Perbuatan Melawan Hukum ... 17
B. Jenis-Jenis Akta Dalam Hukum Indonesia ... 27
C. Kedudukan Pejabat Umum dalam Membuat Akta Autentik ... 42
BAB III : KEKUATAN HUKUM DALAM PERIKATAN JUAL BELI TANAH SERTA PERALIHAN HAK ATAS TANAH YANG DIDASARI OLEH PERBUATAN MELAWAN HUKUM ... 57
A. Jual Beli Tanah dalam Perundang-Undangan di Indonesia ... 57
1. Perjanjian Sebagai Awal Dari Perikatan ... 57
2. Pengertian Perjanjian Jual Beli ... 62
3. Perikatan Jual Beli Tanah Berdasarkan Hukum Perdata ... 66
B. Mekanisme Perikatan Jual Beli Tanah Berdasarkan Peraturan Perundang- Undangan ... 67
C. Kaitan Perikatan Jual Beli Tanah dengan Ketentuan Peralihan Hak Atas
Tanah ... 70
D. Kekuatan Hukum Akta Perikatan Jual Beli Tanah dalam Peralihan Hak Atas
Tanah yang Didasari oleh Perbuatan Melawan Hukum ... 74
BAB IV : ANALISIS YURIDIS TERHADAP PUTUSAN WANPRESTASI PERIKATAN JUAL BELI TANAH YANG MENGANDUNG PERBUATAN MELAWAN HUKUM DALAM PUTUSAN NOMOR 43/PDT.G/2009/PN.TPI ... 77
A. Kasus Posisi Perkara Wanprestasi Jual Beli Tanah (Putusan Nomor 43/Pdt.G/2009/PN.TPI) ... 77
B. Pertimbangan Hakim dalam Kasus Wanprestasi dalam Perikatan Jual Beli Tanah (Putusan Nomor 43/Pdt.G/2009/PN.TPI) ... 101
C. Analisis Pertimbangan Hakim ... 119
BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN ... 123
A. Kesimpulan... 123
B. Saran ... 125
DAFTAR PUSTAKA ... 127
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Tanah memiliki peran yang sangat besar dalam kehidupan manusia, terutama sebagai tempat tinggal. Tidak hanya sebagai tempat tinggal, kebanyakan kegiatan manusia dilakukan di atas tanah, seperti bercocok tanam, membangun usaha, melangsungkan kehidupan dan sebagainya, sehingga ini dapat membuktikan bahwa manusia tidak bisa lepas dari tanah. Karena manusia sangat bergantung pada tanah, manusia selalu berusaha memiliki dan menguasai tanah untuk kepentingan mereka ataupun kepentingan berkelompok. Tanah adalah tempat pemukiman dari umat manusia di samping sumber penghidupan bagi mereka yang mencari nafkah melalui pertanian dan pada akhirnya tanah pulalah yang dijadikan tempat persemayaman terakhir bagi orang yang telah meninggal dunia.
1Awal mula terjadinya pendaftaran tanah yaitu sejak berlakunya Undang Undang Pokok Agraria yang mana dalam isi undang-undang tersebut ada mengatur tentang pendaftaran tanah dan lebih lanjut diatur dengan Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1961 yang diganti dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah. Awal mula pendaftaran tanah dilakukan dengan cara sistematik dan cara sporadik. Namun pendaftaran tanah secara sistematik lebih diutamakan, karena dengan cara ini dapat mempercepat perolehan data mengenai bidang-bidang tanah yang akan didaftarkan daripada melalui pendaftaran tanah secara sporadik.
2
1 Abdurachman, Masalah Pencabutan Hak dan Pembebanan Atas Tanah di Indonesia, Sari Hukum Agraria I, (Bandung : Alumni, 1978), hlm. 11
2 Zaidar, Dasar Filosofi Hukum Agraria Indonesia, (Medan: Pustaka Bangsa Press, 2016), hlm. 139-140
Pendaftaran tanah pertama kali dapat dilakukan berdasarkan hukum adat, penetapan pemerintah dan ketentuan undang-undang.
3Pendaftaran tanah yang dilakukan di seluruh wilayah Indonesia yang bertujuan menjamin kepastian hukum yang bersifat rechtkadaster atau menjamin kepastian hukum dan hak atas tanah.
4Tujuan lain dilakukannya pendaftaran tanah yaitu untuk menyediakan informasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan dan untuk terselenggaranya tertib administrasi di bidang pertanahan secara baik.
5Pendaftaran tanah dilakukan karena untuk kepentingan dan keadaan negara dan masyarakat, keperluan lalu lintas sosial ekonomi dan kemungkinan terlebih dahulu akan dilakukan di kota- kota dan lambat laun akan meliputi seluruh wilayah negara.
6Pendaftaran tanah dilaksanakan berdasarkan asas sederhana, aman, terjangkau, mutakhir dan terbuka.
Kepemilikan hak atas tanah tidak hanya dapat dilakukan pada tanah yang belum pernah didaftarkan tetapi juga dapat memiliki tanah yang telah didaftarkan dengan cara melakukan peralihan hak atas tanah seperti jual beli, tukar menukar, penghibahan, pemberian dengan wasiat dan perbuatan-perbuatan lain yang bermaksud memindahkan hak pemilikan atas tanah.
7Namun untuk memiliki hak kuasa atas tanah tidak hanya dengan penguasaan hak milik atas tanah, ada beberapa hak-hak yang dapat dikuasai oleh masyarakat seperti hak guna bangunan, hak guna usaha, hak pakai, hak sewa, hak membuka tanah, hak
3 UU No. 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, Pasal 22
4 Zaidar,Op.Cit, hal. 133
5 Ibid,
6 Ibid, hlm. 134-135
7 Harun Al Rashid, Sekilas Tentang jual Beli Tanah (Berikut Peraturan-Peraturannya), (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1985), hlm. 50
memungut hasil hutan dan hak-hak lainnya.
8Berbagai jenis hak atas tanah tersebut memudahkan masyarakat untuk mendapatkan tempat tinggal dan juga tempat usaha namun dengan prosedur hukum yang berlaku.
Keseluruhan hak-hak atas tanah diatas, umumnya masyarakat menginginkan hak atas tanah sebagai hak milik, karena hak milik atas tanah memiliki lebih banyak keuntungan seperti merupakan hak terkuat, hak turun temurun dan dapat beralih, dapat menjadi induk tetapi tidak dapat berinduk pada hak-hak atas tanah lainnya, dapat dijadikan jaminan hutang dengan dibebani hak tanggungan, dapat dialihkan dan dapat diwakafkan,
9sedangkan hak-hak lain memiliki jangka waktu dalam menguasai tanah seperti yang telah diatur oleh undang-undang.
Jual beli tanah biasanya dilakukan supaya si pembeli dapat secara sah menguasai dan menggunakan tanah dengan kehendaknya.
10Peralihan jual beli tanah yang telah sah beralih dibuktikan dengan adanya balik nama yang dilakukan oleh dan hadapan pejabat pembuat akta tanah atau biasanya disebut PPAT. Peralihan jual beli merupakan peralihan yang paling mudah dilakukan, dikatakan lebih mudah dilakukan karena dalam peralihan jual beli hanya perlu mencari penjual yang mau menjual tanahnya yang memang telah menjadi hak miliknya lalu melakukan kesepakatan tentang harga ta nah tersebut, dibanding peralihan dengan hibah yang hanya dapat dilakukan apabila ada orang yang ingin menghibahkan tanahnya, dan biasanya
8 Ibid.,hlm. 22
9 Ibid., hlm. 23-24
10 Urip Santoso, Pendaftaran Dan Peralihan Hak Atas Tanah, Edisi Pertama, (Jakarta:
Kencana, 2010), hlm. 358
dihibahkan kepada orang tertentu atau peralihan melalui warisan yang hanya dapat dilakukan apabila memang orang yang mempunyai tanah tersebut sudah meninggal dunia.
Peralihan hak milik atas tanah berdasarkan jual beli biasanya melalui dua metode, yaitu yang pertama dengan melakukan Perjanjian Perikatan Jual Beli (PPJB), Perikatan Jual Beli (PJB) lalu membuat Akta Jual Beli (AJB), yang kedua yaitu setelah pembuatan Perjanjian Perikatan Jual Beli (PPJB) langsung membuat Akta Jual Beli (AJB). Jual beli yang di awali dengan pembuatan PJB biasanya karena adanya syarat- syarat atau keadaan-keadaan yang harus dilaksanakan terlebih dahulu oleh para pihak sebelum melakukan akta jual beli,
11seperti pembayaran yang belum lunas (PJB belum lunas) atau pajak tanah tersebut masih tertunggak (PJB lunas)
Suatu perikatan dapat lahir dari undang-undang dan perjanjian, perikatan yang lahir dari undang-undang dibagi dua (2) yaitu dari undang-undang saja dan yang lahir dari undang-undang karena perbuatan seorang.
12Sedangkan perikatan yang lahir dari perjanjian harus memenuhi empat syarat, yaitu:
131. Kesepakatan para pihak, maksudnya tidak dilakukan dengan paksaan, kekhilafan ataupun penipuan
2. Kecakapan untuk membuat suatu perjanjian, maksudnya orang yang tidak dibawah umur, dibawah pengawasan/pengampuan
3. Suatu hal tertentu yang diperjanjikan, maksudnya haruslah suatu hal atau suatu barang yang cukup jelas dan tertentu
11 https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt53d8fec20b060/perjanjian-pengik atan-jual-beli-sebagai-alat-bukti/
12 Subekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata, (Jakarta: PT Intermasa, 2003), hlm. 132
13 Ibid., hlm. 134
4. Suatu sebab yang halal, maksudnya tidak terlarang atau bertentangan dengan undang-undang, kesusilaan atau ketertiban umum
Namun apabila perjanjian dilakukan bertentangan dengan syarat nomor 1 dan 2, yang merupakan syarat subjektif maka perjanjian tersebut dapat diminta pembatalannya pada hakim, dan bila bertentangan dengan syarat nomor 3 dan 4 yang merupakan syarat objektif maka perjanjian tersebut batal demi hukum.
14Dalam KUHPerdata ada 2 (dua) jenis akta, yaitu akta autentik dan akta dibawah tangan. Perbedaan akta autentik dengan akta dibawah tangan ialah akta autentik dibuat atau di hadapan pejabat umum menurut undang-undang, sedangkan akta dibawah tangan dibuat hanya berdasarkan para pihak saja tanpa adanya pejabat umum.
15Perbedaan prinsip pembuktian antara akta dibawah tangan dengan akta autentik adalah jika pihak lawan mengingkari akta tersebut, akta dibawah tangan selalu dianggap palsu sepanjang tidak dibuktikan keasliannya, sedangkan akta autentik selalu dianggap asli kecuali terbukti kepalsuannya.
16Menurut Pasal 1868 KUHPerdata, sebuah akta dapat dikatakan autentik apabila telah memenuhi unsur-unsur sebagai berikut, yaitu:
17a. Dibuat dalam bentuk yang ditentukan undang-undang
b. Dibuat oleh atau di hadapan pejabat umum yang berwenang untuk maksud pembuatan akta tersebut
c. Dibuat di wilayah pejabat yang berwenang
14 https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/cl3520/batalnya-suatu-perjanjian/
15 Subekti, Op. Cit., hlm. 178-179
16 Ahmadi Miru, Hukum Kontrak & Perancangan Kontrak, (Depok: Rajawali Pers, 2018), hlm. 15
17 https://bh4kt1.wordpress.com/2010/12/30/otentisitas-suatu-akta-autentik/, diakses tanggal 01 November 2020
Dalam pembuatan akta autentik harus dihadiri oleh para pihak, 2 (dua) orang saksi pengenal
18beserta pejabat umum atau notaris, serta isi dari perikatan tersebut harus diketahui oleh semua pihak yang hadir. Namun beberapa akta autentik yang dibuat mengandung kecurangan, seperti pembuatannya dipaksa, isi dari akta tersebut tidak diketahui oleh salah satu pihak, atau bahkan kesalahan berasal dari pejabat yang membuat akta tersebut seperti pemalsuan isi akta atau akta tersebut dibuat oleh staf notaris dan notaris tersebut tidak ada di tempat untuk menyaksikan pembuatan akta tersebut, atau akta yang dibuat tidak adanya saksi dalam pembuatan akta tersebut dengan demikian akta tersebut menjadi akta dibawah tangan.
19Menurut Klaassebm, virlijden (yang mempunyai arti menyusun, membacakan dan menandatangani akta) diartikan membaca aktanya oleh notaris kepada penghadap dan saksi-saksi serta penandatanganan oleh penghadap dan saksi-saksi dan notaris.
20Apabila sebuah akta autentik yang telah dilegalisir dan ditandatangani oleh notaris tetapi dalam pembuatan akta tersebut notaris tidak ada di tempat, dimana sudah pasti tidak ada pembacaan isi dari akta tersebut oleh notaris, maka notaris tersebut telah melakukan perbuatan melawan hukum, sebab tidak melakukan prosedur pembuatan akta sesuai dengan perundang-undangan, dengan demikian akta yang telah dilegalisasi oleh notaris tersebut dapat dinyatakan tidak sah dan tidak mengikat.
Masalah inilah yang ingin diangkat kepermukaan, terdapat dalam putusan No. 43/pdt.G/2009/PN TPI, dalam kasus ini permasalahan hukumnya adalah
18 Pasal 38 Angka 3D, UU No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris
19 Pasal 41 UU No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris
20 Ibid.
tentang Perbuatan Melawan Hukum (PMH) dalam jual beli tanah dimana pembuatan surat Pengikatan Jual Beli (PJB) tanah No. 160/L/2008 yang telah dilegalisasi oleh notaris Murnes Munaf tidak dihadiri oleh notaris itu sendiri, tetapi akta perikatan jual beli tanah tersebut telah disiapkan dan diberikan oleh staf notaris tersebut, lalu dilakukan penandatanganan hanya di hadapan staf notaris dan tidak adanya saksi dalam pembuatan surat PJB tersebut. Dimana tidak adanya saksi dalam pembuatan akta tersebut bertentangan dengan Pasal 44 ayat (1) undang-undang jabatan notaris yang menyatakan bahwa, segera setelah akta dibacakan, akta tersebut ditandatangani oleh setiap penghadap, saksi, dan notaris, kecuali apabila ada penghadap yang tidak dapat membubuhkan tandatangan dengan menyebutkan alasannya.
21Setelah penandatanganan tersebut para pihak pulang ketempatnya masing- masing, lalu kira-kira lima (5) bulan kemudian akta turunan PJB yang telah dilegalisasi oleh notaris Murnes Munaf tersebut diantarkan kerumah pihak tergugat.
Dalam hal ini akta PJB tersebut salah dan mengandung perbuatan melawan hukum, karena notaris tersebut melegalisasi akta PJB tidak di hadapan para pihak dan tidak adanya tanda tangan para saksi atau dapat dikatakan akta tersebut bukan akta autentik melainkan akta dibawah tangan. Dengan demikian surat kuasa yang terdapat di dalam akta dibawah tangan tersebut tidak berlaku dimana syarat dalam pengurusan balik nama sertifikat tanah surat kuasanya haruslah surat kuasa autentik.
Namun hakim Pengadilan Negeri Tanjung Pinang tidak melihat adanya kekurangan atau kejanggalan dalam isi akta PJB tersebut, bahkan menyatakan bahwa
21 Undang undang Nomor 30 Tahun 2004 Pasal 44 Angka 1 tentang Jabatan Notaris
akta PJB tersebut sah dan mengikat. Dengan sah dan mengikatnya akta PJB tersebut menjadi langkah awal proses peralihan hak atas tanah dari tergugat ke penggugat.
Karena pemberian kuasa yang tertulis di dalam PJB tersebut dianggap sah dan mengikat sehingga menjadi dasar bagi penggugat selaku yang diberi kuasa, dapat membuat akta jual beli dan melakukan balik nama sertifikat tanah dengan sendirinya.
Berdasarkan latar belakang tersebut maka penulis dalam hal ini tertarik untuk membahas mengenai ANALISIS YURIDIS TERHADAP PERIKATAN JUAL BELI TANAH YANG MENGANDUNG PERBUATAN MELAWAN HUKUM DALAM PUTUSAN NOMOR 43/PDT.G/2009/PN.TPI
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah perbuatan melawan hukum yang didasarkan oleh ketiadaan itikad baik dalam pembuatan akta autentik?
2. Bagaimanakah kekuatan hukum dalam Perikatan Jual Beli Tanah serta Peralihan Hak Atas Tanah yang didasari oleh perbuatan melawan hukum?
3. Bagaimanakah pertimbangan hakim dalam memutuskan sengketa perikatan jual beli tanah yang mengandung perbuatan melawan hukum dalam putusan nomor 43/Pdt.G/2009/PN.TPI?
C. Tujuan Penulisan
Adapun yang menjadi tujuan dari penulisan skripsi ini adalah:
1. Untuk mengetahui perbuatan melawan hukum yang didasarkan oleh
ketiadaan itikad baik dalam pembuatan akta autentik
2. Untuk mengetahui kekuatan hukum dalam Perikatan Jual Beli Tanah serta Peralihan Hak Atas Tanah yang didasari oleh perbuatan melawan hukum 3. Untuk mengetahui pertimbangan hakim dalam memutuskan sengketa
perikatan jual beli tanah yang mengandung perbuatan melawan hukum dalam putusan nomor 43/Pdt.G/2009/PN.TPI
D. Manfaat Penulisan
Pada dasarnya suatu penulisan yang dibuat, diharapkan dapat memberikan manfaat bagi siapa saja yang membacanya. Adapun manfaat dari penulisan ini antara lain:
1. Manfaat Teoritits
Penulisan ini secara teoritis memberikan pemahaman dan pandangan dalam penyelesaian sengketa perikatan jual beli tanah yang mengandung perbuatan melawan hukum sekaligus menyesuaikan nilai harga jual beli tanah yang pantas sehingga mendapatkan keadilan yang setara antara para pihak. Bermanfaat bagi kalangan akademisi dan dapat digunakan sebagai referensi dalam penilitian.
2. Manfaat Praktis
Penulisan ini secara praktis bermanfaat bagi masyarakat khususnya
orang perorangan atau badan hukum yang menghadapi perkara yang
mirip perkara ini khususnya tentang perjanjian perikatan jual beli
tanah yang mengandung perbuatan melawan hukum dan memberi
solusi atas permasalahan yang diteliti.
E. Tinjauan Pustaka
Perikatan adalah suatu hubungan hukum (mengenai kekayaan harta benda) antara dua orang, yang memberi hak pada yang satu untuk menuntut barang sesuatu dari yang lainnya, sedangkan orang yang lainnya ini diwajibkan memenuhi tuntutan itu.
22Jual beli adalah suatu perjanjian, dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk menyerahkan suatu kebendaan dan pihak yang lain untuk membayar harga yang telah dijanjikan.
23Perikatan jual beli tanah adalah sebuah kesepakatan jual beli tanah yang mengikat antara kedua belah pihak karena adanya alasan-alasan yang belum terpenuhi seperti pembayaran yang belum lunas yang biasanya disebut PJB belum lunas atau pembayaran pajak yang tersendat yang biasa disebut PJB lunas dan dibuat oleh notaris.
Perbuatan melawan hukum adalah tiap perbuatan yang melanggar hukum dan membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang menimbulkan kerugian itu karena kesalahannya untuk menggantikan kerugian tersebut.
F. Keaslian Penulisan
Keaslian penulisan skripsi ini benar hasil dari pemikiran, ide dan gagasan penulis dengan mengambil panduan dari buku-buku dan literature-literature dari perpustakaan atau media lainnya yang berkaitan dengan judul skripsi ini.
22 Subekti, Op. Cit., hlm. 123
23 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Pasal 1457
Berdasarkan pemeriksaan judul skripsi yang ada di perpustakaan Universitas Sumatera Utara maupun penelusuran disitus-situs resmi Perguruan Negeri lainnya, penelitian tentang “Analisis Yuridis Terhadap Perikatan Jual Beli Tanah Yang Mengandung Perbuatan Melawan Hukum Dalam Putusan Nomor 43/PDT.G/2009/PN.TPI” ini memiliki keaslian dan tidak dilakukan plagiat dari penelitian lain. Judul penelitian yang berkaitan dengan penulisan skripsi ini yaitu:
1. Monika Sari Kristine Tarigan, Tesis : Analisis Yuridis Perbuatan Melawan Hukum Notaris Pembuatan Akta Pengikatan Jual Beli (APJB) Dengan Blangko Kosong (Studi Putusan No. 157K/PDT/2013), Medan : Universitas Sumatera Utara, 2017. Adapun permasalahan dalam tesis ini adalah:
1. Bagaimana kedudukan hukum akta pengikatan jual beli (APJB) yang dibuat notaris yang mengandung unsur perbuatan melawan hukum karena tanpa sepengetahuan pemilik tanah?
2. Bagaimana dasar pertimbangan hukum Majelis Hakim Mahkamah Agung RI dalam putusan MA No. 157K/Pdt/2013 dalam perkara perbuatan melawan hukum notaris pembuatan APJB dengan menggunakan blanko kosong?
3. Bagaimana akibat hukum dan bentuk tanggungjawab notaris apabila
APJB dengan menggunakan blanko kosong yang dibuat nya batal
demi hukum/dibatalkan oleh pengadilan karena mengandung unsur
perbuatan melawan hukum dan merugikan pihak lain?
Berdasarkan karya ilmiah yang diuraikan di atas secara umum pokok bahasannya hampir sama yaitu berkaitan dengan perbuatan melawan hukum terhadap perikatan jual beli, namun pada penulisan skripsi ini penulis lebih menitikberatkan mengenai kekuatan hukum peralihan hak atas tanah berdasarkan akta perikatan jual beli yang mengandung perbuatan melawan hukum, juga didalam rumusan masalah terdapat banyak perbedaan.
Oleh karena itu, keaslian skripsi ini terjamin adanya, bila ada pendapat atau kutipan dalam skripsi ini, semata-mata dijadikan pendukung dan pelengkap dalam penulisan yang memang sangat dibutuhkan dalam penyempurnaan skripsi ini.
G. Metode Penelitian
Penelitian hukum merupakan suatu kegiatan ilmiah, yang dilakukan berdasarkan pada metode, sistematika dan pemikiran tertentu sehingga dapat menganalisa satu atau beberapa gejala hukum guna mempelajarinya.
24Dalam hal ini, apa yang dikemukakan dalam skripsi ini merupakan pengambilan bahan tidak lepas dari media cetak dan media elektronik mengingat tulisan ini kerap diaktualisasikan melalui media cetak dan media elektronik.
Adapun metode penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dan studi putusan. Hukum normatif yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara
24 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (UI Press, 2008), hlm. 43
menganalisa hukum yang tertulis dan bahan pustaka atau bahan sekunder belaka yang lebih dikenal dengan nama dan bahan acuan dalam bidang hukum atau bahan rujukan bidang hukum. Adapun tujuannya adalah untuk mendapatkan hubungan antara peraturan dengan implementasinya didalam masyarakat. studi putusan merupakan menganalisis kasus menggunakan putusan yang telah ditetapkan oleh hakim atau putusan berkekuatan hukum tetap.
2. Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari bahan-bahan yang sudah siap tersaji dan dapat digunakan. Sumber data sekunder ini dapat diperoleh dari:
a. Bahan hukum primer, yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat sebagai berikut:
1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 2) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
3) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Pokok- Pokok Agraria
4) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris 5) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris 6) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran
Tanah
7) Peraturan Kepala BPN Nomor 1 Tahun 2006 Tentang Ketentuan Pelaksanaan PP Nomor 37 Tahun 1998 Tentang Peraturan Jabatan PPAT
8) Putusan Nomor 43/Pdt.G/2009/PN.Tpi 9) Putusan Nomor 785K/Pdt/2012
b. Bahan hukum sekunder, yaitu bahan-bahan yang memberikan penjelasan terhadap bahan hukum primer, seperti buku-buku bacaan atau karya ilmiah dari kalangan hukum dan artikel-artikel yang dimuat di internet yang berkaitan dengan judul skripsi ini.
c. Bahan hukum tersier, yaitu bahan-bahan yang memberi petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer maupun sekunder, seperti kamus (hukum) dan ensiklopedia.
253. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan (library research), yaitu dengan mengumpulkan dengan cara meneliti dokumen-dokumen dari bahan pustaka atau yang disebut dengan data sekunder yang meliputi peraturan perundang-undangan, buku-buku baik koleksi pribadi maupun perpustakaan, artikel-artikel yang diambil dari media cetak maupun media elektronik, makalah ilmiah, dan bahan-bahan lain yang berhubungan dengan materi yang akan dibahas.
25 Amiruddin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, (Depok: Rajawali Pers, 2016), hal. 32
4. Analisa Data
Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa kualitatif, yaitu mengikhtisarkan hasil pengumpulan data sekunder selengkap mungkin serta memilah-milahkannya dalam suatu konsep, kategori, atau tema tertentu sehingga dapat menjawab permasalahan-permasalahan dalam penulisan ini. Analisa kualitatif pada umumnya tidak membutuhkan populasi dan sampel dalam penelitiannya.
H. Sistematika penulisan
Sistematika penulisan dalam tugas akhir ini, disusun sebagai berikut:
Bab I mengenai Pendahuluan; yang berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, tinjauan pustaka, keaslian penulisan, metode penelitian, serta sistematika penulisan.
Bab II mengenai Perbuatan Melawan Hukum yang Didasarkan Oleh Ketiadaan Itikad Baik dalam Pembuatan Akta Autentik; yang membahas tinjauan perbuatan melawan hukum, jenis-jenis akta dalam hukum Indonesia serta kedudukan pejabat umum dalam membuat akta.
Bab III mengenai Kekuatan Hukum dalam Perikatan Jual Beli Tanah serta
Peralihan Hak Atas Tanah yang Didasari oleh Perbuatan Melawan Hukum; yang
memuat jual beli tanah dalam peraturan hukum Indonesia, mekanisme perikatan jual
beli tanah berdasarkan peraturan perundang-undangan, kaitan perikatan jual beli tanah
dengan ketentuan peralihan hak atas tanah, serta kekuatan hukum akta perikatan jual
beli tanah dalam peralihan hak atas tanah yang didasari oleh perbuatan melawan hukum.
Bab IV mengenai Analisis Yuridis Terhadap Perikatan Jual Beli Tanah yang Mengandung Perbuatan Melawan Hukum dalam Putusan Nomor 43/PDT.G/2009/PN.TPI; yang membahas kasus posisi perkara yang mengandung perbuatan melawan hukum, pertimbangan hakim dalam kasus perikatan jual beli tanah yang mengandung perbuatan melawan hukum beserta analisis pertimbangan hakim
Bab V mengenai Kesimpulan dan Saran; merupakan penutup dari seluruh
rangkaian bab-bab sebelumnya, yang berisikan kesimpulan yang dibuat berdasarkan
uraian skripsi ini yang dilengkapi saran-saran.
BAB II
PERBUATAN MELAWAN HUKUM YANG DIDASARKAN OLEH KETIADAAN ITIKAD BAIK DALAM PEMBUATAN AKTA AUTENTIK
A. Tinjauan Umum Perbuatan Melawan Hukum
Manusia adalah individu yang tidak bisa hidup dengan sendirinya, sebab manusia membutuhkan manusia lainnya untuk melangsungkan kehidupannya.
Hubungan manusia dengan manusia lainnya menimbulkan peristiwa-peristiwa di masyarakat. Peristiwa yang terjadi dalam masyarakat oleh hukum di beri akibat- akibat dinamakan kejadian hukum atau peristiwa hukum. Namun apabila suatu perbuatan yang tidak dikehendaki oleh hukum dilakukan oleh seseorang maka orang tersebut telah melakukan perbuatan yang melawan hukum.
1. Pengertian Perbuatan Melawan Hukum
Secara klasik, yang dimaksud dengan perbuatan dalam istilah perbuatan melawan hukum adalah:
261. Nonfeasance, yaitu untuk tidak berbuat sesuatu yang diwajibkan oleh hukum.
2. Misfeasance, yaitu perbuatan yang dilakukan secara salah, dimana perbuatan tersebut merupakan kewajibannya atau merupakan perbuatan yang dia mempunyai hak untuk melakukannya.
3. Malfeasance, yaitu perbuatan yang dilakukan padahal pelakunya tidak berhak untuk melakukan perbuatan tersebut.
26 Munir Fuady, Konsep Hukum Perdata, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2014), hlm.
249
Secara umum pengertian perbuatan melawan hukum diatur dalam Pasal 1365 KUHPerdata, yaitu “tiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada seorang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut”
27lalu diperkuat lagi dengan Pasal 1366 KUHPerdata yang berbunyi “setiap orang bertanggungjawab tidak saja untuk kerugian yang disebabkan perbuatannya, tetapi juga untuk kerugian yang disebabkan kelalaian atau kurang hati-hatinya”.
28Pengertian perbuatan melawan hukum dalam Pasal ini hanya tentang perbuatan melawan hukum yang melanggar undang-undang saja. Kemudian Hoge Raad dalam kasus Lindenbaum melawan Cohen, ia memperluas pengertiannya, yaitu bukan saja hanya melawan undang-undang tetapi juga setiap perbuatan yang melanggar kepatutan, kehati-hatian dan kesusilaan dalam hubungan antara sesama masyarakat dan terhadap benda orang lain.
29Lebih luas makna perbuatan melawan hukum, bisa terwujud dalam bentuk:
301. Tidak melakukan suatu perbuatan yang selayaknya dilakukan, dimana
dengan tidak dilakukannya hal tersebut telah merugikan kepentingan orang lain atau suatu hak hukum milik orang lain secara bertentangan dengan kepatutan atau kesusilaan atau dengan suatu kepantasan dalam masyarakat;
2. Tidak memberikan sesuatu yang seharusnya diberikan, yang dengan tidak diberikannya kebendaan tersebut telah merugikan kepentingan
27 Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
28 Pasal 1366 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
29 Sedyo Prayogo, “Penerapan Batas-Batas Wanprestasi dan Perbuatan Melawan Hukum dalam Perjanjian”. Pembaharuan Hukum, Volume III, No. 2, Mei-Agustus 2016, hlm. 284
30 Gunawan Widjaja dan Kartini Muljadi, Seri Hukum Perikatan: Perikatan Yang Lahir Dari Undang-Undang, (Jakarta: Rajawali Pers, 2003), hlm. 102
suatu hak hukum milik orang lain secara bertentangan dengan kepatutan atau kesusilaan atau dengan suatu kepantasan dalam masyarakat;
3. Melakukan sesuatu yang dengan dilakukannya hal tersebut telah memperkosa suatu hak hukum milik orang lain secara bertentangan dengan kepatutan atau kesusilaan atau dengan suatu kepantasan dalam masyarakat tanpa memperhatikan kepentingan orang lain.
Perbuatan melawan hukum merupakan suatu bentuk dari perikatan yang lahir dari undang-undang sebagai akibat perbuatan manusia yang melanggar hukum, yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
31Hubungan perbuatan melawan hukum dengan perikatan ialah suatu akibat dari perbuatan melawan hukum berisikan suatu perikatan untuk memberikan atau menyerahkan sesuatu, untuk berbuat atau melakukan sesuatu, serta untuk tidak melakukan atau untuk tidak berbuat sesuatu.
32Dimana akibat dari perbuatan melawan hukum tersebut mewajibkan orang atau badan hukum yang melakukan perbuatan itu mempunyai kewajiban untuk mengganti kerugian yang disebabkan oleh perbuatannya itu. Dan setiap ganti kerugian tidak hanya dalam bentuk uang tetapi bisa juga mengembalikan pada keadaan semula.
332. Unsur-Unsur Perbuatan Melawan Hukum
Sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 1365 KUHPerdata, suatu perbuatan melawan hukum haruslah mengandung unsur-unsur sebagai berikut:
34
31 Ibid, hlm. 81
32 Ibid, hlm. 84
33 Sri Redjeki Slamet, “Tuntutan Ganti Rugi dalam Perbuatan Melawan Hukum: Suatu Perbandingan dengan Wanprestasi”, Lex Jurnalica, Vol. 10, No. 2, Agustus 2013, hlm. 113
34 Munir Fuady, Op. Cit, hlm. 254-257
a. Adanya suatu perbuatan
Suatu perbuatan melawan hukum haruslah diawali dengan perbuatan dari si pelakunya, umumnya perbuatan yang dimaksudkan ialah baik berbuat sesuatu maupun tidak berbuat sesuatu, misalnya tidak berbuat sesuatu, padahal ia mempunyai kewajiban hukum untuk membuatnya, dimana kewajiban itu timbul dari hukum yang berlaku.
b. Perbuatan tersebut melawan hukum
Perbuatan yang dilakukan haruslah suatu perbuatan yang melawan hukum.
Unsur melawan hukum dapat diartikan secara luas sebagai berikut:
1. perbuatan yang melanggar undang-undang atau peraturan yang berlaku, 2. perbuatan yang melanggar hak orang lain yang dijamin oleh hukum, 3. perbuatan yang bertentangan dengan kewajiban hukum si pelaku, 4. perbuatan yang bertentangan dengan kesusilaan (geode zeden),
5. perbuatan yang bertentangan dengan sikap yang baik dalam bermasyarakat untuk memperhatikan kepentingan orang lain.
c. Adanya kesalahan dari pihak-pihak
Dalam suatu perbuatan melawan hukum, undang-undang dan yurisprudensi mensyaratkan agar para pelaku mengandung unsur kesalahan (schuldelement) dalam melaksanakan perbuatan tersebut. Karena diharuskan adanya unsur kesalahan dalam suatu perbuatan melawan hukum, maka perlu diketahui bagaimana cakupan dari unsur kesalahan tersebut. Suatu tindakan mengandung unsur kesalahan yang dapat dimintai pertanggungjawaban secara hukum jika memenuhi unsur-unsur sebagai berikut, yaitu:
1. Unsur kesengajaan,
Unsur kesengajaan dianggap ada jika perbuatan yang dilakukan dengan sengaja tersebut, telah menimbulkan konsekuensi tertentu terhadap fisik dan/atau mental atau properti dari korban, meskipun belum merupakan kesengajaan untuk melukai (fisik/mental) dari korban tersebut.
35Dengan kesengajaan, berarti sudah ada niat dalam hati dari pelaku untuk menimlkan kerugian tertentu pada korban, atau setidaknya sudah mengetahui akibat dari perbuatannya itu.
362. Unsur kelalaian,
Dalam unsur kelalaian, perbuatan yang dilakukan tidak dari keinginan hatinya sendiri atau bahkan mungkin ada keinginannya untuk mencegah kejadian tersebut.
37Salah satu unsur kelalaian adalah adanya kewajiban kehati-hatian dari pihak pelaku, dimana kewajibannya tersebut tidak dipenuhinya sehingga terjadilah perbuatan melawan hukum dengan unsur kelalaian.
38Agar terdapatnya unsur tidak terlaksana kewajiban kehati-hatian sehingga terjadi suatu kelalaian, mestilah ditunjukkan bahwa perbuatan atau pengabaian oleh pelaku tersebut menerbitkan unsur resiko berbahaya yang tidak layak bagi pihak korban.
393. Tidak ada alasan pembenar atau alasan pemaaf.
Sebuah perbuatan melawan hukum dapat dituntut dan dikabulkan tuntutannya apabila dalam tindakan tersebut tidak ada alasan pemaaf dan alasan pembenar.
Yang termasuk dalam alasan pemaaf dan alasan pembenar dituang dalam Pasal 1244 dan 1245 KUHPerdata. Bunyi Pasal 1244 KUHPerdata “jika ada alasan untuk itu, si berutang harus dihukum mengganti biaya, rugi dan bunga apabila ia
35 Ibid, hlm.268
36 Ibid, hlm. 270
37 Ibid, hlm. 270
38 Ibid, hlm. 271
39 Ibid, hlm. 271-272
tak dapat membuktikan, bahwa hal tidak atau tidak pada waktu yang tepat dilaksanakannya perikatan itu, disebabkan suatu hal yang tak terduga, pun tak dapat dipertanggungjawabkan padanya, kesemuanya itu pun jika itikad buruk tidaklah ada pada pilihannya”
40dan isi Pasal 1245 KUHPerdata “tidaklah biaya rugi dan bunga, harus digantinya, apabila lantaran keadaan memaksa atau lantaran suatu kejadian tak disengaja si berutang berhalangan memberikan atau berbuat sesuatu yang diwajibkan, atau lantaran hal-hal yang sama telah melakukan perbuatan yang terlarang”
41Dari rumusan kedua Pasal diatas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
42a. yang dimaksud dengan alasan pembenar adalah alasan yang mengakibatkan
debitor tidak dapat melaksanakan kewajibannya sesuai dengan perikatan pokok, ia tidak diwajibkan mengganti biaya kerugian dan bunga.
b. Alasan pembenar dalam alasan pemaaf yang diperbolehkan itu bersifat limitatif, dimana maksudnya selain alasan yang disebutkan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tidak memungkinkan bagi debitur untuk mengajukan alasan lain untuk membebaskannya dari kewajibannya dari mengganti biaya, rugi dan bunga dalam hal debitur cidera janji
c. Alasan pembenar dan alasan pemaaf yang diperbolehkan hanya sebagai berikut:
1. untuk alasan pemaaf bahwa tidak dilaksanakannya perikatan itu atau tidak tepatnya waktu dalam melaksanakan perikatan itu disebabkan
40 Pasal 1244 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
41 Pasal 1245 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
42 Gunawan Widjaja, Kartini Muljadi, Seri Hukum Perikatan: Perikatan Yang Lahir Dari Undang-Undang, Op. Cit, hlm. 146-147
oleh sesuatu yang tidak terduga, yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kepadanya, selama tidak ada itikad buruk kepadanya,
2. alasan pembenar karena keadaan memaksa, debitur terhalang untuk melaksanakan perikatan itu atau melakukan sesuatu yang terlarang baginya,
3. alasan pembenar karena kejadian yang tidak disengaja, debitur terhalang melaksanakan perikatan itu atau melakukan sesuatu yang terlarang baginya.
Diluar dari ketiga syarat diatas tidak ada alasan pemaaf dan alasan pembenar dalam perbuatan melawan hukum. Alasan pembenar sebagai alasan untuk menghapuskan unsur perbuatan melawan hukum, yang mengakibatkan seseorang yang telah melakukan perbuatan melawan hukum dianggap tidak melakukan perbuatan melawan hukum sehingga ia dibebaskan dari kewajibannya membayar biaya, kerugian dan bunga.
43Sedangkan alasan pemaaf merupakan alasan menghilangkan unsur kesalahan sehingga ia tidak dapat dituntut untuk melakukan kewajibannya sebagai akibat dari perbuatan melawan hukum yang telah merugikan orang lain.
44d. Adanya kerugian bagi korban
Harus adanya kerugian bagi korban supaya tuntutan perbuatan melawan hukum dapat digunakan. Berbeda dengan wanprestasi yang hanya mengenal kerugian materiil, maka kerugian akibat perbuatan melawan hukum disamping
43 Ibid, hlm. 155
44 Ibid, hlm. 155
kerugian materiil, yurisprudensi juga mengakui konsep kerugian imateriil, yaitu kerugian moral dan kerugian non ekonomis seperti ketakutan, keterkejutan, sakit dan kehilangan kesenangan hidup.
45e. Adanya hubungan kausal antara perbuatan dengan kerugian.
Hubungan kausal artinya hubungan sebab akibat, yang juga merupakan syarat dari suatu perbuatan melawan hukum. Dalam hukum perdata, ajaran kausalitas penting untuk meneliti adakah hubungan kausa antara perbuatan melawan hukum dan kerugian yang ditimbulkan, sehingga perbuatan si pelaku dapat dipertanggungjawabkan.
Menurut Van Buri, suatu harus dianggap sebab daripada suatu akibat, maka tiap- tiap masalah yang merupakan syarat untuk timbulnya suatu akibat adalah menjadi sebab daripada akibat. Untuk hubungan sebab akibat ini ada dua macam teori, yaitu teori hubungan faktual dan teori penyebab kira-kira. Hubungan sebab akibat secara faktual hanyalah merupakan masalah fakta atau apa yang secara faktual telah terjadi.
3. Subjek Perbuatan Melawan Hukum
Subjek perbuatan melawan hukum sama dengan subjek hukum pada umumnya. Subjek hukum mempunyai peranan yang sangat penting dalam hukum, khususnya hukum keperdataan karena subjek hukum tersebut yang dapat mempunyai wewenang hukum.
46Subjek hukum ialah yang pemegang hak dan kewajiban menurut hukum. Menurut Algra subjek hukum adalah setiap orang mempunyai hak dan kewajiban, yang menimbulkan wewenang hukum sedangkan
45 Sri Redjeki Slamet, Op. Cit, hlm. 117
46 http://repository.umy.ac.id/bitstream/handle/123456789/10720/h.%20BAB%20II.pdf?s equence=6&isAllowed=y, diakses tanggal 29 Januari 2021
pengertian dari wewenang hukum itu adalah kewenangan untuk menjadi subjek dari hak-hak.
47Hak merupakan wewenang yang diberikan kepada subjek hukum untuk melakukan, berbuat, atau tidak berbuat sesuatu dalam lapangan hukum tertentu dan kewajiban adalah suatu pembebanan yang diberikan oleh hukum dalam melaksanakan sesuatu.
48Menurut KUHPerdata, subjek hukum adalah manusia dan badan hukum. Orang sebagai subjek hukum berlaku secara universal dalam sistem hukum manapun. Dalam Pasal 2 KUHPerdata dijelaskan berlakunya seseorang sebagai subjek hukum dimulai pada saat ia dilahirkan dan berakhir saat ia meninggal dunia. Terhadap hal ini terdapat satu pengecualian, dimana anak yang berada dalam kandungan seorang perempuan dianggap sebagai telah dilahirkan, apabila kepentingan si anak mengkehendaki. Namun apabila si anak meninggal pada saat dilahirkan, si anak dianggap tidak pernah ada.
49Setiap manusia merupakan subjek hukum namun tidak semua manusia pribadi yang sebagai subjek hukum dapat menjalankan sendiri hak-haknya. KUHPerdata memberikan pengecualian terhadap orang orang dalam melakukan perbuatan hukum yaitu orang-orang yang belum dewasa, mereka yang ditaruh di bawah pengampuan, dan perempuan-perempuan yang telah kawin. Dalam hukum perdata orang yang belum dewasa ialah orang yang belum berumur 21 tahun atau belum menikah. Orang-orang yang dibawah pengampuan merupakan orang yang senantiasa berada dalam keborosan, lemah pikiran dan kekurangan daya berpikir seperti sakit ingatan, dungu, dungu disertai
47 https://yuridis.id/kapan-seseorang-dapat-di-katakan-subyek-hukum/, diakses tanggal 19 Januari 2021
48 http://repository.umy.ac.id/bitstream/handle/123456789/10720/h.%20BAB%20II.pdf?s equence=6&isAllowed=y, diakses tanggal 29 Januari 2021
49 http://repository.umy.ac.id/bitstream/handle/123456789/10720/h.%20BAB%20II.pdf?s equence=6&isAllowed=y, diakses tanggal 29 Januari 2021
dengan mengamuk. Sedangkan untuk perempuan yang telah kawin, berdasarkan UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, maka kedudukan perempuan dengan laki-laki adalah sama, artinya sama-sama cakap untuk melaksanakan perbuatan hukum dalam lapangan hukum harta kekayaan.
50Sedangkan badan hukum adalah badan-badan atau perkumpulan-perkumpulan yang dapat juga memiliki hak-hak dan melakukan perbuatan hukum seperti manusia.
Menurut Ali Rido, pengertian badan hukum adalah merupakan kumpulan atau asosiasi yang terdiri dari lebih satu orang dan menurut doktrin harus memenuhi syarat-syarat yaitu adanya harta kekayaan yang terpisah, mempunyai tujuan tertentu, mempunyai kepentingan tersendiri dan adanya organisasi yang teratur.
51Sedangkan menurut Wirjono Prodjodikoro badan hukum adalah badan disamping orang/manusia juga dianggap dapat bertindak dalam hukum dan mempunyai hak-hak dan kewajiban dalam perhubungan hukum terhadap orang lain atau badan hukum, disertai syarat utama adanya harta yang terpisah dari harta anggota.
52Badan-badan atau perkumpulan-perkumpulan itu mempunyai kekayaan sendiri dan ikut serta dalam lalu lintas hukum dengan perantaraan pengurusnya, dapat digugat dan juga menggugat di muka hakim atau bisa dikatakan badan hukum dapat diperlakukan sama seperti seorang manusia.
53Badan hukum terbagi dua yaitu badan hukum publik ialah Negara, Provinsi, Kabupaten dan sebagainya; serta badan hukum perdata ialah Perseroan Terbatas (PT), Yayasan, Firma dan lain-lain
50 https://doktorhukum.com/perbedaan-subjek-hukum-orang-pribadi-naturlijk-persoon-da n-badan-hukum-rechtpersoon/, diakses tanggal 07 Mei 2021
51 Dedy Darmo Saragih, Skripsi: “Penerapan Batas-Batas Antara Wanprestasi Dengan Perbuatan Melawan Hukum Dalam Suatu Perikatan” (Medan: USU, 2008), hlm. 40-41
52 Ibid, hlm. 41
53 Subekti, Op. Cit, hlm. 21
B. Jenis-Jenis Akta Dalam Hukum Indonesia
Menurut Subekti, akta adalah suatu tulisan yang semata-mata dibuat untuk membuktikan sesuatu hal atau peristiwa, karenanya suatu akta harus selalu ditandatangani.
54Sedangkan menurut Sudikno Mertokusumo, yang dinamakan akta adalah surat yang diberi tandatangan yang memuat peristiwa-peristiwa yang menjadi dasar dari suatu perikatan yang dibuat sejak awal dengan sengaja untuk pembuktian dikemudian hari.
55Pada umumnya akta itu adalah suatu surat yang harus ditandatangani, yang memuat keterangan tentang kejadian-kejadian atau hal-hal, yang menjadi dasar dari suatu perjanjian.
56Akta merupakan salah satu alat pembuktian yang sah dan yang paling utama dalam hukum acara perdata.
Akta terbagi 2 yaitu:
1. Akta di bawah tangan 2. Akta Autentik
1. Akta di Bawah Tangan
Akta dibawah tangan atau yang disebut dengan akte onder de hand dalam bahasa Belanda merupakan akta yang dibuat para pihak, tanpa adanya perantaraan seorang pejabat.
57Biasanya akta dibawah tangan dibuat oleh masyarakat dalam pembuatan perjanjian, seperti perjanjian jual beli, sewa menyewa rumah, pinjam meminjam uang/utang piutang dan lain sebagainya
54 Ibid, hlm. 178
55 Whenahyu Teguh Puspa, “Tanggungjawab Notaris Terhadap Kebenaran Akta Dibawah Tangan yang Telah Dilegalisasi oleh Notaris”, Jurnal Repertorium, Vol. III, No. 2, Juli- Desember 2016, hlm. 156
56 Richard Cisanto Palit, “Kekuatan Akta di Bawah Tangan Sebagai Alat Bukti di Pengadilan”, Lex Privatum, Vol. III, No. 2, April-Juni 2015, hlm. 138
57 Salim, Teknik Pembuatan Akta Satu (Konsep Teoritis, Kewenangan Notaris, Bentuk dan Minuta Akta), (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2015), hlm. 24
yang hanya menggunakan kwitansi, materai serta tandatangan para pihak.
58Pada umumnya masyarakat umum melakukan perjanjian hanya berlandaskan asas kepercayaan saja.
Dalam pembuatan akta dibawah tangan, keberadaan saksi sangat penting dalam menyaksikan adanya persetujuan dalam perjanjian tersebut yang ditandatngani atau dibubuhi cap jempol oleh para pihak yang berkepentingan, karena keberadaan para saksi akan dibutuhkan di kemudian hari untuk pembuktian apabila terjadi suatu masalah dan atau salah satu para pihak mengingkari isi dari ketentuan-ketentuan yang ada dalam perjanjian tersebut.
59Maka para saksi yang menyaksikan adanya perjanjian tersebut dapat dimintai keterangannya untuk menentukan sah atau tidaknya perjanjian di bawah tangan tersebut. Sebab untuk pembuktian akta di bawah tangan hanya mempunyai kekuatan pembuktian formal, yaitu bila tanda tangan di akta itu diakui (dalam hal ini sudah merupakan bukti pengakuan) yang berarti pernyataan yang tercantum di dalam akta itu diakui dan dibenarkan.
60Dengan kata lain pembuktian akta di bawah tangan harus dibuktikan kebenarannya dari perjanjian tersebut, seperti yang terdapat dalam Pasal 1876 KUHPerdata yang berbunyi “barang siapa yang terhadapnya dimajukan suatu tulisan di bawah tangan, diwajibkan secara tegas mengakui atau memungkiri tandatangannya;
tetapi bagi para ahli warisnya atau orang yang mendapat hak daripadanya
58 Richard Cisanto Palit, Op. Cit, hlm. 137
59 Ibid, hlm. 138
60 Ibid, hlm. 141
adalah cukup jika mereka menerangkan tidak mengakui tulisan atau tandatangan itu sebagai tulisan atau tandatangan orang yang mereka wakili”.
61Akta di bawah tangan dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu akta di bawah tangan yang ditandatangani oleh para pihak di atas materai tanpa adanya pejabat umum, akta di bawah tangan yang didaftarkan oleh notaris atau pejabat yang berwenang, serta akta di bawah tangan yang dilegalisasi oleh notaris atau pejabat yang berwenang.
62Akta di bawah tangan yang ditandatangani oleh para pihak di atas materai, bisa saja isi akta itu diubah oleh salah satu pihak dengan sendirinya tanpa diketahui oleh pihak lainnya untuk kepentingan dirinya sendiri, sehingga dalam hal ini diperlukan pembuktian kebenaran atas isi dari akta di bawah tangan tersebut. Pada akta di bawah tangan yang didaftarkan dan akta di bawah tangan yang dilegalisasi oleh notaris atau pejabat umum pada dasarnya sama, akan tetapi pada akta di bawah tangan yang dilegalisasi oleh notaris atau pejabat umum hak dan kewajibannya lebih bisa dibuktikan, sebab dalam hal ini penandatanganan akta tersebut dilakukan di hadapan notaris atau pejabat umum tersebut serta notaris atau pejabat umum tersebut menerangkan isi daripada akta tersebut dan para pihak diperkenalkan kepada notaris atau pejabat umum.
63Dalam hal pejabat umum yang dapat melegalisasi akta di bawah tangan selain notaris ialah ketua pengadilan negeri, bupati dan walikota.
61 Pasal 1876 Kitab Undang Undang Hukum Perdata
62 Richard Cisanto Palit, Op. Cit, hlm. 142
63 Ibid, hlm. 142
Apabila akta di bawah tangan dilegalisasi oleh notaris atau pejabat umum, maka notaris atau pejabat umum bertanggung jawab atas 4 (empat) hal, yaitu:
641. Identitas
a. notaris wajib meneliti identitas para pihak yang akan menandatangani surat atau akta di bawah tangan seperti KTP, SIM, Paspor dll atau diperkenalkan oleh orang lain
b. meneliti apakah para pihak telah cakap untuk melakukan perbuatan hukum
c. meneliti apakah para pihak tersebut berwenang dalam menandatangani akta tersebut
2. Isi akta, notaris wajib membacakan isi akta kepada pihak-pihak dan menanyakan apakah benar isi akta yang demikian yang dikehendaki oleh para pihak
3. Tanda tangan, para pihak wajib menandatangani akta dihadapan notaris atau pejabat umum
4. Tanggal, membubuhi tanggal pada akta di bawah tangan tersebut kemudian dibukukan ke buku daftar yang telah disediakan untuk itu Sedangkan akta di bawah tangan yang didaftarkan oleh notaris atau pejabat umum yaitu dengan dibubuhkan cap dan kemudian mendaftarkannya dalam buku pendaftaran yang disediakan untuk itu. Apabila akta di bawah tangan
64 Ray Gerald Warouw, “Kekuatan Akta di Bawah Tangan yang Telah Dilegalisasikan oleh Notaris”, Lex Privatum, Vol. III, No. 1, Januari-Maret 2015, hlm. 144
tersebut didaftarkan oleh notaris atau pejabat umum maka kepastian atas kebenaran tandatangan yang terdapat dalam akta dan juga kepastian atas kebenaran bahwa tandatangan itu adalah benar sebagai tandatangan para pihak dan dengan demikian para pihak tidak akan leluasa lagi untuk menandatangan yang terdapat pada akta.
65Jadi apabila akta di bawah tangan tidak dilegalisasi oleh notaris atau pejabat umum dan mau di jadikan bukti di pengadilan maka bisa didaftarkan kepada notaris atau pejabat umum yang berwenang dengan dibubuhi perkataan “ditandai” dan ditandatangani oleh notaris atau pejabat umum dengan menyebutkan hari dan bulan saat pendaftaran akta di bawah tangan tersebut.
662. Akta Autentik
Akta autentik atau yang disebut dalam bahasa Belanda dengan authentieke akte van diatur dalam Pasal 1868 KUHPerdata yang berbunyi “suatu akta autentik ialah suatu akta yang didalam bentuk yang ditentukan oleh undang-undang dibuat oleh atau dihadapan pegawai-pagawai umum yang berkuasa untuk itu di tempat dimana akta dibuat”,
67yang kemudian bila dikaji isi dari Pasal tersebut, maka ada tiga unsur akta autentik, yaitu:
68a. dibuat dalam bentuk tertentu, yaitu akta yang telah ditentukan bentuknya, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku
b. dihadapan pejabat yang berwenang untuk itu, yaitu maksudnya akta itu harus dibuat di muka pejabat tersebut serta yang membuatnya
65 Whenahyu Teguh Puspa, Op. Cit, hlm. 159
66 Ibid, hlm. 159
67 Pasal 1868 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
68 Salim, Op. Cit, hlm. 17-18
haruslah pejabat yang berwenang atau pejabat yang telah diberikan hak dan kekuasaan dalam pembuatannya
c. tempat dibuatnya akta, yaitu merupakan tempat dilakukannya perbuatan hukum, yang berkaitan dengan pembuatan akta
akta autentik dibagi menjadi dua jenis, yaitu:
a. akta autentik yang dibuat oleh pejabat (Relaas Acte)
Akta autentik yang dibuat oleh pejabat adalah akta yang dibuat oleh pejabat dalam hal telah menjadi wewenangnya dalam jabatan yang pangkunya, atas segala apa yang dilihat, didengar dan disaksikan. Relaas acte diartikan sebagai berita acara. Menurut A. A. Andi Prayitno relaas acte adalah mencatat segala peristiwa apa yang dilihat, didengar dan dirasakan dari pelaksanaan jalannya rapat atau acara yang diliputi. Sedangkan menurut G. H. S. Lumbun, relaas acte ialah beirisi uraian notaris yang dilihat dan disaksikan notaris sendiri atas permintaan para pihak agar tindakan atau perbuatan para pihak dituangkan ke dalam bentuk akta notaris.
69Menurut Salim dalam buku Teknik Pembuatan Akta Satu, relaas acte atau berita acara adalah suatu tanda bukti yang dibuat oleh notaris tentang apa yang dipandangnnya, diketahuinya, dan diperhatikannya (dilihat) dan disaksikan tentang terjadinya suatu perbuatan atau peristiwa secara langsung. Dapat kita ketahui bahwa unsur-unsur relaas acte sebagai berikut:
a. adanya surat tanda bukti, yaitu tulisan yang menyatakan kebenaran peristiwa atau perbuatan hukum dari berita acara tersebut
69 Ibid, hlm. 90
b. yang dilihat dan disaksikan. Dilihat berarti apa yang dipandangnya, ditonton, diketahui atau diperhatikannya, sedangkan di saksikan adalah melihat atau mengetahui tentang terjadinya peristiwa secara langsung c. adanya peristiwa, berarti suatu kejadian atau perkara tersebut benar-
benar terjadi
d. langsung, artinya bahwa notaris mengetahui suatu kejadian tanpa melalui perantaraan orang lain.
70Dalam prakteknya relaas acte dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
1. berita acara rapat pemegang saham dalam perseroan terbatas. Risalah RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) merupakan berita acara yang memuat segala sesuatu yang dibicarakan dan diputuskan dalam setiap rapat para pemegang saham.
2. akta pencatatan budel, merupakan akta yang berkaitan dengan penulisan keseluruhan harta dari pewaris.harta.
3. akta tentang undian, merupakan berita acara yang memuat hasil undian, yaitu untuk menentukan siapa yang menjadi pemenang atau yang berhak atas hadiah undian.
71b. akta autentik yang dibuat oleh para pihak (Partij Acte)
Akta autentik yang dibuat para pihak atau partij acte merupakan akta autentik yang dibuat para pihak dan dinyatakan didepan pejabat yang berwenang.
72Menurut G. H. S. Lumbun Tobing, akta pihak ialah berisi uraian
70 Ibid, hlm. 90-91
71 Ibid, hlm. 90
72 Ibid, hlm. 25
atau keterangan, pernyataan para pihak yang diceritakan dihadapan para notaris. Para pihak yang berkeinginan agar uraian atau keterangannya dituang dalam bentuk akta notaris.
73Unsur-unsur yang tercantum dalam definisi ini meliputi:
1. berisi uraian atau keterangan 2. adanya para pihak
3. diceritakan dihadapan notaris
4. adanya keinginan agar dibuatkan dalam bentuk akta notaris
Sedangkan menurut Salim, akta para pihak ialah surat tanda bukti yang di muat dimuka dan atau di hadapan notaris, yang memuat kehendak dan pernyataan para pihak atau penghadap yang dituang dalam bentuk akta notaris.
74Jenis-jenis akta autentik yang berkaitan dengan hukum para pihak tidak dimuat dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris, namun Salim membedakan tiga jenis akta para pihak, yaitu:
1. Akta-Akta Yang Berkaitan Dengan Warisan
Akta yang berkaitan dengan warisan merupakan surat tanda bukti yang memuat atau yang berisi tentang harta yang akan di bagikan atau diwariskan pewarisnya kepada ahli warisnya, maupun pemberian wasiat atau hibah dari pemberi wasiat atau hibah kepada penerima wasiat atau hibah.
73 Ibid, hlm 105
74 Ibid, hlm. 106