PERAN PEREMPUAN DALAM PENDIDIKAN ISLAMI
A. Pendahuluan
Jika diperhatikan secara seksama, ada fenomena menarik yang muncul jelang pemilu legislatif tahun 2014 mendatang, yaitu lebih banyaknya baliho atau spanduk calon-calon anggota legislatif perempuan untuk Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pusat maupun Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) provinsi atau kabupaten/kota yang bertebaran baik di desa-desa maupun di perkotaan. Realitas semakin banyaknya calon anggota legislatif dari perempuan ini memunculkan pertanyaan : apakah ini menandakan semakin baik dan meningkatnya taraf pendidikan perempuan di Indonesia? Jawabannya bisa ya bisa pula tidak.
dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.
Ditambah lagi jika memperhatikan beberapa data yang mengungkap tingkat pendidikan perempuan di Indonesia, antara lain :
Dari data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, terdapat 25% penduduk perempuan berusia 15 tahun ke atas yang tidak memiliki ijazah, sedangkan 18 dari 100 orang laki-laik berumur di atas 15 tahun tidak memiliki ijazah.1 Dan penduduk buta aksara di Indonesia usia di atas 15 tahun sebanyak 6,7 juta. Sebesar 60 persen dari jumlah tersebut adalah perempuan.2
Kemudian Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2011 menyebutkan, perempuan Indonesia memiliki kecenderungan tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Pada tahun yang sama, data BPS menyebut, angka partisipasi murni (APM) perempuan jenjang SD 90 persen lebih, APM perempuan jenjang SMP 69 persen lebih. Sedang APM perempuan jenjang SMU 48 persen lebih. Selain itu, angka perempuan yang melek huruf pun jauh lebih rendah dibanding lelaki, 90 persen untuk perempuan, sedangkan lelaki mencapai 95,59 persen.3
Fakta dan data tersebut di atas jelas masih menggambarkan problem dan ironi tentang pendidikan perempuan di Indonesia yang di tahun 2013 ini menurut BPS data penduduk perempuan adalah sebanyak 118.010.413 orang atau 49,66 persen dari total jumlah penduduk sebesar 237.641.326.4
Data tentang realitas pendidikan perempuan di Indonesia di atas hanyalah sedikit
gambaran tentang masih adanya ketimpangan (bias) gender yang dialami kaum
perempuan. Ada banyak faktor penyebab mengapa kaum perempuan mengalami bias (ketimpangan) gender, sehingga mereka belum setara. Pertama, budaya patriarkhi yang sedemikian lama mendominasi dalam masyarakat. Kedua, faktor politik, yang belum sepenuhnya berpihak kepada kaum perempuan. Ketiga, faktor ekonomi dimana sistem kapitalisme global yang melanda dunia, seringkali justru mengeksploitasi kaum perempuan. Keempat, faktor interpretasi teks-teks agama yang bias gender.5
Dalam makalah ini penulis mencoba untuk mendeskripsikan peran perempuan dalam pendidikan Islami. Beberapa sub pokok bahasan yang akan penulis jelaskan adalah tentang makna peran perempuan, pentingnya partisipasi perempuan dalam pendidikan, gerakan gender equality dan dampaknya bagi pendidikan generasi penerus bangsa dan konsep gender equality dalam al-qur'an.
B. Makna Peran Perempuan
Membicarakan peran perempuan tak bisa lepas dari pembicaraan tentang hak-hak perempuan yang dimilikinya. Quraish Shihab menjelaskan, setidaknya ada tiga hak yang dimiliki oleh perempuan yaitu : 1) Hak dalam bidang politik, 2). Hak dalam memilih pekerjaan, dan 3). Hak dalam belajar.6
Dalam bidang politik hak perempuan dilegitimasi oleh al-Qur’an. Lebih lanjut Quraish Shihab menjelaskan, salah satu ayat yang seringkali dikemukakan oleh para
5 Abdul Mustaqim, Paradigma Tafsir Feminis : Membaca al-Qur`an dengan Optik Perempuan, (Yogyakarta : Logung Pustaka, 2008), h. 15
pemikir Islam dalam kaitan dengan hak-hak politik kaum perempuan adalah yang
Artinya : Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah awliya' bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh untuk mengerjakan yang ma'ruf, mencegah yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
Secara umum, ayat di atas dipahami sebagai gambaran tentang kewajiban melakukan kerja sama antarlelaki dan perempuan dalam berbagai bidang kehidupan yang dilukiskan dengan kalimat menyuruh mengerjakan yang ma'ruf dan mencegah yang munkar. Kata awliya', dalam pengertiannya, mencakup kerja sama, bantuan dan penguasaan, sedang pengertian yang dikandung oleh "menyuruh mengerjakan yang ma'ruf" mencakup segala segi kebaikan atau perbaikan kehidupan, termasuk memberi nasihat (kritik) kepada penguasa. Dengan demikian, setiap lelaki dan perempuan Perempuan hendaknya mampu mengikuti perkembangan masyarakat agar masing-masing mereka mampu melihat dan memberi saran (nasihat) dalam berbagai bidang kehidupan.7
Dalam catatan sejarah kenabian sendiri ada sejumlah besar perempuan yang ikut memainkan peran-peran ini (politik) bersama kaum laki-laki. Khadijah, Aisyah, Umm Salamah, dan para isteri nabi yang lain, Fathimah (anak), Zainab (cucu) dan Sukainah (cicit). Mereka sering terlibat dalam diskusi tentang
tema sosial dan politik, bahkan mengkritik kebijakan-kebijakan domestik maupun publik yang patriarkis. Partisipasi perempuan juga muncul dalam sejumlah“baiat” (perjanjian, kontrak) untuk kesetiaan dan loyalitas kepada pemerintah. Sejumlah perempuan sahabat nabi seperti Nusaibah bint Ka’b, Ummu Athiyyah al Anshariyyah dan Rabi’ bint al Mu’awwadz ikut bersama laki-laki dalam perjuangan bersenjata melawan penindasan dan ketidakadilan. Umar bin Khattab juga pernah mengangkat al Syifa, seorang perempuan cerdas dan terpercaya, untuk jabatan manejer pasar di Madinah.8
Terkait hak dalam memilih pekerjaan, Kalau kita kembali menelaah keterlibatan perempuan dalam pekerjaan pada masa awal Islam, maka tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa Islam membenarkan mereka aktif dalam berbagai aktivitas. Para perempuan boleh bekerja dalam berbagai bidang, di dalam ataupun di luar rumahnya, baik secara mandiri atau bersama orang lain, dengan lembaga pemerintah maupun swasta, selama pekerjaan tersebut dilakukannya dalam suasana terhormat, sopan, serta selama mereka dapat memelihara agamanya, serta dapat pula menghindari dampak-dampak negatif dari pekerjaan tersebut terhadap diri dan lingkungannya. Secara singkat, dapat dikemukakan rumusan menyangkut pekerjaan perempuan yaitu bahwa "perempuan mempunyai hak untuk bekerja, selama pekerjaan tersebut membutuhkannya dan atau selama mereka membutuhkan pekerjaan tersebut"9
Dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh setiap orang, termasuk kaum perempuan, mereka mempunyai hak untuk bekerja dan
8 Husein Muhammad, Partisipasi Politik Perempuan, artikel dalam http://www.islamlib.com
menduduki jabatan jabatan tertinggi. Hanya ada jabatan yang oleh sementara ulama dianggap tidak dapat diduduki oleh kaum perempuan, yaitu jabatan Kepala Negara (Al-Imamah Al-'Uzhma) dan Hakim. Namun, perkembangan masyarakat dari saat ke saat mengurangi pendukung larangan tersebut, khususnya menyangkut persoalan kedudukan perempuan sebagai hakim.10
Kemudian tentang hak perempuan dalam belajar, sebagaimana dijelaskan pula oleh Quraish Shihab11, bahwa terlalu banyak ayat Al-Quran dan hadis Nabi saw. yang berbicara tentang kewajiban belajar, baik kewajiban tersebut ditujukan kepada lelaki maupun perempuan. Wahyu pertama dari Al-Quran adalah perintah membaca atau belajar.
“ Bacalah demi Tuhanmu yang telah menciptakan ...
Baik lelaki maupun perempuan diperintahkan untuk menimba ilmu sebanyak mungkin, mereka semua dituntut untuk belajar. Para perempuan di zaman Nabi saw. menyadari benar kewajiban ini, sehingga mereka memohon kepada Nabi agar beliau bersedia menyisihkan waktu tertentu dan khusus untuk mereka dalam rangka menuntut ilmu pengetahuan. Permohonan ini tentu saja dikabulkan oleh Nabi saw.
Al-Quran memberikan pujian kepada ulu al-albab, yang berzikir dan memikirkan tentang kejadian langit dan bumi. Zikir dan pemikiran menyangkut hal tersebut akan mengantar manusia untuk mengetahui rahasia-rahasia alam raya ini, dan hal tersebut tidak lain dari pengetahuan. Mereka yang dinamai ulu al-10 Ibid
albab tidak terbatas pada kaum lelaki saja, tetapi juga kaum perempuan. Hal ini terbukti dari ayat yang berbicara tentang ulu al-albab yang dikemukakan di atas. Setelah Al-Quran menguraikan tentang sifat-sifat mereka, ditegaskannya bahwa:
.…
Artinya : “Maka Tuhan mereka mengabulkan permohonan mereka dengan berfirman: "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik lelaki maupun perempuan..." (QS 3:195).
Ini berarti bahwa kaum perempuan dapat berpikir, mempelajari dan kemudian mengamalkan apa yang mereka hayati dari zikir kepada Allah serta apa yang mereka ketahui dari alam raya ini. Pengetahuan menyangkut alam raya tentunya berkaitan dengan berbagai disiplin ilmu, sehingga dari ayat ini dapat dipahami bahwa perempuan bebas untuk mempelajari apa saja, sesuai dengan keinginan dan kecenderungan mereka masing-masing.
C. Pentingnya Partisipasi Perempuan Dalam Pendidikan
Salah satu hak kemanusiaan adalah menuntut ilmu. Demikian juga perempuan bebas dalam menuntut ilmu.12 Lebih jelas, Ibrahim Amini mengungkapkan bahwa apabila perempuan tidak bersuami, maka dia bisa mencari ilmu dan tidak seorangpun yang mencegahnya untuk belajar. Namun apabila ia menikah untuk melanjutkan pendidikan, dia harus bermusyawarah dan saling memahami dengan suaminya.13
Dalam konteks pendidikan Islam Pentingnya pendidikan bagi perempuan 12 Ibrahim Amini. Bangga Jadi Muslimah. Jakarta:Al-Huda.2007. Hal. 15
tidak terlepas dari perannya yang sangat sentral dalam pendidikan anak-anaknya kelak. Artinya, perempuan merupakan figur inti bagi pendidikan dalam ranah domestik-rumah tangganya. Pendek kata, perempuan adalah ujung tombak pendidikan masyarakat dalam mengembangkan budaya, sosial, sastra, politik hingga agama.
Apabila kita kaji kembali sejarah Islam baik di bidang politik, pertahanan negara, irfan, dan ilmu hadits, maka kita akan melihat banyak perempuan teladan yang memiliki andil besar dalam perjuangan dan dakwah Islam.14
Di zaman Rasulullah saw., seorang perempuan bernama Khansa’ dikenal dengan andilnya yang cukup besar dalam mendidik anak-anaknya, dengan memotivasi dan mempersiapkan mental mereka, dan mengirim mereka ke medan perang. Khansa’ merupakan penyair terkemuka pada masa Jahiliyyah hingga ia memeluk Islam dan menjadi perempuan penyair terkenal.
Banyak perempuan lain dalam Islam yang memiliki peran strategis dalam melakukan transformasi sosial di lingkungannya. Lemahnya pendidikan bagi perempuan akan berpengaruh besar pada lemahnya umat Islam baik dari segi budaya, politik, hukum dan sebagainya.
Peran perempuan yang demikian besar itu telah dicatat oleh sejarah. Dimana peran pendidikan itulah yang menjadi kekuatan besar dalam mengembangkan peradaban umat. Dengan ini bisa dikatakan bahwa emansipasi sudah berjalan dalam Islam sejak lama.
Di Indonesia sendiri, fakta yang menunjukkan pendidikan agama bagi
14 Jawadi Amuli. Keindahan dan Keagungan Wanita; Pandangan Ilahi.
perempuan Indonesia sudah dimulai sejak 1920-an. Bahkan, fenomena perempuan yang berpartisipasi dalam budaya tinggi Islam, seperti pembacaan Al-Quran, menjadi pegawai pemerintah, pendidikan kegamaan tampak lebih nyata di Indonesia ketimbang di Mesir”.15 Fenomena tersebut bertahan hingga kini bahkan terus berkembang. Perempuan di Indonesia secara positif berkompetisi dalam pembangunan kebudayaan, pendidikan dan sosial dalam masyarakat Islam.
Lebih-lebih, perempuan saat ini tingkat pendidikan dan kesadaran terhadap pendidikannya terus meningkat. Situasi ini memungkinkan perempuan berperan lebih besar dalam membangun dan mengembangkan peradaban umat Islam bahkan global.
Namun ada hal yang paradoxical dalam pembicaraan mengenai pendidikan dan perempuan. Di satu sisi, peran pendidik sering diidentikkan dengan perempuan, sementara di sisi lain akses kaum perempuan ke dunia pendidikan masih merupakan masalah besar.
Pengajar atau guru sering diidentikkan dengan perempuan, karena pekerjaan ini lebih mengutamakan kesabaran, ketelatenan dan kepedulian. Hal-hal tersebut identik dengan sikap feminine yang dimiliki oleh kaum perempuan. Oleh karena itu, dalam tulisan-tulisan klasik berbahasa Inggris, kata ganti untuk guru seringkali digunakan kata ganti untuk orang ketiga perempuan (she). Bahkan dalam Islam juga diajarkan bahwa sekolah pertama bagi anak-anak adalah ibunya
(perempuan). Hal ini menunjukkan bahwa peran perempuan dalam dunia pendidikan sesungguhnya sudah berlangsung sejak sangat lama.16
Peran perempuan sebagai pengajar atau guru ternyata seringkali tidak sebanding dengan tingkat partisipasi perempuan sebagai peserta didik. Pada umumnya, akses kaum perempuan untuk memperoleh pendidikan formal, terutama di negara-negara berkembang belum sebesar kaum laki-laki.
David Archer, sebagaimana dikutip Muhammad Zuhdi, menyebutkan bahwa salah satu kegagalan yang sangat serius di dunia pendidikan dalam upaya global mengejar tujuan pembangunan millenium (Millenium Development Goals) adalah akses kaum perempuan di dunia pendidikan. Menurut Archer lebih dari 100 juta anak di dunia tidak memiliki akses ke sekolah, dan 59% dari mereka adalah anak-anak perempuan. Lebih dari itu lebih dari satu juta orang dewasa tidak bisa baca-tulis, dan dua pertiganya adalah perempuan. Banyak persoalan sosial di berbagai belahan dunia yang dapat dipecahkan atau dikurangi jika anak-anak memiliki kemampuan baca-tulis yang memadai.17
Rendahnya akses kaum perempuan ke dunia pendidikan formal antara lain disebabkan oleh masih berkembangnya anggapan bahwa laki-laki adalah tulang punggung keluarga, dan karenanya merekalah yang lebih perlu memperoleh pendidikan agar kelak mendapat pekerjaan yang layak. Sementara perempuan
16 Muhammad Zuhdi, Pendidikan dan Perempuan, makalah pada forum diskusi bulanan Pusat Studi Wanita (PSW) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Senin, 18 Desember 2006
tidak memiliki tanggung jawab sebesar laki-laki dalam hal memperoleh pekerjaan dan memberikan nafkah kepada keluarga.
D. Gerakan Gender Equality Dan Dampaknya Bagi Pendidikan Generasi Penerus Bangsa
Sekarang ini, kita semua melihat bahwa kehidupan masyarakat manusia sedang menuju pada tuntutan-tuntutan demokratisasi, keadilan, dan penegakan hak-hak asasi manusia. Semua tema ini meniscayakan adanya kesetaraan manusia. Dan semua ini merupakan nilai-nilai yang tetap diinginkan oleh kebuadayaan manusia di segala tempat dan zaman. Tuhan juga tentu menghendaki semua nilai terwujud dalam kebudayaan manusia. Oleh karena itu, nilai-nilai tersebut seharusnya menjadi landasan bagi semua kepentingan wacana-wacana kebudayaan, ekonomi, hukum dan politik. Dengan begitu, dalam wacana-wacanaa ini diharapkan tidak akan lagi ada pernyataan-pernyataan yang memberi peluang bagi terciptanya sistem kehidupan yang diskriminatif, subordinatif, memarjinalkan manusia, siapapun orangnya dan apapun jenis kelaminnya, laki-laki ataupun perempuan.18 Nilai-nilai ideal tentang kesetaraan pun tak terkecuali menjadi tuntutan dan wacana kritis dalam dunia pendidikan Islam baru-baru ini.
Jika kita kembali membaca ulang tentang rumusan tujuan pendidikan Islam antara lain bahwa Pendidikan Islam bertujuan mencapai pertumbuhan kepribadian manusia yang menyeluruh secara seimbang melalui latihan jiwa, intelek, diri manusia yang rasional, perasaan dan indera. Karena itu pendidikan harus mencakup pertumbuhan manusia dalam segala aspeknya : spiritual, intelektual,
imajinasi, fisik, ilmiah, bahasa, baik secara individual maupun secara kolektif, dan mendorong semua aspek ini ke arah kebaikan dan mencapai kesempurnaan. Tujuan akhir pendidikan muslim terletak pada perwujudan ketundukan yang sempurna kepada Allah baik secara pribadi, komunitas, maupun seluruh umat manusia”.19 Dalam rumusan tujuan pendidikan Islam ini tidak dijumpai adanya diskriminasi antara laki-laki ataupun perempuan yang bernotabene makhluk Allah yang sama-sama sempurna.
Wacana tentang kesetaraan laki-laki dan perempuan ini lazim disebut sebagai kesetaraan gender. Dalam memahami konsep gender, Mansour Fakih membedakannya antara gender dan seks (jenis kelamin). Pengertian seks lebih condong pada pensifatan atau pembagian dua jenis kelamin manusia berdasarkan ciri biologis yang melekat, tidak berubah dan tidak dapat dipertukarkan. Dalam hal ini sering dikatakan sebagai ketentuan Tuhan atau 'kodrat'. Sedangkan konsep gender adalah sifat yang melekat pada laki-laki atau perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural dan dapat dipertukarkan. Sehingga semua hal yang dapat dipertukarkan antara sifat laki-laki dan perempuan, yang bisa berubah dari waktu ke waktu, dari tempat ke tempat lainnya, maupun berbeda dari suatu kelas ke kelas yang lain, itulah yang disebut dengan gender.20
Wacana gender merupakan isu penting di awal tahun 2000-an. Isu ini jauh-jauh hari telah diprediksi pada tahun 1990-an oleh John Naisbit dan Patricia
19 Rumusan tujuan pendidikan Islam tersebut merupakan hasil konferensi Internasional Pertama tentang Pendidikan Islam di Mekkah pada 1977. Lihat Azyumardi Azra dalam Pendidikan Islam : Tradisi dan Modernisasi di Tengah Tantangan Millenium III (Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2012) hlm. 64
Aburdene, sebagaimana dikutip Jamali Sahrodi.. Kedua futurolog suami istri ini melihat fenomena yang muncul pada abad ke-20 sebagai titik tolak kebangkitan kaum perempuan. Bermula dari gerakan feminism, yang mengejar kesetaraan kaum perempuan dari kaum laki-laki. Kemudian, tuntutan kaum feminism menuntut kesamaan dalam berbagai bidang kehidupan manusia antara laki-laki dan perempuan. Gencarnya gerakan kaum feminis dapat dipahami sebagai counter atas sikap sosial yang tidak adil atas kaum perempuan sepanjang masih
terdapat adanya ketimpangan sikap masyarakat terhadap kaum perempuan.21 Secara etimologis kata ‘gender’ berasal dari bahasa Inggris yang berarti
‘jenis kelamin’. 22 Dalam Webster’s New World Dictionary , Edisi 1984 ‘gender’ diartikan sebagai ‘perbedaan ya ng tampak antara lakilaki dan perempuan dilihat
dari segi nilai dan tingkah laku’ . Sementara itu dalam ConciseOxford Dictionary
of Current English Edisi 1990, kata ‘gender’ diartikan sebagai ‘penggolongan
gramatikal terhadap katakata benda dan katakata lain yang berkaitan dengannya,
yang secara garis besar berhubungan dengan jenis kelamin serta ketiadaan jenis
kelamin (atau kenetralan)’.
Secara terminologis, ‘gender’ oleh Hilary M. Lips didefinisikan sebagai
harapanharapan budaya terhadap lakilaki dan perempuan. H.T. Wilson
mengartikan ‘gender’ sebagai suatu dasar untuk menentukan perbedaan
sumbangan lakilaki dan perempuan pada kebudayaan dan kehidupan kolektif
yang sebagai akibatnya mereka menjadi lakilaki dan perempuan. Sementara itu,
21 Jamali Sahrodi, Gender dalam Perspektif Masaruddin Umar, dalam jurnal Equalita
vol. 8 No. 1 juli 2008, Pusat Studi Gender, Cirebon, h. 105
Elaine Showalter mengartikan ‘gender’ lebih dari sekedar pembedaan lakilaki
dan perempuan dilihat dari konstruksi sosial budaya. Ia lebih menekankan gender
sebagai konsep analisis yang dapat digunakan untuk menjelaskan sesuatu.23
Istilah gender diketengahkan oleh para ilmuwan sosial untuk menjelaskan mana perbedaan perempuan dan laki-laki yang bersifat bawaan sebagai ciptaan Allah dan mana yang merupakan bentukan budaya yang dikonstruksikan, dipelajari, dan disosialisasikan. Pembedaan ini sangat penting karena selama ini seringkali dicampuradukan mana cirri manusia yang kodrati dan dapat berubah atau diubah, dengan ciri manusia yang bersifat nonkodrati yang sebenarnya dapat berubah atau diubah. Dengan kata lain, masyarakat tidak membedakan yang mana sebetulnya jenis kelamin (kodrat) dan yang mana gender24.
Wacana dan gerakan gender berangkat dari realitas ketertindasan, dan keterpinggiran kaum perempuan dalam banyak ranah kehidupan antara lain ranah pendidikan. Padahal, sebagaimana dinyatakan Ramayulis, bahwa pendidikan perempuan dalam ajaran Islam termasuk kewajiban agama karena pengetahuan merupakan suatu kebutuhan bagi manusia. Pendidikan bagi perempuan tidak terbatas pada pendidikan agama saja tetapi meliputi juga pendidikan rumah tangga, (cara mendidik dan membesarkan anak), pendidikan social kemasyarakatan dan pendidikan intelektual.25
23 Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Jender Perspektif Al-Qur’an. (Jakarta: Paramadina, 1999), h. 33-34
24 Jamali Sahrodi, Filsafat Pendidikan Islami (Bandung : Arfino Raya, 2011), hlm. 105
Kebijakan nasional menyangkut pendidikan dapat ditelusuri dari UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyebutkan bahwa kesempatan pendidikan pada setiap satuan pendidikan tidak membedakan jenis kelamin, agama, suku, ras, kedudukan sosial, dan tingkat kemampuan ekonomi, dan tetap mengindahkan kekhususan satuan pendidikan yang bersangkutan (pasal 7). Selanjutnya Undang-undang tersebut direspon oleh pemerintah untuk membuat kebijakan yang megakomodir isu gender dalam pendidikan berupa Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender Dalam Pembangunan Nasional. Instruksi Presiden tersebut kemudian juga dijabarkan oleh Menteri Pendidikan Nasional dengan melahirkan kebijakan berupa Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 84 tahun 2008 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan yang menekankan kepada setiap satuan unit kerja bidang pendidikan yang melakukan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi dari seluruh kebijakan, dan program pembangunan bidang pendidikan agar mengintegrasikan gender di dalamnya.
Meskipun kebijakan nasional di bidang pendidikan seperti dipaparkan di atas sudah cukup memadai untuk dijadikan acuan pembangunan pendidikan yang berwawasan gender, namun dalam realitasnya masih saja terjadi ketimpangan gender.
proses penyusunan kurikulum dan proses pembelajaran yang cenderung bias laki-laki (bias toward male). Dalam kedua proses ini harus diakui proporsi laki-laki-laki-laki sangat dominan. Indikasinya dapat dilihat pada penulis buku-buku pelajaran dalam berbagai bidang studi yang mayoritas adalah laki-laki (85%). Selain itu, jumlah tenaga pengajar lebih didominasi laki-laki. Akibatnya, proses pembelajar-an menjadi bias laki-laki (bias against female). Kondisi ini semakin diperburuk oleh kenyataan bahwa sensitivitas gender masyarakat, baik laki-laki dan perempuan masih sangat rendah.26
Pendidikan termasuk salah salah satu pranata sosial yang paling bertanggung jawab melestarikan ketimpangan-ketimpangan gender. Materi pengajaran agama yang berkembang juga merupakan salah satu faktor yang mungkin banyak mempengaruhi budaya patriarkhal. Materi-materi ini harus dikaji ulang dan disusun kembali agar ketimpangan-ketimpangan tidak lagi terjadi, dan keadilan bagi perempuan- yang juga keadilan bagi semua –akan terwujud.27
Ketimpangan gender dalam pendidikan, antara lain berwujud kesenjangan memperoleh kesempatan yang konsisten pada setiap jenis dan jenjang pendidikan. Perempuan cenderung memiliki kesempatan pendidikan yang lebih kecil dibandingkan dengan laki-laki. Semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin lebar kesenjangannya. Kesenjangan ini pada gilirannya membawa kepada berbedanya rata-rata penghasilan laki-laki dan perempuan.
E. Konsep Gender Equality dalam al-Qur'an
26 Iswah Adriana, Kurikulum Berbasis Gender : Membangun Pendidikan Berkesetaraan (Jurnal Tadrîs. Volume 4. Nomor 1. 2009)
Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa Al-Qur'an memberikan pandangan optimistis terhadap kedudukan dan keberadaan perempuan. Semua ayat yang membicarakan tentang Adam dan pasangannya, sampai keluar ke bumi, selalu menekankan kedua belah pihak dengan menggunakan kata ganti untuk dua orang (dlamir mutsanna), seperti kata huma, misalnya keduanya memanfaatkan fasilitas sorga (Q., s. al-Baqarah/2:35), mendapat kualitas godaan yang sama dari setan (Q., s. al-A'rif/7:20), sama-sama memakan buah khuldi dan keduanya menerima akibat terbuang ke bumi (7:22), sama-sama memohon ampun dan sama-sama diampuni.Tuhan (7:23). Setelah di bumi, antara satu dengan lainnya saling melengkapi, "mereka adalah pakaian bagimu dan kamu juga adalah pakaian bagi mereka" (Q., s. al-Baqarah/2:187).28
Ukuran kemuliaan di sisi Tuhan adalah prestasi dan kualitas tanpa membedakan etnik dan jenis kelamin (Q., s. al-Hujurat/49:13). Al-Qur'an tidak menganut faham the second sex yang memberikan keutamaan kepada jenis kelamin tertentu, atau the first ethnic, yang mengistimewakan suku tertentu. Pria dan wanita dan suku bangsa manapun mempunyai potensi yang sama untuk menjadi 'abid dan khalifah (Q., s. al-Nisa'/4:124 dan s. al-Nahl/16:97).29
Sosok ideal, perempuan muslimah (syakhshiyah al-ma'rah) digambarkan sebagai kaum yang memiliki kemandirian politik/istiqlal siyasah (Q., s. al-Mumtahanah/60:12), seperti sosok Ratu Balqis yang mempunyai kerajaan "superpower"/'arsyun 'azhim (Q., s. al-Naml/27:23); memiliki kemandirian
ekonomi/al-istiqlal al-iqtishadi (Q., s. al-Nahl/16:97), seperti pemandangan yang disaksikan Nabi Musa di Madyan, wanita mengelola peternakan (Q., s. al-Qashash/28:23), kemandirian di dalam menentukan pilihan-pilihan pribadi/al-istiqlal al-syakhshi yang diyakini kebenarannya, sekalipun harus berhadapan dengan suami bagi wanita yang sudah kawin (Q., s. al-Tahrim/66:11) atau menentang pendapat orang banyak (public opinion) bagi perempuan yang belum kawin (Q., s. al-Tahrim/66:12). Al-Qur'an mengizinkan kaum perempuan untuk melakukan gerakan "oposisi" terhadap berbagai kebobrokan dan menyampaikan kebenaran (Q., s. al-Tawbah/9:71). Bahkan al-Qur'an menyerukan perang terhadap suatu negeri yang menindas kaum perempuan (Q., s. al-Nisa'/4:75).30
Gambaran yang sedemikian ini tidak ditemukan di dalam kitab-kitab suci lain. Tidaklah mengherankan jika pada masa Nabi ditemukan sejumlah perempuan memiliki kemampuan dan prestasi besar sebagaimana layaknya kaum laki-laki.
Untuk memilih tipe bagi manusia mukmin, Allah SWT mencontohkan perempuan-perempuan sebagai teladan. Sebagaimana tersebut dalam Al-Quran Surat At-Tahrim ayat 11;
dan Allah membuat isteri Fir'aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: "Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu[1488] dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.
dan memilih untuk memilih tipe bagi kaum kafir sebagaimana dalam At-Tahrim
Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba kami; lalu kedua isteri itu berkhianat[1487] kepada suaminya (masing-masing), Maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): "Masuklah ke dalam Jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)".
Dari kedua ayat tersebut, perlu dicermati bagaimana Allah merepresentasikan kedua tipologi manusia yang berlawanan tersebut kepada sosok perempuan. Ini menunjukkan bahwa suatu transformasi baik yang bersifat progresif (maju) atau degradatif (mundur) di berbagai aspek kehidupan tidak lepas dari peranan kaum perempuan; artinya peradaban dunia Islam tidak lepas dari kaum muslimahnya.31
Muslim, Abu Daud dan An-Nasa`i). Bahkan mereka berani menuntut kepada Nabi Saw ketika mereka merasakan bahwa hak belajar mereka tidak terpenuhi bila dibandingkan dengan kesempatan yang diberikan kepada sahabat laki-laki.32
Ditegaskan pula oleh Asghar Ali Engineer, bahwa hak-hak wanita yang telah digariskan di dalam syariat tidak hanya didasarkan pada teks Al-Qur`an, namun juga pada sunnah Nabi dan pendapat para fuqaha (hakim). Seorang hakim Mesir yang sangat terkenal, al- Shaikh Muhammad al- Khadari, dalam bukunya mengatakan bahwa, sebagaimana dikutip Asghar, fiqh al- islami (hukum Islam) didasarkan pada al-Qur’an, apa yang datang dari Rasul Allah- ucapan dan perbuatannya, serta ara’ al fuqaha (pendapat para hakim yang dipengaruhi oleh zamannya masing-masing). Sehingga jelas sekali bahwa syariat itu juga bercampur dengan pendapat orang yang tidak lepas dari konteks zaman ketika dia hidup.33
Semuanya semakin menegaskan bahwa al-Qur`an, Sunnah dan berbagai pendapat para ulama mengandung ajaran yang tidak menegasikan hak-hak dan peran perempuan dalam Islam. Kehadiran Islam di muka bumi ini termasuk membawa misi kesamaan derajat manusia yang tak memandang jenis kelamin laki-laki maupun perempuan sebagai pengejawantahan ajaran tauhid sebagai ajaran utama dalam Islam. Di mata Tuhan yang menentukan kualitas manusia hanyalah ketakwaan kepada-Nya.
F. Penutup
32 Lihat tulisan Faqihuddin Abdul Kodir, Menuju Pendidikan Yang Memihak Perempuan, dalam Swara Rahima edisi No. III, Maret 2003, h. 20-24
Demikian deskripsi tentang peran perempuan dalam pendidikan Islami yang menguraikan beberapa sub topik bahasan seperti tentang makna peran perempuan yang tak bisa dilepaskan dari hak-hak yang dimiliki perempuan baik hak dalam bidang politik, memilih pekerjaan maupun hak dalam belajar (pendidikan).
Tentang pentingnya partisipasi perempuan dalam pendidikan juga diulas bagaimana sesungguhnya perempuan pun memiliki akses yang sama untuk mengaktualisasikan diri dalam bidang pendidikan sebagai konsekwensi wajar dari kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan bersama membangun peradaban manusia yang harmonis dengan ditegakkannya keadilan, kesetaraan, dan keharmonisan hubungan sesama manusia.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Mustaqim, Paradigma Tafsir Feminis : Membaca al-Qur`an dengan Optik Perempuan, (Yogyakarta : Logung Pustaka, 2008)
Asghar Ali Engineer, Islam dan Teologi Pembebasan, terj. Agung Prihantoro, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2009), cet. V
Faqihuddin Abdul Kodir, Menuju Pendidikan Yang Memihak Perempuan, dalam Swara Rahima edisi No. III, Maret 2003
Hj. Masyithoh, Peran Pendidikan Muslimah Dalam Mengembangkan Kebudayaan, Pendidikan Dan Sosial Dalam Masyarakat Islam, Makalah dalam Seminar, “Islamic World:
Women’s Role and Responsibility of Muslim Women” 17 Des
2011
Husein Muhammad, Fiqh Perempuan : Refleksi Kiai atas Wacana Agama dan Gender (Yogyakarta : LKiS, 2007)
Husein Muhammad, Partisipasi Politik Perempuan, artikel dalam http://www.islamlib.com
Ibrahim Amini. Bangga Jadi Muslimah. Jakarta:Al-Huda.2007
Iswah Adriana, Kurikulum Berbasis Gender : Membangun Pendidikan Berkesetaraan (Jurnal
Jamali Sahrodi, Filsafat Pendidikan Islami (Bandung : Arfino Raya, 2011)
Jawadi Amuli. Keindahan dan Keagungan Wanita; Pandangan Ilahi. Jakarta:Lentera.2005
M. Quraish Shihab, Membumikan al-Qur`an, http://media.isnet.org
Mansour Fakih, Analisis Gender & Transformasi Sosial (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005)
Website