• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEPASTIAN DAN KEBENARAN ILMU PENGETAHUAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KEPASTIAN DAN KEBENARAN ILMU PENGETAHUAN"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

KEPASTIAN DAN KEBENARAN

ILMU PENGETAHUAN

Makalah Ini Disusun untuk Memenuhi Tugas pada Mata Kuliah “Filsafat Ilmu”

Disusun Oleh:

Intan Wijayanti (212213021)

Dosen Pengampu: Dr. Muh. Tashrif, M.Ag

PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM PASCASARJANA

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PONOROGO

(2)

KEPASTIAN DAN KEBENARAN ILMU PENGETAHUAN

A. PENDAHULUAN

Telah kita temukan beberapa pokok atau masalah yang sering muncul mengenai cara kerja ilmu, dan rupanya sulit dipecahkan. Masalah-masalah itu muncul sehubungan dengan cara kerja, namun sekaligus melampaui batas dan kemampuan ilmu serta cara kerja ilmu itu sendiri.

Masalah mengenai kepastian, kebarangkalian, kesementaraan, dan kesesatan dalam ilmu empiris dan ilmu pasti misalnya, serta penilaian tentang tahapan itu. Lalu masalah sekitar objektivitas dan subjektivitas dalam segala macam ilmu yang berbeda, masalah ada-tidaknya nkebenaran, dan kalau ada maka kebenaran itu apa. Lalu di mana perbedaannya dengan ketepatan pengetahuan serta penyimpulan.

(3)

B. TARAF-TARAF KEPASTIAN

Kesadaran subjek pengenal tentang objek yang dikenalnya disebut pengetahuan, di mana terang terjadi dari pihak subjek yang dapat membedakan objek dalam hubungan dengan dirinya, maupun dari pihak objek yang seolah-olah membuka diri kepada subjek yang berhubungan dengan dirinya. Dalam keseluruhan proses pengetahuan itu dapat dibedakan dua hal, yaitu evidensi dan kepastian. Dalam kesatuan subjek-objek itu, evidensi terletak pada pihak objek. Sedangkan kepastian terletak pada pihak subjek. Evidensi seolah-olah merupakan terang atau daya objek yang menampakkan diri, sedangkan kepastian merupakan keyakinan dalam diri subjek bahwa yang dikenalnya adalah betul-betul objek yang memang ingin diketahuinya.1

1. Taraf-taraf Kepastian dalam Ilmu Empiris

Semua ilmu empiris, termasuk ilmu-ilmu kemanusiaan, mengejar kepastian dalam dua arti. Pertama, kepastian tentang explanans gejala-gejala yang diselidiki. Kedua, kepastian mengenai kesimpulan yang dapat ditarik dari suatu hukum yang berlaku.

Akan tetapi, yang tercapai hanyalah suatu taraf ketepercayaan yang tak pernah dapat mencapai nilai 1. Bahkan, kendati hipotesa dan hukum sangat tepercaya, keduanya harus tetap terbuka untuk dibuktikan salah. Maka, keduanya pun bersifat sementara. Dalam penerapan harus diperhatikan bahwa secara konkret kepastian yang ditandai nilai 1 tak pernah bisa tercapai. Dari lain sudut harus diperhatikan bahwa nilai 0 tidak dapat diterima dalam rangka ilmu-ilmu empiris konkret. Memang, kesesatan sementara wajar diterima, asal selalu siap untuk dibetulkan. Dengan begitu, terletak antara 0 dan 1. Namun, kesesatan tetap atau mutlak, serta hukum atu hipotesa yang tak bersifat empiris (semuanya diberi nilai 0) tidak diterima dalam ilmu-ilmu empiris konkret.

Rumusnya adalah: 0 < p(H,P) < 1

Setiap ilmu empiris, ada arah atau kecenderungan bawaan yaitu bahwa ketepercayaan segala ungkapan makin mendekati nilai 1, sekaligus tidak akan

(4)

pernah bisa mencapainya. Segala taraf kepastian konkret dalam ilmu-ilmu empiris bersifat bebas. Artinya, tidak pernah ada semacam paksaan pada akal agar sesuatu disetujui. Dengan kata lain, evidensi dalam bidang ilmu-ilmu empiris selalu bersifat nisbi, dengan akibat bahwa kepastian juga bersifat nisbi, sehingga perlu disetujui berdasarkan pilihan bebas tanpa paksaan.

2. Taraf-taraf Kepastian dalam Ilmu Pasti

Dalam ilmu pasti dikenal adanya aksioma dan dalil-dalil, tidak ada hipotesa lagi, yang tidak bisa lain selain bernilai 1. Segala aksioma dan dalil itu selalu berlaku dan berlaku di mana-mana tanpa bisa diragukan dalam rangka sistem itu sendiri. Apabila isi ilmu-ilmu itu dirumuskan dalam pernyataan P, maka ketepercayaan p dari setiap aksioma A maupun dalil D, dapat dirumuskan sebagai berikut:

(a) p(AD,P) = 1

Maka kesementaraan hanya terdapat dalam tahap penemuan ilmu pasti, yang belum merupakan bagian dari ilmu pasti itu sendiri. Kesesatan sementara yang merupakan sifat kesementaraan ilmu empiris tidak terdapat dalam ilmu pasti. Kesesatan mutlak pun tidak dapat diterima. Tetapi ilmu pasti tidak bersifat empiris. Karena itu, ketepercayaan ilmu pasti dapat dirumuskan:

(b) p(AD,P) = 0

Dari kedua rumus di atas, tergantung pada sikap si ilmuwan, apakah ilmu pasti dianggap sebagai puncak perkembangan ilmu empiris yang tidak dapat dicapai ilmu-ilmu itu sendiri (a), atau sebagai cabang pengetahuan yang paling jauh dari ilmu empiris (b).

Kepastian itu bersifat bebas, dalam arti bahwa setiap orang bebas memilih mau masuk sistem ilmu pasti yang mana. Akan tetapi, setelah dia masuk salah satu sistem tertentu, dia sudah mengikat diri dan tidak bebas lagi untuk meragukan maupun menolak hasil sistem ilmu bersangkutan. Atau dengan kata lain, kepastian ilmu pasti tidak bebas karena bersifat mutlak, dan evidensi ilmu pasti juga bersifat bebas.

3. Refleksi

(5)

asli subjek dan objek dalam gejala pengetahuan manusia pada umumnya. Makin dekat bidang ilmu tertentu pada pengalaman manusia seutuhnya, makin besar kesatuan subjek dan objek, makin besar juga peranan subjek dalam kesatuan yang hidup itu. Jadi, evidensi dan kepastian diwarnai subjektivitas yang membangun.

Demikianlah yang terjadi dalam filsafat dan ilmu kemanusiaan. Makin jauh bidang ilmu tertentu dari pengalaman manusia seutuhnya, makin kurang kesatuan subjek dan objek, makin kuranglah juga peranan subjek dalam kesatuan itu. Jadi, evidensi dan kepastian lebih diwarnai suatu objektivitas yang ditentukan dari luar pengalaman subjektivitas dalam ilmu alam, sampai mencapai suatu evidensi, kepastian dan objektivitas buatanlepas dari pengalaman subjektivitas dalam ilmu pasti.

C. KEBENARAN

Manusia sebagai makhluk pencari kebenaran dalam perenungannya akan menemukan tiga bentuk eksistensi, yaitu agama, ilmu pengetahuan dan filsafat. Agama mengantarkan kepada kebenaran, dan filsafat membuka jalan untuk mencari kebenaran. Filsafat dipahami sebagai suatu kemampuan berpikir dengan menggunakan rasio dalam menyelidiki suatu objek atau mencari kebenaran yang ada dalam objek yang menjadi sasaran. Kebenaran itu sendiri belum pasti melekat dalam objek. Terkadang hanya dapat dibenarkan oleh persepsi-persepsi belaka, tanpa mempertimbangkan nilai-nilai universal dalam filsafat.2

1. Paham “Benar” dan “Tepat” dalam Ilmu Empiris dan Ilmu Pasti

Semenjak masa Aristoteles, diadakan pembedaan antara hasil pengetahuan yang benar dan pengetahuan yang tepat. Istilah “benar” menyangkut isi pengetahuan sendiri, sedangkan “tepat” berkenaan dengan jalan yang ditempuh untuk mencapai pengetahuan yang dianggap benar itu.3

a. Dalam Ilmu-ilmu Empiris

Ada tiga arti cara kerja ilmu-ilmu empiris dikatakan tepat, yaitu:

2 Mohammad Adib, Filsafat Ilmu: Ontologi, Epistemologi, Aksiologi, dan Logika Ilmu Pengetahuan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), 117.

(6)

1) Tepatnya cara kerja penemuan, baik dalam proses terjadinya ilmu-ilmu maupun dalam penyampaian hasilnya secara didaktis. Umpamanya dalam buku-buku pelajaran fisika, dan percobaan yang dilakukan.

2) Tepatnya cara kerja dalam penerapan hasil ilmu, yaitu dari atas ke bawah (deduksi).

3) (Hanya untuk ilmu-ilmu kemanusiaan) Tepatnya kesadaran akan hubungan timbal balik antara subjek pengetahuan dengan objeknya,yakni pendekatan khusus subjek pengetahuan dengan objeknya.

Ada perbedaan mengenai arti kata “benar” di antara penganut ilmu empiris. Sampai dengan abad ke-19 di antara para ilmuwan kiranya dapat kita temukan dua pandangan dasar, yang dapat digolongkan sebagai anggapan yang paling mementingkan objek yang diketahui serta bagaimana berlangsungnya pengetahuan itu. Kedua pandangan klasik tersebut dapat dicirikan sabagai teori tentang kebenaran sebagai persesuaian antara si pengenal dengan apa yang dikenal (correspondence theory of truth), dan teori tentang kebenaran sebagai keteguhan (coherence theory of truth).

Di samping kedua pandangan klasik tersebut, muncullah dua anggapan lain tentang kebenaran. Tetapi dalam rangka ilmu-ilmu empiris itu, peranan si pengenal sebagai subjek yang bertindak dijunjung lebih tinggi dan lebih terpisah dari apa yang dikenal. Kedua pandangan baru itu berasal dari dunia Anglo-Sakson (Inggris-Amerika Utara). Masing-masing adalah teori tentang kebenaran yang terwujud dalam praktek ilmu (pragmatic theory of truth), dan teori tentang kebenaran yang terlaksana dalam ungkapan manusia (performative theory of truth).4 Penjelasan tentang

masing-masing teori di atas, penulis bahas pada subbab selanjutnya. b. Dalam Ilmu-ilmu Pasti

Dalam bidang ilmu-ilmu pasti, bagi mereka yang sudah masuk ke dalam salah satu sistem yang teguh, satu-satunya masalah ialah apakah langkah-langkah yang ditempuh itu tepat. Benar tidaknya suatu sistem atau suatu langkah dalam sistem tertentu ialah masalah yang berasal dari

(7)

category mistake seperti misalnya kalau kita bertanya apakah kimia itu hijau atau merah. Sesudah kita memeriksa keempat anggapan tentang kebenaran, jelaslah kiranya bahwa anggapan ke-dua, yaitu tentang kebenaran sebagai keteguhan agak dekat dengan anggapan tentang tepatnya ilmu-ilmu pasti. 2. Pokok-pokok Sejarah Filsafat tentang Kebenaran5

Pada masa kuno, anggapan kebenaran berasal dari Plato. Dewasa ini Martin Heidegger telah berusaha menerangkan pandangan Plato dengan menguraikan kata Yunani aletheia (kebenaran). Secara etimologis kata tersebut berarti “tak tersembunyinya”. Menurut tafsiran Heidegger, gagasan Plato ialah bahwa kebenaran merupakan “ke-tak-tersembunyi-an adanya” (die unverborgenheit des seins, the unhiddenness of being), maksudnya selama kita masih terikat pada “yang ada” (the beings) saja tanpa masuk pada “adanya dari yang ada itu” (the being of all beings), kita belum berjumpa dengan kebenaran karena “adanya” (being) itu masih tersembunyi. Baru dengan hilangnya atau diambilnya selubung yang menutup “adanya dari yang ada itu” terhadap mata batin kita, maka terbukalah “adanya”, maka tampillah kebenaran. Menurut Plato, kebenaran sebagai ketaktersembunyian adanya tidak dapat dicapai manusia selama di dunia ini. Jadi, kebenaran menurut anggapan Plato adalah sesuatu yang terdapat pada apa yang dikenal, atau pada apa yang dikejar untuk dikenal.

Sedangkan Aristoteles agak berbeda dengan Plato. Ia tidak mau mencari sesuatu yanf seakan-akan secara objektif memuat atau mewujudkan kebenaran, dia mau memeriksa dan menguraikan cara berbicara khas manusiawi. Padahal apa yang dalam gaya bicara manusiawi dianggap benar ataupun tidak benar (sesat, salah) tidak pernah merupakan konsep atau term, melainkan hanya putusan saja. Putusan tersebut dapat dinyatakan:

(c) S itu P

S (subjek) mewakili apa yang saya kenal. P (predikat) ialah apa yang saya ucapkan tentang S. Cocok tidaknya P dengan S kita nyatakan dengan kata penghubung itu sehingga berupa penegasan atau afirmasi. Dan apabila P tidak cocok dengan S, maka negasi atau pemungkiran:

(8)

(d) S itu bukan P

Ada tidaknya kebenaran dalam dalam putusan yang berupa penegasan (c) atau pemungkiran (d) itu tergantung pada apakah keputusan bersangkutan sebagai pengetahuan dalam diri si pengenal cocok atau tidak cocok dengan kenyataan yang diamati. Yaitu, apakah ke-P-an yang diucapkan mengenai S dalam putusan afirmatif dan dimungkiri mengenai S dalam putusan negatif itu, memang demikian (benar) atau tidak demikian (tidak benar) dalam kenyataan. Maksudnya begini:

(e) P-nya S Dalam si pengenal (idealitas) memang

Bukan P-nya S demikian adanya dalam apa yang ia kenal (realitas)

(f) P-nya S Dalam si pengenal (idealitas) bukan demikian

Bukan P-nya S adanya dalam apa yang ia kenal (realitas) Rumus (e) menunjukkan bahwa penegasan atau pemungkiran itu benar, sedangkan rumus (f) itu tidak benar. Dalam rumus (e) dan (f) hendaknya diperhatikan bahwa perlu terjalin dua macam hubungan, supaya ada kebenaran dalam putusan afirmatif dan negatif. Dua macam hubungan tersebut yaitu: a. Hubungan S-P: pengetahuan si pengenal = idealitas.

b. Yang diucapkan mengenai: kenyataan yang dikenal = realitas.

Demikianlah tahap awal dari teori tentang kebenaran sebagai persesuaian antara si pengenal dengan apa yang dikenal. Dalam anggapan Aristoteles mengenai kebenaran, subjek pengetahuan itu lebih penting. Menurut Aristoteles, pengetahuan yang paling benar dan paling luhur terjadi kalau si pengenal (idealitas) dan apa yang dikenal (realitas) itu identik satu sama lain dalam pengetahuan akal yang sempurna.

Dengan melewati beberapa perkembangan, antara lain Agustinus dan Anselmus, kita meninjau sebentar bagaimana Thomas Aquinas meneruskan, mengembangkan dan memperkaya kedua anggapan warisan kuno tersebut. Ia membedakan veritas ontologica (kebenaran ontologis) dari veritas logica

(9)

dengan kenyataan. Dengan demikian, hadirnya dan terlaksananya kebenaran dalam pengetahuan manusia menurut Thomas terjadi dalam bentuk pengarahan, melalui proses yang tak ada hentinya, dan tak bisa lepas dari indera. Anggapan ini sesuai dengan ciri pengetahuan manusia yaitu senantiasa bertanya.

Nominalisme abad pertengahan berhaluan skeptis. Kata “benar” menurut aliran ini, hanyalah tempelan, atau hembusan angin yang lewat saja pada benda atau pada ungkapan manusia. Jadi, kebenaran tidak diakui oleh para nominalis sebagai sesuatu yang berarti atau ada.

Dengan Descartes, muncul masalah baru tentang kriterium kebenaran. Menurut Descartes, cara untuk membedakan ada tidaknya kebenaran ialah ada tidaknya idea yang jelas dan terpilah-pilah mengenai sesuatu. Sebagai akibat dari anggapan itu lebih lanjut, isi idea yang jelas dan terpilah-pilah itu menjadi “benar”. Hanya sebagai kesimpulan dari adanya kebenaran dalam idea tersebut terwujudnya kebenaran ditegaskan sebagai suatu kenyataan.

Lingkungan Yahudi dan Timur mempunyai dimensi lain dalam pengalaman manusia mengenai kebenaran yaitu dimensi antarmanusia. Dalam kedua lingkungan tersebut, paham mengenai kebenaran meliputi wilayah lebih luas daripada lingkungan Barat, meliputi kesetiaan, ketekunan, melanjutkan apa yang sedang jadi, menyetujui dan mengucapkan apa yang kiranya dikehendaki atau diinginkan sesama.

3. Apa itu Kebenaran?

Verhaak & Imam mengungkapkan bahwa kebenaran adalah kenyataan adanya (being) yang menampakkan diri sampai masuk akal.6 Kebenaran

menurut Bertrand Russel adalah suatu sifat dari kepercayaan dan diturunkan dari kalimat yang menyatakan kepercayaan tersebut. Kebenaran merupakan suatu hubungan tertentu antara suatu kepercayaan dengan suatu fakta. Kebenaran adalah sola hubungan antara pengetahuan dan apa yang jadi objeknya, yaitu apabila terdapat persesuaian dalam hubungan antara objek dan

(10)

pengetahuan kita tentang objek itu.7 Kebenaran menurut Plato dan Aristoteles

adalah pernyataan yang dianggap benar itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan sebelumnya. Kebenaran itu tampaknya bersifat relatif, sebab apa yang dianggap benar oleh suatu masyarakat, belum tentu akan dinilai sebagai suatu kebenaran oleh masyarakat lain.8

Dari beberapa pengertian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa

1) Kebenaran ialah kesesuaian antara suatu pernyataan dan pernyataan lainnya yang sudah lebih dahulu diketahui dan diakui benar.

2) Sesuatu itu benar jika ia koheren, artinya kebenaran itu konsisten dengan kebenaran yang sebelumnya.

Contoh : “Muhammad Abduh adalah murid Jamaluddin al-Afghani, dikatakan benar apabila telah ada putusan kebenaran bahwa Jamaluddin mempunyai seorang murid dan Abduh adalah salah seorang murid Jamaluddin.

b. Korespondensi (Kebenaran Sebagai Persesuaian)

Pencetus : Plato, Aristoteles, Moore, Ibnu Sina, Thomas Aquinas, dan Bertrand Russel.

Pemikiran :

1) Kebenaran itu dicapai setelah diadakan pengamatan dan pembuktian (observasi dan verifikasi).

7 Idzam Fautanu, Filsafat Ilmu: Teori dan Aplikasi (Jakarta: Referensi, 2012), 98.

8 Jalaluddin, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada), 98.

(11)

2) Kebenaran adalah kesesuaian antara yang dimaksud oleh suatu pernyataan (pendapat, informasi, kejadian) dengan fakta di lapangan.

Contoh : “Ibukota negara RI adalah Jakarta karena faktanya memang demikian, bila dikatakan Bandung maka itu tidaklah benar.”

c. Pragmatisme (Kebenaran yang Terwujud dalam Praktek Ilmu) Pencetus : Charles S. Peirce, William James, dan John Dewey Pemikiran :

1) Benar tidaknya suatu pernyataan tergantung pada berfaedah tidaknya pernyataan tersebut bagi manusia dalam hidupnya.

2) Kriteria kebenaran tergantung pada kegunaan (utility), dapat dikerjakan (workability), dan akibat yang memuaskan (satisfactory consecuence).

3) Sesuatu itu benar apabila dapat mengembalikan pribadi manusia di dalam keseimbangan dalam keadaan tanpa persoalan dan kesulitan. Sebab tujuan utama pragmatisme adalah supaya manusia selalu dalam keseimbangan, untuk ini manusia harus mampu melakukan penyesuaian dengan tuntutan lingkungan.

Contoh : “Agama itu benar bukan karena Tuhan itu ada dan disembah oleh penganut agama, tetapi penganut agama itu mempunyai dampak positif bagi masyarakat.”

d. Performative (Kebenaran yang Terlaksana) Pencetus : Ramsey, Austin, dan Strawson Pemikiran :

1) Kata “benar” itu berlebihan saja, dan kata “salah” hanya menyatakan bahwa kalimat bersangkutan tidak berarti sama sekali. Contoh : “Kalau kalimat “Saya melantik anda menjadi walikota Madiun, dikatakan oleh yang berwenang, kebenaran ungkapan itu terjadi sebagai akibat ungkapannya sendiri.”

(12)

Keempat teori kebenaran sebelumnya menggunakan akal, budi, fakta, realitas dan kegunaan sebagai landasannya, dalam teori kebenaran agama digunakan wahyu yang bersumber dari Tuhan. Sebagai makluk pencari kebenaran, manusia dapat mencari dan menemukan kebenaran melalui agama. Dengan demikian, sesuatu dianggap benar bila sesuai dan koheren dengan ajaran agama atau wahyu sebagai penentu kebenaran mutlak. Agama dengan kitab suci dan haditsnya dapat memberikan jawaban atas segala persoalan manusia, termasuk kebenaran.

(13)

Manusia sebagai makhluk pencari kebenaran akan menemukan tiga bentuk eksistensi, yaotu agama, ilmu pengetahuan dan filsafat. Agama mengantarkan pada kebenaran dan filsafat membuka jalan untuk mencari kebenaran. Sedangkan ilmu pengetahuan pada hakikatnya adalah kebenaran itu sendiri, karena manusia menuntut ilmu dengan tujuan mencari tahu rahasia alam agar gejala alamiah tersebut tidak lagi menjadi misteri.

Secara pasti, tidak ada kebenaran absolut di dunia ini. Kebenaran dan kesesatan ilmu pengetahuan itu sendiri tergantung kepada kita yang berusaha mencari tahu dengan menggunakan metode kriteria kebenaran seperti yang diungkapkan oleh masing-masing teori kebenaran yang telah dibahas sebelumnya.

(14)

Adib, Mohammad. Filsafat Ilmu: Ontologi, Epistemologi, Aksiologi, dan Logika Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2011.

Fautanu, Idzam. Filsafat Ilmu: Teori dan Aplikasi. Jakarta:Referensi. 2012.

Jalaluddin. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 1996.

Liza. Pengantar Filsafat Ilmu. Cirebon: t.p, t.t.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan identifikasi masalah yang telah dijabarkan, permasalahan yang ada masih sangat kompleks sehingga perlu diadakan pembatasan masalah yang terjadi, penelitian

Masing-masing parameter memiliki 3 level dan pada penelitian ini menggunakan metode ANOVA untuk menganalisis data hasil percobaan dan optimasi kekasaran minimum

Perkembangan e-commerce di Indonesia semakin pesat dan semakin popular dikalangan masyarakat. Hal ini didorong dengan meningkatnya pengguna internet di Indonesia. E-commerce

Bangkitan lalu lintas, dampak kebisingan, getaran, emisi yang tinggi, gangguan visual dan dampak sosial. Bangkitan lalu lintas, dampak kebisingan, getaran, emisi yang

Penelitian yang dilakukan oleh Jean Claude et al (Dunedin, New Zealand 2000) pada 33 pasien yang diterapi menggunakan Ilizarov system , 90% mengalami pintract

Bagi mahasiswa ataupun masyarakat umum, Sistem Informasi Geografi Kos dan Kontrakan Terpadu berguna sebagai penyedia informasi yang lengkap mengenai tempat kost atau

titipan oleh Baitul Mal. Hingga saat ini Baitul Mal selain bersikap pasif guna menunggu ahli waris yang sah datang untuk mengambil dana titipan, Baitul Mal juga tidak dapat

18 Lamanya estrus pada kuda betina dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: (1) ovarium kebanyakan dikelilingi oleh sebuah lapisan serosa dan beberapa folikel bermigrasi