• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penggunaan Metode FMEA dan FTA untuk Perumusan Usulan Perbaikan Kualitas Sepatu Running

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Penggunaan Metode FMEA dan FTA untuk Perumusan Usulan Perbaikan Kualitas Sepatu Running"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Penggunaan Metode FMEA dan FTA untuk Perumusan Usulan Perbaikan Kualitas Sepatu

Running

Bryan Febby Sentosa(1), Oyong Novareza(2), Suluh Elman Swara (3)

(1), (2), (3)

Jurusan Teknik Industri Universitas Brawijaya Jl. Mayjen Haryono 167, Malang 65145, Indonesia

(1)[email protected], (2)[email protected], (3)[email protected]

ABSTRAK

Dari data jumlah cacat pada perusahaan sepatu running menunjukan jumlah cacat terbesar dan melebihi batas toleransi yang diberikan perusahaan sebesar 2% dari total produksi adalah sepatu running dengan merk A dengan jumlah cacat terbesar yaitu 3,5%. Bentuk cacat dari sepatu running merk A adalah jahitan lepas, salah alur jahitan, pengeleman tidak merata, rusaknya out sole dan tidak label ukuran pada sepatu.

Dilakukanlah analisis jenis-jenis cacat yang paling berpengaruh terhadap tingginya jumlah cacat pada sepatu running merk, sehingga menghasilkan solusi perbaikan yang implementatif. Metode FMEA adalah salah satu alat untuk menunjukan cacat dengan nilai RPN paling berpengaruh atau tinggi untuk dilakukan prioritas perbaikan yang kemudian prioritas dari FMEA tersebut diolah menggunakan metode FTA secara terperinci. Dari hasil metode FMEA menunjukan tiga jenis cacat dengan nilai RPN tertinggi, yaitu pengeleman tidak merata dengan nilai RPN 448, salah alur jahitan dengan nilai RPN 252 dan rusaknya out sole 225. Metode FTA menunjukan ketiga jenis cacat ini memiliki keterkaitan, yaitu karena kesalahan manusia dan proses kontrol yang belum optimal. Dirancanglah beberapa saran perbaikan yaitu perbaikan metode kerja, perancangan SOP, menerapkan metode acceptance sampling, memberikan program pelatihan kepada operator, penerapan visual display, memberikan peta proses kerja dan memberikan fatigue allowance pada pekerja.

Kata kunci— Cacat sepatu, FMEA dan FTA

I. PENDAHULUAN

Dalam perkembangan industri fashion yang semakin pesat khususnya pada bidang sepatu, hal ini menyebabkan permintaan akan produk sepatu semakin meningkat. Agar dapat bersaing, industri sepatu berskala nasional maupun multinasional sedang berlomba-lomba untuk memperoleh keuntungan dengan cara meningkatkan kualitas pada produknya. Menurut Gazpers (2002) kualitas adalah kecocokan untuk digunakan yang artinya pemakai produk atau jasa seharusnya dapat memperhitungkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan pada produk atau jasa tersebut. Maka dari peran kualitas sangat penting bagi perusahaan yang khusunya bergerak pada bidang manufaktur, karena apabila perusaahan tidak dapat menjaga kualitasnya maka kepercayaan konsumen terhadap perusahaan akan menurun.

Perusahaan yang dijadikan objek penelitian adalah perusahaan berskala nasional yang bergerak pada bidang produksi sepatu. Pangsa pasar dari perusahaan ini adalah masyarakat kelas menengah kebawah, karena rata-rata produk yang dijual relative terjangkau dibandingkan dengan produk dari perusahaan sepatu running dengan brand yang lainya. Produk yang dihasilkan oleh perusahaan ini memiliki 13 macam jenis sepatu running yang di desain stylish dan trendy yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia. Dari 13 merk sepatu tersebut diambil 3 merk sepatu running yang memiliki cacat tertinggi dan jumlah produksi tertinggi yaitu sepatu dengan merk A, B dan C yang dapat dilihat pada Tabel 1. Namun yang menjadi, objek penelitian adalah sepatu running dengan merk A, karena mempunyai tingkat persentase cacat sebesar 3,5% yang

(2)

juga dapat menimbulkan kerugian berupa adanya pengerjaan kembali produk yang cacat tersebut oleh operator quality control atau disebut dengan rework kembali bagian-bagian yang cacat. Maka dari itu perusahaan harus mencegah sebanyak mungkin jenis kegagalan yang akan berdampak pada penurunan mutu kualitas perusahaan dan hilangnya kepercayaan konsumen kepada perusahaan.

Tabel 1 Data Merk Sepatu dan Cacat Sepatu Bulan Januri-Desember 2015 No Merk

Sepatu

Jumlah produksi/pasang

Jumlah/satuan Frekuensi Cacat/Satuan

Persentase Cacat/Satuan

1 Merk A 42.145 84290 2991 3,5

2 Merk A1 7.820 15640 224 1,4

3 Merk A2 7.612 15224 191 1,3

4 Merk A3 5.120 10240 122 1,2

5 Merk B 32.042 64084 956 1,5

6 Merk B3 8.265 16530 212 1,3

7 Merk C 14.127 28254 751 2,7

8 Merk C1 8.430 16860 201 1,2

9 Merk C2 7.520 15040 142 0,9

10 Merk D 6.216 12432 105 0,8

11 Merk D1 7.234 14468 141 1,0

12 Merk D2 6.415 12830 101 0,8

13 Merk D3 5.432 10864 112 1,0

Dari permasalahan tersebut dapat digunakan metode Failure Mode and Effect Analysis dan Fault Tree Analysis karena metode tersebut adalah salah satu metode yang terstruktur untuk mengidentifikasi dan mencegah sebanyak mungkin bentuk kegagalan.

Penerapan metode Failure Mode and Effect Analysis dan Fault Tree Analysis dilakukan dengan cara melakukan brainstorming, wawancara, pengamatan dan mengolah data historis dari perusahaan. Tujuan penerapan metode Failure Mode And Effect Analysis dan Fault Tree Analysis adalah menentukan bagaimana kegagalan tersebut dapat mempengaruhi kualitas produk dan memberikan usulan perbaikan untuk mengurangi tingkat kecacatan produk yang dihasilkan oleh perusahaan.

II. METODE PENELITIAN

Penelitian ini diawali dengan tahap pendahuluan yaitu melakukan studi lapangan, studi literatur, mengidentifikasi masalah, merumuskan masalah, dan menentukan tujuan penelitian.

Tahap selanjutnya adalah pengumpulan data. Terdapat dua data yaitu data sekunder yang terdiri dari data proses produksi, data jumlah produksi, data jumlah cacat data bentuk cacat dan jumlah cacat. Sedangkan data primer terdiri observasi proses produksi, brainstorming dan wawancara.

Tahap berikutnya yaitu melakukan pengolahan data dengan menggunakan metode FMEA dan metode FTA. Selanjutnya tahap analisis dan pembahasan. Tahap terakhir adalah penutup yang berisi kesimpulan dan saran.

A. Failure Mode and Effect Analysis (FMEA)

FMEA adalah suatu prosedur yang terstruktur untuk mengidentifikasi dan mencegah sebanyak mungkin failure mode. Suatu mode kegagalan atau failure mode adalah apa saja yang termasuk dalam kegagalan dalam desain, kondisi diluar batas spesifikasi yang telah ditetapkan oleh perusahaan atau perubahan produk yang menyebabkan terganggunya fungsi dari produk tersebut (Gaspersz, 2002;Gorener dan Toker, 2013).

(3)

B. Fault Tree Analysis

Sedangkan Fault Tree Analysis adalah sebuah metode analisis dari atas ke bawah (top down), dimana kejadian yang tidak diharapkan yang disebut top event diidentifikasi terlebih dahulu (Setyadi, 2013)

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Data yang telah terkumpul selanjutnya akan dilakukan pengolahan data mengggunakan metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) dan Fault Tree Analysis (FTA) untuk mengetahui prioritas perbaikan yang harus segera dilakukan identifikasi. Pada Failure Mode and Effect Analyis perlu dilakukan analisis bentuk kegagalan, penyebab kegagalan, potensi atau efek kegagalan dan proses kontrol yang diikuti dengan melakukan pembobotan pada nilai severity, occurance, dan detection untuk mendapatkan nilai RPN (Ghivaris dkk, 2015). Pada pengolahan FMEA dapat diperoleh deskripsi bentuk kegagalan yang dijelaskan pada Tabel 2

Tabel 2 Deskripsi Penyebab Kegagalan No Bentuk Kegagalan

(Failure Mode)

Penyebab Kegagalan (Cause of Failure)

1 Salah alur jahitan (a) Jarum tidak pada posisi atau jarum bengkok karena pemakaian (b) Adanya Ketebalan material komponen upper yang berbeda-beda

pada komponen upper. Jarum sulit menembus material upper, akibatnya jahitan dapat membelok

(c) Salah penempatan material upper pada (gigi mesin jahit) (d) Kurang telitinya operator QC dalam mensortir upper 2 Terdapat jahitan

lepas

(a) Salah pengaturan tegangan benang (b) Benang mempunyai kualitas buruk

(c) Kegagalan berputarnya roda sepul dengan baik pada (rumah sekoci) tempat roda sepul

(d) Ketegangan benang berubah-ubah karena pelumasan yang tidak teratur

(e) Benang macet pada (sekoci) tempat meletakan kumparan benang (f) Kurang telitinya operator QC sortir upper

3 Tidak ada label ukuran pada lidah sepatu

(a) Kurang telitinya operator QC sortir label ukuran pada lidah sepatu

(b) Operator assembly hanya melihat kode ukuran, tanpa memeriksa lidah sepatu ketika memasang laste.

4 Pengeleman yang tidak merata

(a) Penempelan yang tidak presisi pada garis mal

(b) Jumlah lem terlalu seidkit atau terlalu banyak pada saat mengoleskan ke upper atau out sole

5 Rusaknya out sole (a) Kurang telitinya operator QC sortir out sole pra assembly (b) Operator salah setting mesin press kombinasi (vertikal dan

horizontal)

Dari penyebab kegagalan tersebut didapatkan hasil bentuk kegagalan antara lain yang didapat berdasarkan pengamatan dan wawancara yang dilakukan kepada pihak yang berkompeten pada perusahaan, didapatkan deskripsi bentuk kegagalan (cacat) pada gambar 1a hingga 1e.

(a) (b)

(4)

(c) (d)

(e)

Gambar 1 (a) Contoh gambar salah alur jahitan, (b) Contoh gambar jahitan lepas, (c) Contoh gambar pengeleman tidak merata, (d) Contoh gambar tidak ada label ukuran, (e) Contoh gambar rusaknya out sole

Berdasarkan pengolahan data dengan FMEA. Dilakukan rekapitulasi pada tabel 3 untuk keseluruhan nilai RPN dari bentuk cacat.

Tabel 3 Rekapitulasi Nilai RPN Pada Bentuk Cacat Rank Bentuk Kegagalan (Cacat) Risk

Priority Number

Persentase RPN (%) Persentase Kumulatif RPN (%)

1 Pengeleman tidak merata 448 38% 38%

2 Salah alur jahitan 252 21% 59%

3 Rusaknya out sole 225 19% 78%

4 Terdapat jahitan lepas 192 16% 94%

5 Tidak ada label ukuran 75 6% 100%

Total 1192

Setelah dilakukan pengolahan data dan mendapatkan 3 bentuk kegagalan (cacat) yang masuk kedalam 80% total persentase kumulatif, 3 bentuk kegagalan (cacat) tersebut dijadikan sebagai top event yang akan dianalisis menggunakan pohon kesalahan (fault tree)

1. FTA pengeleman tidak merata

Penyebab kegagalan pengeleman tidak merata pada sepatu running merk A adalah lem menggumpal pada kuas, garis mal yang kurang jelas, tidak ada pemeriksaan lebih lanjut setelah mengoleskan lem pada garis mal, target sepatu yang diproduksi banyak, operator mengejar target produksi, operator mempercepat pekerjaan dan operator kurang teliti dalam memberikan lem pada out sole dan upper (lihat Gambar 2).

2. FTA salah alur jahitan

Pada Gambar 3 ditunjukkan penyebab kegagalan salah alur jahitan pada sepatu running merk A adalah upper tercampur dan lolos hingga ke proses berikutnya, operator mengalami kelelahan sehingga kurang konsentrasi, adanya komponen upper yang tidak ditembus jarum, operator tidak melapor ketika jarum bengkok dan pengaturan sekrup klem jarum kurang rapat.

(5)

Gambar 2 Gambar FTA pengeleman tidak merata

Gambar 3 Gambar FTA salah alur jahitan

3. FTA rusaknya out sole

Penyebab kegagalan salah alur jahitan pada sepatu running merk A adalah adanya material cacat dari pemasok, operator tidak teliti dalam pemeriksaan out sole, operator mengalami kelelahan, operator salah menentukan waktu press dan kuat tekan mesin press pada sepatu (lihat Gambar 4).

Pengeleman tidak merata

Penempelan yang tidak presisi pada garis mal upper

Jumlah lem terlalu sedikit atau terlalu banyak pada saat

mengoleskan ke upper atau out sol

Tidak terlihatnya garis mal pada upper

sepatu

Susunan sepatu yang melewati conveyor tidak tertata

Garisan mal yang kurang jelas

Tidak ada pemeriksaan lebih

lanjut, setelah mengoleskan lem

pada garis mal

Target sepatu yang diproduksi sangat

banyak.

Operator mengejar target produksi

Operator kurang teliti dalam membeikan lem pada out sol dan upper

Operator mempercepat

pekerjaan

Lem menggumpal pada kuas

Salah Alur Jahitan

Jarum tidak pada posisi atau jarum bengkok karena pemakaian

Material komponen upper terlalu tebal

Salah penempatan material upper pada (gigi mesin jahit)

Pengaturan sekrup klem jarum kurang rapat

Operator tidak melapor ketika jarum bengkok

Operator mengalami kelelahan sehingga kurang konsentrasi

Kurang telitinya operator

Ada komponen upper yang tidak ditembus

jarum

Upper cacat tercampur dan lolos hingga ke proses berikutnya Operator quality control lalai memberikan tanda pada upper yang cacat

(6)

Gambar 4 Gambar FTA rusaknya out sole

IV. PENUTUP

Adapun kesimpulan yang didapat dari penilitian ini adalah Dari hasil rekapatulasi nilai kumulatif RPN didapatkan tiga bentuk kegagalan (cacat) yang masuk dalam 80% total persentase kumulatif terttingi dan memiliki prioritas perbaikan yang harus diidentifikasi antara lain pengeleman tidak merata, salah alur jahitan dan rusaknya out sole. Terdapat 15 penyebab terjadinya kegagalan (cacat) sepatu running merk A

Rekomendasi perbaikan yang diberikan untuk permasalahan pengeleman tidak merata adalah menyesuaikan warna pencil glass yang diberikan pada setiap upper, membuat peta proses operasi, menambah jumlah pekerja dengan menyesuaikan target produksi penerapan visual display dan membuat SOP standart pengeleman. Kemudian rekomendasi perbaikan yang diberikan untuk permasalahan cacat salah alur jahitan adalah operator harus menuliskan informasi dalam tabel logbook, memilih atau memeriksa komponen upper terlebih dahulu, khususnya komponen dibagian tumit yang memiliki tingkat kekerasan yang berbeda-beda, memberikan program pelatihan kepada operator, memberikan waktu tambahan untuk melepaskan lelah (fatigue allowance), memperbaiki cara kerja dalam mensortir produk cacat dan memberikan penambahan operator quality control sortir upper sebelum proses assembly. Kemudian untuk rekomendasi perbaikan rusaknya out sole adalah menerapkan metode acceptance sampling yang berguna untuk pengambilan keputusan tentang produk yang datang dari pemasok, mememberikan tambahan personel operator sortir pra assembly, memperbaiki cara kerja sortir out sole, memberikan SOP bagaimana kriteria out sole yang cacat memberikan pengawasan, himbauan dan teguran melalui peran kepala bagian assembly dan memberikan waktu tambahan untuk melepaskan lelah (fatigue allowance).

DAFTAR PUSTAKA

Anugrah, R., Fitria, L., Desrianty, A., 2015, “Usulan Perbaikan Kualitas Produk Menggunakan Metode Fault Tree Analysis (FTA) DAN Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) di Pabrik Roti Bariton”, Jurnal Teknik Industri Itenas, Bandung. Vol 4. No 3.

Gazpers, V., 2002, Metode Analisis Untuk Peningkatan Kualitas, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Ghivaris, A., Soemadi, K., Desrianty, A. 2015. “Usulan Perbaikan Kualitas Proses Produksi Rudder Tiller di PT Pindad Bandung Menggunakan FTA dan FMEA”, Jurnal Teknik Industri Itenas, Bandung Vol 3.

No 4.

Gorener, A., Toker, K., 2013, Quality Improvement in Manufacturing Processes to Defective Product using Pareto Analysis and FMEA, 2013. No (2). Vol (6). 45-62.

Rusaknya karet out sol

Lolosnya out sol pada pemeriksaan quality control sortir

pra assembly

Operator salah setting mesin press kombinasi (vertikal dan horizontal)

Adanya material cacat dari pemasok

Operator kurang teliti dalam pemeriksaan out

sol

Operator tidak menyesuaikan tatakan mesin press

dengan ukuran sepatu

Operator salah menentukan waktu press dan kuat tekan

mesin press pada sepatu

Operator mengalami

kelelahan

(7)

Setyadi, Indra, 2013, Analisis Penyebab Kecacatan Produk Celana Jeans Dengan Menggunakan Metode Fault Tree Analysis (FTA) dan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) di CV Fragile Din Co., Skripsi. Tidak dipublikasikan, Bandung: Universitas Widyatama.

Gambar

Tabel 1 Data Merk Sepatu dan Cacat Sepatu Bulan Januri-Desember 2015  No  Merk  Sepatu  Jumlah  produksi/pasang  Jumlah/satuan  Frekuensi  Cacat/Satuan  Persentase  Cacat/Satuan  1  Merk A  42.145  84290  2991  3,5  2  Merk  A1  7.820  15640  224  1,4  3
Tabel 2 Deskripsi Penyebab Kegagalan  No   Bentuk  Kegagalan
Tabel 3 Rekapitulasi Nilai RPN Pada Bentuk Cacat  Rank  Bentuk Kegagalan (Cacat)  Risk
Gambar 2 Gambar FTA pengeleman tidak merata
+2

Referensi

Dokumen terkait

Untuk itu perlu dilakukan perbaikan terhadap metode yang digunakan sehingga potensi produk cacat dapat dicegah yaitu lakukan pemeriksaan kondisi mata pisau mesin Depallater pada

[r]

Menghitung Bagan Kendali Sepatu Jasmine Untuk dapat mengetahui proporsi produk sepatu yang tidak sesuai atau cacat, yang dihasilkan selama satu tahun (Tahun 2014),

Hasilnya adalah kecacatan terjadi pada proses rolling finishing stand 14 dengan nilai RPN tertinggi sebesar 240 dengan penyebab kegagalan adalah setting mesin

Metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) merupakan suatu prosedur untuk mengidentifikasi dan mencegah kegagalan suatu produk sehingga output dari

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya produk cacat shuttlecock merk “Claudia”, untuk mengetahui bagaimana penggunaan metode six

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kegagalan produk snack mie hancur dengan menggunakan metode Failure Modes and Effect..

Fungsi proses Jenis Cacat Efek yang ditimbulkan S Penyebab kegagalan O Kontrol yang dilakukan D Tindakan yang dilakukan RPN Winding Gulungan Tidak Rapih