PENERAPAN PAJAK PENGHASILAN USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH:
STUDI KASUS PT. IMS
UNIVERSITAS BINA NUSANTARA
Fakultas Ekonomi dan Komunikasi Jurusan Akuntasi dan Keuangan Skripsi Sarjana Srata 1 Akuntansi
Semester Ganjil 2014/2015
PENERAPAN PAJAK PENGHASILAN USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH:
STUDI KASUS PT. IMS
JULIAN LAZUARDI AKBAR 1401081053
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dan mengevaluasi penerapan pengenaan PT.
IMS serta mengidentifikasi masalah yang terjadi dalam pemenuhan kewajiban perpajakan PPh Pasal 23 dan peraturan baru yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 46. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Hasil analisis dari penelitian yang telah dilakukan adalah hasil penghitungan PPh Pasal 23 dan pembandingan atas sebelum dan sesudah adanya Peraturan Pemerintah Nomor 46. Simpulan dari penelitian ini adalah PT.
IMS mengalami penambahan jumlah kerugian atas karena pemotongan pajak dari Peraturan Pemeintah Nomor 46. Perusahaan telah melakukan penyetoran dan pembayaran sesuai Undang – Undang Perpajakan juga tepat waktu. (JLA)
Kata Kunci : PPh 23, Peraturan Pemerintah Nomor 46, pemotongan, penyetoran, pelaporan.
PENDAHULUAN
Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesarbesarnya kemakmuran rakyat. (UU KUP No. 28 Tahun 2007)
Pembayaran pajak merupakan perwujudan dari kewajiban kenegaraan dan peran serta Wajib Pajak untuk secara langsung dan bersama-sama melaksanakan kewajiban perpajakan untuk pembiayaan negara dan pembangunan nasional. Sesuai falsalah undang- undang perpajakan, membayar pajak bukan hanya merupakan kewajiban, tetapi merupakan hak dari setiap warga negara untuk berpatisipasi dalam bentuk peran serta terhadap negara dan pembangunan nasional.
Tanggung jawab atas kewajiban pembayaran pajak, sebagai pencerminan kewajiban kenegaraan di bidang perpajakan berada pada anggota masyarat sendiri untuk memenuhi kewajiban tersebut. Hal tersebut sesuai dengan system self assessment yang dianut dalam Sistem Perpajakan Indonesia. Pemerintah dalam hal ini Direktorat Jenderal Pajak, sesuai dengan fungsinya berkewajiban melakukan pembinaan/penyuluhan, pelayanan, dan pengawasan. Dalam melaksanakan fungsinya tersebut, Direktorat Jenderal Pajak berusaha sebaik mungkin memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai visi dan misi Direktorat Jenderal Pajak.
Salah satu jenis pajak yang terdapat di Indonesia adalah Pajak Penghasilan (PPh). Pajak Penghasilan adalah pajak yang dibebankan pada penghasilan perorangan, perusahaan atau badan hukum lainnya. Pajak Penghasilan bisa diberlakukan progresif, proporsional, atau regresif.
Menurut Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008, salah satu subyek pajak penghasilan adalah pajak badan, badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia, kecuali unit tertentu dari badan pemerintah yang memenuhi kriteria:
1. Pembetukannya berdasarkan ketentuan perundang-undangan;
2. Pembiayaannya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah;
3. Penerimaannya dimasukkan dalam anggaran Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah; dan 4. Pembukuannya diperiksa oleh aparat pengawasan fungsional negara.
Tepatnya 1 Juli 2013, pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) baru yang sasarannya ditujukan pada Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Peraturan tersebut adalah Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 yang mengatur tentang pajak penghasilan atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh wajib pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu. Pokok pengaturan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 adalah pengenaan pajak dengan tarif final sebesar 1% dari peredaran bruto setiap bulan atas penghasilan dari usaha Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tidak melebihi Rp4,8 Miliar dalam satu tahun.
PP 46 Tahun 2013 mengatur tentang pemajakan bagi UMKM dengan garis besar pengaturan sebagai berikut:
1. Pengenaan pajak atas penghasilan yang diterima adalah bersifat final.
2. Dikenakan terhadap Wajib Pajak orang pribadi atau Wajib Pajak badan tidak termasuk bentuk usaha tetap; dan menerima penghasilan dari usaha, tidak termasuk penghasilan dari jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas, dengan peredaran bruto tidak melebihi Rp4.800.000.000,00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah) dalam 1 (satu) Tahun Pajak.
3. Besarnya tarif Pajak Penghasilan yang bersifat final adalah 1% (satu persen).
4. Dasar pengenaan pajak yang digunakan untuk menghitung Pajak Penghasilan yang bersifat final adalah jumlah peredaran bruto setiap bulan
5. Wajib Pajak orang pribadi yang tidak dikenai pajak 1% adalah Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha perdagangan dan/atau jasa yang dalam usahanya:
a) menggunakan sarana atau prasarana yang dapat dibongkar pasang, baik yang menetap maupun tidak menetap; dan
b) menggunakan sebagian atau seluruh tempat untuk kepentingan umum yang tidak diperuntukkan bagi tempat usaha atau berjualan.
6. Wajib Pajak badan yang tidak dikenai pajak 1% adalah:
a) Wajib Pajak badan yang belum beroperasi secara komersial; atau
b) Wajib Pajak badan yang dalam jangka waktu 1 (satu) tahun setelah beroperasi secara komersial memperoleh peredaran bruto melebihi Rp4.800.000.000,00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah).
Dalam Peraturan Pemerintah tersebut memang tidak disebutkan secara eksplisit bahwa target pemajakan ini adalah Usaha Mikro Kecil dan Menangah. Namun, jika diperhatikan secara seksama sangat jelas terlihat bahwa Usaha Mikro Kecil dan Menengah merupakan target dari Peraturan Pemerintah ini. Hal ini terlihat dari batasan peredaran usaha Rp. 4,8 Milyar dalam Peraturan Pemerintah tersebut yang masih dalam lingkup pengertian Usaha Mikro Kecil dan Menengah menurut UU No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro Kecil dan Menengah, yakni usaha yang dilakukan orang perorangan atau badan usaha dengan peredaran maksimum Rp. 50 milyar dalam setahun.
Rencana menjadikan Usaha Mikro Kecil dan Menengah sebagai fokus atau target pemajakan telah terdengar sejak pertengahan tahun 2011. Saat itu artikel yang saya baca (www.ortax.org) menunjukan bahwa Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) menyumbang 61% dari Produk Domestik Bruto tetapi kontribusinya terhadap total penerimaan pajak hanya 5%.
Pertimbangan Pemerintah atas pengenaan pajak dengan tarif 1% dari peredaran usaha setiap bulan dan bersifat final terhadap Usaha Mikro Kecil dan Menengah sebagaimana tercantum dalam penjelasan umum Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 adalah kesederhanaan dalam pemungutan pajak, berkurangnya beban administrasi baik bagi Wajib Pajak maupun Direktorat Jenderal Pajak, serta memperhatikan perkembangan ekonomi dan moneter.
METODE PENILITIAN
Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kualitatif. dalam melakukan pengumpulan data ini dilakukan dari studi literatur dengan membaca buku yang terkait dengan topik yang diangkat. Bacaan yang digunakan terkait dengan Undang Undang perpajakan khususnya mengenai intensif pajak yang berlaku pada saat ini. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang diperoleh dari beberapa situs pajak antara lain www.Pajak.go.id, www.Ortax.com, Undang Undang Perpajakan, Peraturan Menteri Keuangan (PMK), dan Peraturan Pemerintah (PP) mengenai perlakuan insentif pajak dan beberapa faktor lainnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan membandingkan peraturan-peraturan yang terkait dengan pengenaan insentif pajak di beberapa Negara sehingga dapat mengetahui keuntungan dan kerugian mengenai kebijakan insentif pajak tersebut.
Hasil yang akan ditampilkan dalam bentuk tabel dan literatur yang disesuaikan dengan sub judul penelitian dengan mencerminkan informasi untuk tercapainya tujuan penelitian ini yaitu mengungkapkan hal-hal berkaitan dengan insentif pajak.
HASIL DAN BAHASAN
Jenis – Jenis Pajak didalam PT. IMS
PT. IMS bergerak dalam perusahaan jasa pembuatan dan pengembangan perangkat lunak serta pemeliharaan di beberapa bank di Indonesia, seperti membuat dan mengembangkan sistem perantara (middleware) antara Core Banking Sistem (CBS) dengan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI). PT. IMS selaku Perusahaan Kena Pajak (PKP) dan Perusahaan Jasa, maka perusahaan melakukan kewajiban pajak atas penghasilan yang didapat berupa pajak:
1. Pajak Penghasilan Pasal 23
PT. IMS bergerak dalam perusahaan jasa dikenakan tarif 2% setiap mendapatkan pendapatan dari perawatan serta pemeliharaan dari beberapa bank di Indonesia yang bekerja sama.
2. Pajak Badan
- Tahun 2012: PT. IMS melakukan pembayaran pajak penghasilan pasal 31E dengan peredaran bruto dibawah Rp 4.800.000.000 dikenakan tarif 25%.
- Tahun 2013: PT. IMS dari bulan Januari sampai dengan Juni melakukan pembayaran pajak penghasilan pasal 31E dan pada bulan Juli sampai dengan Desember melakukan kewajiban pajak penghasilan dengan peraturan baru yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 46 dengan perederan bruto dibawah Rp. 4.800.000.000 dikenakan tarif 1% dihitung diperederan bruto.
- Tahun 2014: PT IMS melakukan pembayaran pajak penghasilan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 46 dengan peredaran bruto sampai dibawah Rp. 4.800.000.000 dikenakan tarif 1% dihitung diperedaran bruto.
Evaluasi Pajak Penghasilan Pasal 23
Evaluasi Pajak Penghasilan Pasal 23 Tahun 2012
Ini adalah tahun pertama dari 3 (tiga) tahun identifikasi pemotongan PPh pasal 23 PT. IMS untuk selanjutnya dilakukan evaluasi. Daftar pemotongan akan disajikan dalam bentuk table dan akan dibuat setiap bulannya hingga akhir tahun 2012. Untuk pengenaan tarif pemotongan PPh pasal 23 tahun 2012, PT. IMS berpedoman pada UU No. 36 tahun 2008 tentang pajak penghasilan yang berlaku mulai tanggal 1 januari 2009 dan untuk jasa lain berpedomann pada PMK No. 244/PMK.03/2008 yang mulai berlaku tanggal 1 januari 2009.
Sejak tahun 2009, semua tarif untuk sewa dan jasa dikenaka tarif 2%. Objek PPh pasal 23 di PT. IMS adalah sewa dan jasa. Oleh karena itu penulis mencoba mengevaluasi berdasarkan SPT masa, bukti potong serta SSP dari perusahaan. Berdasarkan hasil evaluasi, penulis tidak menemukan perbedaan antara checklist tagihan dengan SPT. Dengan kata lain PT. IMS telah mengikuti PMK No. 244/PMK.03/2008.
Pendapatan-Pendapatan Yang Dipotong Pajak PPh 23 Tahun 2012 Berdasarkan Perhitungan PT. IMS
(Dalam Rupiah) Nama Perusahaan Jumlah Pendapatan Tarif PPh
Pasal 23
PPh Terutang PPh Atas Jenis Pendapatan Bank Of America 37.873.190 2% 757.464 Pendapatan jasa
konsultan & service Standard Chartered Bank 35.187.200 2% 703.744 Pendapatan service Bank Victoria 15.378.000 2% 307.560 Pendapatan jasa
konsultan & service Bank Commonwealth 13.195.200 2% 263.904 Pendapatan service Bank ANZ Indonesia 43.984.000 2% 879.680 Pendapatan service Bank Resona Indonesia 12.582.000 2% 251.640 Pendapatan jasa
konsultan
Pendapatan-Pendapatan Yang Dipotong Pajak PPh 23 Tahun 2012 Berdasarkan Perhitungan Penulis
(Dalam Rupiah) Nama Perusahaan Jumlah Pendapatan Tarif PPh Pasal 23
PPh Terutang PPh Atas Jenis Pendapatan Bank Of America 37.873.190 2% 757.464 Pendapatan jasa
konsultan & service Standard Chartered Bank 35.187.200 2% 703.744 Pendapatan service Bank Victoria 15.378.000 2% 307.560 Pendapatan jasa
konsultan & service Bank Commonwealth 13.195.200 2% 263.904 Pendapatan service Bank ANZ Indonesia 43.984.000 2% 879.680 Pendapatan service Bank Resona Indonesia 12.582.000 2% 251.640 Pendapatan jasa
konsultan
Setelah penulis melakukan analisa tidak terdapat perbedaan antara perhitungan PPh 23 pada PT.IMS dengan perhitungan penulis selama 2012.
Evaluasi Pajak Penghasilan Pasal 23 Tahun 2013
Ini adalah tahun pertama dari 3 (tiga) tahun identifikasi pemotongan PPh pasal 23 PT. IMS untuk selanjutnya dilakukan evaluasi. Daftar pemotongan akan disajikan dalam bentuk table dan akan dibuat setiap bulannya hingga akhir tahun 2013. Untuk pengenaan tarif pemotongan PPh pasal 23 tahun 2012, PT. IMS berpedoman pada UU No. 36 tahun 2008 tentang pajak penghasilan yang berlaku mulai tanggal 1 januari 2009 dan untuk jasa lain berpedomann pada PMK No. 244/PMK.03/2008 yang mulai berlaku tanggal 1 januari 2009.
Sejak tahun 2009, semua tarif untuk sewa dan jasa dikenaka tarif 2%. Objek PPh pasal 23 di PT. IMS adalah sewa dan jasa. Oleh karena itu penulis mecoba mengevaluasi berdasarkan SPT masa, bukti potong serta SSP dari perusahaan. Berdasarkan hasil evaluasi, penulis tidak menemukan perbedaan antara checklist tagihan dengan SPT. Dengan kata lain PT. IMS telah mengikuti PMK No. 244/PMK.03/2008.
Pendapatan-Pendapatan Yang Dipotong Pajak PPh 23 Tahun 2013 Berdasarkan Perhitungan PT.IMS
(Dalam Rupiah) Nama Perusahaan Jumlah Pendapatan Tarif PPh
Pasal 23
PPh Terutang
PPh Atas Jenis Pendapatan Bank Of America 47.293.454 2% 1.345.869 Pendapatan repair Standard Chartered Bank 37.519.200 2% 750.384 Pendapatan service Bank Victoria 39.314.000 2% 786.280 Pendapatan jasa konsultan Bank Commonwealth 47.524.320 2% 950.486 Pendapatan service Bank ANZ Indonesia 40.020.480 2% 800.410 Pendapatan service Bank Resona Indonesia 30.025.600 2% 1.000.512 Pendapatan service &
Konsultan
Pendapatan-Pendapatan Yang Dipotong Pajak PPh 23 Tahun 2013 Berdasarkan Perhitungan Penulis
(Dalam Rupiah) Nama Perusahaan Jumlah Pendapatan Tarif PPh
Pasal 23
PPh Terutang
PPh Atas Jenis Pendapatan Bank Of America 47.293.454 2% 1.345.869 Pendapatan repair Standard Chartered Bank 37.519.200 2% 750.384 Pendapatan service Bank Victoria 39.314.000 2% 786.280 Pendapatan jasa konsultan Bank Commonwealth 47.524.320 2% 950.486 Pendapatan service Bank ANZ Indonesia 40.020.480 2% 800.410 Pendapatan service Bank Resona Indonesia 30.025.600 2% 1.000.512 Pendapatan service &
Konsultan Setelah penulis melakukan analisa tidak terdapat perbedaan antara perhitungan PPh 23 pada PT.IMS dengan perhitungan penulis selama 2013.
Evaluasi Pajak Penghasilan Pasal 23 Tahun 2014
Ini adalah tahun pertama dari 3 (tiga) tahun identifikasi pemotongan PPh pasal 23 PT. IMS untuk selanjutnya dilakukan evaluasi. Daftar pemotongan akan disajikan dalam bentuk table dan akan dibuat setiap bulannya hingga akhir tahun 2014. Untuk pengenaan tarif pemotongan PPh pasal 23 tahun 2012, PT. IMS berpedoman pada UU No. 36 tahun 2008 tentang pajak penghasilan yang berlaku mulai tanggal 1 januari 2009 dan untuk jasa lain berpedomann pada PMK No. 244/PMK.03/2008 yang mulai berlaku tanggal 1 januari 2009.
Sejak tahun 2009, semua tarif untuk sewa dan jasa dikenaka tarif 2%. Objek PPh pasal 23 di PT. IMS adalah sewa dan jasa. Oleh karena itu penulis mecoba mengevaluasi berdasarkan SPT masa, bukti potong serta SSP dari perusahaan. Berdasarkan hasil evaluasi, penulis tidak menemukan perbedaan antara checklist tagihan dengan SPT. Dengan kata lain PT. IMS telah mengikuti PMK No. 244/PMK.03/2008.
Pendapatan-Pendapatan Yang Dipotong Pajak PPh 23 Tahun 2014 Berdasarkan Perhitungan PT.IMS
(Dalam Rupiah) Nama Perusahaan Jumlah
Pendapatan
Tarif PPh Pasal 23
PPh Terutang PPh Atas Jenis Pendapatan Bank Of America 104.988.975 2% 2.099.779 Pendapatan repair Standard Chartered Bank 37.781.136 2% 755.623 Pendapatan service
Bank Victoria 31.484.280 2% 629.686 Pendapatan service
Bank Commonwealth 20.493.000 2% 409.860 Pendapatan jasa konsultan Bank ANZ Indonesia 22.038.996 2% 440.780 Pendapatan service Bank Resona Indonesia 16.767.000 2% 335.340 Pendapatan jasa konsultan Money Changer 31.484.280 2% 629.686 Pendapatan service
Enimart 40.929.564 2% 818.591 Pendapatan service
Pendapatan-Pendapatan Yang Dipotong Pajak PPh 23 Tahun 2014 Berdasarkan Perhitungan Penulis
(Dalam Rupiah) Nama Perusahaan Jumlah
Pendapatan
Tarif PPh Pasal 23
PPh Terutang PPh Atas Jenis Pendapatan Bank Of America 104.988.975 2% 2.099.779 Pendapatan repair Standard Chartered Bank 37.781.136 2% 755.623 Pendapatan service
Bank Victoria 31.484.280 2% 629.686 Pendapatan service
Bank Commonwealth 20.493.000 2% 409.860 Pendapatan jasa konsultan Bank ANZ Indonesia 22.038.996 2% 440.780 Pendapatan service Bank Resona Indonesia 16.767.000 2% 335.340 Pendapatan jasa konsultan Money Changer 31.484.280 2% 629.686 Pendapatan service
Enimart 40.929.564 2% 818.591 Pendapatan service
Setelah penulis melakukan analisa tidak terdapat perbedaan antara perhitungan PPh 23 pada PT.IMS dengan perhitungan penulis selama 2014.
Perbandingan Pajak Pasal 31E Dengan Peraturan Pemerintah No. 46
Dalam penentuan tarif terhadap pajak badan di Indonesia yang telah menjadi subjek pajak dalam negeri dikenakan tarif pasal 31E. Akan tetapi, Direktorat Jendral Pajak mengeluarkan ketentuan terbaru dalam penentuan tarif pajak badan di Indonesia yaitu Peraturan Pemerintah no. 46. Peraturan tersebut dikeluarkan pemerintah pada bulan Juli tahun 2013. Atas dasar tersebut, dilakukan perbandingan atas kedua perhitungan tarif pajak badan.
Pada Pasal 31E ayat (1) UU PPh, diatur bahwa wajib pajak dalam negeri dengan peredaran bruto sampai dengan Rp 50.000.000.000 (lima puluh miliar) mendapat fasilitas berupa pengurangan tarif sebesar 50%
(lima puluh persen) dari tarif normal 28% (tahun 2009) dan 25% (tahun 2010 dst) yang dikenakan atas penghasilan kena pajak dari bagian peredaran bruto sampai dengan Rp 4.800.000.000 (empat miliar delapan ratus juta rupiah).
Sedangkan berdasarkan Peraturan Pemerintah no. 46 di atur bahwa wajib pajak orang pribadi dan badan (tidak termasuk Bentuk Usaha Tetap) yang menerima penghasilan bruto/kotor dari usaha tidak melebihi Rp 4,8 miliar dalam 1 (satu) Tahun Pajak. Pajak ini Tidak dikenakan kepada Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha perdagangan dan/atau jasa yang dalam usahanya menggunakan sarana atau prasarana yang dapat dibongkar pasang, baik yang menetap maupun tidak menetap dan menggunakan sebagian atau seluruh tempat untuk kepentingan umum yang tidak diperuntukan bagi tempat usaha atau berjualan, misalnya pedagang kaki lima dan sejenisnya juga wajib pajak badan yang belum beroperasi secara komersial atau yang dalam jangka waktu 1 (satu) tahun setelah beroperasi secara komersial memperoleh penghasilan bruto melebihi Rp. 4,8 miliar. Peraturan Pemerintah no. 46 memiliki tarif sebesar 1% yang dikenakan pada pendapatan bruto.
Berdasarkan perbandingan dua peraturan tersebut dapat dilihat bahwa pemotongan pajak pada Pasal 31 dikenakan pada penghasilan kena pajak (laba sebelum kena pajak) dan pada Peraturan Pemerintah no. 46 pemotongan pajak dikenakan pada pendapatan kotor (laba bruto).
Yang menjadi masalah atas kedua tarif pajak tersebut dapat disimpulkan bahwa Peraturan Pemerintah no.
46 dipotong pada pendapatan kotor (laba bruto) walaupun perusahaan dalam keadaan untung atau rugi yang dimana dapat merugikan perusahaan karena pemotongan pajak dilakukan sebelum pengurangan biaya (beban).
Evaluasi Perhitungan Pasal 31E
Perhitungan pasal 31E merupakan perhitungan berdasarkan penghasilan bruto yang tidak lebih Rp 50.000.000.000 mendapat fasilitas pengurangan tarif sebesar 50%, hal itu sesuai dengan UU no 36 tahun 2008 pasal 31E yang juga telah ditegaskan oleh Dirjen Pajak sesuai surat edarannya yaitu SE-66/PJ./2010 pada point 2 d dinyatakan, fasilitas Pasal 31E ayat (1) tersebut bukan merupakan pilihan melainkan wajib untuk diterapkan oleh karena itu perusahaan menerapkan perhitungan tersebut.
Evaluasi Perhitungan Pasal 31E Tahun 2012
Penulis akan menghitung pajak pasal 31E pada tahun 2012. Penulis juga menghitung laba bersih setelah perusahaan.
Laporan Laba/Rugi PT. IMS Tahun 2012
PT. INTEGRA MIDSOFT
Laporan Laba/Rugi
Tahun Pajak 2012
Periode Januari - Desember
(Dalam Rupiah)
Peredaran Usaha 424.116.250
Harga Pokok Penjualan
Saldo Awal 0
Pembelian 139.450.000
Tersedia Dijual 139.450.000
Persediaan Akhir 0
Harga Pokok Penjualan 139.450.000
Laba Bruto Usaha 284.666.250
Biaya Administrasi & Umum
Biaya Gaji 120.000.000
Biaya Penyusutan 839.531
Biaya Alat Tulis Kantor 2.078.719
Biaya Perjalanan Dinas 0
Biaya Bunga 0
Biaya Sewa Gedung 40.000.000
Biaya Telp & Listrik & Pam & Internet 9.760.000
Biaya Tunjangan Makan 31.500.000
Biaya THR 8.800.000
Biaya Lembur 0
Biaya Perbaikan & Pemeliharaan Kendaraan 0
Biaya Benda Pos 0
Biaya Keamanan & Kebersihan 0
Biaya Lain-lain 35.800.000
Total Biaya 248.778.250
Laba Netto Usaha 35.888.000
Pendapatan & Biaya lain 0
Pendapatan Bunga Tabungan 0
Pajak Bunga Tabungan 0
Total Pendapatan & Biaya Lain 0
LABA NETTO 35.888.000
Dalam laporan laba rugi pada tahun 2012 perusahaan memperoleh omzet kurang dari 4.800.000 dan laba kena pajaknya sebesar Rp. 35.888.000. Perhitungan pasal 31E sebagai berikut:
Perhitungan pasal 31E:
• Pajak penghasilan terutang; (50%x25%)x Rp. 35.888.000 = Rp. 4.486.000
Berdasarkan perhitungan tersebut besarnya pajak yang terutang yang telah dilakukan oleh perushaan ditahun 2012 sebesar Rp. 4.486.000.
Laba bersih perusahaan setelah pengurangan pajak pasal 31E pada tahun 2012 sebesar:
• Rp. 35.888.000 – Rp 4.486.000 = Rp. 31.402.000
Evaluasi Perhitungan Pajak Tahun 2013: Pajak Pasal 31E dan Peraturan Pemerintah nomor 46
Perhitungan pasal 31E merupakan perhitungan berdasarkan penghasilan bruto yang tidak lebih Rp 50.000.000.000 mendapat fasilitas pengurangan tarif sebesar 50%, hal itu sesuai dengan UU no 36 tahun 2008 pasal 31E yang juga telah ditegaskan oleh Dirjen Pajak sesuai surat edarannya yaitu SE-66/PJ./2010 pada point 2 d dinyatakan, fasilitas Pasal 31E ayat (1) tersebut bukan merupakan pilihan melainkan wajib untuk diterapkan oleh karena itu perusahaan menerapkan perhitungan tersebut.
Tepatnya 1 Juli 2013, pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) baru yang sasarannya ditujukan pada Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Peraturan tersebut adalah Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 yang mengatur tentang pajak penghasilan atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh wajib pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu. Pokok pengaturan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 adalah pengenaan pajak dengan tarif final sebesar 1% dari peredaran bruto setiap bulan atas penghasilan dari usaha Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tidak melebihi Rp4,8 Miliar dalam satu tahun.
Penulis akan menghitung 2 jenis pajak pada tahun 2013 yaitu pajak pasal 31E pada bulan Januari sampai dengan Juni dan peraturan baru yaitu peraturan pemerintah nomor 46 pada bulan Juli sampai dengan Desember.
Evaluasi Perhitungan Pasal 31E Periode Bulan Januari Sampai Dengan Juni Tahun 2013
Penulis akan menghitung pajak pasal 31E pada tahun 2013 periode bulan Januari sampai dengan Juni.
Penulis juga akan menghitung laba bersih setelah pajak perusahaan.
Laporan Laba/Rugi PT. IMS Periode Januari – Juni tahun 2013
PT. INTEGRA MIDSOFT
Laporan Laba/Rugi
Tahun Pajak 2013
Periode Januari-Juni
(Dalam Rupiah)
Peredaran Usaha 220.050.330
Harga Pokok Penjualan
Saldo Awal 0
Pembelian 73.925.111
Tersedia Dijual 73.925.111
Persediaan Akhir 0
Harga Pokok Penjualan 73.925.111
Laba Bruto Usaha 146.125.219
Biaya Administrasi & Umum
Biaya Gaji 60.000.000
Biaya Penyusutan 419.766
Biaya Alat Tulis Kantor 1.039.360
Biaya Perjalanan Dinas 4.200.000
Biaya Bunga 0
Biaya Sewa Gedung 20.000.000
Biaya Telp & Listrik & Pam & Internet 4.880.000
Biaya Tunjangan Makan 15.750.000
Biaya THR 4.400.000
Biaya Lembur 0
Biaya Perbaikan & Pemeliharaan Kendaraan 0
Biaya Benda Pos 0
Biaya Keamanan & Kebersihan 0
Biaya Lain-lain 15.800.000
Total Biaya 126.489.125
Laba Netto Usaha 19.636.094
Pendapatan & Biaya lain 0
Pendapatan Bunga Tabungan 0
Pajak Bunga Tabungan 0
Total Pendapatan & Biaya Lain 0
LABA NETTO 19.636.094
Tahun 2013 periode bulan Januari sampai dengan Juni perusahaan memperoleh omzet kurang dari Rp.
4.800.000.000 dan laba kena pajak perusahaan sebesar Rp. 19.636.094 dengan perhitungan sebagai berikut:
Perhitungan pasal 31E:
• Pajak penghasilan terutang: (50%x25%) x Rp. 19.636.094 = Rp. 2.454.511,75
Laba bersih perusahaan setelah pengurangan pajak pasal 31E pada periode bulan Januari sampai dengan Juni sebesar:
• Rp. 19.636.094 – Rp 2.454.511,75 = Rp. 17.181.582,25
Evaluasi Perhitungan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Periode Juli Sampai Dengan Desember Tahun 2013
Penulis akan menghitung tarif final 1% dari peraturan baru yaitu peraturan pemerintah nomor 46 pada tahun 2013 periode bulan Juli sampai dengan Desember. Penulis juga akan menghitung laba bersih perusahaan.
Laporan Laba/Rugi PT. IMS Periode Juli – Desember Tahun 2013
PT. INTEGRA MIDSOFT
Laporan Laba/Rugi
Tahun Pajak 2013
Periode Juli - Desember
(Dalam Rupiah)
Peredaran Usaha 194.001.920
Harga Pokok Penjualan
Saldo Awal 0
Pembelian 73.925.111
Tersedia Dijual 73.925.111
Persediaan Akhir 0
Harga Pokok Penjualan 73.925.111
Laba Bruto Usaha 120.076.809
Biaya Administrasi & Umum
Biaya Gaji 60.000.000
Biaya Penyusutan 419.766
Biaya Alat Tulis Kantor 1.039.360
Biaya Perjalanan Dinas 4.200.000
Biaya Bunga 0
Biaya Sewa Gedung 20.000.000
Biaya Telp & Listrik & Pam & Internet 4.880.000
Biaya Tunjangan Makan 15.750.000
Biaya THR 4.400.000
Biaya Lembur 0
Biaya Perbaikan & Pemeliharaan Kendaraan 0
Biaya Benda Pos 0
Biaya Keamanan & Kebersihan 0
Biaya Lain-lain 15.870.200
Total Biaya 126.559.325
Laba Netto Usaha (6.482.516)
Pendapatan & Biaya lain 0
Pendapatan Bunga Tabungan 0
Pajak Bunga Tabungan 0
Total Pendapatan & Biaya Lain 0
LABA NETTO (6.482.516)
Tahun 2013 periode bulan Juli sampai dengan Desember perusahaan memperoleh omzet kurang dari Rp. 4.800.000.000 dan laba bruto sebesar Rp. 120.076.809. Penulis akan menghitung pajak sesuai peraturan pemerintah nomor 46 sebagai berikut:
Perhitungan Peraturan Pemerintah no. 46:
• Pajak final: 1% x Rp. 120.076.809 = Rp 1.200.768,09
Laba kotor perusahaan setelah dikenakan Peraturan Pemerintah No. 46 pada periode bulan juli sampai dengan desember:
• Laba kotor: Rp. 120.076.809 – Rp. 1.200.768,09 = Rp. 118.876.040,91 Laba bersih setelah pemotongan pajak periode bulan Juli sampai dengan Desember:
• Laba bersih: Rp. 118.876.040,91 – Rp. 126.559.325 = (Rp. 7.683.283,91) Evaluasi Perhitungan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2014
Penulis akan menghitung peraturan pemerintah nomor 46 yang dikenakan tarif 1% pada penghasilan bruto pada tahun 2014. Penulis juga akan menghitung laba bersih perusahaan.
Laporan Laba/Rugi PT. IMS Tahun 2014
PT. INTEGRA MIDSOFT
Laporan Laba/Rugi
Tahun Pajak 2014
Periode Januari - Desember
(Dalam Rupiah)
Peredaran Usaha 534.116.250
Harga Pokok Penjualan
Saldo Awal 0
Pembelian 209.050.000
Tersedia Dijual 209.050.000
Persediaan Akhir
Harga Pokok Penjualan 209.050.000
Laba Bruto Usaha 325.066.250
Biaya Administrasi & Umum
Biaya Gaji 160.000.000
Biaya Penyusutan 839.531
Biaya Alat Tulis Kantor 2.078.719
Biaya Perjalanan Dinas 4.300.000
Biaya Bunga 0
Biaya Sewa Gedung 40.000.000
Biaya Telp & Listrik & Pam & Internet 9.760.000
Biaya Tunjangan Makan 40.000.000
Biaya THR 12.800.000
Biaya Lembur 0
Biaya Perbaikan & Pemeliharaan Kendaraan 0
Biaya Benda Pos 0
Biaya Keamanan & Kebersihan 0
Biaya Lain-lain 60.000.000
Total Biaya 329.778.250
Laba Netto Usaha (4.712.000)
Pendapatan & Biaya lain 0
Pendapatan Bunga Tabungan 0
Pajak Bunga Tabungan 0
Total Pendapatan & Biaya Lain 0
LABA NETTO (4.712.000)
Tahun 2014 perusahaan memperoleh omzet kurang dari Rp. 4.800.000.000 dan laba bruto sebesar Rp.
325.066.250. Penulis akan menghitung pajak sesuai peraturan pemerintah nomor 46 sebagai berikut:
Perhitungan Peraturan Pemerintah no. 46:
• Pajak final: 1% x Rp. 325.066.250 = Rp 3.250.662,5
Laba kotor perusahaan setelah dikenakan Peraturan Pemerintah No. 46 pada tahun 2014:
• Laba kotor: Rp.325.066.250 – Rp. 3.250.662,5 = Rp. 321.815.587,5 Laba bersih setelah pemotongan pajak periode bulan juli sampai dengan desember:
• Laba bersih: Rp. 321.815.587,5 – Rp. 329,778,250 = (Rp. 7.962.662,5)
Perhitungan Pembandingan Sebelum dan Sesudah Adanya Peraturan Pemerintah Nomor 46
Setelah melakukan penghitugan pajak PT. IMS, sekarang melakukan pembandingan penghitungan sebelum dan sesudah adanya Peraturan Pemerintah No. 46.
Unutk mengetahui adanya perbedaan, maka pada tahun 2012, 2013, dan 2014 penghitungan pajak menggunakan pajak Pasal 31E.
Perhitungan Pajak Pasal 31E Tahun 2012 – 2013 – 2014
Tahun Laba Kotor Laba Kena Pajak Pajak Terutang Laba Setelah Pajak
2012 Rp 284.666.250 Rp 35.888.000 Rp 4.486.000 Rp 31.402.000
2013 Rp 226.202.028 Rp 13.153.578 Rp1.644.197,25 Rp 11.509.380,75
2014 Rp 325.066.250 Rp (4.712.000) NIHIL Rp (4.712.000)
Dalam perhitungan pajak tahun 2012, 2013, 2014 dengan menggunakan Pajak Pasal 31 PT.IMS harus membayar pajak terutang sebesar:
2012: Pajak terutang sebesar Rp. 4.486.000 dan laba setelah pajak sebesar Rp. 31.402.000
2013: Pajak terutang sebesar Rp. 1.644.197,25 dan laba setelah pajak sebesar Rp. 11.509.380,75
2014: Pajak terutang NIHIL dan rugi sebesar Rp. 4.712.000
Penghitungan pajak tahun 2012, 2013, 2014 dengan menggunakan perhitungan oleh penulis sebelumnya.
Perhitungan Pajak Pasal 31E Tahun 2012 – 2013 (Januari – Juni)
Tahun Periode Laba Kena Pajak Pajak Terutang Laba Setelah Pajak
2012 Januari - Desember Rp 35.888.000 Rp 4.486.000 Rp 31.402.000
2013 Januari - Juni Rp 19.636.094 Rp 2.454.511,75 Rp17.181.582,25
Perhitungan Peraturan Pemerintah No. 46 Tahun 2013 (Juli – Desember) – 2014
Tahun Periode Laba Bruto Pajak Terutang
Total Beban
Biaya Laba/Rugi
2013 Juli -
Desember Rp120.076.809 Rp1.200.768,09 Rp126.559.325 (Rp7.683.284,09)
2014
Januari -
Desember Rp325.066.250 Rp 3.250.662,5 Rp329.778.250 (Rp7.962.662,50)
pajak tahun 2012, 2013 (Periode Januari sampai dengan Juni dan Periode Juli sampai dengan Desember), 2014 dengan menggunakan perhitungan oleh penulis sebelumnya maka PT. IMS harus membayar pajak terutang sebesar:
2012: Pajak terutang sebesar Rp. 4.486.000 dan laba setelah pajak sebesar Rp. 31.402.000
2013: Pajak terutang pada periode Januari sampai dengan Juni sebesar Rp. 2.454.511,75 dan laba setelah pajak sebesar Rp. 17.181.582,25
Pajak terutang pada periode Juli sampai dengan Desember sebesar Rp. 1.200.768,09 dan rugi sebesar Rp. 7.683.284,09
2014: Pajak terutang sebesar Rp. 3.250.662,50 dan rugi sebesar Rp. 7.962.662,50
Untuk mempermudah melakukan pembandingan atas perhitungan diatas maka dibuat Table hasil pembandingan tahun 2012 sampai dengan 2014 yaitu:
Hasil Pembandingan Tahun 2012 – 2013 - 2014 Pajak
Pasal 31E
Laba/Rugi Setelah Pajak
Pajak dipotong PT. IMS
Laba/Rugi Setelah Pajak
Tahun Tahun
2012 Rp 31.402.000 2012 Rp 31.402.000
2013 Rp 11.509.380,75 2013 Rp 9.498.298,16*
2014 Rp (4.712.000) 2014 Rp (7.962.662,50)
*Laba/Rugi pada periode Januari – Juni dan periode Juli – Desember telah digabungkan.
Setelah melakukan penghitungan untuk pembandingan sebelum dan sesudah adanya pajak Peraturan Pemerintah no. 46 maka dapat disimpulkan :
1. Dasar pengenaan pada pajak Pasal 31E dikenakan pada laba neto atau laba sebelum pajak, kemudian Peraturan Pemerintah no. 46 dikenakan pada laba bruto atau omzet.
2. Dalam Peraturan Pemerintah No. 46 bila adanya kerugian pada perusahan maka pemotongan akan tetap dilakukan karena dihitung dari peredaran brutonya.
3. Pada tahun 2013 (Juli – Desember) dan 2014 PT. IMS mengalami kerugian dan jumlah kerugian bertambah dikarenakan pemotongan dari Peraturan Pemerintah No. 46
SIMPULAN DAN SARAN
simpulan
Dari hasil penelitian, pembahasan dan analisis yang telah dilakukan oleh penulis berdasarkan Laporan Keuangan Laba (Rugi), Pajak Penghasilan Pasal 23, 31E dan Peraturan Pemerintah no. 46 pada PT IMS di Tahun 2012, 2013 dan 2014, Maka penulis dapat menyimpulkan sebagai berikut:
1. Dalam penerapan pengenaan pajak penghasilan pasal 23, PT.IMS tahun 2012,2013, dan 2014 telah sesuai dengan peraturan perpajakan yang berlaku yaitu Undang – Undang No. 36 Tahun 2008
2. Sejauh ini Peraturan Pemerintah No.46 merugikan pihak perusahaan (PT. IMS) bila dibandingkan dengan peraturan sebelumnya yaitu Pasal 31E.
3. PT.IMS belum mengajukan Surat Keterangan Bebas (SKB) yang disahkan oleh Direktur Jenderal Pajak No.
PER - 32/PJ/2013 untuk keringanan pembayaran pajak ganda yaitu Pajak Penghasilan 23.
4. Penyetoran dan pelaporan yang dilakukan oleh PT IMS sudah tepat waktu dalam pelaksanaannya, sehingga tidak dikenakan sanksi administrasi dan dapat menghemat sumber daya perusahaan.
Saran
Berdasarkan kesimpulan yang telah penulis uraikan diatas, maka diberikan saran – saran yang bermanfaat bagi pihak – pihak yang berkepentingan, khususnya bagi PT. IMS, yaitu:
1. Perusahaan harus terus mengikuti perkembangan perpajakan di Indonesia karena peraturan dalam bidang perpajakan senantiasa mengalami perubahan dan pembaharuan, juga harus mengadakan training atau pelatihan pajak bagi direktur atau karyawan yang membuat / menyusun laporan keuangan.
2. Dalam hal ini pemerintah seharusnya melakukan perubahan pada Peraturan Pemerintah No. 46 khususnya pada ketentuan mengenai pemotongan yang dilakukan pada perusahaan yang sedang mengalami kerugian sehingga perusahaan terhindar dari pembayaran pajak.
3. Perusahaan harus mengajukan Surat Keterangan Bebas (SKB) yang disahkan oleh Direktur Jendral Pajak No. PER - 32/PJ/2013 bagi perusahaan yang dikenakan pajak Peraturan Pemerintah No. 46 untuk pembebasan pembayaran Pajak Penghasilan Pasal 23.
4. Agar PT. IMS mempertahankan dalam melaksanakan kewajiban perpajakan yang sudah baik sehingga terhindar dari sanksi pajak.
REFERENSI
Burton, Richard dan Wirawan B. Ilyas. (2011). Hukum Pajak Edisi 6 Jakarta:
Salemba Empat.
Casavera. (2009). Perpajakan. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Klun, Maja. (2012). Slovenian Income Taxes And Analysis Of Their Tax Expenditure. Slovenia: University of Ljubljana.
Mardiasmo. (2011). Perpajakan Edisi Revisi 2011. Yogyakarta: Andi.
Mikhled, Saeed. (2013). Theoretical and Analytical Study of Tax Law in Jordan According to the: Income Tax and Sales Tax and Its Relationship with Revenues and Tax Evasion. Jordan: Amman University.
Murtopo, Purno. (2011). Perpajakan Pendekatan Sertifikasi A-B-C. Jakarta: Mitra Wacana Media.
Murtopo, Purno. (2011). Perpajakan Pendekatan Sertifikasi A-B-C. Jakarta: Mitra Wacana Media.
Ortax. (2013). Pajak Penghasilan Atas Dari Usaha Yang Diterima Atau Diperoleh Wajib Pajak Yang Memilikie Peredaran Bruto Terentu. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 46, diakses 12 Juni 2013 dari http://www.ortax.org
Ortax. (2014). Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007. Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.
Ortax. (2014). Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 Perubahaan Kempat atas Undang- undang Nomor 7 Tahun 1983. Tentang Pajak Penghasilan
Siahaan, P Marihot. (2010). Hukum Pajak Material. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Tobagus Makmun (2013. Apa Dan Bagaimana Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 Tentang Pengenaan PPh Final Bagi Wajib Pajak Dengan Penghasilan Dibawah 4,8 Miliar. Penyuluhan Peraturan Pemerintah Nomor 46 September 2013, diakses 19 September 2013 dari http://slideshare.net
Waluyo (2012), Perpajakan Indonesia Edisi 10 Buku 1, Jakarta: Salemba Empat
RIWAYAT HIDUP
Julian Lazuardi Akbar lahir di kota Jakarta pada 7 Juli 1992. Penulis menamatkan pendidikan S1 di Universitas Bina Nusantara dalam bidang Akuntansi pada tahun 2015.