• Tidak ada hasil yang ditemukan

NILAI TUKAR PETANI (NTP) DI PROVINSI RIAU MEI 2015 SEBESAR 95,24 ATAU TURUN 1,24 PERSEN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "NILAI TUKAR PETANI (NTP) DI PROVINSI RIAU MEI 2015 SEBESAR 95,24 ATAU TURUN 1,24 PERSEN"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

No. 31/06/14/Th.XVI, 1 Juni 2015

NILAI TUKAR PETANI (NTP) DI PROVINSI RIAU MEI 2015 SEBESAR 95,24 ATAU TURUN 1,24 PERSEN

Nilai Tukar Petani (NTP) adalah perbandingan antara indeks harga yang diterima petani (It) dengan indeks harga yang dibayar petani (Ib) dan dinyatakan dalam persentase. NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kesejahteraan petani, dengan mengukur kemampuan tukar produk yang dihasilkan/dijual petani dibandingkan dengan produk yang dibutuhkan petani baik untuk proses produksi maupun untuk konsumsi rumah tangga petani. Semakin tinggi NTP dapat diartikan kemampuan daya beli atau daya tukar (term of trade) petani relatif lebih baik dan tingkat kehidupan petani juga lebih baik.

Mulai Mei 2013 dilakukan perubahan tahun dasar dalam penghitungan NTP dari tahun dasar 2007=100 menjadi tahun dasar 2012=100. Perubahan tahun dasar ini dilakukan untuk menyesuaikan perubahan/pergesaran pola produksi pertanian dan pola konsumsi rumah tangga pertanian diperdesaan, serta perluasan cakupan subsektor pertanian dan provinsi dalam penghitungan NTP, agar penghitungan indeks dapat dijaga ketepatannya.

Perbedaan antara NTP tahun dasar 2007=100 dengan NTP tahun dasar 2012=100 adalah meningkatnya cakupan jumlah komoditas baik pada paket komoditas It maupun Ib. Penghitungan NTP (2012=100) juga mengalami perluasan khususnya pada Subsektor Perikanan. Selain NTP Perikanan secara umum yang dihitung di 33 provinsi termasuk Provinsi DKI Jakarta, Nilai Tukar Nelayan (NTN) dan Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) juga disajikan secara terpisah.

 Pada bulan Mei 2015, Nilai Tukar Petani (NTP) di Provinsi Riau sebesar 95,24 atau turun sebesar 1,24 persen dibanding NTP April 2015 sebesar 96,44. Penurunan NTP ini disebabkan oleh kenaikan indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,69 persen dan penurunan indeks harga yang diterima petani sebesar 0,57 persen.

 Pada bulan Mei 2015, di daerah perdesaan Provinsi Riau terjadi inflasi sebesar 0,79 persen.

Inflasi perdesaan disebabkan oleh naiknya indeks pada hampir semua kelompok pengeluaran konsumsi rumah tangga yaitu kelompok bahan makanan naik sebesar 1,45 persen, kelompok makanan jadi naik 0,69 persen, kelompok perumahan naik sebesar 0,13 persen, kelompok sandang naik sebesar 0,02 persen, kelompok kesehatan naik sebesar 0,26 persen dan kelompok pendidikan, rekreasi & olah raga naik sebesar 0,13 persen. Sementara untuk kelompok transportasi dan komunikasi mengalami penurunan indeks sebesar 0,03 persen.

 Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Provinsi Riau sebesar 100,39 atau turun sebesar 0,85 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya.

(2)

indeks harga yang dibayar petani (Ib), NTUP dapat lebih mencerminkan kemampuan produksi petani, karena yang dibandingkan hanya produksi dengan biaya produksinya.

Berdasarkan hasil pemantauan harga-harga pedesaan di Provinsi Riau, NTP pada bulan Mei 2015 sebesar 95,24 atau turun sebesar 1,24 persen dibanding NTP bulan April 2015 yaitu 96,44. Hal ini disebabkan harga barang/produk pertanian yang dihasilkan oleh rumah tangga mengalami penurunan dan harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga maupun untuk keperluan produksi pertanian mengalami kenaikan seperti terlihat pada Tabel 1.

Tabel 1

Nilai Tukar Petani (NTP) Gabungan Provinsi Riau Mei 2015 (2012 = 100)

Rincian

Indeks Gabungan Riau Perubahan (%)

April'15 Mei’15 Mei’15 thd

Apr’15

[1] [2] [3] [4]

Indeks Harga yang Diterima Petani 113.12 112.48 -0.57 Indeks Harga yang Dibayar Petani 117.29 118.10 0.69

Konsumsi Rumah Tangga 118.72 119.66 0.79

Bahan Makanan 122.23 124.01 1.45

Makanan Jadi 114.58 115.37 0.69

Perumahan 112.80 112.95 0.13

Sandang 112.94 112.96 0.02

Kesehatan 112.55 112.85 0.26

Pendidikan, Rekreasi & Olah raga 109.23 109.37 0.13

Transportasi dan Komunikasi 125.97 125.94 -0.03

BPPBM 111.72 112.04 0.29

Bibit 111.03 111.35 0.29

Obat-obatan & Pupuk 109.47 109.77 0.27

Sewa Lahan, Pajak & Lainnya 104.28 104.36 0.07

Transportasi 128.80 129.28 0.37

Penambahan Barang Modal 111.47 111.67 0.18

Upah Buruh Tani 108.06 108.48 0.39

Nilai Tukar Petani 96.44 95.24 -1.24

Nilai Tukar Usaha Pertanian 101.25 100.39 -0.85

(3)

Tabel 2

NILAI TUKAR PETANI (NTP) RIAU MEI 2015 (2012 = 100)

Subsektor Bulan

% Perub.

April'15 Mei'15

[1] [2] [3] [4]

1 Tanaman Pangan

a Indeks Harga yang Diterima (It) 120.13 121.08 0.79 b Indeks Harga yang Dibayar (Ib) 117.60 118.47 0.74

c Nilai Tukar Petani (NTPP) 102.16 102.21 0.05

2 Hortikultura

a Indeks Harga yang Diterima (It) 110.98 111.54 0.50 b Indeks Harga yang Dibayar (Ib) 117.78 118.52 0.64

c Nilai Tukar Petani (NTPH) 94.23 94.10 -0.14

3 Tanaman Perkebunan Rakyat

a Indeks Harga yang Diterima (It) 111.14 109.44 -1.52 b Indeks Harga yang Dibayar (Ib) 117.98 118.86 0.74

c Nilai Tukar Petani (NTPR) 94.20 92.08 -2.25

4 Peternakan

a Indeks Harga yang Diterima (It) 113.12 114.10 0.86 b Indeks Harga yang Dibayar (Ib) 113.90 114.43 0.47

c Nilai Tukar Petani (NTPT) 99.32 99.71 0.39

5 Perikanan

a Indeks Harga yang Diterima (It) 123.32 124.07 0.61 b Indeks Harga yang Dibayar (Ib) 117.10 117.75 0.55

c Nilai Tukar Petani (NTNP) 105.31 105.37 0.06

5.1. Perikanan Tangkap

a Indeks Harga yang Diterima (It) 126.06 127.11 0.83 b Indeks Harga yang Dibayar (Ib) 118.05 118.66 0.52

c Nilai Tukar Petani (NTN) 106.79 107.12 0.30

5.2. Perikanan Budidaya

a Indeks Harga yang Diterima (It) 119.17 119.49 0.27 b Indeks Harga yang Dibayar (Ib) 115.67 116.36 0.60

c Nilai Tukar Petani (NTPi) 103.02 102.69 -0.33

R i a u

a Indeks Harga yang Diterima (It) 113.12 112.48 -0.57 b Indeks Harga yang Dibayar (Ib) 117.29 118.10 0.69

c Nilai Tukar Petani (NTP) 96.44 95.24 -1.24

Dari 5 (lima) subsektor penyusun NTP, 2 (dua) subsektor mengalami penurunan indeks NTP dan mengakibatkan turunnya NTP di provinsi Riau. Penurunan NTP terjadi pada subsektor tanaman perkebunan rakyat yang turun sebesar 2,25 persen dan subsektor tanaman hortikultura yang turun sebesar 0,14 persen.

Sementara itu, 3 (tiga) subsektor yang mengalami kenaikan indeks NTP antara lain subsektor tanaman pangan yang mengalami kenaikan NTP sebesar 0,05 persen, subsektor peternakan yang mengalami kenaikan NTP sebesar 0,39 persen dan subsektor perikanan yang mengalami kenaikan NTP sebesar 0,06 persen.

(4)

Pada Mei 2015, indeks harga yang diterima petani (It) di Provinsi Riau sebesar 112,48. Indeks harga yang diterima ini mengalami penurunan sebesar 0,57 persen jika dibandingkan dengan It pada April 2015 sebesar 113,12.

Penurunan It terjadi di subsektor tanaman perkebunan rakyat , yaitu sebesar 1,52 persen. Sementara itu, 4 (empat) subsektor penyusunan NTP lainnya mengalami kenaikan It antara lain subsektor tanaman pangan naik sebesar 0,79 persen, subsektor tanaman hortikultura naik sebesar 0,50 persen, subsektor peternakan naik sebesar 0,86 persen dan subsektor perikanan naik sebesar 0,61 persen.

2. Indeks harga yang dibayar petani (Ib)

Melalui indeks harga yang dibayar petani (Ib) dapat ditunjukkan fluktuasi harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat pedesaan, khususnya petani yang merupakan bagian terbesar, serta fluktuasi harga barang dan jasa yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian.

Indeks harga yang dibayar petani (Ib) pada Mei 2015 di Provinsi Riau naik sebesar 0,69 persen dibanding Ib April 2015, yaitu dari 117,29 menjadi 118,10. Kenaikan Ib terjadi di semua subsektor. Kenaikan Ib untuk masing-masing subsektor antara lain subsektor tanaman pangan naik sebesar 0,74 persen; subsektor tanaman hortikultura naik sebesar 0,64 persen; subsektor tanaman perkebunan rakyat naik sebesar 0,74 persen; subsektor peternakan naik sebesar 0,47 persen dan subsektor perikanan naik sebesar 0,55 persen.

3. NTP Subsektor

a. Subsektor Tanaman Pangan/Padi & Palawija (NTPP)

Pada Mei 2015, NTPP mengalami kenaikan sebesar 0,05 persen dibandingkan dengan NTPP bulan April 2015. Hal ini disebabkan indeks harga yang diterima petani mengalami kenaikan sebesar 0,79 persen, relatif lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,74 persen.

Naiknya indeks harga yang diterima petani ini disebabkan oleh naiknya indeks harga kelompok padi sebesar 0,19 persen dan palawija sebesar 2,24 persen (khususnya komoditas ketela pohon/ubi kayu, gabah, jagung dan kacang tanah). Naiknya indeks harga yang dibayar petani disebabkan oleh naiknya indeks konsumsi rumah tangga sebesar 0,85 persen (khususnya cabai merah, bawang merah, daging ayam ras, makanan ringan/snack, bawang putih, jeruk, beras, duku, telur ayam ras dll) dan indeks BPPBM sebesar 0,08 persen (khususnya papan, karung, urea, bensin, tsp/sp36,kcl,np/npk dll).

b. Subsektor Hortikultura (NTPH)

Pada Mei 2015, NTPH mengalami penurunan sebesar 0,14 persen. Hal ini disebabkan indeks harga yang diterima petani mengalami kenaikan sebesar 0,50 persen , relatif lebih kecil dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani yang mencapai 0,64 persen.

Kenaikan indeks harga yang diterima petani disebabkan naiknya indeks harga kelompok sayur-sayuran sebesar 1,11 persen dan tanaman obat sebesar 0,47 persen (khususnya cabai merah, nanas, terung panjang, jengkol, petsai/sawi, petai, melinjo dan pepaya). Kenaikan indeks harga yang dibayar petani disebabkan oleh kenaikan indeks konsumsi rumah tangga sebesar 0,77 persen (khususnya cabai merah, bawang merah, daging ayam ras, makanan ringan/snack, beras, bawang putih, jeruk, minyak kelapa dll).

(5)

Tabel 3.

Nilai Tukar Petani Per Subsektor dan Perubahannya Mei 2015 (2012 = 100)

Subsektor dan Kelompok Bulan % Perub.

April'15 Mei'15

[1] [3] [4] [5

1 Tanaman Pangan

a Indeks Harga yang Diterima (It) 120.13 121.08 0.79

- Padi 114.69 114.91 0.19

- Palawija 135.48 138.52 2.24

b Indeks Harga yang Dibayar (Ib) 117.60 118.47 0.74

- Indeks Konsumsi Rumah Tangga 118.64 119.65 0.85

- Indeks BPPBM 111.93 112.02 0.08

2 Hortikultura

a Indeks Harga yang Diterima (It) 110.98 111.54 0.50

- Sayur-sayuran 108.61 109.82 1.11

- Buah-buahan 113.56 113.43 -0.11

- Tanaman obat 105.19 105.68 0.47

b Indeks Harga yang Dibayar (Ib) 117.78 118.52 0.64

- Indeks Konsumsi Rumah Tangga 119.12 120.04 0.77

- Indeks BPPBM 111.30 111.23 -0.06

3 Tanaman Perkebunan Rakyat

a Indeks Harga yang Diterima (It) 111.14 109.44 -1.52

- Tanaman Perkebunan Rakyat (TPR) 111.14 109.44 -1.52

b Indeks Harga yang Dibayar (Ib) 117.98 118.86 0.74

- Indeks Konsumsi Rumah Tangga 119.02 119.96 0.79

- Indeks BPPBM 112.19 112.71 0.47

4 Peternakan

a Indeks Harga yang Diterima (It) 113.12 114.10 0.86

- Ternak Besar 115.70 116.82 0.96

- Ternak Kecil 120.32 120.24 -0.07

- Unggas 107.83 108.79 0.89

- Hasil Ternak 112.70 113.86 1.03

b Indeks Harga yang Dibayar (Ib) 113.90 114.43 0.47

- Indeks Konsumsi Rumah Tangga 118.24 119.11 0.74

- Indeks BPPBM 107.23 107.23 0.00

5 Perikanan

a Indeks Harga yang Diterima (It) 123.32 124.07 0.61

- Tangkap 126.06 127.11 0.83

- Budidaya 119.17 119.49 0.27

b Indeks Harga yang Dibayar (Ib) 117.10 117.75 0.55

- Indeks Konsumsi Rumah Tangga 116.03 116.88 0.72

- Indeks BPPBM 119.26 119.51 0.21

1. Perikanan Tangkap

a Indeks Harga yang Diterima (It) 126.06 127.11 0.83

- Penangkapan Perairan Umum 125.33 126.12 0.63

- Penangkapan Laut 126.30 127.43 0.89

b Indeks Harga yang Dibayar (Ib) 118.05 118.66 0.52

- Indeks Konsumsi Rumah Tangga 115.99 116.83 0.73

- Indeks BPPBM 122.28 122.43 0.12

2. Perikanan Budidaya

a Indeks Harga yang Diterima (It) 119.17 119.49 0.27

- Budidaya Air Tawar 119.17 119.49 0.27

b Indeks Harga yang Dibayar (Ib) 115.67 116.36 0.60

- Indeks Konsumsi Rumah Tangga 116.11 116.94 0.72

- Indeks BPPBM 114.71 115.10 0.34

(6)

c. Subsektor Perkebunan Rakyat (NTPR)

Pada Mei 2015, NTPR mengalami penurunan sebesar 2,25 persen. Hal ini disebabkan oleh indeks harga yang diterima petani yang mengalami penurunan sebesar 1,52 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani yang mengalami kenaikan sebesar 0,74 persen.

Penurunan indeks harga yang diterima petani disebabkan oleh turunnya indeks harga kelompok tanaman perkebunan rakyat sebesar 1,52 persen (khususnya kelapa sawit, karet dan kakao). Sementara itu, naiknya indeks harga yang dibayar petani (Ib) disebabkan oleh naiknya indeks konsumsi rumah tangga sebesar 0,79 persen (khususnya cabai merah, daging ayam ras, bawang merah, makanan ringan/snack, jeruk, beras, bawang putih, rokok kretek dll) dan indeks BPPBM sebesar 0,47 persen (khususnya TSP/SP36, urea, upah menuai/memanen, K.C.L, upah merambet/menyiangi, upah pemupukan dll).

d. Subsektor Peternakan (NTPT)

Pada Mei 2015, NTPT mengalami kenaikan sebesar 0,39 persen. Hal ini disebabkan indeks harga yang diterima petani mengalami kenaikan sebesar 0,86 persen, relatif lebih besar dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani yang sebesar 0,47 persen.

Kenaikan indeks harga yang diterima petani disebabkan oleh naiknya indeks harga pada kelompok ternak besar sebesar 0,96 persen, unggas sebesar 0,89 persen dan hasil ternak sebesar 1,03 persen (khususnya sapi potong, ayam ras pedaging, kerbau dan telur ayam buras). Kenaikan indeks harga yang dibayar petani disebabkan oleh naiknya indeks konsumsi rumah tangga sebesar 0,74 persen (khususnya cabai merah, bawang merah, daging ayam ras, makanan ringan/snack, jeruk, beras, bawang putih, rokok kretek dll).

e. Subsektor Perikanan (NTNP)

Pada Mei 2015, NTNP mengalami kenaikan sebesar 0,06 persen. Kenaikan ini terjadi karena indeks harga yang dibayar petani (Ib) mengalami kenaikan sebesar 0,55 persen, relatif lebih rendah dibandingkan kenaikan indeks harga yang diterima petani (It) sebesar 0,61 persen. Kenaikan It pada Mei 2015 disebabkan oleh naiknya indeks harga yang diterima pada kelompok perikanan tangkap sebesar 0,83 persen dan perikanan budidaya sebesar 0,27 persen (khususnya udang, ikan mas, bawal, lais, belanak, ikan patin, toman, gabus dll). Kenaikan indeks harga yang dibayar petani disebabkan oleh naiknya indeks konsumsi rumah tangga sebesar 0,72 persen (khususnya cabai merah, makanan ringan/snack, daging ayam ras, bawang merah, rokok kretek, kubis/kol, jeruk, lele dll) dan indeks BPPBM sebesar 0,21 persen (keranjang, benih bawal, benih patin, jerigen, motor tempel, batu bateray, pukat tarik, keranjang, solar dan jaring insang ongkos angkut, benih lele dll).

1). Kelompok Penangkapan Ikan (NTN)

Pada Mei 2015, NTN mengalami kenaikan sebesar 0,30 persen jika dibandingkan dengan NTN Bulan April 2015. Hal ini terjadi karena Ib mengalami kenaikan sebesar 0,52 persen, relatif lebih rendah dibandingkan kenaikan It sebesar 0,83 persen. Kenaikan It disebabkan oleh naiknya indeks harga di sebagian besar ikan pada kelompok penangkapan perairan umum sebesar 0,63 persen dan penangkapan laut sebesar 0,89 persen (khususnya udang, bawal, lais, belanak, toman, gabus dll). Naiknya Ib dikarenakan adanya kenaikan indeks konsumsi rumah tangga sebesar 0,73 persen (khususnya cabai merah, makanan ringan/snack, daging ayam ras, bawang merah, rokok kretek, kubis/kol, jeruk, lele dll) dan indeks BPPBM sebesar 0,12 persen (khususnya motor tempel, batu bateray, pukat tarik, keranjang, solar dan jaring insang).

(7)

2). Kelompok Budidaya Ikan (NTPi)

Pada Mei 2015, NTPi mengalami penurunan sebesar 0,33 persen. Penurunan ini dikarenakan Ib mengalami kenaikan sebesar 0,60 persen, relatif lebih besar dibandingkan kenaikan It yang mencapai 0,27 persen. Kenaikan It disebabkan oleh naiknya indeks harga sebagian besar ikan pada kelompok budidaya air tawar sebesar 0,27 persen (khususnya komoditi ikan mas dan patin). Kenaikan Ib disebabkan oleh naiknya indeks konsumsi rumah tangga sebesar 0,72 persen (khususnya cabai merah, makanan ringan/snack, daging ayam ras, bawang merah, rokok kretek, kubis/kol, jeruk, lele dll) dan indeks BPPBM sebesar 0,34 persen (khususnya keranjang, benih bawal, benih patin, jerigen, ongkos angkut, benih lele dll).

4. Perbandingan NTP Antar Provinsi di Pulau Sumatera

Penurunan NTP terjadi di 5 (lima) dari 10 (sepuluh) Provinsi di Pulau Sumatera. Penurunan NTP tertinggi terjadi di Provinsi Riau yaitu sebesar 1,24 persen, diikuti Provinsi NAD dan Provinsi Sumatera Barat sebesar 0,91 persen, Provinsi Bengkulu sebesar 0,74 persen dan Provinsi Sumatera Selatan sebesar 0,43 persen.

Sementara itu, kenaikan NTP juga terjadi 5 (lima) Provinsi di Pulau Sumatera. Kenaikan NTP tertinggi terjadi di Provinsi Lampung yaitu sebesar 0,72 persen, diikuti Provinsi Kep. Riau sebesar 0,47 persen, Provinsi Sumatera Utara sebesar 0,19 persen, Provinsi Jambi sebesar 0,12 persen dan Provinsi Kep. Bangka Belitung sebesar 0,11 persen seperti terlihat pada Tabel 4 berikut:

Tabel 4.

Nilai Tukar Petani 10 Provinsi Di Pulau Sumatera dan Persentase Perubahannya Mei 2015 (2012 = 100)

No. Provinsi

It Ib NTP

Indeks % Perubahan Indeks % Perubahan Indeks % Perubahan

[1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8]

1 NAD 111.63 -0.22 116.76 0.69 95.60 -0.91

2 Sumatera Utara 117.54 0.87 119.02 0.68 98.75 0.19

3 Sumatera Barat 113.25 -0.20 116.96 0.72 96.83 -0.91

4 Riau 112.48 -0.57 118.10 0.69 95.24 -1.24

5 Jambi 111.75 0.71 117.84 0.59 94.83 0.12

6 Sumatera Selatan 113.70 0.09 116.72 0.53 97.42 -0.43

7 Bengkulu 110.04 -0.17 117.54 0.58 93.62 -0.74

8 Lampung 118.69 1.23 116.18 0.50 102.16 0.72

9 Kep. Bangka

Belitung 120.95 0.27 115.38 0.15 104.82 0.11

10 Kepulauan Riau 114.29 0.38 115.28 -0.09 99.15 0.47

(8)

Perubahan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) mencerminkan angka Inflasi/Deflasi di wilayah pedesaan. Pada bulan Mei 2015, di daerah perdesaan Provinsi Riau terjadi inflasi sebesar 0,79 persen. Inflasi perdesaan disebabkan oleh naiknya indeks pada hampir seluruh kelompok pengeluaran konsumsi rumah tangga yaitu kelompok bahan makanan naik sebesar 1,45 persen, kelompok makanan jadi naik 0,69 persen, kelompok perumahan naik sebesar 0,13 persen, kelompok sandang naik sebesar 0,02 persen, kelompok kesehatan naik sebesar 0,26 persen dankelompok pendidikan, rekreasi & olah raga naik sebesar 0,13 persen.

Sementara untuk kelompok transportasi dan komunikasi mengalami penurunan indeks sebesar 0,03 persen seperti terlihat pada Tabel 5 berikut:

Tabel 5.

Persentase Perubahan Indeks Harga Konsumen Pedesaan Provinsi Riau Menurut Kelompok Pengeluaran

Mei 2015 (2012 = 100)

Kelompok Pengeluaran

Bulan Perubahan

April'15 Mei’15 Mei’15 thdp April’15

[1] [2] [3] [4]

Konsumsi Rumah Tangga 118.72 119.66 0.79

Bahan Makanan 122.23 124.01 1.45

Makanan Jadi, Rokok & Tembakau 114.58 115.37 0.69

Perumahan 112.80 112.95 0.13

Sandang 112.94 112.96 0.02

Kesehatan 112.55 112.85 0.26

Pendidikan, Rekreasi, & OR 109.23 109.37 0.13 Transportasi & Komunikasi 125.97 125.94 -0.03

6. Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) Subsektor

Pada Mei 2015, terjadi penurunan NTUP sebesar 0,85 persen. Hal ini dikarenakan indeks yang diterima petani mengalami penurunan sebesar 0,57 persen, sementara indeks BPPBM mengalami kenaikan sebesar 0,29 persen (lihat Tabel 1). Penurunan NTUP terjadi di subsektor tanaman perkebunan rakyat yaitu sebesar 1,98 persen. Sementara subsektor penyusun NTP yang lainnya mengalami kenaikan NTP sebagai berikut: subsektor tanaman pangan naik sebesar 0,72 persen; subsektor tanaman hortikultura naik sebesar 0,56 persen; subsektor peternakan naik sebesar 0,86 persen dan subsektor perikanan naik sebesar 0,41 persen seperti terlihat pada Tabel 6.

(9)

Tabel 6.

Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian per Subsektor Dan Persentase Perubahannya

Mei 2015 (2012=100)

Sub Sektor April'15 Mei'15

Perubahan Mei15 thd April'15

[1] [2] [3] [4]

1. Tanaman Pangan 107.33 108.09 0.72

2. Hortikultura 99.71 100.27 0.56

3. Tanaman Perkebunan Rakyat 99.06 97.10 -1.98

4. Peternakan 105.50 106.40 0.86

5. Perikanan 103.40 103.82 0.41

a. Tangkap 103.10 103.83 0.71

b. Budidaya 103.88 103.82 -0.07

Riau 101.25 100.39 -0.85

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan peran BPD dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan Program Pembangunan Infarstruktur Perdesaan (PPIP) di Desa Ciputih,

Berdasarkan pada permasalahan yang ditemukan dan solusi yang diasumsikan serta didukung dengan penelitian sebelumnya yang relevan, dapat disimpulkan bahwa alat bantu

Skor DECAF menunjukkan tidak terdapatnya korelasi terhadap lama hari perawatan pasien menjadi stabil tetapi memiliki hubungan dengan LOS dan kondisi pasien pulang. Hal ini

Pada perancangan alat ini, terdapat dua tahap yaitu perancangan hardware yang berisi rancangan mekanik dan rancangan rangkaian yang dibutuhkan, dan rancangan software

Hanum dan Rangga membuat kisah perjalanan yang mempunyai ciri berbeda dari beberapa buku catatan perjalanan. Cerita ini mengandung unsur konflik yang menjadi pembangun

Karena dengan menggunakan layar sentuh maka mahasiswa dapat lebih mudah mengetahui segala informasi untuk sistem akademik dan pengumuman untuk setiap fakultas

Kesesuaian ini menurut al-Faruqi didasarkan pada tiga prin- sip kesatuan kebenaran ( unity of truth ) yang mendasari semua pengetahuan Islam; a) Tidak ada pertentangan

Sedikit sekali yang dapat diketahui tentang perkembangan pesantren dimasa lalu kita hanya bisa menduga- duga tentang ciri-ciri pengaruhnya dalam kehidupan keagamaan