5 2.1 Tinjauan Umum
Secara praktis proyek Tugas Akhir yang penulis kerjakan akan menggambarkan penjelasan sederhana tentang subjek, pembelajaran, dan pekerjaan di bidang desain komunikasi visual di Indonesia melalui sebuah buku berjudul Visual Tour.
Visual Tour adalah proses yang penulis akan gambarkan melalui pendekatan produk jadi dari hasil proses desain komunikasi visual yang sering ditemui sehari- hari seperti produk minuman, makanan, majalah, program televisi, kemasan, rambu jalan, dan mall agar lebih mudah diidentifikasi. Buku ini diharapkan mampu menjelaskan pemahaman yang buram akan bidang desain komunikasi visual.
Penulis akan mendapatkan data proyek Tugas Akhir yang dikerjakan untuk dianalisis melalui:
2.1.1 Dokumen
a. Majalah Versus Issue 03 tahun 2009: Pendidikan DKV Indonesia b. Majalah Concept Volume 02 Edisi 11, 2006: Manual vs Digital
c. Buku Tinjauan Desain Grafis tahun 2010 oleh Arief Adityawan S. &
Tim Litbang Concept.
d. Buku Becoming Graphic Designer 2006 oleh Steven Heller
e. Buku GO: A Kidd’s Guide to Graphic Design 2013 oleh Chip Kidd f. Artikel “Bukamata” tahun 2011 oleh Surianto Rustan di
http://dgi-indonesia.com/bukamata/
g. Artikel “Beberapa Permasalah dalam Perkembangan Pendidikan Tinggi DKV di Indonesia” tahun 2007 oleh Arief Adityawan S. di http://dgi-indonesia.com/beberapa-permasalahan-dalam-
perkembangan-pendidikan-tinggi-dkv-di-indonesia/
h. Artikel “What is Graphic Design” tahun 1993 oleh Sharon Helmer Poggenpohl di American Institute of Graphic Arts http://www.aiga.org/guide-whatisgraphicdesign/
i. Artikel “Desain Komunikasi Visual” tahun 2009 oleh Lizard Wijanarko di ahlidesain.com
http://www.ahlidesain.com/desain-komunikasi-visual.html
j. Artikel “Jurusan Desain Komunikasi Visual, Keren sih, tapi apaan…”
tahun 2013 oleh Bagus Prasetyo di
http://scumbagoes.wordpress.com/2013/09/08/jurusan-desain- komunikasi-visual-keren-sih-tapi-apaan/
k. Artikel “8 FAQ Mengenai Jurusan Perkuliahan DKV (Desain Komunikasi Visual)” tahun 2013 oleh Gostaf Norista di http://gostaf.heck.in/8-faq-mengenai-jurusan-perkuliahan-dkv-d.xhtml l. Artikel “Apa Itu DKV?” tahun 2013 oleh Anita Kartini di
http://www.anni3.com/2013/02/apa-itu-dkv.html#.Uv8_NEKSx8w m. Survei kualitatif pada penggambaran bidang DKV yang
dikomunikasikan oleh perguruan tinggi melalui pencarian Google dengan kata kunci “Desain Komunikasi Visual” pada halaman 1-3 seperti Institut Teknologi Bandung, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Institut Kesenian Jakarta, Universitas Trisakti, BINUS University, Universitas Pelita Harapan, Universitas Tarumanegara, Telkom University, Universitas Esa Unggul, Universitas Multimedia Nusantara, Universitas Negeri Semarang, Universitas Paramdina, Institut Teknologi Surabaya, UPN Veteran Jawa Timur, Universitas Sebelas Maret, Institut Teknologi Nasional, Universitas Komputer Indonesia, dan Universtias Esa Unggul melalui website-nya masing- masing.
2.1.2 Lapangan
a. Survei kualitatif dan kuantitatif pada rak buku bertema “Desain Grafis” atau “Graphic Design” pada toko buku Gramedia, Aksara, dan Kinokuniya di Jakarta.
b. Menganalisa pola peningkatan minat terhadap desain komunikasi visual dan desain grafis melalui Google Trends dengan kata kunci
“Desain Komunikasi Visual”, “Desain Grafis”, dan “Pengertian Desain” http://bit.ly/1mitJ4X
2.1.3 Narasumber
a. Survei kuantitatif dan kualitatif pada 147 mahasiswa DKV semester 1-8 di BINUS University, Institut Kesenian Jakarta, Universitas Pelita Harapan, Institut Teknologi Bandung, dan Institut Seni Indonesia Yogyakarta. 89% mahasiswa DKV di Indonesia pernah mengalami kesulitan dalam menjelaskan DKV kepada masyarakat awam, terutama paling banyak kasusnya ada pada keluarga, lalu diikuti dengan secara orant torang tua, orang asing, teman, klien, dan rekan kerja. Dari hasil survei tersebut, ditemukan bahwa ada beberapa pertanyaan yang sangat vokal dilontarkan oleh masyarakat umum berkaitan dengan pemahamannya terhadap DKV: “DKV itu apa?”,
“DKV itu nanti kerjanya apa?”, “DKV itu belajar apa aja?”, “DKV itu cuman gambar aja?”, dan “Buat apa kuliah DKV”
b. Survei kuantitatif dan kualitatif pada orang tua mahasiswa DKV semester 2 di BINUS University, Institut Kesenian Jakarta, Universitas Pelita Harapan, Institut Teknologi Bandung, dan Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
c. Wawancara dengan Bapak Surianto Rustan, penulis artikel
“Bukamata”.
2.2 Tinjauan Khusus
2.2.1 Ketidakimbangan Antara Keinginan dan Inisiatif
Pekerjaan atau profesi di bidang kreatif terdengar dan terlihat menggiurkan bagi banyak anak muda saat ini, berbagai faktor bisa jadi pemicunya, mulai dari gambaran pola hidup dan kerja bidang kreatif yang cenderung tidak kaku, gambaran kebanggaan akan kemampuan berkesenian dan berkreasi, hingga gambaran pola pembelajaran yang seakan-akan jauh dari matematika dan sains.
Bapak Hastjarjo B. Wibowo mengatakan pada artikel Mengkritik Pendidikan DKV di Indonesia di Majalah Versus edisi 03 tahun 2009, bahwa:
Pertumbuhan pendidikan DKV tersebut tidak lepas dari perkembangan teknologi dan media informasi maupun gaya hidup.
Hampir semua sektor seperti konsumsi, hiburan, media, infrastruktur, properti, keuangan, pendidikan dan sebagainya membutuhkan sentuhan desainer komunikasi visual. Fenomena ini yang membuka peluang tumbuhnya profesi-profesi baru terkait dengan DKV yang pada akhirnya mendingkatkan perminataan akan jasa pendidikan DKV. Jika dulu seseorang bercita-cita keren menjadi dokter, insinyur, dan pilot namun sekarang di era ekonomi kreatif profesi-profesi di bidang kreatif mulai menjadi pilihan utama. Menjadi musisi, penulis, DJ, film maker, animator, dan desainer komunikasi visual menjadi salah satu pilihan profesi favorit saat ini di samping banyak profesi di bidang kreatif lainnya.
Kondisi booming Pendidikan DKV di Indonesia saat ini belum diimbangi dengan ketersediaan referensi pembelajaran pengantarnya.
Referensi pembelajaran seperti publikasi buku dan artikel yang terpercaya dan memberi gambaran jelas tentang bidang DKV di Indonesia saat ini masih terbilang sedikit jumlahnya dan cenderung tidak sederhana, menarik untuk dibaca, dan mudah dipahami bagi peminat pembelajar DKV, terutama mereka yang memiliki minat baca rendah.
Merangkum dari artikel “Bukamata” oleh Rustan (2011) di http://dgi- indonesia.com/bukamata/ , topik-topik yang dibutuhkan untuk mendapat gambaran yang lebih jelas tentang bidang DKV yaitu:
a. Apa itu desain grafis?
b. Siapa itu desainer grafis?
c. Lapangan pekerjaan desainer grafis d. Mitos dan Fakta di bidang desain grafis
2.2.2 Kebutuhan akan Publikasi Gambaran Jelas yang Sederhana, Menarik Dipelajari, dan Mudah Dipahami
Saatchi (2011:15) mengatakan bahwa:
Tanpa menulis, setiap generasi harus memulai semuanya dari awal.
Filsuf tidak akan mempunyai Plato; Ahli matematika tidak mempunyai Newton; Ilmuwan tidak mempunyai Enstein; Aktor tidak mempunyai Shakespeare. Dan penerus-penerusmu tidak akan tahu dimana kamu dikubur. Atau dimana kamu hidup. Tapi yang paling penting, kita tidak akan bisa bertemu di halaman ini sekarang.
Dengan adanya publikasi, setiap generasi desainer di Indonesia mempunyai bahan bakar untuk berkembang lebih baik dari generasi sebelumnya. Semakin banyak publikasi, semakin mampu untuk berkembang.
Zeegen (2005:17) menjelaskan bahwa:
Membawa hidup dan rupa visual pada sebuah teks atau pesan adalah peran seorang ilustrator. Ilustrator yang terbaik dalam bidangnya menggabungkan pemikiran analitis yang pintar dengan keahlian praktik yang baik untuk menciptakan gambar yang mempunyai sesuatu untuk disampaikan, dan cara juga makna untuk menyampaikannya.
Gambaran diibaratkan adalah sebuah peta. Apabila petanya jelas, maka akan menjadi mudah bagi kita untuk menentukan arah tujuan, dan mengetahui secara sadar proses yang sedang kita jalani. Begitu pula dengan bidang DKV. Apabila peminat dan orang tua peminat memiliki gambaran yang jelas tentang bidang DKV, maka akan mudah bagi peminat untuk memantapkan tujuannya dan memiliki pemicu untuk berusaha sesungguh- sungguhnya untuk terus mengembangkan potensi dirinya dalam menjalani serangkaian proses pembelajaran.
Johson (2002:10) menambahkan bahwa komunikator dahulu mempelajari bahwa untuk membuat pelanggan mereka berdiri dan memperhatikan pesannya, intensitas keterkejutan akan mungkin membantu.
Akan lebih mudah lagi apabila gambaran tersebut disampaikan dengan sederhana agar tidak membuang waktu dalam membacanya, menarik
dipelajari agar menumbuhkan minat baca bagi mereka yang tidak berminat, dan mudah dipahami agar memicu rasa ingin tahu untuk mempelajari lebih dalam.
2.2.3 Keindahan Meningkatkan Ketertarikan Pemahaman Lidwell (2003:18) menjelaskan bahwa:
Desain yang estetis akan lebih diterima sebagai sesuatu yang mudah digunakan dibanding desain yang kurang estetis. Desain yang estetis terlihat mudah untuk digunakan dan mempunyai kemungkinan lebih besar untuk digunakan, lepas dari faktor apakah desain tersebut mudah atau tidak digunakan.
Gambaran jelas tentang bidang DKV akan lebih menarik dipelajari dan mudah dipahami apabila komunikasi digambarkan dengan indah.
Penggambaran dapat dilakukan dengan mengkomunikasikannya melalui ilustrasi grafis, fotografi, tipografi, dan teknis grafis lainnya.
2.3 Target Audiens
2.3.1 Geografis
• Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Semarang, dan Jakarta
2.3.2 Demografis
• Pria dan wanita
• Usia 18-23 tahun
• Status ekonomi atas dan menengah (A-B)
• Calon mahasiswa desain komunikasi visual 2.3.3 Psikografis
• Berminat untuk mempelajari bidang desain komunikasi visual
• Berminat untuk meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi desain komunikasi visual
• Baru mulai mengenyam pendidikan desain komunikasi visual
• Pemahamannya masih buram tentang bidang desain komunikasi visual
• Tidak bisa menyampaikan dengan jelas kepada orang tua tentang bidang desain komunikasi visual
• Memiliki minat baca sedang 2.4 Analisa SWOT
Strength :
• Sederhana dalam menggambarkan jelas tentang bidang desain komunikasi visual
• Menarik untuk dipelajari bagi mereka yang kurang suka membaca
• Mudah dipahami penjelasannya melalui infografis
• Memotivasi untuk memantapkan tujuan dalam menekuni bidang desain komunikasi visual
Weakness :
• Tidak menghadirkan pemaparan mendalam mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pembelajaran bidang desain komunikasi visual
Opportunity :
• Belum ada media publikasi di Indonesia yang menyampaikan penggambaran jelas tentang bidang desain komunikasi visual dengan sederhana dan informatif.
• Menjembatani pengertian akan keinginan calon mahasiswa untuk menekuni bidang DKV dengan orang tua calon mahasiswa
• Menjadi pemahaman dan motivasi calon mahsiswa DKV untuk menentukan tujuannya dalam menekuni bidang desain komunikasi visual
Threat :
• Keengganan orang tua calon mahasiswa DKV untuk mau belajar hal baru
• Rasa cepat puas pada calon mahasiswa yang tidak menumbuhkan rasa ingin tahu untuk memahami lebih lanjut tentang bidang desain komunikasi visual