PROSES PENDIRIAN DAN FASE FASE DAULAH AB

Teks penuh

(1)

PROSES PENDIRIAN DAN FASE-FASE DAULAH ABBASIYAH

1.1.Sistem Politik dan Pemerintahan dan Fase-Fasenya

Khalifah pertama Bani Abbasiyah, Abdul Abbas yang sekaligus dianggap sebagai pendiri Bani Abbas, menyebut dirinya dengan julukan Al-Saffah yang berarti Sang Penumpah Darah. Sedangkan Khalifah Abbasiyah kedua mengambil gelar Al-Mansur dan meletakkan dasar-dasar pemerintahan Abbasiyah. Di bawah Abbasiyah, kekhalifahan berkembang sebagai system politik. Dinasti ini muncul dengan bantuan orang-orang Persia yang merasa bosan terhadap bani Umayyah di dalam masalah sosial dan pilitik diskriminasi.

Al-Mansur dianggap sebagai pendiri kedua dari Dinasti Abbasiyah. Di masa pemerintahannya Baghdad dibagun menjadi ibu kota Dinasti Abbasiyah dan merupakan pusat perdagangan serta kebudayaan. Hingga Baghdad dianggap sebagai kota terpenting di dunia pada saat itu yang kaya akan ilmu pengetahuan dan kesenian. Hingga beberapa dekade kemudian dinasti Abbasiyah mencapai masa kejayaan.

Ada beberapa sistem politik yang dijalankan oleh Daulah Abbasiyah, yaitu:

a. Para Khalifah tetap dari keturunan Arab murni, sedangkan pejabat lainnya diambil dari kaum mawalli.

b. Kota Bagdad dijadikan sebagai ibu kota negara, ang menjadi pusat kegiatan politik, ekonomi, sosial dan ataupun kebudayaan serta terbuka untuk siapa saja, termasuk bangsa dan penganut agama lain.

c. Ilmu pengetahuan dianggap sebagai sesuatu yang mulia, yang penting dan sesuatu yang harus dikembangkan.

d. Kebebasan berpikir sebagai hak asasi manusia.[1]

Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik itu, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbas menjadi lima periode:

a. Periode Pertama (132 H/750 M-232 H/847 M), disebut periode pengaruh Persia pertama.

b. Periode Kedua (232 H/847 M-334 H/945 M), disebut pereode pengaruh Turki pertama.

(2)

d. Periode Keempat (447 H/1055 M-590 H/l194 M), masa kekuasaan dinasti Bani Seljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah; biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua.

e. Periode Kelima (590 H/1194 M-656 H/1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Bagdad.

Pada dasarnya tidak ada perbedaan mendasar dalam pembagian tahapan pemerintahanAbbasiyyah di atas, namun hanya didasarkan pada perbedaan sudut pandangyang dipakai. Periodesasi di atas menggambarkan situasi politik Abbasiyah, dimana terdapat 2 unsur luar yang mendominasi kekuasaan masa Abbasiyyah[2].

1.2.Pengaruhnya Terhadap Perkembangan Sastra

Pada masa-masa awal berdirinya berdirinya bani abbasiyah, khitobah atuu pidato menjadi genre sastra yang laris. Fenomena ini terjadi dimotori oleh para kholifah Abbasiyah yang amat piawai dalam menyampaikan pidato. Akhirnya berkembang pada saat itu pidato-pidato dengan macam-macam motif, seperti politik, agama atau yang lain. Sehingga marak saat itu penggunaan kalimat-kalimat ithnab daripada yang berbentuk ijaz. Diantara para orator saat itu adalah As-Suffah, Al-Mansyur, Kholid bin Sofwan.[3]

Namun seiring kebijakan pemerintahan Abbasiyyah yang menerima keterbukaan dengan budaya bangsa, maka berubahlah kultur sastra Arab. Akibat dipengaruhi oleh bangsa Buwaih, sastra tulis lebih diminati daripada sastra oral. Ada yang berbentuk prosa ada tang berbentuk syi’ir, Adapun macam-macam keduanya ini akan diterangkna secara rinci pada bab selanjutnya.

Namun hal lain yang perlu dicatat ialah bahwa pada masa berkembangnya sastra tulis ini banyak terjadi kekeliruan berbahasa di tengah masyarakat akibat pergumulan yang kuat bangsa Arab dengan bangsa ajam (non Arab)[4]. Sastra oral pun semakin melemah Bahkan diceritakan, para khotib Khutbah juma’at atu hari raya saat itu harus memakai teks,tidak lagi langsung seperti pada masa-masa awal berdiri bani Abbasiyyah[5].

2. KEMAJUAN ILMU PENGETAHUAN MASA DAULAH ABBASIYYAH

(3)

dan bernilai guna. Bangsa-bangsa itu memberi saham tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam.[6]

Pada permulaan daulah Abbasiyah, belum terdapat pusat-pusat pendidikan formal, seperti: sekolah-sekolah, yang ada hanya beberapa lembaga non-fomal yang disebut Ma’ahid.

Baru pada masa pemerintahan Haru Ar-Rasyid didirikanlah lembaga pendidikan formal seperti Darul Hikmah yang kemudian dilanjutkan oleh Al Makmun. Dari lembaga inilah banyak melahirkan sajana dan ilmu pengetahuan yang membawa kejayaan daulah abbasiyah dan umat islam pada umumnya. Masa ini dicatat oleh sejarah sebagai kum muslimin menyerap khasanah ilmu dari luar tanpa batas.

Adapun beberapa bidang ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa itu dan tokoh-tokoh intelektual yang mengkaji ilmu pengetahuan tersebut, yaitu;

2.1.Bidang Ilmu Agama (Ilmu Naqli)

a. Bidang Ilmu Tafsir

Ibnu Jarir At-Thobari, dengan tafsirnya sebanyak 30 jilid Ibnu Athiyah Al-Andalusi (Abu Muhammad Ibnu Athiyah)

Abu Muslim Muhammad bin Nashr Al-Isfahany wafat 322 H dengan kitab tafsirnya 14 jilid As-Suda yang mendasarkan Penafsirannya pada Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud dan para sahabat lainya.

b. Bidang Ilmu Hadis

Imam Buchori (wafat 256 H) yang menulis hadits dengan menjaring antara hadits shohih dan tidak shohih, dan kitabnya al-Jami’ As-Shohih.

Imam Muslim (wafat 261 H) dengan kitabnya Shohih Muslim

Imam AL-Hakim MUhamad Ibnu Hibban (wafat 354 H) dengan kitabnya Mustadrok Al-Taqsim wa Al-Anwa

Imam Malik (wafat 179 H) yang terkenal dengan kitab hadisnya Al-Muwatta Imam Syafi’I dengan kitab Musnadnya

c. Bidang Ilmu Kalam

(4)

Washil Ibnu Atho’ Abu Huzail Al-Allat Abu Hasan al-As’ari

d. Bidang Ilmu Tasawuf

Tokoh-tokoh dalam bidang ilmu ini kebanyakan adalah seorang yang zahid yang tekun beribadah dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT, serta meninggalkan kesenangan dunua.

Zahid yang ternama masa dinasti ini antara lain: Al-Tsauri (wafat 135 H) bertempat di Kuffah Robia’al al-Adawiyag (wafat 185 H) di Basrah

Ibrahim bin Adam (wafat 162 H), mantan penguasa dari Persia Syaqiq Al-Balkhi (wafat 194 H) Murid Ibbrahim bin Adam Ja’far Shodoq (wafat 148 H) dari Madinah

f. Bidang Ilmu Fiqh

Daulat Abbasiyah merupkan masa keemasan tamadun Islam yang telah melahirkan ahli-ahli hukum (Fuqoha’) yang tersohor dalam sejarah Islam dengan kitab-kitab fiqihnya, mereka adalah imam mazhab 4 yaitu: Imam Malik, Imam Syafi’I, Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad Ibnu Hambal.

2. 2. Bidang Ilmu Akal (Ilmu Aqli)

a. Ilmu Kedokteran

Ar-Rozi, tokoh pertama yang membedakan antara penyakit cacar dan Measles. Dia juga orangpertama yang menyusun kedoteran anak.

Ibnu Shina, dengan bukunya Al-Qinun Al-Thib yang dikenal de barat dengan “The Canon Of Mediore”

Al Ibnu Rabban, dokter pertama yang terkenal dengan bukunya Firdaus Al-Hikmah

b. Ilmu Filsafat

(5)

Al-Farabi, guru dari Ibnu Shina dan Ibnu Rusyd. Ia memiliki karya sebanyak 12 buah, diantaranya banyak tentang filsafat, logoka, jiwa, kenegaraan, etika dan interpretasi terhadap filsafat Aristoteles.

Al-Ghozali, sebesar tokoh pemikir Islam dan sekaligus tokoh pemikir kemanusiaan. Teorinya yang terkenal tentang kelemahan akal dalam bukunya Tahafut Al-Falasifah.

Ibnu Rusyd, ahli filosof Aristoteles. Dia mengarang kitab Tahafufh Al-Tahafuth sebagai bentuk bantahan terhadap karya Al-Ghazali Tahafut Al-Falasifah

c. Ilmu Astronomi

Al-Battani, yang berhasil membuat daftar tabel Sinus, tangen, dan Kotangen dari 0-90 derajat secara cermat.

Al-Biruni, cendekiawan dan sainitis Islam terkemuka masa kejayaan Islam. Sarjana yang paling besar sepanjang masa.

Al-Fazhari, orang pertama yang mengerjakan astrolog.

Al-Farghani, karya yang utama yaitu al-mudkhila Ilmu Hayai Al-Aflal.

d. Ilmu Hitung

Al-Khawarizmi, kitabnya berjudul kitabul jama’ wa al Tafria yang menerangkan seluk belukangka-angka termasuk angka nol.

Umar Al-Khayyan, seorang ahli matematika sekaligus astronom dan penyair ternama.

e. Ilmu Geografi Dan Sejarah

Baladlari, sejarawan terkenal dengan kitabnya Futuh al-Buldan yang ditulis dengan gaya yang mengagumkan dan menjadi tanda bagi kemajuan yang cemerlang akan semangat sejarah.

Al-Mashudi, sejarawan dan ahli georafi, kitabnya Muruj al-Dahab wa Madan al-Jawahar adalah catatan tentang pengalaman pengembaraannya dan mengamatannya.

f. Ilmu Kimia

Jabir bin Hayyan, ahli kimia dari kuffah yang merupakan bapak modern . dia mendirikan sebuah leboraturium di Kuffah dan berhasil menemukan beberapa bahan kimia dan menulis sejumlah buku tentang kimia[7].

Sedang untuk perkembangan bahasa dan sastra akan dibahas tersendiri pada bab berikutnya.

(6)

3.1. Syi’ir

Perkembangan syi’ir pada masa shodrul islam bersumber dari penduduk arab. Periode Abbasiyah dikenal sebagai zaman intelektual dan sastra terkaya di arab. Pada saat ini sastra Arab mencapai standar yang tinggi dan kompleksitas. Baghdad, ibukota baru bagi pemerintah Abbasiyah dan salah satu kota megah abad pertengahan dunia, menjadi pusat pembelajaran setiap jenis kehidupan intelektual termasuk sastra[8].

Tujuan- tujuan syi’ir:

1. Madah

Bentuk puisi ini digunakan untuk memuji seseorang dengan segalamacam sifat dan kebesaran yang dimilikinya seperti kedermawaan dan keberanian maupun ketinggian budi pekerti seseorang. Biasanya para penyair menggunakan puisi ini untuk memuji para kholifah, menteri dan para petinggi lainnya.pada masa ini penyair yang masyhur yaitu Basyar ibn barda, Abu Nawas, Marwan ibn abu hafshoh, Abu tamaam, dan bahtary.

Contoh madah dari Ibnu Rum :

مكنساحم مكيف ىتلا لئاصخلا لك

Jenis puisi ini digunakan untuk mencaci dan mengejek seorang musuh dengan menyebutkan keburukan orang itu.biasanya ini terjadi dalam suatu peperangan. Seperti yang dikatakan da’bal al khozaa’I kepada kepada kholifah mu’tasim ibn rusydi ketika tsamin menjadi kholifah pada masa abbasiyah.

(7)

ىعمد مدن

Yaitu jenis puisi yang berisi nesihat seseorang yang akan meninggal dunia atau akan berpisah kepada seseorang yang dicintainya dalam rangka permohonan untuk mengerjakan sesuatu.

Puisi ini berisi tentang politik pada masa Abasiyah

ندإ

Contoh dari zuhd dan hikmah yaitu,

(8)

dendangan puisi yang indah. Puisi yang didendangkan oleh penyair memberikan dampak yang berarti bagi penguasa, karena nama mereka akan dikenal oleh masyarakat. karena itulah para penguasa pun berlomba-lomba dalam memberikan imbalan kepada penyair. Dengan ini, perkembangan penyair pun berkembang semakin pesat, ditambah dengan luasnya ilmu pengetahuan kaum muslimin pada masa itu, dan daya khayal berkembang pula. Selain untuk kepentingan seni, puisi pun digunakan sebagai alat manuver politik, melalui perantaraan penyair, golongan politik meningkatkan ketenaran namanya di mata lawan politiknya.

Perkembangan sastra dapat dilihat dari banyaknya penyair yang dikenal sampai saat ini, penyair pada masa ini lebih banyak dibandingkan dengan masa Umayah, karena kebebasan pada saat ini lebih berkembang dibandingkan pada masa Umayah. Selain yang telah disebutkan di muka tentang keterpengaruhan lingkungan, dan juga adanya perkembangan daya khayal masyarakat, kebebasan dalam mencurahkan pikiran dan kehidupan yang cenderung damai ikut serta dalam memicu perkembangan puisi. Perkembangan ini dapat dilihat dengan munculnya penyair ternama, yaitu:

1. Abu Nuwas

Selain sebagai pengarang 'Seribu Satu Malam, oleh orang-orang Eropa-bahkan di Indonesia-ia dikenal sebagai seorang hakim, sahabat sekaligus sebagai pelawak yang tidak henti-hentinya membuat raja kewalahan akan kepintarannya. Padahal dalam kenyataannya ia adalah seorang penyair yang handal. Ia dilupakan bahwa ia adalah penyair terhebat pada masanya, bahkan melebihi kehebatan al-Mutanabi, dan kejeniusannya dalam berpuisi tidak kalah dengan penyair terdahulu. Puisinya yang terkenal adalah khamriyat.

2. Al-Mutanabby

Nama aslinya adalah Abu Thayib Ahmad bin Husin al-Mutanabby. Lahir sekitar tahun 915 M. Dia dijuluki dengan al-Mutanabby karena ia berpura-pura menjadi nabi. Ia mempunyai hafalan yang kuat. Semenjak kecil ia belajar bahasa Arab dari orang-orang Badui, sehingga ia memiliki bahasa yang murni dan indah. Kehidupannya penuh dengan ancaman dan hasutan. Ia meninggal dalam sebuah perkelahian dengan salah satu musuhnya Fatik bin Abu Jahal.

3. Abu al-A'la al-Ma'ary

(9)

dicintainya. Dua kejadian dalam kehidupannya yang sempat membuatnya kesepian dalam gelap dan kesendirian. Hal inilah yang sedikit banyak mempengaruhi bait-bait puisinya.

4. Abu al-Atahiyah

Tidak seperti rivalnya, ia berasal dari Kufah, sebelum mengabdi kepada khalifah, masa mudanya ia bekerja sebagai penjual tembikar. Karena kehebatannya, Harun al-Rasyid pernah memberinya 50.000 dirham. Kekhasan puisinya adalah pesismistik, selian itu juga banyak dipengaruhi oleh doktrin-doktrin agama. Ini dapat dilihat dalam salah satu puisi ternamanya yaitu zuhd, yang berisi tentang kebangkitan, dan juga kehidupan yang akan datang[10].

3.3.Prosa

Pada zaman Bani Abbasiyah, surat menyurat menjadi semakin penting dalam rangka penyelenggaraan sistem pemerintahan yang semakin kompleks. Dalam genre prosa, muncul prosa pembaruan (يديدجتلا رثنلا) yang ditokohi oleh Abdullah ibn Muqaffa dan juga prosa lirik yang ditokohi oleh antara lain Al-Jahizh. Salah satu prosa terkenal dari masa ini ialah Kisah Seribu Satu Malam (ةليل و ةليل فلأ ). Dalam dunia puisi juga muncul puisi pembaruan yang ditokohi oleh antara lain Abu Nuwas dan Abul Atahiyah.

Masa Bani Abbasiyah sering disebut-sebut sebagai Masa Keemasan Sastra Arab. Karena Islam juga eksis di Andalusia (Spanyol), maka tidak ayal lagi kesusastraan Arab juga berkembang disana. Pada zaman Harun Al-Rasyid, berdiri Biro Penerjemahan Darul Hikmah. Namun hal lain yang perlu dicatat ialah bahwa pada masa ini banyak terjadi kekeliruan berbahasa di tengah masyarakat akibat pergumulan yang kuat bangsa Arab dengan bangsa ajam (non Arab).

(10)

huruf tanpa tanda dikritikalnya, tetapi berbeda dalam makna. Contoh terbaik saj’ dan badi’ádalah seperti berikut:

1.Korespondensi kekhalifahan

Korespondensi kekhalifahan dipercayakan kepada dewan atu sekertaeis istana. Penulis terkenal anatara lain: Abu Al Fado Muhammad bin Al Amid (w 360 H/ 970 M), Abu Ishaq Al Shabi (w 384 H/ 994 M), Al Qadli Al Fadhil (596 H/ 1200 M).

2.Essay sastra

Essay sastra disusun disusun penulisnya untuk melukiskan perbincangan, melaporkan pidato, menuturkan kisah, atau menguraikan tema keislaman, moral, atau kemanusiaan. Yang termashur antara lain Risalah Al Ghufron (pengampunan) yang ditulis oleh Abu Al A’la Al Ma’arri (w 449H/ 1059M), yang melukiskan suatu perbincangan imajiner dengan penghuni surga dan penghuni neraka. Rízala ini memprakarsai gaya tulisan yang segera tersebar sampai ke Eropa di mana Dante melahirkan Divina Comedia-nya yang meniru risalah ini.

3.Maqamat

Badi al-Zaman al-Hamadzani dikenal sebagai pencipta maqamah, sejenis anekdot dramatis yang substansinya berusaha dikesampingkan oleh penulis untuk mengedepankan kemampuan puitis, pemahaman dan kefasihan bahasanya. Sebagai contoh, kisah-kisah bebahasa Spanyol dan Italia yang bernuansa realis atau kepahlawanan memperlihatkan kedekatan yang jelas dengan mahqamah Arab.

(11)

Berbeda dengan pada masa Bani Umayyah yang hanya mengenal dunia syair sebagai titik puncak dari berkesenian—ini dikarenakan pula Bani Umayyah adalah bani yang sangat resisten terhadap pengaruh selain Arab, maka pada zaman Bani Abbasixah inilah prosa berkembang subur. Mulai dari novel, buku-buku sastra, riwayat, hikayat, dan drama. Bermunculanlah para sastrawan yang ahli di bidang seni bahasa ini baik pusi maupun prosa. Dari yang ahli sebagai penyair (seperti Abu Nuwas), pembuat novel dan riwayat (asli maupun terjemahan), hingga pemain drama.

Para sastrawan di era kejayaan Abbasiyah tak hanya menyumbangkan kontribusi penting bagi perkembangan sastra di zamannya saja. Namun juga turut mempengaruhi perkembangan sastra di Eropa era Renaisans. Salah seorang ahli sastrawan yang melahirkan prosa-prosa jenius pada masa itu bernama Abu Uthman Umar bin Bahr al- Jahiz (776 M – 869 M) – cucu seorang budak berkulit hitam.

Berkat prosa-prosanya yang gemilang, sastrawan yang mendapatkan pendidikan yang memadai di Basra. Irak itu pun menjadi intelektual terkemuka di zamannya. Karya terkemuka Al-Jahiz adalah Kitab al-Hayawan, atau ‘Buku tentang Binatang’ sebuah antologi anekdot-anekdot binatang – yang menyajikan kis`h fiksi dan non-fiksi. Selain itu, karya lainnya yang sangat populer adalah Kitab al-Bukhala, ‘Book of Misers’, sebuah studi yang jenaka namun mencerahkan tentang psikologi manusia.

(12)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects : Daulah Abbasiyah