Makna Kata Rabb Kata Rabb

23  27  Download (0)

Teks penuh

(1)

oleh Zulhendra

ibnu.muhammadzein@gmail.com

A. Pendahuluan

Allah  mensifati diri-Nya sendiri—demikian pula Rasu>lulla>h — dengan dua kata yang senantiasa diulang-ulang pada sejumlah tempat dengan berbagai siyagh dalam al-Qura>n, demikian pula h}adi>ts. Kedua kata ini senantiasa dan umum diterjemahkan dengan kata “tuhan”. Kata yang dimaksud ialah kata rabb (بر) dan kata ila>h (هلإ). Penggunaan kata “tuhan” sebagai kata pengganti dalam sebuah terjemahan, untuk kata

rabb juga ila>h, tentunya menimbulkan sejumlah permasalahan. Termasuk permasalahan yang paling besar, ialah terkait dengan pemahaman pembaca terjemah tersebut terkati makna dari dua kata ini, bahkan makna dari kalimat yang diterjemahkan tersebut secara utuh. Merupakan konsekuensi yang paling jelas dari hal ini ialah timbulnya kesan bahkan pemahaman nyata bagi pembaca bahwa makna kata rabb dan kata ila>h

adalah sama. Kedua kata ini merupakan dua kata yang tidak memiliki perbedaan signifikan, bahkan mungkin sama sekali tidak berbeda dalam “mendeskripsikan” sifat Allah .

Pertanyaan yang muncul setelahnya ialah “Apakah benar demikian?” Benarkah kedua kata ini memiliki makna yang sama dan serupa? Jika benar demikian, lantas apa signifikansi penggunaan kedua kata ini sekaligus dalam kalimat yang sama dari sejumlah firman Allah ? Selain itu, apa signifikansi penggunaan kedua kata ini secara terpisah pada sejumlah ayat yang berbeda, yang konteks ayat tersebut terkadang tidak berbeda dengan cukup signifikan? Jika benar kedua kata ini memiliki makna yang sama, lantas apa faidahnya? Sedangkan merupakan suatu perkara yang mustahil dan tidak mungkin dikatakan oleh muslim manapun, jika Allah  menurunkan al-Qura>n secara sia-sia serta bermain-main.

Subh}a>nalla>h!

(2)

Berikut sebagian ayat yang di dalamnya terdapat salah satu dari dua kata ini, atau pun keduanya secara bersamaan dalam satu ayat:

Allah  berfirman,

     

      

    

 

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: "Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Ila>h bagimu selain-Nya." Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat)”.1

Firman-Nya pada tempat yang lain,

   

                    

    

“Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” mereka menjawab: “Kami akan menyembah Ila>h-mu dan Ila>h nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Ila>h yang satu dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.2

Kemudian firman-Nya pada ayat yang lain,

    

      

“Hai manusia, sembahlah Rabb-mu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa”.3

(3)

Demikian pula firman-Nya,

   

“Dan sembahlah Rabb-mu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)”.4

Seluruh ayat yang telah disebutkan ini, kata rabb dan ila>h yang ada di dalamnya, secara umum diterjemahkan dengan “tuhan”. Termasuk terjemahan al-Qura>n yang dikeluarkan oleh Kementerian (Departemen) Agama Republik Indonesia. Masih banyak lagi contoh-contoh ayat lain dari al-Qura>n yang insya Allah nanti akan dipaparkan sebagiannya. Adapun terjemah yang dibawakan di sini semata-mata terjemah dari penulis, untuk membedakan kedua kata tersebut.

Memperhatikan perkara ini, tentunya pertanyaan yang penulis ajukan sebelumnya amat mendesak untuk mendapatkan jawaban tuntas. Hal ini mengingat eratnya kaitan permasalahan ini dengan pemahaman yang benar terhadap firman-firman Allah , bahkan bisa jadi berkaitan erat dengan permasalahan yang amat pokok dari Islam, yaitu akidah. Berdasarkan alasan tersebut, maka penulis hendak memaparkan suatu pembahasan yang tuntas terkait hal ini dengan format yang i>jaz

(ringkas).

نيتممملا ةممجحلاو نيبملا ةنيبلا هلأسأو دادشلاو قيفوتلا هللا لأسأ

ميقتسملا ناسللاو

B. Pengertian Rabb (برلا) Secara Bahasa dan Penggunaannya di Dalam al-Qura>n

Secara bahasa, rabb bermakna pemilik. Dikatakan bahwa Fulan rabb al-da>r (رادلا بر ولف), maksudnya ialah orang tersebut merupakan pemilik rumah yang dimaksud. Dan kata ini ditak disebut secara mutlak tanpa penyandaran, selain apabila yang dimaksud adalah Allah . Apabila dikatakan al-rabb, maka yang dimaksud ialah Allah . Namun jika disebutkan dengan disandarkan kepada sesuatu, makna yang dimaksud dengan kata ini bisa Allah, mungkin pula selain Allah. Seperti contoh yang disebutkan tadi, maka yang dimakssud rabb pada kalimat ersbut adalah

(4)

orang yang memiliki rumah tersebut. Contoh lain, jika dikatakan لإبلا بر (Rabb-nya Unta), maka maknanya ialah لإبلا كلام atau لإبلا بحاص, yakni pemiliknya. Dikatakan ةكائلملا بر (Rabb-nya Malaikat), atau سانلا بر (Rabb -nya manusia), maka yang dimaksud di sini tidak lain adalah Allah .

Demikian juga, kata ini diambil dari kata kerja ااممإبرر بب رريي بب رر, yang bermakna مامممتلا لاممح ىمملإ لاممح ىلإ لاح نم ءريشلا أشب ن, yaitu mengembangkan sesuatu dari suatu keadaan kepada keadaan yang lain hingga pada keadaan yang sempurna. Karenanya Ibnu al-Anba>ry (271-328 H) berkata,”Al-Rabb terbagi dalam tiga jenis: al-Rabb bermakna ma>lik

(pemilik), al-rabb berarti tuan yang ditaati, dan al-rabb bermakna yang memperbaiki”.5

Ini makna kata rabb secara asal, yaitu dari makana kebahasaannya. Namun pada pembahasan ini, fokus pembicaraan adalah makna kata rabb

di dalam al-Qura>n yang berkaitan dengan Allah . Yaitu makna kata rabb

yang disandarkan kepada Allah . Berikut beberapa ayat dari al-Qura>n yang menunjukkan penggunaan kata rabb yang menunjukkan kepada Allah

:

1 .      

            

         

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: "Ya Rabb-ku, Jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: "Dan kepada orang yang kafirpun aku beri kesenangan sementara, kemudian aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali".6

5 Muh}ammad bin Mukarram Ibnu Manz}u>r, Lisa>n al-‘Arab, (Beirut; Da>r al-S{a>dir, 1300 H), jilid I, hal. 399-401. S{alih} bin Fawz}a>n bin Abdulla>h al-Fawz}a>n,

al-Tawh}i>d li al—S{aff al-Awwal al-‘Aliy, terj. Agus Hasan Bashari, (Jakarta: Yayasan al-Shofwa, 2000), hlm. 25.

(5)

2 kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya

Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana”.7

3

“Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: "Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan mematikan," orang itu berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan".[164]Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, Maka terbitkanlah Dia dari barat," lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”.9

(6)

5 kami sampai kepada beberapa waktu lagi?" Katakanlah: "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun”.10

6

“Dan orang orang yang berkata: "Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”.12

(7)

Dari lima ayat yang dibawakan, makna kata rabb yang kesemuanya disandarkan kepada Allah  tidak keluar dari Allah sebagai pencipta seluruh makhluk-Nya, Allah sebagai pemilik kekuasaan atas segala Nya, Allah sebagai pemberi karunia terhadap semua makhluk-Nya, Allah sebagai pengatur seluruh makhluk-Nya. Pada ayat pertama, Allah  menceritakan doa Nabi Ibra>hi>m ketika meminta karunia-Nya dan beliau menyebut Allah dengan kata rabb.13Pada ayat kedua, kata

rabb diiringi dengan permintaan Nabi Ibra>hi>m kepada Allah  agar mengutus seorang rasul yang mengajarkan agama-Nya, apa yang menjadi kewajiban mereka, dan sebagainya. Demikianpula hal yang serupa pada ayat ketiga, yaitu kata rabb diringi dengan permintaan untuk menurunkan dan memberikan kebaikan-kebaikan, baik kebaikan dunia ataupun akhirat. Pada ayat keempat, kata rabb dimaksudkan kepada Allah  sebagai pengatur alam dan yang menciptakannya serta mematikannya. Pada ayat berikutnya, kata rabb dimaksudkan kepada Allah  sebagai Dzat yang memerintah dan mengatur hal ihwal hamba. Demikian pula pada dua ayat terakhir yang dibawakan, tidak keluar dari salah satu dari perkara-perkara yang telah disebutkan.

Banyak sekali kata rabb dalam al-Qura>n untuk menunjukkan Allah . Namun seluruhnya tidak keluar dari makna yang telah disebutkan tadi. Maka ringkasnya, Allah  sebagai rabb ialah bermakna pencipta, pemilik atau penguasa, juga bermakna tadbi>r (pengatur) yang mengatur kebaikan-kebaikan untuk hamba, serta pemberi karunia berupa rizki, pengutusan rasul, menurunkan kita>b, dan sebagainya termasuk memerintah dan melarang. Ibnu Qayyim al-Jawziyah (691-751 H) berkata,

ءازجو مهيهنو دابعلا رمأ يضتقت ةيإبوإبرلا نإف اإبر هنوك ثلاثلا

ل كمملذو ةمميإبوإبرلا ةممقيقح اذممه هتءاسإإب مهئيسمو هناسحإإب مهنسحم

ةوبنلاو ةلاسرلاإب لإ متي

Ketiga, Dia sebagai Rabb, maka rubu>biyah mencakup memerintahkan hamba serta melarang mereka, juga membalas kebaikan

(8)

mereka dengan kebaikan dan keburukan mereka dengan keburukan. Ini adalah hakikat rbu>biyah, dan demikian ini tidak sempurna, melainkan dengan risa>lah dan kebanian”.14

C. Hamba Rabba>ny dan Kaitannya dengan al-Rabb

Allah berfirman,

    

             

       

“Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya al-Kitab, Hikmah dan kenabian, lalu Ddia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabba>ny, karena kamu selalu mengajarkan al-kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”.15

Melalui ayat yang mulia ini, Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk menjadi hamba rabba>ny. Seperti yang tampak, kata rabba>ny

merupakan kata yang berakar dari kata rabb, sedangkan huruf (ي) pada akhir kata tersebut merupakan huruf (ي) nisbat atau penyandaran. Maka

rabba>ny ialah suatu sifat yang disandarkan kepada al-Rabb, yaitu Allah

. Dengan merujuk kepada makna rabb, sebagaimana telah lalu, maka makna hamba rabba>ny ialah seorang hamba yang menyandarkan dirinya kepada al-Rabb, yang mengajarkan manusia kebaikan yang bersumber dari al-kitab, yakni al-Qura>n, baik kebaikan dunia, maupun akhirat mereka. Juga yang senantiasa berusaha mewujudkan perbaikan di tengah-tengah mereka. Karenanya Ibnu ‘Abba>s  berkata mengenai makna hamba

rabba>ny dalam ayat ini,”Yaitu seorang hamba yang bijak (hukama>’), berilmu (‘ulama>’), dan penuh kesantunan (h}ulama>’)”.16 Memang

benar, ketiga perkara ini merupakan cakupan dari makna kata rabb.

14 Muh}ammad bin Abu> Bakr Ibnu Qayyim al-Jawziyah, Mada>rij al-Sa>liki>n bayna Mana>zil Iyya>ka Na‘budu wa Iyya>ka Nasta‘i>n, (Beirut; Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyah, t.t.), jilid I, hal. 80

(9)

Kemudian perintah Allah kepada hamba-Nya agar menjadi hamba

rabba>ny diiringi dengan kewajiban mereka untuk mempelajari al-Qura>n dan mengajarkannya. Maka kesempurnaan makan hamba rabb>ny ialah seorang hamba yang bertakwa kepada Allah, yang kemudian ia mempelajari agama Allah dari sumber-sumbernya, lalu mengajarkan hal tersbut kepada manusia dengan ilmu, hikmah, dan penuh kesantunan. Di samping itu, tidak ada yang mereka harapkan dari hal itu semua melainkan balasan dari sisi Allah , serta harapan yang sempurna bahwa mereka dapat memperbaiki kondisi ummat. Walla>hu a‘lam!

Kemudian dari kata ini pula diambil kata tarbiyah, atau sering diterjemahkan sebagai “pendidikan” dalam bahasa Indonesia. Namun tentunya makna tarbiyah bukan sekedar pendidikan. Lebih dari itu, makna

tarbiyah, ialah pendidikan yang memiliki seluruh komponen yang telah disebutkan tadi. Maka tarbiyah ialah suatu upaya pendidikan kepada ummat demi mencapai kesempurnaan kebaikan dan perbaikan kehidupan dunia serta akhirat mereka yang dijalankan sesuai dengan koridor yang ditetapkan oleh Allah  sebagai rabb, sebagai pendidik tertinggi.17 Dari, Dr.

Kha>lid al-H{a>zimy, seorang pengajar di Ja>mi‘ah Isla>miyah bi al-Madi>nah, pada jurusan Tarbiyah, menyatakan bahwa pengertian tarbiyah

ialah,

نيرادلا ةداعس ءاغتإبا هبناوج عيمج يف ائيشف ائيش ناسنلا ةئشنت

يملسلا جهنملا قفو

“Upaya pengembanyan manusia sedikit demi sedikit, pada seluruh bagiannya untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, sesuai dengan manhaj Isla>my”.18

D. Pengertian Ila>h (هلإ) Secara Bahasa dan Penggunaannya di Dalam al-Quran

16 Abu> al-Fida>’ Isma>‘i>l bin Katsi>r, Tafsi>r al-Qura>n al-‘Az}i>m, tahqiq: Mus}t}a>fa> Sayyid Muh}ammad dkk. (Ji>zah; Muasasah Qurt}ubah, 1421 H), jilid III, hal. 99

17 Kha>lid bin H{a>mid al-H{a>zimy, Us}u>l al-Tarbiyah al-Isla>miyah, (Riyadh; Da>r ‘Ala>m al-Kutub, 1420 H), hal. 17-19

(10)

Kata ila>h merupakan kata benda ber-wazan fi‘a>l (لامعف), yang bermakna sebagai kata benda yang menunjukkan objek (لعفملا مسإ). Maka makna kata al-ila>h (هللا) ialah al-ma’luh (هلرأملا), yang bermakna (دبرعملا), yaitu yang diibadahi. Maka setiap yang dijadikan manusia sebagai sesembahhan, maka ia disebut ila>h, terlepas dari benar atau tidaknya sesuatu itu untuk dijadikan ila>h.

Berikut sebagian penggunaan kata ila>h di dalam al-Qura>n:

1 .                          

    

“Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" mereka menjawab: "Kami akan menyembah Ila>h-mu dan Ila>h nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Ila>h yang Maha Esa dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.19

2 .      

        

       

                

       

“Wahai ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya al-Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya.

(11)

Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "(ila>h itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah ialah Ila>h yang Maha Esa, Maha suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. cukuplah Allah menjadi Pemelihara”.20

3 .                            

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga", Padahal sekali-kali tidak ada ila>h yang haq selain dari Ila>h yang Esa. jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih”.21

4 .     

             

            

“Katakanlah: "Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?" Katakanlah: "Allah". Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. dan al-Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan Dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai al-Quran (kepadanya). Apakah Sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada ila>h-ila>h lain di samping Allah?" Katakanlah: "Aku tidak mengakui." Katakanlah: "Sesungguhnya Dia adalah Tuhan yang Maha Esa dan Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)”.22

(12)

5 lalu ia berkata: "Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada ila>h yang haq bagimu selain-Nya." Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang menyembah berhala mereka, Bani lsrail berkata: "Hai Musa. buatlah untuk Kami sebuah ila>h sebagaimana mereka mempunyai beberapa ila>h". Musa menjawab: "Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang bodoh”.24

“Dan kepunyaan-Nyalah segala yang di langit dan di bumi. dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya. Apakah mereka mengambil ila>h-ila>h dari bumi, yang dapat menghidupkan (orang-orang mati)?”.25

(13)

8 .      

            

      

“Sesungguhnya hampirlah ia menyesatkan kita dari sembahan-sembahan kita, seandainya kita tidak sabar (menyembah)nya" dan mereka kelak akan mengetahui di saat mereka melihat azab, siapa yang paling sesat jalanNya. “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka Apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?”.26

Dari seluruh ayat yang dibawakan—bahkan seluruh ayat dalam al-Qura>n yang menggunakan kata ila>h—seluruhnya menunjukkan kepada satu makna. Yaitu sesuatu yang seseorang menghambakan dirinya dengan penuh pengagungan kepada dzat yang disebut ila>h tersebut. Baik ila>h

yang dimaksud adalah Allah, maupun selainnya. Hal ini tampak dari seluruh ayat yang dibawakan, baik secara z}ahir ataupun dari konteks ayat.

E. Konsekuensi Perbedaan Makna dari Kedua Kata pada Sejumlah Permasalahan

Tampak bahwa makna kata rabb dan ila>h yang dikaitkan kepada Allah --dalam hal ini—memiliki perbedaan yang signifikan. Kata rabb

menunjukkan kepada makna yang bersifat rubu>biyah yang meliputi penciptaan, kepemilikan, pemeliharaan dan pengaturan (tadbi>r), serta pemberian karunia. Adapun kata ila>h menunjukkan makna yang bersifat

uluhiyah, yaitu Allah sebagai Dzat yang harus diibadahi dengan penuh pengagungan.

Konsekuensi logis dari perbedaan ini ialah tidak tepatnya, bahkan keliru, jika kedua kata ini diterjemahkan dengan kata yang sama, yakni “tuhan”. Hal ini karena beberapa alasan, diantaranya ialah bahwa dengan mengganti dua kata ini dengan kata lain yang sama, tentu menghilangkan

(14)

perbedaan makna yang terkandung di dalamnya. Karena kata “tuhan”, hanya memiliki satu makna, yaitu sesuatu yang dipentingkan, atau yang dianggap penting.27

Di samping itu, sesuatu yang dikatakan rabb, tidak melazimkan ia adalah ila>h, sebagaimana sesuatu yang disebut ila>h, tidak melazimkan ia adalah rabb. Hal ini amat jelas dilihat dari realita yang ada. Seperti, di antaranya, firman Allah ,

    



“Hai kedua penghuni penjara, adapun salah seorang diantara

kamu berdua, akan memberi minuman rabb-nya dengan khamar”.28

Kata rabb pada ayat ini maksudnya ialah tuan dari penghuni penjara tersebut. Dan orang yang dimaksud tidak menjadikan tuannya sebagai tempat ia memberikan peribadatannya. Semata-mata ia hanya memperikan pelayanan sebagai budak atau pembantunya. Tentunya banyak contoh lain yang amat nyata dalam kehidupan manusia.

Adapun sesuatu yang dijadikan atau diangap sebagai ila>h, namun tidak menjadi rabb sama sekali, ialah seperti halnya berhala-berhala kaum musyrikin. Mereka memberikan peribadatannya kepada berhala-berhala tersebut, berupa penyembelihan, t}awaf di sekitarnya, berdoa kepadanya, dan lain sebagainya, namun kaum musyrikin itu sekalipun tidak menyatakan bahwa berhala yang mereka sembah memiliki sebagai sifat

rubu>biyah. Bahkan mereka dengan jelas dan tegas meyakini serta menyatakan bahwa yang memiliki sifat rububiyah adalah Allah  semata. Allah berfirman,

   

       

“Dan Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan

27 KBBI

(15)

bulan?" tentu mereka akan menjawab: "Allah", Maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar)”.29

Masih ada beberapa ayat lain dengan redaksi yang serupa, yang dengannya Allah membatalkan sikap kaum musyrikin yang beribadah kepada sesuatu yang tidak memberikan mereka sesuatupun, tidak kebaikan, tidak pula keburukan.

    

       

“Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberikan rezki kepada mereka sedikitpun dari langit dan bumi, dan tidak berkuasa (sedikit juapun)”.30

       

   

“Katakanlah: "Siapakah Rabb langit dan bumi?" Jawabnya: "Allah". Katakanlah, "Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?”. 31

Namun dari itu, tidak pula berarti bahwa sifat rubu>biyah Allah, yakni Allah sebagai rabb, tidak berhubungan dengan sifat uluhiyah-Nya, yakni Allah sebagai ila>h. Bahkan dengan mengetahui serta memahami perbedaan yang signifikan antara dua kata ini, kaitan yang erat di antara keduanya tampak dengan jelas.

F. Kaitan Antara Sifat Rubu>biyah Allah dengan Sifat Uluhiyah-Nya

Allah  berfirman,

   

    

(16)

     

             

   

“Hai manusia, sembahlah Rabb-mu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui”.32

Pada ayat ini dan yang semisal dengannya, Allah  memerintahkan hamba untuk beribadah semata-mata kepada-Nya. Kemudian perintah itu disertai dengan penegasan bahwa Allah  merupakan pencipta dan pengatur seluruh makhluk, yang menurunkan hujan, menghidupkan bumi, dan seterusnya. Dari ayat ini tampak bahwa Allah  berhujjah dengan

rubu>biyah-Nya untuk menetapkan hak uluhiyah-Nya. Demikian pula halnya dengan firman Allah ,

     

                         

              

“Katakanlah: "Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?" Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka Apakah kamu tidak ingat?" Katakanlah: "Siapakah yang Rabb-nya langit yang tujuh dan Rabb-nya 'Arsy yang agung?" Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka Apakah kamu tidak bertakwa?" Katakanlah:

(17)

"Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?" Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "(Kalau demikian), Maka dari jalan manakah kamu ditipu?”.33

Ayat-ayat ini seluruhnya dalam rangka membantah peribadatan kaum musyrikin terhadap berhala-berhala mereka. Dengan ayat ini Allah menjadikannya hujjah bagi Rasu>l-Nya di hadapan kaum musyrikin yang ia dakwahi. Adapun dakwah Rasu>lulla>h , bahkan dakwah seluruh rasul, ialah menetapkan satu-satunya Dzat yang berhak diibdahi, yaitu Allah . Terlebih mereka, kaum musyrikin, tidak pernah menafikan bahwa Allah merupakan pencipta, pengatur, serta pemberi rizki satu-satunya kepada dan terhadap seluruh makhluk. Mereka hanya mengikuti hawa nafsunya agar dzat yang diibadahi itu mungkin bahkan harus berbilang. Allah berfirman menceritakan ucapan mereka,

    

 

“Mengapa ia menjadikan ila>h-ila>h itu sebagai ila>h yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan”.34

Dari ayat ini setidaknya dua pelajaran penting yang dipahami. Pertama bahwa ila>h merupakan dzat yang diibadahi, merupakan perkara yang sudah maklum. Kedua, mereka menysekutukan Allah  dalam hal

uluhiyah-Nya, yaitu mereka memaksudkan ibadah mereka tidak hanya kepada Allah, dan pada saat yang bersamaan mereka tidak mensekutukan Allah dalam hal penciptaan, pengaturan makhluk, pemeberian rizki, dan sebagainya dari konsekuensi rubu>biyah.

Keyakinan seperti inilah yang diperangi oleh Islam. Dalam rangka memberantas keyakinan yang timpang ini, maka Allah mengutus para rasul, menurunkan kitab-kitab, memerintahkan para rasul tersebut untuk berperang.

(18)

ت

ر ررممممأ

ر لراممقر مرلبسرور هميرلرعر هرلبلا ىلبصر هملبلا لروسررر نبأر ررمرعر نمإبرا نرعر

ل

ر وممس

ر رر ادامممبحرمر ن

ب أرور هرمملبلا لبإم هرلرإم لر ن

ر أر اودرهرش

ر ير ىتبحر س

ر

انبلا ل

ر تماقرأر ن

ر أر

يممننمم اومرممص

ر ع

ر ك

ر مملمذر اومملرعرفر اذرإمممفر ةراممكرزبلا اوممترؤريرور ةرلرممص

ب لا اومريقميرور هملبلا

هملبلا ىلرع

ر م

ر هرإبراس

ر حمور م

م لرس

ر لر

م ا ق

ن ح

ر إبم لبإم مرهرلراورمرأ

ر ور مرهرءرامردم

“Dari Ibnu ‘Umar bahwasanya Rasu>lulla>h  bersabda, “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mempersaksikan bahwasanya tidak ada ila>h yang hak selian Allah dan Muhamamd adalah Rasu>lulla>h, serta mendirikan shalat, menunaikan zakat. Jika mereka melakukannya, darah-darah mereka serta harata-harata mereka terlindung dariku kesuali dengan hak Islam, sedangkan perhitungan mereka pada Allah”.35

Adapun hujjah yang paling kuat dalam menetapkan uluhiyah Allah ini ialah rubu>biyah-Nya. Karena Dzat yang memberikan kehidupan, menguasai segala sesuatu, mengaturnya, memperbaikinya, memeliharanya, memberikan rizki, dan seterusnya, semestinya menjadi Dzat yang berhak dengan peribadatan makhluk. Karena bagaimanapun manusia mengingkarinya, rubu>biyah itu sendiri memberikan konsekuensi

uluhiyah. Maka ketika mereka menetapkan uluhiyah, maka kewajiban mereka yang sejatinya sesuai dengan fitrah yang mereka miliki ialah menetapkan uluhiyah.

Dari sini jelas sekali eratnya kaitan antara Allah sebagai rabb dan Allah sebagai ila>h. Pertama ialah penetapan Allah sebagai rabb tertinggi, yang rububiyah-Nya mencakup segala hal, dan sempurna, tentunya memberikan konsekuensi bahwa Allah pula yang memiliki hak uluhiyah.

Kedua bahwa penetapan rubu>biyah semata terhadap Allah, tidak menjadikan pelakunya selamat dan dikatakan sebagai seorang mukmin yang bertauhid, sampai ia menetapkan uluhiyah Allah. Manhaj al-Qura>n dalam menetapkan uluhiyah Allah ialah dengan menetapkan

rubu>biyah-Nya. Dengan metode demikian, tentunya amat tampak kelembutan

(19)

dakwah ilahiyah ini. Karena ia menyentuh perkara yang paling dasar dari objek dakwah, yakni hamba, yaitu fitrah mereka yang bersih. Kemudian membangkinkan kesadaran yang bersifat fitrah tersebut untuk menjadi landasan bagi bangunan keimanan mereka. Dari ini seakan-akan Allah hendak berkata kepada hamba-hamba-Nya, bahwa jika kalian hendak mempersekutukan Allah, mengambil sesuatu yang lain sebagai ila>h,

selain Allah, hendaklah kalian meminta kehidupan, rizki, pengajaran, dan berbagai kebaikan lainnya kepada ila>h-ila>h tersebut. Namun selama kalian masih meminta kehidupan, rizki, penjagaan, dan seterusnya kepada Allah , hendaknya kalian tidak mengambil sesuatu apapun sebagai tandingan bagi-Nya. Maka fitrah yang mana yang akan mampu menegasikan perkara seperti ini?

Kemudian, dari semua ini, jelas pula makna dari kalimat syahadat yang senantiasa diucapkan kaum muslimin. Serta batilnya pemahaman sebagian kaum muslimin terkait dengan makna kalimat tersebut.

G. Makna Kalimat Syahadat هللا لإ هلإ ل

Sebagian orang memahami kalimat ini dengan pemahaman yang batil dan jauh dari kebenaran. Di antara pemahaman mereka terkait makna kalimat ini ialah sebagai berikut:

a. Tidak ada tuhan selain Allah b. Tidak ada pencipta selain Allah

c. Tidak ada penetap hukum selain Allah

Ketiga makna ini seluruhnya batil. Untuk yang pertama, baik yang dimaksud “tuhan” di sini sebagai dzat yang memiliki sifat rubu>biyah, ataupun dzat yang diibadahi (karena samarnya makna kata tuhan itu sendiri), kedua-duanya tetap merupakan makna yang batil dan jauh dari kebenaran. Jika kata tuhan dimaksudkan sebagai dzat yang memiliki hak

(20)

sekiranya penetapan atas apa yang terkandung di dalam kalimat ini tidak pernah dinegasikan oleh manusia yang menjadi objek dakwah dan risalah yang dibawa oleh para rasul tersebut. Kemudian jika tuhan di sini dimaksudkan sebagai dzat yang diibadahi, maka tentu setiap yang dijadikan atau yang dianggap ila>h merupakan Allah . Tentu ini amat jauh dari kebenaran, karena bagaimana mungkin berhala-berhala itu adalah Allah, kuburan-kuburan atau penghuni kuburan itu juga Allah, malaikat-malaikat yang disembah itu adalah Allah, bintang-bintang, matahari, dan sebagainya juga Allah?! Karena pemahaman seperti ini sedikitpun tidak memberikan pemisah antara ila>h yang hak dengan ila>h yang batil.

Untuk pemahaman kedua, yaitu mereka yang memahami kalimat ini sebagai “Tidak ada pencipta selain Allah”. Inipun batil dengan alasan pertama yang telah dipaparkan tadi. Karena penciptaan merupakan bagain dari rubu>biyah Allah , dan hal ini tidak diingkari oleh satu manusiapun yang masih berpegang pada fitrah mereka yang paling dasar. Allah  menegaskan hal ini,

    

     

“Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka akan menjawab: "Semuanya diciptakan oleh yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”.36

Adapun untuk persangkaan terakhir, yakni makna هللا لإ هلإ ل adalah tidak ada penetap hukum selian Allah, maka inipun merupakan bagian dari

rubu>biyah-Nya. Sehingga makna inipun merupakan makna yang tidak sempurna. Karena semata-mata menetapkan penetapan hukum hanya pada Allah , kemudian tetap meminta pertolongan dan memalingkan sebagian ibadah kepada selain-Nya, tidaklah menajdikan pelakunya sebagai orang yang bertauhid.

Maka makna kalimat agung ini, yaitu kalimat هللا لإ هلإ ل, ialah “Tidak ada ila>h, yakni al-ma‘bu>d, yang hak, kecuali hanya Allah . Benar di sana sangat banyak ila>h yang diibadahi, namun seluruhnya itu adalah

(21)

ila>h yang batil. Sedangkan hanya ada satu dan satu-satunya ila>h yang hak, yaitu Allah . Maka kesempurnaan kalimat ini ialah هرللا لب إم قق حر هرلرإم لر , tidak makna yang lain. Tidak bermakna هللا لإ دروبعم ل, tidak pula لإ قر لاخ ل هللا, serta tidak juga هللا لإ ةريمكاح ل, terlebih هللا لإ بب ر ل, dan ini amat jauh sekali, dan amat nyata.

H. Kesimpulan

Kesimpulan dari sleuruh uraian ini ialah sebagai berikut:

1. Allah sebagai rabb seluruh makhluk, yaitu makna بر وممه هممللا نيملاعلا, ialah:

a. Allah adalah pencipta seluruh alam, yakni makhluk

b. Allah yang mengatur itu smeua, memerintahkan dan melarang, memperbaikinya dan seterusnya

c. Allah yang memberi rizki kepada itu semua

2. Hamba rabba>ny ialah hamba yang bersandar kepada Allah secara total, mempelajari syari‘at-Nya dan berpegang teguh dengan itu, serta mengajarkannya kepada manusia dnegan ilmu, hikmah, dan kesantunan. Semata-mata mengharapkan kebaikan atas mereka, dan bersabar dalam hal demikian.

3. Tarbiyah dalam Islam ialah upaya pengembanyan manusia sedikit

demi sedikit, pada seluruh bagiannya untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, sesuai dengan manhaj Isla>my.

4. Manhaj al-Qura>n dalam menetapkan tauhid uluhiyah ialah dengan menetapkan tauhid rubu>biyah. Karena konsekuensi logis dari

rubu>biyah Allah yang sempurna ialah uluhiyah-Nya.

5. Allah satu-satunya Dzat yang memiliki sifat rubu>biyah yang sempurna, karenanya Dia pula Dzat yang paling berhak untuk dijadikan sebagai ila>h, yakni al-ma‘bu>d. Dan ini merupakan kaitan yang amat erat antara al-rubu>biyah dan al-uluhiyah Allah

.

(22)

berbagai bentuk peribadatan hanya kepada-Nya. Tidak ada ila>h

laian selain-Nya, melainkan seluruhnya merupakan ila>h yang batil, yang tidak memiliki kekuasaan apapun, tidak pula hak uluhiyah

sedikitpun.

7. Makna rabb dan makan ila>h, memiliki perbedaan yang amat signifikan, sehingga merupakan kekeliruan jika kedua kata ini diganti dengan kata lain yang sama. Dalam hal ini, mengganti keduanya dengan kata “tuhan”. Karena hal ini menyebabkan pengaburan makna bagi kedua kata asalnya yang pada akhirnya akan menimbulkan kerancuan bahkan kekeliruan pemahaman bagi sejumlah kalimat yang menggunakan kedua kata ini.

Demikian uraian sederhana mengenai makna kata rabb serta ila>h,

dan perbedaan diantara keduanya, serta beberapa perkara yang berkaitan dengan hal ini.

م

ر يلمس

ر تبلا انريرلرع

ر ور غرلربرلرا مرلبس

ر ور هميرلرع

ر هرلبلا ىلبص

ر هملبلا ل

م وس

ر رر ىلرع

ر ور ةرلراس

ر رنلا هملبلا ن

ر مم

ددمممحم هملموممس

ر ررور همدمممبرع

ر ى

ر مملع

ر ك

ر رماممإبرور ملبممسرور هرممللا ى

ب لص

ر ور ، ق

ر فمورمرلار هرللاور

.نيردنمملار م

م ورير ى

ر لإ ن

د اس

ر حرإإبم م

ر هرعربمتر ن

ر مرور همإبماح

ر ص

ر أور هملمآ ى

ر لع

ر ور

م

ب ممهرلبلا ك

ر نراحربرممس

ر

ن

م أ

ر اممنراورعردر ررخمآو ,كريرلرإم بروترأرور كرررفمغرترسرأر ترنرأر لبإم هرلرإم لر نرأر درهرشرأر كردممرحرإبمور

لاعرلار ب

ن رم همللُ درمرحرلار

ر

ن

ر يمم

,تبسلا ةليل

27

ةنس ةجحلاوذ نم

1434

مه

هإبر ةرفغم ىلإ ريقفلا

نيز دمحم نإبا

Daftar Pustaka

(23)

Al-Fawza>n, S{a>lih} bin Fawza>n bin ‘Abdulla>h. 2000 M. al-Tawh}i>d li al-S{aff al-Awwal al-‘Aliy. Terj. Agus Hasan Bashari. Jakarta: Yayasan al-Shofwa

Al-H{a>zimy, Kha>lid bin H}a>mid. 1420 H. Us}u>l Tarbiyah al-Isla>miyah. Riyadh: Da>r ‘Ala>m al-Kutub

Al-Jawziyah, Muhammad bin Abu> Bakr Ibnu Qayyim. t.t. Mada>rij al-Sa>liki>n bayna Mana>zil Iyya>ka Na‘budu wa Iyya>ka Nasta‘i>n.

Beirut: Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyah

Al-Najdy, ‘Abd Rah}ma>n bin H{asan bin Muhamamd bin ‘Abd al-Wahha>b. 1402 H. Fath} al-Maji>d Syarh} Kita>b al-Tawh}i>d.

tahqiq: ‘Abd Qa>dir Arna>u>t}. Beirut: Maktabah Da>r al-Baya>n

Al-Naysa>bu>ry, Muslim bin al-Hajja>j. 1429 H. al-Musnad al-S{ah}i>h} al-Mukhtas}ar min al-Sunan bi Naql al-‘Adl ‘an al-‘Adl ‘an Rasu>lilla>h . tahqiq: Ah}mad Zahwuh dan Ah}mad ‘Ina>yah. Beirut: Da>r al-Kita>b al-‘Araby

Al-‘Utsaymi>n, Muhamamd bin S{a>lih}. 1415 H. al-Qawlu al-Mufi>d ‘ala> Kita>b al-Tawh}i>d. Riyadh: Da>r al-‘As}imah

Ibnu Katsi>r, Abu> al-Fida>’ Isma>‘i>l. 1421 H. Tafsi>r al-Qura>n al-‘Az}i>m. tahqiq: Mus}t}a>fa> Sayyid Muh}ammad dkk. Ji>zah: Muasasah Qurt}ubah

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects : Makna Kata