Sejarah PAUD di Indonesia dan Perkembangan Asal Usul PAUD
Sejarah PAUD di Indonesia dan Perkembangannya. Memahami sejarah PAUD di Indonesia sama halnya dengan memaharni perjalan panjang dinamika dan pasang-surut
pendidikan di Indonesia.
Kehadiran PAUD di Indonesia sesungguhnya dimulai sejak sebelum kemerdekaan. Pada masa ini setidaknya dapat ditelusuri melalui dua periode, yaitu pada masa pergerakan nasional pada penjajahan Belanda (1908-1941) dan masa penjajahan Jepang (1942-1945). Namun demikian, keberadaan PAUD di Indonesia tidak terlepas dari
perkembangan PAUD di dunia internasional.
Pada tahun 1840 Friedrich Wilhelm August Frobel mendirikanKindergarten di kota Blankerburg, Jerman, yang merupakan pelopor pendidikan anak usia dini di dunia.
Kinder berarti anak dan garten berarti taman.
Menurut Frobel, anak usia dini diibaratkan seperti tunas tumbuh-tumbuhan, masih memerlukan pemeliharaan dan perhatian sepenuhnya dari si "juru tanam".
Berdirinya Kindergarten yang juga dikenal sebagai Frobel School berpengaruh terhadap perkembangan PAUD di seluruh dunia. Konsep Kindergarten dengan cepat menyebar keseluruh penjuru dunia. PAUD versi lain pun muncul. Pada tahun 1907 di pemukiman kumuh San Lorenzo, Italia, Maria Montessori, seorang yang berlatar belakang dokter, mendirikan Casa dei Bambini yang ditujukan bagi perawatan anak-anak dari keluarga miskin dan kaum buruh. Casa dei Bambini artinya rumah untuk perawatan anak yang
selanjutnya dikenal sebagai Rumah Anak.
Di Indonesia, pemerintah Hindia Belanda membawa konsep ini dan mendirikan Frobel
School bagi anak-anaknya.
Pada tahun 1919 Persatuan Wanita Aisyiyah mendirikan Bustanul Athfal yang pertama di Yogyakarta. Kurikulum dan materi pendidikannya menanamkan sikap nasionalisme dan nilai-nilai ajaran agama. Bustanul Athfal ditujukan untuk merespon popularitas lembaga PAUD yang berorientasi Eropa. Pada tahun 1922, Ki Hajar Dewantoro, sepulang diasingkan dari Belanda selama dua tahun (1913 - 1915), mendirikan Taman Lare atau Taman Anak atau Kindertuin yang akhirnya berkembang menjadi Taman Indria.
Pada masa penjajahan Jepang, lembaga pendidikan sejenis PAUD, terus berlanjut namun semakin berkurang. Pemerintah Jepang tidak mengawasi secara formal penyelenggaraan pendidikan setingkat PAUD, namun melengkapi kegiatan kelasnya
dengan nyanyian-nyanyian Jepang.
Periode berikutnya adalah periode setelah kemerdekaan. Periode ini setidaknya terbagi menjadi 6 periode, yaitu periode 1945-1965; 1965-1998; 1998-2003; 2003-2009; dan
periode 2010-sekarang.
Periode 1945-1965 ditandai dengan berdirinya Yayasan Pendidikan Lanjutan Wanita. Yayasan tersebut mendirikan Sekolah Pendidikan Guru TK Nasional di Jakarta dan merupakan gerakan nasionalis dalam melawan kembalinya Belanda. Di era ini
pemerintah dan swasta mulai nnembangun banyak TK.
pendidikan nasional. Pada tahun itu pula, tepatnya tanggal 22 Mei 1950 berdiri IGTKI. Pada tahun 1951 berdiri Yayasan Bersekolah Pada Ibu yang menyumbang pendirian TK
hingga menyebar ke luar pulau Jawa.
Tahun 1951-1955, pemerintah berupaya mengembangkan kurikulum, menyediakan fasilitas, dan mengedakan supervisi ke TK-TK. Pada perode itu pula didirikan SPG-TK Nasional di Jakarta dengan pemberian subsidi, dan pengembangannya yang terus
berlanjut hingga ke luar pulau Jawa.
Pada tahun 1957 berdiri GOPTKI (Gabungan Organisasi Penyelenggara TK Indonesia) yang melaksanakan kongres pertamanya pada tahun 1959. Pada awal tahun 1960-an,
mulai didirikan TK yang berstatus negeri.
Tahun 1960-1963, pemerintah mulai melakukan pengiriman SDM untuk belajar ke mar negeri, diantaranya ke Australia, USA, dan New Zealand. Dampak dari pengiriman SDM tersebut, terjadi modernisasi pendidikan di tingkat PAUD berskala besar dan merupakan
jawaban atas ketidakpuasan sebelumnya.
Sebagai penghujung, di periode tersebut, yaitu tahun 1963-1964 lahirlah Proyek (Kurikulum) Gaya Baru. Inti kurikulum tersebut berorientasi pada fasilitasi anak mendekati kecakapan, kebutuhan dan minat individual. Ciri khasnya tersedia pusat minat (sudut), seperti: sudut rumah tangga, sudut seni, pusat musik, dan sebagainya.
Periode 1965-1998 ditandai dengan diperkenalkannya silabus kurikulum baru tahun 1968 yang menggantikan kurikulum versi 1964 (Kurikulum Gaya Baru). Pada bulan November 1968, pemerintah Indonesia bekerjasama dengan UNICEF dalam bentuk penyediaan konsultan dan pendanaan untuk penataran guru dan administrator
pendidikan di tingkat TK.
Pada tahun 1974, diberlakukan kurikulum baru yang merupakan pembaharuan dari kurikulum 1968. Isi kurikulum meliputi: PMP, kegiatan bermain bebas, pendidikan bahasa, PLH, ungkapan kreatif, pendidikan olah raga, pendidikan dan pemeliharaan
kesehatan, serta pendidikan skolastik.
Pada tahun 1984, diberlakukan kurikulum baru dengan isi kurikulum meliputi bidang pengembangan agama, PMP, daya cipta, jasmani dan kesehatan, daya fikir/pengetahuan, serta perasaan kemasyarakatan dan lingkungan. Berlakunya UU Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang diikuti terbitnya PP No. 27 Tahun 1990 tentang Pendidikan Prasekolah, semakin mempertegas cksistensl clan
kedudukan pendidikan prasekolah di Indonesia.
Selanjutnya pada tahun 1993, diberlakukan kurikulum TK 1993. Dalam kurikulum 1993 tersebut terdapat dua kegiatan utama, yaitu: 1) Program pembentukan perilaku, dan 2) Program pengembangan kemampuan dasar: daya cipta, bahasa, daya pikir,
keterampilan dan jasmani.
Terkait dengan penyiapan pendidik oleh perguruan tinggi, mulai tahun 1979 di IKIP Jakarta didirikan jurusan Pendidikan Prasekolah dan Dasar jenjang S-1, yang terselengara hingga tahun 1998 (yang setelah tahun 1998 berubah menjadi Program
S-1 Pendidikan anak usia dini hingga sekarang).
Upaya lebih luas dalam pengadaan pendidik PAUD oleh perguruan tinggi 'terjadi pada tahun 1993/1994-1996/1997 peningkatan kualifikasi guru prasekolah dari SPG ke D-2 PGTK yang penyelenggaraanya dimulai dari IKIP Jakarta, IKIP Medan, IKIP Yogyakarta,
dan kemudian IKIP Bandung.
Pada tahun 1998 menguatkan berbagai upaya di bidang pendidikan anak usia dini, maka diadakan Semiloka Tingkat Nasional tentang Pendidikan Anak Usia Dini di IKIP Jakarta. Peserta terdiri dari 10 LPTK dan unsur dinas pendidikan dari seluruh Indonesia.
tata kelola penanganan PAUD di pusat maupun di daerah-daerah. Pada periode ini pemerintah mulai mendukung berkembangnya PAUD jalur pendidikan nonformal dalam bentuk Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA) dan Satuan PAUD Sejenis dalam bentuk pengintegrasian layanan PAUD dengan Posyandu.
Melalui dukungan Bank Dunia pada 1998-2004 pemerintah merintis program Pengembangan Anak Dini Usia di 4 propinsi, yaitu Jawa Barat, Banten, Bali, dan Sulawesi Selatan. Program dilanjutkan pada tahun 2008-2013 dengan nama program Pendidikan dan Pengembangan Anak Usia Dini (PPAUD) dengan dukungan pembiayaan pinjaman dari Bank Dunia dan hibah dari pernerintah Belanda.
Pada tahun 2001 dibentuk Direktorat Pendidikan Anak Dini Usia (PADU) yang mengemban mandat melakukan pembinaan satuan PAUD nonformal. Pada tahun 2002 terbentuk konsorsium PAUD yang membantu pemerintah dalam merumuskan kebijakan.
Pada bulan Februari 2002, terbentuk forum PADU/PAUD tingkat Nasional yang turut berkontribusi dalam pengembangan dan pembangunan PAUD di Indonesia. Di periode ini pula terjadi pendirian PGTK/PGPAUD jenjang S-1 di beberapa perguruan tinggi (PGTK
S-I di UPI, PGTK S-1 IKIP Yogyakarta, dll).
Periode 2003-2009, ditandai dengan keluarnya Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang merupakan jawaban atas tuntutan reformasi dalarn semua aspek kehidupan. Melalui UU ini untuk pertama kali PAUD diatur secara khusus dalam sebuah undang-undang, yaitu pada pasal 1 butir 14 tentang pengertian PAUD; pasal 28 yang secara khusus mengatur tentang PAUD; dan pasal-pasal terkait lainnya.
Pada tahun 2003 diselenggarakan Seminar dan Lokakarya Nasional (Semiloknas) di IKIP Bandung yang menghadirkan para akademisi dari perguruan tinggi, forum PAUD, dan praktisi PAUD dari berbagai daerah. Semiloknas ini menghasilkan `blue print' tentang kerangka akadernik dan rujukan pengembangan PAUD di Indonesia yang mengawali
Selanjutnya pada tahun 2005 berdiri organisasi profesi, himpunan pendidik dan tenaga kependidikan PAUD Indonesia (HIMPAUDI) yang menggerakkan seluruh potensi pendidik dan tenaga kependidikan PAUD yang tersebar di seluruh Indonesia. Pembentukan HIMPAUDI di tingkat pusat ini dengan cepat diikuti dengan pembentukan HIMPAUDI
tingkat provinsi dan Kabupaten/Kota.
Pada tahun 2004-2009 program PAUD menjadi salah satu dari 10 prioritas program Depdiknas sehingga PAUD menjadi salah satu program pokok dalam pembangunan pendidikan di Indonesia (tertuang dalam RPJM Tahun 2004-2009 dan Renstra Depdiknas Tahun 2004-2009). Pada penghujung tahun 2009, diterbitkan Permendiknas No. 58 Tahun 2009 tentang Standar PAUD (formal dan nonformal).
Periode 2010-sekarang, ditandai dengan kebijakan penggabungan pembinaan PAUD formal dan PAUD nonformal di bawah Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (PAUDNI) melalui Peraturan Presiden No. 24 tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi dan Tata Kerja Kementrian Negara Republik Indonesia sebagaimana diubah dengan Peraturan Presiden No. 67 Tahun 2010.
Pada perjalanan sejarah pembinaan PAUD di Indonesia, akhirnya terjadi kristalisasi bentukbentuk satuan PAUD dengan berbagai karakteristiknya yang meliputi TK (termasuk Taman Kanak-kanak Bustanul Athfal/TK-BA), RA, KB, TPA, Satuan PAUD Sejenis, serta PAUD berbasis keluarga dan/atau lingkungan.
Lintas sejarah PAUD di Indonesia II
D I P O S K A N O L E H P E S A N T R E N B U D AYA O N S E N I N , 0 7 O KT O B E R 2 0 1 3
Periode Awal kemerdekaan dan Gerakan Yayasan Bersekolah pada Ibu
Friedrich Froebel
Pada tahun awal kemerdekaan tahun 1950-an, karena pemerintah lebih focus terhadap upaya mempertahankan kemerdekaan dan keamanan Negara; sektor pendidikan masih terabaikan dan pendidikan bagi anak usia dini belum tergarap. Pada waktu itu, kondisi pendidikan di Indonesia pada kondisi kritis. Akan tetapi para tokoh wanita Indonesia bersama-sama masyarakat tidak tinggal diam, dengan berbagai usaha meraka mengatasi krisis pendidikan melaui perkumpulan-perkumpulan atau organisasi-organisasi wanita. Salah satu organisasi yang paling terkenal dan berpengarus sampai keluar pulau Jawa tetapi jarang dipublikasikan adalah usaha yang dilakukan Yayasan Bersekolah pada Ibu (Yayasan Beribu. Sebagaimana tulisan Solehuddin (1997, 2000):
“….diantara organisasi-organisasi tersebut, yang terbesar dan paling berpengaruh saat itu adalah Yayasan Bersekolah pada Ibu (Yayasan Beribu), dengan mulai menyelenggarakan pendidikannya di
Bandung tahun 1951, pengaruh dari yayasan ini meluas hingga keluar pulau Jawa:”
arsip sejarah, tertulis paling tidak ada 12 organisasi wanita yang bersepakat mendirikan Yayasan Beribu, yaitu Perkiwa Pusat, Budi Istri Pusat, Budi Istri cabang Bandung, Muslimat, Rukun Wanita Cilentah, Perwari cabang Bandung, Persatuan Wanita Cicendo, Persatuan Wanita Kristen Indonesia, Persatuan Putri Indonesia, Bank Cooperatie Wanita Indonesia, Women’s International Club. Dapat dikatakan lahirnya yayasan bersekolah pada Ibu merupakan persatuan ide kekuatan untuk memperjuangkan pendidikan Indonesia yang sangat terpuruk.
Dari seluruh tokoh wanita tersebut, akhirnya terpilih tiga tokoh utama priangan yang memimpin lembaga ini. yaitu, Ny. Emma Poeradireja, Ny. Mary E. Saleh, dan Ny. Emma Soemanegara.
Yayasan Beribu telah menorehkan sejarah dalam pendidikan usia dini di Indonesia. Yayasan inilah yang menggagas lahirnya konsep” system pusat minat/system unit yang dulu sangat terkenal”, “Ibu rumah tangga jadi guru TK”, “sekolah garasi”, alat permainan edukatif,
hingga parent cooperative. Parent cooperative bahkan diajarkan kepada tokoh wanita Thailand
oleh tokoh Yayasan Beribu atas undangan raja Thailand pada tahun 1972.
Selain terkenal dengan konsep pendidikan taman kanak-kanak dengan system pusat minat, sekolah garasi, dan alat permainan edukatif-nya; Yayasan Beribu merupakan salah satu lembaga tertua di Indonesia yang menyelenggarakan pendidikan untuk guru taman kanak-kanak berupa kursus (KPGTK) yang dimulai pada 8 Juni 1981. Pendidikan KPGTK dengan lama pendidikan satu tahun saat itu didasarkan kepada sulitnya mencari huru TK/PAUD yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan mengajar sesuai perkembangan anak, lagi pula jarang ada wanita yang mau jadi guru TK.
Keberhasilan Yayasan Beribu mengembangkan sebuah pengajaran yang khas, yang diberi
nama system pusat minat bagi anak usia dini mendapat respons positif dari Menteri Pendidikan
Pendidikan dan Kebudayaan Pusat Jakarta juga mengakui dan menganjurkan agar seluruh SGTK negeri mempelajari system pusat minat yang dikembangkan oleh Yayasan Beribu.
Foto Yayasan Beribu depan gedung WHO tahun 1958
Perhatian dunia internasional terhadap perjuangan Yayasan Beribu ditunjukkan dengan diikutsertakannya dalam berbagai konferensi internasional, seperti International Conference on the Family, di India, 1967; pertemuan pemimpin wanita Asia di New York, 1958; pertemuan dengan Direktur Organisasi Internasional untuk kesehatan , pendidikan, dan kesejahteraan, New York, 1953; Workshop di Filipina (1953). Disamping kunjungan dari beberapa badan dunia untuk mempelajari system pembelajaran anak usia dini Yayasan Beribu dilakukan oleh UNESCO (1960); Director of Associated Country Women of the Word (ACWW) (1961); UNICEF, 1962, 1969, 1971; Canadian Brodcasting Corporation (1964); ACCW South Asia (1071); Konrad Adenauer Stiftung dan Terre des Hommes, Jerman (1974, 1976).
Pemprakasa parent cooperative di Indonesia, tahun 1971. Bahkan Ibu Mary saleh
adalah salah seorang penggagas parent cooperative di Thailand, sehingga mendapat
penghargaan tinggi dari raja Thailand.
Pemprakasa berdirinya Taman Penitipan Anak (TPA), untuk pertama kalinya dibuka di
jalan Cipaganti 107 dan diresmikan oleh ibu Mashudi, istri Gubernur Jawa Barat, tanggal 8 Januari 964.
Pengembang disain produksi dan pemasaran alat permainan edukatif (APE) pertama di
Indonesia tahun 1961. Usaha ini melibatkan anak-anak putus sekolah dan sampai sekarang produksi APE Yayasan Beribu telah dikenal diseluruh wilayah Indonesia.
Penyelenggara pendidikan inklusi untuk anak berkebutuhan khusus sejak tahun 1991.
Periode Orde Baru/Taman Kanak-Kanak Alqur’an
Salah satu gerakan yang tak boleh diabaikan dalam sejarah perkembangan pendidikan anak usia dini di Indonesia dan mendapat sambutan luas dan apresiasi dari masyarakat dilakukan oleh LPPTKA-BKPRMI (Badan Keluarga Pemuda Remaja Masjid Indonesia) yang pada awalnya berkembang pesat di Bandung, Jawa barat, sekitar tahun 1990-an. sebelumnya di Yogyakarta berkembang merode Iqro’, yaitu cara cepat belajar membaca Alqur’an untuk anak-anak usia dini. Lembaga tersebut memanfaatkan serambi masjid sebagai tempat menyelenggarakan taman kanak-kanak Alqur’an (TKA) dan Taman Pendidikan Alqur’an (TPA). Perkembangan gerakan ini termasuk sangat cepat sebab hampir di seluruh pelosok daerah terdapat masjid sebagai tempat ibadah, kemudia menyebar dan berkembang ke propinsi lain di seluruh Indonesia. Berdasarkan nomor unit yang dilekuarkan LPPTKA, di Jawa Barat saja pada tahun 1997 telah terdaftar 100-an TKA.
Gerakan ini mulai menurun justru sejak keluarnya gebrakan PAUD oleh pemerintah sekitar tahun 2003; namun demikian sampai saat ini perjuangan LPPTKA-BKPRMI sampai saat ini terus berlanjut.
Periode lahirnya PAUD tahun 2003 sampai sekarang
PAUD tak lain untuk menjawab persoalan masih banyaknya anak usia dini yang belum mendapatkan layanan pendidikan; meskipun sudah ada taman kanak-kanak (TK). Keberadaan TK dan kelompok bermain (play group) selama ini dianggap belum mampu menampung anak usia dini yang seyogyanya memperoleh pendidikan.
Sejak gerakan PAUD dicanangkan Presiden pada 23 Juli 2003, secara kuantitas jumlah PAUD yang berdiri memang meningkat sangat drastis. Namun demikian banyak hal yang perlu mendapat perhatian khusus dari pemerintah, seperti kualitas guru, program belajar atau kurikulum, tata kelola, dan hubungan haarmonis dengan taman kanak-kanak yang sudah lebih dulu berkembang.
Sejarah Pendidikan Prasekolah dan
Taman Kanak Kanak di Indonesia
Sangat jarang ditemukan orang yang tidak mengetahui tentang Taman Kanak-Kanak (TK) di Indonesia, bahkan bisa dibilang mayoritas orang Indonesia pernah mencicipi bangku TK, ya minimal tahu tentang “makhluk” tersebut. Namun yang jadi pertanyaan tahukah anda tentang sejarah perkembangan Taman Kanak Kanak di Indonesia? mungkin akan banyak orang yang akan mengernyitkan dahinya pertanda tidak tahu. Taman Kanak Kanak sebagai sebuah institusi pendidikan mungkin masih tergolong baru dibandingkan sekolah lainnya. Menurut sejarahnya tercatat Freidrich Froebel (21 April 1782-21 Juni 1852) seorang berkebangsaan Jerman, sebagai salah satu pengagas pendidikan untuk anak dengan membuka kindergarten (kinder=anak; garten=taman) pertama di dunia pada 28 Juni 1840 di Thuringia-Jerman. Salah satu pemikiran tentang pendidikan anak dituangkan bukunya The Education Of Man (Die Nenschenerziehung):
Pentingnya peran pendidikan terhadap perkembangan manusia tersebut menjadi prioritas utama dari pendidikannya dan pendidikan harus diberikan secara lebih dini kepada anak-anak.
Bagaimanakah sejarah perkembangan Taman Kanak-Kanak di indonesia?
Kalau kita kilas balik perkembangan Taman Kanak-Kanak di Tanah Air ini maka kita patutnya bersyukur, dimana Pendidikan Taman Kanak-Kanak (Prasekolah) di Negara ini tidak tertinggal jauh dengan taman Kanak-kanak yang pertama di dunia yakni pada abad ke-19. Demi memudahkan penulisan maka sejarah Taman kanak Kanak di Indonesia akan dibagi menjadi beberapa periode:
1. Zaman Belanda, tampaknya kita harus “berterima kasih” terhadapPemerintah kolonial Belanda dengan mulai didirikannya pendidikan prasekolah di Indonesia secara terbatas. Meskipun pada umumnya diperuntukkan Pemerintah Belanda mendirikan lembaga-lembaga pendidikan presekolah tersebut terbatas untuk kalangan “londo” namun segelintir priboemi juga beruntung dapat mencicipi pendidikan prasekolah tersebut yakni mereka yang berketurunan ningrat atau yang bergelar bangsawan.
Kurikulum pendidikan prasekolah yang diberlakukan pada masa itu diimpor dari belanda. Kurikulum tersebut sangat diwarnai oleh pengaruh pendiikan ala Froebel yang sanat menekankan penggunaan bermain dan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan sebagai media kegiatan belajar anak. Pendidikan Taman Kanak-Kanak dalam zaman Belanda dikenal sebagai Frobelschool. Pendidikan tersebut didirikan dengan tujuan agar anak dapat melakukan adat baru yang baik; anak-anakpandai membaca, menulis dan berbahasa Belanda dan dengan persiapan tersebut anak dapat masuk ke sekolah belanda.
Belanda juga memperkenalkan metode Montessori pada tahun 1938 melalui sekolah-sekolah pendidikan guru TK. Metode pendidikan Montessori menekankan kebebasan yang lebih besar kepada anak untuk mengembangkan gaya individualnya. Sasaran pendidikannya terutama diarahkan untuk mebantu perkembangan kepribadian anak yang spontan dan membangun rasa kompeten yang berkisar pada pengembangan tujuan-tujan internal perkembangan seperti kemandirian, kepercayaan diri, disiplin dari dalam diri dan ketangkasan seperti yang ada di desa-desa. Pada pendidikan Taman Kanak-Kanak diberikan nyanyian nyanyian, permainan dan cerita Jepang.
Tahun 1913 Ki Hajar Dewantara (yang bernama asli RM Soewardi Soejaningrat) karena aktivitas politiknya yang
semakin mengkhawatirkan pemerintah Belanda, maka beliau diasingkan ke negeri Belanda.,. Artikelnya yang berjudul “als ik eens Nederlander was” (Seandainya aku orang Belanda) pada sebuah surat kabar yang dipublikasikan secara luas sangat menyinggung pemerintah Belanda. Dalam artikel ini ia
mengungkapkan bahwa seandainya ia orang belanda, ia akan merasa malu karena sementara merayakan hari
kemerdekaannya, dan pada saat yang bersamaan Belanda justru menjajah Indonesia.
Untungnya selama di Belanda Ki Hajar Dewantara banyak
sekolah-sekolah yang memadukan metode-metode dan isi pendidikan terbaik Eropa dengan budaya terbaik Indonesia. Dengan kata lain sistem pendidikan ini adalah memodifikasi metode Froebel dengan metode Montessori yang disesuaikan dengan adat timur. Program pendidikan ini ditujukan untuk anak di bawah usia 7 tahun dan didirikan pada tanggal 3 Juli 1922 mendirikan Taman Lare (anak) atau Taman Anak atau Sekolah Fröbel Nasional atau Kindertuin yang akhirnya
disepakati dengan nama Taman Indria (Taman Indra). Sejalan dengan prinsip-prinsip Froebel dan Montessori, Taman Indria ini memfokuskan arah pendidikannya kepada penajaman
keterampilan-keterampilan sensorik anak. Ki Hajar Dewantara (1889-1959) seorang tokoh pendidikan nasional dan pendiri perguruan Taman Siswa pada tanggal 3 Juli 1922
Pada sekitar tahun-tahun yang sama, suatu organisasi Islam yang dikenal dengan Persatuan Wanita Aisyiyah juga
membangun lembaga pendidikan prasekolah Bustanul Athfal yang pertama. Pembangun Bustanul Athfal ini
dimaksudkan untuk meningkatkan sikap nasionalisme dan tujuan-tujuan keagamaan dalam merespon popularitas
lembaga-lembaga prasekolah yang berorientasi Eropa. Selain itu, selama periode pemerintahan kolonial Belanda ini,
sejumlah organisasi Islam lainnya dan pesantren juga turut membangun dan merancang program-program prasekolahnya masing-masing. Nama Frobelschool diganti dengan nama
Taman Kanak-kanak. Pada waktu itu guru-guru belum mengenal kehidupan dan kebutuhan anak yaitu tentang permainan,
ketangkasan-ketangkasan seperti yang ada di desa-desa. Pada pendidikan Taman Kanak-Kanak diberikan nyanyian-nyanyian, permainan dan cerita Jepang.
3. Zaman Kemerdekaan
budaya nasional tersebut guru-guru TK perlu mempelajari pendidikan dan pengajaran. Seiring dengan perkembangan Taman Indria, berkembang pula Taman Kanak-kanak (TK) yang merupakan adaptasi dari konsepKindergarten dan Taman Indria. Perkembangan TK jauh lebih pesat dari pada Taman Indria. Dalam perjalannya, lahir pula Raudhatul Athfal atau RA yang merupakan penyelenggaraan program pendidikan bagi anak usia dini dengan kekhasan agama Islam.
SEJARAH PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DI INDONESIA
Sejarah berdirinya Taman Kanak-kanak atau yang disebut prasekolah telah dimulai pada tahun 1900. Tokoh seperti Froebel adalah yang paling berpengaruh, pada tahun 1837 Froebel telah menggunakan istilah kindergarten atau taman kanak-kanak. Pola perkembangan Pendidikan anak usia dini di Indonesia dikelompokkan menjadi empat bagian, yaitu pada zaman kerajaan, penjajahan Belanda, Jepang, dan zaman Kemerdekaan.
Pada abad ke 19 bangsa Belanda, yang waktu itu masih menjajah di Indonesia dengan mulai mendirikan sekolah di lndonesia terutama untuk anak-anak mereka sendiri dan anak-anak lndonesia dari golongan tertentu saja yang dapat diizinkan untuk masuk sekolah yang didirikan oleh Belanda. Ada dua tipe sekolah yang di dirikan oleh Belanda, yaitu tipe Europese Lagere School (ELS) dan Froebel School. Pada awal mulanya Belanda mendirikan Sekolah Dasar, Sekolah Menengah dan akhirnya Sekolah Tinggi serta Taman Kanak-kanak pada waktu itu disebut Bewaarschool (bewaar berasal dari kata bewaren artinya menitipkan) Usaha pendidikan anak prasekolah di Indonesia telah berlangsung sejak tahun l9l4 pada saat Pemerintah Hindia Belanda membuka kelas persiapan (voorklas) yang fungsinya menyiapkan anak- anak memasuki HIS (bentuk Sekolah Dasar di Indonesia pada zaman penjajahan Belanda Dari kedua sekolah tersebut hanya anak-anak Indonesia dari golongan tertentu yang dapat memasuki sekolah tersebut. Anak-anak yang masuk dalam sekolah tersebut harus bisa berbahasa Belanda, karena bahasa Belanda adalah bahasa sebagai kata pengantar.
Setelah Belanda sudah tidak lagi menguasai Indonesia, kemudian Jepang menggantikan kekuasaan tersebut. Jepang telah menguasai Indonesia, pada zaman kekuasaan Jepang sistem pembelajaran TK di Indonesia beralih ke sistem Nippon. Sistem Nippon digunakan Jepang untuk mengubah budaya Indonesia menjadi budaya Jepang, banyak materi di sekolah TK yaitu tentang nyanyian jepang, cerita, dan permainan ala Jepang.
Bentuk pendidikan prasekolah atau Taman Kanak-kanak di Indonesia sudah berdiri sebelum kemerdekaan, ini terbukti dengan berdirinya lembaga-lembaga pendidikan yang mengkhususkan perhatian terhadap usia Taman Kanak-kanak yang berdasarkan pada Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 2 tahun 1989. Kemudian dijabaran dalam Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1990 tentang Prasekolah menyatakan bahwa bentuk satuan pendidikan dini meliputi Taman Kanak-kanak di jalur pendidikan Sekolah , Kelompok Bermain dan Penitipan Anak serta bentuk sejenis di jalur pendidikan luar sekolah.
Salah satu pelopor pendidikan di Indonesia adalah Ki Hadjar Dewantara, ia berperan penting dalam perkembangan TK di Indonesia, jauh dari sebelum Indonesia merdeka, Ki Hadjar Dewantara sudah memikirkan sistem pendidikan nasional, termasuk TK. Pada tahun 1922 beliau mendirikan Taman Indria di Kota Gede, Yogyakarta. Bersamaan dengan berdirinya Taman Indria, berdiri pula Taman Kanak-Kanak dengan nama Bustanul Atfal yang disponsori oleh organisasi-organisasi Islam. Pada tahun 1941, sekolah-sekolah Froebel dilanjutkan dengan nama Taman Kanak-Kanak. Hari lahirnya Taman Siswa yaitu tanggal 3 Juli 1922 merupakan hari penting untuk anak lndonesia, karena mulai hari itu anak Indonesia diakui haknya untuk tumbuh dan berkembang menurut bakat dan pembawaanya. Taman Indria memberikan layanan pendidikan bagi anak berusia dibawah 7 tahun. Nama Taman Indria digunakan dengan harapan bahwa TK itu bagaikan taman yang nyaman dan menyenangkan bagi anak. sistem pembelajran yang digunakan adalah sistem among. Sistem among adalah suatu gabungan antara kodrat dan iradat.
Tokoh-tokoh anak prasekolah pada masa lalu sangat mempengaruhi perkembangan pendidikan prasekolah atau Taman Kanak-kanak :
Ki Hajar Dewantara, seorang tokoh gerakan di lingkungan Perguruan Taman Siswa mendirikan Taman Indria, yaitu suatu sarana pendidikan untuk anak prasekolah
Dewey meyakini bahwa anak harus diberikan kegiatan yang bermanfaat sesuai tahap perkembangannya
Montesori menekankan bahwa alat bermain sangat urgen untuk dirancang pada saat kegiatan bermain anak
Bloom menyatakan bahwa perkembangan mental yaitu perkembangan intelegensi, kepribadian, dan tingkah laku sosial, sangat pesat ketika anak masih berusia dini separuh dari perkembnagan intelektual anak berlangsung sebelum anak berusia 4 tahun