• Tidak ada hasil yang ditemukan

POTENSI PENYEDIAAN BENIH JATI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "POTENSI PENYEDIAAN BENIH JATI"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

The potency of seed supply of Teak (Tectona grandis Linn.f) from teak forest in Gunungkidul

M. Anis Fauzi

Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Jl. Palagan Tentara Pelajar Km 15, Purwobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta

e-mail: [email protected]

I. PENDAHULUAN

Gunungkidul dikenal sebagai daerah yang memiliki hutan jati rakyat yang dikelola dengan baik di Yogyakarta. Hutan rakyat jati memiliki porsi yang cukup berperan dalam mendukung berkembangnya industri kayu gelondongan dan bahan baku mebel. Gunungkidul adalah salah satu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta yang memiliki posisi geografis 7°5’ - 8°10’ S dan 110°21’ - 110°5’ E serta memiliki luas sekitar 1485,36 km2 . Memiliki jenis tanah yang kurang subur, berbatu dan bersolum tanah tipis pada bagian Gunungkidul sebelah selatan. Sedangkan di bagian Utara memiliki jenis tanah yang lebih subur, sedikit berbatu dan solum tanah lebih tebal. Berdasarkan kondisi topografi, Gunungkidul terbagi menjadi 3 zona yaitu zona Utara (Batur Agung) memiliki ketinggian 200-700 m dpl, zona Tengah (Ledok Wonosari) yang berketinggian 150-200 m dpl dan zona Selatan (Gunung Seribu) yang memiliki ketinggian tempat 0-300 m dpl. Zona Batur Agung sebagian besar didominasi jenis tanah Latosol dan Rendzina, zona Ledok Wonosari berjenis tanah Grumosol sedangkan zona Gunung Seribu memiliki jenis tanah Mediterania (BPS, 2007).

Hutan rakyat memiliki pengertian hutan yang dimiliki rakyat dengan luas minimal 0,25 ha dengan tutupan tajuk tanaman kayu-kayuan dan atau jenis tanaman lainnya sekitar 50% dan atau pada tanaman tahunan pertama dengan tanaman sebanyak 500 batang tanaman per ha (Anonim, 2005). Dalam sepuluh tahun terakhir perkembangan hutan rakyat mengalami pertumbuhan yang cepat dan mendorong penutupan lahan kritis di Gunungkidul. Masyarakat atau petani penanam jati semakin menyadari peranan hutan rakyat sebagai fungsi ekologi, ekonomi dan sosial dalam kehidupan sehari-harinya. Dalam kegiatannya petani menanami lahannya dengan berbagai jenis tanaman kayu seperti Jati (Tectona grandis L.f), Mahoni (Sweitenia macrophylla), Sengon (Falcataria mollucana) dan Sono (Dalbergia sisso). Jenis tanaman pangan juga ditanam untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari seperti padi (Oriza sativa), jagung (Zea mays), ketela pohon (cassava), sayuran dan jenis kacang-kacangan yang ditumpangsarikan dengan tanaman kayu.

(2)

Jati memegang peranan penting dalam usaha penutupan lahan di Gunungkidul serta semakin dikenal sebagai salah satu jenis tanaman berkayu yang dikembangkan di hutan rakyat. Jenis jati mendominasi dalam perkembangan hutan rakyat di Gunungkidul sehingga mendorong berkembangnya hutan rakyat semakin maju. Menurut Awang (2006) terdapat beberapa tahapan yang mendorong perkembangan hutan rakyat yaitu spontan dalam keluarga (I), karang kitri dan pekarangan swadaya (II), penghijauan: pekarangan dan tegalan (III), kemitraan hutan rakyat (IV) dan GNRHL/Gerhan (V). Masing-masing tahapan memiliki peran dan pengaruh dalam terbentuknya hutan rakyat yang lestari. Keterlibatan dan partisipasi yang padu antara masyarakat dan pemerintah tentu saja akan lebih memperlancar perkembangan hutan rakyat kearah yang lebih mensejahterakan masyarakat pada khususnya dan secara umum mensejahterakan negara. Contoh peran pemerintah dalam upaya mendorong berkembangnya hutan rakyat antara lain melalui program reboisasi yang dimulai dari tahun 1976-1998. Dari program ini mampu diselamatkan sekitar 50.144 Ha lahan gundul dengan menanaminya dengan jenis-jenis tanaman keras (Suharisno, 2000).

Hutan rakyat jati semakin memberikan manfaat bagi pemerintah daerah setempat dan masyarakat pengembanganya meliputi keuntungan ekologis, ekonomis dan sosial budaya. Volume kayu jati yang dihasilkan per tahunnya juga mengalami kenaikan yang cukup tinggi. Berdasarkan data dari Kompas (2006) antara tahun 2002-2005 volume kayu jati yang diproduksi berturut-turut adalah 36.669 m3, 51.167 m3, 66.101 m3 dan 86.633 m3. Sedangkan

dari sisi luasan berdasar data Dinas Kehutanan Gunungkidul tahun 2005 dalam Murbani (2007), luas total hutan yang ada adalah 41.772 Ha yang terdiri dari 13.221 Ha berupa hutan Negara dan 28.551 Ha adalah hutan rakyat. Dilaporkan juga masih terdapat lahan yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai hutan rakyat seluas 42.123,31 Ha.

Dari data diatas menunjukkan bahwa potensi hutan rakyat di Gunungkidul masih cukup berpeluang untuk dikembangkan baik untuk menghasilkan kayu atau sebagai sumber benih jati. Pengembangan jati kedepan sangat potensial mengingat animo masyarakat untuk menanam tanaman keras terutama jati cukup tinggi. Beberapa hal yang menyebabkan petani pengembang hutan rakyat lebih memilih menanam jati (Tectona grandis L.f) dibandingkan jenis yang lain yaitu:

1. Jati sudah dikenal baik oleh petani dalam kesehariannya, sehingga tehnik silvikulturnya

lebih mudah dikuasai dan diadopsi oleh petani. Hal ini menolong petani untuk mengembangkan hutan rakyat lebih efektif.

2. Kemampuan adapatasi jenis jati dengan kondisi tanah yang berbatu, solum tanah tipis,

tahan kekeringan dan tanah yang kurang subur, menyebabkan jenis ini cocok dikembangkan di Gunungkidul.

3. Kayu jati memiliki kegunaan yang luas seperti untuk kayu bakar, bahan konstrusi

bangunan, vinir, meubel dan bahan industri olahan.

(3)

Potensi hutan rakyat yang demikian besar tentunya membutuhkan benih jati dalam jumlah yang banyak pula. Kondisi dilapangan membuktikan ternyata sebagian besar petani penanam jati menggunakan benih dan bibit jati yang belum unggul secara genetik. Benih dan bibit jati yang digunakan sebagian besar berasal dari sumber benih disekitar lokasi penanaman yang sifatnya lokal. Petani penanam jati mengambil benih jati dari pohon atau tegakan disekitar rumah atau lahan pertanian mereka, tanpa mempertimbangkan apakah pohon jati yang dijadikan sumber benih tersebut unggul secara genetik atau bukan.

Penggunaan benih jati yang unggul secara kaidah ilmu pemuliaan pohon diyakini akan meningkatkan produktifitas hasil kayu yang dihasilkan dibandingkan dengan benih jati yang belum termuliakan (unimproved). Kjaer and Suangtho (1997) dalam Kjaer, Kaosa-ard and Suangtho (2000) menjelaskan bahwa penggunaan benih jati dari classified stand (APB) di Thailand mampu meningkatkan 8% dari parameter volume produksi dan stem form dibandingkan dengan benih jati dari tegakan benih sembarang. Sementara menurut Darusman dan Hardjanto (2006) permasalahan hutan rakyat secara umum meliputi 4 aspek yaitu aspek produksi, pengolahan, pemasaran dan kelembagaan. Permasalahan produksi meliputi tentang struktur tegakan dan potensi produksi. Sering ditemukan ketika terdapat permintaan volume kayu jati yang besar dari industri, hutan rakyat belum mampu memenuhinya, dikarenakan potensi produksi kayu yang belum kontinu. Aspek pengolahan mencakup seluruh usaha yang dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah dari kayu gelondongan menjadi kayu setengah jadi atau barang jadi. Sehingga kedepan daerah yang memiliki potensi hutan rakyat yang tinggi akan menerima manfaat langsung dari hasil olahan kayu hutan rakyat.

Sementara itu aspek pemasaran permasalahan yang sering dihadapi adalah sistem distribusi, informasi harga, struktur pasar, perilaku pasar dan keragaan pasar (market performance). Kondisi yang terjadi dilapangan menunjukkan bahwa petani hutan rakyat kurang mendapatkan pendapatan dari penjualan kayunya. Hal ini terjadi dikarenakan informasi tentang harga kayu jati yang tidak sampai ke petani sehingga mereka tidak memiliki posisi tawar kayu yang lebih tinggi bila berinteraksi dengan pedagang kayu/perantara kayu (midlle man). Aspek kelembagaan yang kuat pada hutan rakyat diyakini akan mampu memberikan dukungan terhadap perkembangan hutan rakyat menjadi lebih baik.

II. POTENSI SUMBER BENIH JATI DI GUNUNGKIDUL

Berdasar hasil inventarisasi hutan rakyat di Gunungkidul tahun 2007 (CIFOR,2007), dari 7 desa yang disurvey menunjukkan bahwa penggunaan bibit jati unggul untuk kegiatan penanaman di hutan rakyat hanya 12,3 %. Dapat disimpulkan disini bahwa sekitar 87,7% dari 7 desa tersebut menggunakan bibit yang tidak jelas asal-usulnya (bibit lokal; cabutan dan biji dari pohon yang tumbuh di pekarangan, tegalan atau kebun milik sendiri).

(4)

Sebagian besar menggunakan bibit yang berasal dari biji yang dikumpulkan dari pohon jati disekitar pekarangan rumah atau tegalan. Untuk petani yang memiliki modal lebih besar, bibit jati dibeli dari penangkar bibit jati di Gunungkidul dan Yogyakarta. Kondisi yang demikian ini ditilik dari upaya pemuliaan jati menjadi tidak menguntungkan karena tidak terdapat variasi genetik yang lebar agar seleksi dapat dilakukan.

Penggunaan sumber benih jati yang belum unggul secara genetik umumnya merupakan masalah yang dihadapi di hutan rakyat, baik di Gunungkidul, Wonogiri, Pacitan maupun di Sulawesi Tenggara. Pemakaian benih jati lokal atau yang tersedia dilahan milik petani dilakukan karena lebih murah (tidak perlu membeli) dan ketersediaannya cukup melimpah (Adiputranto,2000).

Gambar 1. Salah satu lokasi sumber benih jati di Banyusoco, Gunungkidul

Di Gunungkidul potensi tegakan jati yang dapat dijadikan sebagai sumber benih sebenarnya telah ada. Data dari Dinas kehutanan Gunungkidul menyebutkan 36,16 Ha terdapat tegakan benih jati teridentifikasi dengan produksi benih yang bervariasi. Secara lebih lengkap dapat dicermati pada Tabel 1. dibawah ini:

Tabel 1. Potensi sumber benih jati teridentifikasi di Gunungkidul

NO LOKASI JENIS LUAS (Ha) POTENSI/TH

1. Desa Dengok,Playen jati 1,50 84 Kg

2. Desa Girisekar,Panggang jati 23,26 3.549 Kg

3. Desa Girisekar, Panggang jati 4,35 516 Kg

4. Desa Girisekar, Panggang jati 2,05 292,5 Kg

5. Desa Banyusoca, Playen jati 5,00 1.050 Kg

(5)

Klasifikasi sumber benih secara umum dikenal terdapat beberapa tingkatan (Barner,dkk., 1992; Anonim, 1998) antara lain : 1). Zona koleksi benih, 2). Tegakan benih teridentifikasi, 3). Tegakan benih terseleksi, 4). Area produksi benih (APB), 5). Tegakan benih provenansi dan 6). kebun benih. Berdasarkan klasifikasi tersebut, sumber benih jati yang dimiliki oleh Gunungkidul pada tingkat ke dua yaitu tegakan benih teridentifikasi. Dengan kegiatan pengelolaan sumber benih dan tahapan seleksi yang sesuai dengan kaidah pemuliaan diharapkan nantinya akan tersedia sumber benih jati yang semakin meningkat kualitas genetiknya dan meningkat pula luasan sumber benihnya.

Potensi sumber benih jati lain di Gunungkidul yang bisa diperhatikan adalah tegakan-tegakan jati berkelas diameter diatas 30 cm yang bisa dijadikan materi dasar seleksi, yang nantinya bisa diidentifikasi sebagai pohon plus setelah dilakukan seleksi dan perbandingan dengan tegakan jati disekitarnya. Secara lebih lengkap jumlah dan tegakan jati berdiameter ≥30 cm ditampilkan pada Tabel 2. sebagai berikut :

Tabel 2. Potensi sumber benih jati berdasar tegakan-tegakan berkelas diameter ≥30 cm

No Kecamatan Luas (ha)

Jumlah potensi

KD3 (batang) KD4 (batang) Total (batang) 1 Gedangsari 2.303 846.119 107.907 954.026 2 Karangmojo 302 275.904 153.390 429.294 3 Paliyan 644 913.280 203.638 1.116,918 4 Panggang 3.106 2.684.078 76.718 2.760.796 5 Saptosari 2,074 1.073.931 63.436 1.137.367 6 Wonosari 816 679.566 71.972 751.538 7 Ngawen 741 100.014 12.060 112.074 8 Nglipar 1.055 397.349 80.224 477.573 9 Patuk 1.044 829.405 164.646 994.051 10 Playen 1.557 1.282.717 160.650 1.443.367 11 Ponjong 1.616 940.266 65.692 1.005.958 12 Purwosari 1.737 1.786.454 132.421 1.918.875 13 Rongkop 2.234 1.364.870 40.974 1.405.844 14 Semanu 1.620 471.015 14.896 485.911 15 Girisubo 2.605 1.212.809 15.995 1.228.804 16 Semin 1.358 620.450 185.430 805.880 17 Tanjungsari 1.848 1.324.563 111.987 1.436.550 18 Tepus 1.891 575.005 16.803 591.808 Jumlah 28.551 17.377.795 1.678.839 19.056.634 (Sumber: Dishutbun Gunungkidul. 2005)

Keterangan:

• KD 3 = kelas diameter 3 (Ø 31 – 40 cm) • KD 4 = kelas diameter 4 (Ø 41 – 50 cm)

(6)

Dari data diatas diketahui terdapat 19.056.634 batang pohon jati yang memiliki diameter diatas 30 cm. Dari sisi luasan terdapat tegakan jati 28.551 Ha yang tersebar pada 18 kecamatan di Gunungkidul. Sungguh suatu potensi sumber benih yang menjanjikan apabila dimanfaatkan dan dikembangkan di masa mendatang. Secara sederhana saja, dari tiap desa dipilih 10-25 pohon yang diseleksi dari sejumlah pohon berdiameter 30 cm keatas, dengan kriteria pemilihan pohon plus, maka paling tidak Gunungkidul akan memiliki 180 - 450 pohon plus yang dapat dijadikan pohon induk sebagai penyedia materi perbanyakan baik dari biji maupun materi vegetatif.

III. HAL YANG BISA DILAKUKAN DENGAN POTENSI TERSEBUT

Potensi sumber benih jati di Gunungkidul hendaknya menjadi modal awal untuk pengembangan hutan rakyat dengan menggunakan benih jati yang lebih baik. Langkah-langkah yang bisa ditempuh untuk menuju terbentuknya sumber benih jati yang unggul secara genetik di Gunungkidul antara lain:

1. Sumber benih jati teridentifikasi seluas 36.16 Ha perlu dikelola dan ditingkatkan status sumber benihnya paling tidak menjadi areal produksi benih (APB). Perlakuan yang dapat dilakukan yaitu penjarangan terseleksi pada tegakan yang inferior, terserang penyakit, memiliki vigoritas rendah dan tegakan dengan karakter yang tidak diinginkan, sehingga jarak antar pohon mencukupi agar dapat memproduksi benih (Trihartono, dkk, 2011). 2. Penunjukan pohon induk jati di wilayah Gunungkidul sebagai sumber benih generatif dan

vegetatif ditingkat desa.

3. Optimalisasi desa sebagai tempat penyediaan bibit melalui kegiatan Kebun Benih Rakyat (KBR) yaitu pembangunan persemaian pada tingkat desa sebagai upaya penyediaan bibit tanaman yang dibutuhkan oleh masyarakat di desa tersebut.

4. Peningkatan kesadaran petani penanam jati tentang pentingnya penggunaan benih jati yang unggul.

Pendekatan sederhana yang bisa dilakukan petani jati di Gunungkidul adalah secara bersama-sama bergabung dalam kelompok tani dan melakukan share benih jati dengan kelompok tani yang lain dari daerah yang berbeda (Pramono,dkk.,2010). Dengan cara ini, paling tidak dapat mengurangi inbreeding akibat penggunaan benih jati yang berasal dari pohon yang memiliki kekerabatan yang dekat. Skema kegiatan penggunaan benih jati antar kelompok tani dapat digambarkan sebagai berikut:

(7)

Sketsa gambar: Agus Astho P.

Gambar 2. Teknik penggunaan benih jati antar kelompok tani

Dari Gambar 2. nampak bahwa benih yang digunakan minimal berasal dari 25 pohon yang tidak berkerabat dekat dengan jarak minimal antar pohon 100-200 m. Dengan cara ini kelompok tani dapat lebih mandiri dalam mencukupi kebutuhan benih jati dan sesuai dengan pendekatan pemuliaan pohon.

Disamping itu dukungan dari Pemerintah melalui Kementrian Kehutanan dalam hal pengawasan dan penetapan standar benih baik untuk hutan tanaman dan hutan rakyat tentu akan ikut menambah pengembangan hutan jati semakin maju. Menurut Na’iem (2002) terdapat beberapa hal yang perlu dijadikan acuan sehingga mutu benih terstandarisasi yaitu :

1. asal-usul benih yang tidak jelas harus dihindari

2. data dan informasi tentang sumber benih yang digunakan harus jelas 3. tersedianya plot uji genetik disetiap lokasi pengembangan

4. tersedianya plot uji penanaman yang menghasilkan informasi tentang produktivitas jenis yang ditanam

5. dilakukannya evaluasi dan monitoring terhadap areal penanaman

Diharapkan dengan dilaksanakan hal tersebut diatas, kualitas hutan jati dapat meningkat dan dapat dipantau setiap periodenya. Usaha jangka panjang untuk memenuhi kebutuhan benih jati di Gunungkidul, dapat ditempuh dengan membangun tegakan benih provenan, kebun benih semai, kebun benih klon dan kebun pangkas. Namun upaya ini membutuhkan waktu, dana dan ketrampilan yang tinggi sehingga perlu dukungan beberapa pihak, agar pembangunan sumber benih jati di Gunungkidul dapat tercapai.

(8)

IV. KESIMPULAN

Kemandirian Gunungkidul terhadap kebutuhan benih jati akan semakin mendorong berkembangnya hutan rakyat jati dimasa mendatang. Kebutuhan benih tanaman hutan khususnya jati yang tinggi akan mampu dicukupi sendiri oleh petani dari hutan rakyat yang dikelolanya. Disadari bahwa keragaman genetik jati pada hutan rakyat masih rendah, sehingga upaya untuk menambah variasi genetik melalui infusi genetik dari Perhutani maupun dari provenan lain terus untuk diupayakan.

Paling tidak, dengan pendekatan pemuliaan secara sederhana dalam pengambilan benih, penunjukan pohon plus dan seleksi terhadap tegakan benih yang telah ada akan menghasilkan benih jati yang lebih baik daripada menggunakan benih yang asal-asalan. Potensi hutan jati di Gunungkidul untuk dijadikan sebagai sumber benih sangat besar untuk dikembangkan lebih lanjut. Usaha bersama dan terpadu antara Dinas Kehutanan Gunungkidul, masyarakat tani-hutan, institusi Litbang Kehutanan, Universitas dan LSM kehutanan sangat dibutuhkan untuk mendukung terwujudnya kemandirian benih tanaman jati dimasa-masa mendatang.

UCAPAN TERIMA KASIH

Terima kasih disampaikan kepada Purnomo Sumardamto (Dishut Gunungkidul) atas data dan informasi hutan rakyat di Gunungkidul, Agus Astho Pramono dan Nurin Windyani (BTP Ciheuleut) atas diskusi, masukan dan saran sehingga tulisan ini bisa terwujud.

DAFTAR PUSTAKA

Adiputranto. K. 2000. Kajian terhadap pengembangan Hutan Rakyat di Kabupaten Wonogiri (Study. Prosiding Seminar Nasional Status Silvikultur 1999: Peluang dan Tantangan Menuju Produktivitas dan Kelestarian SDH Jangka Panjang. Fakultas Kehutanan UGM. Yogyakarta. Hal: 206-211

Anonim. 1998. Program nasional sistem perbenihan kehutanan. Balai Teknologi Perbenihan. Departemen Kehutanan dan Perkebunan. Bogor. Hal.23-25.

Anonim, 2005. Siaran Pers Pusat Informasi Kehutanan tentang Hutan Rakyat Indonesia sangat prospektif untuk Industri Kehutanan, No.S 375/II/PIK-1/2005 tanggal 7 Juni 2005, Jakarta, www.dephut.go.id diakses 22 September 2014.

Awang. San Afri. 2006. Peran para pihak dalam melestarikan hutan rakyat (special kasus kabupaten Gunungkidul). Makalah dalam lokakarya Gunungkidul menuju sertifikasi hutan rakyat lestari. Wonosari Gunungkidul.

Barner. H.. K. Olesen and H.Wellendorff. 1992. Classification and selection of seed sources. Lecture note. Danida Forest Seed Centre. Humlebaek. Denmark.

(9)

BPS, 2007, Gunungkidul Dalam Angka, BPS (Badan Pusat Statistik) Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.

CIFOR, 2007. Household survey on Teak, Aciar Teak Project: Improving Economic Outcomes for Smallholders Growing Teak in Agroforestry System in Indonesia, Bogor

Darusman, Dudung dan Hardjanto,2006. Tinjauan Ekonomi Hutan Rakyat, Makalah dalam Prosiding Seminar Hasil Penelitian Hasil Hutan “Kontribusi Hutan Rakyat dalam Kesinambungan Industri Kehutanan, Bogor.

Kjaer. Erik D.. Kaosa-ard. Apichart and Suangtho. Verapong 2000. Domestication of Teak Through Tree Improvement: Options. Potential Gain and Critical Factors. Proceeding Seminar on Site. Technology and Productivity of Teak Plantations. Forestry Research Support Programe for Asia and Pasific FAO. Bangkok. Page:168-175.

Kompas. 2006. Harga Jual kayu Jati Diperkirakan Naik. Sertifikasi Hutan Rakyat Gunung Kidul. Diunduh pada 2 Maret 2009 dari (http://64.203.71.11/kompas-cetak/0609/22/ jogja/28974.htm)

Murbani. 2007. Peluang PembangunanSumber Benih untuk Mendukung Kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan. Makalah dalam Forum Komunikasi Jati VI di B2PBPTH Yogyakarta 6 September 2007. Yogyakarta.

Na’iem, M.,2002. Pentingnya Penggunaan Benih Unggul dalam Pembuatan Tanaman Jati dan Standarisasi Mutu Bibit secara Nasional, Makalah dalam Gelar Teknologi Hasil Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan tentang Penyediaan Bibit Jati Unggul di P3BPTH (Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan), Yogyakarta.

Pramono, A.A.,Fauzi, M.A., Widyani, N., Heriansyah, I. dan Roshetko, J.M.,2010. Pengelolaan Hutan Jati Rakyat; Panduan Lapangan untuk Petani, CIFOR, Bogor, Indonesia. Suharisno. 2000. Role and Prospect Teak Plantation Planting in Rural Areas of Gunungkidul

Yogyakarta. Proceeding on Third Regional Seminar on Teak; Potentials and Opportunities in Marketing and Trade of Plantation Teak. TEAKNET-PERHUTANI.

Trihartono, B., Nirsatmanto, A. dan Hakim, L. 2011. Pedoman teknis pembangunan sumber benih, Badan Litbang Kehutanan, Kementrian Kehutanan, Jakarta.

Gambar

Gambar 1.  Salah satu lokasi sumber benih jati di Banyusoco, Gunungkidul
Tabel 2.  Potensi sumber benih jati berdasar tegakan-tegakan berkelas diameter ≥30 cm

Referensi

Dokumen terkait

Metode berikutnya adalah metode analisis, di mana dilakukan analisis kebutuhan data dan kelemahan dari sistem yang sedang berjalan.Dari hasil analisis yang dilakukan terhadap

Dengan demikian, bila di depan jendela tidak terdapat obstruction maka iluminasi dan daylight factor lebih besar sehingga ruangan cenderung lebih terang karena

Tagihan atas surat berharga yang dibeli dengan janji dijual kembali (Reverse Repo)a. Debitur Usaha Mikro, Kecil dan

(1) Dengan memperhatikan peraturan-peraturan pada ayat (1) pasal 6, tiap negara pantai boleh, dengan maksud pemeliharaan produktivitas sumber hayati laut, mengadakan peraturan

Tingginya jumlah hotspot pada tahun 2006 tersebut juga berpengaruh pada parameter Aerosol PM ₁₀ , Karbon monoksida, Sulfur dioksida, Ozon permukaan, dan Nitrogen dioksida

Meskipun Tentara Salib meraih kemenangan ini, juga beberapa kemenangan lainnya atas Saladin, Perang Salib Ketiga berakhir dengan gencatan senjata pada 1192, de- ngan

Isi dari pada umumn Gambar u menu yan menu ini k al Basic atau ua perintah menu ini se nya.(Adi Ku 2.2 Lingku ng digunaka kita dapat au jendela W h Visual ba ebagian bes

Seminar Nasional Pengurusan dan Kepimpinan Pendidikan ke-25, 2-5 Julai 2018, IAB Bandar Enstek 9 Impak LeShape: Peningkatan dalam skor status pengoperasian Standard 1 dan Standard 2