• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Disiplin PT Hassana Boga Sejahte

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Makalah Disiplin PT Hassana Boga Sejahte"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Perusahaan

PT Hassana Boga Sejahtera

PT Hassana Boga Sejahtera adalah perusahaan manufaktur yang membuat dan mengembangkan produk makanan yang bersumber dari para petani Indonesia. Perusahaan kami berawal dari perhatian yang besar akan nilai-nilai cinta Ibu kepada anak-anaknya, memberikan asupan makanan terbaik. Kami menghantarkan kebaikan untuk generasi Indonesia yang sehat dan cerdas.

Permulaan perusahaan kami dari 2009, saat merintis sebagai UKM, 2011 memberikan peluang kemitraan, 2013 menjadi semi industri, dan 2015 menjadi awal dari peran perusahaan kami di tingkat yang lebih tinggi, yaitu di level industri. Pada 2016, kami secara resmi mengantongi izin BPOM (sebelumnya izin PIRT), dan menegaskan produk kami sebagai bubur organik yang memiliki izin edar resmi. Kami mengembangkan diri melalui pemberdayaan Ibu di seluruh Indonesia yang saat ini bergabung menjadi distributor, mitra, agen dan reseller produk-produk berkualitas dan organik kami. Fokus jaringan inilah yang membuat kami tumbuh cepat dengan memiliki jaringan di hampir lebih dari 300 titik di seluruh nusantara, dari Sumatera hingga Papua.

1.2 Peraturan Dan Ketentuan Disiplin

Tata Tertib Dan Disiplin Kerja

(1) Perusahaan dan Karyawan menyadari sepenuhnya bahwa disiplin kerja sangat penting bagi jalannya Perusahaan. Terhadap pelanggaran-pelanggaran tata tertib dan disiplin kerja perlu dikenakan tindakan-tindakan disiplin.

(2) Peraturan-peraturan umum tentang tata tertib dan disiplin kerja yang wajib dipatuhi oleh Karyawan adalah sebagai berikut :

a. Apabila diperlukan, Perusahaan dapat melakukan pemeriksaan kepada Karyawan yang masuk dan keluar dari dan ke lingkungan Perusahaan.

b. Kehadiran:

(2)

dianggap tidak masuk kerja kecuali bila ia segera melaporkan hal tersebut kepada atasannya dengan memberikan alasan-alasan yang dapat diterima dan mendapat pernyataan tertulis dari atasan yang bersangkutan.

2) Karyawan tidak dibenarkan menyalahgunakan alat pencatat kehadiran, misalnya ia tidak masuk atau terlambat, lalu menyuruh orang lain mencatatkan kehadirannya di alat pencatat kehadiran yang telah disediakan.

3) Karyawan wajib hadir diwilayah kerjanya 10 (sepuluh) menit sebelum jam kerja dimulai untuk mempersiapkan diri dan mulai bekerja tepat waktu yang telah ditentukan.

4) Karyawan wajib memberitahukan kepada atasan/perusahaan baik lisan atau tulisan bila tidak masuk kerja.

5) Karyawan yang tidak masuk kerja karena sakit, diwajibkan untuk memberikan surat keterangan sakit dari dokter. Surat keterangan sakit diserahkan selambat-lambatnya 2 (dua) hari terhitung setelah Karyawan masuk kerja. Apabila surat keterangan sakit tidak/belum diberikan pada waktu yang telah ditentukan, maka Karyawan dianggap tidak hadir/alpa dan akan diperhitungkan dengan hak cuti tahunan Karyawan.

6) Karyawan tidak dibenarkan mangkir kerja dengan alasan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

7) Karyawan dilarang meninggalkan lingkungan kerja pada jam kerja tanpa seijin/persetujuan atasan langsung.

8) Karyawan wajib mengikuti ketentuan/prosedur yang berlaku apabila ia akan meninggalkan lingkungan kerja.

9) Karyawan tidak dibenarkan datang terlambat atau pulang sebelum waktunya, kecuali telah mendapat ijin/persetujuan atasan langsung. c. Upah tidak dibayar apabila pekerja tidak melakukan pekerjaan, kecuali :

1) Sakit dengan melampirkan surat dokter, sehingga tidak dapat melakukan Pekerjaan

2) Karyawan tidak melakukan pekerjaan karena sedang menjalankan kewajiban terhadap negara.

3) Karyawan tidak melakukan pekerjaan karena menjalankan ibadah yang diperintahkan agamanya untuk kali yang pertama.

4) Karyawan tidak melakukan pekerjaan karena melaksanakan hak istirahat atau dalam rangka cuti.

d. Dalam hal Karyawan mengajukan ijin meninggalkan lingkungan kerja, Karyawan wajib mengajukan ijin dengan sepengetahuan atasan langsung. (3) Karyawan wajib mematuhi dan melaksanakan ketentuan dan prosedur yang

telah ditetapkan dan berlaku di masing-masing satuan kerja.

(4) Karyawan wajib mentaati Undang-Undang/peraturan tentang keamanan, keselamatan dan kesehatan kerja, baik yang telah ditetapkan oleh Pemerintah maupun ketentuan-ketentuan khusus yang ditetapkan oleh Perusahaan.

(5) Karyawan wajib menjaga kebersihan dan kerapihan ruangan, tempat dan lingkungan kerja serta memelihara alat-alat kerja yang digunakan dan dilarang menjalankan dan/atau mempergunakan, peralatan Perusahaan kecuali bila diberi wewenang untuk itu.

(3)

lingkungan kerjanya.

(7) Karyawan tidak dibenarkan membawa ke luar lingkungan Perusahaan, dokumen dan barang/alat milik Perusahaan tanpa mendapat ijin dari atasan langsung.

(8) Karyawan diwajibkan berpakaian rapi dan sopan. Pakaian kerja/pakaian seragam wajib dipakai pada hari-hari dan tempat yang telah ditentukan oleh Perusahaan.

(9) Selama terikat hubungan kerja dengan Perusahaan, Karyawan dilarang menjalankan usaha lain, atau dengan cara apapun bekerja, membantu atau mempunyai hubungan kerja atau memperdagangkan barang-barang yang sejenis atau ada hubungan dengan barang yang telah dihasilkan oleh Perusahaan, kecuali telah mendapat persetujuan dari Perusahaan.

(10) Karyawan tidak dibenarkan menggunakan kop surat, amplop dan stempel Perusahaan untuk kepentingan pribadinya.

(11) Karyawan wajib menjunjung tinggi kepercayaan dan nama baik Perusahaan serta tidak melakukan hal-hal yang dapat merugikan Perusahaan.

(12) Karyawan wajib menjaga Perusahaan dan melakukan hal-hal untuk mengatasinya bila terjadi sesuatu kecelakaan, bencana ataupun timbul sesuatu hal/keadaan yang dapat mengakibatkan bahaya terhadap jalannya Perusahaan. Untuk itu Karyawan wajib bekerja sama menghindarkan, mengatasi dan mengurangi kerugian-kerugian yang diakibatkannya, serta berusaha agar Perusahaan segera berjalan normal kembali.

(13) Karyawan wajib memelihara suasana yang baik dan saling menghormati antara sesama Karyawan dan saling membantu dalam melaksanakan tugas sehari-hari.

(14) Karyawan wajib melaporkan segera bila mengetahui ada kehilangan atau kerusakan alat/barang milik Perusahaan kepada atasan langsung.

(15) Karyawan tidak dibenarkan untuk meminta/menerima komisi/hadiah/pemberian dalam bentuk apapun, baik secara langsung atau tidak langsung dari pembeli, pemasok atau dari pihak lain manapun juga yang mempunyai hubungan dengan Perusahaan.

(16) Karyawan yang dalam menjalankan tugasnya mengetahui terjadinya kejahatan seperti pencurian dan sejenisnya, atau mengetahui adanya rencana jahat perubahan status, alamat dan susunan keluarganya kepada Perusahaan.

(19) Karyawan wajib untuk merahasiakan terhadap siapapun hal-hal yang diketahuinya tentang Perusahaan dalam arti seluas-luasnya dan pada akhir hubungan kerja, semua korespondensi, gambar dan catatan yang bertalian dengan Perusahaan harus diserahkan dengan segera, diminta ataupun tanpa diminta kepada Perusahaan.

(4)

tentang kesanggupan dan janji untuk tidak membocorkan rahasia tersebut kepada pihak lain manapun juga baik selama bekerja pada Perusahaan dan/atau setelah Karyawan yang bersangkutan tidak bekerja lagi pada Perusahaan, bilamana Karyawan tersebut melakukan pelanggaran atas kesanggupan dan janjinya kepada Perusahaan sebagaimana tersebut diatas, maka Perusahaan dapat memutuskan hubungan kerja dan/atau melakukan tuntutan hukum terhadap Karyawan tersebut sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

(21) Bilamana oleh pekerjaannya / dalam melaksanakan pekerjaannya Karyawan menghasilkan ciptaan dan / atau penemuan dalam bentuk apapun juga, maka ciptaan dan / atau penemuan tersebut berikut segala hak yang melekat pada ciptaan dan / atau penemuan tersebut merupakan hak dan milik Perusahaan, oleh karenanya Perusahaan berhak untuk menggunakan ciptaan dan / atau penemuan tersebut untuk keperluan apapun juga dan / atau mendaftarkan hak atas ciptaan dan / atau penemuan tersebut atas nama Perusahaan kepada instansi yang berwenang.

(22) Dalam rangka turut mendukung program Pemerintah dan demi kebaikan bersama, maka baik pihak Perusahaan maupun Karyawan harus berpartisipasi aktif untuk mewujudkan Lingkungan Kerja Bebas Narkoba. Sehubungan dengan hal tersebut maka :

a. Setiap Karyawan yang mengetahui atau mencurigai adanya pemakai dan / atau pengedar narkoba, psikotropika dan zat adiktif lainnya di lingkungan kerja, wajib melaporkannya kepada Perusahaan;

b. Perusahaan berhak meminta dilakukan tes urine baik terhadap sebagian maupun seluruh Karyawan serta melakukan segala sesuatu yang diperlukan untuk mewujudkan Lingkungan Kerja Bebas Narkoba.

(23) Bilamana ditemukan Karyawan pemakai dan / atau pengedar narkoba, psikotropika dan zat adiktif lainnya di lingkungan kerja, maka Perusahaan berhak untuk melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap Karyawan tersebut sesuai ketentuan dalam Tata Tertib Perusahaan ini dan berpedoman pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.

1.3 Identifikasi Maasalah

Menjalankan perusahaan manufaktur yang membuat dan mengembangkan produk makanan dituntut untuk terus melakukan pembenahan di berbagai aspek terutama dibidang SDM. Para Stakeholder perusahaan mengeluhkan adanya penurunan produktivitas dari para karyawan. Untuk itu perlu dilakukan audit di perusahaan tersebut. Berdasarkan kegiatan pra survei yang dilakukan oleh Auditor dengan menggunakan metode wawancara kepada auditee karyawan di bagian produksi PT Hassana Boga Sejahtera diperoleh informasi bahwa terdapat indikasi penurunan kinerja karyawan PT Hassana Boga Sejahtera tiga bulan terakhir ini, Indikasi penurunan kinerja karyawan juga dibuktikan dengan ketidaktepatan waktu penyelesaian pekerjaan oleh karyawan.

(5)

kompensasi kerja yang sepadan walaupun pekerjaan yang dilakukan pada hari-hari tertentu lebih berat dari hari biasanya, kurangnya perhatian dari atasan kepada karyawan, disiplin kerja yang rendah dikarenakan tata tertib yang kurang tegas dalam implementasinya, motivasi kerja karyawan yang rendah dikarenakan lingkungan kerja yang tidak kondusif, serta beban kerja yang sangat tinggi di tiga bulan terakhir.

Menurunnya kinerja karyawan PT Hassana Boga Sejahtera dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Berdasarkan informasi yang diperoleh diketahui bahwa selama ini penurunan kinerja karyawan disebabkan oleh beberapa faktor.

1) Ketidaktepatan penyelesaian tugas 2) Ketidaksesuaian jam kerja

3) Tingkat kehadiran yang menurun 4) Kurangnya kerjasama antar karyawan

Maenurut Hasibuan (2004:20), faktor disiplin sangat berpengaruh terhadap kinerja karyawan. Disiplin biasanya berbanding lurus terhadap produktivitas karyawan dalam suatu perusahaan, bila tingkat disiplin karyawan suatu perusahaan baik, maka tingkat produktivitas perusahaan itu juga akan baik. Penegakkan disiplin yang terlalu tinggi bisa memicu stres kerja karyawan atau bisa juga memicu motivasi karyawan karena beberapa karyawan cenderung malas bekerja bila tidak ada penegakkan disiplin yang tegas. Fenomena ini sering terjadi dan secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi perilaku karyawan.

Tingkat disiplin kerja karyawan dan motivasi kerja karyawan akan sangat mempengaruhi kinerja karyawan dan berpengaruh terhadap produktivitas sebuah perusahaan. Perusahaan tidak dapat berjalan dengan baik bila pengelolaan karyawan dalam kedisplinan dan motivasi terhadap karyawan tidak dikelola dengan sebaik-baiknya.

BAB II

Landasan Teori

2.1 Pengertian Disiplin Kerja

Disiplin kerja adalah suatu alat yang digunakan para manager untuk berkomunikasi dengan karyawan agar mereka bersedia untuk mengubah suatu perilaku serta sebagai suatu upaya untuk meningkatakan kesadaran dan kesediaan seseorang mentaati semua peraturan perusahaan dan norma-norma social yang berlaku. Sebagai contoh, beberapa karyawan terbiasa terlambat untuk bekerja,

(6)

terutama pada peringatan yang bersifat spesifkterhadap karyawan yang tidak mau berubah sifat dan perilakunya. Penegakan disiplin karyawan biasanya dilakukan oleh penyelia. Sedangkan kesadaran adalah sikap seseorang yang secara sukarela mentaati semua peraturan dan sadar akan tugas dan tanggung jawabnya.Sehingga seorang karyawan yang dikatakan memiliki disiplin kerja yang tinggi jika yang bersangkutan konsekuen, konsisten, taat asas, bertanggung jawab atas tugas yang diamanahkan kepadanya.Dalam kaitannya dengan disiplin kerja, Siswanto (1989) mengemukakan disiplin kerja sebagai suatu sikap menghormati, menghargai patuh dan taat terhadap peraturan-peraturan yang berlaku baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis serta sanggup menjalankannya dan tidak mengelak menerima sanksi-sanksi apabila ia melanggar tugas dan wewenang yang diberikan kepadanya. Sementara itu, Jerry Wyckof dan Barbara C. Unel, (1990) mendefnisikan disiplin sebagai suatu proses bekerja yang mengarah kepada ketertiban dan pengendalian diri.

Dari beberapa pengertian yang diungkapkan di atas tampak bahwa disiplin pada dasarnya merupakan tindakan manajemen untuk mendorong agar para anggota organisasi dapat memenuhi berbagai ketentuan dan peraturan yang berlaku dalam suatu organisasi, yang di dalamnya mencakup:

1) adanya tata tertib atau ketentuan-ketentuan, 2) adanya kepatuhan para pengikut,

3) adanya sanksi bagi pelanggar

Pada bagian lain, Jerry Wyckof dan Barbara C. Unel, (1990) menyebutkan bahwa disiplin kerja adalah kesadaran, kemauan dan kesediaan kerja orang lain agar dapat taat dan tunduk terhadap semua peraturan dan norma yang berlaku, kesadaaran kerja adalah sikap sukarela dan merupakan panggilan akan tugas dan tanggung jawab bagi seorang karyawan. Karyawan akan mematuhi atau mengerjakan semua tugasnya dengan baik dan bukan mematuhi tugasnya itu dengan paksaan.

Kesediaan kerja adalah suatu sikap perilaku dan perbuatan seseorang yang sesuai dengan tugas pokok sebagai seorang karyawan. Karyawan harus memiliki prinsip dan memaksimalkan potensi kerja, agar karyawan lain mengikutinya sehingga dapat menanamkan jiwa disiplin dalam bekerja.

2.2 Maacam-Maacam Disiplin Kerja

Terdapat empat perspektif daftar yang menyangkut disiplin kerja yaitu :

1) Disiplin Retributif (Retributive Discipline), yaitu berusaha menghukum orang yang berbuat salah

(7)

3) Perspektif hak-hak individu (Individual Rights Perspective), berusaha melindungi hak-hak dasar individu selama tindakan-tindakan disipliner. 4) Prespektif Utilitarian (Utilitarian Prespective), yaitu berfokus kepada

penggunaan disiplin hanya pada sat kosekuensi-kosekuensi tindakan disiplin melibihi dampak-dampak negatifnya.

Menurut Daniel M. Colyer. 1991), disiplin pada umumnya termasuk dalam aspek pengawasan yang sifatnya lebih keras dan tegas (hard and coherent). Dikatakan keras karena ada sanksi dan dikatakan tegas karena adanya tindakan sanksi yang harus dieksekusi bila terjadi pelanggaran.

Terdapat dua jenis disiplin dalam organisasi, yaitu : a) disiplin preventif

b) disiplin korektif

Disiplin preventif adalah tindakan yang mendorong para karyawan untuk taat kepada berbagai ketentuan yang berlaku dan memenuhi standar yang telah ditetapkan. Artinya melalui kejelasan dan penjelasan tentang pola sikap, tindakan dan prilaku yang diinginkan dari setiap anggota organisasi, untuk mencegah jangan sampai para karyawan berperilaku negatif. Keberhasilan penerapan pendisiplinan karyawan (disiplin preventif) terletak pada disiplin pribadi para anggota organisasi. Triguno (2000) menyebutkan bahwa tujuan pokok dari pendisiplinan preventif adalah untuk mendorong karyawan agar memiliki disiplin pribadi yang tinggi, agar peran kepemimpinan tidak terlalu berat dengan pengawasan, yang dapat

mematikan prakarsa, kreativitas serta partisipasi sumber daya manusia.

Dalam hal ini terdapat tiga hal yang perlu mendapat perhatian manajemen di dalam penerapan disiplin pribadi, yaitu :

1) Para anggota organisasi perlu didorong, agar mempunyai rasa memiliki organisasi, karena secara logika seseorang tidak akan merusak sesuatu yang menjadi miliknya

2) Para perlu diberi penjelasan tentang berbagai ketentuan yang wajib ditaati dan standar yang harus dipenuhi. Penjelasan dimaksudkan seyogyanya disertai oleh informasi yang lengkap mengenai latar belakang berbagai ketentuan yang bersifat normatif

3) Para karyawan didorong menentukan sendiri cara-cara pendisiplinan diri dalam rangka ketentuan-ketentuan yang berlaku umum bagi seluruh anggota organisasi.

(8)

Pelanggaran kerja adalah setiap ucapan, tulisan, perbuatan seorang pegawai yang melanggar peraturan disiplin yang telah diatur oleh pimpinan organisasi.

Sedangkan sanksi pelanggaran adalah hukuman disiplin yang dijatuhkan pimpinan organisasi kepada pegawai yang melanggar peraturan disiplin yang telah diatur pimpinan organisasi.

Ada beberapa tingkat dan jenis sanksi pelanggaran kerja yang umumnya berlaku dalam suatu oranisasi yaitu:

1.Sanksi Pelanggaran Ringan, dengan jenis: a. Teguran Lisan

b. Teguran Tertulis

c. Pernyataan tidak puas secara tertulis 2.Sanksi Pelanggaran Sedang, dengan rincian :

a. Penundaan kenaikan gaji b. Penurunan gaji

c. Penundaan kenaikan jabatan

3.Sanksi Pelanggaran Berat, dengan rincian : a. Penurunan pangkat

b. Pembebasan dari jabatan c. Pemberhentian

Referensi

Dokumen terkait