• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN dan PALEOMETALIK di INDONESIA.d

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERKEMBANGAN dan PALEOMETALIK di INDONESIA.d"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

PERKEMBANGAN PALEOMETALIK di INDONESIA

(Tugas Akhir Semester Mata Kuliah Prasejarah Indonesia)

OLEH

RANY MARTHA RULLAH

NIM. 0901405005

PROGRAM STUDI ARKEOLOGI

FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS UDAYANA

(2)

PENDAHULUAN

Teknologi tidak dapat hanya dipahami sebagai benda-benda konkret saja, seperti mesin, alat, perkakas dan lain sebagainya. Seperti terlihat dari awal, teknologi adalah sebuah ilmu, yaitu ilmu untuk membuat suatu alat, perkakas, mesin atau bentuk-bentuk konkret lainnya (sebagai penerapan kaidah dan prinsip- prinsip ilmu pengetahuan) untuk memudahkan aktivitas atau pekerjaan manusia.

Dengan demikian, teknologi itu, mempunyai empat komponen utama, yaitu; (1) Pengetahuan, seperangkat gagasan bagaimana mengerjakan sesuatu, (2) Tujuan, untuk apa "sesuatu" tersebut digunakan, (3) Aktivitasnya harus terpola dan terorganisasi, dan (4) Lingkungan pendukung agar aktivitas itu dapat berjalan efektif.

Pada bentuknya yang paling sederhana, khususnya pada masyarakat berburu dan meramu dan masyarakat tradisional, pembentukan teknologi lebih didorong oleh tuntutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Manusia butuh makanan mereka membuat dan mengembangkan tombak dan panah sebagai alat berburu.

Pada kelompok masyarakat tradisional berburu dan meramu sudah mengenal pembagian kerja menurut jenis kelamin dan kelompok umur. Lelaki berburu sedangkan perempuan meramu. Teknologi yang berkembang pada masa itu adalah teknologi berburu dan meramu tahap awal (paleolitik), tahap menengah (mesolitik), dan tahap akhir (neolitik). Teknologi yang berkembang pada tahap akhir ini disebut juga paleometalik, yaitu tradisi logam awal (perunggu dan besi).

Kebudayaan logam ini dilansir berasal dari asia tenggara daratan yaitu Dongson, Vietnam. (Poesponegoro,1992:221). Ada dua teori terkait bahwa Asia Tenggara sebagai tempat kerajinan paleometalik :

(3)

2. Teori yang terkini berdasarkan penemuan artefak-artefak besi dan tembaga di Thailand Tengah.

Tahap perkembangan kebudayaan logam di Indonesia, Bangsa Proto dan Deutro Melayu memasuki wilayah Indonesia secara bergelombang. Masing-masing mendiami wilayah dan pulau yang berbeda-beda, sehingga menghasilkan budaya yang berbeda pula. Meski asalnya bahasa dan budaya mereka sama, namun setelah masing-masing mendiami suatu wilayah berbeda, maka otomatis mereka beradaptasi dengan lingkungan baru yang mereka tempati. Dari adaptasi inilah muncul perbedaan kebudayaan diantara mereka.

PEMBAHASAN

(4)

dongson. Kebudayaan Dongson memiliki pengaruh yang besar bagi perkembangan logam di Indonesia.

Persebaran kebudayaan logam, terutama perunggu yang masih terawat dengan baik, di Indonesia dapat dilihat dari berbagai tempat-tempat ditemukanya alat pencetakan benda-benda perunggu. Lokasi-lokasi pencetakan tersebut tersebar di Jawa, bali, dan Madura. Sementara itu, tahap perkembangan tahap awal budaya logam di Indonesia tersebar di daerah Sumatera, Jawa, Bali, kepulauan talaud, Maluku utara, Nusa tenggara dan Sulawesi.

Hasil kebudayaan perunggu yang ditemukan di Indonesia adalah kapak corong (kapak perunggu), banyak ditemukan di Sumatra Selatan, Jawa, Balio, Sulawesi dan Kepulauan Selayar dan Irian, dengan kegunaan sebagi alat perkakas. Nekara perunggu (Moko), berbentuk seperti dandang. Banyak ditemukan di daerah Sumatra, Jawa, Bali, Sumbawa, Roti, Leti, Selayar dan Kepulauan Kei. Kegunaannya untuk acara keagamaan dan mas kawin.

Bejana Perunggu, bentuknya mirip gitar Spanyol tetapi tanpa tangkai. Hanya ditemukan di Madura dan Sumatera. Sedangkan arca perunggu, banyak ditemukan di Bangkinang (Riau), Lumajang (Jatim) dan Bogor (Jabar). Juga perhiasan seperti gelang, anting-anting, kalung, dan cincin banyak ditemukan disana. Kebudayaan Perunggu sering disebut juga sebagi kebudayaan Dongson-Tonkin Cina karena disanalah Pusat Kebudayaan Perunggu.

Tahap logam awal di Sumatra

Seorang arkeolog bernama A.N van der Hoop berhasil menemukan kubur peti batu di daerah Tegur wangi, Sumatra selatan. Dari peti kubur tersebut ditemukan manik-manik kaca dan sejumlah benda logam. Benda-benda logam tersebut yaitu peniti emas dan tombak besi yang telah rusak. Sementara itu di Pasemah ditemukan juga patung manusia dan patung hewan dari bongkahan batu besar. Patung laki-laki diperlihatkan tengah mengendarai gajah atau kerbau dengan memakai kalung, gelang kaki, cawat, jubah, penutup telinga dan penutup kepala berbentuk runcing pada bagian dekat punggung. Kepala hewan dan manusia sering diukir dengan sangat detail, sedangkan tubuhnya dibentuk terlalu kecil sehingga tidak proporsional.

(5)

Tahap logam awal di Jawa

Penelitian terhadap kubur peti batu di daerah Gunung kidul oleh A.R van der hoop membuktikan bahwa pada kubur peti batu tersebut terdapat bekal kubur berupa perkakas-perkakas dari besi seperti pisau bertangkai, belati, kapak, cincin perunggu, dan manik-manik kaca. Sementara itu, penelitian yang dilakukan Heekern pada tahun 1931 di Besuki, JawaTimur, terhadap sarkofagus tidak berhasil menemukan benda-benda logam.

Situs-situs lainya di Jawa terdapat di Leuwiliang dekat Bogor, Jawa Barat dan di Pejaten, Jakarta bagian selatan. Di Leuwiliang berhasil ditemukan sejumlah bekal kubur yang terdiri atas anting-anting perunggu dan topeng dari logam mulia, sedangkan di Pejaten ditemukan cetakan dari tanah liat yang dibakar sebagai tempat membuat beliung perunggu dan pisau. Cetakan tanah liat tersebut ditafsir dibuat pada tahun 200SM

Tahap logam awal di Bali

Penemuan benda-benda logam tahap awal di Bali juga bersamaan dengan ditemukanya peti kubur (sarkofagus). Sebagian benda-benda logam tersebut telah hancur dimakan usia, namun masih ada yang utuh seperti perhiasan, selubung tangan yang dibuat dari lilitan atau kumparan kawat perunggu, serta alat-alat pertanian semacam sekop. Di Gilimanuk, situs yang ditemukan berbentuk perkakas logam, tombak besi yang bertangkai, pisau belati besi yang bergagang perunggu, dan manik-manik dari emas. Sedangkan di daerah Pangkung, ditemukan penutup mata dan penutup mulut dari emas.

Tahap logam awal di Sumba

Di Sumba, Nusa Tenggara Barat, ditemukan sejumlah benda-benda logam yang berupa bejana atau tembikar berukuran kecil yang ditempatkan di dalam atau di sekitar tempayan. Ditemukan pula manik-manik gelang dan logam lainya yang difungsikan sebagai bekal kubur yang umum. Selain sebagai bekal kubur, terdapat pula peralatan rumah tangga, bercocok tanam, dan berkebun.

Benda-benda logam juga ditemukan di Nusa Tenggara Timur. Sebuah kapak upacara yang terbuat dari perunggu ditemukan di daerah Landau, Roti, Nusa Tenggara Timur. Kapak ini bermotifkan manusia dan memiliki desain seperti model yang ditemukan di bagian selatan pasifik.

(6)

Di leang buidane di Pulau Selababu, Kepulauan Talaud ditemukan penguburan dalam tempayan. Temuan yang berada di leang buidane di antaranya adalah gelang, beberapa pecahan benda dari besi yang sudah tak berbentuk, dan satu kapak corong dari tembaga. Ditemukan pula peralatan cetak dari tanah liat bakar sebaga alat untuk mencetak kapak serta benda-benda dari tembaga. Peralatan cetak tersebut menunjukan bahwa benda-benda logam tersebut bukanlah hasil import dari daerah lain melainkan hasil produksi penduduk setempat.

Sisa-sisa penguburan dalam tempayan juga ditemukan di Maluku bagian utara, tepatnya di Goa Uattam. Benda-benda logam yang terdapat di daerah ini sudah tidak utuh, berupa pecahan-pecahan besi dan perunggu. Ditemukan pula manik-manik kaca, mata uang Cina, Cangkang kerang besar, dan lain-lain.

Tahap logam awal di Sulawesi

Seperti di daerah lain, di Sulawesi ditemukan pula kuburan dari tempayan yang pada umumnya berada di goa-goa. Tembikar-tembikar yang ada di Sulawesi ini diperkirakan berhubungan dengan tembikar yang ada di daerah Ulu Leang-Leang di Maros, Sulawesi selatan. Tembikar ini memiliki bidang hiasan yang padat dengan pola hias goresan seperti pada tembikar yang ada di Sembiran, Bali.

(7)

PENUTUP

Zaman logam diperkirakan berlangsung tahun 300 SM. Disebut zaman logam karena manusia mengunakan alat-alat yang terbuat dari logam. Ciri-ciri Kehidupan pada zaman ini adalah sudah menetap, mengenal teknologi perundagian, dan mengenal perdagangan barter. Bangsa yang hidup pada zaman ini adalah Deutro Melayu, seperti suku Jawa, suku Sunda, suku Melayu, suku Bugis, suku Minang dan Suku Batak.

Logam tidak bisa dipukul atau di pecah seperti batu, logam harus dilebur dahulu menjadi cairan, baru di cetak sesuai kebutuhan. Bangsa Indonesia memiliki kepandaian baru dengan di kenalnya logam, yaitu menuang logam. Ada dua macam teknik pembuatan logam yaitu a Cire perdue (cetakan lilin) dan bivalve (dua tangkup).

(8)

Bellwood, Peter. 2007. Prehistory of Indo-Malayan Archipelago. ANU E Press: Canberra. Childe, Gordon V. The Bronze Age. Cambridge University Press : London.

Referensi

Dokumen terkait

Upaya banyak daerah saat ini berlomba-lomba meningkatkan PAD saat ini sebenarnya dapat dimaklumi karena beberapa kondisi seperti DAU yang dianggap tidak mencukupi

Salah satu sumberdaya alam yang terdapat di Kabupaten Sleman Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta adalah bahan galian pasir dan batu (sirtu).. Pasca meletusnya

Salah satu sumberdaya alam yang terdapat di Kabupaten Sleman Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta adalah bahan galian pasir dan batu (sirtu).. Pasca meletusnya

Batuan yang menutupi daerah kajian (Gambar 1) merupakan batuan Kuarter yang terdiri atas Tuf Banten yang tersusun atas tuf, tuf batu lempung, batu pasir tufan; ditindih oleh

Peraturan Presiden Nomor 42 Tahun 2020 tentang Pemberian Penghargaan dan/atau Pengenaan Sanksi kepada Kementerian Negara/Lembaga dan Pemerintah Daerah. Peningkatan Kinerja

Predictors: (Constant), ml.hb, Normal Score of size using Van der Waerden's Formula, Normal Score of ml using Van der Waerden's Formula, Normal Score of hb using Van der Waerden's

Seluruh dosen Universitas Bina Nusantara yang telah memberikan bekal ilmu bagi penulis selama ini dan yang telah membantu penulis selama penulisan skripsi ini.. Orang tua dan

Daerah kekuasaannya meliputi Talaga, Cikijing, Bantarujeg, Lemahsugih, Maja dan sebagian Selatan Majalengka.Pemerintahan Batara Gunung Picung sangat baik, agam yang dipeluk