• Tidak ada hasil yang ditemukan

94387367 MAKALAH Sekolah Masa Depan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "94387367 MAKALAH Sekolah Masa Depan"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

MENUJU SEKOLAH MASA DEPAN:

PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR DI ABAD 21

Disusun Oleh :

Sudiana Iskandar, S.Pd

Kandi Sekarwulan, S.Si (co-author)

Sekolah Dasar Karang Pawulang

Bandung

(2)

LEMBAR PENGESAHAN

Mengetahui,

Kepala Sekolah Pengawas Sekolah

(3)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas rahmat dan

karunianya makalah ini dapat disusun tanpa adanya halangan yang berarti. Makalah ini

merupakan wujud keprihatinan penulis terhadap kondisi pendidikan dalam situasi dunia saat

ini yang sangat berbeda dibandingkan dengan beberapa abad yang lalu saat sistem pendidikan

pertama kali dikembangkan. Makalah ini memberikan perspektif tentang kesesuaian sistem

pendidikan dengan tuntutan zaman, juga perspektif visi penulis mengenai prinsip-prinsip

sekolah yang lebih sesuai untuk mempersiapkan anak menghadapi masa depan.

Besar harapan penulis bahwa makalah ini dapat memberikan inspirasi dan wawasan baru

bagi rekan-rekan yang bekerja dalam bidang pendidikan, khususnya praktisi dalam

pendidikan dasar. Semoga makalah ini dapat memberikan sumbangan dan manfaat untuk

perbaikan dalam bidang pendidikan dasar sehingga mampu memberikan layanan maksimal

bagi peserta pendidikan dasar, yaitu anak-anak bangsa.

Bandung, 1 Mei 2012

(4)

DAFTAR ISI

Kata Pengantar i

Daftar Isi ii

Daftar Gambar iii

Daftar Tabel

Bab I: Pendahuluan 1

1.1 Latar Belakang 1

1.2 Perumusan Masalah 2

1.3 Tujuan 3

1.4 Manfaat 3

Bab II: Tinjauan Pustaka 4

2.1 Pendidikan Dasar Berkualitas: Kritik terhadap Pendidikan Tradisional 4

2.2 Pendidikan Dasar Berkualitas: Karakteristik Peserta Didik 7

2.3 Pendidikan Dasar Berkualitas: Filosofi dan Model Pembelajaran 12

Bab III: Pembahasan 16

3.1 Sekolah Masa Depan: Relevansi Pendidikan dengan Situasi Dunia 16

3.2 Mendidik untuk Optimalisasi Tumbuh Kembang Anak 20

3.3 Transformasi Pendidikan Dasar: Menuju Sekolah Masa Depan 24

Bab IV: kesimpulan dan Saran 25

(5)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Efektivitas berbagai metode belajar 13

Gambar 2. Taksonomi berpikir Bloom 15

Gambar 3. Maket, bentuk evaluasi melalui karya 18

Gambar 4. Kunjungan ke pasar, bentuk pembelajaran langsung di masyarakat 19

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Perbedaan umum cara belajar anak perempuan dan laki-laki 11

(6)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Pendidikan dasar memiliki peranan sangat penting dalam proses tumbuh kembang anak.

Pendidikan dasar yang berkualitas seharusnya mampu memberikan dasar-dasar kuat bagi

anak sehingga dapat melanjutkan proses tumbuh-kembangnya secara mandiri pada fase-fase

lebih lanjut dalam hidupnya, baik pengembangan kognitif, afektif, maupun psikomotorik.

Kegagalan pendidikan dalam memberikan dasar-dasar kapasitas tersebut memberikan

pengaruh besar pada tingkat penghidupan manusia pada masa dewasanya, seperti disebutkan

dalam World Development Report 2000/2001 di mana salah satu permasalahan terbesar

kemiskinan adalah kekurangberdayaan akibat kurangnya pengetahuan, dan hampir satu

milyar penduduk dunia tidak mampu mengembangkan pengetahuan karena tidak memiliki

keterampilan dasar keaksaraan untuk mengakses pengetahuan. Hal ini disebabkan oleh tidak

adanya pendidikan dasar, atau rendahnya mutu pendidikan dasar (http://www.teacherfirst.nl). Nilai penting pendidikan telah tersirat sejak awal kemerdekaan Indonesia, seperti

tercantum dalam pembukaan Undang-undang Dasar 1945 bahwa salah satu tujuan

dibentuknya pemerintahan Indonesia adalah untuk “…mencerdaskan kehidupan bangsa”

(http://www.dpr.go.id/id/uu-dan-ruu/uud45). Adapun penjelasan mengenai “kehidupan

bangsa yang cerdas” tersebut diperjelas dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional

20/2003 pasal 3, di mana tujuan pendidikan Indonesia adalah “…berkembangnya potensi

peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha

Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang

demokratis serta bertanggung jawab,” Pernyataan tersebut berimplikasi bahwa sistem

pendidikan di Indonesia, termasuk pendidikan dasarnya, harus diselenggarakan sedemikian

rupa sehingga memberikan dampak nyata terhadap proses perkembangan manusia Indonesia,

dengan kata lain pendidikan harus berkualitas. Pendidikan berkualitas berarti bahwa

pendidikan harus memenuhi kebutuhan belajar peserta didik dengan cara-cara yang paling

efektif sesuai karakteristik serta keunikan peserta didik.

Selain terkait dengan kualitas, kebutuhan akan pendidikan dasar yang relevan dan

kontekstual menjadi semakin mendesak karena dunia saat ini sedang mengalami perubahan

drastis. Salah satu titik perubahan yang berpengaruh sangat besar dalam pendidikan adalah

(7)

1.668.870.408 orang, dengan kata lain hampir seperempat penduduk dunia (Gilbert, 2011).

Dengan begitu banyak orang menggunakan internet, akses terhadap informasi menjadi jauh

lebih mudah, cepat dan tingkat kesetaraannya sangat tinggi. Ini sangat jauh berbeda

dibandingkan situasi satu abad lalu, di mana sumber informasi sangat sedikit dan seringkali

hanya dapat diakses oleh orang-orang kaya dan berkuasa.

Perubahan lain terjadi dengan cepat dalam cara hidup manusia. Selama banyak generasi,

orang hanya melakukan satu jenis pekerjaan selama hidupnya. Generasi abad 20 bisa jadi

memiliki dua hingga tiga pekerjaan yang dilakukan bersamaan, misalnya menjadi dosen

sekaligus penulis buku. Sedangkan situasi abad 21 diilustrasikan oleh Nicholl & Rose (1997)

sebagi era di mana menanyakan “Apa cita-citamu waktu besar nanti?” tidak lagi relevan,

karena seseorang dapat berganti karier hingga 3-4 kali dalam hidupnya. Penemuan teknologi

pun menciptakan perubahan cara hidup yang drastis, seperti ditemukannya telepon seluler,

transaksi ekonomi melalui internet (online trading, online banking, dan lain sebagainya). Cara hidup orang saat ini telah mengalami perbedaan dibandingkan dengan cara hidup

sepuluh tahun lalu. Dengan semakin cepatnya laju perubahan dunia, masa depan menjadi

penuh ketidakpastian, dan satu-satunya hal yang dapat dipastikan adalah perubahan akan

terus terjadi tanpa henti (Tsantis, dalam Nicholl & Rose, 1997).

Kedua hal ini, yaitu pendidikan berkualitas dan situasi dunia yang terus berubah, menjadi

tantangan utama bagi pendidikan dasar di abad 21. Bagaimana pendidikan dapat

mempersiapkan anak-anak untuk tumbuh kembang seutuhnya menjadi bahagia dan baik

dalam dunia yang terus-menerus berubah? Pemikiran tersebut menjadi dasar penyusunan

makalah ini.

1.2Perumusan Masalah

Berikut adalah perumusan masalah yang berusaha dikaji dalam makalah ini:

1. Pendidikan dasar seperti apakah yang relevan dengan situasi dunia masa depan?

2. Bagaimana proses pembelajaran dapat mengakomodasi karakteristik peserta didik dan

mengembangkan setiap peserta didik secara optimal?

3. Bagaimana sekolah dasar dapat melakukan transformasi pendidikan sehingga efektif

mengoptimalkan tumbuh-kembang siswa, serta mempersiapkan mereka menghadapi

(8)

1.3Tujuan

Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui bentuk pendidikan dasar yang relevan untuk dunia masa depan

2. Mengetahui proses pembelajaran dan metode pendidikan yang sesuai dengan

karakteristik peserta didik dan dapat mengoptimalkan pengalaman belajar peserta

didik

3. Mengetahui strategi transformasi agar sekolah dapat mencapai pendidikan yang

efektif mengoptimalkan tumbuh kembang siswa serta mempersiapkan siswa

menghadapi dunia yang terus berubah

1.4Manfaat

Manfaat penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Bagi institusi pendidikan dasar: memberikan gambaran mengenai sistem sekolah

masa depan dan langkah-langkah strategis yang dapat dilakukan untuk mencapainya

2. Bagi pendidik: memberikan gambaran mengenai proses pembelajaran dan strategi

(9)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pendidikan Dasar Berkualitas: Kritik Terhadap Pendidikan Tradisional

Dalam Gilbert (2011), Tom Peters, seorang pebisnis sukses berkata, “Never hire the people with exceptionally high grades at university and secondary school.” Dengan kata lain,

agar sukses dalam berbisnis, Peters menyarankan agar tidak mempekerjakan orang-orang

berprestasi tinggi dalam bidang akademik.

Kasus ini merupakan penanda adanya permasalahan dalam pendidikan tradisional yang

disebut oleh Gilbert (2011) sebagai “kebohongan besar dunia pendidikan.” Frase tersebut

merupakan reaksinya terhadap pandangan umum bahwa “jika seseorang berprestasi di

sekolah (tradisional), hidupnya akan sukses.” Bantahan Gilbert terhadap pandangan tersebut

didasarkan pada fakta bahwa banyak tokoh ternama di dunia yang tidak berhasil secara

akademis, tetapi memperoleh pencapaian tinggi dalam kehidupan. Steve Jobs, salah satu

pebisnis paling sukses di dunia abad 21, tidak menamatkan pendidikan formal. Albert

Einstein dan Isaac Newton merupakan siswa-siswa yang dianggap bermasalah di sekolahnya.

Hal ini merupakan bukti bahwa sistem sekolah tradisional tidak menjamin keberhasilan

seseorang dalam kehidupan nyata.

Permasalahan pendidikan tradisional berasal dari sejarah awal sistem pendidikan itu

sendiri. Asal-usul sistem sekolah tradisional dapat dirunut hingga ke era Revolusi Industri,

saat diberlakukan aturan bahwa hanya orang dewasa yang dapat bekerja (sebelum ada aturan

tersebut, banyak pabrik juga mempekerjakan anak-anak). Dengan mayoritas orang tua

bekerja di pabrik, mereka tidak dapat mendampingi dan menjaga anak-anaknya. Sekolah

formal menjadi solusi yang diajukan pemerintah saat itu untuk mengatasi permasalahan

tersebut. Adapun tujuan utama pendidikan di sekolah saat itu adalah “…preparing workers

for their place in rationally planned manufacturing,” atau mempersiapkan anak-anak untuk menjadi pekerja di pabrik. Sekolah, pada awal pendiriannya, digunakan oleh pemerintah

untuk “menciptakan warga negara yang setia, produktif, dan patuh secara sosial,” dengan

kata lain sekolah pada awalnya merupakan bentuk kontrol sosial (Gilbert, 2011). Jadi sejak

awal, sistem sekolah tradisional bukan dirancang untuk membebaskan manusia, melainkan

untuk membentuk mereka agar sesuai dengan kebutuhan dunia industri.

Rancangan awal sistem sekolah tersebut berdampak pada praktek-praktek pendidikan

(10)

tradisional yang dianggap tidak berfungsi atau tidak lagi relevan dengan konteks dunia saat

ini adalah sebagai berikut:

1. Pendidikan tradisional tidak mendukung tumbuh kembang mental yang optimal, karena

hanya memusatkan perhatian pada keterampilan berpikir tingkat rendah seperti menghafal

dan memahami pelajaran. Anak diminta mengadopsi pemikiran orang lain, sedangkan

pemikiran mandiri tidak hanya diabaikan tetapi juga ditekan. Sistem pembelajaran seperti

ini tidak akan menghasilkan orang-orang dewasa yang bijaksana ataupun hebat

(Wilderspin, dalam Gilbert, 2011).

2. Pendidikan tradisional mementingkan kemampuan untuk menyelesaikan tugas dengan

baik, alih-alih kemampuan memecahkan masalah atau menciptakan sesuatu yang baru.

Hal ini berhubungan dengan rancangan awal sekolah untuk menciptakan pekerja yang

terampil dalam industri, sehingga metode belajarnya berpusat pada drilling atau pengulangan tugas-tugas sederhana. Metode tersebut efektif untuk menguasai

keterampilan tertentu, tetapi tidak memadai untuk mengembangkan sisi-sisi lain dari

potensi anak. Gilbert (2011) menyebutkan bahwa terlalu banyak melakukan pengulangan

dapat menghambat kesempatan untuk mengembangkan kreativitas, bahkan mematikan

kemampuan berpikir.

3. Aktivitas belajar utama dalam pendidikan tradisional adalah siswa menerima informasi

secara pasif dari guru. Ciri khas dari seorang manusia pembelajar yang berhasil adalah, ia

memiliki pendekatan aktif dalam belajar. Ia selalu bertanya, rasa ingin tahunya besar, ia

berusaha menemukan jawaban atar pertanyaan-pertanyaannya sesuai dengan gaya

belajarnya yang unik. Cara belajar pasif yang dilakukan sekolah tradisional, di mana anak

hanya mendengarkan atau mengerjakan sesuatu ketika disuruh, sangat tidak efektif dalam

mengembangkan kemampuan anak untuk belajar mandiri. Padahal dalam dunia yang

terus-menerus berubah, kemampuan belajar mandiri sangat dibutuhkan agar anak dapat

merespon dan beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan.

4. Dalam pendidikan tradisional, guru berperan sebagai sumber informasi sedangkan proses

belajar adalah proses transfer informasi dari guru ke siswa. Peran dan relasi guru-siswa

seperti ini tidak lagi memberikan manfaat di abad 21, saat informasi dalam jumlah besar

menjadi sangat mudah diperoleh dan perubahan berjalan sangat cepat sehingga informasi

dengan segera menjadi usang.

5. Materi dan setting belajar dalam pendidikan tradisional cenderung memencilkan siswa

dari dunia yang sebenarnya, dan tidak mengakomodasi kebutuhan belajar yang

(11)

dunia luar, seperti dinyatakan oleh Wilderspin (dalam Gilbert, 2011) bahwa “…dalam

satu jam di taman, padang rumput, atau lapangan, saya telah mengembangkan lebih

banyak potensi anak daripada satu bulan di dalam ruang kelas.” Terlalu banyak anak

dipaksa untuk mempelajari hal-hal yang tidak mereka butuhkan, tanpa mengetahui apa

relevansi materi belajar tersebut dengan kehidupannya sehari-hari. Hal ini didukung oleh

sebuah riset yang menyimpulkan bahwa 70% siswa di sekolah merasa bahwa belajar itu

penting untuk mereka, tetapi hanya untuk mata pelajaran yang sesuai dengan cita-cita

atau karier mereka di masa depan, sedangkan untuk mata pelajaran lain mereka

menganggap tidak masalah jika gagal (Gilbert, 2008, dalam Gilbert, 2011).

6. Bentuk evaluasi pendidikan tradisional kebanyakan berupa tes atau ujian tertulis. Salah

satu kelemahan tes adalah, ia hanya menyediakan konteks artifisial sehingga tidak

mencerminkan kemampuan anak yang sebenarnya di dunia nyata (Nicholl & Rose, 1997).

Namun kelemahan fatal dari tes terletak pada kenyataan bahwa sebaik apapun prestasi

kelas secara keseluruhan, akan selalu ada 50% siswa yang nilainya di bawah rata-rata,

dan anak-anak ini akan dicap sebagai inferior (Tribus, dalam Nicholl & Rose, 1997)

seperti “bodoh,” “lambat belajar,” “tidak mampu,” atau “gagal.”

7. Pendidikan tradisional cenderung menyeragamkan semua siswa. Jumlah siswa yang

banyak dalam satu kelas membuat guru tidak dapat memberikan perhatian personal

terhadap setiap siswa, sehingga kebutuhan dan keunikan mereka tidak terfasilitasi dengan

baik.

Berbagai permasalahan dalam praktek pendidikan tradisional ini ternyata menimbulkan

dampak yang besar bagi kehidupan dan proses tumbuh kembang anak, di antaranya adalah:

1. “Over-examined, under-educated” - Walaupun berhasil menjalani berbagai tes di sekolah, tetapi anak sebenarnya tidak terdidik dengan baik, dalam arti karakter dan potensi-potensi

uniknya tidak berkembang, ilmu yang diperoleh tak dapat diterapkan, kemampuan belajar

dan berpikir mandiri rendah, kompetensinya sebagai manusia tidak berkembang.

Akibatnya, di masa depan ia dapat mengalami kesulitan saat berhadapan dengan

kehidupan. Hal ini pun merupakan kerugian besar bagi masyarakat pada umumnya,

karena hilangnya berbagai bakat serta kecerdasan yang seharusnya dapat dikontribusikan

anak-anak ini untuk peningkatan kualitas kehidupan masyarakat.

2. “Benci belajar” - Pada banyak anak, pendidikan di sekolah tradisional memberikan

trauma terhadap belajar, karena proses belajar yang mereka alami diwarnai lebih banyak

(12)

rendah diri karena gagal dalam ujian atau tidak naik kelas, dan lain sebagainya.

Akibatnya anak mempersepsi kegiatan belajar sebagai pengalaman yang tidak

menyenangkan dan tidak ada motivasi dari dalam untuk menuntut ilmu serta

mengembangkan diri.

3. “The burden of stupidity” atau beban cap bodoh, terjadi pada anak-anak yang dianggap kurang berhasil secara akademik. Pandangan umum tentang pendidikan memiliki

konsekuensi bahwa para siswa yang kurang berhasil di sekolah akan dicap sebagai

“gagal” atau “tidak mampu.” Dampak penghakiman tersebut sangat negatif secara

psikologis, karena rasa rendah diri akibat citra diri yang buruk dapat bertahan seumur

hidup tak peduli seberapa sukses seseorang di masa depan. Bill Gates (2006) menyatakan

tentang caranya merekrut pekerja, “We don’t just pick employees for their brains, but for

their energy,” artinya bukan hanya masalah kompetensi atau kecerdasan, tetapi juga

„energi positif‟ yang memancar dari seseorang karena rasa percaya diri yang dimilikinya. Ini berarti bahwa rasa rendah diri yang mempengaruhi peluang anak untuk berhasil di

masa depan, bukan tentang kecerdasan atau kapasitas yang sebenarnya.

4. “Capable but don’t feel lovable” yaitu siswa berbakat dengan citra diri yang buruk, atau

tidak menyadari bahwa ia sebenarnya berbakat. Penelitian psikologis yang dilakukan oleh

James (1998, dalam Gilbert, 2011) menunjukkan tingginya tingkat depresi pada

siswi-siswi suatu sekolah putri unggulan. Sumber depresi tersebut berasal dari rendahnya

penghargaan terhadap pencapaian mereka, karena prestasi dianggap sebagai „sudah

sewajarnya.‟

Hurlock (1978) menyatakan bahwa dalam proses belajar ada yang disebut sebagai “bobot

emosional” atau ranah afektif, yaitu emosi atau rasa yang menyertai suatu konsep. Jika bobot

emosionalnya negatif, maka konsep tersebut akan dijauhi, sebaliknya jika bobot emosional

positif maka konsep tersebut akan didekati atau dicari. Kesalahan pembelajaran secara

kognitif akan mudah diubah, artinya tinggal diperkenalkan pada konsep yang benar. Namun

dampak afektif seperti yang dijabarkan pada poin kedua hingga keempat akan jauh lebih sulit

untuk diubah. Perbaikan sikap hanya dapat terjadi jika peserta didik memperoleh bobot

emosional baru yang lebih positif terkait dengan hal tersebut.

2.2 Pendidikan Dasar Berkualitas: Karakteristik Peserta Didik

Setiap orang memiliki kebutuhan belajar yang berbeda-beda, disebabkan oleh variasi usia,

tahap perkembangan, tipe kecerdasan yang dimiliki, juga konteks dan latar belakang

(13)

memfasilitasi aneka kebutuhan belajar tersebut sehingga tiap peserta didik dapat memperoleh

pengalaman belajar yang memberi manfaat optimal bagi pengembangan dirinya. Ini berarti

bahwa pengenalan terhadap karakteristik peserta didik mutlak perlu dilakukan sebelum

mengembangkan konsep pendidikan yang sesuai untuk mereka. Jika prinsip tersebut

diterapkan pada sekolah dasar yang peserta didiknya berusia sekitar 6 hingga 12 tahun, ini

berarti setiap pendidik di sekolah dasar perlu terlebih dahulu mengetahui karakteristik anak

dalam kisaran usia tersebut.

Piaget (dalam Hurlock, 1978) menjabarkan tahapan perkembangan kognitif anak pada

usia 6-12 tahun sebagai “tahap operasi konkret.” Pada fase perkembangan ini, konsep anak

tentang dunia telah berkembang menjadi makin konkret dan spesifik. Anak mulai dapat

berpikir deduktif, membentuk konsep ruang dan waktu, menggolong-golongkan objek. Anak

mampu memahami sudut pandang orang lain, dan hal ini membuka jalan ke pemahamaman

terhadap realitas yang lebih besar. Bentuk penalaran masih berupa penalaran konkret, yang

berarti bahwa konsep dibentuk melalui segala sesuatu yang dapat dicerap dengan indra.

Pada kisaran usia sekolah dasar, konsep anak terhadap waktu telah lebih berkembang,

khususnya anak usia delpaan tahun ke atas. Anak memahami adanya interval dan relativitas

dalam waktu, misalnya waktu akan terasa cepat berlalu bila melakukan hal-hal yang

menyenangkan. Adapun terkait dengan penguasaan terhadap bilangan, anak tidak akan

memahami konsep „satuan‟ hingga anak dapat menerapkan dan membandingkannya.

Sedangkan mengenai penafsiran jarak, anak-anak pada usia ini masih akan mengalami

kesulitan besar jika harus menaksir jarak yang sangat jauh dan tidak berkaitan dengan tubuh

(misalnya jarak antara dua kota pada peta, karena tidak dapat diukur dengan menggunakan

bagian tubuh mereka).

Untuk anak-anak pada kisaran usia seperti ini, pemaknaan atau pembentukan konsep

mental berasal dari hal-hal berikut (Hurlock, 1978):

1. Eksplorasi indriawi, yaitu melihat, mendengar, membaui, meraba

2. Manipulasi motorik seperti memegang dan membongkar benda-benda

3. Bertanya

4. Media massa bergambar seperti komik, film dan televisi

5. Membaca, jika dilengkapi dengan diskusi dan film pendidikan

Usia 6-12 tahun merupakan tahapan yang sangat kaya untuk mengembangkan kreativitas.

Kreativitas penting bagi anak karena dapat memberikan kepuasan dan kesenangan dari proses

menciptakan sesuatu, membantu meningkatkan prestasi sehingga memperoleh pengakuan

(14)

yang besar. Kreativitas juga dapat membantu mengembangkan kepemimpinan (Hurlock,

1978).

Tahapan perkembangan dalam usia sekolah dasar juga meliputi perkembangan dalam

kemampuan hidup bersama, atau perkembangan psikososial. Tahapan perkembangan yang

dialami anak usia 6-12 tahun disebut oleh Erikson (dalam BPIP, 2007) sebagai tahapan

“Industry versus Inferiority” yang berarti menjadi produktif atau menjadi rendah diri. Berikut ini adalah ciri-ciri tahap perkembangan tersebut:

- Anak belajar bekerja sama dan bersaing baik dalam kegiatan akademik maupun dalam

pergaulan melalui permainan yang dilakukan bersama.

- Anak selalu berusaha untuk mencapai sesuatu yang diinginkan, sehingga anak pada

usia ini rajin dalam melakukan sesuatu.

- Jika dalam tahap ini anak terlalu dituntut oleh lingkungan dan anak tidak berhasil

memenuhinya maka akan timbul rasa rendah diri.

- Dorongan positif dari orang tua atau pendidik menjadi sangat penting untuk

menguatkan perasaan berhasil saat melakukan sesuatu.

Karakteristik anak tidak sekadar terkait dengan usia dan tahapan perkembangannya, tetapi

juga pada variasi dalam bakat dan cara belajar. Gardner (1985) menjabarkan hasil risetnya

mengenai berbagai tipe kecerdasan yang dimiliki oleh manusia menjadi tujuh jenis yang

kemudian ditambahkan menjadi delapan (Gardner, dalam Nicholl & Rose, 1997), yaitu:

1. Kecerdasan linguistik (bahasa); terkait dengan kemampuan membaca, menulis,

berkomunikasi secara verbal, menguasai bahasa baru.

2. Kecerdasan logis-matematis; terkait dengan kemampuan bernalar, menjalankan operasi

hitung, logika, dan matematika.

3. Kecerdasan visual-spasial; kemampuan berpikir dengan gambar, membayangkan,

memahami petunjuk visual, mengenal arah atau lokasi

4. Kecerdasan musikal; kemampuan mencipta musik, peka nada, apresiasi dan pemahaman

terhadap musik, menjaga irama.

5. Kecerdasan kinestetik-tubuh; terampil dalam bergerak, menggunakan seluruh tubuh untuk

memecahkan masalah, mengekspresikan emosi.

6. Kecerdasan interpersonal (sosial); kemampuan bekerja sama, membangun hubungan,

(15)

7. Kecerdasan intrapersonal; kemampuan melakukan analisis diri dan perenungan, meninjau

perilaku dan perasaan terdalam orang, membuat rencana dan menyusun tujuan pribadi,

mengenal diri sendiri.

8. Kecerdasan naturalis (alam); kemampuan mengenali flora dan fauna, memilah-milah

berbagai benda alam dan menggunakannya untuk tujuan yang produktif.

Semua orang memiliki setiap jenis kecerdasan tersebut dalam porsi yang berbeda-beda. Ada

sebagian orang yang sangat menonjol pada kecerdasan tertentu, ada pula yang cenderung

mengembangkan semua kecerdasan tersebut secara merata. Pendidikan tradisional pada

umumnya hanya memusatkan pengembangan kecerdasan linguistik dan logis-matematis,

sehingga aspek kecerdasan lain tidak berkembang dengan seimbang. Nicholl & Rose (1987)

menjabarkan konsekuensi dari pengembangan kecerdasan yang tidak seimbang tersebut

dalam ilustrasi, seseorang yang sangat ahli dalam matematika hingga menemukan persamaan

yang baru (kecerdasan logis-matematis) tetapi tak dapat mengajarkan atau menyampaikannya

pada orang lain (kecerdasan interpersonal). Pada umumnya, semakin baik berkembangnya

seluruh segi kecerdasan, orang akan menjadi lebih luwes dalam menerima tantangan di

seluruh aspek kehidupan.

Berikutnya, keunikan karakteristik anak-anak terletak pada variasi dalam gaya belajar,

atau cara yang paling efektif dalam menyerap informasi. Secara garis besar, gaya belajar

dibagi menjadi tiga jenis yaitu visual yang menyerap informasi paling efektif melalui indra

penglihatan, auditori yang paling efektif belajar melalui perangkat mendengar dan berbicara,

serta kinestetik yang belajar paling baik dengan aktivitas fisik atau terlibat secara langsung.

Penelitian terhadap 5000 siswa sekolah di berbagai negara menunjukkan proporsi gaya

belajar dominan pada siswa mendekati persentase berikut (Nicholl & Rose, 1997):

- Visual 29%

- Auditori 34%

- Kinestetik 37%

Seiring meningkatnya usia, gaya belajar visual cenderung menjadi semakin dominan. Namun

Grinder (dalam Nicholl & Rose, 1997) menyatakan pula bahwa dua pertiga siswa

sesungguhnya memiliki cukup kecenderungan visual, auditori dan kinestetik sehingga dapat

belajar dengan cara apapun. Sekitar 1% siswa memiliki kesulitan untuk belajar karena

kondisi dirinya, misalnya kondisi fisik atau kematangan mental, sehingga sulit belajar dengan

pendekatan manapun. Sedangkan 20% siswa sangat cenderung pada gaya belajar tertentu

(16)

Anak-anak ini disebut Grinder sebagai Hanya Visual (HV), Hanya Auditori (HA), atau Hanya

Kinestetik (HK), dan dalam kajian terhadap anak-anak yang beresiko dikeluarkan dari

sekolah, dari 26% anak yang dianggap beresiko adalah anak-anak HK.

Variasi lain dalam cara belajar ternyata berhubungan dengan jenis kelamin atau gender.

Gurian & Ballew (2003) menunjukkan bahwa pada usia sekolah dasar, anak laki-laki dan

perempuan telah memiliki identitas gender yang tetap, pada umumnya setelah menginjak

kelas 4. Anak perempuan mengembangkan kemampuan belajar yang lebih luwes dan

mengalami lebih sedikit masalah dibandingkan anak laki-laki. Sebagian besar guru sekolah

dasar adalah perempuan, dan 99 persennya belum pernah memperoleh pelatihan tentang

perbedaan cara belajar anak laki-laki dan perempuan. Konsekuensinya, jika terjadi kesalahan

struktural di dalam kelas, anak perempuan mungkin dapat beradaptasi secara lebih alamiah

karena cara-cara yang digunakan gurunya lebih mendekati cara belajar mereka. Anak

laki-laki cenderung lebih impulsif dan kurang disiplin daripada anak perempuan. Banyak anak

laki-laki yang kesulitan membaca dan menulis, kesulitan memusatkan perhatian, juga

berprestasi di bawah kemampuannya.

Perbedaan cara belajar berdasarkan jenis kelamin ini disebabkan oleh perbedaan struktur

otak akibat perbedaan hormon perempuan dan laki-laki. Gurian & Ballew (2003)

menjabarkan sepuluh perbedaan cara belajar tersebut seperti ditunjukkan dalam tabel 1.

No Area Perbedaan Anak Perempuan Anak Laki-laki

1 Proses Berpikir Deduktif-5 Kebosanan Lebih baik dalam mengelola rasa

bosan secara mandiri

Lebih mudah bosan, membutuhkan banyak stimuli agat perhatiannya tetap terpusat.

6 Penggunaan Ruang Menggunakan lebih sedikit ruang Menggunakan lebih banyak ruang, khususnya pada usia muda 7 Pergerakan Tidak membutuhkan banyak

(17)

sangat penting.

Tabel 1. Perbedaan Umum Cara Belajar Anak Perempuan dan Laki-laki

Perlu diperhatikan bahwa perbedaan cara belajar antara anak perempuan dan laki-laki

tersebut lebih berupa kecenderungan dan tidak mutlak, karena struktur otak manusia

sesungguhnya sangat bervariasi. Sebagai contoh, seorang anak perempuan yang memiliki

otak-jembatan (struktur otaknya menyerupai otak anak laki-laki) mungkin memiliki

kemampuan visual-spasial yang lebih baik daripada anak laki-laki. Secara budaya, saat ini

pun anak perempuan dan laki-laki pun memperoleh perlakuan yang sama, misalnya anak

laki-laki diberi kesempatan lebih banyak untuk mengungkapkan perasaan lewat kata-kata

sehingga kemampuan verbalnya meningkat, atau anak perempuan belajar berkompetisi

melalui aneka lomba. Di sisi lain, secara fisiologis ternyata makin banyak pula anak laki-laki

dan perempuan yang terlahir dengan hormon tinggi sehingga sifat gender mereka semakin

kuat. Semua variasi ini perlu dipertimbangkan agar tidak menyamaratakan semua anak

perempuan dan laki-laki, serta tetap mempertimbangkan keunikan individual masing-masing.

2.3 Pendidikan Dasar Berkualitas: Filosofi dan Model Pembelajaran

Pendidikan untuk abad 21 perlu membebaskan potensi orang dan memampukannya

menghadapi kehidupan serta meraih kehidupan berkualitas sesuai keinginannya. Filosofi

pendidikan yang sejalan dengan prinsip tersebut adalah filosofi pendidikan humanis. Cara

pandang tentang manusia dari perpektif humanisme adalah: “Manusia memiliki kapabilitas

untuk mengembangkan pilihan untuk dirinya sendiri sesuai dengan tantangan yang terbawa

dalam keturunan, sejarah pribadi dan lingkungan” (Elias & Meriam, 1990, dalam Kamil,

2008). Dalam filosofi pendidikan humanis, prinsip-prinsip berikut perlu mendasari

penyelenggaraan pendidikan:

1. Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan baik

(18)

3. Setiap orang unik, tidak ada batasan dalam potensinya untuk bertumbuh

4. Konsep diri memerankan peran kunci dan mempengaruhi perkembangan

5. Setiap orang akan cenderung berusaha mencapai aktualisasi diri

6. Pemahaman seseorang terhadap kenyataan merupakan sesuatu yang dibangun oleh

dirinya pribadi.

7. Setiap orang bertanggung jawab pada dirinya sendiri dan orang lain

Berdasarkan cara pandang ini terhadap manusia, pendidikan humanis memiliki karakteristik

sebagai berikut:

- Berpusat pada siswa, berusaha menjawab minat, kebutuhan-kebutuhan dan

mengembangkan potensi uniknya

- Pendidik berperan sebagai fasilitator yang menciptakan iklim, nilai, dan menekankan

pentingnya pengalaman unik siswa

- Pembelajaran personal, proses belajar harus bermakna bagi setiap siswa

- Tujuan akhir pendidikan adalah aktualisasi diri, bukan ketuntasan kurikulum semata

- Perkembangan tidak terjadi dalam isolasi, perlu ada interaksi dan kerjasama

Filosofi pendidikan humanis kemudian menghasilkan pendekatan-pendekatan belajar yang

bertujuan memanusiakan manusia, salah satunya adalah experiential learning atau belajar lewat pengalaman. Gambar 1 menunjukkan hasil riset tentang berbagai cara untuk belajar dan

efektivitas prosesnya, tampak bahwa semakin aktif cara belajar dan semakin besar

keterlibatan serta peran siswa, semakin besar pembelajaran yang diperoleh.

(19)

Menurut Gurian & Ballew (2003), salah satu kekuatan belajar dengan melakukan adalah:

keterlibatan siswa dalam proses belajar memperbesar kemungkinan internalisasi

pembelajaran sehingga tidak dianggap sebagai materi yang diberikan oleh orang lain (guru).

Siswa lebih cenderung mengajukan pertanyaan, mencari tahu secara aktif. Proses belajar

lewat pengalaman adalah proses belajar yang alami, sehingga siswa dapat memperoleh

manfaat tambahan dari mempelajari cara mereka belajar. Jika siswa memahami proses belajar

alamiah, semua peristiwa, termasuk yang tidak menyenangkan, akan dipandang sebagai

kesempatan untuk belajar. Jadi model belajar lewat pengalaman adalah model yang paling

mengasah siswa untuk menjadi manusia pembelajar.

Terdapat siklus alamiah yang terjadi saat seseorang mengalami proses belajar. Agar

model belajar lewat pengalaman dapat memberikan manfaat terbesar, setiap aktivitasnya

harus tuntas memenuhi semua tahap dalam siklus tersebut. Tahapan-tahapan tersebut adalah:

1. Mengalami – interaksi, permainan, tugas, kegiatan, bermain peran, penyelidikan, dan

sebagainya, yang dilakukan secara bersama-sama. Setiap siswa memberikan insight atau pembelajaran yang diperolehnya dari pengalaman tersebut. Dari sini diperoleh

pemahaman yang kaya karena siswa dapat memiliki insight berbeda-beda.

2. Membicarakan tentang kesan dan perasaan yang diperoleh dari pengalaman, terutama jika

kegiatan yang dilakukan melibatkan emosi. Pemahaman atau ranah kognisi sulit

dikembangkan jika ranah afektif tidak digarap terlebih dahulu. Dari refleksi ini, siswa

juga diajak untuk menyadari bahwa kondisi emosional mereka mempengaruhi

pembelajaran yang mereka peroleh, juga dapat mengamati reaksi yang berbeda dari

teman-teman lain.

3. Menceritakan kembali dan membahas pengalaman, dengan penekanan pada dinamika,

perilaku, pola serta hasil dari pengalaman tersebut. Hasil refleksi ini adalah diperolehnya

kesimpulan dari pengalaman, dapat berupa sesuatu yang fisik (misalnya ciri-ciri sesuatu)

atau menggambarkan hubungan (misalnya A mempengaruhi B).

4. Mengidentifikasi kecenderungan umum – setelah ditemukan kesimpulan dari pengalaman

nyata, pemaknaan diperluas dengan mengaitkannya pada kasus-kasus lain sehingga

diperoleh kesimpulan umum. Misalnya, berdasarkan penyelidikan terhadap hewan amfibi

yaitu katak, diketahui bahwa telur katak akan menjadi berudu yang mengalami

metamorfosis. Apakah hal tersebut juga berlaku pada hewan amfibi lain? Jika ya, berarti

dapat disimpulkan salah satu ciri amfibi adalah mengalami metamorphosis.

5. Penerapan pengetahuan – pada tahap ini, siswa berusaha menemukan cara-cara untuk

(20)

kegunaan pengetahuan tersebut bagi dirinya, ia akan cenderung mengingat pengetahuan

tersebut.

6. Merencanakan penerapan pengetahuan – jika pelajaran yang diperoleh bernilai penting,

anak-anak yang lebih besar dapat diajak untuk sungguh-sungguh menerapkannya dalam

kehidupan nyata (tahap ini tidak selalu dapat dilakukan, tergantung pada apa yang

dipelajari dan tingkat kematangan siswa). Penerapan dapat dilakukan secara individual

atau dalam kelompok.

Nicholl & Colin (1997), Kagan & Chapman (1999), serta Gilbert (2011) menekankan

pentingnya mengembangkan keterampilan berpikir mandiri, kreatif dan kritis untuk

menjawab tantangan dunia abad 21 yang terus berubah. Pendidikan untuk masa depan perlu

memusatkan perhatian pada berkembangnya kemampuan siswa untuk belajar secara mandiri

dan memilih respon yang bermanfaat bagi diri maupun lingkungannya. Kapasitas untuk

melakukan hal tersebut berasal dari kemampuan mengakses keterampilan berpikir tingkat

tinggi seperti aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi, seperti pada gambar 2.

Gambar 2. Taksonomi berpikir (Kagan & Chapman, 1999)

Metode drilling yang digunakan dalam pendidikan tradisional cenderungmenekankan

pada pengetahuan dan pemahaman, yaitu keterampilan berpikir tingkat rendah. Untuk

mengembangkan keterampilan berpikir pada tingkat yang lebih tinggi, dibutuhkan

pendekatan lain seperti pendidikan hadap masalah (Freire, dalam Mudyahardjo, 2006).

Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi

Keterampilan Berpikir Tingkat Rendah

EVALUASI

PENGETAHUAN PEMAHAMAN

(21)

BAB III

PEMBAHASAN

3.1Sekolah Masa Depan: Relevansi Pendidikan Dasar dengan Situasi Dunia

Piaget (dalam Gilbert, 2011) memberikan definisi kecerdasan sebagai “what you use when you don’t know what to do,” dengan kata lain kecerdasan teruji di saat seseorang

menghadapi situasi baru yang tidak ia ketahui cara menghadapi atau menyikapinya. Seperti

telah digambarkan pada bab pendahuluan, dunia saat ini berubah dengan kecepatan tinggi,

kita dihadapkan pada berbagai situasi dan permasalahan yang tidak pernah ada sebelumnya.

Dalam konteks ini pernyataan Piaget tersebut sangat relevan. Pendidikan pada abad 21 harus

mempersiapkan anak agar mampu merespon perubahan-perubahan tersebut dengan baik.

Untuk menjawab tantangan tersebut, terdapat konsep-konsep pembelajaran yang perlu

diterapkan dalam kegiatan belajar di sekolah masa depan, begitu pula perubahan peran guru

sebagai ujung tombak pendidikan, seperti akan dibahas berikut ini.

A. Membelajarkan life skill atau keterampilan hidup

Seperti pernyataan Nicholl & Rose (1987) mengenai filosofi pendidikan abad 21,

“Sekolah harus menjadi persiapan bagi siswa untuk menghadapi dunia nyata.” Sekolah masa depan perlu membelajarkan dan mengembangkan berbagai keterampilan hidup yang

bermanfaat secara nyata bagi siswa. Jika dikaitkan dengan situasi dunia saat ini, maka

terutama sekali perlu dibelajarkan keterampilan yang berhubungan dengan definisi Piaget,

yaitu keterampilan untuk belajar, berpikir dan kreatif mencari solusi untuk merespon situasi

tak terduga. Kagan & Chapman (1999) menekankan perlunya keterampilan berpikir secara

mandiri dan kreatif dalam hal apapun, bahkan menyebutnya sebagai penentu sukses seorang

anak di masa depan.

Pengembangan keterampilan belajar, berpikir dan kreativitas dapat dilakukan melalui

berbagai aktivitas. Salah satu teknik yang dapat dilakukan pendidik untuk menstimulus

proses berpikir adalah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan berkualitas. Tabel 2

merangkum karakteristik pertanyaan yang dapat diajukan untuk membiasakan anak

mengakses keterampilan berpikir tingkat tinggi.

No Jenis Pertanyaan Berpikir Tingkat Rendah Berpikir Tingkat Tinggi

1 Pertanyaan „gemuk‟ vs

pertanyaan „kurus‟ Pertanyaan ‘kurus’Jawaban ya-tidak atau jawaban pendek

Pertanyaan ‘gemuk’

(22)

Kurang merangsang pemikiran Merangsang pemikiran

Tabel 2. Jenis-jenis Pertanyaan dan Hubungannya dengan Keterampilan Berpikir

Adapun pengelolaan lingkungan belajar dan proses pembelajaran yang sesuai untuk

mengembangkan kreativitas dijabarkan oleh Hurlock (1978) sebagai berikut:

- Adanya waktu bebas untuk bermain-main dengan gagasan dan konsep, serta untuk

bereksperimen menciptakan sesuatu yang baru

- Kesempatan untuk menyendiri dan bebas dari tekanan sosial

- Dorongan positif untuk kreatif, bebas dari ejekan dan kritik

- Sarana yang mendorong eksperimentasi dan eksplorasi, dalam hal ini dapat berupa

lingkungan belajar yang kaya dengan stimuli pembelajaran

- Lingkungan yang merangsang kreativitas – kreativitas dihargai secara sosial sehingga

menjadi pengalaman yang menyenangkan

- Hubungan antara pendidik dan peserta didik demokratis, mendorong anak untuk mandiri

dan percaya diri

- Kesempatan yang besar untuk memperoleh pengetahuan – makin banyak pengetahuan yang

dimiliki anak, makin baik dasar untuk mencapai hasil yang kreatif.

Ekspresi kreativitas untuk masa sekolah dapat dilakukan dengan membuat permainan

konstruktif, misalnya membuat hastakarya, membangun kemah, rumah-rumahan, boneka

raksasa dan sebagainya.

Keterampilan hidup yang tidak kalah pentingnya adalah kemampuan untuk hidup

bermasyarakat, seperti pernyataan Delors (1996) bahwa salah satu tujuan belajar adalah

“learning to live together.” Sekolah masa depan adalah miniatur masyarakat, dan kegiatan belajar tidak boleh memisahkan anak dengan masyarakat yang menjadi lingkungan

tumbuh-kembangnya. Karena itu sekolah perlu mendukung berbagai kegiatan yang berbasiskan

keterampilan dasar untuk berhubungan dengan lingkungan sekitar, antara lain bagaimana

anak bersikap terhadap orang lain, terhadap lingkungan kelas, maupun terhadap lingkungan

masyarakat. Keterampilan berkomunikasi secara efektif dan setara juga merupakan aspek

(23)

aktivitas-aktivitas belajar seperti kunjungan dan riset langsung di masyarakat, diskusi,

presentasi, serta kerja kelompok.

B. Sistem penilaian berbasiskan hasil karya dan peningkatan kemampuan penguasaan

bidang-bidang yang dipelajari

Salah satu kelemahan terbesar sistem sekolah tradisional adalah penggunaan tes atau

ujian tertulis dalam bidang akademik sebagai satu-satunya sistem penilaian pembelajaran.

Seperti telah dijabarkan dalam tinjauan pustaka, hasil tes tidak selalu mencerminkan

kecerdasan dan kemajuan belajar siswa secara akurat. Anak hanya dinilai dari apa yang

tertulis sedangkan berbagai aspek kecerdasan lain tidak terukur ataupun dipertimbangkan.

Akibatnya salah sasaran dalam pendidikan seringkali terjadi – walaupun menjalani berbagai

tes, penguasaan anak terhadap bidang-bidang yang dipelajari belum tentu meningkat dan ilmu

yang didapat mungkin tidak dapat diterapkan untuk memperbaiki kualitas kehidupannya.

Evaluasi pendidikan di sekolah masa depan harus diarahkan untuk memetakan secara

efektif hasil belajar siswa, dengan mempertimbangkan berbagai ranah pembelajaran serta

mengapresiasi berbagai jenis kecerdasan. Konsep “learning school” atau sekolah pembelajar

berarti bahwa sistem penilaian digunakan untuk memastikan proses belajar terjadi secara

tuntas dan berdampak pada siswa dalam mengasah kekuatan serta mengatasi kelemahan

masing-masing (Gilbert, 2011).

Gambar 3. Maket, bentuk evaluasi melalui karya

Dalam konteks tersebut, tes dapat menjadi salah satu bentuk penilaian tetapi bukan

satu-satunya. Penekanan pada penguasaan bidang pelajaran berarti bahwa penilaian harus

dilakukan berdasarkan proses belajar yang dialami siswa. Karena itu pembuatan karya dapat

(24)

proses belajar mandiri dalam menghimpun, memilah dan mengolah fakta, kemudian

menyusun fakta tersebut dalam bentuk karya. Untuk anak-anak usia sekolah dasar, format

karya ini tidak selalu harus berupa tulisan tetapi dapat berupa karya kreatif seperti poster,

atau maket seperti tampak pada gambar 3.

C. Sekolah yang berbasiskan pada kehidupan dan praktek-praktek lapangan

Inti dari sekolah masa depan adalah menjadi pusat pembelajaran sejati untuk menghadapi

kehidupan, jadi sangat tidak adil jika proses pembelajaran di sekolah malah menghalangi

anak belajar dari lingkungan hidup dan masyarakat. Pendapat Freire (dalam Mudyahardjo,

2006) adalah bahwa pendidikan perlu dilakukan secara hadap-masalah, di mana guru maupun

siswa melakukan „komunikasi‟ dengan berbagai hal di kehidupan nyata, kemudian

mengembangkan pengetahuan bersama-sama melalui proses dialog.

Pada hakikatnya, sekolah perlu mendorong pembelajaran mengenai kehidupan. Anak

belajar untuk memecahkan permasalahan nyata, beradaptasi dan berinteraksi dengan berbagai

lapisan masyarakat, mengenal lingkungan sekitar serta merasakan berpartisipasi aktif dalam

berbagai aspek kehidupan.

Gambar 4. Kunjungan ke pasar, bentuk pembelajaran langsung di masyarakat

Agar dapat belajar mengenai kehidupan nyata, diperlukan berbagai latihan praktek dan

praktis yang bisa dilakukan oleh siswa. Kegiatan eksploratif seperti kunjungan ke pasar pada

gambar 4 merupakan kesempatan luar biasa untuk menerapkan berbagai ilmu yang telah

dipelajari di sekolah, misalnya:

- Matematika (menimbang benda dan menghitung harga belanjaan)

- IPA (mengenali berbagai jenis tumbuhan dan hewan yang dijual di pasar)

(25)

- Bahasa-komunikasi (menambah kosa kata dari benda di pasar, tawar-menawar harga)

- PLH (sampah di pasar, asal-usul berbagai bahan makanan)

- Keterampilan hidup (sopan-santun dengan warga sekitar, saling menjaga teman)

- Seni rupa (menggambar suasana pasar)

D. Peran guru: memotivasi siswa untuk mau dan mampu mempelajari sesuatu

Dengan ditemukannya internet sebagai sumber informasi yang luar biasa besar, juga

banyaknya media massa serta kemudahan akses terhadap buku pengetahuan, peran guru

sebagai sumber pengetahuan tidak lagi relevan dalam dunia saat ini. Siswa bahkan dapat

menguasai suatu topik lebih baik dari guru karena telah membaca atau mempelajarinya

terlebih dahulu sebelum diajarkan di kelas. Peran guru perlu didefinisikan ulang dalam sistem

pendidikan yang berorientasi pada masa depan.

Dalam sekolah masa depan, tugas guru bukan memberi pengetahuan dan mentransfer

ilmu. Guru lebih berperan sebagai motivator penggerak energi dalam diri anak. Guru sebagai

motivator berarti guru memahami apa yang diingini dan diharapkan anak. Guru memberikan

motivasi agar anak mampu belajar secara mandiri serta menemukan pengetahuan yang belum

diberikan. Peran guru adalah menciptakan lingkungan dan suasana yang mendukung proses

belajar, sehingga anak dapat berproses sendiri dengan aman serta optimal. Hal ini sesuai

dengan pernyataan Heidegger (dalam Gilbert, 2011) bahwa kata “teaching” sesungguhnya

bermakna “membiarkan seseorang belajar” bukan “mengajari.”

Guru di abad 21 perlu mengambil peran dalam mewujudkan demokratisasi belajar

(Gilbert, 2011), yaitu membantu anak belajar menghimpun, mengelola dan memanfaatkan

pengetahuan yang diperoleh sehingga bermanfaat untuk dirinya maupun orang lain. Melalui

berbagai aktivitas belajar lewat pengalaman, guru dapat membantu anak mengembangkan

berbagai keterampilan hidup dan pemahaman akan perannya dalam masyarakat, intinya

membantu anak berkembang menjadi manusia yang utuh sesuai keunikan dirinya.

3.2Mendidik untuk Optimalisasi Tumbuh Kembang Anak

Pendidikan disebut berkualitas jika mampu memenuhi kebutuhan belajar seseorang dan

memberikan manfaat optimal bagi perkembangannya. Mendidik untuk mengoptimalkan

tumbuh kembang anak berarti menaruh perhatian pada keunikan dan kebutuhan spesifik tiap

anak. Konsep-konsep yang dijabarkan berikut adalah metode dan pendekatan mendidik yang

(26)

Mendidik sesuai karakteristik dan kebutuhan anak

Sifat dasar

Sifat dasar anak adalah suka bermain dan selalu bergembira. Sekolah masa depan adalah

sekolah yang mampu merancang pembelajaran yang dilakukan dengan bermain dan dalam

suasana yang menyenangkan. Penekanan, stressing, ancaman merupakan sifat guru kuno

yang harus ditinggalkan.

Bermain sebagai cara untuk belajar pada umumnya dipandang sebagai pendekatan untuk

anak-anak berusia lebih muda, tetapi anak pada usia sekolah dasar sebenarnya juga

memperoleh manfaat lebih dari bermain. Jika anak diberi kesempatan untuk bermain,

ditemukan bahwa (David, dalam Arthur, Grainger & Wray, 2006):

- Anak lebih berminat untuk terlibat dalam proses belajar

- Anak lebih berani mengajukan pertanyaan dalam permainan, tidak berusaha mencari

jawaban. Artinya, bermain tidak „menakutkan‟ bagi anak.

- Rasa terlibat dan kendali atas situasi merupakan penguat bagi motivasi belajar anak

- Sifat eksploratif dari bermain mendorong tumbuhnya kreativitas, peraturan dapat

ditambahkan atau diubah

- Bermain membangun kecerdasan sosial

- Bermain itu menyenangkan bagi anak-anak, melepaskan stres dan meningkatkan energi

positif

Wilderspin (dalam Gilbert, 2011) juga menekankan pentingnya bermain sebagai cara untuk

meningkatkan kebugaran fisik anak, yang memberi pengaruh besar pada kesehatan mental

serta kemampuan belajar.

Dalam sekolah masa depan, proses belajar perlu diselenggarakan dalam setting gembira dan bebas tekanan mental sehingga anak mempersepsi kegiatan belajar sebagai sesuatu yang

menyenangkan. Tekanan yang bermanfaat untuk membangun daya juang masih diperlukan,

tetapi sebaiknya dirancang sebagai bagian dari aktivitas sehingga menjadi tantangan untuk

dihadapi oleh anak-anak.

Jika kegiatan belajar diselenggarakan dalam suasana informal dan santai, kemampuan

anak untuk menyerap pengetahuan ternyata juga meningkat. Secara fisiologis, hal ini

disebabkan oleh aktivitas otak yang bekerja pada frekuensi gelombang tertentu, yaitu

gelombang alfa, ketika berada dalam keadaan rileks. Ketika berada pada kondisi gelombang

alfa, otak anak akan lebih terbuka terhadap informasi, lebih mudah menyimpan informasi

(27)

Cara dan gaya belajar

Setiap anak belajar sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Ada yang memiliki kelebihan

gaya belajar dalam auditori, ada yang lebih di visual maupun memiliki keunggulan di

kinestetik. Guru masa depan harus bisa menemukan dan mengembangkan model

pembelajaran berdasarkan gaya belajar di atas. Pembelajaran harus lebih banyak

menggunakan proses aktif, yaitu metode-metode yang berada di bagian bawah pada piramida

belajar (lihat gambar 1), karena proses aktif memfasilitasi baik gaya belajar visual, auditori

maupun kinestetik. Memadukan ketiga gaya belajar merupakan kreativitas tertinggi guru

dalam strategi pembelajaran yang diterapkannya.

Potensi unggul

Jika di kelas ada 40 siswa, maka di kelas itu ada 40 potensi yang unik, yang berbeda

antara siswa satu dengan yang lainnya. Idealnya diperlukan 40 strategi belajar yang memadai

untuk masing-masing anak. Tugas guru adalah menemukan potensi masing-masing anak dan

mengaplikasikannya dalam proses belajar mengajar di kelas.

Terdapat beberapa strategi untuk memungkinkan terjadinya pembelajaran yang

mengakomodasi keunikan personal, di antaranya memperkecil rasio guru dan siswa, di mana

satu guru idealnya mendampingi tidak lebih dari lima belas siswa (Gurian & Ballew, 2003).

Hal ini mungkin sulit diterapkan pada konteks sekolah dasar di Indonesia karena terbatasnya

fasilitas sekolah dan tingginya kebutuhan masyarakat untuk mendaftarkan anak-anak di

sekolah dasar, sehingga ukuran kelas akan selalu besar. Cara lain untuk menyiasati kondisi

ini adalah teknik “pembelajaran vertikal" di mana anak-anak dari kelas yang lebih besar,

khususnya anak-anak yang berprestasi cukup baik, diajak untuk mengajari adik kelasnya

secara personal (Gurian & Ballew, 2003), misalnya satu kakak mengajari satu adik. Selain

bermanfaat dalam proses belajar adik-adik kelas, teknik ini juga bermanfaat bagi anak-anak

di kelas besar. Anak-anak yang berprestasi baik diberi tantangan lebih untuk menguji

pemahamannya tentang materi, serta memberi kesempatan anak-anak yang belajar lebih

lambat untuk mengejar teman-temannya.

Psikologi perkembangan

Sekolah masa depan memandang anak sebagai individu yang sedang dalam proses

perkembangan. Anak di sekolah merupakan anak yang sedang berkembang sesuai dengan

karakter masing-masing. Fase perkembangan anak yang bebeda setiap usianya memberikan

(28)

masa depan mengakomodasi fase perkembangan dalam rangka memahami anak sesuai

dengan fitrahnya. Dalam praktek pembelajaran berbasis tahapan perkembangan anak,

kegiatan-kegiatan dirancang untuk memenuhi tugas perkembangan anak pada usia sekolah

dasar, antara lain belajar bersosialisasi dan berperan sesuai jenis kelamin, mengembangkan

konsep berpikir, mengembangkan kebiasaan-kebiasaan baik.

Menurut Piaget, pada usia 6-12 tahun secara kognitif anak berada dalam tahap operasi

konkret, artinya anak membentuk konsep melalui pengalaman yang menggunakan indra

(belajar dengan melihat langsung, mendengar langsung, mencoba melakukan secara

langsung). Agar anak membentuk konsep yang sesuai dengan dunia nyata, maka proses

belajar harus dirancang agar menjadi pengalaman nyata pula dengan sebanyak mungkin

menggunakan praktek dan menghadirkan objek-objek sungguhan untuk dipelajari, bukan

gambar atau cerita semata. Banyak kesalahan konsep yang dialami siswa pada pendidikan

tradisional terjadi karena kurangnya pengalaman indriawi tersebut.

Tugas perkembangan yang tak kalah penting bagi anak di usia sekolah dasar adalah

belajar bersosialisasi dan berperan sesuai jenis kelamin. Sekolah dapat memfasilitasi

pencapaian tugas perkembangan tersebut melalui aktivitas bersama seperti kerja kelompok,

berkemah, juga mengundang orang dari berbagai profesi untuk menceritakan pekerjaannya

pada anak-anak.

B. Fokus menemukan dan memupuk potensi unggul setiap anak

Sekolah masa depan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada anak untuk

menemukan potensi unggulnya. Dalam pembelajaran di sekolah, anak dapat menemukan apa

yang menjadi kelebihannya. Dengan bimbingan guru, anak diarahkan untuk membangkitkan

berbagai potensi yang dimiliki. Sekolah melalui guru memberikan berbagai kegiatan belajar

yang dapat mengeksplorasi semua kemampuan setiap siswa.

Setelah menemukan potensi, sekolah juga harus menyediakan sarana dan prasarananya

untuk memupuk potensi itu. Sangat disayangkan jika anak sudah menemukan potensinya

namun tidak ada wahana untuk memupuk potensi itu agar melejit. Untuk itu sebuah sekolah

masa depan perlu memiliki sarana pendukung pendidikan yang lengkap seperti perpustakaan,

multimedia, internet, laboratorium kecil (sains, sosial), dan tempat unjuk kreativitas.

C. Mengembangkan moral anak dan kecerdasan beragam secara berimbang

Seperti telah disebutkan pada tinjauan pustaka, sekolah tradisional pada umumnya hanya

(29)

logis-matematis. Akibatnya, anak yang menikmati sekolah tradisional hanya anak-anak yang

berbakat di bidang bahasa atau matematika, sementara anak yang memiliki kecerdasan

kinestetik atau musikal, misalnya, tidak dapat menikmati proses belajar di sekolah tradisional.

Sekolah masa depan adalah sekolah yang memberikan kesempatan terbuka kepada semua

anak untuk mengembangkan berbagai jenis kecerdasan yang dimilikinya. Nicholl & Rose

(1987) menyebut pendekatan pendidikan seperti ini sebagai membangun “otak yang utuh,”

yaitu mengembangkan seluruh jenis kecerdasan secara seimbang sesuai dengan bakat pribadi

tiap anak. Salah satu contoh penerapan kecerdasan beragam dalam proses belajar misalnya

pada saat mempelajari tata surya, anak diajak untuk:

- Membaca buku dan menulis laporan tentang berbagai jenis planet (linguistik)

- Menghitung jarak antar planet (logis-matematis)

- Membuat peta skala tata surya (visual-spasial)

- Mengarang lagu tentang karakteristik planet dan menyanyikannya (musikal)

- Membuat tarian atau melakukan simulasi gerakan planet mengitari matahari (kinestetik)

- Kerja kelompok untuk melakukan tugas-tugas tersebut (interpersonal)

- Mengasosiasikan planet mana yang paling menyerupai diri anak (intrapersonal)

- Melakukan pengamatan bintang dan planet di alam (naturalis)

Dengan pendekatan seperti ini, anak yang cerdas musik dapat menikmati pembelajaran musik

yang disukainya, begitu pula anak yang cerdas kinestetik melakukan berbagai kegiatan yang

disukainya. Kegiatan belajar menjadi lebih menyenangkan bagi semua, dan setiap anak dapat

menemukan bakat-bakat uniknya masing-masing. Pembelajaran dengan cara seperti ini

memungkinkan setiap anak untuk “menang” dalam bidang kecerdasannya, sehingga rasa

percaya diri setiap anak akan meningkat.

Sekolah masa depan juga memiliki peran besar dalam mengembangkan moral anak. Ciri

yang terlihat dari usaha mengembangkan moral dan kebiasaan baik adalah adanya

pembiasaan yang konsisten diterapkan oleh sekolah, seperti kebiasaan membuang sampah di

tempatnya, menghormati guru, belajar secara terbuka dan demokratis menjadi ciri utamanya.

3.3Transformasi Pendidikan Dasar: Menuju Sekolah Masa Depan

Sekolah masa depan merupakan suatu konsep yang relevan menjawab kebutuhan dunia

abad 21 akan pendidikan. Untuk membawa konsep tersebut menjadi kenyataan di lapangan,

diperlukan strategi transformasi agar praktek-praktek pendidikan di sekolah tradisional saat

ini dapat digantikan secara bertahap oleh prinsip-prinsip sekolah masa depan. Perlu

(30)

tambahan atau pengayaan pada materi yang ada, melainkan mengubah cara-cara yang sudah

tidak efektif dalam belajar. Ini bahkan bisa berarti mengurangi materi-materi yang tidak lagi

dianggap relevan untuk situasi dunia saat ini maupun untuk tumbuh kembang siswa.

Proses perubahan menuju sekolah masa depan dapat dilakukan melalui perubahan

bertahap pada berbagai aspek dari sistem sekolah, antara lain:

1. Penggunaan strategi strength model (McKeown, 2002), yaitu memetakan prinsip-prinsip mana yang telah diterapkan maupun belum diterapkan di sekolah, baik dalam kebijakan,

kurikulum, materi, proses maupun evaluasi pembelajaran. Mengidentifikasi

wilayah-wilayah yang potensial untuk mulai menyisipkan prinsip-prinsip tersebut baik dari segi

pengetahuan, keterampilan, maupun nilai.

2. Integrasi dalam kurikulum: mengubah cara menyampaikan suatu materi melalui inovasi

RPP, menggunakan metode-metode belajar yang lebih aktif dan kreatif. Sebagai contoh,

untuk membelajarkan tentang konsep ekonomi, tidak melalui metode ceramah atau guru

mengajar di kelas, tetapi pada jam pelajaran siswa diajak melakukan permainan peran

tentang pasar dan jual-beli.

3. Pengayaan melalui ekstrakurikuler: Terkait dengan sistem sekolah tradisional yang

bersifat cukup kaku, ada kemungkinan proses perubahan tidak akan berjalan optimal jika

hanya mengandalkan perubahan kurikulum. Thoresen (2001) menganalisis bahwa

pendidikan non formal dalam sistem sekolah formal dapat mempercepat proses

perubahan, karena itu ekstrakurikuler dapat menjadi salah satu titik strategis untuk

membangun prinsip dan nilai sekolah masa depan. Pengembangan program

ekstrakurikuler dapat didasarkan pada prinsip-prinsip sekolah masa depan, dan menjadi

pembelajaran untuk diterapkan secara intra kurikuler.

4. Peningkatan kapasitas guru: pergeseran peran guru menjadi motivator dan fasilitator

membutuhkan kompetensi tertentu dari guru. Karena itu perubahan menuju sekolah masa

(31)

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan telaah literatur dalam makalah ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa:

1. Untuk memenuhi tuntutan dunia abad 21, sekolah masa depan perlu memiliki

prinsip-prinsip berikut:

a. Membelajarkan keterampilan hidup seperti keterampilan berpikir, kreativitas,

kemampuan hidup bersama dan berkomunikasi

b. Sistem penilaian berbasis karya dan penguasaan bidang-bidang yang dipelajari

c. Pendidikan berbasis pada kehidupan dan praktek-praktek lapangan

d. Guru berperan sebagai motivator yang mendorong siswa untuk belajar secara mandiri

2. Agar dapat mengoptimalkan tumbuh kembang anak menjadi manusia yang utuh, sekolah

masa depan perlu memiliki prinsip-prinsip berikut:

a. Mempertimbangkan karakteristik siswa (sifat dasar, kecerdasan, gaya belajar, dan

tahap perkembangan) dalam perencanaan dan penyelanggaraan proses belajar

b. Fokus menemukan dan memupuk potensi unggul setiap anak

c. Mengembangkan moral anak dan kecerdasan beragam secara berimbang

4.2 Saran

Adapun saran-saran untuk mewujudkan sekolah masa depan adalah sebagai berikut:

1. Menggunakan berbagai aspek sistem pendidikan di sekolah untuk menyisipkan

prinsip-prinsip sekolah masa depan: memetakan praktek-praktek dan potensi yang telah ada di

sekolah, mengintegrasikan dalam kurikulum melalui RPP, melengkapi dengan kegiatan

ekstra kurikuler

2. Guru perlu mengembangkan kapasitas diri untuk mampu berperan sebagai motivator dan

(32)

DAFTAR PUSTAKA

Arthur, J., Grainger, T., Wray, D. (eds.) (2006) Learning to Teach in Primary School. New York: Routledge.

Delors, J. (1996) Learning: The Treasures Within. Paris: UNESCO Gardner, H. (1985) Frames of Mind: Multiple Intelligences.

Gilbert, I. (2011) Why Do I Need A Teacher When I’ve Got Google? The Essential Guide to

the Big Issues for Every Twenty-first Century Teacher. London: Routledge.

Gurian, M., Ballew, A.C. (2003) The Boys and Girls Lea rn Differently: Action Guide for Teachers. San Fransisco: Jossey-Bass.

Hurlock, E.B. (1987) Perkembangan Anak, Jilid 2. Jakarta: Penerbit Erlangga

Kagan, M., Chapman, C. (1999) Higher-Level Thinking: Questions in Life and Earth Sciences. California: Kagan Publishings.

Kamil, M. (2008) Panduan Praktis Perencanaan PNF. Bandung: Penerbit Dewa Ruchi

McKeown, R. (2002) ESD Toolkit version 2. Portland: Prtland State University. Mudyahardjo, R. (2006) Pengantar Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Perkasa.

Nicholl, M.J., Rose, C. (1997) Accelerated Learning for the 21st Century. Bandung: Penerbit Nuansa.

Sudjana, D. (2004) Pendidikan Non Formal. Bandung: Falah Production

Thoresen, V.W. (2001) Education: A Constraint or A Catalyst to Sustainable Development?

Paper. 5th Annual Conference of the International Environment Forum.

Sumber internet:

http://www.teachersfirst.nl/Teaching/TheImportanceofBasicEducation/tabid/235/Default.asp x

http://www.dpr.go.id/id/uu-dan-ruu/uud45

Sumber lain-lain:

BPIP (2007) Pengantar psikologi perkembangan untuk fasilitator non-psikologi (slide).

Gambar

Tabel 1.berfokus pada tujuan kelompok.  Perbedaan Umum Cara Belajar Anak Perempuan dan Laki-laki
Gambar 1. Efektivitas berbagai metode belajar
Gambar 2. Taksonomi berpikir (Kagan & Chapman, 1999)
Tabel 2. Jenis-jenis Pertanyaan dan Hubungannya dengan Keterampilan Berpikir
+3

Referensi

Dokumen terkait

Pada saat registrasi, peserta wajib menunjukkan ijazah asli S1 (bagi sarjana) atau ijazah terakhir (bagi yang belum sarjana) dan menyerahkan salinan ijazah tersebut

This kind of extrinsic motivation is understandable (tolerable) because sometimes the schools ask too much from children. 287) that there is only one teacher among a

Sistem informasi adalah suatu sistem didalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian yang mendukung fungsi operasi organisasi yang

Proses Output / Next Stage Hasil Pengujian Tombol Mulai Main on(release){ gotoAndPlay(25) nextFrame(); } Menampilkan Halaman Game Sesuai Tombol Tentang on(release){

Supaya didapatkan hasil evaluasi yang berhubungan dengan kemampuan beroperasi di lahan dari mesin panen maka dilakukan kegiatan survey lapang yang bertujuan untuk:

menunjukkan bahwa nilai p < 0,05 dengan demikian terdapat hubungan yang negatif dan signifikan sebesar - 0,172 antara status gizi dengan prestasi belajar siswa, sehingga

Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa integrasi matematika dan islam dalam pembelajaran matematika terbagi menjadi lima yaitu: (1) Memahami

Mereka yang menjadi responden memberikan tiga alasan mengenai penghilangan ini : pertama, menspesifikasi kelompok-kelompok pelanggan tertentu dapat