ARTIKEL ILMIAH
PENINGKATAN KETERAMPILAN SMASH BOLA VOLI
DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA ALAT BANTU
(Penelitian Tindakan Pada Siswa Ekstrakurikuler Bola Voli
di SMKN 1 Sagaranten Kabupaten Sukabumi)
TAUFIK JAMIL 7216157111
PASCASARJANA
SMASH'S SKILL STEP-UP VOLLEYBALL BY USE OF TOOL
MEDIA HELPS
(Action research On Volleyballs Extracurricular Student at SMKN 1 Sagaranten Sukabumi's Regency)
TAUFIK JAMIL
ABSTRAC
This research intent to know increase smash’s skill training result volleyball by use of tool media helps on volleyballs extracurricular student SMKN 1 Sagaranten. Total subjek its research as much 25 students. Observational method that is utilized is action observational method by design from kemmis and McTaggart. This research consisting of two cycles, and each cycle consisting of eight meet times. Each appointment final is done essays, essay that is utilized is essay smash's skill volleyball. Acquired observational result is at the moment essay pre complete student cycle is 44,00%, hereafter on cycle i. to increase becomes 68,00%, then on cycle II. thoroughness attainment zoom student increases to become 84,00%. Therefore on cycle II. success criterion was reached, therefore researcher not necessarily drawn out research on next cycle. Thus can be concluded that training utilizes tool media help to get increase smash's skill result volleyball on SMKN'S extracurricular student 1 Sagaranten Sukabumi's Regency.
PENINGKATAN KETERAMPILAN SMASH BOLA VOLI DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA ALAT BANTU
(Penelitian Tindakan Pada Siswa Ekstrakurikuler Bola Voli di SMKN 1 Sagaranten Kabupaten Sukabumi)
TAUFIK JAMIL
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui meningkatkan hasil latihan keterampilan smash bola voli dengan menggunakan media alat bantu pada siswa ekstrakurikuler bola voli SMKN 1 Sagaranten. Jumlah subjek penelitiannya sebanyak 25 orang siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian tindakan dengan desain dari Kemmis dan McTaggart. Penelitian ini terdiri dari dua siklus, dan setiap siklus terdiri dari delapan kali pertemuan. Setiap akhir pertemuan dilakukan tes, tes yang digunakan adalah tes keterampilan smash bola voli. Hasil penelitian yang diperoleh adalah pada saat tes pra siklus siswa yang tuntas adalah 44,00%, selanjutnya pada siklus I meningkat menjadi 68,00%, kemudian pada siklus II tingkat pencapaian ketuntasan siswa meningkat menjadi 84,00%. Oleh karena itu pada siklus II kriteria keberhasilan telah tercapai, maka peneliti tidak perlu melanjutkan penelitian pada siklus berikutnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa latihan menggunakan media alat bantu dapat meningkatkan hasil keterampilan smash bola voli pada siswa ekstrakurikuler SMKN 1 Sagaranten Kabupaten Sukabumi.
Kata Kunci: Keterampilan Smash Bola Voli, Media Alat Bantu
Pendahuluan
Selama mengikuti aktvitas belajar banyak yang dialami dan dirasakan oleh para siswa. Situasi yang mungkin baru dirasakan, mulai dari perubahan lingkungan, teman baru, suasana pergaulan dalam konteks bermain yang menyenangkan sehingga situasi kedisiplinan, kerjasama dan tanggung jawab yang dirasakan terkadang begitu mengikat. Aktivitas belajar dalam kurikulum 2013 terkadang cukup lama hingga sore hari, proses belajar yang monoton, membosankan, serta menyulitkan. Hal ini mempengaruhi minat siswa dalam mengikuti kegiatan esktrakurikuler di waktu yang tersisa sedikit. Oleh karena itu sangat dibutuhkan sekali suatu terobosan baru dalam menyusun strategi dan metode latihan/ pembelajaran ekstrakurikuler.
Nana Sudjana (2012:4) menjelaskan bahwa penelitian tindakan adalah “Kegiatan mengumpulkan, mengolah, dan menyimpulkan data yang diperoleh dari suatu tindakan tertentu yang sengaja direncanakan dan dilaksanakan berulang-ulang untuk melihat efektif tidaknya tindakan tersebut.”
Penelitian tindakan mempunyai keunikan dan karakteristik sendiri Kusnandar menjelaskan bahwa: “penelitian tindakan memiliki beberapa karakteristik, yaitu: 1) On-the job problem Oriented; 2) Problem solving oriented; 3) Improvement-oriented; 4) Cyclic; 5) Action oriented; 6) Specific contextual; 7) Partisipatory (collaborative); 8) Penelitian sekaligus sebagai praktisi yang melakukan refleksi”.
kontinius terarah sesuai dengan tujuan dan tentu saja terprogram dengan baik.
Pendapat mengenai konsep belajar yaitu Slameto (2015:2) dalam belajar dan factor-faktor yang mempengaruhinya mengatakan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil dari pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Belajar gerak merupakan studi tentang kemampuan motoric, peningkatan performa keterampilan motorik dipelajari atau sangat berpengalaman, untuk peroleh keterampilan yang sulit melakukan atau tidak dapat dilakukan karena cedera, penyakit, dan sejenisnya. Richard (2007:2) menjelaskan belajar gerak adalah pembelajaran tentang bagaimana fungsi system neuromuscular untuk mengaktifkan dan mengkoordinasikan otot-otot dan anggota badan yang terlibat dalam kinerja keterampilan motorik.
Schmidt (2008:11) memberikan gambaran yang lebih jelas tentang hal ini. Menurutnya, bahwa “motor learning is the changes associated with practice or experiences in internal process that determine the person's capability for producing a motor skill”.
lingkungan belajar yang sehat yang dapat diatur secara baik, aktif dan kompetitiif didesain untuk dapat meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan seluruh kesehatan jasmani siswa, baik secara psikomotor, kognitif, dan afektif bagi setiap siswa menurut Samsudin (2008:2) dalam bukunya menyatakan “pendidikan jasmani adalah suatu proses pembelajaran melalui aktivitas jasmani yang di desain untuk meningkatkan kebugaran jasmani, mengembangkan keterampilan motorik, pengetahuan dan perilaku hidup sehat dan aktif, sikap sportif, dan kecerdasan emosi”.
meningkatkan kemungkinan keberhasilan dalam berpartisipasi, dan c) Siswa dapat melakukan pola gerak secara benar”. Menggunakan pendekatan ini, siswa akan mengikuti pembelajaran pendidikan jasmani dengan senang dan gembira karena pendekatan ini mempertimbangkan tahap-tahap perkembangan dan karakteristik siswa
Selanjutnya Kenny (2006:33) mengatakan bahwa “The forearm pass and the serve are the two most omportan skills in volley ball. Without the serve and pass, the ball cannot be put into play
Berkaitan dengan perkembangan olahraga permainan bola voli, Bactiar dkk (2007:1.15). Mengemukakan pendapatnya sebagai berikut.
Jika kita amati perkembangan bola voli ini dari masa ke masa selalu meningkat. Hal ini disebabkan oleh karena: 1) olahraga bola voli dapat menjadi olahraga rekreasibagi setiap orang dengan basis massa yang luar biasa; 2) olahraga bola voli dapat menjadi olahraga tontonan yang mempesona, menggairahkan dan menarik hati penonton; 3) olahraga bola voli cocok bagi anak-anak. Pengembangan olahraga ini di sekolah maupun di luar sekolah akan dapat memikat para remaja. Dengan demikian masa depan perkembangan bola voli akan tetap cerah, popularitasnya akan terus meningkat.
Hasil latihan keterampilan smash bola voli dengan menggunakan media alat bantu membuat siswa lebih antusias dan termotivasi pada saat proses latihan berlangsung. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan smash bola voli dengan menggunakan media alat bantu pada siswa ekstrakurikuler bola voli di SMKN 1 Sagaranten Kabupaten Sukabumi.
1. Konsep Belajar
kebiasaana serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada individu yang belajar. Pada intinya pengertian dari belajar adalah merupakan suatu prosedur kegiatan yang dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahan pada dirinya. Menurut Rusmono (2012:10) belajar adalah “ perubahan perilaku individu yang meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotor yang diperoleh setelah siswa menyelesaikan program pembelajarannya melalui interaksi dengan berbagai sumber belajar dan lingkungan belajar”.
2. Konsep Belajar Gerak
Menurut Albert Gollhofer (2012:9), di dalam bukunya dijelaskan bahwa belajar gerak merupakan Teori control yang optimal, ditambah dengan perkiraan keadaan, menyediakan kerangka kerja yang kuat untuk menggambarkan koordinasi yang lebih dari tugas belajar di mana kita sudah ahli. Dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses untuk menjadi lebih baik berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang bertambah.
Tahapan dalam mempelajari keterampilan motoric/gerak melalui tahapan menurut Fits dan Posner Model mengidentifikasi tiga tahap dalam kemampuan motorik: kognitif, asosiatif, dan otonom. Model ini merupakan pendekatan teoritis kognitif untuk mengklasifikasikan tahap belajar, dengan perkembangan dari deklaratif ke memori prosedural untuk menjelaskan perubahan perilaku yang dapat diamati dalam setiap tahapnya. Setiap tahap menyajikan pembelajaran dengan seperangkat masalah unik, dan peran memori, sementara kognisi dipandang sebagai kunci dalam memecahkan masalah-masalah.
phases) when they practice a skill: a cognitive stage in which emphasis is on discovering what to do, a fixation stage in which the concern is with perfecting the movement patterns, and an autonomous stage in which the atlentional requirements of the movement appear to be reduced or even eliminated.
3. Pembelajaran dalam Pendidikan Jasmani
Menurut Ega Trisna Rahayu (2012:7) bahwa “Pendidikan jasmani adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas jasmani yang direncanakan secara sistematik bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan individu secara organik, neuromuskuler, perseptual, kognitif, dan emosional, dalam kerangka pendidikan nasional”. Jadi dapat disimpulkan bahwa gerak dasar peserta didik dalam perkembangan motorik dalam pendidikan jasmani direncanakan untuk pendidikan jasmani itu berhasil dengan baik..
4. Pengertian Media Pembelajaran
Media berasal dari bahasa latin merupakan bentuk jamak dari medius, secara harfiah yang berarti perantara atau pengantar. Azhar Arsyad (2007:27), dalam proses belajar mengajar disekolah media berarti sebagai sarana yang berfungsi menyalurkan dari guru atau peserta didik. Salah satu manfaat praktis media pembelajaran dalam proses belajar mengajar sebagai berikut :
1. Media pembelajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar 2. Media pembelajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak
sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar, interaksi yang lebih langsung antara siswa dan lingkungannya, dan kemungkinan siswa untuk belajar sendiri-sendiri sesuai dengan kemampuan dan minatnya.
3. Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan indera, ruang dan waktu 4. Media pembelajaran dapat memberikan kesamaan pengalaman kepada siswa
misalnya melalui karya wisata. Kunjungan-kunjungan ke museum atau kebun binatang.
Selanjutnya Samsudin (2014:130) mengemukakan pendapat Aussie dalam bukunya sebagai berikut:
Pengembangan modifikasi di Australia dilakukan dengan pertimbangan a) Anak-anak belum memiliki kematangan fisik dan emosional seperti
orang dewasa
b) Berolahraga dengan peralatan dan peraturan yang dimodifikasi akan mengurangi cidera pada anak
c) Olahraga yang dimodifikasi akan mampu mengembangkan keterampilan anak lebih cepat disbanding dengan peralatan standard untuk orang dewasa
d) Olahraga yang dimodifikasi menumbuhkan kegembiraan dan kesenangan pada anak-anak dalam situasi kompetitif.
Modifikasi tujuan pembelajaran menurut Yoyo Bahagia dan Sufyar Mujianto (2014:30) dapat dikaitkan dengan cara membagi tujuan maateri kedalam tiga komponen, yakni:
1) Tujuan perluasan maksudnya adalah tujuan pembelajaran yang lebih menekankan pada perolehan pengetahuan dan kemampuan melakukan bentuk dan wujud keterampilan yang dipelajarinya tanpa memperhatikan aspek efisiensi dan efektifitas.
2) Tujuan penghalusan maksudnya adalah tujuan pembelajaran yang lebih menekankan pada perolehan pengetahuan dan kemampuan melakukan efisiensi gerak atau keterampilan yang dipelajarinya.
3) Tujuan penerapan maksudnya adalah tujuan pembelajaran yang lebih menekankan pada perolehan pengetahuan dan kemampuan melakukan efektivitas gerak atau keterampilan yang dipelajarinya.
Teknik dasar bola voli pada dasarnya merupakan suatu upaya seorang pemain untuk memainkan bola berdasarkan peraturan dalam permainan bola voli. Teknik dalam permainan bola voli merupakan aktivitas jasmani yang menyangkut cara memainkan bola dengan efektif dan efisien sesuai peraturan permainan yang berlaku untuk mencapai suatu hasil yang optimal. Menurut Toto Subroto dan Yunyun Yudiana (2012:45) untuk dapat melaksanakan seluruh teknik bermain bola voli, minimal pemain harus memiliki enam keterampilan teknik dasar yang dikuasai, yaitu: (a) Sikap penjagaan dan cara bergerak kearah bola, (b) Passing dan umpan, (c) Spike, (d) Bendungan, (e) Servis, (f) Penyelamatan bola.
Keterampilan Smash Bola Voli
Menurut Toto Subroto dan Yunyun Yudiana (2013:56-57) Smash/ Spike merupakan salah satu bentuk teknik serangan yang paling efektif selama
permainan. Bola dipukul diatas depan dekat net yang mengakibatkan bola jatuh
menukik tajam ke bidang lapangan lawan, sehingga lawan sulit
mengembalikannya, bahkan sering langsung mematikan. Smash atau spike merupakan salah satu teknik serangan yang mempunyai rangkaian gerak yang
kompleks, yaitu (1) langkah persiapan atau awalan, (2) tolakan atau lompatan,
(3) memukul bola saat melayang di udara, dan (4) mendarat. Proses gerak
keseluruhan dalam spike dapat diuraikan sebagai berikut; dengan anggapan
spiker menggunakan tangan kanan dan spike dilakukan dari posisi empat. Metode Penelitian
model Kurt Lewin. Secara mendasar tidak ada perbedaan yang perinsip antara keduanya. Model ini banyak dipakai karena sederhana dan mudah dipahami. Rancangan Kemmis & Taggart dapat mencakup sejumlah siklus, masing-masing terdiri dari tahap-tahap: perencanaan (plan), pelaksanaan dan pengamatan (act dan observe), dan refleksi (reflect), (Sukardi, 2012:8). James Tangkudung (2016:32) menjelaskan tahapan-tahapan ini berlangsung secara berulang-ulang, sampai tujuan penelitian tercapai. Penelitian ini dilaksanakan di SMKN 1 Sagaranten Kabupaten Sukabumi yang berjumlah 25 siswa.
Hasil Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah nilai rata-rata pada siklus I adalah 73.75, dengan presentase tingkat ketuntasan mencapai 68.00%. Kemudian jumlah nilai rata-rata pada siklus II adalah 79.5, dengan presentase 84.00%. Maka dari itu, pemberian tindakan hanya sampai siklus II tanpa dilanjutkan ke siklus berikutnya dikarenakan sudah tercapainya tingkat ketuntasan siswa di atas 80% dalam latihan keterampilan smash bola voli. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa media alat bantu dapat meningkatkan hasil latihan keterampilan smash bola voli pada siswa ekstrakurikuler di SMKN 1 Sagaranten Kabupaten Sukabumi.
Penerapan latihan dengan menggunakan media alat bantu ternyata efektif dalam proses latihan keterampilan smash bola voli. Selain itu, dapat menimbulkan antusias dan termotivasi siswa dalam latihan yang lebih baik.
Tabel Hasil Perbandingan Siklus I dan Siklus II Penilaian keterampilan smash bola voli
No Ketuntasan
Nilai Ketu ntasan Ekstrakuri
kuler
SIKLUS 1 SIKLUS II
F % F %
1. Tuntas ˃ 75,00 17 68,00 21 84,00
2. Tidak Tuntas ˂ 75,00 8 32,00 4 16,00
Jumlah 25 100 25 100
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari diagram di bawah ini:
Grafik Perbandingan Penilai Keterampilan Smash Bola Voli Siklus I & Siklus II
0 2 4 6 8 10 12 14 16
KESIMPULAN
yang diperoleh dapat dilihat peningkatan rerata nilai yang diperoleh oleh siswa pada Pra Siklus, Siklus I, dan Siklus II. Pada Pra Siklus siswa yang tuntas adalah 44,00%, Pada Siklus I naik menjadi 68,00%, dan pada Siklus II meningkat menjadi 84,00%. Hal ini menunjukan bahwa dengan latihan menggunakan media alat bantu pada siswa ekstrakurikuler bola voli SMKN 1 Sagaranten mengalami peningkatan. 2). Penerapan media alat bantu dalam proses kegiatan latihan pada keterampilan smash bola voli yang dikemas sedemikian rupa dapat menimbulkan hasil latihan yang lebih baik, karena siswa merasa semangat dalam mengikuti latihan keterampilan smash.
IMPLIKASI
Berdasarkan hasil temuan dan kesimpulan dari hasil penelitian kolabolator dan peneliti maka dapat dikemukakan beberapa implikasi sebagai berikut: 1). Penerapan media alat bantu dalam latihan keterampilan smash bola voli merupakan salah satu alternative dalam upaya memecahkan beberapa masalah yang dihadapi oleh siswa. Salah satunya adalah upaya peningkatan keterampilan smash dalam permainan bola voli adalah salah satu teknik penyerangan. 2). Dalam setiap penerapan media alat bantu latihan, guru/pelatih harus mampu menciptakan suasana latihan yang kondusif agar hubungan interaktif antara siswa dengan guru/pelatih, siswa dengan siswa dapat terwujud sehingga suasana latihan menjadi aantusias dan semangat. Guru/pelatih harus mampu menjadi contoh dan teladan bagi siswanya, bukan hanya berupa kata-kata tetapi merupakan perbuatan nyata sehari-hari yang bisa menjadi panutan bagi siswa. 3). Dengan penerapan media alat bantu latihan siswa lebih termotivasi dan serius dalam mengikuti proses kegiatan latihan, karena sebelum proses latihan dimulai guru/pelatih dan siswa sudah membuat dan menyepakati aturan-aturan yang dibuat bersama.
Arsyad, Azhar. Media Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007.
Bahagia, Yoyo dan Sufyar Mujianto, Fasilitas dan Perlengkapan Penjas. Bandung: Jurusan Pendidikan Olahraga FKIP UPI Bandung, 2009.
Gollhofer, Albert. Wolfgang Taube, Jen Bo Nielsen, Routledge Hanbook of Motor Control and Motor Learning New York: Routledge, 2012.
Magill,Richard A. Motor Learning and Control Eight Edition, USA: McGraw-Hill, 2007.
Rusmono, Strategi Pembelajaran dengan Problem Based Learning itu Perlu, Jakarta, Ghalia Indonesia, 2012.
Samsudin, Media Pembelajaran Pendidikan Jasmani. Jakarta: Litera Prenada Media Group, 2014.
Samsudin, Pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan SD/MI. Jakarta: Prenada Media Group, 2008.
Schmidt, Richard A & Craig A. Wrisberg Motor Learning and Performance, Human Kinetics; Champaign, IL, 2008..
Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya, Jakarta, Reneka Cipta, 2015.
Tangkudung, James Metode Penelitian, Jakarta: Lensa Media Pustaka, 2016.
Bonnie Kenny, Volleyball Step to Success, (United States: Human, 2006)
Bachtiar, dkk. Permainan Besar II Bola Voli dan Bola Tangan. (Jakarta: Universitas Terbuka, 2007).
Nana Sudjana, Menyusun Karya Tulis IImiah Berbasis Penelitian Tindakan, (Bekasi: Binamitra-Publising, 2012).