• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS KADAR RESIDU TETRASIKLIN PADA D

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALISIS KADAR RESIDU TETRASIKLIN PADA D"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

PENDAHULUAN

Penggunaan obat-obatan pada bidang peternakan sangat dibutuhkan untuk hasil produksi yang optimal. Untuk memenuhi tuntutan produksi ternak yang tinggi, maka ketersediaan obat hewan sangat diperlukan, disamping penggunaan bibit unggul dan pemuliaan yang memakan waktu yang relatif lama.(11)

Antibiotik pada bidang peternakan digunakan untuk pengobatan dan sebagai tambahan pakan agar hewan ternak tersebut bebas dari penyakit sehingga pertumbuhan badannya tidak terhambat. Pada faktor keamanan pemakaian antibiotik pada hewan ternak harus dipertimbangkan, karena pemakaian antibiotik yang tidak beraturan menyebabkan residu dalam jaringan organ dan resistensi yang berbahaya bagi kesehatan manusia. (21)

Antibiotik yang digunakan pada ternak khususnya pada ayam secara prevalensi menggunakan antibiotik dari golongan tetrasiklin. Penggunaan antibiotik tetrasiklin masih dipergunakan secara ekstensif oleh peternak ayam.(21) Antibiotik golongan tetrasiklin merupakan salah satu golongan antibiotik yang sering digunakan untuk pengobatan penyakit infeksi respirasi kronis yang disebabkan oleh Mycoplasma galliseticum, sinovitis yang disebabkan oleh

Mycoplasma sinovae dan kolera unggas pada ayam.(4)

(2)

yang melewati batas maksimum (BMR) yang ditetapkan dapat menimbulkan rekasi alergis, keracunan, resistensi mikroba tertentu atau gangguan fisiologis pada manusia. Waktu henti pada golongan antibiotik golongan tetrasiklin adalah 5 hari menjelang ternak dipotong. Menurut SNI 01-6366-2000, BMR antibiotik golongan tetrasiklin dalam daging tidak melebihi 100 ppb.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya residu tetrasiklin yang terdapat pada ayam broiler, serta mengetahui kadar residu tetrasiklin formalin yang terdapat pada ayam broiler di Pasar Ciawitali, Garut. Metode yang digunakan untuk penentuan kadar residu tetrasiklin menggunakan Spektrofotometri Ultraviolet secara adisi standar untuk mengetahui kadar residu tetrasiklin dalam daging ayam broiler di pasaran dengan membandingkan ketentuan penetapan BMR menurut SNI 01-6366-2000. Untuk menguji keabsahan dari metode yang dikerjakan makan pada akhir penelitian ini dilakukan validasi. Parameter validasi yang dilakukan akurasi dan presisi.

(3)

BAB I

TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Budidaya Ayam Pedaging (Broiler)

Ayam merupakan unggas penghasil daging yang sangat populer dimasyarakat Indonesia, karena usaha peternakan ayam masih menjadi sektor kegiatan yang paling cepat dan paling efisien untuk memenuhi kebutuhan daging bagi masyarakat. Ayam pedaging (broiler) mampu tumbuh cepat sehingga dapat menghasilkan daging dalam waktu relatif singkat (4-5 minggu). Daging ayam mempunyai peranan yang penting sebagai sumber protein hewani asal ternak. (12)

Ayam pedaging merupakan hasil perkawinan silang dan sistem yang berkelanjutan sehingga mutu genetiknya bisa dikatakan baik. Mutu genetik yang baik akan muncul secara maksimal sebagai penampilan produksi jika ternak tersebut diberi faktor lingkungan yang mendukung, misalnya pakan yang berkualitas tinggi, sistem perkandangan yang baik, serta perawatan kesehatan dan pencegahan penyakit. (17)

Pakan adalah hal yang paling utama untuk ternak ayam pedaging, harus mengandung nilai gizi yang perlu dicampur dengan bahan pakan lain dengan proporsi tertentu untuk mendapatkan pakan seimbang dan memenuhi kebutuhan zat gizi ayam ras pedaging. Pakan yang diberikan harus mengandung nutrisi yang dibutuhkan ayam, yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Pemberian pakan dengan sistem ad libitum

(4)

1.1.1 Taksonomi

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Aves

Subkelas : Neornithes

Ordo : Galiformis

Genus : Gallus

Spesies : Gallus domesticus(7)

1.2 Antibiotika

Antibiotik adalah zat-zat kmia oleh yang dihasilkan oleh fungi dan bakteri, yang memiliki khasiat mematikan atau menghambat pertumbuhan kuman, sedangkan toksisitasnya bagi manusia relatif kecil. Turunan zat-zat ini, yang dibuat secara semi-sintesis dan sintesis dengan khasiat antibakteri. Antibiotik merupakan obat yang sangat penting dan dipakai untuk memberantas berbagai penyakit infeksi, misalnya radang paru-paru, typhus, luka berta, dan lain-lain. Penggunaan antibiotika harus dibawah pengawasan seorang dokter, karena dapat menimbulkan efek yang dikehendaki dan kerugian yang cukup besar jika pemakaiannya tidak dikontrol dengan baik. (20)

(5)

1.2.1 Golongan Antibiotik 1. Golongan Penisilin

Penisilin diklasifikasikan sebagai obat β-laktam karena cincin laktam yang unik. Penisilin memiliki ciri-ciri kimiawi, mekanismen kerja, farmakologi, efek klinis dan karakteristik imunologi yang mirip dengan sefalosporin, monobaktam, karbapenem, β-laktamase inhibitor yang juga merupakan senyawa β-laktam.(8)

2. Golongan Sefalosporin dan Sefamisin

Sefalosporin dengan penisilin secara kimiawi, cara kerja dan toksisitas. Hanya saja sefalosporin lebih stabil terhadap banyak beta-laktamase bakteri sehingga memiliki spektrum yang lebih lebar. Sefalosporin tidak aktif terhadap bakteri enterokokus dan L. Monocytogenes.(8)

3. Golongan Kloramfenikol

Kloramfenikol merupakan inhibitor yang potensial terhadap sintesis protein mikroba. Kloramfenikol bersifat bakteriostatik dan memiliki spektrum luas dan aktif terhadap masing-masing bakteri gram positif.(8)

4. Golongan Tetrasiklin

(6)

untuk mengobati ulkus peptikum yang disebabkan oleh H.pylori. Tetrasiklin menembus plasenta kemudia diekskresi melalui ASI, dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan tulang dan gigi pada anak akibat ikatan tetrasiklin dengan kalsium. Tetrasiklin diekskresi melalui urin dan cairan empedu.(8)

Khasiatnya bersifat bakteriostatis, hanya melalui injeksi intravena dapat dicapai kadar plasma yang bakterisid lemah. Mekanisme kerjanya berdasarkan diganggunya sintesa protein kuman. Spektrum antibakterinya luas dan meliputi banyak cocci Gram-positif dan Gram-negatif.(20)

a. Sifat Fisikokimia Tetrasiklin HCl

Tetrasiklin berwarna kuning dan bersifat amfoter, garamnya dengan klorida/fosfat paling banyak digunakan. Larutan garam tersebut hanya stabil pada pH < 2 dan terurai pesat pada pH lebih tinggi. Begitu pula pada kapsul yang disimpan di tempat panas dan lembab mudah terurai, terutama dibawah pengaruh cahaya.(20)

(7)

2, potensi berkurang dan cepat rusak dalam larutan alkali hidroksida serta memiliki suhu lebur 24oC. Rumus struktur Tetrasiklin HCl, dapat dilihat pada gambar 2.(3)

b. Mekanisme Kerja Tetrasiklin

Tetrasiklin bersifat bakteriostatik dengan jalan menghambat sintesis protein. Hal ini dilakukan dengan cara mengikat unit ribosom sel bakteri 30 S sehingga t-RNA tidak menempel pada ribosom yang mengakibatkan tidak terbentuknya amino asetil RNA. Antibiotik ini dilaporkan juga berperan dalam mengikat ion Fe dan ion Mg. Meskipun tetrasiklin dapat menembus sel mamalia, namun pada umumnya tidak menyebabkan keracunan pada individu yang menerimanya.(12)

Ada 2 proses masuknya antibiotik ke dalam ribosom bakteri gram negatif, pertama yang disebut difusi pasif melalui kanal hidrofilik, kedua yaitu sistem transport aktif. Setelah masuk maka antibiotik berikatan dengan ribosom 30S dan menghalangi masuknya t-RNA asam amino pada lokasi asam amino.(12)

(8)

5. Golongan Makrolida

Eritromisin merupakan bentuk prototipe dari obat golongan makrolida yang disintesis dari S.erythreus. Eritromisin efektif terhadap bakteri gram positif terutama pneumokokus, strepkokus, stafilokokus dan korinebakterium. Aktifitas antibakterial eritromisin bersifat bakterisidal dan meningkat pH basa.(8)

6. Golongan Aminoglikosida

Termasuk golongan aminoglikosida, antara lain streptomisin, neomisin, tobramisin, sisomisin, netilmisin dan lain-lain. Golongan aminoglikosida pada umumnya digunakan untuk mengobati infeksi akibat bakteri gram negatif enterik, terutama pada bakteremia dan sepsis, dalam kombinasi dengan vankomisin atau penisilin untuk mengobati endokritis dan pengobatan tuberkolosis.(8)

7. Golongan Sulfonamida dan Trimetoprim

Sulfonamida dan trimetoprim merupakan obat yang mekanisme kerjanya menghambat sintesis asam folat bakteri yang akhirnya berujung kepada tidak terbentuknya basa purin dan DNA pada bakteri. Kombinasi dari trimetoprim dan sulfametoxazole merupakan pengobatan yang sangat efektif terhadap pneumonia akibat P.jiroveci, sigellosis, infeksi salmonela sistemik, infeksi saluran kemih, prostatitis dan beberapa infeksi mikobakterium non-tuberkulosis.(8)

8. Golongan Flurokuinon

(9)

Golongan flurokuinon aktif terhadap bakteri gram negatif dan efektif mengobati infeksi saluran kemih yang disebabkan oleh pseudomonas. Golongan ini juga aktif mengobati diare yang disebabkan oleh shigella, salmonella, E,coli dan Campilobacter. (8)

1.3 Pemakaian Tetrasiklin pada Ternak

Telah banyak antibiotika yang dipergunakan untuk mengobati penyakit infeksi, baik yang dibuat secara alami ataupun dari hasil sintesa dan banyak pula yang diproduksi dalam suatu industri. Pengobatan dengan antibiotik pada ternak diharapkan dapat mengurangi resiko kematian, menghambat penyebaran penyakit ke lingkungan, baik ke manusia maupun ternak lainnya. Terlebih lagi apabila ternak ada dalam kelompok dengan jumlah besar sehingga penularan penyakit infeksi mudah terjadi. Penggunaan antibiotika yang dapat memberikan hasil penyembuhan yang cepat sangat diperlukan, karena ternak diharapkan cepat kembali berproduksi secara optimal sehingga kerugian ekonomi yang besar dapat dihindari.(11)

Tetrasiklin yang digunakan pada unggas biasanya untuk pengobatan

Chromic Respiratory Disease (CRD) atau ngorok, air sacculitis,

(10)

pertumbuhan (antibiotic growth promotors/AGP), selain antibiotika golongan penisilin, makrolida, linkomisin dan virginiamycin.(19) (20)

1.4 Residu Tetrasiklin pada Ternak

Residu antibiotik dalam makanan asal hewan erat kaitannya dengan penggunaan antibiotik untuk pencegahan dan pengobatan penyakit serta penggunaannya sebagai imbuhan pakan. Sebagai imbuhan pakan, antibiotik dapat memacu pertumbuhan ternak agar dapat tumbuh lebih besar dan lebih cepat serta dapat mencegah terjadinya infeksi bakteri.(14) Penambahan obat hewan antibakteri (antibiotik) ke dalam ransum pakan ternak bertujuan meningkatkan laju pertumbuhan.(18)

Penggunaan antibiotik yang berlebihan serta tidak dipatuhinya waktu henti obat menyebabkan timbulnya residu di dalam daging ternak, telur, susu atau produk ternak lainnya. Waktu henti adalah kurun waktu dari saat pemberian obat terakhir hingga ternak boleh dipotong atau produknya dapat dikonsumsi. Waktu henti pemakaian antibiotik golongan tetrasiklin adalah 5 hari menjelang ternak dipotong.(5)

(11)

buruk bagi manusia, diantaranya alergi, keracunan, karsinogen dan resistensi terhadap antibiotik tertentu.(13)

1.5 Dampak Residu Antibiotika Dalam Produk Ternak Terhadap Kesehatan

Pemakaian antibiotika sebagai pengobatan atau terapi sebagai pakan yang dapat meningkatkan produksi ternak sehingga dapat mengejar target yang diinginkan bagi para peternak. Disisi lain pemakaian antibiotika dapat menyebabkan beberapa masalah, apabila pemberian antibiotika tidak beraturan yang dapat menyebabkan residu dalam jaringan-jaringan atau organ hewan. Residu dapat membahayakan bagi kesehatan manusia yang mengkonsumsinya sehingga menyebabkan reaksi alergi yaitu dapat mengakibatkan peningkatan kepekaan, kemudian reaksi resistensi akibat mengkonsumsi dalam konsentrasi rendah dalam jangka waktu yang lama.(21)

(12)

1.6 Spektrofotometri Ultraviolet

Spektrofotometri UV-Vis adalah anggota teknik analisis spektroskopik yang memakai sumber REM (Radiasi Elektromagnetik) ultraviolet dekat (190-380 nm) dan sinar tampak (380-780 nm) dengan memakai instrumen spektrofotometer. Spektrofotometri UV-Vis melibatkan energi elektronik yang cukup besar pada molekul yang dianalisis, sehingga spektrofotometri UV-Vis lebih banyak dipakai untuk analisis kuantitatif dibandingkan kualitatif.(9) Radiasi ultraviolet diabsorpsi oleh molekul organik aromatik, molekul yang mengandung elektron-π terkonjungsi dan/atau atom yang mengandung elektron-n, menyebabkan transisi elektron di orbit terluarnya dari tingkat energi elektron dasar ke tingkat energi elektron tereksitasi lebih tinggi.(16)

Spektrum UV-Vis mempunyai bentuk yang lebat dan hanya sedikit informasi tentang struktur yang bisa didapatkan dari spektrum ini. Tetapi spektrum ini sangat berguna untuk pengukuran secara kuantitatif. Konsentrasi dari analit di dalam larutan bisa ditentukan dengan mengukur absorban pada panjang gelombang tertentu dengan menggunakan hukum Lambert-Beer.(16)

(13)

gugus fungsional yang mempunyai elektron bebas sehingga mampu memberikan transisi n→π. Terikatnya gugus ini pada gugus kromofor akan mengakibatkan pergeseran pita absorpsi menuju ke panjang gelombang yang lebih besar (pergeseran merah atau pergeseran batokromik) disertai dengan peningkatan intensitas (efek hiperkromik).(6)

1.6.1 Prinsip Kerja Spektrofotometri Ultraviolet

Prinsip kerja spektrofotometri ultraviolet adalah interaksi yang terjadi antara energi yang berupa sinat monokromatis dari sumber sinar dengan materi yang berupa molekul. Spektrofotometri UV mengacu pada hukum Lambert-Beer. Apabila cahaya monokromatik melalui suatu media (larutan), maka sebagian cahaya tersebut akan diserap, sebagian dipantulkan dan sebagian lagi akan dipancarkan.(16)

Cahaya yang diserap diukur sebagai absorbansi (A) sedangkan cahaya yang hamburkan diukur sebagai transmitasi (T), dinyatakan dengan Hukum Lambert-Beer, berbunyi : “Jumlah radiasi cahaya tampak (ultraviolet, inframerah dan sebagainya) yang diserap atau ditransmisikan oleh suatu larutan merupakan suatu fungsi eksponen dari konsentrasi zat dan tebal kuvet”. Rumus yang diturunkan dari Hukum Lamber-Beer, yaitu :

Keterangan :

A = absorbansi

(14)

a = tetapan absorptivitas (jika konsentrasi larutan yang diukur yang dalam ppm)

b = tebal kuvet (tebal kuvet umumnya 1 cm)

c = konsentrasi larutan yang diukur

ε = tetapan absorptivitas molar (jika konsentrasi larutan yang diukur dalam molar)

1.6.2 Jenis Transisi

1. Transisi δ – δ* : Jauh, energi >, λmaks kecil < 150 nm, uv vakum, sukar diamati. Contoh : CH4 C-C, C-H λmaks = 125 nm 2. Transisi n – δ* : Senyawa jenuh, e tak berpasangan, energi < λ

150 nm – 250 nm, ε rendah. Contoh : metanol λmaks = 184 nm, ε = 15

3. Transisi n – π* : E kecil, λ panjang 200-700 nm, ε = 10-100 4. Transisi π-π* : Senyawa tak jenuh ε = 1000-10.000

1.6.3 Analisis Kuantitaif

Analisis kuantitatif dengan metode spektrofotometer uv dapat digolongkan dua macam pelaksanaannya, yaitu :

1. Analisis Kuantitatif Zat Tunggal (Analisis Satu Komponen) Analisis kuantitatif zat tunggal dilakukan dengan pengukuran harga A pada panjang gelombang maksimum atau dilakukan pengukuran %T pada panjang gelombang minimum.

Penyimpangan

Konsentrasi

(15)

Dilakukan pengukuran pada panjang gelombang maksimum karena perubahan absorban untuk setiap satuan konsentrasi adalah paling besar pada panjang gelombang maksimal, sehingga akan diperoleh kepekaan analisis yang maksimal. Pita serapan di sekitar panjang gelombang maksimal datar dan pengukuran ulang dengan kesalahan yang kecil dengan demikian akan memenuhi hukum Lambert-Beer.

Ada 4 cara pelaksanaan analisis kuantitatif zat tunggal, yaitu : a. Pertama dengan membandingkan absorban atau persen

transmitan zat yang dianalisis dengan reference standart pada panjang maksimal.

Keterangan :

A(S) = absorban larutan sampel C(S) = konsentrasi larutan sampel A(R.S)= absorban reference standart

C(R.S) = konsentrasi larutan reference standart

b. Kedua dengan memakai kurva baku dari larutan standar dengan pelarut tertentu pada panjang gelombang maksimum. Dibuat grafik sistem koordinat Cartesian dimana sebagai ordinat adalah absorban dan sebagai absis adalah konsentrasi. c. Ketiga dengan cara menghitung harga absorbansi larutan sampel pada pelarut tertentu dan dibandingkan dengan absorbansi zat yang dianalisis yang tertera pada buku resmi. d. Keempat dengan memakai perhitungan nilai ekstensi molat

(absorbansi molar ε) sama dengan cara yang ketiga hanya saja pada perhitungan absorbansi molar lebih tepat karena melibatkan massa molekul relatif (Mr).(1)

(16)

2. Analisis Kuantitatif Campuran Dua atau Lebih Zat (Analisis Multikomponen)

a. Larutan yang mendukung dua komponen yang menyerap, x dan y, serapan diukur pada dua panjang gelombang. Ketelitian yang tinggi didapatkan dengan memilih λmaks, karena dengan pergeseran sedikit pada kurba serapan tidak banyak pengaruhnya terhadap serapan.

b. Jumlah komponen dalam campuran dapat mencapai 8 komponen dengan syarat selisih panjang gelombang maksimum antar komponen minimal 5 nm. Jika jumlah komponen dalam sampel lebih dari 3 maka untuk menghitung kadar digunakan software multikomponen pada alat spektrofotometer uv.

c. Prinsip dasar analisis multikomponen dengan spektrometri molekuler adalah total absorbansi dari larutan adalah jumlah absorbansi dari tiap-tiap komponen. Anggap suatu larutan terdiri dari komponen X dan Y, maka hasil absorpsi akan tampak seperti dibawah ini.

Pada λ1, A1 = ax1Cx + ay1Cy A

(17)

Pada λ2, A2 = ax2Cx + ay2Cy

Keterangan : A1 adalah absorbansi pada λ1, A2 adalah absorbansi pada λ2, ax1 adalah absorptivitas zat x pada λ1, ax2 adalah absorptivitas zat x pada λ2, ay1 adalah absorptivitas zat y pada λ1, ay2 adalah absorptivitas zat y pada λ2. Jika ax1, ax2, ay1 dan ay2 diketahui, maka dengan pengukuran A1 dan A2, dapat dihitung Cx dan Cy.(15)

Cara modern dalam perhitungan analisis muti komponen adalah cara pembanding spektra pada setiap interval panjang gelombang yang sempit (2 nm) pada rentang panjang gelombang pengukuran. Perhitungan kadar masing-masing komponen dapat dilakukan dengan dua cara statistik yaitu : cara LSQ (Least Squares Methods) atau dengan MLH (Maximum Likelihood). Kedua metode tersebut tidak memerlukan kurva baku standar murni. Semua perhitungan LSQ dan terseleksi dapat diperoleh dengan bantuan alat pengurai cahaya seperti prisma. Sautu spektrofotometer tersusun dari sumber spektrum tampak yang kontinyu, monokromator, sel pengabsorpsi untuk larutan sampel dan blanko ataupun pembanding.(1)

1. Sumber Radiasi

(18)

(3-4 pada lampu wolfram), variasi tegangan masih dapat diterima 0,2% pada suatu sumber DC, misalkan : baterai. Lampu hidrogen atau lampu deuterium digunakan untuk sumber pada daerah uv, untuk memperoleh tegangan yang stabil dapat digunakan transformator. Jika potensial tidak stabil, kita akan mendapatkan energi yang bervariasi, untuk mengkonpensasi hal ini maka dilkakukan pengukuran transmitan larutan sampel selalu disertai larutan pembanding. (1)

2. Monokromator

Memperoleh sinar yang monokromatis. Alatnya dapat berupa prisma ataupun grating. Mengarahkan sinar monokromatis yang diinginkan dari hasil penguraian ini dapat digunakan celah. Jika celah posisinya tetap, maka prisma atau gratingnya yang digunakan dirotasikan untuk mendapatkan λ yang diinginkan. Ada dua tipe prisma yaitu susunan Cornu dan susunan Littrow.

Secara umum tipe Cornu menggunakan sudut 60o, sedangkan tipe Litrrow menggunakan prisma di mana pada sisinya tegak lurus dengan arah sinar yang berlapis alumunium serta mempunyai sudut optik 30o.(1)

(19)

Pada pengukuran di daerah tampak kuvet kaca atau kuvet kaca corex dapat digunakan, tetapi untuk pengukuran pada daerah uv harus menggunakan sel kuarsa gelas tidak tembus daerah cahaya pada daerah ini. Umumnya tebal kuvetnya adalah 10 mm, tetapi yang lebih kecil ataupun yang leih besar dapat digunakan. Sel yang digunakan biasanya berbentuk persegi, tetapi bentuk silinder dapat juga digunakan. Pelarut organik dapat menggunakan kuvet yang tertutup. Sel yang baik adalah kuarsa atau gelas hasil leburan serta seragam keseluruhannya.(1)

1.6.4 Aplikasi Spektrofotometri UV 1. Syarat Pengukuran

Syarat pengukuran dengan spektrofotometer uv :

a. Sampel dalam larutan menyerap sinar uv (180-350 nm); b. Molekul senyawanya memiliki ikatan rangkap atau elektron

non-bonding (transisi n-π*, π-π*, n-δ*); c. Larutan bening dapat tidak berwarna; 2. Analisis

a. Analisis kuantitatif dengan metode perbandingan : A (sampel)/A (standar) = C (sampel)/C (standar)

A masing-masing terukur, C standar diketahui, C sampel dapat ditentukan.

(20)

Keterangan : A = absorbansi ε = absorptivitas b = tebal larutan C = konsentrasi 1.7 Validasi Metode

Validasi adalah konfirmasi melalui pengujian dan penyediaan bukti objektif bahwa persyaratan tertentu untuk suatu maksud khusus telah dipenuhi. Jadi validasi metode merupakan suatu proses yang menunjukkan bahwa prosedur analitik telah sesuai dengan penggunaan yang dikehendaki. Validasi dilakukan untuk menjamin bahwa metode analisis yang dilakukan akurat, spesifik, reprodusibel dan tahan pada kisaran analit yang akan dianalisis. Menurut United States of Pharmacopeia (USP) ada 8 langkah dalam validasi metode analisis, yakni akurasi, presisi, batas deteksi, batas kuantifikasi, spesifisitas, linieritas dan rentang, kekasaran (ruggedness) dan ketahanan (robutness).(6)

1. Akurasi

Akurasi (ketepatan) adalah ukuran yang menunjukkan derajat kedekatan hasil analisis dengan kadar analit yang sebenarnya. Akurasi dinyatakan sebagai persen perolehan kembali (% recovery) analit yang ditambahkan. Persen perolehan kembali dinyatakan sebagai rasio antara hasil yang diperoleh dengan hasil yang sebenarnya dengan perhitungannya,(10) yaitu :

% Perolehan kembali = AB

C x

(21)

Keterangan : A = konsentrasi sampel yang diperoleh setelah penambahan baku

B = konsentrasi sampel sebelum penambahan baku C = konsentrasi sampel baku yang ditambahkan 2. Presisi (keseksamaan)

Presisi adalah ukuran yang menunjukkan derajat kesesuaian antara hasil uji individual, diukur melalui penyebaran hasil individual dari rata-rata jika prosedur diterapkan secara berulang pada sampel-sampel yang diambil dari campuran yang homogen. Presisi dapat dilakukan pada 3 tingkatan yang berbeda, yaitu keterulangan

(repeatibility), presisi antara (intermediate precision), dan ketertiruan

(reproducibility). Keterulangan yaitu presisi pada kondisi percobaan yang sama (berulang), baik orangnya, peralatannya, tempatnya, maupun waktunya. Presisi antara adalah presisi pada kondisi percobaan yang berbeda, baik orangnya, peralatannya, tempatnya, maupun waktunya. Ketertiruan merujuk pada hasil-hasil dari laboratorium yang lain.(6)

Simpangan baku atau standar deviasi (SD) merupakan akar jumlah kuadrat deviasi masing-masing hasil penetapan terhadap mean

dibagi dengan derajat kebebasannya yang dinyatakan dalam rumus, yaitu :

Σ(x̅̅´x)2

(22)

Keterangan : X = nilai dari masing-masing pengukuran

´

X = rata-rata (mean) dari pengukuran n = frekuensi penetapan

n-1 = derajat kebebasan

Simpangan baku relatif atau standar deviasi relatif (RSD) merupakan ukuran ketepatan relatif yang umumnya dinyatakan dalam persen. RSD dirumuskan dengan persamaan, yaitu :

Keterangan : RSD = Relative Standart Deviation (%)

S = Standart Deviation

´

x = rata-rata 3. Batas Deteksi (limit of detection/LOD)

Batas deteksi (limit of detection) merupakan sebagai konsentrasi analit terendah dalam sampel yang masih dapat terdeteksi, meskipun tidak selalu dapat dikuantifikasi. Batas deteksi dapat dihitung dengan rumus, yaitu :

Keterangan : S (y/x) = simpangan baku residual

b = slope

4. Batas Kuantitasi (limit of quantitaion/LOQ)

Batas kuantitas (limit of quantitation) merupakan sebagai konsentrasi analit terendah dalam sampel yang dapat ditentukan dengan

RSD = SD ´

x x 100 %

Batas deteksi = 3x S(y/x)

(23)

presisi dan akurasi yang dapat diterima pada kondisi operasional metode yang digunakan.(10) Batas kuantitasi dihitung dengan menggunakan rumus, yaitu :

Keterangan : S (y/x) = simpangan baku residual b = slope

5. Spesifitas (selektivitas)

Spesifisitas dari suatu metode analisis adalah kemampuannya untuk mengukur analit secara khusus dengan akurat, disamping komponen lain yang terdapat dalam matriks sampel. Spesifisitas metode ditentukan dengan membandingkan hasil analisis sampel yang mengandung cemaran, hasil urai, senyawa sejenis, senyawa asing lainnya atau pembawa plasebo dengan hasil analisis sampel tanpa penambahan bahan-bahan tadi. Penyimpangan hasil jika ada merupakan selisih dari hasil uji keduanya.(10)

6. Linieritas dan Rentang

Linieritas suatu metode analisis adalah kemampuan untuk menunjukkan bahwa nilai hasil uji langsung untuk setelah diolah secara matematika, proporsional dengan konsentrasi analit dalam sampel batas rentang konsentrasi tertentu. Rentang metode adalah pernyataan batas terendah dan tertinggi analit yang sudah ditunjukkan dapat ditetapkan dengan akurasi, presisi, dan linieritas yang dapat diterima.(8)

Linieritas biasanya dinyatakan dalam istilah variansi sekitar arah garis regresi yang dihitung berdasarkan persamaan matematik data yang

Batas deteksi = 10x S(y/x)

b

(24)

diperoleh dari hasil uji analit dalam sampel dengan berbagai konsentrasi analit. Pengujian linieritas secara matematik melalui persamaan garis lurus dengan metode kuadrat terkecil antara hasil analisis terhadap konsentrasi analit dengan rumus,(10) yaitu :

Keterangan : y = absorban kurva kalibrasi x = kadar larutan standar b = slope

a = intercept

BAB II

METODE PENELITIAN

(25)

mengetahui berapa besar kadar residu antibiotik tetrasiklin dalam sampel ayam jika hasil menunjukkan positif.

BAB III ALAT DAN BAHAN 3.1 Alat

Alat-alat yang digunakan dalam peneltian ini adalah batang pengaduk, gelas kimia, blender, botol semprot, gelas ukur, hot plate, kaca arloji, labu ukur, magnetic stirrer, neraca analitik, pipet tetes, pipet volume 10 ml, spatel, Spektrofotometer UV-Vis, sentrifugator PLC Series dan tabung reaksi.

3.2 Bahan

(26)

BAB IV

PROSEDUR PENELITIAN

4.1 Pengumpulan Sampel

Pengumpulan sampel ayam dilakukan dengan menggunakan teknik

quota sampling yaitu teknik sampling yang dilakukan dengan atas dasar jumlah atau jatah yang ditentukan. Sampel ayam broiler yang memiliki kriteria dimungkinkan mengandung residu tetrasiklin yang beredar di Pasar Ciawitali, Garut.

4.2 Simulasi Sampel

(27)

panas untuk dilakukan pencabutan bulu dari daging ayam. Ayam yang direndam dengan air panas, dicabut bulunya kemudian cuci dengan air mengalir sampai bersih. Dilakukan pemotongan mulai paha, sayap, dada dan hati kemudian dilakukan preparasi sampel dan pengujian selanjutnya.

4.3 Preparasi sampel

Preparasi sampel bertujuan untuk menyiapkan sampel agar bisa digunakan untuk analisis kuantitatif. Proses preparasi sampel dimulai dari pemilihan sampel ayam yang segar, pencucian, pemotongan bagian ayam yang digunakan untuk pengujian analisis kadarnya yaitu dada, sayap, paha dan hati. Proses penghalusan sampel dengan menggunakan blender untuk memudahkan saat pengujian analisis kadarnya, penimbangan hingga penarikan zat yang diinginkan pada sampel.

4.4 Pembuatan Larutan Induk Tetrasiklin HCl

1) Ditimbang tetrasiklin 25 mg, dimasukkan ke dalam labu ukur 50 ml; 2) Dilarutkan dengan asam klorida (HCl) 0,1 N tanda batas dikocok hingga

homogen, sehingga diperoleh larutan dengan konsentrasi 500 μg/ml, larutan ini disebut larutan induk baku (LIB I);

(28)

4.5 Uji Kuantitatif dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis 4.5.1 Penentuan Panjang Gelombang (λ) Maksimum

1) Dipipet 5 ml larutan induk baku (LIB) II (50 μg/ml); 2) Dimasukkan ke dalam labu ukur 25 ml;

3) Diencerkan dengan HCl 0,1 N sampai garis tanda (10 μg/ml). Dikocok sampai homogen sehingga diperoleh larutan dengan konsentrasi 10 μg/ml;

4) Diukur serapan pada panjang gelombang 200-400 nm. 4.5.2 Ekstraksi sampel

1) Sampel yang telah dihaluskan, ditimbang sebanyak 20 g;

2) Ditambahkan 40 ml buffer Mcllvaine-EDTA (pH 4) lalu dihomogenkan dengan menggunakan magnetic stirrer dan hot

plate selama 10 menit;

3) Disentrifugasi dengan kecepatan 3500 rpm pada suhu 15oC selama 10 menit. Larutan supernatan diambil dan diendapkan;

4) Ditambahkan lagi dengan 20 ml buffer Mcllvaine-EDTA dan disentrifugasi lagi dengan kecepatan 3500 rpm pada suhu 15oC selama 10 menit. Supernatan diambil dan endapan ditambahkan lagi dengan 20 ml buffer Mcllvaine-EDTA dan disentrifugasi lagi dengan kecepatan 3500 rpm pada suhu 150oC selama 10 menit; 5) Supernatan yang diperoleh dikumpulkan dan disentrifugasi lagi

(29)

6) Dimasukkan supernatan yang telah disentrifugasi ke dalam labu ukur 100 ml dan dicukupkan dengan HCl 0,1 N hingga baris tanda batas (larutan sampel).

4.5.3 Penentuan Kadar Residu Tetrasiklin dalam Ayam Pedaging

1) Disiapkan masing-masing 1,6 ml larutan sampel dan dipipet ke dalam 5 labu ukur 10 ml;

2) Ditambahkan berturut-turut 0,00; 2,50; 3,75; 5,00 dan 6,25 ml LIB II, dengan HCl 0,1 N hingga tanda batas;

3) Diperoleh masing-masing larutan tetrasiklin baku dengan konsentrasi 0,0; 5,0; 7,5; 10,0; dan 12,5 μg/ml. Absorbansi dari masing-masing larutan diukur pada panjang gelombang 270 nm; 4) Dibuat grafik absorbansi dan konsentrasi standar.

4.6 Validasi Data

(30)

Kadar residu tetrasiklin dalam sampel (μg/g sampel) =

Cx

(

μg

ml

)

x Faktor pengenceran x Volume sampel(ml)

Berat penimbangan sampel(g)

4.6.1 Analisi Data Penetapan Kadar Secara Statistik

Data perhitungan kadar residu tetrasiklin, dianalisis secara statistik menggunakan uji t. Rumus yang digunakan untuk menghitung simpangan baku adalah :

Sedangkan untuk mendapatkan thitung digunakan rumus :

Data diterima jika –ttabel < thitung < ttabel pada interval kepercayaan 95% dengan nilai = 0,05.

Untuk menghitung kadar residu tetrasiklin dalam sampel secara statistik digunakan rumus :

Keterangan :

SD = standart deviation / simpangan baku Xi = kadar residu tetrasiklin

´

X = kadar rata-rata residu tetrasiklin n = jumlah pengulangan

t = harga ttabel sesuai derajat kepercayaan 4.6.2 Uji Presisi

Presisi metode penelitian dinyatakan oleh simpangan baku relatif

(Relative Standart Deviation/RSD) dari serangkaian data uji perolehan

(31)

Keterangan : SD = Standart Deviation / simpangan baku ´

X = Kadar rerata tetrasiklin dalam sampel yang di uji 4.6.3 Uji Akurasi

Akurasi ditentukan dengan menggunakan metde penambahan baku (the method of standart additives), yakni ke dalam sampel daging ayam ditambahkan tetrasiklin HCl baku banyak 100% dari kadar tetrasiklin yang diketahui terdapat dalam sampel, kemudian dianalisis dengan prosuder yang sama seperti pada sampel.

Keterangan :

CF = kadar analit yang diperoleh setelah penambahan tetrasiklin baku CA = kadar analit sebelum penambahan tetrasiklin baku

C∗¿A

¿ = kadar tetrasiklin baku yang ditambahkan

DAFTAR PUSTAKA

1. Anonim, 2007, Modul Kuliah Spektroskopi Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

% Perolehan kembali =

C∗¿A

CFCA

¿

(32)

2. Budavari, S., 2001, The Merck Index. An Encyclopedia of Chemicals, Drug, and Biologicals, Edisis ke-13, Merck & Co., Inc, New Jersey, hal. 1641

3. Cherlet, M., S. Baere., dan P. Backer., 2003, Quantitative Analysis of Oxytetracycline and Its 4-epimer in Calf by High-Performane Liquid Chromatography Combined with Positive Electrospray Ionization Mass Spectrometry, Analyst, 128 : 871-878

4. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, 1993, Indeks Obat Hewan Indonesia, Edisi III, Jakarta.

5. Gandjar, I.G., dan Rohman, A., 2007. Kimia Farmasi Analisis, Cetakan ke IV, Pustaka Belajar, Yogyakarta, hal. 229-231, 252-254.

6. Hanifah A., 2010, Taksonomi Ayam, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret, Solo

7. Harmita, 2004, Petunjuk Pelaksanaan Validasi Metode dan Cara Perhitungannya, Majalah Ilmu Kefarmasian, No.1 Vol. 3, hal. 117-135

8. Katzung , B.G., 2004, Farmakologi Dasar dan Klinik, Edisi ke VI, Buku Kedokteran EG, Jakarta, hal. 286

9. Lastari, P., Krisyanto, E.H., Pracoyo, N.I, 1987, Analisis Residu Tetrasiklin dalam Ayam Broiler, Cermin Dunia Kedokteran, 46: 28-30

10. Mukti, Kusnanto., 2012, Analisis Spektroskopi UV-Vis “Penentuan Konsentrasi Permanganat (KMnO4)”, Universitas Sebelas Maret, Surakarta

11. Miller, J.N., dan J.C. Miller., 2010, Statistics and Chemometrics for Analytical Chemistry for Analytical Chemistry, Edisi VI, Ashford Colour Press, UK

(33)

13. Nofita, 2016, Validasi Metode Matrix Solid Phase Dispersion (MSPD) Spektrofotometri UV Analisis Residu Tetrasiklin dalam Daging Ayam Pedaging, Skripsi, FMIPA Universitas Lampung, Lampung

14. Rico, AG., 1986, Drug Residues in Animal, Academic Press, Toulose

15. Riti N., Handayani N., Dewi A, 2002, Survei Residu Antibiotika Asal Hewan di Kabupaten Bandung Tahun 2002. Bandung

16. Rival, Hairul., 2013, Penggunaan Spektrofotometer UV-Vis (Analisis Kuantitatif), Universitas Andalas, Padang

17. Rouessac, F., 2007, Chemical Analysis, John Wiley & Son Ltd., Engla

18. Satiadarma, K., 2004, Azas Pengembangan Prosedur Analisis, Airlangga University Press, Surabaya, hal. 87-91.

19. Situmorang, Glorya F., 2013, Analisis Usaha Peternak Broiler Pola Kemitraan dan Peternak Mandiri, Skripsi, Fakultas Petarnian, Universitas Sumatera Utara, Medan

20. Suryani, D., 2009, Validasi Metode Analisis Antibiotik Tetrasiklin dalam Daging Ayam Pedaging secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi, Skripsi, Departemen Kimia FMIPA IPB Bogor.

Gambar

Gambar 1.1 Ayam Pedaging (Broiler)
Gambar 1.2 Struktur Tetrasiklin HCl
Gambar 1.4 Panjang Gelombang

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian yang diperoleh adalah 32 sampel daging ayam dan 13 sampel daging sapi adalah negatif (tidak mengandung antibiotik tetrasiklin).. Hasil uji

Kesimpulan dari penelitian bahwa 31% ikan nila yang dipasarkan di Kota Yogyakarta positif mengandung residu antibiotik tetrasiklin di atas BMR.. Pengawasan residu dalam pangan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan residu antibiotik fluorokuinolon pada daging ayam broiler yang dijual pada pasar-pasar wilayah Jakarta

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini ialah bahwa metode KCKT dengan detektor berkas fotodioda (PDA) UV dapat digunakan untuk menganalisis residu antibiotik

Hasil pengujian dari kandungan residu antibiotik golongan penisilin, makrolida, aminoglikosida, dan tetrasiklin pada daging ayam dan daging sapi yang berasal dari beberapa

ANALISIS RESIDU GOLONGAN TETRASIKLIN PADA HATI AYAM DI KAWASAN COBLONG KOTA BANDUNG DENGAN METODE KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI Diajukan sebagai salah satu persyaratan untuk

Penentuan Kadar Rhodamin B pada Blush On dengan Spektrofotometri

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya residu antibiotik dan juga untuk mengetahui tingkat kesadaran peternak terhadap residu antibiotik pada daging ayam broiler dan itik di