• Tidak ada hasil yang ditemukan

15 model pembelajaran saintifik mp praka (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "15 model pembelajaran saintifik mp praka (1)"

Copied!
257
0
0

Teks penuh

(1)

kemurahan-Nya naskah Pendukung pembelajaran Kurikulum 2013 ini dapat diselesaikan.

Naskah ini kami beri judul “Pembelajaran Berbasis Kompetensi Mata Pelajaran dengan

Pendekatan Saintifik”. Hal ini disesuaikan dengan tuntutan Kurikulum 2013 yang

menekankan pada pembelajaran dengan pendekatan ilmiah (saintifik) dan penilaian

autentik.

pembelajaran adalah suatu kegiatan yang mengandung terjadinya proses penguasaan

pengetahuan, keterampilan dan sikap oleh subjek yang sedang belajar. Pelaksanaan

pembelajaran akan berjalan efektif apabila didahului dengan penyiapan rencana

pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang dikembangkan oleh guru baik secara individual

maupun kelompok yang mengacu pada Silabus. Sehubungan hal tersebut, maka naskah ini

disusun dalam rangka memenuhi kebutuhan guru yang terkait dengan pengembangan

persiapan pembelajaran.

Semoga naskah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, untuk memfasilitasi guru

secara individual dan kelompok dalam mengembangkan rencana pelaksanaan

pembelajaran (RPP) dan melaksanakan pembelajaran dalam berbagai modus, strategi, dan

model untuk muatan dan/atau mata pelajaran yang diampunya.

Pada kesempatan ini kami menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada semua

pihak yang telah terlibat dalam penyusunan naskah ini, yang tidak dapat kami sebutkan

satu persatu. Semoga Tuhan Yang Maha Esa membalas semua kebaikan dan jerih payah

saudara-saudara sekalian.

Dalam penyusunan naskah ini, kami akui masih jauh dari sempurna. Untuk itu saran dan

kritik yang membangun kearah penyempurnaan naskah Pendukung pembelajaran

Kurikulum 2013 ini kami terima dengan tangan terbuka.

(2)

DAFTAR ISI

ii

BAB I

PENDAHULIAN

A. Latar Belakang

B. Tujuan

C. Ruang Lingkup

D. Landasan Hukum

1

2

2

3

BAB II

PEMBELAJARAN KOMPETENSI

A. Pembelajaran Pendekatan Saintifik

B. Penilaian Autentik

5

8

BAB III

ANALISIS KOMPETENSI

A. Prosedur Analisis

B. Hasil Analisis

10

16

BAB IV

PENUTUP

35

DAFTAR PUSTAKA

36

(3)

A. Latar Belakang

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan

Nasional menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk

mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara

aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,

pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang

diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Selanjutnya dalam rangka

mencapai tujuan tersebut disusun standar pendidikan nasional, terdiri atas: standar

kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, standar sarana prasarana, standar

pendidik dan tenaga kependidikan, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan

standar penilaian.

Dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 65 Tahun 2013 tentang

Standar Proses disebutkan bahwa setiap pendidik pada satuan pendidikan

berkewajiban menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) secara lengkap

dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif,

menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif,

serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian

sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta

didik. Untuk itu setiap satuan pendidikan perlu melakukan perencanaan pembelajaran,

pelaksanaan proses pembelajaran serta penilaian proses pembelajaran dengan strategi

yang benar untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas ketercapaian kompetensi

lulusan.

Lampiran IV Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 81A Tahun 2013

tentang Implementasi Kurikulum Pedoman Umum Pembelajaran, menyebutkan bahwa

Strategi pembelajaran sangat diperlukan dalam menunjang terwujudnya seluruh

kompetensi yang dimuat dalam Kurikulum 2013. Kurikulum memuat apa yang

seharusnya diajarkan kepada peserta didik, sedangkan pembelajaran merupakan cara

bagaimana apa yang diajarkan bisa dikuasai oleh peserta didik. Pelaksanaan

pembelajaran didahului dengan penyiapan RPP yang dikembangkan oleh guru baik

secara individual maupun kelompok yang mengacu pada Silabus.

(4)

pengayaan bagi peserta didik yang termasuk kategori pebelajar cepat.

Pemerintah telah menetapkan pelaksanaan kurikulum 2013 secara terbatas pada 1.270

SMA di 33 provinsi pada 295 kabupaten/kota mulai tahun pelajaran 2013/2014 untuk

kelas X. Untuk mendukung implementasi pelaksanaan kurikulum tersebut pemerintah

telah melatih guru inti dan guru sasaran serta menyediakan silabus, buku guru, dan

buku siswa untuk mata pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, dan Sejarah.

Sedangkan untuk mata pelajaran lainnya diharapkan dapat memanfaatkan buku-buku

yang ada (dari kurikulum 2006 dan buku sebelumnya) mulai menerapkan kurikulum

2013 mengacu pada silabus yang telah disediakan.

Untuk menyiapkan kemampuan guru dalam merancang dan melaksanakan

pembelajaran saintifik serta melakukan penilaiain autentik menggunakan silabus

sebagai acuan, perlu penjabaran operasional antara lain dalam mengembangkan

materi pembelajaran, mengembangkan langkah pembelajaran serta merancang dan

melaksanakan penilaian autentik. Oleh karena itu diperlukan rambu-rambu yang bisa

memfasilitasi guru secara individual dan kelompok dalam mengembangkan dan

melaksanakan pembelajaran dalam berbagai modus, strategi, dan model untuk muatan

dan/atau mata pelajaran yang diampunya.

B. Tujuan

Secara umum tujuan penulisan naskah ini adalah membantu guru mata pelajaran

dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 dengan memafaatkan buku sumber yang

ada. Secara khusus naskah ini bertujuan:

Memberikan rambu-rambu bagi guru dalam menganalisis kompetensi inti dan

kompetensi dasar

1. Mengembangkan materi pembelajaran berdasarkan materi pokok dari silabus mata

pelajaran

2. Mengembangkan kegiatan pembelajaran dengan pendekatan saintifik

3. Mengembangkan indikator pencapaian dan penilaian

4. Merancang penilaian otentik

C. Ruang Lingkup

Ruang lingkup naskah ini terdiri atas:

(5)

(RPP)

D. Landasan Hukum

1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

2. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang perubahan atas Peraturan

Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan

3. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 54 Tahun 2013 tentang

Standar Kompetensi Lulusan

4. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 64 Tahun 2013 tentang

Standar Isi Pendidikan Dasar dan Menengah

5. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 65 Tahun 2013 tentang

Standar Proses

6. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 66 Tahun 2013 tentang

Standar Penilaian

7. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 69 Tahun 2013 tentang

Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum SMA-MA

8. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 81A tentang Implementasi

Kurikulum

(6)

Pembelajaran kurikulum 2013 adalah pembelajaran kompetensi dengan memperkuat

proses pembelajaran dan penilaian autentik untuk mencapai kompetensi sikap,

pengetahuan dan keterampilan. Penguatan proses pembelajaran dilakukan melalui

pendekatan saintifik, yaitu pembelajaran yang mendorong siswa lebih mampu dalam

mengamati, menanya, mencoba/mengumpulkan data, mengasosiasi/menalar, dan

mengomunikasikan.

Karakteristik pembelajaran pada setiap satuan pendidikan terkait erat pada Standar

Kompetensi Lulusan dan Standar Isi. Standar Kompetensi Lulusan memberikan

kerangka konseptual tentang sasaran pembelajaran yang harus dicapai. Standar Isi

memberikan kerangka konseptual tentang kegiatan belajar dan pembelajaran yang

diturunkan dari tingkat kompetensi dan ruang lingkup materi.

Sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan, sasaran pembelajaran mencakup

pengembangan ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dielaborasi untuk

setiap satuan pendidikan.Ketiga ranah kompetensi tersebut memiliki lintasan

perolehan (proses psikologis) yang berbeda. Sikap diperoleh melalui aktivitas

menerima,menjalankan, menghargai, menghayati, dan mengamalkan.

Pengetahuandiperoleh melalui aktivitas mengingat, memahami, menerapkan,

menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Keterampilan diperolehmelalui aktivitas

mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyaji, dan mencipta.Karaktersitik

kompetensi beserta perbedaan lintasan perolehanturut serta mempengaruhi

karakteristik standar proses. Penguatan pendekatan saintifik perlu diterapkan

pembelajaran berbasis penyingkapan/penelitian (

discovery/inquiry learning

). Untuk

mendorong kemampuan peserta didik menghasilkan karya kontekstual, baik individual

maupun kelompok maka sangat disarankan menggunakan pendekatan pembelajaran

yang menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah(

project based learning

).

(7)

danpemberdayaan peserta didik sebagai pebelajar sepanjang hayat; (10) pembelajaran

yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan(

ing ngarso sung tulodo

),

membangun kemauan (

ing madyo mangun karso

), dan mengembangkan kreativitas

peserta didik dalam proses pembelajaran (

tut wuri handayani

); (11) pembelajaranyang

berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat; (12) pembelajaran yang

menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah siswa, dan di mana

saja adalah kelas; (13) pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk

meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran; dan (14) pengakuan atas perbedaan

individualdan latar belakang budaya peserta didik.

Penilaian autentik merupakan penilaian yang dilakukan secara komprehensif untuk menilai

mulai dari masukan (

input

)

,

proses

,

dan keluaran (

output

) pembelajaran, yang meliputi

ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Penilaian autentik menilai kesiapan siswa,

serta proses dan hasil belajar secara utuh. Keterpaduan penilaian ketiga komponen (input

– proses – output) tersebut akan menggambarkan kapasitas, gaya, dan hasil belajar peserta

didik, bahkan mampu menghasilkan dampak instruksional (

instructional effect)

dan

dampak pengiring (

nurturant effect)

dari pembelajaran.

A. Pendekatan Pembelajaran saintifik

Pembelajaran saintifik merupakan pembelajaran yang mengadopsi langkah-langkah

saintis dalam membangun pengetahuan melalui metode ilmiah.Model pembelajaran

yang diperlukan adalah yang memungkinkan terbudayakannya kecakapan berpikir

sains, terkembangkannya “

sense of inquiry

” dan kemampuan berpikir kreatif siswa

(Alfred De Vito, 1989). Model pembelajaran yang dibutuhkan adalah yang mampu

menghasilkan kemampuan untuk belajar (Joice & Weil: 1996), bukan saja diperolehnya

sejumlah pengetahuan, keterampilan, dan sikap, tetapi yang lebih penting adalah

bagaimana pengetahuan, keterampilan, dan sikap itu diperoleh peserta didik (Zamroni,

2000; &Semiawan, 1998).

(8)

pelajaran melalui berbagai aktivitas proses sains sebagaimana dilakukan oleh para

ilmuwan (

scientist

) dalam melakukan penyelidikan ilmiah (Nur: 1998), dengan

demikian peserta didik diarahkan untuk menemukan sendiri berbagai fakta,

membangun konsep, dan nilai-nilai baru yang diperlukan untuk kehidupannya. Fokus

proses pembelajaran diarahkan pada pengembangan keterampilan siswa dalam

memproseskan pengetahuan, menemukan dan mengembangkan sendiri fakta, konsep,

dan nilai-nilai yang diperlukan (Semiawan: 1992).

Model ini juga tercakup penemuan makna

(meanings),

organisasi, dan struktur dari ide

atau gagasan, sehingga secara bertahap siswa belajar bagaimana mengorganisasikan

dan melakukan penelitian. Pembelajaran berbasis keterampilan proses sains

menekankan pada kemampuan peserta didik dalam menemukan sendiri

(discover)

pengetahuan yang didasarkan atas pengalaman belajar, hukum-hukum, prinsip-prinsip

dan generalisasi, sehingga lebih memberikan kesempatan bagi berkembangnya

keterampilan berpikir tingkat tinggi (Houston, 1988). Dengan demikian peserta didik

lebih diberdayakan sebagai subjek belajar yang harus berperan aktif dalam memburu

informasi dari berbagai sumber belajar, dan guru lebih berperan sebagai organisator

dan fasilitator pembelajaran.

Model pembelajaran berbasis keterampilan proses sains berpotensi membangun

kompetensi dasar hidup siswa melalui pengembangan keterampilan proses sains, sikap

ilmiah, dan proses konstruksi pengetahuan secara bertahap. Keterampilan proses sains

pada hakikatnya adalah kemampuan dasar untuk belajar

(basic learning tools)

yaitu

kemampuan yang berfungsi untuk membentuk landasan pada setiap individu dalam

mengembangkan diri (Chain and Evans: 1990).

Sesuai dengan karakteristik fisika sebagai bagian dari natural science, pembelajaran

fisika harus merefleksikan kompetensi sikap ilmiah, berfikir ilmiah, dan keterampilan

kerja ilmiah. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan melalui proses mengamati,

menanya, mencoba/mengumpulkan data/informasi, mengasosiasi, dan

mengomunikasikan.

(1)

Kegiatan mengamati bertujuan agar pembelajaran berkaitan erat dengan konteks

situasi nyata yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Proses mengamati fakta

atau fenomena mencakup mencari informasi, melihat, mendengar, membaca, dan

atau menyimak.

(9)

dilakukan melalui kegiatan diksusi dan kerja kelompok serta diskusi kelas. Praktik

diskusi kelompok memberi ruang kebebasan mengemukakan ide/gagasan dengan

bahasa sendiri, termasuk dengan menggunakan bahasa daerah.

(3)

Kegiatan mencoba bermanfaat untuk meningkatkan keingintahuan siswa untuk

memperkuat pemahaman konsep dan prinsip/prosedur dengan mengumpulkan

data, mengembangkan kreatifitas, dan keterampilan kerja ilmiah. Kegiatan ini

mencakup merencanakan, merancang, dan melaksanakan eksperimen, serta

memperoleh, menyajikan, dan mengolah data. Pemanfaatan sumber belajar

termasuk mesin komputasi dan otomasi sangat disarankan dalam kegiatan ini.

(4)

Kegiatan mengasosiasi bertujuan untuk membangun kemampuan berpikir dan

bersikap ilmiah. Data yang diperoleh dibuat klasifikasi, diolah, dan ditemukan

hubungan-hubungan yang spesifik. Kegiatan dapat dirancang oleh guru melalui

situasi yang direkayasa dalam kegiatan tertentu sehingga siswa melakukan aktifitas

antara lain menganalisis data, mengelompokan, membuat kategori, menyimpulkan,

dan memprediksi/mengestimasi dengan memanfaatkan lembar kerja diskusi atau

praktik. Hasil kegiatan mencoba dan mengasosiasi memungkinkan siswa berpikir

kritis tingkat tinggi (higher order thinking skills) hingga berpikir metakognitif.

(5)

Kegiatan mengomunikasikan adalah sarana untuk menyampaikan hasil

konseptualisasi dalam bentuk lisan, tulisan, gambar/sketsa, diagram, atau grafik.

Kegiatan ini dilakukan agar siswa mampu mengomunikasikan pengetahuan,

keterampilan, dan penerapannya, serta kreasi siswa melalui presentasi, membuat

laporan, dan/ atau unjuk karya.

Tantangan baru dinamika kehidupan yang makin kompleks menuntut aktivitas

pembelajaran bukan sekedar mengulang fakta dan fenomena keseharian yang dapat

diduga melainkan mampu menjangkau pada situasi baru yang tak terduga.Dengan

dukungan kemajuan teknologi dan seni, pembelajaran diharapkan mendorong

kemampuan berpikir siswa hingga situasi baru yang tak terduga.

Agar pembelajaran terus menerus membangkitkan kreativitas dan keingintahuan siswa,

kegiatan pembelajaran kompetensi dilakukan dengan langkah sebagai berikut

1.

Menyajikan atau mengajak siswa mengamati fakta atau fenomena baik secara

langsung dan/ atau rekonstruksi sehingga siswa mencari informasi, membaca,

melihat, mendengar, atau menyimak fakta/fenomena tersebut

(10)

penalaran dan memprediksi fenomena

5.

Memberi kebebasan dan tantangan kreativitas dalam mengomunikasikan sikap,

pengetahuan, dan keterampilan yang dimiliki melalui presentasi dan/atau unjuk

karya dengan aplikasi pada situasi baru yang terduga sampai tak terduga.

B. Penilaian Autentik

Penilaian autentik (

authentic assessment)

menurut beberapa sumber sebagaimana

tertulis dalam Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum 2013 adalah sebagai

berikut: (1)

American Library Association

mendefinisikan sebagai proses evaluasi

untuk mengukur kinerja, prestasi, motivasi, dan sikap-sikap peserta didik pada

aktivitas yang relevan dalam pembelajaran; (2)

Newton Public School

, mengartikan

penilaian autentik sebagai penilaian atas produk dan kinerja yang berhubungan dengan

pengalaman kehidupan nyata peserta didik; dan (3) Wiggins mendefinisikan penilaian

autentik sebagai upaya pemberian tugas kepada peserta didik yang mencerminkan

prioritas dan tantangan yang ditemukan dalam aktivitas-aktivitas pembelajaran,

seperti meneliti, menulis, merevisi dan membahas artikel, memberikan analisis oral

terhadap peristiwa, berkolaborasi dengan antarsesama

melalui debat, dan

sebagainya.

Penilaian autentik memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah (

scientific

approach

) dalam pembelajaran sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013.Karena

penilaian semacam ini mampu menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta didik,

baik dalam rangka mengobservasi, menalar, mencoba, membangun jejaring, dan

lain-lain.Penilaian autentik cenderung fokus pada tugas-tugas kompleks atau kontekstual,

memungkinkan peserta didik untuk menunjukkan kompetensi mereka yang meliputi

sikap, pengetahuan, dan keterampilan.Karenanya, penilaian autentik sangat relevan

dengan pendekatan saintifik dalam pembelajaran di SMA.

Penilaian autentik merupakan pendekatan dan instrumen

assesmeni

yang memberikan

kesempatan yang luas kepada peserta didik untuk menerapkan pengetahuan,

keterampilan, dan sikap yang sudah dimilikinya dalam bentuk tugas: membaca dan

meringkasnya, eksperimen, mengamati, survei, projek, makalah, membuat multi

media, membuat karangan, dan diskusi kelas.

(11)

bidang ilmu seperti seni atau ilmu pengetahuan pada umumnya, dengan orientasi

utamanya pada proses dan hasil pembelajaran.

Hasil penilaian autentik dapat digunakan oleh pendidik untuk merencanakan program

perbaikan (

remedial

), pengayaan (

enrichment

), atau pelayanan konseling. Selain itu,

hasil penilaian autentik dapat digunakan sebagai bahan untuk memperbaiki proses

pembelajaran yang memenuhi Standar Penilaian Pendidikan.

Penilaian autentik merupakan penilaian yang dilakukan secara komprehensif untuk

menilai mulai dari masukan (input), proses,dan keluaran (output) pembelajaran

mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Penilaian sikap dilakukan melalui

observasi/pengamatan menggunakan jurnal, penilaian diri, dan/atau penilaian antar

teman. Penilaian pengetahuan melalui tes tertulis, tes lisan, dan/atau penugasan.

Penilaian keterampilan melalui tes praktik, penilaian proyek, dan penilaian portofolio.

1.

Pengamatan Sikap

Penilaian sikap melalui pengamatan dapat menggunakan jurnal, penilaian diri, dan

penilaian antar teman. Jurnal adalah catatan pendidik yang sistematis di dalam

dan di luar kelas yang berisi informasi hasil pengamatan tentang kekuatan dan

kelemahan peserta didik berkaitan dengan sikap dan perilaku. Jurnal dapat

memuat penilaian siswa terhadap aspek tertentu secara kronologis. Kriteria

penilaian jurnal adalah sbb:

Mengukur capaian kompetensi sikap yang penting.

Sesuai dengan kompetensi dasar dan indikator.

Menggunakan format yang sederhana dan mudah diisi/digunakan.

Dapat dibuat rekapitulasi tampilan sikap peserta didik secara kronologis.

Memungkinkan untuk dilakukannya pencatatan yang sistematis, jelas dan

komunikatif.

Format pencatatan memudahkan dalam pemaknaan terhadap tampilan sikap

peserta didik

(12)

diminta untuk menilai kecakapan atau keterampilan yang telah dikuasainya oleh

dirinya berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan; Penilaian ranah

pengetahuan Misalnya, peserta didik diminta untuk menilai penguasaan

pengetahuan dan keterampilan berpikir sebagai hasil belajar dari suatu mata

pelajaran tertentu berdasarkan atas kriteria atau acuan yang telah disiapkan.

Teknik penilaian-diri bermanfaat memiliki beberapa manfaat positif.

Pertama

,

menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik.

Kedua

, peserta didik menyadari

kekuatan dan kelemahan dirinya.

Ketiga

, mendorong, membiasakan, dan melatih

peserta didik berperilaku jujur.

Keempat

, menumbuhkan semangat untuk maju

secara personal.

Penilaian antar teman adalah penilaian yang dilakukan terhadap sikap seorang

peserta didik oleh seorang (atau lebih) peserta didik lainnya dalam suatu kelas atau

rombongan belajar. Penilaian ini merupakan bentuk penilaian untuk melatih

peserta didik penilai menjadi pembelajar yang baik.Instrumen sesuai dengan

kompetensi dan indikator yang akan diukur. Kriteria penilaian antar teman adalah

sbb:

Indikator dapat dilakukan melalui pengamatan oleh peserta didik

Kriteria penilaian dirumuskan secara simpel atau sederhana

Menggunakan bahasa lugas dan dapat dipahami peserta didik

Menggunakan format penilaian sederhana dan mudah digunakan oleh peserta

didik

Kriteria penilaian yang digunakan jelas, tidak berpotensi munculnya penafsiran

makna ganda/berbeda

Indikator menunjukkan sikap peserta didik dalam situasi yang nyata atau

sebenarnya

Instrumen dapat mengukur target kemampuan yang akan diukur (valid)

memuat indikator kunci atau esensial yang menunjukkan penguasaan satu

kompetensi peserta didik

Indikator menunjukkan sikap yang dapat diukur

Mampu memetakan sikap peserta didik dari kemampuan pada level terendah

sampai kemampuan tertinggi.

2.

Tes tertulis.

(13)

pendek, dan uraian.

Tes tertulis berbentuk uraian atau esai menuntut peserta didik mampu mengingat,

memahami, mengorganisasikan, menerapkan, menganalisis, mensintesis,

mengevaluasi, dan sebagainya atasmateri yang sudah dipelajari. Tes tertulis

berbentuk uraian sebisa mungkin bersifat komprehentif, sehingga mampu

menggambarkan ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik.

Pada tes tertulis berbentuk esai, peserta didik berkesempatan memberikan

jawabannya sendiri yang berbeda dengan teman-temannya, namun tetap terbuka

memperoleh nilai yang sama. Tes tersulis berbentuk esai biasanya menuntut dua

jenis pola jawaban, yaitu jawaban terbuka (

extended-response

) atau jawaban

terbatas (

restricted-response

). Hal ini sangat tergantung pada bobot soal yang

diberikan oleh guru. Tes semacam ini memberi kesempatan pada guru untuk dapat

mengukur hasil belajar peserta didik pada tingkatan yang lebih tinggi atau

kompleks.

3.

Tes Lisan.

Tes lisan adalah tes yang menuntut siswa memberikan jawaban secara lisan.

Pelaksanaan Tes lisan dilakukan dengan mengadakan tanya jawab secara langsung

antara pendidik dan peserta didik. Kriteria Tes lisan adalah sbb:

Tes lisan dapat digunakan jika sesuai dengan kompetensi pada taraf

pengetahuan yang hendak dinilai.

Pertanyaan tidak boleh keluar dari bahan ajar yang ada.

Pertanyaan diharapkan dapat mendorong siswa dalam mengkontruksi

jawabannya sendiri.

disusun dari pertanyaan yang sederhana ke pertanyaan yang komplek.

4.

Penilaian Melalui Penugasan.

Instrumen penugasan dapat berupa pekerjaan rumah dan/atau projek yang harus

dikerjakan oleh peserta didik, baik secara individu atau kelompok, sesuai dengan

karakteristik tugas. Kriteria penugasan adalah sbb:

Tugas mengarah pada pencapaian indikator hasil belajar.

Tugas dapat dikerjakan oleh peserta didik.

Tugas dapat dikerjakan selama proses pembelajaran atau merupakan bagian

dari pembelajaran mandiri.

Pemberian tugas disesuaikan dengan taraf perkembangan peserta didik.

(14)

kelompok.

Untuk tugas kelompok, perlu dijelaskan rincian tugas setiap anggota.

Tugasharusbersifat adil (tidak bias gender atau latar belakang sosial ekonomi).

Tampilan kualitas hasil tugas yang diharapkan disampaikan secara jelas.

Penugasan harus mencantumkan rentang waktu pengerjaan tugas.

5.

Tes Praktik.

Tes praktik dilakukan dengan mengamati kegiatan peserta didik dalam melakukan

sesuatu. Penilaian digunakan untuk menilai ketercapaian kompetensi yang

menuntut peserta didik melakukan tugas tertentu seperti: praktik di laboratorium,

praktik salat, praktik olahraga, bermain peran, memainkan alat musik, bernyanyi,

membaca puisi/deklamasi, dan sebagainya.

(Juknis PHB PPMP Kemdikbud, 2013).

Kriteria Tes Praktik adalah sbb:

Tugas mengarahkan peserta didik untuk menunjukkan capaian hasil belajar.

Tugas dapat dikerjakan oleh peserta didik.

Mencantumkan waktu/kurun waktu pengerjaan tugas.

Sesuai dengan taraf perkembangan peserta didik,

Sesuai dengan konten/cakupan kurikulum

Tugasbersifat adil (tidak bias gender dan latar belakang sosial ekonomi)

Task untuk Tes Praktik, diperlukan penyusunan rubrik penilaian, rubrik tersebut

harus memenuhi syarat sbb:

Rubrik dapat mengukur target kemampuan yang akan diukur (valid).

Rubrik sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Indikator menunjukkan kemampuan yang dapat diamati (observasi).

Indikator menunjukkan kemampuan yang dapat diukur.

Rubrik dapat memetakan kemampuan peserta didik.

Rubrik menilai aspek-aspek penting pada proyek peserta didik.

6.

Penilaian Proyek

(15)

Karena itu, pada setiap penilaian proyek, setidaknya ada tiga hal yang memerlukan

perhatian khusus dari guru.

Keterampilan peserta didik dalam memilih topik, mencari dan mengumpulkan

data, mengolah dan menganalisis, memberi makna atas informasi yang

diperoleh, dan menulis laporan.

Kesesuaian atau relevansi materi pembelajaran dengan pengembangan sikap,

keterampilan, dan pengetahuan yang dibutuhkan oleh peserta didik.

Orisinalitas atas keaslian sebuah proyek pembelajaran yang dikerjakan atau

dihasilkan oleh peserta didik.

Penilaian proyek berfokus pada perencanaan, pengerjaan, danproduk proyek.

Dalam kaitan ini serial kegiatan yang harus dilakukan oleh guru meliputi

penyusunan rancangan dan instrumen penilaian, pengumpulan data, analisis data,

dan penyiapkan laporan. Penilaian proyek dapat menggunakan instrumen daftar

cek, skala penilaian, atau narasi. Laporan penilaian dapat dituangkan dalam bentuk

poster atau tertulis.

Produk akhir dari sebuah proyek sangat mungkin memerlukan penilaian khusus.

Penilaian produk dari sebuah proyek dimaksudkan untuk menilai kualitas dan

bentuk hasil akhir secara holistik dan analitik. Penilaian produk dimaksud meliputi

penilaian atas kemampuan peserta didik menghasilkan produk. Penilaian secara

analitik merujuk pada semua kriteria yang harus dipenuhi untuk menghasilkan

produk tertentu. Penilaian secara holistik merujuk pada apresiasi atau kesan secara

keseluruhan atas produk yang dihasilkan.

7.

Penilaian Portofolio

Penilaian portofolio merupakan penilaian atas kumpulan artefak yang menunjukkan

kemajuan dan dihargai sebagai hasil kerja dari dunia nyata. Penilaian portofolio

bisa berangkat dari hasil kerja peserta didik secara perorangan atau diproduksi

secara berkelompok, memerlukan refleksi peserta didik, dan dievaluasi

berdasarkan beberapa dimensi.

(16)

dapat juga oleh peserta didik sendiri.

Memalui penilaian portofolio guru akan mengetahui perkembangan atau kemajuan

belajar peserta didik. Misalnya, hasil karya mereka dalam menyusun atau membuat

karangan, puisi, surat, komposisi musik, gambar, foto, lukisan, resensi buku/

literatur, laporan penelitian, sinopsis, dan lain-lain. Atas dasar penilaian itu, guru

dan/atau peserta didik dapat melakukan perbaikan sesuai dengan tuntutan

pembelajaran.

Penilaian portofolio dilakukan dengan menggunakan langkah-langkah seperti

berikut ini.

Guru menjelaskan secara ringkas esensi penilaian portofolio.

Guru atau guru bersama peserta didik menentukan jenis portofolio yang akan

dibuat.

Peserta didik, baik sendiri maupun kelompok, mandiri atau di bawah bimbingan

guru menyusun portofolio pembelajaran.

Guru menghimpun dan menyimpan portofolio peserta didik pada tempat yang

sesuai, disertai catatan tanggal pengumpulannya.

Guru menilai portofolio peserta didik dengan kriteria tertentu.

Jika memungkinkan, guru bersama peserta didik membahas bersama dokumen

portofolio yang dihasilkan.

(17)

(1) Prosedur Analisis

Kurikulum berbasis kompetensi menekankan pada pencapaian kompetensi yang

dirumuskan dalam standar kompetensi lulusan, komptensi inti dan kompetensi dasar.

Oleh karena itu fokus pertama dan utama bagi guru dalam menyiapkan pembelajaran

adalah melakukan analisis pada ketiga kompetensi itu. Dari analisis itulah akan

diperoleh penjabaran materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan penilaian

yang diperlukan.

Standar kompetensi lulusan adalah muara utama pencapaian yang dituju semua mata

pelajaran pada jenjang tertentu. Sedangkan kompetensi inti adalah pijakan pertama

pencapaian yang dituju semua mata pelajaran pada tingkat kompetensi tertentu.

Penjabaran kompetensi inti untuk tiap mata pelajaran tersaji dalam rumusan

kompetensi dasar.

Rumusan standar kompetensi lulusan seperti yang tercantum pada Peraturan Menteri

Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 54 tahun 2013 untuk tingkat SMA adalah sebagai

berikut.

Dimensi

Kualifikasi Kemampuan

Sikap

Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap orang beriman,

berakhlak mulia, berilmu, percaya diri, dan bertanggung jawab

dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan

alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa

dalam pergaulan dunia

Pengetahuan

Memiliki pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan

metakognitif dalam ilmu pengetahuan, teknologi,seni, dan

budaya dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan,

dan peradaban terkait penyebab serta dampak fenomena dan

kejadian.

Keterampilan

Memiliki kemampuan pikir dan tindak yang efektif dan kreatif

dalam ranah abstrak dan konkret sebagai pengembangan dari

yang dipelajari di sekolah secara mandiri.

(18)

Kompetensi

Deskripsi Kompetensi

Sikap Spiritual

1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya

Sikap Sosial

2. Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin,

tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran,

damai), santun, responsif dan proaktif dan menunjukkan

sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan

dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial

dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan

bangsa dalam pergaulan dunia

Pengetahuan

3. Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan

faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif

berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan,

teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan

kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban

terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan

pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik

sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan

masalah

Keterampilan

4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan

ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang

dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara

efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metoda

sesuai dengan kaidah keilmuan

(19)

tabel berikut ini, contoh : Kelas X Rekayasa

Kompetensi Dasar (KI 3)

Kompetensi Dasar (KI 4)

(Dalam Silabus)

Materi Pokok

3.1 Mengidentifikasi desain

produk dan pengemasan

karya rekayasa sebagai

alat komunikasi

sederhana dengan sumber

arus listrik DC

berdasarkan konsep

berkarya dengan

pendekatan budaya

setempat dan lainnya

4.1 Mendesain produk dan

pengemasan karya

rekayasa sebagai alat

komunikasi sederhana

dengan sumber arus listrik

DC berdasarkan konsep

dengan pendekatan

budaya setempat dan

lainnya

Alat komuniasi

sederhana

dengan sumber

arus listrik DC

berdasarkan

konsep

Dan seterusnya …

(2) Mengembangkan kompetensi dasar dari KI 3 dan materi pokok (silabus) menjadi

materi pembelajaarn yang terdiri atas: fakta, konsep, prinsip, dan prosedur

(3) Mengembangkan kompetensi dasar dari KI 4 menjadi indikator keterampilan yang

terkait dengan fakta, konsep, prinsip, dan prosedur. Tahapan penyusunan indikator

dari tingkat yang terendah sampai tertinggi, yaitu mengamati, menanya, mencoba,

menalar, menyaji, dan mencipta.

(20)

Materi Pokok (Silabus)

Materi

Pembelajar

an

Fakta,

Konsep,

Prinsip,

dan

Prosedur

Alternatif Kegiatan Pembelajaran

: Mengamati,

Menanya, Mencoba, Mengasosiasi

, dan Mengomunik

asikan

Pembelajaran (Silabus)

Indikator

Sikap,

Pengethua

n, dan

Keterampil

an untuk

Penilaian

Penillaian (Silabus)

Lulusan

yang :

Cerdas,

Kreatif,

Produktif,

dan

Bertanggun

g jawab

Prosedur analisis dapat diilustrasikan dengan diagram berikut ini.

1. Pengembangkan Materi pembelajaran

Pengembangan materi pembelajaran merujuk pada materi pokok dalam silabus dan

kompetensi dasar yang termuat dalam kompetensi inti ke tiga (pengetahuan).Dalam

penjabaran materi pembelajaran tetap diperlukan untuk melihat linierisai dengan

kompetensi inti ke empat (keterampilan).

Hasil pengembangan materi pembelajaran dikelompokan dalam empat kategori,

yaitu:

(1) Fakta, yaitu kejadian atau peristiwa yang dapat dilihat, didengar, dibaca,

disentuh, atau diamati. Contoh fakta adalah produksi hasil kerajinan, hasil

panen, atau kolam budi daya ikan hias.

(2) Konsep, merupakan ide yang mempersatukan fakta-fakta atau dengan kata lain

konsep merupakan suatu penghubung antara fakta-fakta yang saling

berhubungan. Contoh produk kemasan, hotikultura, atau mesin otomatis.

(3) Prinsip, merupakan generalisasi tentang hubungan antara konsep-konsep yang

berkaiatan. Contoh prinsip adalah perbedaan antara pengolahan dan budidaya;

atau pemasaran yang efektif. Termasuk ke dalam kategori prinsip adalah hukum,

teori, dan azas.

(21)

mengamati, menanya, mencoba/mengumpulkan data, mengasosiasi/menalar, dan

mengomunikasikan.

3. Merumuskan indikator pencapaian

Dalam penyusunan indikator pencapaian perlu diperhatikan hal-hal berikut ini

(1) Indikator dirumuskan dengan kata kerja operasional yang terukur, didalamnya

terdapat dua unsur, yiatu tingkat kompetensi dan konten (pengetahuandan

keterampilan)

(2) Penyusunan indikator mengacu pada kompetensi inti, kompetensi dasar,

materi pokok, kegiatan pembelajaran dan penilaian dalam silabus

(3) Tingkat kompetensi indikator harus mencapai tingkat kompetensi minimal yang

tercantum pada kompetensi dasar maupun kompetensi inti dan dapat

dikembangkan hingga ke tingkat yang paling tinggi untuk mencapai target

pencapaian kompetensi sesuai dengan karakteristik dan daya dukung sekolah

dan lingkungannya

(4) Tingkat kompetensi pada aspek sikap adalah menerima, menjalankan,

menghargai, menghayati, dan mengamalkan

(5) Tingkat kompetensi pada aspek pengetahuan adalah mengingat, memahami,

menerapkan, menganalisis, mengevalasi, dan mengkreasi

(6) Tingkat kompetensi pada aspek keterampilan adalah mengamati, menanya,

mencoba, menalar, menyaji, dan mencipta

(7) Keseluruhan indikator yang disusun memadai untuk mencapai kompetensi

dasar, kompetensi inti, dan standar kompetensi lulusan

4. Mengembangkan alternatif penilaian (Penilaian Autentik)

a. Aspek sikap melalui pengamatan, yaltu penilaian diri, penilaian sebaya, dan/atau

jurnal. Penilaian sikap melalui pengematan menggunakan lembar pengamatan

atau daftar

cheklist

pengamatan yang memuat aspek sikap yang daiamati.

Rincian aspek sikap yang diamati merujuk pada indikator sikap yang dijabarkan

dari KI-1 dan KI-2 pada saat dilakukan analisis kompetensi. Penilaian sikap

dilakukan sebagai upaya mengembangkan sikap sosial dan sikap religius dalam

rangka pengembangan nilai karakter bangsa. Penjabaran penilaian sikap dalam

tabel analisis perlu direlasikan/dihubungkan dengan kegiatan pembelajaran yang

dilakukan peserta didik.

(22)

c. Aspek keterampilan melalui tes praktik,proyek dan penilaian portofolio. Penilaian

keterampilan mencakup dua ranah keterampilan yang dapat dikembangkan sesuai

dengan kompetensi lulusan tingkat SMA yang diharapkan, yaitu ranah abstrak dan

ranah konkrit. Jabaran penilaian keterampilan pada tabel analisis merinci aspek

penilaian yang dilakukan dan direlasikan dengan kegiatan pembelajaran yang

dilakukan peserta didik.

Hasil Analisis Kompetensi

a) Hasil Linierisasi Kompetensi Dasar Kerajinan

Kompetensi Dasar (KI 3)

Kompetensi Dasar (KI 4)

(Dalam Silabus)

Materi Pokok

3.1 Mengidentifikasi desain

produk dan pengemasan karya kerajinan tekstil berdasarkan konsep berkarya dengan pendekatan budaya setempat dan lainnya

4.1 Mendesain produk dan pengemasan karya kerajinan tekstil berdasarkan konsep berkarya dengan pendekatan budaya setempat dan lainnya

Produk kerajinan tekstil dan pengemasannya, meliputi :

1.Pengertian desain produk dalam kerajinan tekstil dengan berbagai teknik konstruksi (jahit, jahit aplikasi, , makrame, tenun, tapestry, dll)

2.Aneka karya kerajinan tekstil

3.Fungsi karya kerajinan tekstil

4.Unsur estetika dan ergonomis karya kerajinan tekstil

5.Motif ragam hias pada kerajinan tekstil

6.Teknik pembuatan benda kerajinan tekstil : jahit, jahit aplikasi, sulam, ikat celup, batik, makrame, tenun, tapestry, dll)

7.Pengemasan karya kerajinan tekstil.

8.Desain dan

pengemasan produk tekstil

3.3 Memahami proses produksi kerajinan tekstil di wilayah setempat melalui pengamatan dari berbagai sumber

4.2 Mendesain prosesproduksi karya kerajinan tekstil berdasarkan identifikasi kebutuhan sumberdaya dan prosedurberkarya dengan pendekatan budaya setempat dan lainnya

Mendesain proses produksi kerajinan tekstil meliputi : 1.Pengertian proses

produksi dan sumber yang dibutuhkan dalam mendukung proses produksi kerajinan tekstil.

(23)

kerajinan tekstil dengan berbagai teknik pembuatan benda kerajinan tekstil : jahit, jahit aplikasi, sulam, ikat celup, batik, makrame, tenun, tapestry, dll) 3.2 Mengidentifikasi sumber daya

yang dibutuhkan dalam mendukung proses produksi dari berbagai sumber

4.3 Membuat karya kerajinan tekstil yang berkembang di wilayah setempat dan lainnya sesuai teknik dan prosedur

Sumber daya usaha kerajinan tekstil, meliputi :

1.Pengelolaan sumber daya usaha dikenal dengan istilah 6M, yakni Man

(manusia), Money

(uang), Material

(bahan), Machine (peralatan),

Method (cara kerja) dan Market (pasar). 2.Identifikasi

kebutuhan sumberdaya pada usaha kerajinan tesktil

3.Praktek pembuatan kerjainan

tekstildengan berbagai teknik menghias permukaan kain (ikat celup, batik, sulam, dll)

4.Unsur estetika dan ergonomis karya kerajinan tekstil 5.Standar produk dan

proses kerja kerajinan tekstil 3.4 Memahami konsep

kewirausahaan dalam menjalankan sebuah wirausaha kerajinan tekstil

4.4 Menyajikan konsep

kewirausahaan berdasarkan pengalaman keberhasilan tokoh-tokoh wirausaha kerajinan tekstil

Konsep

kewirausahaan, meliputi :

1.Dasar-dasar kewirausahaan bidang kerajinan tekstil

2.Stimulasi dan motivasi wirausaha berdasarkan sifat dan karakter isi, bentuk dan kerja produksi.

(24)

penyebab kegagalan dan keberhasilan seseorang berdasarkan karakteristik wirausahawan 5.Pengertian, tujuan,

manfaat perilaku kerja prestatif 6.Perilaku kerja prestatif (selalu ingin maju) meliputi:

- kerj

a ikhlas

- kerj

a mawas >< emosional

- kerj

a cerdas

- kerj

a keras

- kerj

a tuntas

- Prin

sip cara kerja prestatif 3.5 Mengidentifikasi desain

produk dan pengemasan karya kerajinan limbah tekstil berdasarkan konsep berkarya dengan pendekatan budaya setempat dan lainnya

4.5 Mendesain produk dan pengemasan karya kerajinan limbah tekstil berdasarkan konsep berkarya dengan pendekatan budaya setempat dan lainnya

Mengenal produk kerajinan limbah tekstil dan desain pengemasannya, meliputi :

1.Pengertian kerajinan limbah tekstil dan desain dengan berbagai teknik konstruksi (jahit, jahit aplikasi, makrame, tenun, tapestry, dll)

2.Aneka karya kerajinan limbah tekstil

3.Fungsi karya kerajinan limbah tekstil

4.Unsur estetika dan ergonomis karya kerajinan limbah tekstil

5.Motif ragam hias pada kerajinan limbah tekstil

6.Teknik pembuatan benda kerajinan limbah tekstil : jahit, jahit aplikasi, sulam, ikat celup, batik, makrame, tenun, tapestry, dll)

(25)

tekstil 3.7 Menganalisis proses produksi

kerajinan limbah tekstil di wilayah setempat melalui pengamatan dari berbagai sumber.

4.6 Mendesain prosesproduksi karya kerajinan limbah tekstil berdasarkan identifikasi kebutuhan sumberdaya dan prosedur berkarya dengan pendekatan budaya setempat dan lainnya

Proses produksi kerajinan tekstil berdasarkan standar isi dan standar kerja, meliputi :

1. Proses produksi dan sumber daya yang dibutuhkan dalam mendukung proses produksi.

2. Menetapkan desain roses produksi pembuatan kerajinan limbah tekstil berdasarkan prosedur berkarya. 3.6 Memahami sumber daya yang

dibutuhkan dalam mendukung proses produksi kerajinan limbah tekstil

4.7 Membuat karya kerajinan limbah tekstil yang berkembang di wilayah setempat dan lainnya sesuai teknik dan prosedur

Sumber daya usaha kerajinan limbah tekstil, meliputi :

1.Identifikasi kebutuhan sumberdaya pada sentra/usaha (dikenal dengan istilah 6M)kerajinan limbah tekstil 2.Praktek kerajinan

limbah tekstil berdasarkan kebutuhan

sumberdaya (bahan, peralatan,

keterampilan bekerja & pasar) dan prosedur yang ditetapkannya (jenis, manfaat, teknik pengolahan, dan

penyajian/penge-masan)

3.8 Menganalisis sikap dan perilaku wirausaha kerajinan limbah tekstil yang dapat mendukung keberhasilan dalam menjalankan sebuah usaha

4.8 Menyajikan hasil analisa sikap dan perilaku wirausaha kerajinan limbah tekstil

Sikap dan Perilaku Wirausaha, meliputi : 1. Berbagai sikap

membangun semangat usaha (Inovatif, Kreatifitas, Motivasi, Sikap bekerja efektif dan efisien)

2. Faktor-faktor yang menunjukkan komitmen tinggi 3. Bagaimana

menerapkan perilaku tepat waktu, tepat janji 4. Penerapan

kepedulian

(26)

5. Penerapan komitmen tinggi terhadap pengendalian diri 6. Langkah

keselamatan kerja 7. Klaim asuransi

kerja dan produk

b) Hasil Linierisasi Kompetensi Dasar Rekayasa

Kompetensi Dasar (KI 3)

Kompetensi Dasar (KI 4)

(Dalam Silabus)

Materi Pokok

3.1 Mengidentifikasi desain

produk dan pengemasan karya rekayasa sebagai alat komunikasi sederhana dengan sumber arus listrik DC berdasarkan konsep berkarya dengan pendekatan budaya setempat dan lainnya

4.1 Mendesain produk dan pengemasan karya rekayasa sebagai alat komunikasi sederhana dengan sumber arus listrik DC berdasarkan konsep dengan pendekatan budaya setempat dan lainnya

Produk dan pengemasannya, meliputi:

1.Pengertian alat komunikasi sederhana dengan sumber arus listrik DC.

2.Aneka jenis produk rekayasa sebagai alat komunikasi

sederhana dengan sumber arus listrik DC

3.Manfaat alat komunikasi sederhana dengan sumber arus listrik DC

4.Standar produk dan langkah keselamatan kerja

5.Teknik pengemasan hasil rekayasa sebagai alat komunikasi sederhana dengan sumber arus listrik DC

6.Menetapkan desain dan pengemasan produk rekayasa sebagai alat komunikasi sederhana dengan sumber arus listrik DC

3.3 Memahami proses produksi rekayasa sebagai alat komunikasi sederhana dengan sumber arus listrik DC di wilayah setempat melalui pengamatan dari berbagai sumber

4.2 Mendesain prosesproduksi karya rekayasa sebagai alat komunikasi sederhana dengan sumber arus listrik

DCberdasarkan identifikasi kebutuhan sumber daya, teknologi, dan prosedur berkarya dengan pendekatan budaya setempat dan lainnya

Mendesain proses produksi rekayasa sebagai alat komunikasi sederhana dengan sumber arus listrik DC , meliputi:

1. Pengertian produksi 2. Proses produksi pada

(27)

sumber arus listrik DC (teknik pemilihan bahan, penyiapan bahan, teknik pemrosesan) 3. Menetapkan desain

proses produksi rekayasa sebagai alat komunikasi

sederhana dengan sumber arus listrik DC berdasarkan prosedur berkarya (jenis, manfaat, teknik rekayasa, dan pengemasan) 3.2 Mengidentifikasi sumber daya

yang dibutuhkan dalam mendukung proses produksi karya rekayasa sebagai alat komunikasi sederhana dengan sumber arus listrik DC

4.3 Membuat karya rekayasa sebagai alat komunikasi sederhana dengan sumber arus listrik DC yang berkembang di wilayah setempat dan lainnya sesuai teknik dan prosedur

Sumberdaya

usaharekayasa sebagai alat komunikasi sederhana dengan sumber arus listrik DC, meliputi:

1.Pengelelolaan sumberdaya usaha dikenal dengan istilah 6M, yakni Man

(manusia), Money

(uang), Material

(bahan), Machine (peralatan), Method

(cara kerja) dan

Market (pasar). 2.Identifikasi

kebutuhan sumberdaya pada usaha rekayasa sebagai alat komunikasi sederhana dengan sumber arus listrik DC

3.Praktek rekayasa sebagai alat komunikasi sederhana dengan sumber arus listrik DC berdasarkan kebutuhan

sumberdaya (bahan, peralatan,

keterampilan bekerja & pasar) dan prosedur yang ditetapkannya (jenis, manfaat, teknik rekayasa, dan penge-masan)

4.Standar produk dan proses kierja 3.4 Memahami konsep

kewirausahaan dalam menjalankan sebuah wirausaha rekayasa sebagai

4.4 Menyajikan konsep

kewirausahaan berdasarkan pengalaman keberhasilan tokoh-tokoh wirausaha

Konsep kewirausahaan, meliputi:

(28)

dengan sumber arus listrik DC komunikasi dengan sumber

arus listrik DC 2.Motivasi wirausaha Sytimulasi dan berdasarkan sifat dan karakter isi, bentuk dan kerja produiksi. 3. Karakter dan karakteristik (watak, nilai dan ciri) kewirausahaan 4. Faktor-faktor

penyebab keberhasilan dan kegagalan wirausaha 5. Pengerti-an,

tujuan, manfaat perilaku kerja prestatif

6. Penerapan sikap dan perilaku kerja prestatif (selalu ingin maju) meliputi: - kerja

ikhlas

- kerja mawas ><

emosional

- kerja cerdas

- kerja keras

- kerja tuntas

- Prinsi p cara kerja prestatif. 3.5 Mengidentifikasi desain

produk dan pengemasan karya rekayasa sebagai alat pengatur gerak sederhana dengan sumber arus listrik berdasarkan konsep berkarya dengan pendekatan budaya setempat dan lainnya

4.5 Mendesain produk dan pengemasan karya rekayasa sebagai alat pengatur gerak sederhana dengan sumber arus listrik berdasarkan konsep berkarya dengan pendekatan budaya setempat dan lainnya

Mengenal produk hasil rekayasa sebagai alat pengatur gerak sederhana dengan sumber arus listrik dan Desain kemasan produk, meliputi: 1.Dasar-dasar

merangkai alat dengan sumber arus listrik

2.Aneka jenis hasil rekayasa sebagai alat pengatur gerak sederhana dengan sumber arus listrik 3.Manfaat alat

pengatur gerak sederhana dengan sumber arus listrik 4.Standar produk hasil

alat pengatur gerak sederhana dengan sumber arus listrik 5.Teknik ngemasan

(29)

listrik

6.Menetapkan desain dan pengemasan produk rekayasa sebagai alat pengatur gerak sederhana dengan sumber arus listrik

3.7 Memahami proses produksi karya rekayasa sebagai alat pengatur gerak sederhana dengan sumber arus listrik di wilayah setempat melalui pengamatan dari berbagai sumber

4.6 Mendesain prosesproduksi karya rekayasa sebagai alat pengatur gerak sederhana dengan sumber arus listrik berdasarkan identifikasi kebutuhan sumber daya, teknologi, dan prosedur berkaryadengan pendekatan budaya setempat dan lainnya

Proses produksi rekayasa sebagai alat pengatur gerak sederhana dengan sumber arus listrik berdasarkan standar isi dan proses kerja, meliputi:

1. Proses produksi pada sentra/usaha rekayasa sebagai alat pengatur gerak sederhana dengan sumber arus listrik (teknik pemilihan bahan, penyiapan bahan, teknik pemrosesan) 2. Menetapkan desain

proses produksi rekayasa sebagai alat pengatur gerak sederhana dengan sumber arus listrik berdasarkan prosedur berkarya (jenis, manfaat, teknik rekayasa, dan pengemasan) 3.6 Memahami sumber daya yang

dibutuhkan dalam

mendukung proses produksi rekayasa sebagai alat pengatur gerak sederhana dengan sumber arus listrik

4.7 Membuat karya rekayasa sebagai alat pengatur gerak sederhana dengan sumber arus listrik yang berkembang di wilayah setempat dan lainnya sesuai teknik dan prosedur

Sumberdaya usaha rekayasa sebagai alat pengatur gerak sederhana dengan sumber arus listrik meliputi:

1.Identifikasi kebutuhan sumberdaya pada sentra/usaha (dikenal dengan istilah 6M)rekayasa sebagai alat pengatur gerak sederhana dengan sumber arus listrik

2.Praktek rekayasa sebagai alat pengatur gerak sederhana dengan sumber arus listrik berdasarkan kebutuhan

sumberdaya (bahan, peralatan,

(30)

ditetapkannya (jenis, manfaat, teknik pengolahan, dan penyajian/pengemas an)

3.Pemeliharaan dan peningkatan program intensifikasi dan ekstensifikasi alat pengatur gerak sederhana dengan sumber arus listrik sesuai dengan standar produk. 3.8 Menganalisis sikap dan

perilaku wirausaha karya rekayasa sebagai alat pengatur gerak sederhana dengan sumber arus listrik yang dapat mendukung keberhasilan dalam menjalankan sebuah usaha

4.8 Menyajikan hasil analisa sikap dan perilaku wirausaha produk rekayasa alat pengatur gerak sederhana dengan sumber arus listrik

1. Berbagai sikap membangun semangat usaha (Inovatif, Kreatifitas, Motivasi, Sikap bekerja efektif dan efisien)

2. Faktor-faktor yang menunjukkan komitmen tinggi 3. Bagaimana

menerapkan perilaku tepat waktu, tepat janji

4. Penerapan

kepedulian terhadap mutu hasil kerja 5. Penerapan komitmen

tinggi terhadap pengendalian diri 6. Langkah keselamatan

kerja

7. Claim asuransi kerja dan produk

c) Hasil Linierisasi Kompetensi Dasar Budidaya

Kompetensi Dasar (KI 3)

Kompetensi Dasar (KI 4)

(Dalam Silabus)

Materi Pokok

3.1 Mengidentifikasi desain

produk dan pengemasan hasil budidaya tanaman hias berdasarkan konsep berkarya dengan pendekatan budaya setempat dan lainnya

4.1 Mendesain produk dan pengemasan hasil budidaya tanaman hias berdasarkan konsep berkarya dengan pendekatan budaya setempat dan lainnya

Produk budidaya tananman hias dan pengemasannya, meliputi:

1. Pengertian tanaman hias.

2. Aneka jenis produk budidaya tanaman hias

3. Manfaat tanaman hias

4. Eco-system budidaya tanaman hias

5. Standar produk dan langkah

keselamatan kerja

(31)

tanaman hias

7. Menetapkan desain dan pengemasan produk

budidayatanaman hias

3.3 Memahami proses produksi budidaya tanaman hias di wilayah setempat melalui pengamatan dari berbagai sumber

4.2 Mendesain proses produksi usaha budidaya tanaman hias berdasarkan identifikasi kebutuhan sumberdaya dan prosedur berkarya dengan pendekatan budaya setempat dan lainnya

Mendesain proses produksi budidaya tanaman hias, meliputi:

1. Pengertian produksi 2. Proses produksi

pada

sentra/perusahaan produk budidaya tanaman hias(teknik pemilihan bahan, penyiapan bahan, teknik pemrosesan) 3. Menetapkan desain

proses produksi budidaya tanaman hias berdasarkan prosedur berkarya (jenis, manfaat, teknik budidaya, dan pengemasan) 3.2 Mengidentifikasi sumber daya

yang dibutuhkan dalam mendukung proses produksi budidaya tanaman hias

4.3 Mempraktikan budidaya tanaman hias yang berkembang di wilayah setempat dan lainnya sesuai teknik dan prosedur

Sumberdaya usahabudidaya tanaman hias, meliputi:

1. Pengelelolaan sumberdaya usaha dikenal dengan istilah 6M, yakni

Man (manusia),

Money (uang),

Material (bahan),

Machine (peralatan),

Method (cara kerja) dan Market (pasar). 2. Identifikasi

kebutuhan sumberdaya pada usaha budidaya tanaman hias 3. Praktek budidaya

tanaman hias berdasarkan kebutuhan

sumberdaya (bahan, peralatan,

keterampilan bekerja & pasar) dan prosedur yang ditetapkannya (jenis, manfaat, teknik budidaya, dan penge-masan) 4. Standar produk dan

(32)

menjalankan sebuah

wirausaha budidaya tanaman hias

pengalaman keberhasilan tokoh-tokoh wirausaha budidaya tanaman hias

1. Dasar-dasar kewirausahaan bidang budidaya 2. Sytimulasi dan

Motivasi wirausaha berdasarkan sifat dan karakter isi, bentuk dan kerja produiksi. 3. Karakter dan

karakteristik (watak, nilai dan ciri) kewirausahaan 4. Faktor-faktor

penyebab keberhasilan dan kegagalan wirausaha

5. Pengertian, tujuan, manfaat perilaku kerja prestatif 6. Penerapan sikap

dan perilaku kerja prestatif (selalu ingin maju) meliputi:

- kerja ikhlas

- kerja mawas >< emosional - kerja

cerdas

- kerja keras

- kerja tuntas

- Prinsi p cara kerja prestatif 3.5 Mengidentifikasi desain

produk dan pengemasan hasil budidaya tanaman pangan berdasarkan konsep berkarya dengan pendekatan budaya setempat dan lainnya

4.5 Mendesain produk dan pengemasan hasil budidaya tanaman pangan berdasarkan konsep berkarya dengan pendekatan budaya setempat dan lainnya

Mengenal produk hasil budidaya tanaman pangan dan Desain kemasan produk, meliputi:

1. Dasar-dasar menanam tanaman pangan

2. Aneka jenis hasil budidaya tanaman pangan (umbi umbian, serealia dan kacang kacangan) 3. Manfaat tanaman

pangan

4. Ekosistem budidaya tanaman pangan 5. Standar produk

hasil tanaman pangan

(33)

7. Menetapkan desain dan pengemasan produk budidaya tanaman pangan 3.7 Memahami proses produksi

budidaya tanaman pangan di wilayah setempat melalui pengamatan dari berbagai sumber

4.6 Mendesain

prosesproduksibudidaya tanaman pangan berdasarkan identifikasi kebutuhan sumberdaya dan prosedur berkarya dengan pendekatan budaya setempat dan lainnya

Proses produksi budidaya tanaman pangan berdasarkabn stndar isi dan proses kerja, meliputi: 1. Proses produksi

pada sentra/usaha budidaya tanaman pangan (teknik pemilihan bahan, penyiapan bahan, teknik pemrosesan) 2. Menetapkan desain

proses produksi budidaya tanaman pangan berdasarkan prosedur berkarya (jenis, manfaat, teknik budidaya, dan pengemasan) 3.6 Mengidentifikasi sumber daya

yang dibutuhkan dalam mendukung proses produksi budidaya tanaman pangan

4.7 Mempraktikan budidaya tanaman pangan sesuai teknik dan prosedur

Sumberdaya usaha budidaya tanaman pangan meliputi: 1. Identifikasi

kebutuhan sumberdaya pada sentra/usaha (dikenal dengan istilah 6M)budidaya tanaman pangan 2. Praktek budidaya

tanaman pangan berdasarkan kebutuhan

sumberdaya (bahan, peralatan,

keterampilan bekerja & pasar) dan prosedur yang ditetapkannya (jenis, manfaat, teknik pengolahan, dan

penyajian/penge-masan)

3. Pemeliharaan dan peningkatan program intensifikasi dan ekstensifikasi tanaman pangan sesuai dengan standar produk. 3.8 Menganalisis sikap dan

perilaku wirausaha budidaya tanaman pangan yang dapat mendukung keberhasilan dalam menjalankan sebuah usaha

3.8 Menyajikan hasil analisa sikap dan perilaku wirausaha budidaya tanaman pangan

(34)

efisien)

2. Faktor-faktor yang menunjukkan komitmen tinggi 3. Bagaimana

menerapkan perilaku tepat waktu, tepat janji 4. Penerapan

kepedulian

terhadap mutu hasil kerja

5. Penerapan komitmen tinggi terhadap pengendalian diri 6. Langkah

keselamatan kerja 7. Claim asuransi kerja

(35)

3.1 Mengidentifikasi desain produk dan pengemasan karya pengawetan bahan nabati dan hewani

berdasarkan konsep berkarya dengan pendekatan budaya setempat dan lainnya

4.1 Mendesain produk dan pengemasan pengawetan bahan nabati dan hewani yang diawetkan berdasarkan konsep berkarya dengan pendekatan budaya setempat dan lainnya

Desain produk dan pengawasan karya pengawetan bahan nabati dan hewani, meliputi:

1. Pengertian pengawetan bahan nabati dan hewani 2. Aneka jenis produk

pengawet-an bahan nabati dan hewani 3. Manfaat dan

kandungan bahan pada produk pengawetan bahan nabati dan hewani 4. Penyajian dan

pengemasan produk pengawetan bahan nabati dan hewani 5. Menetapkan desain

dan pengemasan produk pengawetan bahan nabati dan hewani

3.3 Memahami proses produksi pengawetan bahan nabati dan hewani di wilayah setempat melalui pengamatan dari berbagai sumber

4.2 Mendesain proses produksi pengawetan bahan nabati dan hewani berdasarkan

identifikasi kebutuhan sumberdaya dan prosedur berkarya dengan pendekatan budaya setempat dan lainnya

Mendesain proses produksi pengawetan bahan nabati dan hewani, meliputi: 1. Manajemen umum

(POAC)

2. Proses produksi pada

sentra/perusahaan produk pengawetan bahan nabati dan hewani (teknik pemilihan bahan, penyiapan bahan, teknik pemrosesan) 3. Menetapkan desain

proses produksi pengawetan bahan nabati dan hewani berdasarkan prosedur berkarya (jenis, manfaat, kandungan, teknik pengolahan, dan penyajian/penge-masan)

3.2 Mengidentifikasi sumber daya yang dibutuhkan dalam mendukung proses produksi pengawetan bahan nabati dan hewani

4.3 Membuat karya pengolahan pengawetan bahan nabati dan hewani yang berkembang di wilayah setempat dan lainnya sesuai teknik dan prosedur

Perusahaan dan pembuatan karya pengolahan pengawetan bahan nabati dan hewani, meliputi:

(36)

(uang), Material

(bahan), Machine (peralatan),

Method (cara kerja) dan Market (pasar). 2. Identifikasi

kebutuhan sumberdaya pada sentra/perusaha-an produk pengawetan bahan nabati dan hewani

3. Pembuatan karya/produk pengawetan bahan nabati dan hewani berdasarkan kebutuhan

sumberdaya (bahan, peralatan,

keterampilan bekerja & pasar) dan prosedur yang ditetapkannya (jenis, manfaat, kandungan, teknik pengolahan, dan penyajian/penge-masan)

3.4 Memahami konsep kewirausahaan dalam menjalankan sebuah wirausaha pengawetan bahan nabati dan hewani

4.4 Menyajikan konsep

kewirausahaan berdasarkan pengalaman keberhasilan tokoh-tokoh wirausaha pengawetan bahan nabati dan hewani

Konsep kewirausahaan, meliputi:

1. Pengertian kewirausahaan 2. Manfaat berwirausaha sebagai motivasi 3. Karakter

dan karakteristik (watak, nilai dan ciri) kewirausahaan 4. Faktor-faktor

penyebab keberhasilan dan kegagalan wirausaha 5. Pengertian,

tujuan, manfaat perilaku kerja prestatif

6. Penerapan sikap dan perilaku kerja prestatif (selalu ingin maju) meliputi:

- kerja ikhlas

- kerja mawas >< emosional - kerja

cerdas

(37)

tuntas

- Prinsi p cara kerja prestatif 3.5 Mengidentifikasi desain

produk dan pengemasan karya pengolahan bahan pangan nabati dan hewani menjadi produk pembersih berdasarkan konsep berkarya dengan pendekatan budaya setempat dan lainnya

4.5 Mendesain produk dan pengemasan karya pengolahan bahan pangan nabati dan hewani menjadi produk pembersih berdasarkan konsep berkarya dengan pendekatan budaya setempat dan lainnya

Desain produk dan pengemasan karya pengolahan bahan pangan nabati dan hewani menjadi produk pembersih 1. Pengertian bahan

pangan nabati dan hewani, serta produk pembersih 2. Beberapa jenis

bahan pangan nabati dan hewani yang dapat dibuat produk pembersih (sabun,shampo,sab un lerak)

3. Manfaat dan kandungan bahan pangan nabati dan hewani sebagai produk pembersih 4. Pengemasan

produk pembersih dari bahan pangan nabati dan hewani Menetapkan desain dan pengemasan produk pembersih dari bahan pangan nabati dan hewani

3.7 Memahami proses produksi pengolahan bahan pangan nabati dan hewani menjadi produk pembersih di wilayah setempat melalui

pengamatan dari berbagai sumber

4.6 Mendesain proses produksi karya pengolahan bahan pangan nabati dan hewani menjadi produk pembersih berdasarkan identifikasi kebutuhan sumberdaya dan prosedur berkarya dengan pendekatan budaya setempat dan lainnya

Mendesain proses produksi produk pembersih dari pengolahan bahan pangan nabati dan hewani, meliputi: 1. Proses produksi

pada

sentra/perusahaan produk bahan pangan nabati dan hewani (teknik pemilihan bahan, penyiapan bahan, teknik

pemrosesan) 2. Menetapkan desain

(38)

mendukung proses produksi pengolahan bahan pangan nabati dan hewani menjadi produk pembersih

hewani menjadi produk pembersih yang berkembang di wilayah setempat dan lainnya sesuai teknik dan prosedur

pengolahan pengawetan bahan nabati dan hewani, meliputi:

1. Identifikasi kebutuhan sumberdaya pada sentra/perusaha-an (dikenal dengsentra/perusaha-an istilah 6M) produk pembersih dari bahan pangan nabati dan hewani 2. Pembuatan karya/ produk pembersih dari bahan pangan nabati dan hewani berdasarkan kebutuhan sumberdaya (bahan, peralatan, keterampilan bekerja & pasar) dan prosedur yang ditetapkannya (jenis, manfaat, kandungan, teknik pengolahan, dan penyajian/penge-masan)

3.8 Menganalisis sikap dan perilaku wirausaha pengolahan bahan pangan nabati dan hewani menjadi produk pembersih yang dapat mendukung keberhasilan dalam menjalankan sebuah usaha

4.8 Menyajikan hasil analisa sikap dan perilaku wirausaha karya pengolahan bahan pangan nabati dan hewani menjadi produk pembersih

1. Berbagai sikap membangun semangat usaha (Inovatif, Kreatifitas, Motivasi, Sikap bekerja efektif dan efisien)

2. Faktor-faktor yang menunjukkan komitmen tinggi 3. Bagaimana

menerapkan perilaku tepat waktu, tepat janji 4. Penerapan

kepedulian terhadap mutu hasil kerja 5. Penerapan

Gambar

tabel berikut ini, contoh : Kelas X Rekayasa
gambar skets/tertulis untuk
Gambar atau desain produk
Gambar tokoh-tokoh
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pada analisis hubungan antara kadar total triptofan plasma dengan gejala depresi pada kedua kelompok didapatkan kadar total triptofan plasma pada kelompok depresi

Untuk melengkapi komitmen pemerintah dalam mendukung KPS di Indonesia, dibentuk beberapa lembaga yang secara spesifik berperan dalam pelaksanaan KPS, seperti Indonesia

PROGRAM PASCASARJANA STIA BINA TARUNA.

ijtihad semestinya langsung merujuk pada sumber asli ajaran Islam (Al-Qur’an dan sunnah Nabi SAW), seperti yang di lakukan para sahabat dan para thabi’in di zaman mereka

Hasil validasi ini menunjukkan bahwa estimasi dengan data harga tahun yang bersangkutan yang menggunakan HST yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah cenderung overestimate

Parameter yang digunakan untuk mengukur prestasi pada rancang bangun Instalasi mesin penanggulangan pencemaranan udara ini, didasarkan dari beberapa variabel

Kemungkinan yang terjadi adalah terjadinya redefinisi terhadap ilmu ekonomi, dimana materi bahasan dalam ilmu ekonomi akan bertambah dengan adanya materi dari

Presentasi sangat berpengaruh dalam pengenalan logo yang telah dibuat, dimana agar apa yang dirancang dapat dimengerti dan dapat sesuai dengan yang diharapkan client.. Apa