• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bunga Rampai Cakrawala Penafsiran Ilmu-ilmu Budaya Editor: Yulia Nasrul Latifi, dkk

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Bunga Rampai Cakrawala Penafsiran Ilmu-ilmu Budaya Editor: Yulia Nasrul Latifi, dkk"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

-ưǠɋȏȵيژ

äɓǹǠƌژwƌȽȵɓǹژkƌɋǠ˟ًژưǵǵِ

¥ƷȄǒǚȏȵȂƌɋƌȄژ¥ɓȵȄƌژ¾ɓǒƌȽژژ

%ȵِژODZِژ°ǠɋǠژuƌȵɲƌȂًژuِǒِ

°ƷȵǠژ

ɓȄǒƌژ

¨ƌȂȲƌǠ

*-.6*-.6

#6%":"

ƌǵȵƌɬƌǹƌژ¥ƷȄƌǑȽǠȵƌȄ

(3)
(4)

*-.6*-.6

#6%":"

(5)

Bunga Rampai Cakrawala Penafsiran Ilmu-ilmu Budaya- Yulia Nasrul Latifi, - Cet 1- Idea Press Yogyakarta, Yogyakarta 2022-- xxxvi + 574 hlm--15.5 x

23.5 cm

ISBN: 978-623-484-036-0

1. Sejarah 2. Sastra 3. Judul

@ Hak cipta Dilindungi oleh undang-undang

Memfotocopy atau memperbanyak dengan cara apapun sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa seizin penerbit, adalah tindakan tidak bermoral dan melawan hukum.

Bunga Rampai Cakrawala Penafsiran Ilmu-ilmu Budaya Editor: Yulia Nasrul Latifi, dkk.

Penulis: Maharsi, Himayatul Ittihadiyah, Nurul Hak, Sujadi, Zuhrotul Latifah, Muh. Syamsuddin, Siti Maimunah, Fuad Arif Fudiyartanto, M. Ainul Yaqin, Mochamad Sodik, Zuhdi Muhdhor, Khairon Nahdiyyin, Imam Muhsin, Mardjoko, Musthofa, Umi Nurun Ni’mah, Tika Fitriyah, Moh. Kanif Anwari, Nurain, Aning Ayu Kusumawati, Dwi Margo Yuwono, Ulyati Retno Sari, Nadia Rifka Rahmawati, Marwiyah, Desy Setiyawati, Anis Masruri, Laila Safitri, Arina Faila Saufa, Ridwan Rizaldi Pratama, Andriyana Fatmawati, Ellya Ayu Meita Sari, Muhammad Bagus Febriyanto, Muhammad Wildan, Hj. Luthvia Dewi Malik, Hj. Fatma Amilia, Ibnu Burdah, Hj. Ida Fatimah Zaenal, H. Ahmad Fatah, Ema Marhumah, Mardjoko Idris, Hj. Habibah Musthofa, Siti Rohaya, Dailatus Syamsiyah, Dwi Ratnasari, Febriyanti Lestari, Ida Uswatun Hasanah.

Setting Layout: Nashi Desain Cover: A. Mahfud Cetakan Pertama: November 2022 Penerbit: Idea Press Yogyakarta Diterbitkan oleh

Penerbit IDEA Press Yogyakarta

Jl. Amarta Diro RT 58 Pendowoharjo Sewon Bantul Yogyakarta Email: [email protected]/ [email protected]

Anggota IKAPI DIY No.140/DIY/2021 Copyright @2022 Penulis Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

All right reserved.

CV. IDEA SEJAHTERA

(6)

xxxiii

daFtar iSi

Pengantar Editor ... iii

Sambutan Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ... ix

Sambutan Dekan FADIB UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ... xi

Sambutan Kaprodi SKI FADIB UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ... xiii

Sambutan Guru Besar SKI FADIB UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ... xv

Sekilas Biografi dan Jejak Ibu Dr. Hj. Siti Maryam, M. Ag ... xvii

Daftar Isi ... xxxiii

BAGIAN I: KAJIAN SEJARAH ... 1

Kasultanan Demak Bintara dan Mataram Islam: Hijrah dari Mekah ke Madinah Maharsi ... 3

Masjid Agung Kota Purworejo: Memori dan Imajinasi Zaman Kemakmuran di Era Kolonial Himayatul Ittihadiyah ... 17

Etnis Al-Mawali dalam Peradaban Islam Periode Klasik Nurul Hak ... 35

Sekapur Sirih: Islamofobia di Perancis dan Jerman Sujadi ... 59

Syaikh Sulaiman Ar-Rasuli: Penjaga Ajaran Ahl Al-Sunnah wa Al-Jamâ’ah Di Minangkabau (1908-1970 M) Zuhrotul Latifah ... 69

Khazanah Islam di Pulau Madura Muh. Syamsuddin ... 93

(7)

Pendekatan Fenomenologi dalam Penelitian Sosial

Siti Maimunah ... 127 A Historical Analysis of Australian Higher Education:

Transformation from Elite Institutions into Modern Academia

Fuad Arif Fudiyartanto ... 153 Kebijakan Pendidikan Tinggi era Orde Baru

dalam Perspektif Sejarah

M. Ainul Yaqin ... 171 Ibu Siti Maryam: Damai dalam Budaya

Mochamad Sodik ... 227 Sambutan Buku Damai dalam Budaya Karya Dr. Hj. Siti Maryam, M.Ag.: Hanya Allah yang Mengetahui Hakikat Kebenaran

Zuhdi Muhdhor ... 231 BAGIAN II: KAJIAN KEALQUR’ANAN, BAHASA,

DAN TERJEMAH ... 237 Kisah Penciptaan dalam Perspektif Aktansial

Khairon Nahdiyyin ... 239 Harmoni dalam Keragaman Budaya: Perspektif Tafsir al-Qur’an

Imam Muhsin ... 259 Konsep Amar Ma’ruf Nahi Munkar dalam Tafsir al-Munir Karya Wahbah al-Zuhaili (Studi Analisis Teori Hermeneutika Paul Ricouer)

Moh. Habib ... 277 Kalimat Imperatif Berfungsi Sebagai Do’a

Mardjoko ... 293 Memahami Makna Kata “ad-Din” (Agama)

Musthofa ... 307 Kritik Terjemah Puisi “Qifā Nabki” Umru’ al-Qāis

Umi Nurun Ni’mah & Tika Fitriyah ... 335

(8)

Cakrawala Penafsiran Ilmu-ilmu Budaya | xxxv BAGIAN III: KAJIAN SASTRA ... 357 Sastra Arab dan Tantangan Kontemporer

(Perspektif Karya, Sejarah dan Media)

Moh. Kanif Anwari ... 359 Potret Perempuan Arab dalam al-Arwa>h al-Mutamarridah

Nurain ... 373 Penulisan Perempuan dan Bahasa Perempuan dalam Puisi

“Aku Hadir” Karya Abidah el Khalieqy (Analisis Ginokritik)

Aning Ayu Kusumawati ... 387 Humanisme Islam dalam Karya Barat: Studi Kasus Novel

“Lamb to The Slaughter” Karya Road Dahl

Dwi Margo Yuwono ... 403 Dua Bentuk Cerita pada Cerpen Akhir Malam Pelukis Tayuh

Ulyati Retno Sari ... 423 BAGIAN IV: KAJIAN PERPUSTAKAAN ... 433 Perpustakaan dan Pemberdayaan Masyarakat Lansia:

Studi Kasus pada Taman Bacaan Masyarakat “Beteng Cendekia”

Kecamatan Tridadi Kabupaten Sleman

Nadia Rifka Rahmawati, Marwiyah ... 435 Strategi Komunikasi Ilmiah dalam Pemanfaatan Repositori Institusi di Universitas Muhammadiyah Gombong

Desy Setiyawati & Anis Masruri ... 453 Evaluasi Kualitas Layanan Perpustakaan Menggunakan

Metode Libqual+TM: Studi pada Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta

Laila Safitri & Arina Faila Saufa ... 489 Peranan Perpustakaan dalam Preservasi Pengetahuan Naskah Kuno di Perpustakaan Museum Radya Pustaka Surakarta

Ridwan Rizaldi Pratama, & Andriyana Fatmawati ... 501 Peran Pustakawan dalam Meningkatkan Jasa Layanan kepada Pemustaka di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman pada Masa Pandemi Covid-19

Ellya Ayu Meita Sari & Muhammad Bagus Febriyanto ... 515

(9)

TESTIMONI: DOSEN, KOLEGA, SAHABAT

DAN MAHASISWA ... 533 Testimoni; Bu Maryam yang Aku Kenal

• Dr. Muhammad Wildan, MA ... 535 Testimoni Tentang Profil Dr. Hj. Siti Maryam Machasin

• Hj. Luthvia Dewi Malik ... 537 Dr. Hj. Siti Maryam Machasin, M.Ag.; Sosok yang Cerdas, Tegas, Baik, Kreatif, Pemberani, Konsisten dan Teguh Pendirian

• Hj. Fatma Amilia, S.Ag., M.Si. ... 538 Catatan Mahasiswa Debat al-Mothoyat untuk Bu Maryam

• Prof. Dr. Ibnu Burdah (Penghimpun) ... 543 Testimoni Untuk Sosok Ibu Dr. Hj. Siti Maryam, M.Ag.

• Hj. Ida Fatimah Zaenal, M.Si. ... 548 Testimoni untuk Ibu Dr. Hj. Siti Maryam, M.Ag.

• Dr. H. Ahmad Fatah, M.Ag. ... 551 Sang Pelopor Gerakan Perempuan Berbasis Keilmuan

di Kalangan Nahdlatul Ulama

• Prof. Dr. Ema Marhumah ... 555 Testimoni untuk Ibu Dr. Hj. Siti Maryam, M.Ag.

• Dr. Mardjoko Idris ... 559 Persahabatan dan Persaudaraan Saklawase

• Dra. Hj. Habibah Musthofa, M.Si. ... 561 Testimoni Untuk Ibu Dr. Siti Maryam, M.Ag.

• Siti Rohaya, M.Si ... 565 Sahabat dalam Keterbatasan

• Dr. Dailatus Syamsiyah, S.Ag, M.Ag ... 567 Sosok Ibu Dr. Hj. Siti Maryam, M.Ag.

• Dr. Dwi Ratnasari, S.Ag., M.Ag ... 570

“Exceptional Woman, A Muslima”

• Febriyanti Lestari, M.A ... 571 Merawat Semesta

• Dra. Ida Uswatun Hasanah, M. Pd. ... 573

(10)

17

Masjid agung Kota Purworejo

(Memori dan imajinasi Zaman Kemakmuran di era Kolonial)

Oleh: Himayatul Ittihadiyah

Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta [email protected]

Pendahuluan A.

Historiografi kolonial sejauh ini telah menciptakan begitu banyak narasi hitam-putih yang penuh luka dan menyayat hati yang seringkali melahirkan dendam sejarah dan justru menenggelamkan tujuan utama dari belajar sejarah itu sendiri, yaitu menemukan fakta- fakta di masa lampau untuk menciptakan kesadaran masa kini guna merencanakan masa depan yang lebih baik. Tujuan itu hanya dapat dilakukan dengan cara menerima pengalaman demi pengalaman dari masa lampau dengan pengetahuan yang terus menerus diperbaharui.

Narasi sejarah konvensional kita juga cenderung berhenti menempatkan antara Islam dan kolonialisme sebagai dua kutub yang saling berlawanan secara diametral, padahal dalam kenyataannya Islam adalah subjek peradaban yang terus-menerus beradaptasi mengikuti gerak sejarah yang sedang berlangsung dalam situasi apapun dan di manapun. Masjid sebagai sebuah situs sejarah bukan hanya dapat dijelaskan sebagai tempat diselenggarakannya ritual ibadah bagi umat Islam, namun juga mampu menjelaskan representasi dan proses adaptasi peradaban Islam dari zaman tertentu, termasuk zaman kolonial Hindia Belanda. Sebagai sebuah bangunan bersejarah, masjid adalah karya monumental yang di satu sisi merepresentasikan kekuasaan namun di sisi yang lain juga melahirkan peradaban yang sekaligus menjadi bentuk dari pengabdian sebuah generasi umat manusia.

(11)

Dalam sebuah masyarakat kolonial sudah pasti banyak pengetahuan yang dikonstruksi oleh peradaban kolonial. Oleh karena itu apa yang mereka ciptakan adalah bentuk kesadaran dan pengabdian dari alam pikiran dan kesadaran lokal yang berkontestasi dengan ide-ide kolonial. Masjid Agung Darul Muttaqin adalah salah satu ikon zaman baru yang dibangun untuk mendukung gagasan Kota Purworejo, zaman yang coba diimajinasikan oleh sang bupati pertama sebagai awal zaman kemakmuran; bentuk pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat pada waktu itu, demikian juga kesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat di masa yang akan datang.

Purworejo sendiri adalah sebuah nama baru yang diciptakan (atau mungkin ditemukan kembali) oleh sang bupati untuk memproduksi memori kolektif masyarakat dalam rangka menciptakan prakondisi untuk menghadapi zaman baru yang diimajinasikan penuh harapan akan kehidupan yang makmur dan sejahtera, setelah sebelumnya berhasil melampaui zaman perang.

Nama Kota Purworejo sendiri diresmikan 1 tahun setelah selesainya Perang Jawa, tepatnya pada tanggal 28 Februari Tahun 1831 M, yang dalam catatan Arsip Kolonial Hindia Belanda menunjukkan adanya perubahan nama dari Brengkelan menjadi Purworejo untuk ibukota kabupaten (Arsip Karesidenan Bagelen 5/10, hlm.

3), sebagaimana juga dikutip oleh Peter Carey (Carey; 2017, hlm.

266). Peristiwa tersebut bersamaan dengan pengangkatan R.A.A.

Cokronegoro sebagai bupati pertama oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda; jabatan tertinggi bagi seorang pribumi pada waktu itu.

Dengan jabatan tersebut sang bupati menjadi seorang penguasa baru di Bagelen, ia menjadi subjek kuasa kedua setelah pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Dengan kekuasaan tersebut ia berupaya menciptakan (merekayasa) memori kolektif masyarakat Bagelen melalui gagasan imajinatif tentang zaman kemakmuran.

Penciptaan memori dan imaginasi tentang zaman kemakmuran itu sendiri memerlukan simbol-simbol penting untuk mendukung dan menunjukkan adanya ciri-ciri kemakmuran yang dimaksud, oleh karena itu perlu didukung dengan bukti-bukti artifisial dan monumental berupa fasilitas-fasilitas atau infrastruktur yang sesuai

(12)

Cakrawala Penafsiran Ilmu-ilmu Budaya | 19 ide dan gagasan tersebut. Selain dibangunnya berbagai infrastruktur bangunan baru berupa saluran irigasi, jalur transportasi, institusi pendidikan, dan juga alun-alun kabupaten, masjid agung adalah infrastruktur kebudayaan yang tidak kalah penting, terutama bagi masyarakat islam yang pada saat itu sedikit banyak merepresentasikan kalangan pesantren sebagai subjek yang banyak terlibat sebagai pendukung Pangeran Diponegoro, salah satu subjek penting yang terabjeksi dari kekuasaan, sebaliknya bagi sang bupati sendiri sebagai penguasa baru memerlukan dukungan dari kalangan pesantren yang juga harus ditentramkan, karena sebagian dari mereka sedang mengalami kekecewaan, kesedihan, dan tentu juga kemiskinan akibat perang yang berkepanjangan. Menghadirkan arsitektur yang megah seperti masjid agung, secara historis akan menjadi simbol rekonsiliasi sejarah bagi umat Islam yang sebelumnya berseberangan atau bahkan berkonflik karena perbedaan pilihan di masa perang. Dalam hal ini apa yang dilakukan sang bupati pada dasarnya adalah proses reproduksi pengetahuan dari masa lampau yang kemudian mengantarkannya kepada kekuasaan baru. Dari kekuasaan tersebut melahirkan kesadaran baru sebagai hasil dari proses kontestasi dan adaptasi antara kesadaran Islam dan pengetahuan kolonial, yang hadir dalam bentuk bangunan Masjid Agung Purworejo, sebagai media menciptakan memori dan imajinasi masyarakat tentang zaman kemakmuran.

Dengan segenap kontroversi yang ada antara imajinasi zaman kemakmuran dan narasi sejarah kesengsaraan rakyat di bawah kebijakan Tanam Paksa (cultuurstelsel), kekuasaan sang bupati R.A.A.

Cokronegoro I yang didukung oleh pemerintah Kolonial Hindia Belanda telah berhasil memproyeksikan Masjid Agung Purworejo menjadi sebuah monumen bersejarah yang akan terus diingat oleh generasi-generasi sesudahnya sebagai ikon zaman kemakmuran.

Pertanyaannya adalah, pengetahuan dan pengalaman apa sajakah yang digunakan oleh R.A.A. Cokronegoro untuk membangun memori dan imaginasi kolektif masyarakat Bagelen tentang zaman kemakmuran?

Mengapa dan bagaimana ia mewujudkan Masjid Agung sebagai salah satu Ikon zaman kemakmuran?

(13)

Kerangka analisis penelitian ini mengacu kepada konsep waktu sejarah sebagai memori dan imaginasi yang diadaptasi dari pandangan Michel Foucault tentang pengetahuan dan kekuasaan, dua hal yang tidak dapat dipisahkan, karena keduanya saling terintegrasi satu sama lain (Foucault, 1980, hlm. 52). Masjid Agung Purworejo adalah representasi dari pengetahuan dan kekuasaan sang bupati pertama untuk menciptakan memori kolektif masyarakat melalui imajinasi zaman kemakmuran, sebuah gagasan yang dibentuk oleh pengetahuan yang berasal dari masa lampau yang diretroduksi untuk masa depan. Kekuasaan yang dibangun oleh Cokronegoro di Bagelen pasca Perang Jawa, adalah akumulasi hasil dari proses reproduksi pengetahuan yang diperoleh selama berkarir di bawah kekuasaan Kasunanan Surakarta hingga kemudian menemukan relasi kuasa barunya bersama Pemerintah Kolonial Hindia Belanda.

Diawali dari karir jabatan pertamanya sebagai seorang mantri gladag, sebuah jabatan rendah yang bertugas untuk mengurusi tenaga kerja (semacam mandor kuli panggul) dari daerah Bagelen untuk diserahkan ke Keraton Kasunanan Surakarta, hingga meraih jabatan tertingginya sebagai bupati Purworejo yang pertama, Bupati Cokronegoro menggunakan pengetahuannya dari masa lampau dan kekuasaannya pada saat itu dengan meretroduksi masa depan sebagai zaman kemakmuran. Salah satu karya untuk mendukung gagasan tersebut diwujudkan dalam bentuk karya artefak monumental berupa Masjid Agung Purworejo, yang diberi nama “Darul Muttaqin”, yang berarti negeri orang-orang yang bertaqwa. Untuk dapat menghadirkan kembali peristiwa tersebut dalam bentuk narasi sejarah, penelitian ini berupaya merekonstruksi fakta-fakta mental dari sumber sejarah yang tersedia dengan menerapkan metode sejarah yang mengandalkan studi kepustakaan melalui sumber primer berupa babad dan arsip, dan karya-karya tulis terpublikasi sebagai sumber sekunder. Untuk melengkapi data tertulis yang masih sangat terbatas penelitian ini dan juga menggunakan metode sejarah lisan.

(14)

Cakrawala Penafsiran Ilmu-ilmu Budaya | 21 Pembahasan

B.

Pengalaman, Pengetahuan, dan Kekuasaan Sang Bupati 1.

Gagasan tentang pembangunan Masjid Agung Purworejo tidak dapat dilepaskan dari pengalaman dan pengetahuan sang bupati R.A. Cokronegoro di masa lampau, ketika menjalankan tugas-tugas penting sebagai abdi Keraton Kasunanan Surakarta (1805-1815).

Pengetahuan tersebut berperan penting dalam membentuk mental seorang Cokronegoro yang waktu itu masih menggunakan nama Mas Ngabei Resodiwiryo, abdi Kasunanan Surakarta dan kelak karirnya berubah, melesat menjadi seorang penguasa baru di Bagelen, seiring dengan berakhirnya Perang Jawa, perang yang telah mengantarkannya menjadi seorang bupati. Begitu menjabat sebagai Bupati Purworejo, Cokronegoro menjadi subjek kuasa tertinggi di kalangan pribumi, walaupun hanya menempati subjek kelas dua dalam struktur kuasa kolonial.

R.A.A. Cokronegoro I menjadi subjek kuasa kelas dua karena memperoleh jabatan sebagai bupati pertama atas pemberian pemerintah kolonial Hindia Belanda atas jasa-jasanya dalam membantu menumpas gerakan yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro, yang didukung oleh kiai-kiai pesantren di berbagai daerah di Jawa. Sebagai bupati yang baru dilantik, Cokronegoro segera mempersiapkan sejumlah agenda untuk membangun kekuasaannya dengan mengganti posisi Brengkelan dengan Kota Purworejo sebagai ibukota baru. Sang bupati segera memperkuat Kota Purworejo dengan memproduksi memori kolektif masyarakat Bagelen dalam gagasan imajinatif tentang sebuah kota yang makmur dan sejahtera. Imajinasi tersebut dibangun dengan segudang pengetahuan dan sederet pengalaman yang telah dilaluinya selama berkarir di Keraton Kasunanan Surakarta, Berbagai infrastruktur untuk mendukung zaman kemakmuran segera dibangun, salah satunya diwujudkan dalam bentuk Masjid Agung Purworejo. Pemilihan lokasi pembangunan masjid pun tidak lepas dari pengetahuan yang diadopsi dari struktur tata kota di Kasunanan Surakarta yang menempatkan masjid di sebelah barat alun-alun Kota Kasunanan Surakarta. Demikian juga Masjid Agung Purworejo juga dibangun di sebelah barat alun-alun kota Purworejo.

(15)

Jauh sebelum berkesempatan membangun Masjid Agung Purworejo, atau tepatnya sebelum mencapai puncak karir jabatannya sebagai Bupati, Cokronegoro adalah seorang mantri gladag, tugasnya adalah mengerahkan tenaga kerja dari daerah Bagelen untuk diserahkan sebagai tenaga kerja (barisan kuli panggul) di Keraton Kasunanan Surakarta. Ia memperoleh jabatan tersebut karena menggantikan jabatan sang ayah yang telah pensiun, Raden Ngabei (Ng.) Singowijoyo, seorang bangsawan daerah atau priyayi lokal di wilayah Bagelen yang sering disebut “kenthol” (Oteng Suherman.

2013; 6). Selama menjabat sebagai mantri gladag Resodiwiryo dikenal sebagai pekerja keras yang selalu menerima segala tugas yang diberikan oleh Sunan dengan tekun dan sangat teliti, sehingga karirnya pun cepat naik melampaui ayahnya, ia pun diangkat sebagai panewu gladag (Danusubroto, 2008), jabatan yang setingkat lebih tinggi dari mantri gladag sebagai coordinator yang cakupan wilayah kekuasaannya lebih luas. Jika seorang mantri hanya memiliki kekuasaan di level sebuah desa, panewu memiliki wewenang atas tenaga kerja di sejumlah desa.

Selama menjabat sebagai mantri gladag hingga menjadi panewu gladag, Ng. Resodiwiryo selalu diberi kesempatan untuk mengerjakan tugas-tugas tambahan, seperti mempelajari sistem pengairan, merawat binatang, dan juga pekerjaan-pekerjaan yang sulit lainnya, namun tampaknya Resodiwiryo selalu mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh Sunan dengan sungguh-sungguh, sehingga hasilnya pun selalu memuaskan, dan Sunan pun sering memberikan hadiah- hadiah yang sangat bernilai bagi Resodiwiryo. Hadiah-hadiah tersebut diberikan sebagai penghargaan atas kecakapannya dan sebagai ucapan terimakasih Sunan atas kesetiaan sang mantri.

Ketika menjalankan tugas-tugas tambahan di keraton tampaknya Resodiwiryo sangat terkesan dan sering memperhatikan bangunan-bangunan dan struktur tata kota Keraton Kasunanan Surakarta, di antaranya yang diperhatikannya adalah alun-alun dan bangunan Masjid Kasunanan Surakarta (Danusubroto, 2008).

Keindahan alun-alun dan bangunan Masjid Kasunanan Surakarta tersebut kemudian menginspirasinya untuk menciptakan hal yang sama pada saat ia menjabat sebagai Bupati Purworejo. Hal itu dapat

(16)

Cakrawala Penafsiran Ilmu-ilmu Budaya | 23 dilihat pada wujud fisik Masjid Agung yang dibangun di Purworejo yang tampak mirip sekali dengan masjid Agung yang berada di Keraton Surakarta; dengan atap Tajug Lawangan Mabang Teplok.

Atap bertumpang tiga, pada atap pertama disebut dengan Panilih, yang bermakna Syari’ah, atap kedua disebut sebagai penangkup, yang artinya tariqah, sedangkan atap ketiga adalah brunjung, yang artinya hakikat, juga terdapat mahkota yang bermakna ma’rifat.

Seluruh bangunan masjid Agung Purworejo menempati tanah seluas 1,050 meter persegi dengan luas bangunan kurang lebih 8, 25 meter persegi dengan lokasi bangunan masjid yang secara estetis sangat mendukung, karena dikelilingi oleh lanskap yang sangat bagus dan sesuai dengan penamaan Kota Purworejo yang merepresentasikan kota kemakmuran, ia dikelilingi oleh bukit, pegunungan, sawah-sawah dan sungai-sungai. Sebuah panorama yang sangat komplit dan secara fisik sangat menggambarkan zaman kemakmuran.

Apa yang diperhatikan dan dilakukan Resodiwiryo selama di Surakarta terakumulasi menjadi pengetahuan yang membentuk kesadaran-kesadaran baru tentang kekuasaan, tentang laku tirakat dan pengorbanan, dan juga perang. Apa yang dilakukannya adalah bentuk internalisasi dari pengalaman dan pengetahuan yang diperolehnya selama mengabdi yang kemudian diaktualisasikan dalam pilihan- pilihan atas keputusan-keputusan di masa-masa menjelang akhir perang hingga meraih jabatan politik tertingginya sebagai bupati pertama Kota Purworejo. Sejumlah pengalaman dan pengetahuan penting lainnya yang membentuk karakter Ngabei Resodiwiryo sebagai seorang pemenang adalah sebagai berikut:

Pengalaman sebagai

1. mantri gladag (mandor gilda kuli panggul), yaitu tentang bagaimana ia bertugas mengerahkan tenaga kerja manusia yang handal untuk kepentingan keraton Kasunanan Surakarta (Carey, 012;30, 2017;143), adalah pengalaman yang menghasilkan pengetahuan tentang ketelitian dan kerja keras yang di kemudian hari membentuk mental sebagai seorang pemenang. Pada saat itu tenaga kerja dari Bagelen paling diandalkan oleh Keraton Kasunanan Surakarta.

(17)

Pengalaman tentang bagaimana menjalankan pengabdian, 2. memberikan pelayanan kepada Sunan Surakarta sebagai sang patron bagi sang mantri sebagai kliennya yang setia. Hampir setiap pekerjaan yang diberikan Sunan selalu berhasil dan memuaskan, sehingga Sunan pun selalu memberi tugas-tugas penting sebagai tugas tambahan kepadanya, termasuk pada saat Perang Jawa, ia dipercaya untuk mendampingi Pangeran Kusumoyudo memimpin pasukan pembantu di Bagelen menghadapi pasukan Pangeran Diponegoro. Pengalaman tersebut membentuk mental sang petarung tentang bagaimana mengatasi perasaan menghadapi saudaranya seperguruannya pada saat perang. Seperti dijelaskan oleh Peter Carey bahwa Resodiwiryo dan Diponegoro pernah belajar kepada guru yang sama, yaitu Kiai Taptojani (Taftazani) di Pesantren Mlangi.

Pengalaman tentang bagaimana mengatasi masalah pengairan 3. di persawahan sejumlah desa di Boyolali, kawasan kekuasaan Kasunanan Surakarta. Keberhasilannya dalam bidang tersebut memberinya tambahan pengetahuan baru, sebagai seorang mantri gladag yang pekerjaannya hanya mengerahkan tenaga kerja kasar, berkembang ke bidang pengetahuan tentang pengelolaan sumber daya alam, khususnya dalam bidang pengelolaan sumber mata air dan distribusi air untuk persawahan. Pengalaman tersebut ia terapkan ketika kemudian menjabat sebagai Bupati Purworejo dengan membuka saluran irigasi “Kedung Putri” di Purworejo.

Pengalaman tentang kerasnya persaingan politik di internal 4.

keraton. Peristiwa penurunan jabatan yang dilakukan oleh sang patih Surakarta kepadanya, dari posisinya sebagai Panewu Gladag kembali ke posisi sebagai Mantri Gladag, telah mengantarkannya kepada sebuah keputusan ekstrim, yaitu mengundurkan diri dan memilih untuk menjalani laku tirakat yang dikenal dengan istilah ngluwat (tapa pendem), yaitu mengubur seluruh tubuhnya seperti penguburan orang yang sudah meninggal, namun diberi lobang untuk mengontrol kondisi si pelaku tirakat oleh sejumlah orang yang diberi

(18)

Cakrawala Penafsiran Ilmu-ilmu Budaya | 25 tugas untuk menjaganya selama 40 hari 40 malam. Pada zaman dahulu laku tirakat semacam itu banyak dilakukan oleh orang Jawa, terutama bagi mereka yang memiliki keyakinan dan ketetapan hati untuk mencapai tujuan tertentu.

Resodiwiryo termasuk orang yang berhasil menjalani laku tirakat yang berat tersebut demi menemukan ketenangan batin setelah merasa diperlakukan tidak adil oleh atasan yang menghambat karirnya.

Memori, Imajinasi, dan Legitimasi Zaman Kemakmuran 2.

Sebagaimana sudah disinggung di bagian pengantar bahwa Masjid Agung Purworejo adalah salah satu dari beberapa mahakarya sang bupati pertama Purworejo yang dibangun sebagai upaya membangun memori dan imajinasi kolektif masyarakat Purworejo untuk mendukung gagasan Kota Purworejo sebagai simbol dari zaman kemakmuran. baik bagi masyarakat yang hidup pada zaman dibangunnya masjid tersebut, maupun bagi masyarakat generasi sesudahnya yang akan menjadi pewaris memori kolektif tersebut.

Membangun memori pada masyarakat sangat penting bagi seorang penguasa untuk melegitimasi sebuah kekuasaan, walaupun dalam kenyataan kehidupan sehari-hari mayoritas masyarakat Bagelen tidak mengalami kemakmuran, namun imajinasi tentang kemakmuran terus dibangun agar menjadi memori kultural di masyarakat. Hal itu sangat penting untuk mewariskan memori kepada masyarakat Purworejo di masa depan walaupun sudah berganti generasi.

Masjid Agung Purworejo sendiri selesai dibangun pada tanggal 2 bulan Besar tahun Alip 1762 atau 16 April 1834 M. Didirikan di sebelah barat alun-alun Kota Purworejo menghadap ke arah alun- alun dan pusat pemerintahan, dikelilingi oleh perbukitan yang hijau, yaitu bukit Menoreh di sebelah timur, bukit Geger di sebelah utara dan Gunung Pupur di sebelah Barat, demikian juga memiliki latar belakang Gunung Sumbing, panorama yang tampak indah dipandang mata. Selain itu di sebelah timur juga terdapat dua aliran sungai, yang menghidupi masyarakat Purworejo, yakni Sungai Bogowonto dan Sungai Jali.

(19)

Ketika masjid tersebut dibangun masyarakat Bagelen baru saja melewati masa-masa sulit, memori mereka masih dipenuhi dengan kenangan perang, seperti gemuruh suara letusan bom, meriam, dan senjata api yang lain yang memunculkan suara-suara yang mengakibatkan suasana mencekam, demikian pula ingatan tentang peristiwa-peristiwa pembantaian-pembantaian yang mengerikan.

Dalam kondisi semacam itu tentu masyarakat memerlukan imajinasi baru tentang keindahan, zaman yang aman tentram dan damai, disertai ketersediaan fasilitas umum yang memadai. Semua sarana tersebut sangat dibutuhkan untuk membangun Bagelen di zaman baru, yang oleh sang bupati dikemas dalam nama baru; Purworejo yang bermakna awal dari kemakmuran. Itulah ingatan atau imaginasi kolektif yang dibangun oleh sang bupati Cokronegoro untuk menumbuhkan harapan masyarakat Purworejo, masyarakat Bagelen di zaman baru, zaman kemakmuran.

Untuk memperkuat memori dan imajinasi masyarakat tentang zaman kemakmuran, kemegahan Masjid Agung saja tampaknya tidak cukup, oleh karena itu sang bupati juga perlu menambahkan aksesoris monumental yang lain. Untuk itu Masjid Agung Purworejo juga dilengkapi dengan Bedug Raksasa atau yang sering disebut sebagai Bedug Kiai Bagelen, karena bahan bakunya adalah kayu jati yang diambil dari hutan Jati yang ada di Bagelen, tepatnya di Desa Bragolan.

Bedug Kiai Bagelen adalah bedug terbesar yang pernah ada pada saat itu bahkan hingga dua abad kemudian. Bahan bakunya adalah kayu jati Pendowo, kayu jati yang berumur ratusan tahun (Danusubroto, tt.

hlm. 155). Berdasarkan data yang diperoleh dari sumber-sumber lokal, baik yang tertulis maupun yang diperoleh secara lisan, menjelaskan bahwa desainer atau pembuat Bedug tersebut adalah Kiai Yunus Muhammad Irsyad, seorang kiai penghulu yang makamnya berada di Dusun Solotiyang. Nama Kiai Irsyad sendiri sulit ditemukan dalam catatan-catatan arsip kolonial, kisahnya lebih banyak diperoleh dari sumber-sumber lokal, yang di antaranya diperoleh dari salah seorang keturunan Kiai Irsyad yang bernama Raden Yusuf Sholeh Irsyad, ia tinggal di Jalan Yudhodipuran No. 18 Purworejo.

(20)

Cakrawala Penafsiran Ilmu-ilmu Budaya | 27 Penulis silsilah tersebut menjelaskan bahwa diri dan keluarganya adalah keturunan dari Tumenggung Gagak Pranolo, penerus trah dari penguasa Dinasti Loano yang mereka sebut sebagai Adipati Anden Loano, keturunan Prabu Munding Pamekas Pajajaran (Yusuf Sholeh, 2016). Dalam cerita lisan Anden Loano disebut sebagai bangswan pelarian dari Kerajaan Pajajaran pasca perang Bubat. Ia menikah dengan Ratna Ayu Marlangen, salah satu pelarian dari kerajaan Majapahit pasca kejayaan Prabu Hayam Wuruk dan Mahapatih Gadjah Mada. Dalam silsilah keluarga Dipodirjan yang ditulisnya nama Kiai Irsyad tercatat sebagai putra dari Tumenggung Dipodirjo, Patih Purworejo yang juga merupakan salah seorang besan Bupati Cokronegoro. Sementara itu dalam catatan Danusubroto nama Kiai Irsyad tercatat sebagai salah seorang menantu Raden Ngabei Prawironegoro, wedana Bragolan yang juga merupakan adik kandung dari Bupati Cokronegoro (Danusubroto, tt;hlm. 156-157)

Kisah tentang proses pembuatan Bedung digambarkan sangat dramatis oleh sejarawan lokal Danusubroto, mantan wartawan Daerah Jawa Tengah di era 70-an. Demikian pula kisah pemindahan Bedug Kiai Bagelen dari tempat pembuatan, yakni di Desa Bragolan hingga ke Masjid Agung yang ada di pusat pemerintahan kota, yang menempuh jarak yang cukup jauh, sekitar 9 km. Menurut penjelasannya proses pemindahan melalui 20 pos dari desa Bragolan hingga Masjid Agung dan memakan waktu 21 hari. Pemindahan dilakukan dengan cara diangkut secara bersama-sama yang melibatkan ratusan orang. Sebagai penghargaan atas jasa tersebut, maka tanah milik Kiai Irsyad yang berada di Dusun Solotiyang dijadikan sebagai Tanah Mutihan atau tanah bebas pajak (Danusubroto, tt, hlm. 160). Dalam catatan silsilah keluarga Dipodirjan ditemukan nama Kiai Irsyad adalah saudara ipar dari Bupati Cokronegoro, karena Cokronegoro sendiri tercatat sebagai salah satu menantu dari Tumenggung Dipodirjo, seorang wedana dari distrik Purworejo, anak dari Tumenggung Surodrono, seorang Demang Loano (Nijhoff, 1905-1914, hlm. 114) Tumenggung Surodrono sendiri adalah anak dari Basah Purwonegoro (nama Asli Tumenggung Gagak Pranolo) penguasa Kadipaten Tanggung, pendukung Pangeran Diponegoro yang dulu ditangkap oleh Cokronegoro pada Desember

(21)

1828 (Carey, 2017; hlm.150) bersama 8 orang pengawalnya (Louw dan De Clerck, 1894-1909, IV; 711-715)

Selain merupakan hasil dari reproduksi pengetahuan dari masa lampau Masjid Agung Purworejo juga menjadi salah satu legitimasi kekuasaan sang bupati. Sebagai seorang penguasa baru Bupati Cokronegoro memerlukan legitimasi atas kekuasaan yang baru saja diperolehnya. Oleh karenanya begitu menerima jabatan sebagai bupati pertama Kota Purworejo dari pemerintah Kolonial Hindia Belanda, ia segera menyusun konsep kekuasan barunya dalam gagasan imajinatif tentang zaman kemakmuran yang diwujudkan dalam penamaan kota

“Purworejo”. Masjid Agung adalah salah satu cara sang bupati untuk melengkapi legitimasi kekuasaan yang telah ia terima dari Pemerintah Kolonial Hindia Belanda yang ia banggakan, dan ia narasikan sebagai kekuasaan yang sangat besar, demikian juga legitimasi dari para leluhur sang ayah ataupun sang ibu. Dalam kata pengantar Serat Babad Kedungkebo sang Bupati menuliskan sebagai berikut:

Ing mangke Raden Dipati pilenggah neng Purwareja ingangkat Kumpeni Gedhe Tuwan Besar nagri Olan sarta jinujung drajat leluhur sing rama Ibu jumurung sarta nugraha. (LOr 2163) Dari kutipan di atas sang bupati menunjukkan jabatan barunya sebagai kedudukan yang sangat prestisius, karena diangkat oleh Kumpeni, Tuan Besar dari Negeri Belanda, demikian juga didukung oleh para leluhur, Ayahnya, Raden Ngabei Singowijoyo yang keturunan para Kenthol (bangswan Bagelen) dari Bragolan dan ibunya yang dianugerahi keutamaan sebagai keturunan Kiai Cokroleksono dari Ngasinan. Masjid Agung Purworejo sendiri dibangun untuk melengkapi legitimasi di atas, sebagai simbol dukungan dari umat Islam yang juga sangat dibutuhkan sang bupati. Masjid Agung Purworejo diresmikan pada tahun 1834, tepatnya 3 tahun setelah pengangkatan Ng. Resodiwiryo sebagai Bupati Purworejo yang pertama dengan gelar R.A.A Cokronegoro pada tahun 1831. Untuk membangun masjid tersebut sang bupati memerlukan bantuan dari relasi-relasi kuasa yang lain sekaligus sebagai bentuk dukungan atau atau kesetiaan dari mereka. Selain melibatkan Kiai irsyad, pembuat bedug Kiai Bagelen dari keluarga Tumenggung Dipodirjo, sang bupati

(22)

Cakrawala Penafsiran Ilmu-ilmu Budaya | 29 juga melibatkan keluarga lain sebagai pemberi lahan tanah wakaf untuk membangun masjid.

Terkait siapa pemberi tanah wakaf masjid belum ada data yang kuat, namun kemungkinan besar tanah tersebut diberikan oleh keturunan mantan guru spiritual sang bupati, yaitu Kiai Taftazani (1750-1828). Berdasarkan keterangan dari Profesor Machasin, Guru Besar Studi Islam di UIN Sunan Kalijaga, yang juga menyebut sebagai salah satu keturunan dari kiai tersebut menjelaskan bahwa tanah tersebut dulunya adalah milik Kiai Taftazani (Machasin, Yogyakarta, 19 Juli 2022). Sementara itu Profesor Peter Carey dalam Kuliah Dosen Tamu di IAIN Salatiga menyebut Kiai Taftazani dahulunya adalah seorang Kiai Pesantren di Mlangi, namun kemudian berpindah ke Surakarta (1806) karena ada perselisihan dengan Patih Danurejo II terkait pengambilalihan tanah pradikan di Mlangi (Carey, 2017;

146) dan juga perselisihannya dengan salah satu penghulu Keraton Yogyakarta asal Sunda yang bernama Muhammad Sapingi (1798- 1912) (Carey, 7 April, 2021, ppt, slide 3). Kepindahannya ke Surakarta memungkinkan sang Kiai untuk memiliki relasi yang lebih dekat dengan Bagelen dan Bupati Purworejo, karena yang bersangkutan pernah menjadi guru spiritual sang bupati sebelum pecahnya Perang Jawa, dan juga sebagian Bagelen yang kemudian menjadi Purworejo adalah bagian dari wilayah mancanegara Surakarta. Dalam babad otobiografi Pangeran Diponegoro disebutkan bahwa Kiai Taptojani (Taftazani) wafat sebagai seorang “moksa” di Gunung Sirnoboyo di Bagelen menjelang akhir Perang Jawa pada 8 Desember 1829, namun menurut Profesor Machasin kemungkinan makam Kiai Taftazani ada di belakang Masjid Agung Purworejo (Machasin, Yogyakarta, 19 Juli 022).

Bagaimanapun juga bangunan Masjid Agung Purworejo adalah sebuah monumen bersejarah. Selain merepresentasikan kekuasaan ia juga merupakan bagian dari wujud pengabdian, takdir yang diukir oleh anak zaman peralihan dari tatanan era tradisional ke era kolonial yang ditempuh melalui jalan perang yang memakan banyak korban dan menguras banyak biaya. Perang Jawa sebagai peristiwa yang melatarbelakangi lahirnya zaman baru, telah mengantarkan Kota

(23)

Purworejo sebagai kota yang mewariskan dua kesadaran bagi sang pemenang, yakni kekuasaan dan pengabdian. Didirikannya Masjid Agung Purworejo tidak lepas dari dua kesadaran tersebut. Sebagai bagian dari subjek yang ikut memenangkan Perang Jawa R.A.A.

Cokronegoro merepresentasikan kesadarannya sebagai penguasa, demikian juga ia sebagai seorang abdi. Jika sebelumnya ia mengabdi kepada Kasunanan Surakarta, kini ia mengabdi kepada pemerintah Kolonial Hindia Belanda yang telah memberinya jabatan baru sebagai Bupati Purworejo.

Laksana seorang raja baru sang bupati adalah subjek kekuasaan yang berkekuatan lebih besar daripada sunan atau sultan yang pada masa itu yang posisi dan kekuasaannya semakin melemah, Namun di sisi lain ia juga tidak dapat melepaskan diri sebagai seorang abdi dalam kehidupan. Kesadaran akan dua hal tersebut menjadikan Cokronegoro sebagai seorang bupati yang memiliki kekuasaan untuk berkarya, membangun imajinasi, menciptakan monumen, dan memproduksi memori kolektif masyarakat tentang Purworejo sebagai kota yang diimajinasikan hidup dalam kemakmuran dan kesejahteraan. Dengan demikian masyarakat Purworejo dapat terlepas dari bayangan memori kolektif buruk di masa perang, mereka diberi harapan tentang kemakmuran, walaupun masih terbatas dalam tataran imaginasi, karena dalam kenyataannya, segera setelah itu mereka memasuki masa yang lebih sulit lagi, yakni masa kebijakan cultuurstelsel atau yang lebih dikenal sebagai masa tanam paksa. Alhasil zaman kemakmuran memang hanya sebuah imaginasi, namun hal tersebut cukup membuat masyarakat terhibur dan bersemangat untuk menyambut zaman baru.

Itulah pengabdian seorang R.A.A Cokronegoro I, Bupati Purworejo yang pertama yang berhasil membawa masyarakat Purworejo memasuki dunia imaginasi tentang zaman kemakmuran. Sebagai pemenang dari perang jawa Bupati Cokronegoro juga memiliki tanggungjawab dan konsekuensi untuk memberikan pengabdian kepada masyarakat untuk membangun peradaban. Apapun bentuk dan cara yang ditempuh oleh sang pemenang, semua yang dilakukan dan diwariskan kepada masyarakat generasi sesudahnya adalah bentuk

(24)

Cakrawala Penafsiran Ilmu-ilmu Budaya | 31 pengabdian kepada sejarah dan kehidupan umat manusia yang harus diberi makna.

Kesimpulan C.

Historiografi Purworejo di era kolonial telah dimulai oleh sang pendiri kota tersebut, yakni Bupati pertama; R.A.A. Cokronegoro I yang memilih nama kota Purworejo sebagai penanda akan datangnya zaman baru, sebuah nama yang dirancang untuk mendukung gagasan imaginatifnya tentang zaman kemakmuran yang akan mengubah kisah lama yang penuh dengan penderitaan, dengan kisah baru yang penuh dengan kebahagiaan. Zaman perang telah usai dan zaman kemakmuran pun segera menjelang, begitulah kira-kira memori dan imajinasi yang ingin dibangun oleh sang bupati pertama Kota Purworejo, R.A.A.

Cokronegoro. Pilihan nama Kota Purworejo adalah visi sang bupati untuk membawa masyarakat Bagelen berpindah secara kesadaran mental dari zaman penderitaan menuju zaman kemakmuran.

Misi dari visi zaman kemakmuran di atas diwujudkan dalam bentuk karya-karya artefak monumental, seperti bangunan saluran irigasi, transportasi, institusi pendidikan, dan juga fasilitas keagamaan.

Masjid Agung Purworejo adalah salah satu wujud dari misi sang bupati untuk mendukung visi zaman kemakmuran yang coba dihadirkan secara imajinatif melalui karya-karya artefak monumental.

Perwujudan arsitektur Masjid Agung Purworejo sendiri merupakan hasil reproduksi pengetahuan dari masa lampau sang bupati ketika meniti karir jabatannya sebagai seorang abdi di Keraton Kasunanan Surakarta. Adapun untuk mewujudkan misi dari visi zaman kemakmuran, ia berupaya untuk menciptakan memori dan imajinasi kolektif masyarakat tentang zaman kemakmuran itu sendiri melalui berbagai infrastruktur bangunan yang salah satunya diwujudkan dalam bentuk Masjid Agung Purworejo. Selebihnya bangunan Masjid Agung juga menjadi media rekonsiliasi pasca perang jawa, antara pendukung Pangeran Diponegoro yang anti kolonial dan pendukung dirinya yang didukung oleh pemerintah Kolonial Hindia Belanda.

Pelibatan peran keluarga Kiai Taftazani dan Kiai Irsyad juga memiliki fungsi rekonsiliasi, Kiai Taftazani selain pernah menjadi guru bagi sang

(25)

bupati juga pernah menjadi guru Pangeran Diponegoro, sedangkan Kiai Irsyad sebagai pembuat Bedug Pendawa pada dasarnya adalah keturunan dari Tumenggung Gagak Pernolo yang menjadi pendukung Pangeran Diponegoro, namun keturunannya kemudian mendukung kekuasan sang Bupati Cokronegoro. Kedua kiai tersebut menjadi simbol terjadinya rekonsiliasi pasca perang. Mereka pun menjadi bagian dari proses produksi memori kolektif masyarakat tentang imajinasi zaman kemakmuran.

Walaupun peran nama keduanya cukup penting namun nama mereka tidak menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat Purworejo yang dibangun sang bupati. Masyarakat Purworejo hanya mengenal kebesaran nama sang bupati sebagai membangun Masjid Agung Purworejo. Bedug Kiai Bagelen atau yang juga dikenal dengan sebutan Bedug Raksasa karena ukurannya yang sangat besar, sangat dikenal oleh masyarakat, namun nama Kiai Irsyad sebagai pembuat bedug tampaknya memang bukan bagian dari memori kolektif yang dibangun sang bupati, bahkan nama Kiai Irsyad pun hampir tidak dikenal oleh masyarakat, demikian pula nama Kiai Taftazani ataupun keluarganya tidak ada dalam memori kolektif masyarakat.

Nama kedua kiai tersebut tidak menjadi bagian dari memori yang dibangun oleh sang bupati, sebagai bagian dari yang ikut membangun zaman kemakmuran.

(26)

Cakrawala Penafsiran Ilmu-ilmu Budaya | 33 Daftar Pustaka

Arsip Karesidenan Bagelen No. 5/10

Carey, Peter. “Kontestasi Identitas dan Orientasi Keislaman di Indonesia, Berkaca dari sejarah” Makalah ppt, disajikan dalam Kuliah Dosen Tamu Prodi Sejarah Peradaban Islam, IAIN Salatiga pada tanggal 7 April, 2021

Carey, Peter. (2017). Sisi Lain Diponegoro” Babad Kadung Kebo dan Historiografi Perang Jawa. Jakarta. KPG (Kepustakaan Populer Gramedia).

Danusubroto, Atas. S. (2008) S. R.A.A. Cokronegoro 1 (1831-1857), Pendiri Kabupaten Purworejo.Gradasi Jogja.

Danusubroto, Atas. S. tt. Poerworedjo Tempoe Doeloe. Gradasi Jogja.

Foucault, M. (1980). Power and knowledge: Selected Interviews and Other Writing 1972-1977. In C. Gordon (Ed.). Brighton:

Harvester Press.

Serat Babad Kedung Kebo. Lor. 2163. Naskah mulai ditulis pada 12 Sawal 1770 Saka (14 November 1842 M dan diselesaikan pada 1771 Saka (1843 M), 623 hlm., 50 kanto. Ditulis di Purworejo (Bagelen) atas perintah Raden Adipati Cokronegoro I. Bupati Purworejo (menjabat 1831- 1856) dengan bantuan komandan tentara Diponegoro, Basah Kerto Pengalasan.

Louw dan De Clerck, De Java Oorlog 1894-1909, IV; 711-715 Nijhoff, Martinus, Onderzoek Naar De Mindere Vervaart, Economie

Van De Desa, 1904-1914, hlm. 114.

Shani Rasyid. Merdeka.com 15 Januari 2021.

Suherman, Oteng. Kisah Bedung Raksasa dan Masjid Agung Purworejo. Purworejo. Penerbit Pustaka Srirono (Seri Babad Bagelen)

(27)

Wawancara dengan R. Yusuf Sholeh Irsyad, keturunan dari Kiai Yunus Muhammad Irsyad; pembuat Bedug Pendawa Masjid Agung Darul Muttaqin, Purworejo, tanggal 1 Juni 2021, di Jalan Yudhodipuran No. 18. Purworejo.

Wawancara dengan Prof. Dr. Machasin, M.A., keturunan dari Kiai Taftazani, pemberi tanah wakaf Masjid Agung Darul Muttaqin, Purworejo, pada tanggal 19 Juli 2022 di Sapen, Yogyakarta.

Referensi

Dokumen terkait

Dari percobaan yang dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa baik pelet basah maupun pelet kering dengan bahan pengikat CMC memiliki kuat tekan dan kuat jatuh yang

Sebagai contoh pada hasil pengujian yang sudah dilakukan, hasil laju korosi dari air laut Kabupaten Lamongan adalah yang paling cepat didapatkan pada lama waktu perendaman

Di dalam Tanaman Aneka Kacang dan Umbi.Prosiding Seminar Hasil Penelitian.. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman

Akibat hukum dari suatu akta yang se- harusnya dibuat dihadapan PPAT tetapi ka- rena penerima hak tidak memenuhi syarat mendapatkan suatu hak atas tanah maka ak- tanya harus

Dalam perencanaan bangunan berarsitektur China, bangunan atau ruang yang paling penting selalu ditempatkan di daerah paling utama yang merupakan bagian akhir dari tapak..

deposito merupakan pilihan terbaik bagi masyarakat yang ingin berinvestasi banyaknya minat masyarakat terhadap deposito membuat suatu bank harus mengambil kesempatan ini dengan

:.- Yang dimaksud dengan pelayanan publik kepada masyarakat/tamu dari Sekretariat DPRD Provinsi Sumatera Barat adalah, segala urusan dan kepentingan masyarakat/tamu

Berdasarkan pembahasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa dari waktu pengamatan mulai dari satu, tiga, tujuh dan sepuluh hari setelah pemberian fitoremediasi baik eceng