TUGAS MATA KULIAH IBADAH AKHLAQ
“MAKNA IBADAH DALAM ISLAM”
Disusun Oleh :
Putri Adriyani Hanifah 2002055024
Sakinah 2002055026
Kelas : 3B Ekonomi Islam
Dosen Pengampu : Pak Toto Tohari
Universitas Muhammadiyah Prof. DR.HAMKA JAKARTA
2021
“MAKNA IBADAH DALAM ISLAM”
1. Hikmah Ibadah dan Pengertian Ibadah
Ada beberapa hal dibalik keutamaan dan diwajibkannya beribadah; Allah memerintahkan dan mewajibkan bagi kita untuk beribadah itu, sudah barang tentu Allah telah mengetahui hikmah dibalik perintahnya tersebut; Dasar pijak Allah memparḑukan dan menetapkan pokok-pokok yang diwajibkan itu karena terdapat hikmah bahwa: Allah mewajibkan beriman, dengan maksud untuk membersihkan hati dari syirik, kewajiban Ṣalat untuk mensucikan diri dari takabbur, diwajibkannya zakat untuk menjadi sebab diperolehnya rizki, mewajibkan berpuasa untuk menguji kesabaran. keikhlasan manusia, mewajibkan haji untuk men-dekatkan umat Islam antara satu dengan yang lainnya, mewa-jibkan jihad untuk kebenaran Islam, mewajibkan amar ma’ruf untuk kemaslahatan orang „awam, mewajibkan nahi munkar untuk menjadikan cambuk bagi orang-orang yang kurang akalnya.
Allah mewajibkan qişaş untuk memelihara dan menghargai darah manusia, menegakkan hukum pidana untuk membuktikan bahwa betapa besarnya keburukan dari barang yang diharamkan, mewajibkan untuk menjauhkan diri dari minuman yang memabukkan dimaksudkan untuk memelihara akal, mewajibkan untuk menjauhkan diri dari pencurian dimaksudkan untuk mewujudkan pemeliharaan harta dan diri, mewajibkan kita menjauhi zina (juga lesbian dan homosex) dimaksudkan untuk memelihara keturunan, memperbanyak keturunan, mewajibkan suatu kesaksian untuk memperlihatkan sesuatu yang benar itu adalah benar, mewajibkan menjauhi dusta untuk memuliakan dan menghargai kebenaran, mewajibkan perdamaian dimaksudkan untuk memelihara amanah untuk menjaga keseragaman hidup menuju jalan- jalan lurus, dan mewajibkan taat untuk menghormati dan menjunjung tinggi nilai-nilai kepemimpinan dalam suatu Negara.
Dapat dipahami bahwa, dengan mempelajari hikmah ibadah, mudah- mudahan dapat terlaksana kekhusukan, keikhla-san dan kenyamanan, sehingga pelaksanaan ibadah dapat tercapai sesuai kehendak Allah.
Adapun untuk pengertian ibadah, kata Ibadah secara terminology adalah tunduk, patuh, merendahkan diri, dan dan hina, artinya menurut Yusuf Qardawy tunduk, patuh, dan merendahkan diri dihadapan yang Maha Kuasa. Sedangkan menurut Hasbi As-Shiddiqi, mengartikan ibadah itu dengan taat, menurut, mengikut, tunduk, dan juga berarti doa.
Ulama tasawuf mendefinisikan ibadah ini dengan 3 bagian, yaitu ibadah kepada Allah karena sangat mengharapkan pahalanya atau karena takut akan siksaan nya.
Ibadah kepada Allah karena memandang bahwa ibadah itu merupakan perbuatan yang mulia, yang dilakukan oleh orang yang mulia jiwanya, dan ibadah Allah karena memandang bahwa Allah berhak disembah, tampak memperhatikn apa yang akan diterima dan yang akan diperoleh.
2. Dasar Hukum Ibadah
I. Pengertian Dasar Hukum Pelaksanaan Ibadah
"Hukum" adalah seperangkat norma atau peraturan yang mengatur tingkah laku manusia dalam suatu masyarakat, baik peraturan atau norma berupa kenyataaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat, maupun peraturan atau norma yang dibuat dengan cara tertentu. dan ditegaskan oleh penguasa. Sedangkan "Ibadah" menurut ulama fiqih adalah semua bentuk pekerjaan yang bertujuan memperoleh keridhoan Allah SWT. Dan mendambakan pahala dari-Nya di akhirat.
Berdasarkan Pengertian diatas bahwa dasar hukum ibadah adalah seperangkat norma atau aturan yang ditaati oleh umat islam yang bertujuan untuk memperoleh keridhoan dari Allah SWT.
II. Al-Qur’an Sebagai Dasar Hukum Utama Ibadah
Ibadah yang diterima harus didasarkan pada ketauhidan, keikhlasan, dan sesuai dengan syari’at islam. Sumber syari’at islam yang utama adalah Al- Qur’an. Oleh karena itu, dasar hukum beribadah yang pertama adalah ayat- ayat Al-Qur’an.
Ibadah dalam Islam sebenarnya bukan bertujuan supaya Tuhan disembah dalam arti penyembahan yang terdapat dalam agama-agama primitif, melainkan sebagai perwujudan rasa syukur atas nikmat yang telah dikaruniakan Allah atas hamba-hamba-Nya.
Di dalam al-Qur'an banyak sekali ayat-ayat yang yang memerintahkan hamba allah untuk beribadah hanya kepada allah adalah sebagai berikut:
Adapun ayat-ayat yang menyatakan perintah untuk melaksanakan ibadah tersebut di antaranya sebagai berikut:
1. Surat Yasin ayat 60.
2. Surat adz-Dzariyat ayat 56.
3. Surat an-Nahl ayat 36.
4. Surat al-Anbiya ayat 92.
Dari ayat-ayat di atas, tampak jelas bahwa Allah memerintahkan hamba Nya untuk senantiasa beribadah kepada-Nya. Diutusnya para Rasul untuk menyampaikan syari'at yang telah ditetapkan oleh Allah kepada umat manusia adalah supaya manusia mengetahui kewajiban-kewajiban apa saja yang harus dilaksanakan dalam rangka mensyukuri nikmat yang telah Allah anugerahkan kepadanya.
III. As-sunnah sebagai Dasar Hukum Kedua
Dasar hukum kedua dalam melaksanakan ibadah kepada allah SWT adalah As-sunnah atau Al-hadis. Hadis-hadis yang memerintahkan manusia untuk beribadah kepada Allah adalah sebagai berikut :
1. Hadis dari Ibnu Mas’ud sebagai berikut:
“Barang siapa mati dalam keadaan menyeru (berdoa dari beribadah) kepada selain Allah maka ia akan masuk neraka.”
2. Dalam kitab Shahih Muslim Rasulullah SAW. Bersabda sebagai berikut:
“Barang siapa mengucapkan ‘la ilaha illallah’ dan ia mengingkari semua penyembahan kepada selain allah maka haramlah harta dan darahnya serta perhitungannya nanti ada pada allah ‘Azza wajalla semata
Hadis-hadis diatas berisi seruan kepada seluruh hamba allah untuk beribadah hanya kepada allah dan haram hukumnya melakukan segala bentuk perbuatan syirik yang mengakibatkan manusia masuk ke dalam api neraka.
Dasar hukum semua bentuk ibadah kepada allah adalah Al-Qur ’an dan As-sunnah karena semua sahabat dan para pengikutnya, para ulama dan semua umat islam sepakat bahwa ibadah yang berhubungan secara langsung dengan allah harus didasarkan pada Al-Qur’an dan As-sunnah.
IV. Hukum-hukum Ibadah
Dari penjelasan diatas dapat kita pahami bahwa ibadah adalah mengerjakan segala sesuatu yang diperintahkan oleh Allah seperti amalan wajib dan sunat dan menjauhi segala yang dilarang oleh-Nya seperti haram dan makruh. Dengan demikian hukum melaksanakan Ibadan ada empat, yaitu wajib, sunah, haram, dan makruh.
1. Wajib
Yang dimaksud dengan wajib dalam pengertian hukum islam adalah ketentuan syar’i yang menuntut para mukallaf untuk melakukanya dengan tuntutan yang mengikat serta diberi imbalan pahala bagi yang melakukanya dan ancaman dosa bagi yang meninggalkanya, seperti shalat, puasa, zakat, haji, dan sebaginya.
2. Sunah
Yang dimaksud dengan sunah adalah ketentuan Syar’i tentang berbagai amaliah yang harus dikerjakan mukallaf dengan tuntutan yang tidak mengikat.
Dan pelakunya diberi imbalan pahala tanpa ancaman dosa bagi yang meninggalkanya, seperti membaca al-Quran, Puasa Senin-Kamis, Iktiqaf, sedeqah, dan sebaginya.
3. Haram
Yang dimaksud dengan haram adalah tuntutan syar’i kepada mukallaf untuk meninggalkanya dengan tuntutan yang mengikat, beserta imbalan pahala bagi yang mematuhi untuk meninggalkannya dan balasan dosa bagi yang tidak mematuhi untuk meninggalkannya, seperti zina, mencuri, korupsi, merampok, menipu, dan sebaginya.
4. Makruh
Yang dimaksud dengan makruh adalah tuntutan syar’i kepada mukallaf untuk meninggalkanya dengan tuntutan yang tidak mengikat, beserta imbalan pahala bagi yang mematuhi untuk meninggalkannya dan tidak berdosa bagi yang tidak mematuhi untuk meninggalkannya, seperti memakan bawang, merokok, memakan kepiting, dan sebagainya.
3. Macam-macam dan Prinsip Ibadah
Macam-Macam Ibadah sebagai berikut :
Adapun macam-macam ibadah ditinjau dari segi ruang lingkup nya, yaitu :
▪ Ibadah Khassah, yaitu ibadah yang ketentuan dan cara pelaksanaanya telah ditetapkan oleh nas. Seperti salat, zakat, puasa, haji, dan lainya.
▪ Ibadah Ammah, yaitu semua pernyataan dan perbuatan baik , dilakukan dengan baik, semata-mata karena Allah (Ikhlas). Seperti makan, minum, bekerja, berbuat baik kepada orang lain dll.
Adapun macam-macam ibadah dilihat dari segi dan sifatnya, yaitu :
▪ Ibadah yang berupa perkataan atau berupa ucapan lidah, seperti tahlil, takbir, tadarus Al-Quran, dll.
▪ Ibadah yang berupa perbuatan yang tidak ditentukan bentuknya, seperti membela diri dari gangguan orang lain, menolong orang yang tenggelam, dll.
▪ Ibadah yang dalam pelaksanaanya berupa menahan diri, seperti puasa, dll.
▪ Ibadah yang bersifat menggugurkan hak, seperti membebaskan oranng yang berhutang dari hutang nya, memaafkan kesalahan dari orang yang bersalah, dll.
Adapun macam-macam ibadah dari segi waktu dan keadaan nya, yaitu
▪ Muadda, yaitu ibadah yang dikerjakan dalam waktu yang telah ditetapkan oleh syara. Seperti melaksanakan salat 5 waktu.
▪ Maqdi yaitu ibadah yang dikerjakan setelah melampaui batas waktu yang ditetapkan syara, merupakan ibadah pengganti dari ibadah yang tertinggal, seperti tertinggal karena sakit dan pergi, dll.
▪ Muad, yaitu ibadah yang dikerjakan dengan diulangi sekali lagi dalam waktunya untuk menambah kesempurnaan, misalnya melaksanakan shalat secara berjama‟ah dalam waktunya setelah melaksanakannya secara munfarid/ sen-dirian pada waktu yang sama.
▪ Muțlaq, yaitu ibadah yang sama sekali tidak dikaitkan waktunya oleh syara‟ dengan suatu waktu yang terbatas, seperti membayar kaffȃrat, sebagai hukuman bagi yang melanggar sumpah.
▪ Muwaqqat, yaitu ibadah yang dikaitkan oleh syara‟ dengan waktu tertentu dan terbatas, seperti şalat lima waktu, bahkan termasuk puasa di bulan Ramadhan.
▪ Muwassa, yaitu ibadah yang lebih luas waktunya dari waktu yang diperlukan untuk melaksanakan kewajiban yang di- tuntut pada waktu itu, seperti şalat lima waktu. Artinya seseorang diberikan hak mengerjakan şalatnya diawal waktu, dipertengahan dan diakhirnya, asalkan setelah selesai di-kerjakan belum berakhir waktunya.
▪ Muḑayyaq, yaitu ibadah yang waktunya sebanyak dan atau sepanjang yang diparḑukan dalam waktu itu, seperti puasa. Dalam bulan ramaḑan, hanya dikhususkan untuk puasa wajib dan tidak boleh dikerjakan puasa yang lain pada waktu itu.
▪ Muayyan, yaitu seperti ibadah tertentu yang dituntut oleh syara‟ seperti kewajiban atas perintah şalat, sehingga tidak boleh diganti dengan ibadah lain sebagai alternatif pilihan-nya.
▪ Mukhayyar, yaitu ibadah yang boleh dipilih salah satu dari yang diperintahkan. Seperti kebolehan memilih antara beristinja‟ dengan air atau dengan batu; atau memilih kaffȃrat sumpah dengan memberi makan orang miskin atau dengan memerdekakan hamba sahaya.
▪ Muhaddad, yaitu ibadah yang dibatasi kadarnya oleh syara‟ seperti şalat fardhu, zakat.
▪ Ghairu muhaddad, yaitu ibadah yang tidak dibatasi kadarnya oleh syara‟, seperti mengeluarkan harta dijalan Allah, memberi makan orang musafir.
Prinsip-prinsip Ibadah
Ibadah adalah hal yang dilakukan setiap insan dalam rangka mengabdi pada Rabb Sang Pencipta. Ibadah biasa dimulai dengan niat, dan senantiasa meluruskan niat adalah yang paling utama. Karena baiknya niat akan menguatkan kita dalam melaksanakan ibadah. Tugas manusia di dunia tak lain dan tak bukan adalah dalam rangka beribadah kepada Allah SWT. Sesuai yang tercantum dalam surah Adz- Dzariyat (51): 56 “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku
Aqidah adalah perbuatan yang dilakukan oleh hati sebagai bentuk iman.
Sedangkan ibadah adalah perbuatan tubuh atau jasad dimana diperintahkan oleh hati. Yang dilakukan hanya untuk Allah SWT mencakup semua perbuatan dan perkataan dengan ikhlas untuk menggapai keridhoan Allah SWT, yang dengan ridho-Nya bisa mengantarkan seseorang menuju surga yang abadi.
Adapun prinsip-prinsip ibadah adalah :
1. Adanya larangan-larangan, kecuali yang diperintahkan.
2. Berdasarkan hukum Al-Qur’an dan sunnah yang dibawa Nabi Muhammad SAW.
3. Ada syarat dan ketentuan tertentu dalam menjalankan ibadah, contoh dalam melaksanakan sholat ada syarat sah dan rukun sholat yang harus dipenuhi.
4. Tidak diterima suatu ibadah jika tidak disertai dengan keikhlasan, niat yang tulus, dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.
5. Ibadah dengan ikhlas, tidak mengharap apa-apa.
6. Sesuai dengan contoh dan tuntunan hidup Rasulullah SAW.
7. Bid’ah yang mengada-ada itu tertolak ibadahnya.
Ibadah merupakan hal yang tidak bisa dilepaskan dalam kehidupan sehari-hari, dimulai dari bangun tidur sampai tidur lagi bisa kita jadikan ladang ibadah. Diawali dengan niat yang lurus dan memenuhi segala perintah Allah SWT dan Rasulnya, insya Allah setiap langkah dan perbuatan kita bisa bernilai pahala di mata Allah.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Qodir dan Bachrun Bunyamin, 1987, Kitab Tauhid Imam Abdul Wahab, Pustaka Salman ITB, hlm. 4, lihat Achmad Sunarto, 2005, Hadits Al-Jami’
Ash-Shahih, Annur Press, hlm.9.
Abdul Qodir dan Bachrun Bunyamin, Kitab Tauhid Imam Abdul Wahab, hlm. 25.
H. Dr. Khoiror Abror, 2019. Fiqh Ibadah, Yogyakarta : Phoenix Publisher.
H. Mohammad Daud Ali, Hukum Islam:Pengantar Ilmu Hukum Dan Tata Hukum Islam Di Indonesia, (Jakarta, PT.Raja Grafindo Persada, 2013), hlm, 43.
H. Ahmad Thib Raya dan Hj. Siti Musdah Mulia, Menyelami Seluk-beluk Ibadah Dalam Islam, (Jakarta Timur Prenada Media), 2003, hlm, 137.