• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan disebut sebagai upaya untuk mengembangkan kemampuann diri, artinya pendidikan merupakan pembelajaran, pengetahuan, keterampilan serta kebiasaan yang diturunkan dari satu generasi ke generasi selanjutnya yang berupaya untuk menuntun anak agar mereka mampu tumbuh dan berkembang sebagai manusia yg beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri juga bertanggung jawab dalam hidup mereka.

Pembelajaran tematik dilaksanakan dengan menggunakan prinsip pembelajaran terpadu. Abdul Majid, (2014:80) mengatakan bahwa pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada peserta didik, maka pembelajaran menjadi lebih bermakna. Proses pembelajaran merupakan layanan pendidikan formal di sekolah di dalamnya ada proses keterkaitan antara berbagai komponen pembelajaran. Komponen-komponen pembelajaran itu dapatdikelompokan menjadi tiga kategori utama, seperti peserta didik, guru, dan materi pembelajaran.

Pembelajaran PKN diupayakan agar dapat mempersiapkan siswa memiliki kepribadian yang mantap. PKN membantu siswa agar memiliki sikap menghormati dan tenggang rasa terhadap sesama, karena pada pembelajaran PKn diberikan nilai- nilai bagaimana bertingkah laku yang baik yang sesuai dengan Pancasila. Dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang bermuatan materi hal-hal tentang kewarganegaraan seperti pendidikan demokrasi, nilai-nilai dalam UUD 1945, identitas nasional, kenyataan dan sejarah bangsa, pendidikan Pancasila, serta hak dan kewajiban sebagai warga negara, dengan pendidikan kewarganegaraan diharapkan akan terbentuk generasi muda yang menjadi warga negara yang berkarakter dan terampil, memahami dan mampu melaksanakan hak dan kewajibannya sebagai warga negara.

PJOK memiliki peran penting dalam penyelenggaraan pendidikan. PJOK

(2)

merupakan suatu proses pembelajaran yang berlangsung seumur hidup dengan tujuan pendidikan jasmani akan menghasilkan manusia yang sehat cerdas, aktif sepanjang hidup. Proses belajar mengajar yang merupakan inti dari proses pendidikan formal di sekolah didalamnya terjadi interaksi antara berbagai komponen pengajaran. Komponen-komponen tersebut adalah guru, isi atau materi dan peserta didik. Pelaksanaan pendidikan jasmani mempunyai tiga tujuan yaitu tujuan yang bersifat kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotor (keterampilan). Maka dari itu guru pendidikan jasmani harus menyadari perlunya kesiapan mengajar yang harus lebih ditingkatkan dalam pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan Kurikulum 2013. Oleh karena itu, guru perlu belajar dan mendalami kurikulum 2013

Dalam kurikulum 2013 ini, kegiatan pembelajaran di sekolah dasar dilaksanakan berdasarkan pada standar kompetensi lulusan, kompetensi inti, dan kompetensi dasar (Prastowo, 2013:217). Sesuai dengan pernyataan tersebut, maka pada perencanaan pelaksanaan pembelajaran bukan lagi menggunakan standart kompetensi (SK), namun diganti dengan kompetensi inti (KI) dan kompetensi dasar (KD). Kompetensi Inti adalah pengikat berbagai kompetensi dasar yang harus dihasilkan dengan mempelajari tiap mata pelajaran, serta berfungsi sebagai integrator horizontal antar mata pelajaran (Prastowo, 2013:218). Sehingga satu kompetensi inti memiliki beberapa cakupan kompetensi dasar dari berbagai mata pelajaran. Selanjutnya beberapa kompetensi dasar yang memiliki kesinambungan diintregasikan menjadi suatu tema yang akan dijabarkan lagi menjadi beberapa subtema dan kemudiann dibagi menjadi beberapa pembelajaran tiap satu hari. Maka dari itu pembelajaran pada kurikulum 2013 dikatakan sebagai pembelajaran integratif. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan bahwa kurikulum 2013 dikembangkan untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran melalui tiga tahapan, yaitu efektivitas interaksi, efektivitas pemahaman dan efektivitas penyerapan (Poerwati, 2013:68). Melalui integrasi beberapa kompetensi dasar dari berbagai mata pelajaran, maka akan merancang suatu pembelajaran yang efektis sesuai tiga tahapan yang telahdisebutkan

Pendidikan Inklusi merupakan pelayanan pendidikan untuk siswa yang berkebutuhan khusus di sekolah regular tanpa memandang kondisi fisik,

(3)

intelektual, social emosional dan linguistik. Tarmansyah (2007;82), berkata bahwa pendidikan inklusi adalah sekolah harus mengakomodasi seluruh anak tanpa memandang kondisi fisik, intelektual, sosial emosional, linguistik atau kondisi lainnya.

Banyak istilah yang digunakan untuk menyebut anak yang memiliki kondisi kecerdasannya dibawah rata-rata, dalam bahasa Indonesia pernah digunakan misalnya lemah otak, lemah ingatan. Dari sudut bahasa tunagrahita berasal dari kata

“Tuna” artinya cacat dan “Grahita” artinya berfikir (Mupunarti, 2007:7). yang meliputi IQ di bawah rata-rata anak normal pada umumnya. Tunagrahita juga meliputi berbagai tingkat, dari yang ringan hingga ke yang berat. Karena itu mereka berbeda satu dengan yang lain, sehingga berbeda pula dengan pendidikan formal lain. Apapun istilah yang digunakan yang penting tentang siapa dan bagaimana anak tunagrahita untuk dapat layanan pendidikan dan pengajaran yang tepat bagi mereka, dalam pengembangan diri mereka. Pada pembelajaran bagi siswa tunagrahita materi, metode, serta media pembelajaran harus akomodatif. Untuk materi pembelajaran dirancang sefleksibel mungkin agar mempermudah penyampaian materi kepada siswa tunagrahita. Metode pembelajaran juga harus variatif, agar siswa tunagrahita tidak cepat bosan. Media pembelajaran yang dapat digunakan ialah media yang sesuai dengan karakteristiknya, yaitu media yang konkret dan mudah digunakan

Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana penerapan peran para guru terhadap perkembangan anak tunagrahita baik secara akademik ataupun non akademik. Dalam penelitian ini guru diharapkan guru mampu menjalin kedekatan terhadap anak tunagrahita untuk menciptakan pola pengajaran yang lebih kondusif serta menjadikan anak tunagrahita menjadi lebih baik dalam menerima pengajaran, dimana anak tunagrahita dinilai kesulitan dalam berpikir abstrak.

Arsyad (2013:74) menjelaskan bahwa kriteria pemilihan media bersumber dari konsep bahwa media pembelajaran merupakan bagian dari sistem instruksional secara keseluruhan. Maka beberapa kriteria yang perlu diperhatikan dalam pemilihan media pembelajaran yang baik adalah (1) Sesuai dengan tujuan, (2) Praktis, luwes dan bertahan, (3) Mampu dan terampil menggunakan, (4) Pengelompokkan sasaran, (5) Mutu teknis. Dengan begitu penggunaan media yang

(4)

tepat dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar peserta didik dengan persentase peningkatanmasing-masing

Memilih media pembelajaran harus melihat dari kebutuhan dan kesesuaian dengan tujuan pembelajaran yang akan dilaksanakan. Media yang digunakan setidaknya harus jelas, akurat dan merujuk pada materi. Media yang dikembangkan jangan menimbulkan rasa bosan dan menyulitkan pemahaman peserta didik.

Pemilihan media dan sumber pembelajaran harus melihat dari pengetahuan atau ketrampilan peserta didik serta ada kejelasan tentang maksud dan tujuan pemilihan tersebut dan disesuaikandengan kebutuhan peserta didik, kedekatan dengan media.

Penelitian yang dilakukan pada tanggal 3 sampai dengan 5 Desember 2019 yang didapat dari hasil observasi dan wawancara terhadap guru kelas inklusi di SDN Mojorejo 1 Batu mengenai pembelajaran terhadap anak berkebutuhan khusus dapat disimpulkan bahwa pada proses pembelajaran, guru telah menggunakan beberapa metode, salah satunya metode one by one.

Peneliti melakukan wawancara dengan guru inklusi di SDN Mojorejo 1 Batu dan alhasil ditemukan beberapa permasalahan terkait dengan pembelajaran bagi anak tunagrahita di sekolah inklusi tersebut seperti : Keengganan siswa tunagrahita dalam mengikuti beberapa kegiatan disekolah, kegiatan tersebut antara lain kegiatan dalam mata pelajaran olahraga siswa tidak mau mengikutinya, maka diperlukan media pembelajaran yang mampu mencuri perhatian peserta didik.

Sehingga peneliti mengembangkan sebuah media pembelajaran yaitu media POBAM (Plot Of The Basketball Game). Media POBAM (Plot Of The Basketball Game) adalah media pembelajaran yang dirancang semenarik mungkin dan memudahkan siswa dalam pembelajaran. Pengembangan media ini berawal dari sebuah papan permainan kemudian dimodifikasi menjadi suatu permainan papan dan kartu dengan soal pada pembelajaran tersebut. Media POBAM (Plot Of The Basketball Game) ini berbentuk papan berbentuk lapangan basket yang memiliki ukuran cukup besar dan penuh gambar warna warni. Penggunaan media POBAM (Plot Of The Basketball Game) seperti bermain basket pada umumnya, yaitu memasukkan bola ke dalam masing-masing ring yang memiliki kartu soal di dalamnya begitu seterusnya hingga akhir. Tiap ring memiliki pasangan kartu berupa penjelasan materi dan soal yang berbeda. Jika berhasil setiap pemain yang

(5)

memiliki kartu akan menjelaskan tentang isi kartu yang dimilikinya lalu menjawab pertanyaannya

Media POBAM (Plot Of The Basketball Game) merupakan media empat dimensi, yaitu media yang menampilkan materi pembelajaran dalam bentuk sesuatu yang dapat dilihat. Pengembangan media POBAM (Plot Of The Basketball Game) ini dilakukan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Agar permasalahan atau kesulitan yang dihadapi siswa dan guru dapat diselesaikan maka dilaksanakan penelitian yang berkaitan dengan “Pengembangan Media POBAM (Plot Of The Basketball Game) Untuk Anak Tunagrahita Pada Pembelajaran Tematik Di SDN Mojorejo 1 Batu”.

B. Rumusan Masalah

Bagaimana pengembangan media “POBAM (Plot Of The Basketball Game)” dalam pembelajaran tematik untuk anak tunagrahita di SDN Mojorejo 1 Batu?

C. Tujuan Penelitian

Menghasilkan produk media “POBAM (Plot Of The Basketball Game)”

dalam pembelajaran tematik untuk anak tunagrahita di SDN Mojorejo 1 Batu.

D. Spesifikasi Produk yang Diharapkan

Media pembelajaran ini bernama “POBAM (Plot Of The Basketball Game)”

yang dirancang untuk di implementasikan sebagai sarana pembelajaran khususnya untuk anak tunagrahita pada pembelajaran tematik.

1. Konten

Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Kelas 3 (Tema Permainan Tradisional SubTema Olahraga Tradisional di Daerahku)

Pengembangan media POBAM (Plot Of The Basketball Game) ini disesuaikan dengan kompetensi inti 1) Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya, 2) Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli,dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga,teman dan guru, 3) memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati [mendengar, melihat, membaca] dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan

(6)

kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, sekolah, 4) menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas dan logis dan sistematis, dalam karya yang estetis dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia dengan kompetensi dasar mata pelajaran 3.2 PJOK dan 4.2 PPKn. Tema yang digunakan permainan tradisional, adapun indikator yang digunakan dikembangkan sendiri sesuai dengan kompetensi dasar yang telah ditetapkan

Sumber: Buku Guru, Buku Siswa 2. Konstruk

Media pembelajaran POBAM (Plot of the Basketball Game) ini dirancang di implementasikan sebagai sarana pembelajaran khususnya untuk anak tunagrahita. Adapun kriteria khusus dari pengembangan media POBAM (Plot of the Basketball Game) pada siswa tunagrahita adalah sebagai berikut:

a) Media POBAM (Plot of the Basketball Game) dalam pembelajaran ini berbentuk persegi panjang yang terbuat dari kertas karton, hanya saja tanpa tutup diatasnya. Pada bagian atas akan di desain setengah lingkaran. Terdapat 7 ring yang terbuat dari gelas aqua bekas untuk memasukkan bola. Tiap ring memiliki pasangan kartu berupa penjelasan materi dan soal. Pada sisi samping kanan dan kiri akan diberi lapisan dari kertas karton bergambar agar bola tidak mudah keluar. Pada sisi tengah adalah tempat untuk menyimpan bola dan jepitan yang terbuat dari stik es krim untuk melemparbola

b) Penggunaan media POBAM (Plot of the Basketball Game) dalam pembelajaran tematik ini memudahkan anak tunagrahita. Selain itu dapat mengarahkan peserta didik untuk menunjukan sifat taat akan aturan sesuai dengan kartu yang telah disediakan padaring.

3. Pentingnya Pengembangan

Adapun pentingnya pengembangan media “POBAM (Plot Of The Basketball Game)” adalah sebagai berikut :

1. Bagi peserta didik ( tunagrahita)

(7)

Bagi anak tunagrahita adalah untuk memberikan gambaran secara nyata dan lebih kongkrit terkait materi pembelajaran, sehingga media ini dapat menumbuhkan semangat belajar anak dan menghilangkan rasa bosan dalam kegiatan pembelajaran.

2. Bagi sekolah dan guru

Bagi sekolah adalah sebagai bahan acuan dalam melaksanakan kegiatan proses pembelajaran bagi anak inklusi dengan memanfaatkan media pembelajaran. Sebagai masukan untuk menuju pembelajaran yang lebih baik dengan menggunakan media yang sesuai dengan karakteristik anak dan tercapainya pembelajaran dengan pemilihan media yangsesuai.

Bagi guru adalah dapat menjadi akses untuk memudahkan dan membantu guru dalam memperbaiki dan meningkatkan proses belajar serta pengalaman yang menarik melalui media “POBAM (Plot Of The Basketball Game)”. Sebagai alternative dalam mengajar sehingga pembelajaran lebih menarik

3. Bagi peneliti

1. Bagi peneliti adalah penelitian ini menambah pengetahuan dan pengalaman sekaligus sebagai bahan untuk menunjang pekerjaannya selanjutnya. Salah satunya pengembangan media “POBAM (Plot Of The Basketball Game)” yang dirancang khusus untuk anak tunagrahita, sehingga akan menjadi media perantara antara peserta didik dengan guru dan akan menjadi bekal ilmu yang bermanfaat nanti sebagai calon guru.

2. Asumsi dan Keterbatasan Penelitian Pengembangan

Pengembangan media ini didasarkan pada beberapa asumsi dan keterbatasan sebagai berikut:

1. Media POBAM (Plot Of The Basketball Game) dapat digunakan sebagai alternative media pembelajaran tematik bagi peserta didik dalam bentuk permainan

2. Media POBAM (Plot Of the Basketball Game) diharap dapat

(8)

melatih konsentrasi belajar pesertadidik

Keterbatasan penelitian dan pengembangan ini memiliki beberapa keterbatasan, diantaranya :

1. Media ini dibuat untuk anak berkebutuhan khusus dalam mempelajari pelajaran tematik khususnya pada PPKn materi aturan dan tata tertib

2. Media ini digunakan sebagai sarana untuk anak tunagrahita dalam memahami dan mempraktekkan sifat taat akan aturan yang ada di lingkungan sekitar.

E. Definisi Istilah

Untuk menghindari pengertian yang berbeda terhadap istilah yang digunakan dalam penelitian, maka perlu dibuat definisi istilah sebagai berikut:

1. Media pembelajaran

Media pembelajaran adalah suatu alat yang digunakan untuk membantu menyampaikan materi dalam proses pembelajaran sehingga memudahkan pencapaiantujuan

2. Media “POBAM (Plot Of The Basketball Game)

Media pembelajaran ini dibuat untuk anak berkebutuhan khusus yang dapat di implementasikan sebagai sarana pembelajaran dalam pembelajaran tematik

Referensi

Dokumen terkait

Jika bilangan-bilangan itu terdiri dari satu angka, susunan dua angka, atau susunan tiga angka, dan untuk susunan dua atau tiga angka tidak ada angka yang berulang dan

Hasil dari penelitian ini menyimpulkan (1) pengelolaan BOS diawali dengan pembentukan Tim BOS dan penyusunan RKAS (2) pelaksanaan BOS SMP Negeri dan Swasta

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Ekstrak Etanolik Herba Ciplukan memberi- kan efek sitotoksik dan mampu meng- induksi apoptosis pada sel kanker payudara MCF-7

Badan/Lembaga Amil Zakat tersebut melakukan promosi melalui iklan di media massa dan media sosial yang memberikan informasi kepada masyarakat.. Badan/Lembaga Amil Zakat

20 Tahun 2001 Tentang Pemilikan Saham Dalam Perusahaan yang Didirikan Dalam Rangka Penanaman Modal Asing yakni dalam rangka lebih mempercepat peningkatan dan perluasan kegiatan

Oleh karena itu penelitian ini akan memaparkan mengenai konstruksi media massa pada berita korupsi Ratu Atut Chosiyah dalam kasus pemilihan kepala daerah Lebak Banten dan pengadaan

Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui perbedaan kategori tingkat kecocokan tipe kepribadian dengan pemilihan paket keahlian di SMK pada siswa SMP yang akan memilih

underwear rules ini memiliki aturan sederhana dimana anak tidak boleh disentuh oleh orang lain pada bagian tubuhnya yang ditutupi pakaian dalam (underwear ) anak dan anak