• Tidak ada hasil yang ditemukan

pasar rasional bank syariah. pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "pasar rasional bank syariah. pdf"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

R Lukman Fauroni

Dosen IAIN Surakarta

PASAR RASIONAL BANK SYARIAH

Masih ada anggapan antara bank syariah dan konvensional sedikit bedanya.

Keduanya, lembaga perbankan tempat menabung, deposito atau meminjam dana

dengan penetapan keuntungan tertentu bagi bank. Di bank konvensional disebut

bunga, di bank syariah disebut margin atau bagi hasil. Istilah margin cenderung

masih asing, sehingga tak jarang masyarakat menyebutnya bunga juga.

Penyebutan margin sebagai bunga tidaklah tepat. Pembedanya jelas. Bunga

dipastikan di awal, terpengaruh suku bunga yang ditetapkan bank Indonesia,

sedangkan margin lebih bersifat fleksibel. Di antaranya dipengaruhi kinerja

bisnis nasabah dan modal serta keuntungan yang didapat bank syariah. Disadari

melakukan perubahan kebiasaan apalagi pola berfikir tidaklah mudah. Hal itu

terkait erat cara pandang, kebiasaan bahkan budaya tertentu. Pada poin inilah,

penggunaan pendekatan ekonomi dan budaya dalam edukasi dan sosialisasi

produk dan sistem bank syariah menjadi agenda penting.

Pangsa pasar bank syariah belum mencapai target yang dicanangkan.

Pertumbuhannya menjelang akhir tahun dinilai belum memuaskan. Menurut data

Bank Indonesia, kinerja bank syariah di Solo Raya, pada September 2011 baru

(2)

nasional Rp 123 triliun dan tumbuh 40%. Bandingkan dengan aset perbankan

nasional akhir tahun lalu sebesar Rp 2.856,27 triliun.

Pencitraan bank syariah sebagai “beyond banking” atau lebih dari sekedar

bank tampaknya belum dirasakan secara massif. Padahal dari sisi produk saja

mempunyai perbedaan yang tegas. Di bank konvensional nasabah tidak bisa

menggadaikan emas, menyerahkan harta wakaf atau zakat, infak dan shadaqah.

Itulah di antara pembedanya disamping hal lain menyangkut sistem, perlakuan

pada nasabah, denda dan lain-lain. Namun sekali lagi, mengapa

pembeda-pembeda seperti itu belum memasyarakat?

Selama ini, pasar perbankan syariah tampaknya masih didominasi oleh pasar

emosional. Menjadi nasabah bank syariah belum didasarkan pada keunggulan

dan nilai tambah ekonomi dibanding bank konvensional. Pilihan atas bank

syariah pada masyarakat lebih didasarkan “rasa” keagamaan, melalui pintu

masuk sisi emosional. Bunga adalah riba yang haram, pemakan riba seperti orang

gila, hidup akan menjadi lebih berkah tanpa riba dan lain-lain.

Pola sosialisasi demikian hemat saya, kurang prospektif. Bank syariah

merupakan lembaga bisnis keuangan yang mempunyai keunggulan sistem dan

nilai ekonomi termasuk dalam hal resiko kerugian. Sudah sejatinya perluasan

pasar bank syariah dilakukan dengan pendekatan rasional ekonomi. Masyarakat,

kini mudah menerima sesuatu yang baru bila dirasakan ada nilai tambahnya.

Lebih khusus bila terkait keuntungan ekonomi. Maraknya investasi emas murni,

(3)

Keunggulan bank syariah

Secara sistem, dana yang ditabung atau deposito di bank syariah lebih aman.

Peminjam dana dipersyaratkan kejelasan peruntukkan dana. Untuk keperluan

membeli mobil, rumah, bank bertindak sebagai penjual kedua, sementara nasabah

sebagai pembelinya. Sistem ini akan mencegah penggunaan dana diluar

peruntukkan yang telah disepakati, apalagi untuk transaksi spekulasi atau jual beli

valas.

Apabila para periode tertentu, sisa kewajiban pinjaman ditutup oleh nasabah,

maka bank tidak mengenakan margin pada sisa waktu, karena akadnya berakhir

ketika ditutup. Ini sangat berbeda dengan konvensional yang pada umumnya

menggunakan sistem anuitas. Untuk keperluan modal kerja, (mudharabah/

musyararakah) bank dan nasabah diposisikan sebagai pemilik modal, sehingga

keduanya berhak mendapat bagian (porsi) dari keuntungan usaha.

Pada bank syariah karakter nasabah lebih dinomorsatukan dibanding nilai

jaminan. Nasabah diposisikan sebagai mitra fungsional yang dapat memilih

produk dan konsekuensinya termasuk plus minus nilai ekonominya. Inilah di

antara bukti sistem profit sharing (berbagi keuntungan).

Anggapan persyaratan lebih ketat dalam pengajuan pembiayaan di bank

syariah, justru menjadikan resiko kerugian bank syariah lebih kecil dari

perbankan konvensional. Peminjam yang dinilai tidak cacat dalam praktek

usahanya akan mendapat prioritas.

Kinerja bisnis suatu bank syariah, termasuk perolehan keuntungannya akan

(4)

bisnisnya menurun. Dari situlah mengapa bagi hasil untuk nasabah tabungan dan

deposito bisa lebih besar dari bunga di bank konvensional.

Perluasan Pasar

Secara historis, Solo Raya mempunyai ikatan nilai historis yang kuat dengan

praktek ekonomi dan bisnis berbasis Islam yaitu Serikat Dagang Islam (SDI).

Namun mengapa kekuatan fakta itu belum sinambung dengan pertumbuhan pasar

bank syariah. Pada poin ini, perluasan pasar bank syariah harus mengedepankan

edukasi dan sosialisasi berbasis ekonomi Islam dengan pendekatan rasionalitas

konsekuensi ekonomi dan bisnis. Selain itu untuk konteks regional jangan

dilupakan pendekatan budaya.

Menurut Dian Nafi (2011), masyarakat Solo Raya dapat dipetakan menjadi

tiga tipe. Pertama, masyarakat inti yang berkarakteristik pemelihara dan

“penjaga” budaya asli Solo. Kedua, masyarakat campuran bercirikan asimilasi

budaya luar Solo dan asli Solo. Dan ketiga, masyarakat umum selain dua tipe

tersebut. Berdasar tipologi tersebut, edukasi dan sosialisasi bank syariah

mengharuskan penekanan yang berbeda. Namun, karena adanya kekuatan kultur

bisnis dan industri, menjadikan masyarakat Solo menjadi sangat rasional terutama

dalam hal yang terkait bisnis. Pasar bank syariah kiranya baru masuk ke

masyarakat tipe ketiga dan sebagian tipe kedua.

Berdasar hal itu pula, edukasi dan sosialisasi bank syariah di samping

mengedepankan aspek rasional ekonomi, akan lebih efektif bila melakukan

sindikasi dengan pranata-pranata sosial ekonomi dan budaya yang ada. Demikian

(5)

melakukan perubahan mind set. Implementasi pengajaran ekonomi berbasis

keislaman dan keindonesiaan, termasuk bank syariah menjadi penting. (R Lukman

(6)

BIODATA SINGKAT

Nama : R Lukman Fauroni, M.Ag

Tempat tanggal lahir : Bl Limbangan, 02 September 1972

Pekerjaan : Dosen IAIN Surakarta

Alamat : Pilahan KG I No 776 A Rt 41/ 13 Yogyakarta

Telp : 081392292875

Email : [email protected]

Pendidikan :

1. SDN Bl Limbangan 3 Bl Limbangan Garut

2. MTs YPI Pulosari Bl Limbangan Garut

3. MAN I Garut lulus tahun 1991

4. S-1 IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Jurusan Tafsir

Hadis lulus tahun 1997

5. S-2 IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta lulus tahun 2001

6. S-3 Ekonomi Islam (sedang penelitian disertasi)

Pengalaman Pekerjaan:

1. Guru MTs Sunan Cipancar dan MA Sunan Rahmat

2. Dosen STIS Yogyakarta

3. Dosen STEI Yogyakarta

4. Ketua STEI Yogyakarta 2001-2006

5. Dosen Luar Biasa FIAI UII, STIE Mitera Indonesia,

STIM YKPN, Fak Ekonomi UMY, MSI UMY

6. Dosen IAIN Surakarta

Rekening Bank : BRI Solo Kartasuro No 018201017813505

Yogyakarta, Nopember 2011

Referensi

Dokumen terkait

Pengaruh Tingkat Suku Bunga Deposito Bank Konvensional Terhadap. Deposito Mudharabah pada Bank Syariah Di Indonesia.Hasil

Meskipun banyak bank-bank syariah di sekitar peneliti yang mengelola dana deposito syariah, namun dengan pertimbangan ketersediaan data dan telah lama PT Bank BNI

Pengaruh Bagi Hasil Terhadap Jumlah Dana Deposito Syariah Mudharabah Yang Ada Pada Bank Syariah Mandiri..

Variabel tingkat bagi hasil deposito bank syariah dalam penelitian ini berpengaruh negatif signifikan terhadap jumlah simpanan deposito mudharabah bank

 BUS atau UUS yang melakukan Penempatan dana pada instrumen yang diterbitkan oleh Bank Asing dalam transaksi PUAS yang tidak memenuhi prinsip syariah, dikenakan. sanksi

 Dari hasil statistik diketahui besarnya bahwa besarnya nilai koefisien determinan (R 2 ) adalah sebesar 0,474, berarti 47,4% jumlah dana deposito syariah pada Bank

Bank syariah dalam penetapan bagi hasil deposito berjangka dengan akad mudharabah belum sesuai dengan syariah dikarenakan cara penetepan keuntungan yang dilakukan bank Syariah

Bank BNI Syariah Kantor Cabang Banda Aceh menghimpun dana yaitu dalam bentuk simpanan tabungan, deposito, dan giro kemudian menyalurkan dana dalam bentuk pembiayaan,