KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS
Kerangka Berpikir
Pemberdayaan masyarakat pada dasarnya merupakan sebuah proses untuk meningkatkan kapasitas dan peningkatan kemampuan yang ada pada masyarakat baik dilihat dari aspek pengetahuan, sikap mental dan keterampilan dengan maksud agar masyarakat tersebut dapat menentukan alternatif-alternatif pilihan dalam memecahkan persoalan hidupnya. Dalam konsep pemberdayaan tersebut terdapat upaya peningkatan kekuatan (daya) yang dimiliki masyarakat agar masyarakat tersebut mempunyai kekuatan untuk maju dan berkembang, memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan, dan mampu mengakses berbagai layanan publik.
Khusus terkait dengan pemberdayaan keluarga miskin di wilayah Kota Jakarta Utara, proses pemberdayaan tersebut harus dilakukan kegiatan secara terprogram dan terfokus untuk lebih meningkatkan kemampuan keluarga untuk memecahkan permasalahan-permasalahan hidupnya, baik ekonomi maupun sosial. Pola pemberdayaan keluarga miskin yang perlu untuk diperkuat adalah melalui penguatan kelompok, baik kelompok ekonomi maupun kelompok sosial.
Setiap keluarga miskin melalui kepala keluarganya perlu diberikan pengetahuan yang kuat tentang pengelolaan kelompok. Keterlibatan kepala keluarga miskin dalam kelompok-kelompok tersebut diharapkan agar anggota kelompok (terdiri dari kepala keluarga miskin) diharapkan dapat meningkatkan wawasan, pengetahuan, keterampilan dan sikapnya sehingga mampu meningkatkan aktivitas yang lebih produktif.
Bagi keluarga miskin, keberdayaan keluarga menjadi titik lemah yang perlu untuk diperbaiki. Media untuk meningkatkan keberdayaan keluarga ke arah yang lebih positif tidak lain adalah melalui program pemberdayaan kelompok.
Upaya dalam mengubah perilaku dalam mencari nafkah melalui kelompok merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan dengan memberikan bekal pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperlukan agar seseorang mampu melakukan usaha ekonomi produktif. Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui berbagai pelatihan, penyuluhan, dan pendampingan, serta berbagai bentuk
bantuan modal usaha maupun bantuan sarana prasarana usaha kepada sasaran. Dengan kata lain, semua program pemberdayaan kelompok diarahkan agar keluarga miskin yang menjadi sasaran menjadi lebih berdaya. Secara skematis, kerangka berpikir penelitian dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Kerangka Berpikir Penelitian
Pemberdayaan keluarga miskin melalui pendekatan kelompok diarahkan kepada kemampuan kelompok di dalam memberdayakan keluarga miskin tersebut. Maksudnya adalah dengan adanya eksistensi kelompok yang diikuti oleh tiap-tiap kepala keluarga atau anggota keluarganya mampu tercipta sebuah perubahan pengetahuan, keterampilan dan sikap mental khususnya pola peningkatan keberdayaan keluarga. Kelompok dalam hal ini merupakan sebuah kekuatan bagi keluarga miskin yang akan membantu memecahkan masalah – masalah yang berhubungan dengan pola perubahan khususnya dalam beradaptasi, pencapaian tujuan, berintegrasi dan memiliki sistem nilai yang baik.
Keberdayaan keluarga dalam keluarga miskin sangat diperlukan agar tiap - tiap Pengetahuan
(Knowledge)
Sikap Mental (Attitude) Keterampilan
(Skill) Keberdayaan Keluarga Miskin Meningkat:
Peningkatan Pendapatan Keluarga
Peningkatan Kesejahteraan
Keluarga Intervensi
Pemberdayaan Oleh Pemerintah
Intervensi
Pemberdayaan Oleh Swasta, NGO, PT Dll Pendekatan
Perorangan
Pendekatan Kelompok
keluarga miskin tersebut dapat memiliki akses yang kuat dalam hal akses informasi, akses ekonomi, akses pelayanan publik, akses pasar serta akses – akses lainnya. Dengan demikian dengan adanya keberdayaan keluarga bagi keluarga miskin tersebut, pada akhirnya akan mampu meningkatkan kesejahteraan keluarganya.
Tingkat kesejahteraan keluarga sebagai peubah tidak bebas (Y2) sangat ditentukan oleh peubah keberdayaan keluarga (Y1). Peubah keberdayaan keluarga tersebut sangat ditentukan oleh beberapa peubah bebas yang mempengaruhi antara lain:karakteristik individu (X1), karakteristik kelompok (X2), lingkungan keluarga (X3), lingkungan sosial (X4), dan intervensi pemberda- yaan (X5).
Secara skematis keterkaitan antar peubah dalam mendesain model pemberdayaan keluarga melalui pendekatan kelompok di dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga miskin di Kota Jakarta Utara dan Kota Bekasi, dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 3. Keterkaitan antar peubah yang berpengaruh terhadap keberdayaan keluarga miskin dalam meningkatkan kesejahteraannya
Y2
Tingkat Kesejahteraan Keluarga:
Y2.1.Tingkat Pendapatan Y2.2. Pemenuhan Kebutuhan Dasar
Y2.3. Pemenuhan Kebutuhan Sekunder
Y2.4. Pemenuhan Kebutuhan Tertier
Y2.5. Kesinambungan Usaha Y2.6. Ketepatan Pengelolaan
Keuangan
X1
Karakteristik Individu:
X1.1. Pendidikan formal X1.2.Pendidikan non- Formal X1.3. Usia X1.4.Jumlah Tanggungan Keluarga
X2 Karakteristik
Kelompok:
X2.1. Kepemimpinan Kelompok X2.2. Kedinamisan Kelompok X2.3.Intensitas
Komunikasi Antar Kelompok
X3 Sumber Daya
Keluarga:
X3.1. Dukungan Sumber Daya Fisik
X3.2.Dukungan Sumber Daya Non Fisik
X4 Lingkungan Sosial:
X4.1.Dampak Negatif Kebijakan X4.2.Ketersediaan Sumberdaya
ekonomi X4.3.Ketersediaan Sumberdaya Sosial X4.4.Peran Media Massa X4.5.Dukungan Jaringan Usaha X4.6. Peluang Kemitraan X4.7. Pengaruh Kultural
Y1 Keberdayaan
Keluarga:
Y1.1. Tingkat Adaptasi Y1.2.Tingkat
Pencapaian Tujuan
Y1.3. Tingkat Integrasi Y1.4.Tingkat latensi
X5
Intervensi Pemberdayaan:
X5.1.Ketepatan Proses X5.2.Tingkat Kewenangan X5.3.Dukungan Fasilitasi
Guna memperjelas kerangka berpikir di atas terdapat beberapa paradigma beberapa konsep utama dalam kerangka berpikir di atas antara lain:
(1) Paradigma karakteristik kelompok, (2) Paradigma keberdayaan keluarga, (3) Paradigma intervensi pemberdayaan, dan (4) Paradigma sumber daya keluarga:
(1) Karakteristik kelompok merupakan suatu keadaan suatu kelompok dapat menguraikan, mengenali kekuatan-kekuatan yang terdapat dalam kelompok yang dapat membuka perilaku kelompok dan anggota- anggotanya (tabel 2).
Tabel 2. Paradigma Karakteristik Kelompok
No. Indikator Kelompok tidak berdaya Kelompok Berdaya 1. Kepemimpinan
Kelompok
1. Pemimpin terlalu membebaskan anggota kelompoknya
1. Pemimpin memiliki kemampuan untuk menggerakkan anggota kelompoknya 2. Pemimpin terlalu
mengandalkan hubungan yang personal kepada anggota kelompok tertentu
2. Pemimpin memiliki kemampuan yang baik dalam
melakukan hubungan interpersonal dengan anggota kelompok 3. Pemimpin tidak memiliki
informasi yang strategis bagi anggota
kelompoknya
3. Pemimpin memiliki kemampuan dalam memberikan
informasi yang tepat kepada anggota kelompok 4. Pemimpinmembebaskan
anggota kelompok untuk mengambil keputusan yang tidak terarah
4. Pemimpin memiliki kemampuan untuk Memfasilitasi peng- ambilan keputusan
kelompok secara tepat
2. Kedinamisan Kelompok
1. Anggota Kelompok lebih mementingkan tujuan pribadi
1. Anggota kelompok memiliki keinginan yang kuat untuk mencapai tujuan kelompok 2. Tidak terdapat
pembagian tugas yang jelas
2. Terdapat tugas yang jelas dalam kelompok
Tabel 2. (Lanjutan)
No. Indikator Kelompok tidak berdaya Kelompok Berdaya 3. Anggota Kelompok lebih
mementingkan tujuan pribadi
3. Anggota kelompok memiliki keinginan yang kuat untuk mencapai tujuan kelompok 4. Tidak terdapat
pembagian tugas yang jelas
4. Terdapat tugas yang jelas dalam kelompok 5. Pemimpin apatis
terhadap anggota kelompok
5. Pemimpin kelompok melakukan pember- dayaan terhadap anggota kelompok 6. Anggota kelompok
bekerja sendiri-sendiri
6. Anggota kelompok memiliki kerja sama yang kuat
7. Tidak memiliki pola kerja yang jelas antar anggota kelompok
7. Kelompok memiliki pola kerja sama yang konsisten
8. Suasana kerja kelompok tidak kondusif
8. Terdapat suasana kerja yang harmonis dalam kelompok 7. Kelompok
mengembangkan konflik yang merusak kelompok
7. Anggota menghindari konflik yang merusak hubungan antar anggota kelompok 8. Terdapat keinginan yang
kuat untuk bekerja secara individual
8. Anggota kelompok memiliki komitmen yang kuat untuk memajukan kelompok
9. Lebih memfokuskan pada kepentingan masing-masing individu
9. Anggota kelompok memiliki komitmen untuk membesarkan kelompok
3. Komunikasi Kelompok 1. Anggota kelompok menerapkan komunikasi yang kaku
1. Memiliki tingkat intensitas interaksi yang tinggi antar anggota kelompok 2. Kurang ada penghargaan
antara anggota kelompok terhadap informasi
2. Memiliki tingkat keeratan yang tinggi antar anggota kelompok 3. Memiliki tingkat kerja
sama yang rendah antar anggota kelompok
3. Memiliki tingkat kerja sama yang tinggi antar anggota kelompok 4. Antar anggota kelompok
saling tidak peduli antara yang satu dengan yang lain
4. Memiliki saling pengertian yang tinggi antar anggota kelompok
(2) Keberdayaan keluarga merupakan kemampuan dari keluarga miskin untuk tetap bertahan hidup hidup, berkembang dan berubah sesuai dengan perkembangan yang terjadi pada lingkungan yang ada di sekitar keluarga sehingga mampu mencari alternatif di dalam memecahkan masalah yang dihadapi (tabel 3).
Tabel 3. Paradigma Keberdayaan Keluarga
No. Indikator Keluarga Tidak Berdaya Keluarga Berdaya 1. Kemampuan adaptasi 1. Keluarga Tidak mampu
beradaptasi dengan lingkungan
1. Keluarga mampu menyesuaikan dengan lingkungan 2. Keluarga lebih
berorientasi ke masa lampau
2. Keluarga mampu merubah orientasi ke masa kini dan masa depan
3. Keluarga tidak mampu mengelola sumber daya keluarga
3. Keluarga mampu memanfaatkan sumber daya keluarga secara terarah
2. Kemampuan mencapai tujuan keluarga
1. Keluarga tidak mampu meningkatkan
kesejahteraan ekonomi
1. Keluarga mampu mencapai tujuan mendapatkan penghasilan yang layak
2. Keluarga tidak mampu bersosialisasi dengan lingkungan sosial
2. Keluarga mampu mencapai tujuan sosial
3. Kemampuan berintegrasi
1. Keluarga apatis terhadap aktivitas keluarganya
1. Keluarga memiliki kepedulian yang tinggi terhadap aktivitas keluarganya 2.Keluarga tidak memiliki
nilai-nilai yang kuat yang dijunjung tinggi keluarga.
2.Keluarga memegang teguh nilai-nilai moral yang tinggi .
4. Tingkat Latensi 1. Antar anggota keluarga memiliki sikap saling curiga
1. Keluarga memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap anggota keluarga
2. Saling menjatuhkan antar anggota keluarga
2. Antar anggota keluarga memiliki persaingan yang sehat untuk maju 3. Antar anggota keluarga
bersikap egois
3. Antar anggota keluarga memiliki kerja sama yang kuat
4. Anggota selalu berpikir stagnan
4. Anggota keluarga memiliki kesadaran untuk maju.
(3) Intervensi pemberdayaan merupakan Intervensi pemberdayaan adalah pelaksanaan program pemberdayaan yang dilakukan oleh lembaga – lembaga formal baik oleh pihak pemerintah, swasta, NGO (Non Goverment Organization), perguruan tinggi dengan tujuan untuk merubah pengetahuan, sikap dan keterampilan anggota keluarga miskin sehingga mampu menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi oleh keluarga (tabel 4).
Tabel 4. Paradigma Intervensi Pemberdayaan
No. Indikator Intervensi Memperdayakan Intervensi Pemberdayaan 1. Ketepatan proses 1. Kegiatan yang tidak
mengarah kepada
pengelolaan sumber daya ekonomi
1. Serangkaian kegiatan pengelolaan sumber daya ekonomi 2. Kegiatan yang diarahkan
kepada kepentingan konsumtif
2. Mengembangkan kegiatan pengelolaan usaha
3. Modal usaha bercampur baur dengan kegiatan konsumtif keluarga
3. Pengelolaan pengembangan modal usaha 4. Jaringan usaha yang
sangat terbatas
4. Pengelolaan pengembangan jaringan usaha 5. Kemampuan pengelolaan
organisasi yang sangat terbatas
5. Keahlian pengelolaan organisasi
2. Tingkat kewenangan 1. Keluarga sangat bergantung kepada pihak lain
1. Keluarga mampu memahami kegiatan pemberdayaan 2. Keluarga menjadi tidak
teratur dengan program yang dijalankan
2. Keluarga secara mendiri menjalankan program pemberdayaan
3. Dukungan fasilitasi 1. Tidak memiliki dukungan usaha yang memadai dari pihak luar
1. Terdapat dukungan usaha dari pihak luar 2. Tidak berhubungan dengan
pihak luar
2. Terdapat frekuensi yang tinggi khususnya dana stimulus dari pihak luar
(4) Sumber daya keluarga merupakan sejumlah sumber daya yang ada dalam keluarga yang sangat berpengaruh terhadap segala aktivitas keluarga, baik yang berhubungan dengan aktivitas di dalam keluarga miskin ataupun yang terkait dengan aktivitas di luar keluarga miskin itu sendiri (tabel 5).
Tabel 5. Paradigma Sumber Daya Keluarga No. Indikator Sumber Daya Keluarga
yang Tidak Potensial
Sumber Daya Keluarga yang Potensial 1. Dukungan sumber
daya fisik
1. Kondisi rumah yang sangat kumuh
1. Memiliki rumah yang serasi
2. Tiap-tiap kamar diisi oleh banyak orang
2. Masing-masing anggota keluarga memiliki kamar sendiri
3. Luas tanah rumah yang sempit
3. Memiliki tanah rumah yang luas
4. Posisi rumah yang terpencil jauh dari akses fasilitas umum
4. Posisi rumah yang strategis
2. Dukungan sumber daya non fisik
1. Antar anggota keluarga memiliki tingkat konflik yang tinggi
1. Memiliki rasa saling percaya antar anggota keluarga 2. Antar anggota keluarga
terlalu egois
2. Terdapat komunikasi yang intensif antar anggota keluarga 3. Terdapat persaingan
yang tidak sehat dengan keluarga lain
3. Terdapat komunikasi yang intensif dengan keluarga lain
4. Antar keluarga saling mendominasi antara yang satu dengan yang lain
4. Antar anggota keluarga terdapat keserasian koordinasi 5. Anggota keluarga tidak
peduli terhadap pendidikan
5. Anggota keluarga memiliki kesadaran yang tinggi terhadap pendidikan
Hipotesis
Untuk menjawab masalah penelitian ini, dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut:
(1) Karakteristik kelompok dan intervensi pemberdayaan berpengaruh secara nyata terhadap keberdayaan keluarga.
(2) Karakteristik individu, sumber daya keluarga, dan lingkungan sosial berpengaruh secara nyata terhadap keberdayaan keluarga.
(3) Keberdayaan keluarga berpengaruh secara nyata terhadap tingkat kesejahteraan keluarga.