• Tidak ada hasil yang ditemukan

BUDAYA KEKERASAN DI SEKOLAH. doc

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "BUDAYA KEKERASAN DI SEKOLAH. doc"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

BUDAYA KEKERASAN DI SEKOLAH Junaidi

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Univa Labuhanbatu

Bullying atau kekerasan, kebelakangan ini sempat menyita perhatian banyak pihak. Seperti para guru sebagai tenaga pendidik yang tampak bingung mengatasi masalah kekerasan yang terjadi di sekolahnya. Para orang tua murid yang selalu dihinggapi rasa takut dan cemas, akan keadaan anaknya di sekolah karena takut menjadi korban kekerasan. Masyarakat luas, LSM dan media masa, serta pihak penegak hukum seperti polisi dan pengadilan.

(2)

Pada kasus yang lain 2 orang anak laki-laki yang berusia 11 tahun keduanya mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Motif utama sebagaimana yang dikemukakan oleh kedua orang tuanya, dari tempat yang berbeda, satu di Georgia dan yang satunya di Massachusetts, mereka berdua telah mendapatkan kekerasan verbal dari teman kelasnya dengan menuduh mereka berdua sebagai "gay." Akhirnya, mereka berdua lebih memilih untuk menggantung diri daripada bertatap muka dengan teman-teman yang lain di sekolah, time.com (Rabu, 20 Mei 2009). Ini baru dua kasus dari sekian banyaknya kasus yang sampai detik ini terus terjadi di Amerika, ke depan entah kasus kekerasan apalagi yang terjadi.

Seakan tak mau ketinggalan, kekerasan yang terjadi di dunia pendidikan kita pun tidak kala tragisnya. Bahkan tidak sedikit yang berakhir pada kematian juga. Masih sangat segar ingatan kita terhadap kasus kekerasan yang terjadi di Sekolah Tinggi Pemerintah Dalam Negeri (STPDN) yang oleh Presiden SBY di lebur dengan Institut Ilmu Pemerintah (IIP) menjadi wadah baru Institut Pemerintah Dalam Negeri (IPDN). Hal ini dilakukan karena banyak terjadi kasus kekerasan sejak tahun 1990an yang menurut salah seorang dosennya, Inu Kencana Syafie, sudah ada 35 orang praja yang meninggal dunia dan baru 10 kasus yang terungkap. Kasus ini sempat meyita perhatian semua pihak pada tahun 2007 tiga tahun yang lalu.

Baru-baru ini juga terjadi kasus kekerasan yang terjadi di SMA 70, sebagaimana dimuat di media online, tabloidnova.com (Senin, 12 April 2010) Vhia, remaja putri kelas 1 SMAN 70 mendapat perlakuan kekerasan baik secara verbal maupun fisik dari ketiga seniornya yang duduk di kelas 3. Buntut dari kekerasan itu menyebabkan Vhia trauma datang ke sekolah, dan kasus ini sedang ditangani oleh Polda Metro Jaya.

(3)

siswa kelas 1 SMA 46 mengaku telah mendapatkan kekerasan dari seniornya siswa kelas 3. Sebagaimana yang dimuat dalam detik.com (Sabtu, 03 April 2010) Okke Busiman mengalami beberapa pemukulan dengan helm dan tangan kososng, tendangan di punggung, dan 5 sundutan rokok di lengan kanannya. Kekerasan ini menyebabkan Okke trauma datang ke sekolah, akhirnya ia memilih untuk keluar dari sekolah dan memilih Home Schooling saja. Kasus ini juga sedang ditangani Polres Jakarta Selatan.

Sebenarnya kasus kekerasan sebagaiman dikutip dari berbagai berita harian diatas hanyalah secuil dari permasalahan kekerasan yang sesungguhnya lebih besar dan lebih parah, bahkan kekerasan itu berada di lingkungan terdekat dari kita. Tetapi sayangnya kita tidak pernah mau belajar dari masa lalu dan kekerasan terus berulang-berulang dan berulang lagi. Kalau kita amati kebanyakan pemicu kekerasan yang terjadi di sekolah karena persoalan yang sepele, seperti perkataan yang menyinggung perasaan, rasa cemburu, tidak memakai kaos singlet dan hal-hal sepele lainnya. Akan tetapi itu hanya pemicunya saja lebih dari itu ada persoalan segunung yang sudah mengakar, terutama yang menjadi gerbang masuknya kekerasan di sekolah yang notabenenya adalah sebagai lembaga pendidikan.

Gerbang pertama, Seniority Vs Juniority. Banyak kekerasan melibatkan orang yang lebih senior dengan korban yuniornya atau bisa juga teman sekelas yang merasa dirinya superior dengan korban yang tentunya lebih inferior. Seorang peneliti yang menerbitkan penelitiannya di Archives of General Psychiatry, mengemukakan bahwa kekerasan terus meningkat pada seorang anak yang mengalami pengalaman negatif yang melibatkan kawan sebaya ataupun orang yang lebih dewasa, time.com ( Selasa, 14 Oktober 2008).

(4)

dan terakhir munculnya keinginan bunuh diri. Kalau masalah kekerasan ini terbiarkan maka akan mengakibatkan kefatalan dalam diri korban, atau kalau ia berhasil melalunya maka kemudian hari korbanlah yang akan menjadi pewaris dan melakukan kekerasan pada orang lain, dan ini terus berulang menjadi lingkaran yang sulit diputus.

Gerbang kedua, adalah peer group, banyaknya kelompok remaja sebaya yang bermunculan di lembaga sekolah yang tidak terorganisir adalah indikasi dari bermulanya kekerasan. Terutaman bila kelompok itu beraksi untuk menunjukkan loyalitas individu kepada kelompoknya sebagai syarat untuk diterima oleh kelompoknya. Tetapi kebanyakan aksinya adalah aktivitas kekerasan yang dilakukan kepada kelompok lain atau individu yang menajadi santapan untuk keperluan kelompoknya.

Gerbang ketiga, seeking of identity terkadang seorang remaja atau kumpulan remaja sengaja melakukan tindakan kekerasan hanya karena ingin diakui identitasnya. Tetapi karena jiwa remaja merupakan jiwa peralihan kanak-kanak ke dewasa terkadang mereka melakukan sesuatu tanpa memikirkan konsekwensinya. Sering mereka melakukan tindakan kekerasan tanpa berfikir terlebih dahulu, padahal tindakan yang mereka lakukan akan mengakibatkan kepada kefatalan. Sama halnya dengan jiwa anak-anak yang tidak pernah memikirkan resiko dari perbuatannya. Kalau kasus yang terjadi di Amerika Bullying menyebabkan kondisi psikologis korban terguncang yang akhirnya memeilih jalan penyelesaian dengan bunuh diri, lain halnya di Indonesia ini kasus Bullying itulah yang menyebabkan korban kehilangan nyawanya.

(5)

sekitar yang memang mempunyai budaya kekerasan bahkan sejak dilahirkan seorang anak sudah mengalami yang namanya kekerasan. Budaya itu juga tidak terlepas dari mereka orang dewasa yang sering memberi contoh kepada remaja baik secara langsung maupun melalui media masa dan media elektronik. Bahkan televisi telah menjadi guru mereka yang banyak menampilkan adegan kekerasan dalam setiap tayangannya. Walupun tidak sedikit kasus para guru itu sendiri yang mengajarkan kekerasan pada muridnya.

Keempat gerbang kekerasan di dunia sekolah, sebagaimana yang telah diungkap di atas merupakan penyebab utama yang menjadi pintu masuknya kekerasan, walaupun masih banyak faktor lain yang berkaitan dengan kekerasan di sekolah. Dari keempat pokok persoalan di atas minimal kita juga harus menyiapkan empat solusi juga, yaitu :

Pertama, karena kekerasan terjadi di sekolah dan yang menjadi pelaku kebanyakan adalah senior, maka guru dan pengawas sekolah harus lebih hati-hati dan memperketat penjagaan terhadap senior terutama masa-masa awal tahun ajaran baru. Segala program dan tindakan senior yang memungkinkan terjadinya kekerasan sedini mungkin di cegah atau diminimalisir. Untuk menutup gerbang kekerasan pertama ini perlu kemauan dan kerja keras dari guru dan pihak sekolah. Jangan sampai guru malah bingung dan tak tahu apa yang harus mereka perbuat.

(6)

dapat mengontrol atau mengerem indikasai yang mengarah kepada tindakan kekerasan

Ketiga, demikian juga dengan identitas diri harus dikenalkan kepada anak-anak dengan memberiakan contoh suri tauladan dari orang-orang terdekatnya sebelum anak memasuki usia remaja. Terutama kedua orang tua yang merupakan model dari anaknya. Dengan demikan begitu anak memasuki usia remaja, anak tidak perlu lagi mencari jati diri dan mencari vigur di luar selain orang tua. Pada saat ini anak sudah mantap dengan jati dirinya dan siap memikul tanggung jawab sebagai orang dewasa. Anak yang sudah paham dengan tanggungjawab, ia akan mampu memikirkan konsekwensi dari perbuatannya, ia akan berfikir sebelum melakukan sebuah tindakan, dengan demikian anak akan terhindar untuk melakukan tindakan kekerasan maupun menjadi korban kekerasan.

Yang terakhir, adalah menjadi tugas semua orang karena anak dilahirkan sebagai makhluk biologis yang membawa potensi kejiwaan sesuai dengan fitrahnya, kemudian anak tumbuh kembang sebagai makhluk sosial. Maka secara sosial masyarakat adalah merupakan benteng bagi perlindungan anak, masyarakat adalah pendidik sepanjang hayat bagi anak. Dengan demikian ruskanya nilai pundi-pundi masyarakat akan merusak nilai-nilai pada anak yang selanjutnya menjadi generasi yang rapuh dan rentan dari kekerasan. Maka tidak sepatutnya kita mempercayakan sepenuhnya tugas pendidikan pada lembaga sekolah tanpa mengambil peduli tanggung jawab secara bersama . Walaupun fungsi dan pernan antara Masyarakat, keluarga dan sekolah sebenarnya tidak dapat dipisahkan.

(7)

Referensi

Dokumen terkait

Dari analisis latar dan tokoh yang telah dikemukakan di atas, dapat ditemukan berbagai jenis kekerasan yang ditampilkan melalui tindakan para tokohnya dengan menggunakan latar

Tujuan yang ingin di capai dalam penelitian ini adalah 1) Untuk Mengetahui dan menganalisis Optimalisasi Penyidik Unit Reserse dalam Menangani Pencurian dengan

Sekardangan memiliki keistimewaan motif yang menjadi ciri khas tersendiri dan berbeda dengan tempat pembatikan lain di Kabupaten Sidoarjo. Belum ada upaya untuk

berhasil tidaknya sebuah kegiatan itu salah satunya tergantung oleh besarnya Anggaran yang digunakan, di SMP Negeri 3 Sinjai sendiri sudah lama mendapatkan

Dari analisis latar dan tokoh yang telah dikemukakan di atas, dapat ditemukan berbagai jenis kekerasan yang ditampilkan melalui tindakan para tokohnya dengan menggunakan latar

Tujuan yang ingin di capai dalam penelitian ini adalah 1) Untuk Mengetahui dan menganalisis Optimalisasi Penyidik Unit Reserse dalam Menangani Pencurian dengan

Nilai-nilai budaya yang terkandung pada motif tenun ikat di suku Ende Lio Desa Manulondo 1 Nilai Religious Motif tenun ikat yang ada di Desa Manulondo memiliki empat motif yaitu motif

155 belakang dari UUSPPA ini adalah karena seorang anak yang menjadi pelaku juga dinilai sebagai korban dari perlakuan salah orang tuanya, lingkungan tempat tinggal atau sekolah, juga