Al-Qishthu Volume 14, Nomor 1 2016 ISSN : 1858-1099
Diterbitkan Oleh Jurusan Syari’ah dan Ekonomi Islam
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kerinci 59
EKSISTENSI HUKUM WADH’IDALAM SYARI’AT
Syamsarina
Dosen Jurusan Syari’ah dan Ekonomi Islam STAIN Kerinci
Abstrak
Masing- masing manusia mempunyai kepentingan sendiri-sendiri yang kadang-kadang dalam memenuhi kepetingannya itu terhadap pertentangan kehendak antara satu dengan lainnya. Agar antara masing individu itu tidak terjadi perselisihan maka diperlukan suatu aturan yang disebut dengan hukum. Hukum wadh’i adalah Implementasi dari hukum taklifi, jadi hukum
wadh’i ini lebih kepada masalah-masalah yang lebih khusus dibanding dengan hukum taklifi.
Hukum wadh’i yang telah ditetapkan oleh syari’ sebagai faktor keeksistensian sebuah hukum
syariat bagi seorang mukallaf, haruslah sangat diperhatikan sebagaimana menyikapi hukum taklifi.
Al-Qishthu Volume 14, Nomor 1 2016 ISSN : 1858-1099
Diterbitkan Oleh Jurusan Syari’ah dan Ekonomi Islam
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kerinci 60
Pendahuluan
Kenyataan menunjukan bahwa manusia hidup dalam suatu komunitas, di mana masing- masing mereka mempunyai kepentingan sendiri-sendiri yang kadang-kadang dalam memenuhi kepetingannya itu terhadap pertentangan kehendak antara satu dengan lainnya.
Agar antara masing individu itu tidak terjadi tindakan yang semua hati diperlukan suatu aturan permainan hidup secara pasti mengikat dan menuntut mereka dalam bertindak. Dengan adanya aturan tersebut setiap individu tidak merasa dirugikan kepentingannya atas batasan- batasan yang layak. Aturan- aturan itulah yang disebut dengan hukum.
Untuk manusia secara keseluruhan, hukum itu telah ditetapkan oleh Allah SWT dengan tujuan untuk mewujudkan kemaslahatan seluruh umat manusia secara pasti. Untuk mencapai aturan- aturan itu, Allah memilih mengangkat rasul sepagai pesuruh dan utusan-Nya kepada manusia. Rasul itulah bertugas menyampaikan dan membetitahu hukum atau aturan- aturan tersebut kepada manusia.
Setelah rasul diutus dan aturan- aturan itu telah sampai kepada manusia, maka sejak saat itulah manusia ditaklifi untuk mematuhi segala aturan tersebut dalam segala tindakan yang mereka lakukan. Mereka dituntut untuk melakukan segala yang diperintah dan meninggalkan segala yang dilarang.
Tugas memberitahu hukum syar‟i berikutnya setelah rasul meninggal diteruskan oleh para sahabat. Kemudian, setelah periode sahabat berlalu, seterusnya para ulama tabi‟in, tabi‟tabi‟in, dan begitu seterusnya oleh para ulama, baik fuqaha, muhaddasin mutakallimin dan lain sebagainya.
Para ulama dan tabi‟in yang meneruskan misi nabi itu ada yang meneruskan misi nabi itu ada yang menyampaikannya dalam bentuk “bunyi sabda” dan ada pula yang menyampaikannya hanya “pengertian sabda” yang mereka fahamkan. Begitu juga cara fuqada
berikutnya. Mereka selalu giat dan bersungguh-sungguh menyampaikan ilmu dan hasil ijtihad mereka ke segenap lapisan. Sehingga, dengan demikian, risalah dan hukum-hukum Allah diketahui oleh masyarakat disegala strata, masa, dan tempat.
Al-Qishthu Volume 14, Nomor 1 2016 ISSN : 1858-1099
Diterbitkan Oleh Jurusan Syari’ah dan Ekonomi Islam
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kerinci 61
menggali hukum-hukum yang tekandung dalam wahyu Allah. Kerangka-kerangka metodologis yang amat diperlukan dalam upaya menggali hukum-hukum yangterkandung dalam wahyu Allah. Kerangka metodologis itulah yang kita maksud dengan kaidah- kaidah, baik fiqhiyah maupun kaidah ushuliyah. Maka para ulama membagi hukum syar‟i kepada dua bagian: hukum taklifi dan hukum wadh’i.
Pengertian Hukum Wadh’i
Sesungguhnya Allah SWT menjadikan syari‟at itu kabar gembira dan kemudahan bagi hambanya, dari keadaan yang lemah, dan segala urusan yang darurat.1 Hukum wadh‟i sebagaimana telah disebutkan dalam kitab Al-wadhih, fii Usulil Fiqih, yang ditulis oleh Muhammad Sulaiman Abdullah al- Assqar. Bahwasanya Allah SWT dalam kitabnya, dengan menjadikan sebuah perintah, menjadi tanda atas perintah yang lainnya.2
Adapun menurut pendapat yang lainnya, dalam buku Ushul Fikih Bagi Pemuda yang ditulis oleh; Abdul Mughits, M.Ag, hukum wadh‟i adalah hukum yang berhubungan dengan dua hal, yakni antara dua sebab (sabab) dan yang disebabi (musabbab), antara syarat dan disyarati (masyrut), antara penghalang (mani‟) dan yang menghalangi (mamnu), antara hukum yang sah dan hukum yang tidak sah.3
Menurut Dr. Abdul Karim Ibnu Ali An-namlah, dalam karyanya yang berjudul Al-Jaamiu Limasili Usulil Fiqh, bahwasanya hukum wadh‟i sebagaimana Allah berfirman yang berhubungan dengan menjadikan sesuatu sebab kepada sesuatu yang lainnya, syaratnya, larangannya, kemudahannya, hukum asal yang telah ditetapkan oleh syari‟ (Allah).4
Hukum ini dinamakan hukum wadh‟i karena dalam hukum tersebut terdapat dua hal yang saling berhubungan dan berkaitan. Seperti hubungan sebab akibat, syarat, dan lain- lain. Tapi pendapat lain mengatakan bahwa definisi hukum wadh‟i adalah hukum yang menghendaki dan menjadikan sesuatu sebagai sebab (al-sabab), syarat (al-syarthu), pencegah (al-mani‟), atau menganggapsebagai sesuatu yang sah (shahih)rusak ataubatal (fasid), „azimah atau rukhshah. Definisi ini adalah menurut Imam Amidi, Ghazali, dan Syathibi.5
1
Dr. Jilaaliil Marinii, Qowaidul Ushuliyah wa Tatbiqotihal Fiqhiyah, (al- Qohirah:) Darul Ibn Affan. 2
Muhammad Sulaiman Abdullah al- Assqar, Al-wadhih, fii Usulil Fiqih, Al-Dasus Salam (2003).h.48. 3
Abdul Mughits, M.Ag., Ushul Fikih Bagi Pemuda, (Jakarta Barat:).h.77. 4
Dr. Abdul Karim Ibnu Ali An-namlah, Al-Jaamiu Limasili Usulil Fiqh. 5
Al-Qishthu Volume 14, Nomor 1 2016 ISSN : 1858-1099
Diterbitkan Oleh Jurusan Syari’ah dan Ekonomi Islam
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kerinci 62
Jadi dapat kita simpulkan bahwa hukum wadh‟i adalah hukum yang berkaitan dengan dua hal, yaitu sebab yang disebabkan. Seperti orang yang junub menyebabkan orang tersebut harus mandi, dan adanya orang yang memiliki harta yang sudah mencapai Nisab menyebabkan orang tersebut harus berzakat, demikian juga halnya yang mampu untuk naik haji, Firman Allah QS. Ali Imran: 97)
ِلݝيل
“Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah Dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya
(Tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”
Adapun pembagian hukum wadh‟i dalam buku Ushul Fiqih yang dikarang oleh Prof. Muhammad Abu Zahrah, bahwasanya hukum wadh‟i terbagi menjadi tiga macam yaitu: Sebab, Syarat, dan Mani‟ (penghalang).6
Akan tetapi dalam buku yang ditulis oleh Prof. DR. Rachmat Syafe‟i, M.A, Ilmu Ushul Fiqih, bahwasanya hukum wadh‟i itu ada tujuh macam.
Macam-macam Hukum Wadh’i
1. Sebab (al-sabab)
Sabab yang dalam bahasa Indonesia disebut “sebab”, secara etimologi, artinya adalah “sesuatu yang memungkinkan dengan sampai pada suatu tujuan.” Dari kata inilah dinamakan “jalan”, itu sebagai sebab, karena “jalan” bisa menyampaikan seseorang kepada tujuan. Menurut terminologi, Imam al-Amidi, mendefinisikan dengan sifat Zhahir yang dapat diukur yang ditunjukan oleh dalil Sam‟I (al-Qur‟an dan sunnah) bahwa keberadaan sebagai pengenal bagi hukum syari‟.7
6
Prof. Muhammad Abu Zahrah, Ushul Fiqih, (Jakarta :Pustaka Firk,2005), h.69. 7
Al-Qishthu Volume 14, Nomor 1 2016 ISSN : 1858-1099
Diterbitkan Oleh Jurusan Syari’ah dan Ekonomi Islam
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kerinci 63
Sedangkan menurut Prof.DR. Rachmat Syafi‟i,M.A dalam bukunya Ilmu Ushul Fiqih, bahwa sebab menurut bahasa adalah sesuatu yang dapat menyampaikan kepada suatu tujuan. Menurut istilah adalah suatu sifat yang dijadikan syari‟ sebagai tanda dari hukum.8
Pengertian ini menunjukan bahwa sebab sama dengan Illat walaupun sebenarnya ada perbedaan antara sebab dengan Illat tersebut. Akan tetapi tidak setiap sebab disebut Illat. Jadi sebab itu masih bersifat umum sedangkan Illat itu sudah bersifat khusus. Contoh dari adanya sebab sesuatu adalah sebagaimana Allah SWT berfirman:
ܛقݟ܆ي
أٓ قي
ق
“Hai orang- orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tangan mu sampai dengan siku....” (QS. Al-Maidah:6)
Adapun secara terminologi al-sabab adalah sesuatu yang dijadikan oleh Syari‟ untuk mengetahui hukum syariat tertentu, artinya hukum syari‟at tersebut akan muncul jika al -sabab tersebut ada, sebaliknya hukum syariat akan hilang dengan tidak adanya al--sabab tersebut. Seperti firman Allah SWT dalam surat al-Isra‟:
ِلݗلݏ
ق
أ
“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir....”(QS al-Isra‟: 78)9
8
Prof. DR. Rachmat Syafi‟i, M.A, Ilmu Ushul Fiqih, (Bandung: CV Pustaka Setia,1999), h.313 9
Al-Qishthu Volume 14, Nomor 1 2016 ISSN : 1858-1099
Diterbitkan Oleh Jurusan Syari’ah dan Ekonomi Islam
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kerinci 64
Dalam ayat tersebut diterangkan bahwa condongnya matahari menjadi al-sabab adanya kewajiban shalat dzuhur.
Macam-macam al-sabab
a. Dilihat dari segi pengaruh yang ditimbulkan, maka al-sabab dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu:
1) Al-Sabab yang menyebabkan adanya hukum taklifi. Sebagai contoh, masuknya waktu shalat yang dijadikan syari‟ sebagai al-sabab adanya kewajiban shalat. Allah SWT
“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir....”(QS al-Isra‟: 78)
2) Al-Sabab yang menjadi sebab penetapan hak milik dan kehalalan suatu barang, atau sebaliknya menghilangkan keduanya. Seperti akad jual beli, nikah, thalaq, dan lain- lain.
b. Dilihat dari segi ada dan tidaknya kemampuan seorang mukallaf dalam melakukannya, maka al-sabab dapat menjadi dua macam, yaitu:
1) Sesuatu yang ada dalam batas kemampuan mukallaf untuk melakukannya. Seperti berpergian (safar) yang menjadi al-sabab diperolehkannya berbuka puasa, pembunuhan yang disengaja yang menjadi al-sabab adanya kewajiban qishas, dan lain- lain. Allah SWT berfirman:
Al-Qishthu Volume 14, Nomor 1 2016 ISSN : 1858-1099
Diterbitkan Oleh Jurusan Syari’ah dan Ekonomi Islam
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kerinci 65
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS. Al- Baqarah: 183)
2) Sesuatu yang berada diluar batas kemampuan mukallaf. Seperti terbenamnya matahari menjadi al-sabab adanya kewajiban shalat maghrib.
2. Syarat (al-Syarthu)
Syarat adalah sesuatu yang berada di luar hukum syari‟, tetapi keberadaan hukum syara‟ bergantung kepadanya. Apabila syarat tidak ada hukumpun tidak ada, tetapi adanya syarat tidak mengharuskan adanya hukum syara‟.10
Macam-macam Syarat
a. Dilihat dari segi hubungannya dengan al-sabab dan al-musabbab, al-syarthu dibagi menjadi dua macam:11
1) Al-Syarthu yang menjadi pelengkap al-sabab, artinya al-syarthu menguatkan akan makna sebab akibat (al-sababiyyah) yang terdapat dalam hukum tersebut. Sebagai contoh, penjagaan harta benda adalah syarat untuk melaksanakan hadd dalam pencurian.
2) Al-Syarthu yang menjadi pelengkap musabbab, artinya menguatkan hakikat al-musabbab atau rukunnya.sebagai contoh, menghadap kiblat menjadi syarat sahnya shalat.
b. Dilihat dari segi sumber yang menetapkan, al-Syarthu dibagi menjadi dua macam:12 1) Al-Syarthu al- syar‟i, yaitu syarat yang telah ditetapkan oleh syari‟. Seperti syarat-
syarat yang terdapat dalam ibadah, muamalah, jinayah, dan lain- lain.
2) Al-Syarthu al-ja‟lae, yaitu syarat yang dibuat yang ditetapkan oleh seorang mukallaf. Seperti syarat terjadinya thalaq yang ditetapkan seorang suami terhadap istrinya.seorang mukallaf tidak bisa seenaknyadalam membuat dan menetapkan
10
Loc.Cit.Prof.DR. Rachmat Syafe‟i, M.A. h.313. 11
Op.Cit, Prof.DR. Mukhtar Yahya dan Prof.Drs. fatchurrahman, h.149.
12
Al-Qishthu Volume 14, Nomor 1 2016 ISSN : 1858-1099
Diterbitkan Oleh Jurusan Syari’ah dan Ekonomi Islam
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kerinci 66
sebuahal-syarthu al-ja‟lie, karena telah ada batasan- batasan syariat yang telah dijelaskan. Sebagai contoh, seorang mukallaftidak diperbolehkan menetapkan syarat yang dapat menghilangkan hakikat hukum syariat, karena ada esensinya syarat berperansebagai pelengkap al-sabab yang telah memunculkan hukum syari‟at.
c. Al-Syarthu al-ja‟lie sendiri terbagi menjadi dua macam:13
1) Syarat al-mu‟allaq, yaitu syarat yang sah dan dan tidaknya suatu akad tergantung pada syarat tersebut, artinya seorang mukallaf telah menetapkan syarat dalam suatu akad. Sebagai contoh, perkataan seorang suami terhadap istrinya “jika kamu mencuri maka kamu bukan istriku”
2) Syarat al-muqtarin bi al-„aqdi atau syarat muqayyad, yaitu syarat yang menyertai sebuah akad. Seperti seorang yang menjual rumah dengan syarat tinggal satu tahun. 3. Pencegah (Al-Mani’)
Definisi al-mani‟ secara etimologi berarti “penghalang dari sesuatu”. Secara terminologi, sesuatu yang ditetapkan syariat sebagai penghalang bagi adanya hukum atau penghalang bagi berfungsinya sesuatu sebab.sebuah akad perkawinan yang sah karena telah mencukupi syarat dan rukunnya adalah sebagai sebab waris mewarisi. Tetapimasalah waris mewarisi itu bisa terhalang disebabkan suami misalnya membunuh istrinya.14
Macam- macam al-Mani’
Al-Mani‟ terbagi menjadi dua macam:
a) Mani‟ al-hukmi, yaitu al-mani‟ yang dapat menghilangkan suatu hukum syariat. Seperti tidak berlakunya qishas bagi seorang ayah yang telah membunuh anaknya.
b) Mani‟ al-sabab, yaitu al mani‟ yang dapat menghilangkan al-sabab yang telah memunculkan suatu hukum syariat. Seperti mengurangi nisab dalam zakatyang menjadi al-mani‟ dari kewajiban zakat.
4. Sah (Al-Shihhah)
13
Op.Cit, Prof Muhammad Abu Zahrah. h.77. lihat juga buku Dasar-dasar Pembinaan Hukum Fikih
Islam karangan Prof.DR.Mukhtar Yahya dan Prof.Drs. fatchurrahman. h.149.
14
Al-Qishthu Volume 14, Nomor 1 2016 ISSN : 1858-1099
Diterbitkan Oleh Jurusan Syari’ah dan Ekonomi Islam
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kerinci 67
As-shihhah adalah suatu hukum yang sesuai dengan ketentuan syari‟ yaitu terpenuhinya sebab, syarat dan tidak ada mani‟. Misalnya mengerjakan shalat dzuhur setelah tergelincir matahari (sebab) dan telah berwudhu (syarat), dan tidak ada halangan bagi orang yang mengerjakannya (tidak haid, nifas dan sebagainya). Dalam hal ini, pekerjaan yang dilaksanakan itu hukumnya sah.15
Dari penjelasan diatas bahwa As-Shihhah adalah apabilakita akan mengerjakan sesuatu dikatakan sah apabila sudah ada sebab dan syarat itu terpenuhi, dan tidak ada penghalang dari kedua hal tersebut.
5. Batal (al-Buthlan)
Al-Buthlan adalah sesuatu yang dilakukan atau hal yang diadakan oleh orang mukallaf yang tidak sesuai dengan tuntutan syara‟ adalah tidak sah dan tidak mempunyai akibat hukum, baik tidak sahnya itu karena cacat ataupun rukun, maupun tidak terpenuhisyarat- syarat yang diperlukan dan baik dalam soal ibadah, maupun dalam soal muamalah. Maka atas dasar ini sebagian para ahli ushul tidak membedakan antara pengertian bathildan fasid.16
Jadi al-Buthlan adalah sesuatu perbuatan yang tidak disyariatkan oleh islam, oleh sebab itu segala perbuatan yang tidak disyariatkan islam adalah batal, seperti halnya: memperjual minuman keras, Narkoba. Akad ini dipandang batal, karena minuman keras dan narkoba tidak bernilai harta dalam pandangan syara‟.
6. Al-‘Azimah
Secara etimologi „azimah berarti al-iradah al-muakkidah atau al-qashdu al- muakkid, yaitukeinginan yang kuat. Akan tetapi Azimah dalam hukum- hukum yang disyariatkan Allah kepada hamba- hambanya sejak semula.17 Jadi Azimah adalah peraturan yang telah ditetapkan oleh Allah sejak dulu (asli) yang berlaku umum,.
Adapun secara terminologi Azimah berarti hukum syariat bagi seorang mukallaf yang berlaku dalam segala situasi dan kondisi. Seperti kewajiban shalat, zakat, puasa dan lain- lain.
15
Op.Cit, Prof.DR. Rachmat Syafe‟i, M.A, h.315. 16
Prof.DR. mukhtar Yahya dan Prof Drs. Fatchurrahman, Dasar- dasar Pembinaan Hukum Fiqih Islam, (Bandung:1983), PT.Al-Ma‟rif. h.154. lihat juga Buku Ilmu Ushul Fiqih, karangan dari Prof.DR. Rachmat
Syafe‟i, M.A. h.315.
17Prof.DR. Rachmat Syafe‟i,
Al-Qishthu Volume 14, Nomor 1 2016 ISSN : 1858-1099
Diterbitkan Oleh Jurusan Syari’ah dan Ekonomi Islam
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kerinci 68
Misalnya bangkai, menurut aslinya, adalah haram dimakan oleh semua orangmukallaf. Akan tetapi bagi orang yang dalam keadaan terpaks, ia diperkenankan untuk memakannya, asal tidak berlebih- lebihan atau dengan maksud untuk menentang ketentuan Allah. Haram memakan bangkai itu Azimah, sedangkan boleh memakan bangkaiitu rukhsah.
7. Al-Rukhsah
Al-rukhsah ialah ketentuan yang disyariatkan oleh Allah sebagai peringatan terhadap orang mukallaf dalam hal-hal yang khusus.18 Secara etimologi rukhsah berarti al-suhulah dan al-yusrudan al-taisir yang berarti memudahkan atau meringankan. Adapun secara terminologi rukhshah adalah hukum syariat yang telah ditetapkan oleh syari‟ sebagai peringanan beban bagi seorang mukallaf dalam kondisi tertentu, atau hukum syariat ditetapkan karena adanya halangan atau masyaqqah dalam keadaan tertentu.
Macam- macam Rukhshah
a) Pembolehan sesuatu yang haram pada waktu darurat atau terpaksa. Seperti m,akan bangkai atau yang diharamkan syariat ketika dalam keadaan sangat lapar, tidak ada makanan lain, dan takut akan kematian. Allah SWT berfirman:
ܛقݘقو
ِ
ِقرلݒكمِܛ܅ݙل ِنحݠكݖك
ۡ
أقتِ
َ
܅
ق
أِۡݗك قݕ
ٱ
ِكݗۡس
ِٱ
ِل ܅ّ
ِ
ِۡݗك ۡيقݖقعِقم܅رقحِܛ܅ݘِݗك قݕِ قݔ ܅صقفِ ۡدقݏقوِلݝۡيقݖقع
ِܛقݘِ
َلث
܅
ٱ
ِۡݗكتۡنلر ك݁ ۡض
ِ
ِكݗقݖۡع
ق
أِ قݠكݞِ قݑ܅بقنِ ܅نلثِ نفم
ۡݖلعِل ۡرقغلܝِݗلݟلهحقݠۡݞقألܝِقنݠ܆ݖلܾك ܅َِاًرلܥقݒِ ܅نِِۗلݝۡ قَلث
ِلܝٱ
ِقݚيلدقتۡعكݙ
ۡ
ِ
٩
ِ
ِ
... Padahal Sesungguhnya Allah Telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya... (QS. Al- An‟am:119)
b) Kebolehan meninggalkan kewajiban. Seperti berbuka bagi seorang musafir atau seorang yang sedang sakit dibulan ramahan dikarenakan adanya masyaqqah. Firman Allah:
18
Al-Qishthu Volume 14, Nomor 1 2016 ISSN : 1858-1099
Diterbitkan Oleh Jurusan Syari’ah dan Ekonomi Islam
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kerinci 69
ܛقݟ܆ي
أٓ قي
ق
ِٱ
ِقݚيل
َ
܅
ِ
ِ كݗك ۡيقݖقعِ قܜلتكݒِنحݠكݜقݘحقء
ٱ
ِكمܛقي لمص
ِ
ِقݒ
ِ
ق قلِ قܜلتكݒِܛقݙ
ٱ
ِقݚيل
َ
܅
ِ
ِۡݗك لݖۡܞق ِݚلݘ
ِقنݠكݐ܅تقتِۡݗك ܅ݖقعقݕ
٣
ِ
ِ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS. Al- Baqarah: 183)
c) Pembolehan suatu akad muamalah yang menjadi kebutuhan manusia. Seperti akad jual beli pemesanan. Pada dasarnya akad jual beli pemesanan tidak diperbolehkan, karena barang yang dibeli tidak adaketika akad berlangsung. Syari‟ telah membolehkannya karena adanya kebutuhan manusia dan telah menjadi hukum kebiasaan yang telah ber
Pembagian Rukhshah menurut Hanafiyyah
a) Rukhshah tarfih, yaitu rukhshah yang bukan aslinya („azimah) tetap berlaku dan mukallaf diberi kebebasan untuk mengambil rukhshah tersebut atau tetap melakukan hukum asli („azimah). Seperti berbuka puasa bagi seorang musyafirdibulan ramadhan. Jika musyafir tersebut berbuka maka ia telah mengambil rukhshah yang diberikan oleh syari‟, namun ketika ia tetap berpuasa maka ia telah melaksanakan hukum asli („azimah).
b) Rukhshah Isqat, yaitu rukhshah yang hukum aslinya („azimah) hilang, karena kondisi yang memaksa harus adanya rukhshah. Seperti makan bangkai dalam keadaan darurat dan takut akan kematian
Penutup
Al-Qishthu Volume 14, Nomor 1 2016 ISSN : 1858-1099
Diterbitkan Oleh Jurusan Syari’ah dan Ekonomi Islam
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kerinci 70
Hukum wadh‟i adalah Implementasi dari hukum taklifi, jadi hukum wadh‟i ini lebih kepada masalah-masalah yang lebih khusus dibanding dengan hukum taklifi. Akan tetapi para ulama berbeda pendapat dengan hukum-hukum yang berada dalam hukum wadh‟i.
Daftar Pustaka
Abu Zahrah, Muhammad . 2005. Ushul Fiqih. Jakarta. Pustaka Pirk. An- Namlah, Abdul Karim ibnu Ali Dr..Al- Jaamiu Limasili Ushulil Fiqh.
Al-Assqar, Muhammad Sulaiman Abdullah. 2003. Al-wadhih, fii Usulil Fiqh. Al Dasus Salam.
Effendi satria, M.Zein. 2005. Ushul Fiqih. Kencana Prenada Media Group. Haroen, Nasrun. 1997. Ushul Fiqih 1. Jakarta: PT Logos Warna Ilmu.
Jilaaliil,Marinii. Qawaidul Ushuliyyah wa Tatbiqotiyah Fiqhiyah, (al- Qohirah) darul Ibn Affan
Mughits, Abdul. Ushul Fikih Bagi Pemuda. Jakarta Barat.
Syafe‟i, Rachmat. Ilmu Ushul Fiqih. 1999. Bandung: CV Pustaka Setia.
Yahya, Mukhtar, dan Fatchurrahman. 1983. Dasar- dasar Pembinaan Hukum Fiqih Islam. Bandung: PT Al-Ma‟rif.
http://muhaiminks.blogspot.com/2009/10/makalah-ushul-fiqh.html