FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS GADJAH MADA
Laporan Tugas Mata Kuliah Perencanaan Pariwisata
Perencanaan Pengembangan Kawasan Bukit Parangendog Sebagai Pendukung Wisata Minat Khusus
disusun oleh: Kelompok 8
1. RL. Adepa Imarna (11/318574/SA/16095)
2. Abdurrahman Milzam I.A. (11/320201/SA/16209) 3. Hanggara Hendrayana (11/318475/SA/16008) 4. Raditya Yogatama (11/319972/SA/16185) 5. Lini Widya Khoirunisa (11/318489/SA/16022)
HALAMAN JUDUL DAFTAR ISI
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang . . . 2
1.2 Masalah Penelitian . . . .3
1.3 Tujuan Penelitian. . . 3
1.4 Lokus dan Fokus Penelitian. . . .4
1.5 Metode Penelitian. . . 4
1.5.1 Tipe Penelitian. . . 4
1.5.2 Sumber Data. . . .4
1.6 Landasan Teori. . . .5
1.6.1 Teori Perencanaan kawasan wisata. . . .5
1.6.2 Teori Wisata Minat Khusus. . . 6
1.6.3 Teori Sport Tourism Destination. . . .7
II. Pembahasan. . . .7
2.1 Temuan data. . . 7
2.2 Analisis Data. . . ..9
2.3 Hasil Penelitian. . . 12
2.3.1 Tahapan Pengembangan Kawasan Bukit Parangendog berdasarkan teori TALC. . . 12
2.3.2 Tahapan Pengembangan Kawasan Bukit Parangendog berdasarkan Teori elemen Pariwisata 4A . . . .15
2.4 Analisis Strategi Pengembangan Kawasan Bukit Parangendog . . . 15
2.5 Rekomendasi Pengembangan Kawasan Bukit Parangendog . . . .21
III.Penutup . . . .26
3.1 Kesimpulan. . . 26
3.2 Saran . . . 27
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Sektor pariwisata hingga saat ini masih merupakan alternatif dalam memberikan sumbangan dalam meningkatkan perekonomian daerah. Bagi daerah yang memiliki potensi wisata andalan akan selalu memperhartikan dalam perencanaan dan pengembangannya. Demikian pula pada Daerah Istimewa Yogyakarta yang hingga saat ini masih merupakan salah satu destinasi wisata favorit bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki berbagai jenis wisata yang ditawarkan, baik wisata budaya, arsitektur, kuliner, belanja, alam serta minat khusus. Yogyakarta disamping dikenal sebagai sebutan kota perjuangan, pusat kebudayaan dan pusat pendidikan juga dikenal dengan kekayaan potensi pesona alam dan budayanya sampai sekarang dan masih tetap merupakan daerah tujuan wisata yang terkenal di Indonesia dan Mancanegara. Dengan kesungguhan untuk menjaga kelestarian alam dan lingkungan yang berkelanjutan, maka keberadaan kemegahan candi Prambanan dan Ratu Boko, Keraton Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat, Kota Tua Kota Gedhe, Makam Raja-raja Mataram Kota Gedhe, museum, dan adat-istiadat serta kesenian tradisionalnya dll, sampai sekarang masih terjaga/lestari. Begitu juga dengan potensi keindahan alam daerah Yogyakarta yang tidak kalah mempesona, seperti kawasan Kaliurang dan gunung Merapi, puncak Suroloyo/bukit Menoreh, gunung Gambar, pegunungan Karst, Gumuk Pasir, Desa Wisata, maupun keindahan pantai selatan (pantai Kukup, Baron, Krakal, Kukup, Siung, Parangtritis, Ngrenehan, Sundak, Sadeng dll) (Dinpar DIY, 2012: xii). Salah satu destinasi wisata yang hingga saat ini menjadi favorit wisatawan yakni kawasan Parangtritis.
Kawasan Parangtritis memiliki banyak potensi dan komponen wisata, diantaranya yaitu; pemandangan alam laut dan pantai, gumuk pasir di seitar pantai, nilai mitos dan kepercayaan masyarakat lokal yang masih sangat kental, bukit karst, serta atraksi di sekitar pantainya. Kawasan Parangtritis terdiri dari beberapa objek wista yaitu Pantai Parangtritis, Pantai Depok, Cepuri Watu Gilang, Pantai Parangendog, Makam Syeikh Bela Belu, Makam Syeikh Maulana Maghribi, Monumen Pangsar Sudirman, Parangtritis Park, Pemandian Parangwedang, Kolam Renang Parangtritis, Serta Gumuk Pasir dan Laboratorium Geospasial. (Dinpar Kabupaten Bantul, 2007).
Pada kawasan bukit parangendog, terdapat potensi wisata minat khusus yang hingga saat ini telah berjalan meskipun belum adanya perhatian pemerintah untuk melakukan pengembangan. Kegiatan wisata minat khusus yang hingga saat ini telah berjalan mayoritas merupakan jenis wisata olahraga dan petualangan (sport and adventure tourism) yaitu panjat tebing, paralayang, gantole dan sepeda gunung.
1.2 Masalah Penelitian
1) Apakah yang dapat diidentifikasikan sebagai faktor kekuatan dan faktor kelemahan utama, baik faktor internal maupun faktor eksternal, yang berpengaruh terhadap pengembangan Kawasan Bukit Parangendog jika dijadikan sebagai objek dan daya tarik wisata minat khusus?
2) Sudah sejauh manakah tahapan pengembangan Kawasan Bukit Parangendog berdasarkan teori Tourism Area Life Cycle (TALC) ?
3) Bagaimanakah strategi kebijakan yang tepat dalam pengembangan Kawasan Bukit Parangendog mengacu pada analisis faktor internal dan eksternal serta elemen-elemen pariwisata 4A (Attraction, Amenity, Accessibility, Anchelary Service) yang ada di dalamnya?
4) Bagaimanakah perencanaan yang tepat pada pengembangan infrastruktur kawasan bukit parangendog sebagai pendukung kegiatan wisata minat khusus?
1.3 Tujuan Penelitian
1) Menganalisis faktor-faktor yang berkaitan dengan pengembangan Kawasan Bukit Parangendog jika dijadikan sebagai objek dan daya tarik wisata minat khusus, baik dari faktor internal maupun faktor eksternal berupa kekuatan (strength), kelemahan (weakness), kesempatan (opportunity) maupun ancaman (threat).
2) Menganalisa sejauh mana tahapan pengembangan Kawasan Bukit Parangendog berdasarkan teori Tourism Area Life Cycle (TALC)
3) Merumuskan strategi kebijakan pengembangan Kawasan Bukit Parangendog mengacu pada analisis faktor internal dan eksternal serta elemen-elemen pariwisata 4 A (Attraction, Amenity, Accessibility, Anchelary Service) yang ada di dalamnya. 4) Memberikan rekomendasi perencanaan pengembangan infrastruktur kawasan bukit
parangendog sebagai pendukung kegiatan wisata mina khusus.
1.4 Lokus dan Fokus Penelitian
- Lokasi Penelitian ini dilakukan di bukit Parangendog yang termasuk pada bagian kawasan Parangendog, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul, DIY, Indonesia. - Fokus penelitian ini yaitu pada perencanaan infrastruktur berdasarkan konsep
destinasi oleh Cooper (1995) berupa amenity, accessibility dan anchelary service
1.5 Metode Penelitian 1.5.1 Tipe Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode observasi, yaitu peneliti menggunakan cara mengumpulkan data dengan jalan melakukan pengamatan dan pencatatan dengan sistematis terhadap fenomena-fenomena yang diselidiki (Sutino Hadi, 1989 : 36) di Kawasan Bukit Parangendog, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul Yogyakarta. Instrumen kunci dalam penelitian ini adalah Peneliti sebagai alat penelitian, artinya peneliti sebagai alat utama pengumpul data dengan metode pengumpulan data berdasarkan observasi yaitu teknik yang menuntut adanya pengamatan dari si peneliti baik secara langsung ataupun tidak langsung terhadap obyek penelitiannya (Umar, 2000: 51).
1.5.2 Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Data Primer.
Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumbernya dan baru pertama kalinya diolah. Data primer ini ini meliputi data tanggapan responden terhadap kondisi Kawasan Bukit Parangendog terkini. Metode yang digunakan untuk mendapatkan data primer adalah melalui observasi ke lapangan untuk mengadakan wawancara kepada responden yakni penjual di warung sekaligus salah satu pengelola di Kawasan Bukit Parangendog.
2. Data Sekunder.
Data sekunder adalah data yang telah diolah oleh pihak lain di luar penelitian ini, yaitu data yang telah diolah oleh instansi terkait dengan penelitian, seperti Data Statistik Kawasan Parangtritis, RTOW Kawasan Parangtritis, dan RIPPDA Kabupaten Bantul. Metode yang digunakan untuk mendapatkan data sekunder adalah metode dokumentasi, yaitu dengan mempelajari dokumen dari instansi tersebut di atas.
1.6 Landasan Teori
1.6.1 Teori Perencanaan Kawasan Wisata
Perencanaan merupakan suatu proses pengambilan keputusan tentang hari depan yang dikehendaki. Perencanaan adalah suatu usaha untuk memikirkan masa depan (cita-cita) secara rasional dan sistematik dengan cara memanfaatkan sumber daya yang ada serta memperhatikan kendala (constrain) dan keterbatasan (limitation) seefisien dan seefektif mungkin (Paturusi, 2008).
berdasar pemantauan dan umpan balik dalam kerangka pencapaian tujuan dan kebijakan pengembangan pariwisata.
Kegiatan perencanaan pengembangan Kawasan Bukit Parangendog merupakan kegiatan yang bersifat lintas sektoral yang berdampak terhadap masyarakat dan lingkungan hidup. Beberapa peraturan perundang-undngan yang perlu sebagai bahan pertimbangan antara lain adalah;
- UU No.10 Tahun 2009 tentang kepariwisataan, pasal 1
Ayat 5. Daya Tarik Wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan. Ayat 6. Daerah tujuan pariwisata yang selanjutnya disebut Destinasi Pariwisata adalah
kawasan geografis yang berada dalam satu atau lebih wilayah administratif yang di dalamnya terdapat daya tarik wisata, fasilitas umum, fasilitas pariwisata, aksesibilitas, serta masyarakat yang saling terkait dan melengkapi terwujudnya kepariwisataan.
Pasal 8
(1) Pembangunan kepariwisataan dilakukan berdasarkan rencana induk pembangunan kepariwisataan yang terdiri atas rencana induk pembangunan kepariwisataan nasional, rencana induk pembangunan kepariwisataan provinsi, dan rencana induk pembangunan kepariwisataan kabupaten/kota.
(2) Pembangunan kepariwisataan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan bagian integral dari rencana pembangunan jangka panjang nasional.
- Undang-undang No. 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang; digunakan sebagai acuan penataan ruang pasal 1
Ayat 13. Perencanaan tata ruang adalah suatu proses untuk menentukan struktur ruang dan pola ruang yang meliputi penyusunan dan penetapan rencana tata ruang.
Ayat 20. Kawasan adalah wilayah yang memiliki fungsi utama lindung atau budi daya.
1.6.2 Teori Wisata Minat Khusus
Beberapa Kategori wisata minat khusus dijelaskan dalam 80 TURIZAM | Volume 15, Issue 2, 77-89 (2011) diantaranya :
a) Adventure tourism b) Rural Tourism; c) Cultural tourism; d) Religious tourism; e) Ecotourism;
f) Culinary tourism; g) Wildlife tourism; h) Heritage tourism; i) Medical tourism.
Menurut kamus industry perjalanan, adventure tourism adalah “perjalanan rekreasi yang dilakukan dalam jarak jauh untuk menemukan destinasi wisata yang eksotis dengan tujuan untuk melakukan eksplorasi atau melakukan kegiatan yang keras”. Program dan kegiatan dengan implikasi tantangan, ekspedisi penuh kejutan, yang melibatkan perjalanan berani dan tak terduga. Climbing, caving, safari jeep adalah contoh dari adventure tourism.
1.6.3 Teori Sport Tourism Destination
Gammon and Robinson (1997) mengatakan bahwa Sport tourism is Individuals and/or groups of people who actively of passively participate in competitive or recreational sport while travelling. Sport is the prime motivation to travel, although the touristic element may reinforce the overall experience.
Gibson (1997) juga mengatakan bahwa sport tourism includes travel away from one’s primary residence to participate in a sport activity for recreation or competition, travel to observe sport at the grassroots or elite level, and travel to visit a sport attraction such as a sport hall of fame or a water park.
Standeven & De Knop (1999) mengungkapkan, Sport (olahraga) adalah “The whole range of competitive and non competitive active pursuits that involve skill, strategy and/or chance in which human beings engage, at their own level, simply for enjoyment and training or to raise their performance to levels of publicly acclaimed excellence.”
bahwa sifat alami olahraga yang mana “pengalaman dari aktivitas fisik sangat berkaitan dengan tempat dimana pengalaman itu dilakukan”.
Di mana tingkat wisatawan menemukan tempat yang menarik sangat dipengaruhi oleh lingkungan fisik, termasuk lansekap dan iklim ((Krippendorf 1986) dalam Hinch dan Higham 2004). Terbukti dengan banyak olahraga terkait erat dengan fisik dari tujuan.
2 PEMBAHASAN
2.1 Temuan Data
Parangendog merupakan sebuah tempat di kecamatan Kretek, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (25 kilometer sebelah selatan Kota Yogyakarta). Parangendog adalah bagian dari kawasan wisata Parangtritis yang terletak di sudut paling ujung. Parangendog merupakan sebuah bukit yang menjulang tinggi dengan berbagai potensi wisata di dalamnya yang dapat dikembangkan. Beberapa potensi wisata di bukit Parangendog termasuk potensi wisata yang berbeda dengan potensi wisata di daerah-daerah lain.
Potensi wisata yang pertama adalah wisata minat khusus yaitu wisata olahraga. Wisata olahraga di Yogyakarta belum dikembangkan oleh pemerintah maupun pihak swasta. Wisata olahraga memang bukanlah wisata yang familiar di Yogyakarta tidak seperti wisata alam maupun wisata budaya yang melekat pada daerah ini. Namun dengan melihat potensi yang ada wisata olahraga bisa dikembangkan menjadi sebuah wisata alternatif di wilayah Yogyakarta.
Wisata olahraga yang cocok dikembangkan di bukit Parangendog adalah paralayang dan gantole. Terletak di sebuah perbukitan, Parangendog merupakan tempat yang cocok untuk menerbangkan paralayang dan gantole. Di Yogyakarta, Parangendog merupakan salah satu tempat terbaik untuk bermain paralayang dan gantole. Angin untuk menerbangkan paralayang dan gantole berhembus sangat baik di bukit Parangendog. Namun untuk menerbangkan paralayang dan gantole tidak setiap saat bisa dilakukan. Waktu terbaik untuk menerbangkan paralayang dan gantole adalah ketika angin musim barat.
untuk lepas landas ini cukup luas sehingga aman untuk pilot-pilot yang akan menerbangkan paralayang dan gantole.
Potensi wisata olahraga lain yang dapat dikembangkan adalah panjat tebing. Kontur dari Parangendog yang berbukit-bukit menjadikan tempat ini sebagai tempat favorit untuk melakukan panjat tebing. Terdapat 3 spot panjat tebing di Parangendog dengan berbagai ketinggian. Ketinggian tebing tebing berkisar 25 sampai 50 meter dengan tingkat kesulitan yang bervariasi dari mudah sampai sulit. Dengan berbagai ketinggian dan tingkat kesulitan yang variatif menjadi sebuah kelebihan tempat ini. Berbagai kalangan dapat memanjat tebing baik pemula hingga profesional sesuai dengan tingkat ketinggian dan kesulitan tebing ini. Untuk saat ini pemanjat tebing di bukit Parangendog rata-rata adalah komunitas-komunitas pecinta alam baik di tingkat pelajar, mahasiswa maupun umum.
Keindahan alam dan pantai menjadi background ketika melakukan panjat tebing di Parangendog. Pemanjat tebing disuguhi birunya air laut ketika melakukan panjat tebing di tebing bagian selatan. Sedangkan dibagian lain pemanjat tebing mendapatkan view berupa pemandangan alam khas perbukitan. Kondisi geografis yang indah menjadi sebuah nilai plus bagi panjat tebing di Parangendog.
Selain wisata olahraga terdapat potensi wisata yang dapat dikembangkan yaitu sunset spot. Spot sunset terletak satu lokasi dengan lepas landas paralayang dan gantole sehingga untuk mencapai lokasi ini memang sulit karena harus menaiki banyak anak tangga. Di tempat ini pengunjung dapat menikmati keindahan matahari yang terbenam di sore hari. Matahari seakan-akan tenggelam ke laut secara perlahan – lahan ketika sore hari.
Penikmat sunset di Parangendog terhitung cukup banyak. Rata-rata pengunjungnya adalah anak-anak muda dan wisatawan asing. Anak-anak muda yang menikmati sunset biasanya datang bersama pasangannya sambil membawa makanan dan minuman. Satu hal yang cukup disayangkan adalah sampah bekas tidak dibuang pada tempatnya. Kesadaran tentang kesehatan lingkungan cukup rendah selain tidak adanya tempat sampah yang menjadi faktor penyebab banyaknya sampah disini. Wisatawan asing yang datang untuk menikmati sunset biasanya datang dibawa oleh travel agent yang ada di Jogja. Menikmati sunset di Parangendog adalah salah satu paket wisata yang ada di dalam travel agent tersebut.
Penelitian ini akan menggunakan metode analisis SWOT sebagai cara merumuskan strategi kebijakan perencanaan kawasan Bukit Parangendog. Analisis SWOT yaitu data yang diperoleh melalui observasi ke lokasi penelitian kemudian dianalisa dan dikaji dengan cara menganalisis faktor lingkungan internal (kekuatan, kelemahan), dan faktor lingkungan eksternal (peluang, ancaman) yang ada, atau dengan menggunakan analisis SWOT, selain daripada itu juga analisis tersebut digunakan untuk mengetahui peluang usaha yang dapat digali di kawasan bukit parangendog. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (stengths), dan peluang (opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats) (Rangkuti, 2006: 18) .
Diagram SWOT dapat dilihat pada gambar di bawah, yaitu :
Peluang Mendukung Strategi
“Turn Around”
Mendukung strategi “Agresif”
Kelemahan Internal
Kekuatan Internal Mendukung Strategi
“Difensif”
Mendukung strategi “diversivikasi” Ancaman
Gambar 5. Diagram Cartesius Analisis SWOT
Sumber: Rangkuti (2006:19)
Keterangan gambar :
o Kuadran 1:
Ini merupakan situasi yang sangat menguntungkan. Perusahaan tersebut memiliki peluang dan kekuatan, sehingga dapat memanfaatkan peluang yang ada. Strategi yang harus diterapkan dalam kondisi ini adalah mendukung kebijakan pertumbuhan yang agresif (Grouth oriented strategy).
Meskipun menghadapi berbagai ancaman, perusahaan ini masih memiliki kekuatan dari segi internal. Strategi yang harus diterapkan adalah menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang jangka panjang dengan cara strategi diversifikasi usaha (produk/pasar).
o Kuadran 3 :
Perusahaan menghadapi peluang pasar yang sangat besar, akan tetapi dilain pihak menghadapi beberapa kendala/kelemahan internal. Strategi yang harus diterapkan adalah meminimalkan masalah internal perusahaan sehingga dapat merebut peluang pasar yang lebih baik.
o Kuadran 4 :
Ini merupakan situasi yang sangat tidak menguntungkan, perusahaan tersebut menghadapi berbagai ancaman dan kelemahan internal.
Analisa SWOT dapat menghasilkan 4 (empat) kemungkinan strategi alternatif (Freddy Rangkuti, 2006; hal 18-21), yaitu :
Strategi Strength-Opportunities (SO). Strategi ini dibuat berdasarkan jalan pikiran perusahaan, yaitu dengan memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar-besarnya.
Strategi Weaknesses-Opportunities (WO), strategi ini diterapkan berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan yang ada.
Strategi Strength-Threats (ST), ini adalah strategi dalam menggunakan kekuatan yang dimiliki perusahaan untuk mengatasi ancaman.
Strategi Weaknesses-Threats (WT), strategi ini didasarkan pada kegiatan yang bersifat defensif dan berusaha meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman.
Adapun matrik alternatif strategi berdasarkan analisis SWOT tersebut dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 1. Matriks SWOT
INTERNAL
EKSTERNAL
Kekuatan (Stengths)
Tentukan 5 – 10 faktor kekuatan
Kelemahan (Weaknesses)
Tentukan 5 – 10 faktor kelemahan
Tentukan 5 – 10 faktor
Pembahasan ini menguraikan hasil penelitian yang dilakukan dalam rangka pemilihan strategi kebijakan pengembangan yang paling tepat bagi Kawasan Bukit Parangendog, dengan menggunakan pendekatan teori Tourism Area Life Cycle (TALC) menurut Butler, teori elemen pariwisata 4A menurut Cooper serta menggunakan metode analisis SWOT. Analisis SWOT digunakan untuk menganalisis terhadap faktor internal dan eksternal Kawasan Bukit Parangendog, sehingga pada akhirnya didapatkan faktor kekuatan, faktor kelemahan, faktor peluang, dan faktor ancaman. Dari analisis tersebut, didapatkan beberapa alternatif strategi yang dapat digunakan dalam upaya pengembangan Kawasan Bukit Parangendog.
Setelah didapatkan beberapa alternatif strategi berdasarkan pendekatan-pendekatan tersebut, maka dapat ditentukan rekomendasi pengembangan yang tepat berdasarkan kriteria yang ditetapkan. Penentuan rekomendasi ini perlu dilakukan karena untuk melakukan seluruh strategi yang telah diperoleh melalui analisis SWOT akan membutuhkan sumber daya yang tepat, dan tidak semuanya bisa diakomodir oleh pihak pemangku kebijakan (stakeholder) terkait.
2.3.1 Tahapan Pengembangan Kawasan Bukit Parangendog berdasarkan teori Tourist Area Life Cycle (TALC)
Sumber : Tourism Area Life Cycles hypothetical (diadapsi dari Miller dan Gallucci, 2004)
Tahap 1. Penemuan (Exploration)Potensi pariwisata berada pada tahapan identifikasi dan menunjukkan destinasi memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi daya tarik atau destinasi wisata karena didukung oleh keindahan alam yang masih alami, daya tarik wisata alamiah masih sangat asli, pada sisi lainnya telah ada kunjungan wisatawan dalam jumlah kecil dan mereka masih leluasa dapat bertemu dan berkomunikasi serta berinteraksi dengan penduduk local. Karakteristik ini cukup untuk dijadikan alasan pengembangan sebuah kawasan menjadi sebuah destinasi atau daya tarik wisata.
Tahap 2. Pelibatan (Involvement)
Pada tahap pelibatan, masyarakat lokal mengambil inisiatif dengan menyediakan berbagai pelayanan jasa untuk para wisatawan yang mulai menunjukkan tanda-tanda peningkatan dalam beberapa periode. Kontak dengan penduduk lokal tetap tinggi dan beberapa dari mereka mulai menyesuaikan pola sosialnya untuk mengakomodasi perubahan kondisi ekonomi akibat keberadaan wisatawan. Masyarakat dan pemerintah lokal sudah mulai melakukan sosialiasi atau periklanan dalam skala terbatas
Tahap 3. Pengembangan (Development)
artinya usaha kecil yang dikelola oleh penduduk local mulai tersisih hal ini terjadi karena adanya tuntutan wisatawan global yang mengharapkan standar mutu yang lebih baik. Organisasi pariwisata mulai terbentuk dan menjalankan fungsinya khususnya fungsi promotif yang dilakukan bersama-sama dengan pemerintah sehingga investor asing mulai tertarik dan memilih destinasi yang ada sebagai tujuan investasinya.
Tahap. 4 Konsolidasi (consolidation)
Pada tahap ini, sektor pariwisata menunjukkan dominasi dalam struktur ekonomi pada suatu kawasan dan ada kecenderungan dominasi jaringan international semakin kuat memegang peranannya pada kawasan wisataw atau destinasi tersebut. Kunjungan wisatawan masih menunjukkan peningkatan yang cukup positif namun telah terjadi persaingan harga diantara perusahaan sejenis pada industri pariwisata pada kawasan tersebut. Peranan pemerintah local mulai semakin berkurang sehingga diperlukan konsolidasi untuk melakukan re-organisasional, dan balancing peran dan tugas antara sector pemerintah dan swasta.
Tahap. 5 Stagnasi (Stagnation)
Pada tahapan ini, angka kunjungan tertinggi telah tercapai dan beberapa periode menunjukkan angka yang cenderung stagnan. Walaupun angka kunjungan masih relative tinggi namun destinasi sebenarnya tidak menarik lagi bagi wisatawan. Wisatawan yang masih datang adalah mereka yang termasuk repeater guest atau mereka yang tergolong wisatawan yang loyal dengan berbagai alasan. Program-program promosi dilakukan dengan sangat intensif namun usaha untuk mendatangkan wisatawan atau pelanggan baru sangat sulit terjadi. Pengelolaan destinasi melampui daya dukung sehingga terjadi hal-hal negative tentang destinasi seperti kerusakan lingkungan, maraknya tindakan kriminal, persaingan harga yang tidak sehat pada industry pariwisata, dan telah terjadi degradasi budaya masyarakat lokal.
Tahap. 6 Penurunan atau Peremajaan (Decline/Rejuvenation)
menjadi fasilitas selain pariwisata. Jika Ingin Melanjutkan pariwisata?, perlu dilakukan pertimbangan dengan mengubah pemanfaatan destinasi, mencoba menyasar pasar baru, mereposisi attraksi wisata ke bentuk lainnya yang lebih menarik. Jika Manajemen Destinasi memiliki modal yang cukup atau ada pihak swasta yang tertarik untuk melakukan penyehatan seperti membangun atraksi man-made, usaha seperti itu dapat dilakukan, namun semua usaha belum menjamin terjadinya peremajaan.
Dilihat dari penjelasan diatas, saat ini kawasan bukit parangendog sudah memasuki tahapan Pelibatan (Involvement) hal itu bisa dilihat dari keadaan di kawasan bukit parangendog yang penduduk lokalnya sudah menawarkan fasilitas kepada pengunjung. Fasilitas yang ditawarkan adalah adanya warung yang menjual makanan dan minuman dan tempat parkir yang luas. Karena terbatasnya fasilitas, kontak antara wisatawan dengan penduduk lokal pun tetap tinggi. Keberadaan kawasan bukit parangendog ini juga dapat dilihat dari belum adanya investor yang menanamkan modalnya guna membangun berbagai fasilitas pariwisata.
2.3.2 Tahapan Pengembangan Kawasan Bukit Parangendog berdasarkan Teori elemen Pariwisata 4A
Cooper dkk. (1995) mengemukakan bahwasanya terdapat empat komponen (4A) penting yang harus dimiliki oleh sebuah destinasi wisata, yaitu attraction, accesibility, amenity, dan ancellary. Namun kondisi yang ditemukan pada bukit Parangendog adalah sebagai berikut;
1. Attraction, daya tarik utama yang sudah ada dan berkembang dibukit Parangdoedog adalah sunset spot, wall climbing, dan olah raga yang memanfaatkan angin seperti gantole dan paralayang.
2. Accesibility, untuk tingkat kemudahan terjangkaunya tempat dari para wisatawan sangatlah sulit karena jalan yang harus ditempuh terlalu curam dan terlebih lagi tidak ada angkutan umum untuk menuju tempat ini.
3. Amenity, sebenarnya sudah dibangun beberapa fasilitas pendukung untuk kelancaran berwisata namun kondisinya sudah sangat rusak dan terbengkalai sehingga menimbulkan kesan kumuh.
4. Ancillary, ketidakadaan sebuah organisasi kelembagaan dan sumber daya manusia yang memadai menjadikan tempat ini semakin tidak terkelola dengan baik.
beberapa komponen yang harus kita penuhi dalam melakukan perencanaan agar bukit Parangendog layak untuk dijadikan sebuah destinasi wisata yang mengutamakan wisata minat khusus.
2.4 Analisis Strategi Pengembangan Kawasan Bukit Parangendog
Analisis SWOT dilakukan pada faktor lingkungan internal dan faktor lingkungan eksternal, yang secara langsung dapat mempengaruhi usaha di kawasan Bukit Parangendog, faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut :
1. Faktor Internal
a. Kekuatan (Strengths), yaitu faktor-faktor yang berpengaruh pada perencanaan pembangunan di bukit Parangendog, seperti :
keindahan alam (landscape), adalah salah satu potensi yang dimiliki oleh bukit Parangendog. Yang memiliki keindahan pemandangan perbukitan yang hijau dan Pantai Parangtritis dan birunya Samudra Hindia.
letak yang strategis, letaknya yang masih satu daerah dengan Pantai Parangtritis menjadikan mudah untuk dijangkau oleh wisatawan.
sunset spot yang indah, pemandangan pada saat matahari tengelam yang berwarna keemasan menjadi daya tarik khusus DTW.
cocok untuk olah raga ekstrim (gantole dan wall climbing), letaknya yang berada diperbukitan menjadikan bukit ini cocok untuk melaksanakan kegiatan olahraga yang memanfaatkan angin, selain itu topografinya yang curam menciptakan banyak tebing yang cocok untuk melakukan panjat tebing, selain itu juga masih banyak olahraga-olahraga yg lainnya seperti mountain bike, hiking, camping, dan lain-lain.
b. Kelemahan (Weaknesses), yaitu faktor-faktor yang dianggap sebagai kelemahan dari peluang usaha di Bukit Parangendog, seperti :
Aksesibilitas kurang bagus, belum adanya transportasi yang menjangkau objek tersebut merupakan salah satu kendala selain akses jalan yang curam dikarenakan kontur jalan yang tidak dibuat berkelok-kelok.
Pengawasan kawasan belum intensif, dengan kualitas SDM yang rendah serta tidak adanya sebuah kelembagaan khusus yang menanganninya, sehingga kawasan pun tidak terkelola dengan baik dan akhirnya terbengkalai.
Promosi belum efektif, promosi bahwasanya bukit parangedog yang bisa dijadikan sebagai tempat wisata olahraga ekstrimpun tidaklah gencar, masih mengunakan sarana mulut-kemulut, kebanyakan dari para petualang yang mengshare pengalaman mereka ketika mencoba ganasnya perbukitan parangedog.
Fasilitas yang rusak, karena tidak adanya kegiatan maintanance yang berkala maka beberapa fasilitas yang ada menjadi rusak dan terbengkalai.
Ketidakadaannya listrik dan air bersih, kondisinya yang berada di pucuk bukit dan daerahnya yang berkapur menjadikan akses listrik dan pasokan air bersihpun menjadi susuah didapat.
Atraksi olahraga angin yang tidak bisa dilakukan setiap saat, olah raga angin ini hanya bisa dilakukan 3 bulan saja pada saat angin barat berhembus.
2. Faktor Eksternal.
a. Peluang (Opportunities), yaitu faktor-faktor yang berpengaruh pada perencanaan pembangunan di bukit Parangendog, seperti :
Mendorong minat investor, dengan masih banyaknya lahan yang kosong ditambah lagi sudah banyaknya wisatawan yang datan ke bukit ini menjadikan Parangendog sebagai lahan bisnis yang benar-benar mengiurkan.
Mendorong peningkatan pangsa pasar, dengan diberikannya sebuah tempat/sarana yang representatif maka akan meningkatkan pula pangsa pasar dari para penikmat olah raga ini.
Meningkatnya jumlah pe-ngunjung, dengan semakin banyaknya wisatawan yang datang pantai Parangtritis diharapkan pula hal itu tertulah ke bukit Parangedog.
Peningkatan ekonomi wilayah, pada saat kegiatan ekonomi sudah berjalan lancar dikawasan bukit ini diharapkan pula dampaknya dapat menigkatkan ekonomi masyarakat, dan daerah tentunya.
masih terlihat hijau. Selain itu juga untuk menyeimbangkan ekosistem terhadap adanya pembangunan yang dilakukan.
Dapat digelar event-event tertentu, pembuatan event-event tertentu disini selain dalam rangka promosi juga untuk memanfaatkan potensi yang ada. Karena kita tahu sendiri hal seperti ini masih jarang/langka di Indonesia.
b. Ancaman (Threats), yaitu faktor-faktor yang berpengaruh pada perencanaan pembangunan di bukit Parangendog, seperti :
Masuknya budaya asing / luar, jelas disini dengan masuknya para wisatawan yang berasal dari berbagai macam daerah asal pastilah membawa kebudayaan yang tentunya berbeda dengan budaya lokal, dan apabila kita tidak bisa memilahnya maka akan terjadi degradasi budaya.
Adanya produk sejenis yang lebih unggul, untuk mengantisipasi kalah bersaingnya dengan produk yang lain maka kita harus menjada kualitas dan terus ber inovasi agar wisatawan tidak pindah kelain hati.
Ancaman bencana alam, bencana alam bisa terjadi tanpa kita sadari namun kita bisa meminimalisir adanya bencana tersebut dengan melakukan simulasi dan membangun bangunan yang anti gempa, karena pada dasarnya bancana yang mungkin terjadi adalah tsunami dan gempa bumi.
Ancaman perambahan kawasan hijau, dengan dibebaskanya investor untuk masuk dan berinvestasi dikhawatirkan mereka akan melakukan kegiatannya semau mereka sendiri tidak merulut pada peraturan yang sudah disepakati.
Mass tourism, adanya sebuah mass tourism dikhawatirkan akan menganggu keseinbangan ekosistem yang ada di bukit Parangendog melalui segala macam yang ditimbulakan oleh wisatawan (negative).
Kemudian untuk menentukan langkah selanjutnya maka dibuatlah sebuah strategi pengembangan bukit Parangedog dengan menggunakan analisis SWOT dan menentukan program pengembangannya.
rpresentatif. Selain itu dalam pembangunan yang dilakukan juga mengedepankan aspek keberlanjutan lingkungan demi keseinbangan yang tercipta di objek wisata tersebut. Dan dari hasil analisa SWOT menghasilkan 4 kemungkinan strategi alternatif seperti tertera pada tabel di bawah ini ;
Menawarkan investasi untuk sector/kegiatan olah raga atau toko souvenir, dll.
Pembangunan fasilitas baru untuk menunjang kelancaran kegiatan wisata.
Pembentukan organisasi dan pemberdayaaan SDM.
Memberikan alternatif atraksi wisata.
Threats
lebih unggul. kekuatan (strength) untuk memanfaatkan peluang (opportunities), ialah :
a. Pengembangan wisata minat khusus, setelah kita tahu beberapa potensi yang ada pada bukit Parangedog kita berusaha untuk meningkatkan hal tersebut dan mengemas wisata itu semenarik mungkin dengan tujuan menarik banyak wisatawan.
b. Keutuhan potensi alam yang terjaga, dalam setiap pengembangan yang nantinya akan digunakan diharapkan bersahabat dengan lingkungan sekitar, sehingga tidak merusak keseimbangan alam.
c. Peningkatan ekonomi masyarakat, diharapkan dengan semakin banyaknya aktifitas ekonomi yang terjadi ditempat ini semakin meningkat pula kondisi ekonomi masyarakat sekitar, sehingga terwujud kesejahteraan yang makmur. d. Meningkatnya komunitas-komunitas wisata minat khusus, semakin banyak
bermunculan komunitas-komunitas seperti panjat tebing club, gantole club, mountain bike club, dsb. Dan itulah yang menjadi sasaran utama kita dalam rangka pengembangan bukit ini.
2. Strategi WO (Weaknesses and Opportunities), yaitu strategi yang meminimalkan kelemahan (weaknesses) untuk memanfaatkan peluang (opportunities), ialah :
a. Menawarkan investasi dalam berbagai bidang, para pengusaha bisa menanamkan modal mereka diberbagai sektor demi mendukung atraksi wisata yang telah ada, namun semua itu ada batas-batasannya, semua itu bertujuan agar tidak semena-mena dalam melakukan kegiatannya.
b. Pembangunan fasilitas baru untuk menunjang kelancaran kegiatan wisata, demi kelancaran kegiatan pariwisata di bukit Parangedog maka harus dibangun kembali beberapa fasilitas yang rusak agar lebih representatif bagi wisatawan.
lebih profesional agar semua terorganisir dengan baik dan juga DTW dapat terrawat.
3. Strategi ST (Strength and Threats), yaitu strategi yang menggunakan kekuatan (strength) untuk mengatasi ancaman (threats), ialah :
a. Selektifitas pengaruh globalisasi, harus ada filter khusus pada masyarakat agar kebudayaan asli tidak hilang karena adanya kebudayaan asing yang masuk dibawa oleh wisatawan luar.
b. Meningkatkan inovasi dalam pengemasan produk, dalam persaingan industri pariwisata haruslah ada sebuah inovasi agar tidak kalah dengan objek serupa yang lain.
c. Melakukan latihan simulasi bencana, karena wilayah bantul masih digolongkan menjadi daerah rawan bencana, maka dari itu harus dilakukan simulasi bencana agar bisa lebih waspada dan tidak panik pada saat terjadi bencana.
d. Pengaturan zoning pada suatu wilayah, akan dibuat zona-zona tertentu semisal zona kawasan hijau berarti tidak boleh ada kegiatan pembangunan sedikitpun berbeda dengan zona pembangunan, diharapkan dengan adanya zoning ini akan membatasi kegiatan supaya tidak sembarangan.
e. Memberikan alternatif atraksi wisata, karena atraksi wisata yang berbau dengan olahraga angin hanya bisa dilakukan selama 3bulan saja maka harus ada hal lain yang perlu dikembangkan untuk mengisi kekosongan dari salah satu atraksi tersebut, seperti camping, sunset spot, dan mountain bike.
4. Strategi WT (Weaknesses and Threats), yaitu strategi yang meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan menghindari ancaman (threats), ialah :
a. Menjalin kerjasama dengan pihak terkait untuk pembangunan, menjalin hubungan dengan para stekholder untuk memajukan bukit parangedog baik pemerintah maupun pihak swasta agar saling terorganisasi dan bisa menjapai tujuan secara bersama-sama.
b. Memberikan pembinaan kepada pengusaha maupun masyarakat, pemberian bekal bagi masyarakat agar kualitas SDM yang ada semakin menigkat dan kepada pengusaha supaya tidah semena-mena dalam melakukan usahanya, dengan begitu kawasan bukit Parangedokpun pasti akan maju.
Berdasarkan temuan yang ada jika dimasukkan ke dalam teori Tourism Area Life Cycle (Miller and Gallucci, 2004; dalam Pitana,2009), maka dapat disimpulkan bahwa kawasan wisata ini masih sedang dalam tahapan involvement. Potensi wisata yang terlihat masih belum optimal dalam pengelolaannya ini terjadi karena beberapa faktor, diantaranya adalah tidak adanya sarana dan prasarana pendukung yang dimiliki oleh objek wisata ini. Berdasarkan pernyataan tersebut, maka rekomendasi dari kami untuk pengelola tentang hal yang harus dilakukan dalam jangka pendek terfokus pada penambahan amenitas dan perbaikan aksesibilitas.
Menurut Cooper (1995:81), terdapat 4 (empat) komponen yang harus dimiliki oleh sebuah daya Tarik wisata, yaitu: 1) Atraksi (attractions), seperti wisata minat khusus ataupun alam yang menarik. 2) Aksesibilitas (accessibilities) 3) Amenitas atau fasilitas (amenities) 4)
Ancillary (Kelembagaan dan sumber daya Manusia Pendukung Kepariwisataan). Berdasarkan teori tersebut, bukit parangendog saat ini memiliki satu komponen penting yaitu atraksi wisata dengan paralayang, wall climbing, dan sunset spot yang ada. Kami membagi rekomendasi yang ada saat ini menjadi jangka pendek dan jangka panjang dengan pertimbangan hal paling mendasar yang harus dilakukan dalam membangun sebuah objek wisata.
Gambar 2. Rekomendasi Perencanaan Tata ruang dan Pembangunan Kawasan Bukit Parangendog berdasarkan Konsep Perencanaan Destinasi oleh Gunn, (1988)
Perencanaan pengembangan Bukit Parangendog jangka pendek terdiri dari perbaikan amenitas dan aksesbilitas,kemudian akan direkomendasikan kepada pemerintah daerah Kabupaten Bantul yang bekerja sama dengan investor melalui dinas-dinas terkait seperti Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Perijinan, Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi, serta Dinas Sumber Daya Air.
1.1. Amenitas
Kelengkapan prasarana dan sarana adalah faktor penunjang perkembangan pariwisata yang secara langsung akan berpengaruh terhadap pola pencaran arus wisatawan menuju DTW dan selanjutnya menuju objek wisata (Suwardjoko. 2007:99).
Revitalisasi Toilet
Keberadaan toilet yang layak menjadi sebuah elemen penting penunjang sebuah objek wisata. Sebuah bangunan toilet yang usang tidak akan memberi kesan dan pengalaman yang baik terhadap wisatawan yang telah berkunjung. Hal inilah yang menjadi dasar dari revitalisasi toilet yang telah ada untuk menjadi toilet yang lebih baik. Kami akan membangun toilet dengan tema sport tourism, tema tersebut dituangkan dalam tembok toilet yang akan dilukis dengan berbagai jenis sport tourism agar pengunjung yang menggunakan toilet akan bertambah wawasannya mengenai sport tourism.
Listrik (Pengadaan Pembangkit Listrik Tenaga Angin Dan Panel Surya)
Ketersediaan listrik sebagai penunjang dari segala kegiatan wisata di sini adalah hal penting yang harus diperhatikan oleh pengelola. Kekuatan angin serta sinar matahari yang dimiliki dapat menjadi strategi perencanaan yang baik, yaitu merubah weakness menjadi strength, dengan menjadikan angin yang menyulitkan pembangunan dianggap sebagai kekurangan dan merubahnya menjadi kekuatan yaitu sumber listrik. Dengan memanfaatkan angin dan sinar matahari ini akan mendukung strategi pembangunan yang berbasis keberlanjutan lingkungan. Pengadaan Pagar Pembatas
Prasarana fisik lain yang sangat dibutuhkan untuk menjadi syarat pengembangan objek wisata adalah keamanan. Pengadaan pagar pembatas dirasa sangat diperlukan untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan pada wisatawan. Kontur geografis objek wisata yang berada di perbukitan dan adanya jurang yang sangat berbahaya jika terjatuh dari jurang tersebut menjadi dasar dari rekomendasi ini. Pagar pembatas dibutuhkan disekitar gardu pandang serta akses menuju lokasi.
Pengadaan Mushola
target sasaran pengunjung juga menjadikan keberadaan mushola ini sangat penting. Keberadaan mushola ini menjadi penunjang yang penting jika melihat di banyak tempat wisata lain juga membangun fasilitas mushola sebagai penunjang kebutuhan dari objek wisata yang ada.
Pelebaran Tempat Parkir
Berdasarkan temuan yang ada, tempat parkir yang ada saat ini kondisinya masih jauh dari cukup. Kondisi tempat parkir saat ini hanya berupa tanah kosong tanpa ada penjagaan yang baik. Dengan melakukan perbaikan serta pelebaran tempat parkir maka nantinya tempat parkir yang baru dapat menampung lebih banyak kendaraan baik roda empat ataupun roda dua dengan lebih baik.
Pengadaan Gardu Pandang
Sunset spot yang menjadi daya tarik utama saat tidak adanya atraksi wisata minat khusus yang ada harus didukung dengan penambahan beberapa fasilitas seperti gardu pandang. Pengadaan gardu pandang ini dapat menambah sensasi pengalaman menyaksikan sunset yang lebih dikenang. Pengadaan gardu pandang juga dapat dimaksimalkan untuk melihat lembah perbukitan yang indah.
Pembangunan Tourist Information
Wisatawan yang datang saat ini masih kurang mendapatkan informasi yang baik terhadap bukit parangendog. Untuk memberikan informasi-informasi tentang obyek wisata maupun kebutuhan-kebutuhan wisatawan diperlukan pembangunan
tourist information. Pembangunan tourist information yang digunakan untuk banyak hal, seperti kantor pengelola ataupun loket karcis untuk menikmati faslilitas atau atraksi wisata yang ada.
Pembangunan Toko Souvenir
Mengacu pada salah satu unsur pariwisata yaitu something to buy maka pembangunan toko souvenir menjadi salah satu rekomendasi pembangunan. Selain itu budaya masyarakat Indonesia yang gemar membeli oleh-oleh menjadi factor kuat pembangunan toko souvenir. Toko souvenir ini nantinya menjual souvenir-souvenir khas Parangendog.
Perbaikan Kondisi Warung
Keberadaan warung dirasa sangat penting untuk wisatawan dan juga masyarakat selaku pedagang itu sendiri. Melihat kondisi warung yang ada saat ini tidak pada kondisi yang layak karena sudah termakan usia, maka perlu diadakan perbaikan kondisi warung itu sendiri, baik dari arsitektur design, kebersihan warung serta menu yang ditawarkan.
Kurangnya kegatan yang bisa dilakukan di bukit parangendog menjadikan beberapa wisatawan kurang berminat untuk berkunjung. Dengan menambahkan fasilitas taman maka wisatawan dapat melakukan beberapa hal menyenangkan dengan keluargan atau pasangan berkunjungnya. Pengadaan taman sederhana ini berkonsep eco-tourism yang menggunakan banyak sumber daya alam yang dapat diperbaharui seperti bamboo, dan tidak lupa menambahkan beberapa fasilitas taman seperti bangku dan lampu taman.
1.2. Aksesibilitas
Salah satu permasalahan utama dari bukit parangendog untuk dijadikan sebuah objek wisata adalah aksesibilitas yang sulit dijangkau. Permasalah aksesibilitas yang ada antara lain kontur geografis yang berbukit dan kurangnya informasi penunjuk arah untuk mencapai lokasi. perbaikan aksesibilitas
Pembangunan Gerbang
Gerbang masuk sebuah objek wisata adalah sebuah tanda bahwa kita telah memasuki objek wisata tersebut. Namun, bukit parangendog masih belum memiliki gerbang pintu masuk ini. Pembangunan gerbang ini juga dapat dijadikan
icon atau identitas sebuah objek wisata untuk wisatawan dijadikan sebagai tempat mengabadikan diri.
Plangisasi
Seorang wisatawan yang baru pertama kali menuju bukit parangendok dipastikan akan kesulitan untuk menemukan lokasi bukit parangendok itu sendiri. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya penunjuk arah atau plang yang menunjukan ke lokasi wisata ini. Berdasarkan hal tersebut, maka plangisasi ini sangat dibutuhkan oleh bukit ini sehingga dapat menjadi alat publikasi untuk mendatangkan lebih banyak wisatawan.
Perbaikan Jalan
Jalan yang masih rusak dan berlubang di beberapa bagian menjadikan kondisinya sangat berbahaya untuk dilalui. Dengan melakukan perbaikan aksesibilitas yang dilalui maka keamanan dari objek wisata ini dapat lebih baik lagi. Selain itu perbaikan aksesibilitas berarti mempersingkat waktu dan tentunya akan lebih meringankan perjalanan (Suwardjoko. 2007:101)
2. Jangka Panjang
Pembangunan jangka panjang yang menjadi rekomendasi dari peneliti di sini lebih terfokus pada peningkatan pengelolaan dengan membuat sebuah manajemen wisata yang baik dilengkapi dengan SDM yang terampil serta penambahan fasilitas atraksi wisata.
Pembentukan badan pengelola adalah salah satu langkah yang harus dilakukan ketika setiap fasilitas pendukung telah ada.
Pembentukan badan pengelola yang resmi dapat mempermudah langkah dalam lelang investasi atraksi wisata yang akan dibangun dalam jangka panjang. Badan pengelola yang dibentuk juga memberdayakan masyarakat yang ada di sekitar bukit parangendog sebagai subjek dari pengelolaan bukit tersebut. Setelah Badan Pengelolaan resmi dibentuk maka pekerjaan badan pengelola ini dapat mengembangkan sumber daya manusia yang ada untuk mendukung pengembangan daya tarik wisata yang ada dengan melakukan pelatihan-pelatihan.
Perencanaan pengembangan Bukit Parangendog jangka panjang tersebut akan direkomendasikan kepada pemerintah daerah Kabupaten Bantul melalui dinas-dinas terkait seperti Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Dinas Perijinan, Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi, serta Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi agar dapat direalisasikan.
3. PENUTUP 3.1 Kesimpulan
1. Faktor internal yang paling menonjol di kawasan bukit parangedog adalah kegiatan wisata minat khusus yang telah berjalan, seperti paralayang, gantole dan panjat tebing namun fasilitas dan aksesbilitas di kawasan tersebut masih belum layak sebagai pendukung wisata minat khusus yang ada. Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi kawasan bukit parangendog adalah banyaknya komunitas pecinta wisata minat khusus yang mencari lokasi untuk melakukan kegiatan namun terdapat hal yang bisa mengancam kawasan bukit parangendog yaitu bencana alam seperti erosi, abrasi, tsunami, tanah longsor dan gempa bumi serta peningkatan jumlah wisatawan yang mengakibatkan wisata masal (mass tourism)
2. Saat ini kawasan bukit parangendog sudah memasuki tahapan Pelibatan (Involvement) hal itu bisa dilihat dari keadaan di kawasan bukit parangendog yang penduduk lokalnya sudah menawarkan fasilitas kepada pengunjung. Fasilitas yang ditawarkan adalah adanya warung yang menjual makanan dan minuman dan tempat parkir yang luas. Karena terbatasnya fasilitas, kontak antara wisatawan dengan penduduk lokal pun tetap tinggi. Di kawasan bukit parangendog juga belum ada investor yang menanamkan modalnya guna membangun berbagai fasilitas pariwisata.
strategi yang akan dilakukan adalah melakukan penambahan dan perbaikan amenety, accesbility dan anchelary service.
4. Rekomendasi tentang hal yang harus dilakukan dalam jangka pendek terfokus pada penambahan amenitas dan perbaikan aksesbilitas. Sedangkan untuk jangka panjang yang menjadi rekomendasi lebih terfokus pada peningkatan pengelolaan dengan membuat sebuah manajemen wisata yang baik dilengkapi dengan Sumber Daya Manusia yang terampil serta penambahan fasilitas atraksi wisata.
3.2 Saran
1. Pembangunan yang dilakukan harus diselaraskan dengan program atau aturan – aturan yang telah dibuat oleh pemerintah pusat agar tidak terjadi konflik kepentingan antara pemerintah dengan pengelola.
2. Membuka kesempatan bagi investor untuk berinvestasi di Kawasan Bukit Parangendog. Namun perlu adanya seleksi bagi investor tersebut serta kegiatan yang ada sehingga akan mengurangi dampak negatif yang mungkin akan muncul.
3. Perlunya sistem manajemen yang kuat, serta untuk mencapai hasil maksimal dari uraian rekomendasi yang telah dijelaskan perlu adanya pengusahaan secara terkoordinasi, berkelanjutan, profesional dan bertanggungjawab terhadap lingkungan.
Cooper, C., Fletcher, J., Gilbert, D., and Wanhill, S. 1993, Tourism: Principle and Practice.
Longman Scientific & Technical. Harlow.
Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta. 2012. Statistik Kepariwisataan 2012. Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta.
Gammon, S. & Robinson, T. 1997. Sport And Tourism: A Conceptual Framework. Journal Of Sport Tourism. Hal 8-24.
Gibson, H., Attle, S. & Yiannakis, A. 1997. Segmenting The Sport Tourist Market: A Lifespan Perspective. Journal of vacation marketing. Hal 52-64.
Gunn, Clare A. 1988. Vacationscape: Designing Tourist Regions. Van Nostrand Reinhold. New York.
Hadi, Sutisno.1989. Metodologi Research. Andi affset. Yogyakarta.
Hinch, T. & Higham, J. 2004. Sport Tourism Development. Channel View Publications. Clevedon
Higham, J. & Hinch, T. 2006. Sport and Tourism Research: A Geographic Approach. Journal of Sport & Tourism, 11. Hal 31-49.
Paturusi, Syamsul Alam. 2008. Perencanaan Kawasan Pariwisata. Universitas Udayana. Denpasar.
Pitana , I Gede. 2009. Pengantar Ilmu Pariwisata. Penerbit Andi. Yogyakarta.
Rangkuti, Freddy. 2006. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis, Cetakan Ke-16. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Standeven, J. & De Knop, P. 1999. Sport Tourism. Human Kinetics.Leeds.
Republik Indonesia. 2007. Undang-undang tentang penataan ruang nomor 26 tahun 2007.
Jakarta : Sekretariat Negara
Republik Indonesia.2009. Undang-undang Kepariwisataan nomor 10 tahun 2009. Jakarta : Sekretariat Negara