• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN LEARNING COMMUNITY DALAM PENINGKATAN HASIL BELAJAR KETERAMPILAN BERBICARA BAHASA INDONESIA SISWA KELAS VII.A SMP SARIBUANA MAKASSAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENERAPAN LEARNING COMMUNITY DALAM PENINGKATAN HASIL BELAJAR KETERAMPILAN BERBICARA BAHASA INDONESIA SISWA KELAS VII.A SMP SARIBUANA MAKASSAR"

Copied!
119
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN LEARNING COMMUNITY DALAM PENINGKATAN HASIL BELAJAR KETERAMPILAN BERBICARA BAHASA INDONESIA SISWA

KELAS VII.A SMP SARIBUANA MAKASSAR

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar

Oleh : ASHARI 10533 8074 15

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2019

(2)

ii

(3)

iii

(4)

iv

(5)

v

(6)

MOTO DAN PERSEMBAHAN Janganpernahmenyerah

Karenakegagalantidakakanberhentipadasebuahkegagalan Yakinlahsaatpintusatutertutup

Pasti AllahSwt. akanmembukapintu yang lain

“Karenasesungguhnyasesudahkesulitanituadakemudahan”

“Persembahan”

kuperuntukkanskripsiinikepadaayahandadanibundaku, sertasaudaradansahabat-sahabatku tercintasebagaiwujudpengabdianku, cintakasihkudan rasa hormatkuatas keikhlasandanrestu yang telahdiberikankepadaku

vi

(7)

ABSTRAK

Ashari. 2019. Penerapan learning community dalam peningkatan hasil belajar keterampilanberbicara bahasa Indonesia siswa kelas VII.ASMP SARIBUANAMakassar, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar.Dibimbing oleh Andi Syukri Syamsuri dan Amal Akbar.

Penelitian ini menganalisis Penerapan learning community dalam peningkatan hasil belajar keterampilanberbicara bahasa Indonesia siswa kelas VII.ASMP SARIBUANAMakassar. Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatk an kemampuan peserta didik untuk berbicara dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya sastra Indonesia.

Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas(Class Action Research) yang terdiri dari dua siklus dimana setiap siklus dilaksanakan. Prosedur penelitian meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan observasi, dan refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah murid kelas VII.A SMP SARIBUANA.Makassar. Berbicara ter masuk berbahasa yang produktif perlu mendapat prioritas karena keterampilan berbic ara tidak dating secara otomatis, untuk dapat menguasainya harus melalui latihan dan praktik yang banyak dan teratur. Di SMP SARIBUANA Makassar masih banyak sisw a yang kurang memiliki keterampilan berbicara, khususnya berbicara dengan menggu nakanbahasa Indonesia. Adapun kekurangan tersebut disebabkan oleh (1)sebagai siswa masih banyak yang belum paham tentang bagaimana berbicara yang baik, (2) rendahnya minat siswa dalam berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia.

Berdasarkan uraian tersebut, maka hasil penelitian yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu.Pembelajaran keterampilan berbicara berdasarkan model pembelajaran learning community peningkatan tersebut ditunjukkan dengan nilai rata-rata kelas yang telah diperoleh. Pada saat sebelum dilaksanakan tindakan, nilai rata-rata kelas yang diperoleh yaitu 59,2. Setelah dilaksanakan tindakan pada siklus I nilai rata-ratakelas 77,0. Pada siklus II nilai rata-rata kelas semakin naik, rata-rata kelas meningkat menjadi 81,5. Selain dari rata-rata nilai kelas, pencapaian nilai KKM juga meningkat, yaitu pada pencapaian KKM sebesar 14%, pada siklus I pencapaian nilai KKM sebesar 51%, dan siklus II pencapaian nilai KKM semakin meningkat yaitu88%. Hal ini berarti keterampilan berbicara siswa semakin meningkat dengan keterampilan berbicara berdasarkan naskah percakapan pengalaman pribadi.

Kata kunci: berbicara, leraningcomunty.

vii

(8)

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah Yang Maha Kuasa karena atas berkat rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai salah satu persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan BahasadanSastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Salawat dan salam yang melimpah semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad saw beserta keluarga, sahabat, dan para pengikutnya yang istiqomah dan setia di jalan AllahSwt., hingga akhir zaman nanti. Amin ya robbal alamin.

Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak, skripsi ini tidak dapat diselesaikan. Tidak lupa pula penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada Prof.Dr. H. Abd.Rahman Rahim, S.E.,M.M selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar, Erwin Akib, M.. Pd., Ph.D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Dr. Munirah, M. Pd. selaku Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa san Sastra Indonesia dan kepada Bapak dan Ibu dosen Jurusan.Oleh karena itu, penulis menyampaikan penghargaan dan terima kasih sebesar-besarnya kepada Dr. H. Andi Sukri Syamsuri, M. Humdan Dr. Amal Akbar, S.Pd., M. Pd Selaku pembimbing I dan pembimbing II yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan arahan, motivasi, serta bimbingan dengan penuh kesabaran dan ketulusan kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini, serta kepada

viii

(9)

dosen Pendidikan BahasadanSasstra Indonesia yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, atas bimbingan dan jasa-jasa beliau selama penulis mengikuti perkuliahan.

Penulis menyampaikan terima kasih kepada HarunSalli, S.Pd. MH selaku kepala sekolah , bapak dan ibu guru, staf SMP SARIBUANA Makassae dan IbuEviMurtavia, S. Pd selaku wali kelas VII di sekolah tersebut yang memberi izin dan membantu untuk melakukan penelitian. Penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada orang tuaku yakni Abi DaengSibali dan Ummi Hapsa yang telah memberikan motivasi, doa dan masukan selama ini serta seluruh rekan mahasiswa Jurusan Pendidikan BahasadanSastra Indonesia angkatan 2015 atas segala kebersamaan, motivasi, saran, dan bantuannya kepada penulis yang telah memberikan pelangi dalam hidupku.

Akhirnya, dengan segala kerendahan hati, penulis senantiasa mengharapkan kritikan dan saran dari berbagai pihak, selama saran dan kritikan tersebut sifatnya membangun karena penulis yakin bahwa suatu persoalan tidak akan berarti sama sekali tanpa adanya kritikan. Mudah-mudahan dapat memberikan manfaat bagi para pembaca, terutama bagi diri pribadi penulis.

Amin Ya Rabbal Alamin.

Makassar, Januari 2020

Penulis ix

(10)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

MOTTO ... ii

ABSTRAK ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... v

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 10

C. Tujuan Penelitian ... 10

D. Manfaat Penelitian ... 10

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Pustaka ... 12

1. Penelitian yang Relevan ... 12

2. Penerapan Learning Comunity ... 15

a. Langkah-langkah Learning Community ... 19

b. Peranan guru dalam penerapan Learning Community ... 20

3. Metode Pembelajaran ... 21

4. Pengertian Belajar ... 22

5. Hakikat Keterampilan Berbicara ... 24

a. Tujuan Berbicara ... 26 x

(11)

b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keterampilan Berbicara ... 28

c. Kriteria Penilaian Berbicara ... 30

B. Kerangka Pikir ... 33

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 37

B. Lokasi dan Waktu ... 37

C. Subjek Penelitian ... 38

D. Prosedur Penelitian... 38

E. Alat dan Tehnik Pengumpulan Data ... 41

F. Teknik Analisis Data ... 42

G. Indikator Keberhasilan ... 45

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PRMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 46

B. Pembahasan ... 83

BAB V PENUTUP A. Simpulan ... 90

B. Saran ... 91

DAFTAR PUSTAKA ... 92 LAMPIRAN

RIWAYAT HIDUP

xi

(12)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Bahasa adalah alat komunikasi yang dipakai oleh masyarakat untuk menyampaikan buah pikiran, perasaan, dan keinginan kepada orang lain. Bahasa sebagai sebuah sistem maka bahasa terbentuk oleh pola tertentu, baik dalam bidang tata bunyi, tata bentuk kata, maupun tata kalimat. Bila aturan kaidah atau pola itu dilanggar, maka komunikasi dapat terganggu. Salah satu bahasa alami yang tetap dipelihara dan dipergunakan oleh penuturnya, baik secara lisan maupun tertulis, adalah bahasa Indonesia.

Meskipun suatu bahasa (perbendaharaan kata) tergolong baik dan indah, jika tidak digunakan oleh pemakaianya, bahasa tersebut tidak akan berkembang, bahkan akan mati. Dalam berkomunikasi, sering ditemukan kata-kata yang kurang dapat dipahami maknanya. Oleh karena itu, untuk menghindari terjadinya salah pengertian dalam berkomunikasi, pemilihan, penyusunan, dan penggunaan kata harus benar- benar diperhatikan.

Seperti halnya di sekolah antara guru dengan siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam berkomunikasi secara lisan dan tulisan. Kemampuan berkomunikasi yang baik dan benar adalah sesuai dengan konteks waktu, tujuan dan suasana saat komunikasi dilangsungkan. Standar kompetensi Bahasa Indonesia merupakan kualifikasi

1

(13)

kemampuan peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan keterampilan berbahasa.

Kualitas proses pembelajaran memiliki banyak kriteria penilaian agar dapat menghasilkan proses pembelajaran yang berkualitas. Namun, secara umum proses pembelajaran dikatakan berkualitas apabila tujuan-tujuan pembelajaran telah tercapai.

Banyak komponen yang dapat mempengaruhi kualitas pendidikan, tetapi tidak mungkin upaya meningkatkan kualitas dapat dilakukan dengan memperbaiki setiap komponen secara serempak.

Untuk mengetahui kualitas proses pembelajaran yang telah tercapai perlu dilakuakan penilaian. Penilaian proses belajar adalah upaya memberi nilai terhadap kegiatan belajar-mengajar yang dilakukan oleh siswa dan guru dalam mencapai tujuan-tujuan pengajaran. Penilaian ini mencakup kinerja guru dan kinerja siswa.

Proses belajar berbahasa di sekolah, murid mengembangkan keterampilan secara partikel tidak secara horizontal. Maksudnya, murid telah dapat mengungkapkan pesan secara lengkap meskipun belum sempurna. Makin lama keterampilan tersebut menjadi semakin sempurna dalam arti strukturnya menjadi sempurna, pilihan kata semakin tepat, kalimat-kalimatnya semakin bervariasi.

Keterampilan berbahasa mempunyai empat komponen. Empat komponen tersebut: keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca dan keterampilan menulis. Setiap keterampilan mempunyai hubungan erat dengan ketrerampilan-keterampilan lainnya. Keterampilan-keterampilan tersebut hanya dapat dikuasai dengan jalan praktik dan latihan yang banyak.

(14)

Jika dilihat pada kurikulum yang digunakan yaitu kurikulum berbasis kompetensi (KBK), menghendaki bahwa kemampuan dan kompetensi anak dapat dikembangkan melalui pembelajaran, salah satunya melalui pembelajaran keterampilan berbicara. Dalam hal keterampilan berbicara di sekolah-sekolah kurang begitu diperhatikan. Hal ini dikarenakan kebanyakan sekolah hanya mengacu pada teori. Untuk praktiknya dirasa kurang.

Pembelajaran bahasa Indonesia selama ini lebih menekankan pada teori bukan praktik langsung yang dapat meningkatkan kompetensi anak sehingga tidak mengherankan jika kemampuan berbicara siswa kurang (Depdiknas, 2003: 7). Praktik pembelajaran di kelaspun lebih menekankan pada aspek pengetahuan dari pada keterampilan. Hal ini tidak sesuai lagi dengan paradigma baru pendidikan. Anak akan belajar lebih baik melalui kegiatan mengalami sendiri dalam lingkungan yang alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika “mengalami” apa yang dipelajarinya, bukan “mengetahuinya”.

Berbicara sebagai salah satu indikator kemahiran berbahasa, masih dianggap sebagai sesuatu pembelajaran yang mudah. Pembelajaran berbicara tidak dilakukan dengan serius. Kenyataan di lapangan, masih banyak siswa yang kurang mampu mengekspresikan diri lewat kegiatan berbicara. Siswa sering kali malu ketika diminta berbicara atau bercerita di depan kelas. Hal ini dimungkinkan karena rendahnya penguasaan siswa akan topik yang dibahas sehingga siswa tidak mampu memfokuskan hal-hal yang ingin diucapkan. Akibatnya, arah pembicaraan menjadi kurang jelas sehingga inti dari bahasan tersebut tidak tersampaikan. Dengan demikian

(15)

dapat diindikasikan bahwa keterampilan berbicara siswa masih rendah. Dalam pembelajaran berbicara, prestasi siswa tergolong rendah. Yaitu nilai terendah 50, nilai tertinggi 80, dan nilai rata-rata 66. Data tersebut dapat dikatakan bahwa keterampilan siswa dalam berbicara masih perlu ditingkatkan. Karena standar nilai bahasa Indonesia khususnya berbicara adalah 75.

Hal ini juga didasarkan pada fakta di lapangan yang menyebutkan ada beberapa hal yang melatarbelakangi masalah tersebut. Pertama, siswa kurang berminat dalam kegiatan berbicara. Mereka masih kesulitan dalam menentukan batasan topik yang akan disampaikan. Misalnya, siswa berbicara terlalu panjang lebar sehingga inti informasi tidak tersampaikan, Kedua ketepatan siswa dalam menggunakan bahasa masih kurang. Ketiga, siswa kurang bisa memilih diksi yang tepat untuk menyampaikan ide dan gagasannya. Keempat, dalam berbicara di depan kelas siswa kurang mampu mengorganisasi perkataannya sehingga pembicaraannya belum tepat sasaran. Kelima adalah sikap ketika berbicara, dalam kegiatan berbicara siswa terlihat tegang dan kurang rileks. Dengan kondisi tersebut akan mempengaruhi kualitas tuturannya. Penyebab kesulitan berbicara di atas tidak terlepas dari akibat penggunaan metode dan model yang digunakan oleh guru.

Dunia pendidikan tidak terlepas dari peran seorang guru. Peran guru sangat sentral dalam program pendidikan, karena tanpa guru siapa yang akan mengajar di sekolah. Seorang guru tidak akan lepas dari segala rutinitas di sekolah yaitu kegiatan mengajar di kelas. Merencanakan kegiatan mengajar, melaksanakan dan melakukan evaluasi merupakan suatu rangkaian kegiatan yang sistematis dalam mewujudkan

(16)

kegiatan mengajar yang efektif. Tujuan pendidikan di sekolah, kecil kemungkinan akan berhasil bila kemampuan guru dalam mentranspormasikan ilmu pengetahuan, mengajarkan nilai-nilai pendidikan dan kegiatan dalam rangka mengembangkan segenap potensi peserta didik apabila guru tidak memiliki kemampuan atau menguasainya dengan baik.

Ahmad Sanusi (1990), mengemukakan bahwa Pendidikan mempunyai peranan yang sangat besar dalam meningkatkan Sumber Daya Manusia yang bermutu, karena pendidikan memiliki tanggung jawab yang besar dalam kerangka membangun, membina dan mengembangkan kualitas manusia Indonesia yang di jalankan secara terstuktur, sistematika dan terprogram serta berkelanjutan. Untuk menghasilkan Sumber Daya Manusia yang bermutu dan berwawasan teknologi maka pendidikan diperlukan profesinalisme tenaga pendidik dalam mengembangkan dan memanfaatkan teknologi pendidikan dalam dunia pendidikan.

Model mengajar guru yang masih konvensional membuat pembelajaran berbahasa menjadi sesuatu yang membosankan. Kurangnya pemanfaatan media dalam pembelajaran membuat siswa menjadi kurang aktif dan kreatif. Hal itu juga karena guru kurang memberdayakan media pembelajaran yanga ada, yaitu tidak mengunakan media yang sesuai dengan model pembelajaran yang diterapkan.

Banyak jenis model pembelajaran yang ada, tetapi tidak semua model pembelajaran dapat diterapkan untuk meningkatkan keterampilan membaca siswa.

Salah satu model penelitian yang dipilih adalah medel learning comunity. learning comunity adalah pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Ketika

(17)

anak baru belajar menimbang massa (berat) benda dengan menggunakan neraca O‟haus, ia bertanya kepada temannya. Kemudian temannya yang sudah bisa menunjukkan cara menggunakan alat itu. Hasil belajar diperoleh dari sharing antar teman, antar kelompok dan antar yang tahu ke yang belum tahu.

Di ruang ini, di kelas ini, disekitar sini, juga orang-orang yang ada di luar sana, semua adalah anggota masyarakat belajar. Model pembelajaran memiliki peran yang dapat menunjang keberhasilan kegiatan pembelajaan. Penggunaan model pembelajaran yang tepat akan berdampak pada hasil pembelajaran yang lebih baik.

Model dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam menggali informasi dan memahami materi pembelajaran yang diajarkan. Secara langsung model pembelajaran merupakan pendukung untuk kelancaran proses pembelajaran, meningkatkan minat dan daya tarik siswa dalam mengikuti pembelajaran, dan dengan itu tujuan pembelajaran akan sangat terbantu dalam pencapaiannya.

Pemakaian model pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Penggunaan media pembelajaran pada tahap orientasi pembelajaran akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran saat itu. Selain membangkitkan motivasi dan minat siswa, media pembelajaran juga dapat membantu siswa meningkatkan pemahaman, menyajikan data dengan menarik dan terpercaya, memudahkan penafsiran data, dan memadatkan informasi.

(18)

Salah satu hal penting dan selalu mendapatkan perhatian serius di dalam pembelajaran adalah penyampaian materi pelajaran supaya mudah dimengerti atau dipahami oleh siswa. Pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan oleh Guru, salah satunya dipengaruhi oleh pemilihan metode dan model pembelajaran.

Selama ini, mayoritas guru hanya menyampaikan materi dengan metode ceramah yang berdampak pembelajaran yang monoton dan membosankan. Oleh karena itu, dengan adanya model pembelajaran learning comunity interaktif berbicara disajikan dengan model pembelajaran learning comunity diharapkan dapat membantu guru dalam mengajar dengan mudah kepada siswa sehingga siswa dapat memahami materi pembelajaran dengan baik.

Faktor yang paling menunjang keberhasilan pendidikan atau pengajaran adalah guru, sehingga guru dituntut kemampuannya untuk menyampaikan bahan pengajaran kepada murid dengan baik. Untuk itu guru perlu mendapatkan pengetahuan tentang metode, model dan media pembelajaran yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar.

Hasil belajar peserta didik dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor baik itu faktor dari dalam diri peserta didik maupun dari luar diri peserta didik. Salah satu kendala dalam pembelajaran bahasa Indonesia yang dialami oleh peserta didik yaitu sikap negatif terhadap bidang studi bahasa Indonesia yang menganggap bidang studi tersebut adalah pelajaran yang sangat menbosankan sehingga mereka tidak termotivasi untuk mempelajari bahasa Indonesia. Oleh sebab itu, perlu penerapan metode, strategi dan model yang bervariasi dalam pembelajara bahasa Indonesia

(19)

sehingga peserta didik tidak menganggap bahwa bahasa Indonesia adalah sesuatu yang perlu di takuti karena mata pelajaran bahasa Indonesia sebenarnya menarik dan sangat dekat dengan kehidupan nyata.

Kualitas proses belajar yang dialami setiap peserta didik sangat bervariasi, ada peserta didik yang mencapai tujuan pengajaran tanpa mengalami kesulitan dan ada pula peserta didik yang mengalami berbagai kesulitan dalam mencapai tujuan pengajaran. Oleh karena itu, sangatlah penting memberikan bantuan pembelajaran kepada peserta didik yang mengalami kesulitan belajar agar dapat memiliki sumber daya manusia yang berkualitas.

Pendidikan Bahasa Indonesia ini memiliki peranan penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahasa Indonesia ini juga berfungsi untuk mengembangkan kemampuan mendengar, menyimak, membaca dan menulis yang ada dalam pembelajaran bahasa Indonesia, di dalam kehidupan sehari-hari kita sebagai manusia tidak pernah lepas dari bahasa. Atas pandangan Siswa terhadap pembelajaran bahasa yang pada dasarnya bahasa dianggap sebagai mata pelajaran yang membosankan. Agar pembelajaran bahasa Indonesia tidak lagi dipandang sebagai mata pelajaran yang membosankan tetapi menjadikan mata pelajaran yang menyenangkan bagi siswa.

Untuk menciptakan suasana belajar yang baik dan kondusif, guru harus cermat memilih dan menerapkan model pembelajaran, salah satunya adalah model learning comunity yang merupakan cara penyajian pelajaran dengan cara bekerjasama antara siswa yang satu dengan siswa yang lain atau mempertunjukkan kepada peserta

(20)

didik suatu proses, situasi atau benda tertentu yang sedang dipelajari baik dalam bentuk sebenarnya maupun dalam bentuk tiruan yang dipertunjukkan oleh guru.

Salah satu model untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik adalah dengan cara menerapkan model pembelajaran learning comunity. model pembelajaran learning comunity adalah suatu model pembelajaran yang dapat dikuasai dan dapat membantu meningkatkan hasil belajar peserta didik karena mengerjakan sesuatu dengan cara berkelompok.

Dengan menerapkan model pembelajaran learning comunity dapat memungkinkan peserta didik lebih mudah untuk menerima materi yang diajarkan.

Hal ini desebabkan karena model ini sangat cocok untuk semua jenis materi bahasa Indonesia dimana materi bahasa Indonesia merupakan materi tentang keadaan masyarakat baik dari segi bahasa maupun kehidupan sehari-hari yang selalu terjadi di sekeliling kita sehingga untuk melakukan suatu pembicaraan terhadap materi-materi tersebut akan sangat memudahkan karena kita akan berbicara mengenai kejadian sehari-hari sehingga peserta didik akan dengan mudah untuk memahami hal-hal tersebut. Yang dapat memungkinkan tercapainya tujuan umum dari proses belajar mengajar.

Dengan demikian guru harus membuat pelajaran Bahasa Indonesia ini lebih menarik dalam pandangan siswa khususnya Siswa Kelas VII.A SMP SARIBUANA Makassar. Oleh karena itu, guru dituntut untuk menggunakan model, yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan, dengan adanya model ini diharapkan siswa lebih

(21)

fokus dalam mendengarkan atau memperhatikan guru di depan kelas ketika menjelaskan materi.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti melakukan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan judul “Penerapan learning community dalam peningkatan pembelajaran keterampilan berbicara bahasa indonesia siswa kelas VII.A SMP SARIBUANA Makassar”. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan: (1) kualitas proses keterampilan membaca dengan menggunakan model pembelajaran Learning Community pada VII.A SMP SARIBUANA Makassar”, dan (2) keterampilan membaca dengan menggunakan model pembelajaran Learning Community pada siswa Kelas VII.A SMP SARIBUANA Makassar.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah bagaimanakah penerapan learning community dalam peningkatan pembelajaran keterampilan berbicara bahasa Indonesia siswa kelas VII.A SMP SARIBUANA Makassar?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi penerapan learning community dalam peningkatan pembelajaran keterampilan berbicara bahasa Indonesia siswa kelas VII.A SMP SARIBUANA Makassar.

D. Manfaat Penelitian

Adapun dalam penelitian ini dapat diambil manfaat:

1. Manfaat Teoretis

(22)

a. Untuk mengembangkan keilmuan dibidang pembelajaran bahasa Indonesia.

b. Untuk mengembangkan dan melestarikan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa.

2. Manfaat Praktis

a. Sekolah mendapat informasi tepat guna dalam upaya perbaikan dan peningkatan pembelajaran bahasa Indonesia sehingga dapat menunjang tercapainya target kurikulum dan daya serap siswa sesuai yang diharapkan dalam tujuan pendidikan dan dapat dijadikan sebagai masukan data serta rujukan dalam mengambil suatu keputusan dalam proses pembelajaran di masa yang akan datang.

b. peneliti mendapat pengalaman secara langsung dari guru dan siswa mengenai penggunaan bahasa Indonesia.

(23)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Pustaka

1. Penelitian yang Relevan

Kajian hasil penelitian yang relevan adalah untuk mengkaji beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian ini.

Ulfa Mauliza 2007), dalam skripsi peningkatan keterampilan berbicara siswa Melalui strategi prediction guide dalam Pembelajaran bahasa indonesia kelas v Mis lamgugob Banda Aceh. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Aktivitas guru dan Siswa Melalui pengamatan aktivitas guru dalam pembelajaran bahasa Indonesia dengan menggunakan strategi Prediction Guide memperole kriteria yang sangat baik yaitu dengan nilai rata-rata 4, 64. Aktivitas siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia dengan menggunakan strategi Prediction Guide memperoleh criteria yang sangat baik yaitu dengan nilai rata-rata yaitu 4, 84. Peningkatan hasil belajar siswa terhadap materi bercerita dengan menggunakan strategi Prediction Guide sudah mencapai kriteria ketuntasan. Artinya dari 75% ( minimum) dan 70% (ketuntasan klasikal) sebagamana yang ditetapkan di MIS Lamgugob Banda Aceh, maka hasil belajar meningkat menjadi 79.41%.

Isnani (2013), dalam skripsi Peningkatan Keterampilan Berbicara Melalui Metode Bermain Peran Pada Siswa Kelas V Sekolah Dasar Negeri 2 Wates. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa Indonesia melalui bermain peran dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas V SD Negeri 2 Wates.

12

(24)

Tindakan pembelajaran siklus I siswa bermain peran berdasarkan naskah percakapan dengan memperhatikan aspek kebahasaan dan nonkebahasaan. Berdasarkan hasil tes pengamatan keterampilan berbicara, siswa tidak mengalami kendala dalam aspek kebahasaan (kosa kata/ungkapan atau diksi dan struktur kalimat yang digunakan) dan aspek nonkebahasaan (keberanian, keramahan, dan sikap). Tindakan bermain peran siklus II berdasarkan naskah drama. Siklus II lebih difokuskan pada aspek kebahasaan (tekanan, ucapan, serta nada dan irama) dan aspek nonkebahasaan (kelancaran dan penguasaan materi) yang masih kurang. Hasil tes pengamatan keterampilan berbicara siklus II mengalami peningkatan. Pembelajaran keterampilan berbicara melalui metode bermain peran berdasarkan naskah drama menunjukkan peningkatan keterampilan berbicara siswa. Peningkatan tersebut ditunjukkan dengan nilai rata-rata kelas yang telah diperoleh. Pada saat sebelum dilaksanakan tindakan, nilai rata-rata kelas yang diperoleh yaitu 59,2. Setelah dilaksanakan tindakan pada siklus I nilai rata-rata kelas 77,0. Pada siklus II nilai rata-rata kelas semakin naik, rata-rata kelas meningkat menjadi 81,5. Selain dari rata-rata nilai kelas, pencapaian nilai KKM juga meningkat, yaitu pada pratindakan pencapaian KKM sebesar 14%, pada siklus I pencapaian nilai KKM sebesar 51%, dan siklus II pencapaian nilai KKM semakin meningkat yaitu 88%. Hal ini berarti keterampilan berbicara siswa semakin meningkat dengan menggunakan metode bermain peran.

Azima (2018), dalam disertasi Pengaruh Professional Learning Community Terhadap Pengembangan Profesi Guru Pada Madrasah Aliyah Negeri Di Provinsi Lampung. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Professional learning community

(25)

ditinjau dari aspek kepemimpinan bersama berpengaruh positif terhadap pengembangan profesi guru. Implikasi kedepan mengisyaratkan bahwa kepala madrasah juga harus mampu berperan sebagai figur dan mediator. Kepala madrasah mampu berperan dalam paradigma baru dalam pendidikan yaitu sebagai edukator, sebagai manajer, sebagai administrator, sebagai supervisor, sebagai leader dan sebagai motivator. Sebagai motivator kepala madrasah harus mempunyai strategi tertentu untuk mengembangkan motivasi tenaga pendidik dan kependidikan di madrasah seperti dengan memempatkan guru pada bidang sesuai dengan kemampuan dan minatnya, dapat memberi kesempatan yang sama dan tidak memprioritaskan seseorang, memberikan hadiah atau imbalan jika guru berprestasi serta memuji atau mengakui bila guru tersebut memang memiliki ide atau gagasan yang patut dikagumi oleh kepala madrasah serta mengungkapkan bahwa beliau memberikan motivasi kepada guru dengan memberikan hadiah berupa pujian-pujian, sertifikat atau bingkisan-bingkisan kepada guru yang berprestasi atau telah melakukan peningkatan kerja.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya sangat jelas karena pada peneliti pertama membahas mengenai peningkatan keterampilan berbicara siswa Melalui strategi prediction guide. Peneliti kedua membahas mengenai Peningkatan Keterampilan Berbicara Melalui Metode Bermain Peran. Sedangkan pada penelitian ini membahas mengenai Pengaruh Professional Learning Community Terhadap Pengembangan Profesi Guru.

(26)

2. Penerapan Learning Community

Lexy J. Moloeng (2009:93), mengemukakan bahwa kata penerapan berasal dari kata dasar terap yang berarti menjalankan atau melakukan sesuatu kegiatan, kemudian menjadi berarti. Suatu proses, cara atau perbuatan menjalankan atau melakukan sesuatu, baik yang abstrak atau sesuatu yng kongkrit. Penerapan merupakan sebuah tindakan yang dilakukan baik secara individu maupun kelompok dengan maksud untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan.

Secara sederhana penerapan bisa diartikan pelaksanaan atau implementasi.

Syafruddin Nurdin (2002: 70-71), mengemukakan implementasi sebagai evaluasi adalah perluasan aktivitas yang saling menyesuaikan implementasi merupakan aktivitas yang saling menyesuaikan bahwa implementasi merupakan sistem rekayasa.

Sedangkan pengertian Learning Community ialah pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Ketika anak baru belajar menimbang massa (berat) benda dengan menggunakan neraca O‟haus, ia bertanya kepada temannya. Kemudian temannya yang sudah bisa menunjukkan cara menggunakan alat itu. Hasil belajar diperoleh dari sharing antar teman, antar kelompok dan antar yang tahu ke yang belum tahu.

Di ruang ini, di kelas ini, disekitar sini, juga orang-orang yang ada di luar sana, semua adalah anggota masyarakat belajar. Dalam kelas guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang anggotannya heterogen.Yang pandai mengajari yang

(27)

lemah, yang tahu memberitahu yang belum tahu, yang cepat mendorong temannya yang lambat, yang mempunyai gagasan segera memberi usul dan seterusnya.

Kelompok siswa bisa sangat bervariasi bentuknya, baik keanggotaan, jumlah bahkan melibatkan siswa di kelas atau guru melakukan kolaborasi dengan mendatangkan seorang ahli ke kelas. Kegiatan saling belajar ini bisa terjadi apabila tidak ada pihak yang dominan dalam komunikasi, tidak ada pihak yang merasa segan untuk bertanya, tidak ada pihak yang menganggap paling tahu, semua pihak mau saling mendengarkan. Setiap pihak harus merasa bahwa setiap orang lain memiliki pengetahuan, pengalaman, atau keterampilan yang berbeda yang perlu dipelajari.

Trianto (2007:111-112), mengemukakan bahwa kalau setiap orang mau belajar dari orang lain, maka setiap orang lain bisa menjadi sumber belajar, dan ini berarti setiap orang akan sangat kaya dengan pengetahuan dan pengalaman. Metode pembelajaran dengan teknik learning community ini sangat membantu proses pembelajaran dikelas. Belajar dari orang lain ini sangat membantu siswa dalam pembelajaran dalam kelompok, karena nanti terjadi saling berinteraksi antara siswa dengan siswa lainnya.

Rusman (2011:21), mengemukakan bahwa maksud dari Learning Community ialah membiasakan siswa untuk melakukan kerjasama dan memanfaatkan sumber belajar dari teman-teman belajarnya. Seperti yang disarankan learning community, bahwa hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain melalui berbagai pengalaman (sharing). Ini membiasakan anak untuk saling memberi dan menerima, sifatnya ketergantungan yang positif dalam pembelajaran.

(28)

Kalau setiap orang mau belajar dari orang lain, dengan demikian orang lain bisa menjadi sumber belajar dan ini berarti setiap orang akan kaya dengan pengetahuan dan pengalaman. Metode pembelajaran dengan teknik “learning community” ini sangat membantu proses pembelajaran dikelas.

Daryanto (2013:146), mengemukakan bahwa Praktiknya dalam pembelajaran terwujud dalam hal-hal sebagai berikut: a) Pembentukan kelompok kecil, b) Pembentukan kelompok besar, c) Bekerja dengan kelas sederajat, d) Bekerja kelompok dengan kelas diatasnya dan, e) Bekerja dengan masyarakat.

Sitiatava Rizema Putra (2013:249-250), mengemukakan bahwa pengertian Learning Community adalah sebagai berikut:

a. Adanya kelompok belajar yang berkomunikasi untuk berbagai gagasan dan pengalaman

b. Ada kerja sama untuk memecahkan masalah

c. Pada umunya hasil kerja kelompok lebih baik daripada kerja secara individual d. Ada rasa tanggung jawab kelompok, semua anggota dalam

e. kelompok mempunyai tanggung jawab yang sama

f. Upaya membangun motivasi belajar bagi anak yang belum mampu

g. Menciptakan situasi dan kondisi yang memungkinkan seorang anak belajar dengan anak lainnya

h. Ada rasa tanggung jawab dan kerja sama antara anggota kelompok untuk saling memberi dan menerima

i. Ada fasilitator atau guru yang memandu proses belajar dalam kelompok

(29)

j. Harus ada komunikasi dua arah

k. Ada kemauan untuk menerima pendapat yang lebih baik l. Ada kesediaan untuk menghargai pendapat orang lain m. Tidak ada kebenaran yang hanya satu saja

n. Dominasi siswa yang pintar perlu diperhatikan agar yang lambat atau lemah bisa pula berperan

o. Siswa bertanya kepada teman-temannya.

Berdasarkan penjelasan tersebut, bisa disimpulkan bahwa konsep masyarakat belajar menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari hasil kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharing antar siswa, antar kelompok dan siswa yang tahu dan yang belum tahu. Belajar kelompok terjadi apabila ada komunikasi dua arah, dua kelompok, atau lebih yang terlibat dalam komunikasi pembeljaran saling belajar.

Konsep masyarakat belajar menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari „sharing’ antara teman, antar kelompok dan antara sudah tahu ke yang belum tahu. Dalam kelas konstektual guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang heterogen.Yang pandai mengajari yang lemah, yang tahu memberitahu yang yang belum tahu, yang cepat menangkap mendorong temannya yang lambat, yang mempunyai gagasan segera memberi usul. Kelompok siswa bisa sangat bervariasi bentuknya, baik keanggotaan, jumlah, bahkan bisa melibatkan siswa dikelas atasnya atau guru.

(30)

Kunandar (2007:59), mengemukakan bahwa Masyarakat belajar bisa terjadi apabila ada proses komunikasi dua arah. Seorang guru yang mengajari siswanya bukan merupakam masyarakat belajar karena komunikasi hanya terjadi satu arah, yaitu informasi hanya datang dari guru kearah siswa dalam hal ini yang belajar hanya siswa bukan guru. Dalam masyarakat belajar, dua kelompok (atau lebih) yang terlibat dalam komunikasi pembelajaran saling belajar. Seseorang yang terlibat dalam kegiatan masyarakat belajar member informasi yang diperlukan oleh teman bicaranya dan sekaligus juga meminta informasi yang diperlukan dari teman belajarnya kegiatan saling belajar ini bisa terjadi apabila

tidak ada pihak yang dominan dalam komunikasi, tidak ada pihak yang merasa segan untuk bertanya, tidak ada pihak yang menganggap dirinya paling tahu, semua pihak saling mendengarkan. Setiap pihak harus merasa bahwa setiap orang lain memiliki pengetahuan, pengalaman, atau keterampilan berbeda yang perlu dipelajari.

a. Langkah-langkah Penerapan Learning Comunity

Hasibun dan Moedjono (1995:24), Ada 3 aspek yang perlu diperhatikan dalam langkah-langkah penerapan Learning Community adalah sebagai berikut:

1) Tujuan

Tujuan harus jelas bagi setiap anggota kelompok, agar diperoleh hasil kerja yang baik.

2) Interaksi

(31)

Dalam kerja kelompok ada tugas yang harus diselesaikan bersama sehingga perlu dilakukan pembegian kerja

3) Kepemimpinan

Tugas yang jelas, komunikasi yang efektif, kepemimpinan yang baik, akan berpengaruh terhadap suasana kerja, dan pada gilirannya suasana kerja ini akan mempengaruhi proses penilaian tugas.

b. Peranan guru atau Intruktor dalam penerapan metode Learning Community

1) Manager

Membantu para peserta didik mengorganisasi diri, tempat duduk, serta bahan yang diperlukan.

2) Observer

Mengamati dinamika kelompok yang terjadi sehingga ia dapat mengarahkan serta membantunya bila perlu.

3) Advistor

Memberikan saran-saran tentang penyelesaian tugas bila diperlukan.

4) Evaluator

Nilailah proses kelompok yang terjadi bersama-sama dengan kelompok.

Penilaian ini hendaklah selalu penilaian kelompok, bukan penilaian terhadap individu.

Penerapan metode Learning Community ini sangat cocok digunakan dalam pembelajaran didalam kelas, siswa belajar kelompok dengan teman sekelasnya

(32)

sendiri dan salah satu temannya yang belum bisa dikasih tahu siswa yang sudah pintar dalam pembelajaran ini. Pada umumnya pembelajaran kelompok lebih baik daripada belajar sendiri. Belajar kelompok membuat siswa semangat belajar dan saling berinteraksi antara siswa dengan siswa lainnya, guru juga harus membimbing anak didiknya supaya pembelajaran kelompok bisa berjalan dengan baik dan benar agar nanti siswanya bisa pintar semua. Learning Community juga merupakan bagian terpenting dari kegiatankegiatan aktif. Karena ini penting untuk membentuk kelompok secara cepat dan efisien pada saat bersamaan, memvariasikan komposisi serta besaran kelompok di dalam kelas.

3. Metode Pembelajaran

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (1999:767) Metode adalah cara yang telah teratur dan terfikir baik-baik untuk mencapai suatu maksud. Sedangkan menurut Depag RI dalam buku Metodologi Pendidikan Islam (2001;19) Metode berarti cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.

Metode berasal dari bahasa latin “methodos“ yang berarti jalan yang harus dilalui. Metode adalah cara yang digunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan peserta didik pada saat berlangsungnya pelajaran, oleh karena itu peranan metode pengajaran sebagai alat untuk menciptakan proses belajar mengajar “(dalam Moedjiono dan Dimyati 1995:45) “.

(33)

Dari berapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa metode adalah suatu cara yang digunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan pembelajaran, metode sangat diperlukan oleh guru untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai.

Arief Armai (2002:40), mengemukakan Metode Secara etimologi, istilah metode berasal dari bahasa Yunani “metodos”. Kata ini terdiri dari dua suku kata yaitu “metha” yang berarti melalui atau melewati dan “hodos” yang berarti jalan atau cara. Metode berarti suatu jalan yang dilalui untuk mencapai suatu tujuan.

Dari pendekatan kebahasaan tersebut, nampak bahwa metode lebih menunjukkan kepada jalan dalam arti jalan non fisik yaitu jalan dalam bentuk ide-ide yang mengacu kepada cara untuk mengantarkan seseorang agar sampai pada tujuan yang ditentukan untuk menjelaskan makna pokok metode adalah sebagai berikut:

a. Metode pendidikan adalah cara yang digunakan untuk menjelaskan materi pendidikan kepada anak didik.

b. Cara yang digunakan, merupakan cara yang tepat guna menyampaikan materi pendidikan tertentu dalam kondisi tertentu

c. Melalui cara itu, diharapkan materi yang disampaikan mampu memberi kesan pada diri anak didik. Sehingga dapat dipahami bahwa metode berarti cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal

(34)

4. Pengertian Belajar

Menurut Slameto (2010:2), mengemukakan bahwa pengertian secara psikologis belajar merupakan suatu proses perubahan, yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dan interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku. Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

Menurut Mutadi (2007:12). Mengemukakan bahwa belajar adalah suatu perubahan dalam diri individu sebagai hasil interaksi lingkungannya untuk memenuhi kebutuhan dan menjadikannya lebih mampu melestarikan lingkungan secara memadai. “Learning is a change the individual due to interaction of that individual and his environments which fills a need and makes him capable of dealing adequality with his environment”.

Menurut Baharuddin (2010:13), mengemukakan bahwa belajar (to learn) memiliki arti : to gain knowledge, comprehension, or mastery of trough experience or study, to fix in the mind or memory; memorize; to acquire trough experience, to become in forme of to find out. Menurut definisi tersebut, belajar memiliki pengertian memperoleh pengetahuan atau menguasai pengetahuan melalui pengalaman, mengingat, menguasai pengalaman, dan mendapatkan informasi atau menemukan.

Dengan demikian, belajar memiliki arti dasar adanya aktivitas atau kegiatan dan penguasaan tentang sesuatu.

(35)

Belajar merupakan tindakan dan perilaku peserta didik yang kompleks.Sebagai tindakan, maka belajar hanya dialami oleh peserta didik sendiri.

(Dimyati & Mudjiono 2002:7). Sedangkan Aunurrahman (2009:35), mengemukakan bahwa belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman.

Dari beberapa pendapat para ahli tentang pengertian belajar maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotor.

5. Hakikat Keterampilan Berbicara

Dalam meningkatkan prestasi siswa, salah satu faktor yang menunjang adalah tingkat keterampilan dari siswa tersebut. Semakin tinggi tingkat keterampilan, maka semakin unggul pula prestasi siswa. Salah satu keterampilan yang harus dikembangkan oleh guru adalah keterampilan berbicara. Berbicara merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang kompleks dan rumit. Kompleks dan rumit tersebut karena dalam berbicara dibutuhkan beberapa persyaratan kebahasaan yang harus diperhatikan oleh pembicara. Apabila siswa dapat menguasai syarat kebahasaan tersebut, maka siswa tersebut dapat dikatakan memiliki keterampilan.

Berbicara secara umum dapat diartikan sebagai suatu penyampaian maksud (ide, pikiran, isi hati) seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa lisan sehingga maksud tersebut dapat dipahami oleh orang lain (Depdikbud dalam Haryadi

(36)

dan Zamzani, 1996/1997: 56). Dengan berbicara, maka maksud yang akan disampaikan akan dipahami.

Pengertian berbicara secara khusus juga dikemukakan oleh Henry Guntur Tarigan (2008: 16) yang mengemukakan berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan.

Mukhsin (1990: 18) memaparkan bahwa: Keterampilan berbicara merupakan keterampilan mereproduksikan arus sistem bunyi artikulasi untuk menyampaikan kehendak, kebutuhan, perasaan, dan keinginan kepada orang lain. Dalam hal ini, kelangkapan peralatan vokal seseorang (lidah, bibir, hidung, dan telinga) merupakan persyaratan alamiah yang mengijinkannya dapat memproduksikan suatu ragam yang luas dari bunyi artikulasi, tekanan, nada, kesenyapan, dan lagu bicara. Keterampilan ini juga didasari oleh kepercayaan diri untuk berbicara wajar, jujur, benar, dan bertanggungjawab dengan melenyapkan problema kejiwaan, seperti rasa malu, rendah diri, ketegangan, dan berat lidah.

Dari pendapat tersebut, dalam berbicara sangat dibutuhkan kepercayaan diri yang tinggi. Hal ini karena, jika siswa memiliki kepercayaan diri maka masalah- masalah yang mengganggu proses berbicara dapat dihilangkan. Senada dengan pendapat tersebut, menurut Akhadiah, dkk (1992/1993: 153) mengemukakan berbicara adalah peristiwa proses penyampaian pesan secara lisan oleh pembicara kepada penerima pesan. Dengan kata lain, berbicara adalah menyampaikan pesan melalui bahasa lisan. Lebih lanjut, Kridalaksana (Dwi Saksomo, 1988: 5) berbicara

(37)

adalah perbuatan menghasilkan bahasa untuk berkomunikasi sebagai salah satu keterampilan dasar dalam berbahasa.

Mengacu dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa berbicara merupakan kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan maksud (ide, pikiran, isi hati) seseorang kepada orang lain dengan bahasa lisan. Berbicara merupakan salah satu bentuk komunikasi lisan yang melibatkan beberapa hal yaitu: pihak yang berkomunikasi, informasi yang dikomunikasikan, dan alat komunikasi. Dengan berbicara, maka akan terjalin hubungan sosial antar pihak yang berkomunikasi.

Artinya, dalam berbicara terjalin pemindahan pesan dari suatu sumber ke tempat lain.

a. Tujuan Berbicara

Dalam berbicara, tentunya memiliki tujuan pembicaraan agar pembicara mendapat respon atau reaksi tertentu. Tujuan pembicaraan sangat tergantung pada keadaan dan keinginan pembicara. Maidar G. Arsjad, dkk (1993: 24) mengatakan tujuan utama berbicara adalah untuk berkomunikasi. Agar dapat menyampaikan pembicaraan secara efektif, sebaiknya pembicara betul-betul memahami isi pembicaraannya. Akhadiah (1992/1993: 160) tujuan berbicara adalah mendorong atau menstimulasi, meyakinkan, menggerakkan, menginformasikan, dan menghibur.

1) Mendorong atau menstimulasi

Berbicara untuk mendorong atau menstimulasi pendengar jauh lebih kompleks dari tujuan berbicara lainnya, sebab berbicara itu harus pintar merayu, mempengaruhi, atau meyakinkan pendengarnya. Ini dapat

(38)

tercapai jika pembicara benar-benar mengetahui kemauan, minat, inspirasi, kebutuhan, dan cita-cita pendengarnya.

2) Meyakinkan

Berbicara yang baik, berusaha untuk meyakinkan pendengar, agar pendengar yakin bahwa yang menjadi bahan pembicaraan dapat dipahami dan informasi yang disampaikan oleh pembicara dapat tersampaikan.

3) Menggerakkan

Dalam berbicara untuk menggerakkan diperlukan pembicara yang berwibawa, panutan atau tokoh idola masyarakat. Melalui kepintarannya dalam berbicara, kecakapan memanfaatkan situasi, ditambah penguasaannya terhadap ilmu jiwa massa, pembicara dapat menggerakkan pendengarnya.

4) Menginformasikan

Berbicara untuk tujuan menginformasikan, untuk melaporkan, dilaksanakan bila seseorang ingin menjelaskan suatu proses, menguraikan, menafsirkan, atau mengintepretasikan sesuatu hal, memberi, menyebarkan, atau menanamkan pengetahuan, dan menjelaskan kaitan.

5) Menghibur

Berbicara untuk menghibur berarti pembicara menarik perhatian pendengar dengan berbagai cara, seperti cerita humor, spontanitas, menggairahkan, kisah-kisah jenaka, petualangan, dan sebagainya untuk menimbulkan suasana gembira pada pendengarnya.

(39)

Mengacu teori tersebut, maka berbicara tentu memiliki tujuan yang tergantung pada kondisi dan keinginan pembicara. Pembicara sebaiknya memahami makna segala sesuatu yang ingin disampaikan, mengevaluasi efek komunikasinya terhadap pendengarnya. Pembicara mengharapkan respon dari pendengar atau penyimak agar tujuannya tercapai.

b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keterampilan Berbicara

Menurut Ahmad Rofi‟uddin dan Darmiyati Zuhdi (1998: 19) berbicara merupakan bentuk perilaku manusia yang memanfaatkan faktor-faktor seperti fisik, psikologis, neurologis, semantik, dan linguistik merupakan faktor dari berbicara.

Faktor tersebut adalah sebagai berikut.:

1) Seseorang memanfaatkan faktor fisik yaitu alat ucap untuk menghasilkan bunyi serta organ tubuh seperti kepala, tangan, dan roman atau mimik muka.

2) Faktor psikologis mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kelancaran dan kefasihan dalam berbicara. Emosi yang stabil, yang tidak saja berpengaruh pada kualitas suara yang dihasilkan oleh alat ucap tetapi juga berpengaruh pada keruntutan bahan pembicaraan, apakah seseorang berbicara dengan tertata atau tidak.

3) Faktor neurologis, yaitu jaringan saraf yang menghubungkan otak kecil dengan mulut, telinga, dan organ tubuh lain yang ikut dalam aktivitas berbicara.

(40)

4) Faktor semantik atau makna dan faktor linguistik yaitu struktur bahasa yang digunakan. Bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap saat berbicara haruslah menggunakan bahasa yang runtut, tertata, dan bermakna.

Bermakna di sini adalah seseorang yang berbicara tidak hanya sekedar berbicara, akan tetapi ada maksud dan tujuan yang disampaikan, sehingga tidak menimbulkan kekeliruan.

Selain faktor di atas, terdapat faktor lain yaitu faktor pola asuh dan kasih sayang orang tua. Menurut Rita, dkk (2008: 15) mengatakan jika pola asuh dan kasih sayang orang tua akan mempengaruhi kualitas interaksi antara individu. Orang tua merupakan area terdekat pada individu. Bagaimana individu terbentuk tentunya didapat dari pembiasaan-pembiasaan yang terjadi pada situasi rumah. Hal inilah yang mendasari individu untuk mengembangkan dirinya. Interaksi antara orang tua dan anak harus terjalin dengan baik.

Orang tua memiliki peran yang penting agar anak memiliki kemampuan berbicara dan berbahasa. Banyak orang tua tidak menyadari bahwa cara berkomunikasi dapat membuat anak tidak memiliki banyak perbendaharaan kata-kata, kurang dipacu untuk berpikir logis, analisa, dan membuat kesimpulan. Orang tua yang mengasuh anak dengan kasih sayang yang cukup, selalu mengajak anak berinteraksi dan berkomunikasi. Namun, seringkali orang tua mengajak malas mengajak anaknya bicara dan hanya bicara satu dua patah kata saja yang isinya instruksi atau jawaban sangat singkat. Selain itu, anak tidak pernah diberi kesempatan untuk mengekspresikan diri sejak dini (lebih banyak menjadi pendengar pasif) karena

(41)

orang tua selalu memaksakan segala instruksi kepada anak tanpa memberi kesempatan anak untuk memberikan umpan balik.

Hal ini menjadi faktor yang mempengaruhi kemampuan bicara anak. Dengan melihat uraian di atas, siswa perlu memanfaatkan faktor-faktor seperti fisik, psikologis, neurologis, semantik, dan linguistik dengan baik. Selain itu, faktor orang tua yang memiliki peranan penting dalam proses berbahasa anak. Siswa yang dapat memanfaatkan faktor-faktor tersebut dengan optimal, maka keterampilan berbicaranya baik.

c. Kriteria Penilaian Berbicara

Menurut Kundharu & Slamet (2012:59), mengemukakan bahwa kegiatan berbicara dipengaruhi oleh beberapa kriteria penilaian, dalam pembelajaran harus ditujukan pada tujuan pembelajaran itu sendiri. Penilaian adalah usaha untuk mengukur ketercapaian tujuan yang telah ditetapkan. Dalam mengevaluasi keterampilan berbicara seseorang, pada prinsipnya seorang guru harus memperhatikan lima penilaian, yaitu sebagai berikut:

1) Bunyi-bunyi tersendiri (vocal dan konsonan) diucapkan dengan tepat 2) Pola-pola intonasi, naik turunya suara, serta tekanan suku kata.

3) Ketetapan dan ketepatan ucapan mencerminkan bahwa pembicara tanpa refrensi internal memahami bahasa yangdigunakan

4) Kata-kata yang diucapkan dalam bentuk dan urutan yang tepat

Aspek dalam berbicara dibedakan menjadi dua faktor yaitu faktor kebahasaan dan non kebahasaan. Haryadi dan Zamzani (1996/1997: 61) mengungkapkan faktor

(42)

kebahasaan adalah pelafalan bunyi, intonasi, pilihan kata atau diksi, dan susunan kalimat. Selanjutnya, faktor non kebahasaan adalah semangat dan sikap tenang, keterbukaan, keintiman, isyarat nonverbal, dan penguasaan topik.

Sementara itu, pendapat yang hampir sama dikemukakan oleh Sabarti Akhadiah, dkk (1992/1993: 154) aspek berbicara terdiri atas kebahasan dan non kebahasaan. Aspek kebahasaan adalah pelafalan bunyi, penempatan tekanan, nada, jangka, intonasi, dan ritme serta penggunaan kata dan kalimat. Dan juga aspek non kebahasaan adalah kenyaringan suara, kelancaran, sikap berbicara, gerak-gerik dan mimik muka, penalaran, keberanian dan santun berbicara.

Lebih lanjut, menurut Ahmad Rofi‟uddin dan Darmiyati Zuhdi (1998/1999:

244) aspek berbicara terdiri atas aspek kebahasaan dan aspek non kebahasaan. Aspek kebahasaan adalah tekanan, ucapan, kosakata/diksi, dan struktur kalimat. Aspek non kebahasaan adalah kelancaran, keberanian, pengungkapan materi wicara, dan sikap.

Aspek non kebahasaan adalah kelancaran, keberanian, pengungkapan materi wicara, dan sikap.

1) aspek Kebahasaan

a) Tekanan Tekanan adalah bentuk tinggi rendahnya, panjang pendeknya, atau keras lembutnya suara atau pengucapan.

b) Ucapan Penggunaan ucapan yang tepat adalah menyuarakan suara dengan jelas, sehingga makna yang disampaikan pembicara dapat tersampaikan.

(43)

c) Kosakata atau diksi Pilihan kata yang tepat penting dalam pembicaraan. Guru perlu mengoreksi pemakaian kata yang kurang tepat atau kurang sesuai untuk menyatakan makna dalam situasi pemakaian tertentu.

d) Struktur Kalimat Pemakaian kalimat harus diperhatikan. Siswa perlu memakai kalimat yang benar dan tepat sesuai kaidah berbahasa.

Kalimat yang digunakan adalah kalimat yang baku di mana kalimat terdiri atas subjek, predikat, objek, dan keterangan.

2) Aspek Non Kebahasaan

a) Kelancaran Kelancaran dalam berbicara sangat perlu karena pembicara dalam berbicara, pembicara mengemukakan maksudnya secara lancar, tidak terbata-bata sehingga pendengar atau penyimak dapat menangkap isi pembicaraannya.

b) Keberanian Keterampilan berbicara membutuhkan keberanian.

Adanya keberanian yang tinggi, membuat kegiatan berbicara tidak mengalami hambatan yang berarti, penuh percaya diri dalam mengemukakan bahan pembicaraan. Sebaliknya, keberanian yang kurang, menyebabkan hambatan dalam berbicara.

c) Pengungkapan materi wacana Pengungkapan materi wacana berarti pemahaman pembicara terhadap suatu pokok pembicaraan. Dengan memiliki pemahaman, seseorang akan memiliki kesanggupan untuk

(44)

mengemukakan materi pembicaraan kepada pendengar atau penyimak.

Pembicara perlu menguasai materi pembicaraan sebelum berbicara.

d) Sikap. Sikap merupakan hal yang penting dalam berbicara. Seorang pembicara harus tahu bagaimana dia bersikap saat berbicara. Sikap yang diperlukan adalah sikap yang wajar yaitu berpenampilan atau berbuat sebagaimana mestinya, sesuai dengan keadaan.

B. Kerangka Pikir

Dalam berbahasa terdapat beberapa keterampilan yang harus dimiliki. Salah satu keterampilan tersebut adalah keterampilan berbicara. Keterampilan berbicara siswa kelas VII.A SMP SARIBUANA Makassar masih cukup rendah. Hal ini dapat dilihat dari nilai sebagian besar siswa yang masih di bawah KKM. Oleh sebab itu, perlu adanya perbaikan dalam pembelajaran keterampilan berbicara. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan penggunaan metode pembelajaran yang tepat.

Penggunaan metode yang tepat akan membantu mempermudah siswa dalam mengungkapkan ide-ide secara lisan, sehingga siswa memiliki keterampilan berbicara yang baik.

Keterampilan berbicara merupakan keterampilan yang paling penting diajarkan setelah keterampilan menyimak, sehingga perlu mendapatkan penekanan yang lebih besar karena dalam berbicara siswa dituntut untuk memiliki aspek-aspek dalam berbicara yaitu aspek kebahasaan dan non kebahasaan. Aspek kebahasaan yaitu tekanan, ucapan, kosakata/diksi, dan struktur kalimat. Sedangkan aspek non

(45)

kebahasaan yaitu kelancaran, keberanian, pengungkapan materi wicara, dan sikap.

Dalam berbicara, siswa perlu memperhatikan dan menggunakan aspek-aspek tersebut agar siswa dapat dikatakan terampil dalam berbicara.

Aspek-aspek tersebut perlu dimengerti oleh semua pembicara. Metode bercerita merupakan salah satu metode yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar berbicara. Hal ini disebabkan karena metode bercerita dapat menjadikan pembelajaran lebih bermakna. Metode bercerita dengan dramatisasi cerita memberikan pengalaman siswa memiliki keterampilan berbicara dengan memainkan perwatakan tokoh cerita. Selain itu, dengan metode bercerita proses pembelajaran akan lebih menarik karena siswa tidak bosan dengan ceramah yang diberikan guru, sehingga menimbulkan kegairahan dalam belajar.

Selama ini terdapat kecenderungan dalam kegiatan pembelajaran khususnya dalam pembelajaran berbicara menggunakan metode ceramah. Proses pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah tidak banyak melibatkan siswa secara aktif karena guru yang aktif dan komunikasi hanya satu arah, penggunaan metode pembelajaran yang kurang menarik menyebabkan siswa tidak termotivasi dan tidak terdapat suatu interaksi dalam pembelajaran. Pembelajaran di kelas seharusnya mengacu pada peningkatan aktivitas siswa sehingga siswa mendapat hasil belajar yang memuaskan. Guru tidak hanya melakukan kegiatan menyampaikan pengetahuan, keterampilan dan sikap akan tetapi guru harus mampu membawa siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran dengan berbagai bentuk belajar. Dengan begitu, guru mengembangkan kapasitas belajar dan potensi yang dimiliki siswa secara penuh.

(46)

Dengan menggunakan model learning comunity, siswa diharapkan memiliki keterampilan berbicara. Berbicara dengan baik dan benar, memperhatikan kaidah berbahasa dan tentunya menggunakan aspek-aspek kebahasaan dan non kebahasaan.

siswa secara aktif karena guru yang aktif dan komunikasi hanya satu arah, penggunaan metode pembelajaran yang kurang menarik menyebabkan siswa tidak termotivasi dan tidak terdapat suatu interaksi dalam pembelajaran. Pembelajaran di kelas seharusnya mengacu pada peningkatan aktivitas siswa sehingga siswa mendapat hasil belajar yang memuaskan.

Guru tidak hanya melakukan kegiatan menyampaikan pengetahuan, keterampilan dan sikap akan tetapi guru harus mampu membawa siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran dengan berbagai bentuk belajar. Dengan begitu, guru mengembangkan kapasitas belajar dan potensi yang dimiliki siswa secara penuh.

Dengan menggunakan metode bercerita, siswa diharapkan memiliki keterampilan berbicara. Berbicara dengan baik dan benar, memperhatikan kaidah berbahasa dan tentunya menggunakan aspek-aspek kebahasaan dan non kebahasaan.

Kerangka pemikiran adalah suatu skema atau diagram yang menjelaskan alur berjalannya sebuah penelitian. Sugiyono (2014:91) memaparkan “Kerangka berpikir menjelaskan secara teoritis pertautan antara variabel yang akan diteliti”. Pendidikan sangatlah penting dalam kehidupan. Guru menjadi salah satu peran penting dalam pendidikan. Selain menjadi pengajar guru juga berperan sebagai fasilitator bagi peserta didik di kelas. Seorang guru harus bisa menciptakan suasana yang baik dan

(47)

menyenangkan saat proses belajar mengajar agar tercipta kondisi yang membuat peserta didik nyaman saat menerima pembelajaran.

Berdasarkan permasalahan tersebut penulis akan mencoba menggunakan pendekatan yang diharapkan akan membuat hasil belajar siswa meningkat dan membuat siswa menjadi lebih aktif dalam pembelajaran bahasa Indonesia, yaitu dengan pendekatan learning comunity dalam pembelajaran keterampila berbicara bahasa Indonesia siswa kelas VII SMP Muhammadiyah 14 Makassar.

Berikut ini penulis berikan dalam bentuk gambar:

--- Pembelajaran Bahasa Indonesia

Kelas VII.A SMP SARIBUANA Makassar

Kurikulum 13

Menulis

Model Pembelajaran Learning Comunity Menyimak Berbicara Membaca

Temuan Bercerita

Hasil

(48)

BAB III

METODE PENELITAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang mengkaji penerapan model learning comunity dalam peningkatan pembelajaran keterampilan berbicara bahasa Indonesia siswa kelas VII.A SMP SARIBUANA Makassar. Bentuk penelitian tindakan kelas yaitu berdaur ulang yang meliputi : perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian 1. Lokasi Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini akan dilaksanakan di kelas VII.A SMP SARIBUANA Makassar untuk mata pelajaran bahasa Indonesia. Pemilihan sekolah ini bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan proses pembelajaran di sekolah tempat meneliti.

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada Semester Genap Tahun Ajaran 2019/2020.

Penentuan waktu penelitian mengacu pada kalender pendidikan di sekolah yang ditargetkan kurang lebih dua bulan karena ini memerlukan beberapa siklus yang membutuhkan proses belajar mengajar di kelas untuk mengetahui hasil dari model pembelajaran Learning Comunity.

37

(49)

C. Subjek Penelitian

Sebagai subjek dalam penelitian ini adalah murid kelas VII.A SMP SARIBUANA Makassar Tahun Ajaran 2019/2020 dengan jumlah murid sebanyak 24 orang, terdiri dari 10 murid laki-laki dan 14 murid perempuan.

D. Prosedur Penelitian

Penelitian tindakan kelas (PTK) yang meliputi perencanaan, pelaksanaan atau tindakan, observasi, dan refleksi digambarkan sebagai berikut:

Sumber : Arikunto ( 2008: 16 )

Prosedur pelaksanaan penelitian dilakukan dengan menggunakan model siklus dan siklus terdiri dari 4 kali pertemuan dengan perincian sebagai berikut:

Tindakan Perencanaan

Siklus I

Observasi Refleksi

Lanjut Ke

Siklus II

(50)

1. Siklus 1

a. Perencanaan (Planning)

1) Peneliti melakukan analisis kurikulum untuk mengetahui kompetensi dasar yang akan disampaikan kepada murid dengan menggunakan model Learning Community dalam keterampilan berbicara.

2) Membuat rencana pembelajaran keterampilan berbicara.

3) Membuat instrumen yang digunakan dalam siklus PTK lembar observasi.

4) Menyusun alat evaluasi pembelajaran.

b. Pelaksanaan (Acting)

Pada tahap ini peneliti melaksanakan RPP bahasa Indonesia kelas VII yang telah direncanakan dengan menggunakan model Learning Comunity.

Dalam pelaksanaanya, meliputi beberapa kegiatan yaitu:

1) Menyajikan materi yang akan dipelajari.

2) Menyampaikan masalah kepada siswa.

3) Menyiapkan murid dalam keterampilan berbicara.

4) Guru memberikan kuis atau pertanyaan.

5) Murid diberikan kesempatan untuk menanggapi.

6) Penguatan dan kesimpulan secara bersama-sama.

7) Melakukan pengamatan atau observasi.

c. Pengamatan (Observasi)

Tahap observasi merupakan kegiatan pengamatan terhadap keseluruhan proses pembelajaran di dalam kelas, dengan materi keterampilan berbicara

(51)

pembelajaran bahasa Indonesia. Data yang diambil adalah tentang aktivitas murid selama mengikuti proses pembelajaran di kelas dengan menerapkan model Learning Comunity. Hal ini yang diamati dan dicatat pada lembar observasi murid antara lain:

1) Situasi kegiatan belajar mengajar.

2) Keaktifan murid.

3) Kemampuan murid dalam dalam proses pembelajaran dengan model Learning Community

4) Murid yang mengajukan pertanyaan, murid yang memberikan tanggapan atau komentar,

5) Murid yang mampu melaporkan hasil kerja sendiri.

6) Murid yang menjawab pertanyaan lisan guru, 7) Murid yang menyelesaikan soal latihan, d. Refleksi (Reflecting)

Pada tahap refleksi ini, ada dua kegiatan yang dilakukan yaitu observasi dan evaluasi. Melakukan observasi terhadap aktivitas murid selama proses belajar mengajar berlangsung dengan menggunakan lembar observasi.

Melakukan evaluasi dengan memberikan tes hasil belajar yang dilakukan pada akhir siklus I dengan tujuan mengetahui peningkatan hasil belajar murid.

2. Siklus 2

Seperti halnya siklus pertama, siklus kedua pun terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi.

(52)

a. Perencanaan (Planning)

Penelitian membuat rencana pembelajaran berdasarkan hasil refleksi pada siklus pertama.

b. Pelaksanaan (Acting)

Guru melaksanakan pembelajaran kooperatif dengan model Learning Comunity berdasarkan rencana pembelajaran hasil refleksi pada siklus pertama.

c. Pengamatan

Peneliti melakukan pengamatan terhadap aktivitas pembelajaran keterampilan berbicara melalui model Learning Comunity.

d. Refleksi (Reflecting)

Peneliti melakukan refleksi terhadap pelaksanaan siklus kedua dan menganalisis untuk membuat kesimpulan atas pelaksanaan model Learning Comunity dalam peningkatan aktivitas dan hasil belajar murid dalam pembelajaran pengetahuan bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Pertama (SMP).

E. Alat Dan Teknik Pengumpulan Data 1. Alat Pengumpulan data

Alat yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah:

a. Lembar observasi

(53)

Lembar observasi digunakan untuk mengetahui data tentang aktivitas murid dan guru dalam mengikuti proses belajar mengajar.

b. Tes hasil belajar

Tes hasil belajar digunakan untuk memperoleh informasi tentang hasil belajar murid setelah proses pembelajaran

2. Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data yang akan digunakan pada saat penelitian nanti adalah sebagai berikut:

a. Observasi

Observasi adalah cara pengumpulan data dengan mengadakan pencatatan pada lembar observasi terhadap apa yang menjadi sasaran pengamatan di sekolah dasar, observasi digunakan untuk menilai keterampilan murid dalam melakukan suatu kegiatan.

b. Tes

Tes adalah suatu teknik pengumpulan data berupa pemberian soal, LKM, yang diberikan kepada murid. Tes digunakan untuk memperoleh data hasil kemampuan belajar murid.

c. Dokumentasi

Teknik ini dilakukan pada saat proses kegiatan belajar mengajar berupa foto-foto kegiatan murid selama melakukan eksperimen pada proses pembelajaran di dalam kelas.

Gambar

Tabel 4. Contoh Hasil Nilai Keterampilan Berbicara sebelum Melakukan  Penerapan Model Learning Comunity
Gambar 4.1. Peningkatan Nilai Rata-Rata Siklus
Tabel 4.3 Contoh Hasil Nilai Keterampilan Berbicara sebelum  Melakukan Penerapan Model Learning Comunitypada Siklus 1
Gambar 4.4 Peningkatan Nilai Rata-Rata sebelumnya ke Siklus I dan Siklus II  Berdasarkan grafik tersebut diketahui rata-rata nilai pengamatan keterampilan  berbicara siswa pada siklus II juga meningkat dibandingkan dengan nilai sebelumnya  dan siklus I
+4

Referensi

Dokumen terkait

Kegiatan PKM tentang Pelatihan Teknis pembuatan kompos dari bahan baku jerami padi, mampu meningkatkan keterampilan kepada anggota Kelompok Tani Eko Budi Desa Banjarrejo

Hasil penelitian ini faktor budaya, faktor sosial, faktor pribadi, dan faktor psikologis secara parsial terhadap perilaku pasien dalam memanfaatkan rawat inap di Rumah

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan hidayah-Nya, penulis telah berhasil menyelesaikan Karya Tulis akhir ini yang berjudul “

Oleh karena itu, penelitian ini mencoba menformulasikan dan mengolah makanan campuran menjadi bakpao abon ikan kembung substitusi rumput laut yang memenuhi syarat untuk

Apabila koperasi sekolah itu menginginkan untung 20%, maka barang itu harus dijual dengan harga..a. Bruto dari 6 kantong gula pasir adalah 180 kg dan memiliki tara

Konteks penilaian dalam pengujian kompetensi ini adalah untuk mewujudkan keselamatan & kesehatan kerja serta lingkungan dalam penanganan batubara, melalui pengukuran

Pada hari ini, Rabu tanggal Lima bulan Juli tahun Dua ribu tujuh belas, Unit Layanan Pengadaan (ULP) SPN Singaraja Tahun 2017 telah melaksanakan pemberian

[r]