• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMAGANGAN PEWARNAAN DAN SKIR PLANGKAN D

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PEMAGANGAN PEWARNAAN DAN SKIR PLANGKAN D"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

Artikel ini dipresentasikan pada seminar nasional dan call for paper LPPM UNY tanggal

21-22 April 2015

PEMAGANGAN PEWARNAAN DAN SKIR PLANGKAN DALAM RANGKA

PENGUATAN EKSPOR SARUNG GOYOR BERBASIS OVOP

(ONE VILLAGE ONE PRODUCT) DI SRAGEN

Prof. Dr. Rahmawati, M.Si, Ak. Dra. Anastasia Riani S, M.Si.

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret, [email protected], 08122658200

Prof. Soenarto, M.Sc. M.A. Ph.D.

Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta, [email protected].

Abstrak

Sarung goyor merupakan produk unggulan Kabupaten Sragen yang akan ditumbuh kembangkan mengingat ketersediaan potensi dan sumber daya yang ada dan memiliki peluang pasar yang jelas. Dalam menumbuhkembangkan produk unggulan dimaksud, UKM sentra tergabung dalam wadah Koperasi Agawe Makmur. Sehubungan dengan hal tersebut, pengembangan produk unggulan Sarung Goyor berbasis ONE VILLAGE ONE PRODUCT (OVOP) telah didukung oleh Pemerintah Propinsi Jawa Tengah, Pemerintah Pusat, serta DIKTI dengan skim Hi Link.

Penelitian untuk penyempurnaan teknologi yang diterapkan. Metode pemilihan Iptek yang digunakan dalam implementasi kegiatan yaitu: observasi dimaksudkan untuk mengamati produk tenun sarung goyor, proses pembuatan Inovasi Tenun sarung goyor, pembuatan peralatan tenun model baru di Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen. Diskusi dengan Pengrajin menentukan konsep yang tepat dalam penentuan desain sehingga tahu desain yang banyak diminati konsumen dengan kearifan lokal, juga menentukan warna-warna baru yang akan dibuat serta diversifikasi produk. Observasi digunakan untuk menemukan kelemahan dan kelebihan tentang Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) Model Baru dan pembuatan bak mordan (pencelupan) untuk pewarnaan benang. Metode juga melihat kekurangan dan kelebihan serta pembenahan manajemen keuangan, Kerja Bengkel, dan operasional usaha.

Pendampingan secara individual, dimaksudkan untuk mengetahui potensi secara individu pengrajin untuk bisa dikembangkan secara optimal. Pelatihan ekspor dan impor diperlukan agar koperasi dan sekelompok masyarakat dapat mengekspor sendiri tanpa tergantung terus menerus pada pedagang besar. Pelatihan dalam bentuk pemagangan pewarnaan, skir plangkan, dan motif baru juga dilakukan agar terbentuk kluster-kluster. Desain baru dibuat agar sesuai dengan ciri khas unggulan daerah Sragen yaitu fosil gading di Sangiran. Tujuan akhir terbentuknya bisnis kecil supaya tidak selamanya tergantung pada satu pedagang besar.

(2)

Artikel ini dipresentasikan pada seminar nasional dan call for paper LPPM UNY tanggal

21-22 April 2015

PENDAHULUAN

Kabupaten Sragen, memiliki potensi beberapa produk unggulan yang sedang

dikembangkan. Salah satu produk unggulan tersebut adalah Sarung Goyor yang berlokasi

di Desa Sambirembe, Kecamatan Kalijambe.

Komoditas tersebut dikembangkan karena memiliki beberapa keunggulan,

diantaranya adalah bahwa sarung goyor memiliki daya tarik dan nilai historis, karena

merupakan produk hand made dengan menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM)

yang diproduksi secara turun temurun, sehingga merupakan potensi warisan leluhur yang

patut dilestarikan. Selain itu produk sarung goyor memiliki pangsa pasar export, yang

banyak digemari di Negara Timur Tengah seperti Negara Republik Somalia, karena kualitas

bahannya yang khas, dapat menimbulkan rasa “adem” atau dingin jika dipakai pada cuaca

yang panas, tetapi juga bisa memberikan kehangatan bagi pemakainya pada cuaca yang

dingin. Produk sarung goyor juga banyak digemari karena mudah perawatannya, tetap halus

walaupun tidak diseterika. Dari berbagai keistimewaan diatas maka tidak mengherankan jika

masyarakat Somalia gemar sarung goyor, sebab perubahan musim panas dan dingin di

negara ini sangat mencolok.

Dalam upaya meningkatkan efisiensi, efektifitas, serta daya saing bagi para

pengrajin sarung goyor, telah terbentuk Koperasi Industri dan Kerajinan (Kopinkra) AGAWE

MAKMUR sebagai wadah/sarana untuk kegiatan ekonomi bersama, utamanya pembelian

bersama, pengolahan dan penjualan bersama. Sehubungan dengan hal tersebut, perlu

dikembangkan kelompok UMKM pengrajin sarung goyor anggota/calon anggota Kopinkra

Agawe Makmur di Kecamatan Kalijambe guna memenuhi permintaan pasar ekspor yang

masih sangat berpotensi.

Tujuan Pengembangan Produk Unggulan Daerah Melalui Koperasi adalah:

1. Menumbuh kembangkan UMKM Pengrajin Sarung Goyor dengan Alat Tenun

Bukan Mesin (ATBM) anggota/calon anggota Kopinkra Agawe Makmur di

Kecamatan Kalijambe.

2. Meningkatkan kapasitas produksi, sehingga mampu memenuhi pesanan baik

lokal maupun ekspor.

3. Meningkatkan nilai tambah dan harga jual lebih tinggi, yang berdampak

meningkatnya pendapatan perajin Sarung Goyor di Kecamatan Kalijambe

Kabupaten Sragen.

4. Penumbuhan wirausaha baru.

5. Menciptakan lapangan kerja, mengurangi pengangguran dan mengatasi

(3)

Artikel ini dipresentasikan pada seminar nasional dan call for paper LPPM UNY tanggal

21-22 April 2015

Tabel 1 berikut ini menggambarkan kondisi mitra dan kondisi koperasi.

Tabel 1 Kondisi mitra dan koperasi.

URAIAN KONDISI SAAT INI KONDISI YANG

DIHARAPKAN

 Meningkat signifikan dengan penambahan

anggota dan

pemupukan modal

sendiri

(4)

Artikel ini dipresentasikan pada seminar nasional dan call for paper LPPM UNY tanggal

Usaha yang telah dan akan dilakukan PEMDA adalah:

1. Peran Koperasi dalam pengembangan OVOP

a. Menampung UMKM pengrajin sarung goyor sebagai anggota/calon anggota

Koperasi.

b. Melayani dan atau memfasilitasi pemenuhan kebutuhan anggota, baik sarana

produksi, peralatan, bahan baku maupun bahan penunjang lainnya.

c. Melayani dan atau memfasilitasi kebutuhan modal usaha anggota.

d. Memfasilitasi upaya peningkatan kualitas produksi anggota

e. Menjual dan atau memfasilitasi pemasaran hasil produksi anggota

f. Mengupayakan peningkatan kesejahteraan anggota.

2. Kegiatan Perluasan Akses Pasar dalam bentuk:

a. Temu usaha

b. Pameran

c. Fasilitasi pemasaran

Di dukuh/desa Sambirembe terdapat 250 UKM Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM),

Sarung Goyor, dengan produksi rata-rata 1.500 pieces, senilai Rp 300.000.000.

Menindaklanjuti kunjungan Bp. Mintardjo Halim Kadin Ekspor Impor Tekstil wilayah Afrika

Selatan tanggal 21 Juli 2010 didampingi Dirjen Perdagangan Kementrian Perdagangan

Republik Indonesia, disusul kunjungan tanggal 6 Agustus 2010 oleh duta besar Negara

Somalia didampingi wakil Menteri Perdagangan Republik Indonesia beserta rombongan

tentang rencana ekspor sarung goyor dari desa Sambirembe Kecamatan Kalijambe Sragen,

ke berbagai negara Timur Tengah khususnya Somalia maka diperlukan menyusun proposal

hi link ini.

Usaha yang telah dilakukan PEMDA antara lain:

 Pemerintah Kabupaten Sragen telah mengajukan proposal yang ditujukan kepada Pemerintah Pusat berupa Bantuan Peralatan sejumlah 1000 alat dilengkapi dengan

pelatihan ketrampilan pembuatan sarung goyor. Saat sekarang ini masih dalam

tahap pembahasan, berharap mendapatkan perhatian dari Pemerintah Pusat.

 Melalui APBD Perubahan tahun 2011, Dinas Perinkop dan UMKM Kabupaten Sragen, Bidang Industri mengusulkan bantuan peralatan serta Bimbingan Teknik

(5)

Artikel ini dipresentasikan pada seminar nasional dan call for paper LPPM UNY tanggal

21-22 April 2015

 Untuk meningkatkan jumlah ekspor maka pemerintah daerah akan membangun pabrik yang lahan sudah disiapkan untuk itu dan merencanakan untuk dianggarkan

dengan APBD tahun 2014 dan 2015.

Produk unggulan daerah kabupaten Sragen berdasarkan keputusan bupati sragen

no. 500/200/002/2011 adalah:

PRODUK LOKASI

Batik Tulis Masaran, Plupuh dan Kalijambe

Mebel Kalijambe, Gemolong, Sambungmacan, Masaran, Sambirejo, Sidoharjo, Mondokan dan Plupuh

Padi Organik Seluruh Wilayah Kabupaten Sragen

Garut Gesi, Mondokan, Sukodono, Jenar, Tangen, Sumberlawang dan Miri

Museum

Sangiran

dan batu

permata dan

fosil

Kalijambe

Sapi

Brangus

Masaran, Sidoharjo, Karangmalang, Plupuh, Kedawung, Sambungmacan, Sukodono

dan Sambirejo

Sarung

Goyor Masaran, Plupuh dan Kalijambe.

Sesuai Instruksi Gubernur Jawa Tengah nomor 518/23546 tahun 2012 tentang

Pengembangan Produksi nggulan Daerah Perdesaan melalui Pendekatan OVOP Berbasis

Koperasi. Telah di tetapkan Pengembangan Produk Unggulan Daerah Kabupaten Sragen

dengan Pendekatan OVOP melalui koperasi adalah Komoditas:

1. Sarung Goyor

2. Padi Organik

(6)

Artikel ini dipresentasikan pada seminar nasional dan call for paper LPPM UNY tanggal

21-22 April 2015

• Kurangnya tenaga ahli dibidang desain produk dan teknik pewarnaan • Kurangnya tenaga yang kompeten dibidang pengelolaan koperasi • Kurangnya diversifikasi produk

• Kurangnya kualitas kemasan produk

• Kurangnya akses pasar dan jaringan kerjasama usaha.

Tujuan Umum. Tujuan Umum program ini bertujuan meningkatkan Capacity building

Perguruan Tinggi dalam penerapan teknologi temuan Perguruan Tinggi yang

dibutuhkan oleh industri dan masyarakat secara berkelanjutan dan instutusional,

agar memperkuat daya saing industri mitra dan tingkat kesejahteraan masyarakat.

Bagi pengrajin dapat meningkatkan pengetahuan keterampilan dan sikap kepada

pengrajin di bidang sarung goyor dengan desain Batik sesuai minatnya sehingga

mereka memiliki bekal kemampuan untuk bekerja atau berusaha mandiri sesuai

dengan potensi/sumber daya serta peluang kerja pada perusahaan industri pada

akhirnya dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Tujuan DP2M-Dikti

mengembangkan model program kerja sama Perguruan Tinggi-Industri-Pemda

menerapkan teknologi yang dibutuhkan industri dan masyarakat, dan berasal dari

hasil penelitian ini diharapkan:

a. meningkatkan keterampilan para pengrajin membuat perencanaan dan

mengelola usaha sarung tenun goyor sehingga memperoleh penghasilan

yang layak untuk memenuhi kebutuhan hidupnya,

b. menumbuh kembangkan wawasan dari jiwa kewirausahaan di kalangan para

pengrajin sehingga memiliki etos kerja tinggi serta dapat menghasilkan

karya-karya unggul yang mampu bersaing di pasar global,

c. meningkatkan kemampuan para pengrajin dalam mengelola sumber daya

alam, sosial, budaya dan lingkungan serta mampu memanfaatkan beraneka

teknologi maupun desain di bidang usaha sarung tenun goyor,

d. memiliki kemampuan memahami diri sendiri, orang lain, dan lingkungan serta

berkemampuan bekerja dalam tim baik di sektor formal maupun informal.

Road map penelitian (peta jalan) ini adalah:

a. Bintek Perkoperasian.

b. Pendampingan manajemen Koperasi dan Pembuatan Proposal, serta informasi

pemasaran melalui internet oleh BDS Mekar Niaga.

c. Sosialisasi Skim kredit untuk KUMKM.

d. Koordinasi dan sinkronisasi program melalui Kegiatan Forum Group Discussion

(7)

Artikel ini dipresentasikan pada seminar nasional dan call for paper LPPM UNY tanggal

21-22 April 2015

e. Peningkatan Kualitas Produk dan Ketrampilan SDM melalui Kegiatan Perintisan

Kopinkra Sektor Sarung Goyor Melalui Sistim OVOP di Kabupaten Sragen.

f. Study banding Produksi Sarung Goyong di Pemalang dan Tegal.

g. Aplikasi Teknis Pengembangan KUMKM melalui Pendekatan Rantai Nilai.

h. Monev pelaksanaan OVOP.

Penguatan Kelembagaan (capacity building). Tujuan khusus DP2M-Dikti

mengembangkan model program kerja sama Perguruan Tinggi-Industri-Pemda yang

menerapkan teknologi yang dibutuhkan industri dan masyarakat, dan berasal dari

hasil penelitian Manfaat bagi Institusi Perguruan Tinggi: mendorong eksistensi

Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) dalam memprediksi dan membantu

memberi alternatif solusi permasalahan lokal dan global agar dapat mendukung

aktivitas sosial ekonomi masyarakat yang berdaya saing tinggi berbasis Ipteks.

Menciptakan sinergi pemberdayaan potensi yang berkesinambungan antara

masyarakat, pemerintah dan Perguruan Tinggi Universitas Sebelas Maret Surakarta

atas dasar keterpaduan dan keselarasan (link and match) dan memberi masukan

untuk penyesuaian materi kurikulum pendidikan.

Dari uji coba pemasaran dilakukan dengan cara pameran baik secara Nasional

maupun internasional sarung tenun goyor dengan motif baru hasil dari

pengembangan desain, supaya dapat diterima dan laku di pasaran. Usaha

pemasaran meliputi:

• Kerjasama dengan eksportir di Solo Jawa Tengah • Mengikuti Pameran di berbagai event

• Dilakukan melalui kegiatan temu usaha • Promosi via internet

Indikator kualitatif Tahun II (2015): a)Melakukan pendampingan usaha dan memberikan

layanan konsultasi pengembangan usaha. b) Mengembangkan jalinan kerja sama dengan

lembaga pemerintah maupun non pemerintah dalam bidang kewirausahaan dan

pengembangan usaha baik dalam maupun luar negeri. c) Mengembangkan percepatan

wirausaha baru dikalangan masyarakat. d) Mengembangkan program-program kajian studi

dibidang kewirausahaan dan usaha kecil.

METODA

Metoda yang dilakukan adalah: diperlukan training/pelatihan sistem teknologi

bahan sarung tenun gloyor, Training/pelatihan pengembangan sikap mental

berwirausaha, Training/pelatihan manajemen keuangan bagi peserta,

(8)

Artikel ini dipresentasikan pada seminar nasional dan call for paper LPPM UNY tanggal

21-22 April 2015

ekspor, pengelolaan Usaha. Sukses Story juga diperlukan dengan menghadirkan

praktisi bisnis terkait.

Untuk itu diperlukan berbagai rancangan, evaluasi dan pelaksanaan kegiatan

sebagai berikut.

Rancangan Pelaksanaan Kegiatan:

1). Persiapan. Kegiatan yang dilakukan mencakup:

 Menyusun materi dan instrumen untuk seleksi dan perekrutan bagi peserta pelatihan.

 Koordinasi dengan stakeholder terkait, seperti: instansi atau pemerintah desa kalijambe maupun lembaga koperasi yang ada/pengrajin sarung tenun gloyor

yang sudah eksis.

 Koordinasi dengan tim pengajar yang meliputi dosen-dosen dari Universitas Sebelas Maret yang terkait maupun dari praktisi teknis terkait.

 Penyusunan bahan/modul/materi pelatihan.

2). Pemberian pelatihan: pelatihan diberikan, dalam bentuk, in house training

maupun out house training pada tahun ke 2: Pelatihan dan pemagangan desain motif

baru sarung tenun goyor, pewarnaan, dan skir plangkan.

4). Evaluasi kegiatan: setelah mengikuti kegiatan training/pelatihan dari seluruh

rangkaian materi.

Pelaksana Kegiatan adalah:

 Dosen-dosen materi terkait dari Fakultas Ekonomi dan bisnis Universitas Sebelas Maret dan Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta.

 Praktisi dari industri terkait dari Pemalang dan Tegal (studi banding). Proses Pembelajaran dilaksanakan dengan cara sebagai berikut:

a. Pendekatan Andralogi.

Pendekatan secara personal sesuai kebutuhan dan kemampuan pribadi

peserta didik dengan meminimalkan pendekatan yang menjurus pendekatan

intruksional.

b. Rasio mata pelajaran teori dan praktek adalah 20% dibanding 80%.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Program HI-LINK yang beroperasi dengan lancar dan melembaga (memiliki prospek

mandiri dan berkelanjutan) melalui Pembentukan Kelompok Belajar Usaha (KBU) dan

berkesinambungan jalannya BDS (business development service). Pengrajin sebanyak

(9)

Artikel ini dipresentasikan pada seminar nasional dan call for paper LPPM UNY tanggal

21-22 April 2015

goyor yaitu: Kecakapan Pribadi yaitu kecakapan untuk mengenal diri sendiri orang

berpikir secara rasional dan kecakapan untuk tampil dengan kepercayaan diri yang

mantap. Kecakapan Sosial yaitu kecakapan untuk berkomunikasi melakukan kerja

sama, bertenggang rasa dan memiliki kepedulian serta tanggung jawab sosial dalam

kehidupan bermasyarakat. Kecakapan Akademik yaitu kecakapan untuk merumuskan

dan memecahkan masalah yang dihadapi melalui proses berpikir kritis, analisis, dan

sistematis serta memiliki kemampuan untuk melakukan penelitian, eksploirasi, inovasi

dan kreasi melalui pendekatan ilmiah. Kecakapan Vokasional yaitu kecakapan yang

berkaitan dengan bidang ketrampilan kerajinan tenun yang dapat dipergunakan untuk

bekerja sebagai karyawan maupun usaha mandiri. Dimilikinya Kemampuan

Kewirausahaan oleh Pengrajin yang meliputi: Kemampuan untuk mengelola dan

menyusun perencanaan usaha, Kemampuan untuk melakukan pengembangan usaha

melalui kemampuan berpikir kreatif dan inovatif, Kemampuan untuk melakukan usaha

secara profesional dan mandiri.

Keterlibatan kemitraan secara intensif dengan pihak yang akan terkait dalam

perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan HI-LINK: a) Lembaga Pemerintah

Desa/Camat untuk rekrutmen pengrajin. b). Dinas perindustrian koperasi dan UMKM

untuk permodalan. c) Dinas Pariwisata Kabupaten Sragen d) Universitas Sebelas Maret

Surakarta dan Universitas Negeri Yogyakarta sebagai Team peneliti. e). Koperasi

Agawe makmur Sragen.

Peningkatan kinerja industri mitra setelah penerapan teknologi: meningkatkan

jumlah keuntungan, karyawan dan investasi, serta perluasan wilayah pemasaran,

Meningkatkan ketrampilan pengrajin dalam membuat perencanaan dan mengelola

usaha kerajinan tenun sehingga memperoleh penghasilan yang layak untuk memenuhi

kebutuhan hidupnya, Menumbuh kembangkan wawasan dari jiwa kewirausahaan

dikalangan pengrajin sehingga memiliki etos kerja tinggi serta dapat menghasilkan

karya-karya unggul yang mampu bersaing dipasar global, Meningkatkan kemampuan

pengrajin dalam mengelola sumber daya alam, sosial, budaya dan lingkungan serta

mampu memanfaatkan beraneka teknologi di bidang usaha kerajinan. Memiliki

kemampuan memahami diri sendiri, orang lain dan lingkungan serta kemampuan

bekerja dalam tim baik sektor formal maupun informal.

Manfaat bagi Pembangunan: 1) Penanggulangan Kemiskinan. Meningkatkan

kinerja usaha serta kehidupan sosial ekonomi masyarakat pengrajin melalui peningkatan

potensi masyarakat pengrajin yang dalam jangka panjangnya akan mendorong

(10)

Artikel ini dipresentasikan pada seminar nasional dan call for paper LPPM UNY tanggal

21-22 April 2015

lapangan kerja bagi masyarakat luas melalui tumbuh kembangnya wirausaha-wirausaha

baru dibidang kerajinan sarung tenun goyor.

Training Need Analysis

Analisis Kebutuhan Pelatihan (Training Need Analysis) dilakukan dengan tujuan

menyesuaikan isi latihan dengan kebutuhan peserta pelatihan yaitu pengusaha kecil

pengrajin sarung goyor. Penyusunan analisis kebutuhan pelatihan dilakukan dengan

pendekatan konsep enterprizing usaha kecil. Enterprising usaha kecil adalah usaha kecil

yang dikelola dengan pendekatan perusahaan atau usaha kecil yang menerapkan

fungsi-fungsi manajemen didalam pengelolaan usahanya. Fungsi-fungsi-fungsi manajemen tersebut

adalah perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian.

Kegiatan usaha kecil pada dasarnya meliputi kegiatan-kegiatan yang menyangkut

produksi/teknologi, pemasaran, pengelolaan keuangan/permodalan serta manajemen

usaha. Dari paparan mengenai gambaran usaha pengrajin di wilayah penelitian dapat

disimpulkan bahwa hambatan yang melekat pada usaha pengrajin adalah pada miskinnya

akses teknologi, keterbatasan akses pemasaran, keterbatasan permodalan/keuangan dan

kurangnya manajerial skill.

Dengan beberapa kelemahan yang melekat tersebut maka aspek analisis kebutuhan

pelatihan akan berkaitan dengan aspek produksi, pemasaran, keuangan, dan manajemen

usaha pengrajin. Penelitian dari Harvard University menunjukkan bahwa kunci keberhasilan

wirausaha 85% ditentukan oleh sikap mental/jiwa kewirausahaan dan hanya 15% ditentukan

oleh keahlian teknis. Merujuk pada hasil penelitian tersebut, aspek jiwa kewirausahaan

merupakan aspek yang diperhitungkan dalam melakukan analisis kebutuhan pelatihan.

Kegiatan Pendampingan

1. Tujuan Kegiatan Pendampingan

Memberi advokasi dan pengarahan teknis kepada peserta didik dalam

memahami pengetahuan serta ketrampilan yang diperoleh mereka selama

pelatihan dan menerapkan dalam dunia usaha dan dunia industri maupun

bekerja secara mandiri.

2. Materi Pendampingan

Pendampingan berupa pengaarahan dan bimbingan tehnis yang meliputi tiga

aspek yaitu:

a. Menerapkan desain motif baru sarung tenun goyor.

b. Perencanaan dan pengelolaan usaha dan kewirausahaan.

c. Dasar-dasar manajemen dan pembukuan.

d. Pewarnaan dan skir plangkan.

(11)

Artikel ini dipresentasikan pada seminar nasional dan call for paper LPPM UNY tanggal

21-22 April 2015

Instruktur pendampingan adalah staf pengajar dari FE UNS dan tenaga ahli

sebanyak 3 orang serta dibantu mahasiswa S1 dan S3.

4. Model Pendampingan

Pendampingan dilakukan dengan menggunakan model pendekatan partisipatif di

lapangan yaitu melalui partisipasi penuh dari instruktur pendampingan dalam

aktivitas kegiatan peserta didik.

Pendampingan dilakukan dengan strategi kelompok yaitu pendampingan kepada

5 kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 5 orang peserta didik yaitu 4 orang

sebagai anggota dan satu orang peserta didik yang dipilih sebagai ketua

kelompok.

4. Waktu dan Tempat Pendampingan

Pendampingan teknis pewarnaan dan skir plangkan bagi peserta didik pada

bulan Oktober dan November 2014, dengan frekuensi 5 kali kunjungan instruktur

pendampingan ke masing-masing kelompok dan satu kali evaluasi.

Pelaksanaan Pendampingan

Tim Instruktur mengunjungi setiap kelompok dan mengidentifikasi

permasalahan yang terjadi serta memberikan solusi dari permasalahan dengan

memberikan penjelasan-penjelasan kesulitan yang dialami peserta didik dalam hal

proses pewarnaan dan skir plangkan. Tim Pendampingan memberi arahan maupun

bimbingan untuk mendapatkan hasil yang berkulitas bagus dengan cara memberikan

contoh-contoh serta penerapan pemakaian maupun penggunaan demi kelancaran

produksi.

Pada akhir pertemuan diadakan evaluasi untuk peserta didik guna

mengetahui apakah peserta didik mampu menghasilkan produk sesuai standar atau

sebagai seleksi untuk diterimanya atau tidak hasil produk/hasil desain baru sarung

tenun goyor. Apabila hasil evaluasi ternyata ada yang belum sesuai dengan yang

diharapkan maka Tim akan memberikan kelonggaran waktu serta memberikan

bimbingan hingga peserta didik mampu menghasilkan produk standar dan

berkualitas bagus.

UKM telah ikut pameran crafina di Jakarta dan LPPM UNS agar terjadi

peningkatan penjualan di dalam negeri. Hasil desain motif baru fosil gading menjadi

ciri khas sangiran di Sragen. Motif baru telah dimodifikasi menjadi baju dan pada

tahun ke 2 proses pengajuan hak cipta.

(12)

Artikel ini dipresentasikan pada seminar nasional dan call for paper LPPM UNY tanggal

21-22 April 2015

A. Kesimpulan

Hasil studi analisis kebutuhan pelatihan untuk mengidentifikasi model pelatihan yang

sesuai guna meningkatkan kinerja usaha pengrajin sarung goyor melalui pendekatan

konsep enterprizing usaha kecil menghasilkan temuan sebagai berikut:

1. Ada kebutuhan pengrajin handycraft untuk mendapatkan pelatihan

kewirausahaan dengan potensi kebutuhan yang disebabkan belum tercapainya

standar enterprising rata-rata adalah sebesar 80 % yang berarti ± 80 % pelaku

usaha kecil belum memiliki jiwa kewirausahaan dan belum menerapkan

prinsip-prinsip pengelolaan usaha dengan baik dan benar.

2. Spesifikasi kebutuhan dilihat dari masing-masing aspek dan urutan

permasalahannya adalah:

a. 100 % usaha kecil membutuhkan pelatihan untuk mengembangkan sikap dan

kepribadian wirausaha antara lain kemampuan untuk memimpin, memotivasi

diri untuk menjadi manusia pembelajar dan orientasi pada pencapaian

prestasi.

b. 100% usaha kecil membutuhkan pelatihan manajemen pemasaran yang

memberikan pengetahuan untuk menyusun rencana pemasaran serta

keterampilan dalarn menjual.

c. 100 % usaha kecil membutuhkan pelatihan tentang pengelolaan keuangan

usaha terutama yang berkaitan dengan perencanaan dan pengendalian

keuntungan, praktek sehat pemisahan kekayaan pribadi dan usaha serta

pembukuan praktis untuk usaha kecil.

d. 100 % usaha kecil membutuhkan pelatihan manajemen produksi sarung

goyor khususnya di bidang penyelenggaraan administrasi produksi,

pengendalian kualitas produksi dan pemahaman tentang keselarnatan dan

kesehatan kerja.

e. 100 % usaha kecil membutuhkan pelatihan manajemen untuk meningkatkan

ketrampilan tentang pengorganisasian, pengetahuan tentang perijinan usaha

serta keterampilan menyusun rencana usaha.

3. Dari data hasil observasi yang dilakukan terhadap responden berkaitan dengan

aspek budaya dan keadaan sosial masyarakat dapat diidentifikasi bahwa model

pelatihan yang tepat adalah model pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan

peserta, bersifat preskiptif, merupakan jenis pelatihan partisipatif dan

menggunakan pendekatan fasilitator.

4. Dengan melihat latar belakang tingkat pendidikan peserta maka disamping

(13)

Artikel ini dipresentasikan pada seminar nasional dan call for paper LPPM UNY tanggal

21-22 April 2015

berhasil diungkap dalam studi analisa kebutuhan, juga harus disesuaikan dengan

daya tangkap peserta. Ada lima modul yang dikembangkan melalui penelitian ini

yaitu:

1) Modul produksi sarung goyor

2) Modul akuntansi

3) Modul kewirausahaan

4) Modul manajemen pemasaran on line

5) Modul prosedur dan dokumen ekspor impor

6) Modul perpajakan koperasi.

Penerapan Teknologi Tahun ke dua (2015). Penggunaan sentuhan teknologi yaitu

bagaimana membuat gambar pada benang dengan cepat yaitu dengan alat cap,

sehingga tidak manual lagi.

B. Saran

Sebagai tindak lanjut dari produk yang dihasilkan melalui penelitian ini yang berupa

model pelatihan dan modul pelatihan, sebagai langkah kedepan diperlukan:

1. Melakukan validasi atas model pelatihan dan modul pelatihan melalui uji judges

(para ahli bidang terkait) dan lapangan terbatas (beberapa calon pengguna).

Uji model pelatihan akan mengujji apakah format pelatihan yang dirancang

memungkinkan terjadinya proses pembelajaran dan transfer pengetahuan serta

skills ke dalam dunia pekerjaan pengrajin.

Uji kelayakan atas modul pelatihan akan menguji apakah modul pelatihan sesuai

dengan kebutuhan peserta pelatihan, sesuai dengan daya tangkap peserta dan

memungkinkan peserta ikut aktif.

2. Melakukan evaluasi dan revisi atas model pelatihan dan modul pelatihan yang

telah menjalani uji kelayakan oleh para ahli bidang terkait dan calon pengguna.

3. Menerapkan model dan modul pelatihan yang telah dievaluasi dan direvisi

kedalam bentuk pelatihan kewirausahaan dengan harapan akan terjadi

peningkatan bidang afektif yaitu mulai berkembangnya jiwa kewirausahaan,

peningkatan bidang psikomotorik berupa dirnilikinya keterampilan sarung goyor

dan peningkatan bidang kognitif yaitu meningkatnya pengetahuan manajemen

usaha.

4. Melakukan riset evaluasi sejauh mana pelatihan kewirausahaan berbasis sarung

goyor akan dapat menghasilkan produk yang bernilai ekonomis tinggi sehingga

kinerja usaha pengrajin meningkat.

5. Menyampaikan feed-back dan out-come pelatihan kepada stakeholder sebagai

(14)

Artikel ini dipresentasikan pada seminar nasional dan call for paper LPPM UNY tanggal

21-22 April 2015

6. Tahun ke 2 telah tercapai kluster-kluster pengrajin tenun, pewarnaan, dan skir

plangkan.

7. Tujuan Tahun ke 3 (berikutnya): penerapan Teknologi baru berupa Rak Lift

Machine.

UCAPAN TERIMA KASIH: penelitian ini telah didanai oleh DIKTI skim pengabdian

kepada masyarakat Hi Link tahun 2014 dan 2015.

(15)
(16)
(17)

Artikel ini dipresentasikan pada seminar nasional dan call for paper LPPM UNY tanggal

21-22 April 2015

DAFTAR PUSTAKA

Agusty, Ferdinand, 2003, Keunggulan Diferensiasif Dan Kinerja Pemasaran, Jurnal Bisnis Strategi, Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro , Semarang

Dwivedi, Anju, 2004, Metodologi Pelatihan Partisipatif, Penerbit Pondok Edukasi, Yogyakarta.

Djoemena, Nian S., 2000, Lurik Garis Garis Bertuah, The Magig Stripes, Penerbit Djambatan, Jakarta.

Genova, 2002, Mengenal Lebih Dekat : Kewirausahaan, Jurnal Ekonomi Perusahaan, STIE IIBI, Jakarta

Gist: Bavetta & Stevan, 1990, Transfer Training Method: Its Influence on Skill

Generalisation, Skill Repeeetition and Performance Level, Personel Psycology.

Hall, C. M. 1996. Special Interest Tourism: An Introduction to tourism. Melbourne: Longman.

Kuncoro, Mudrajat , 2001, Analisis Profil Masalah Industri Kecil dan Rumah Tangga : Study Kasus Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol . 6 No. 1, 2001, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Meredith, Geoffrey G., 1996, Kewirausahaan Teori dan Praktek, Pustaka Binaman Presindo, Jakarta.

(18)

Artikel ini dipresentasikan pada seminar nasional dan call for paper LPPM UNY tanggal

21-22 April 2015

Nusantoro, Adi, 2002, Memberdayakan Ekonomi Rakyat Untuk Pembangunan Ekonomi Indonesia, Jurnal Ekonomi dan Bisnis, UGM, Yogyakarta.

Nyo, Agustien dan Subandi, Endang, 1999, Pengetahuan Barang Tekstil, Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Nasir, Muhammad dan Handoyo, Agus, 2003, Pengaruh Orientasi Wirausaha Terhadap Kinerja Perusahaan Kecil Dengan Lingkungan dan Strategi Sebagai Variabel Moderat, (Studi Kasus Pada Industri Aneka di Kota Semarang), Jurnal Bisnis Strategi Vo. 12 Desember 2003, Universitas Diponegoro Semarang.

Referensi

Dokumen terkait

22 Key-note speaker pada seminar ilmiah tingkat nasional 1 Artikel 3.00 SK penugasan Rektor/surat undangan, salinan daftar acara, bukti seminar diikuti oleh pembicara

0 Artikel Ilmiah pada jurnal ilmiah SINTA 2 dan/atau pada seminar call paper nasional. *Tergantung ketersediaan skema oleh Kemristekdikti RI. Bagi ITB-AD yang telah

Sebagian hasil penelitian dalam disertasi ini telah dipresentasikan pada Seminar 1 st International Conference of Crop Security, Universitas Brawijaya, Malang, 20 - 22

28/03/22 10.37 STUDI BANDING DAN SEMINAR PROGRAM STUDI PEP UNY DENGAN UNIVERSITY OF MALAYA | Program Pascasarjana