• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEDUDUKAN EKOEFISIENSI DALAM pancasila PENGELOLAAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KEDUDUKAN EKOEFISIENSI DALAM pancasila PENGELOLAAN"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

KEDUDUKAN EKOEFISIENSI DALAM PENGELOLAAN DAN KONSERVASI LINGKUNGAN

A.LATAR BELAKANG

Lingkungan merupakan segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang mempengaruhi kehidupan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung. Lingkungan hidup menyediakan kebutuhan-kebutuhan hidup manusia dan sebaliknya, kehidupan manusia sangat tergantung pada tersedianya sumberdaya alam yang memadai dalam lingkungan hidup. Manusia membentuk lingkungan hidupnya dan manusia dibentuk oleh lingkungan hidupnya. Antara manusia dan lingkungan hidup akan selalu terjadi interaksi timbal balik. Oleh karena itu, sesungguhnya sangat disadari bahwa lingkungan hidup memang memegang peranan penting dalam perkembangan kebudayaan manusia, mulai dari manusia primitif sampai pada yang modern. Persoalan lingkungan telah lama menjadi topik dan kajian dunia ketika manusia mulai merasakan dampaknya yang semakin meluas yakni terlihat pada banyaknya bencana. Namun, hingga kini polemik ini masih mejadi mimpi buruk dan menjadi tugas besar untuk diselesaikan bersama.

Ada banyak kajian konsep-konsep yang berkaitan dengan lingkungan, diantaranya adalah pengelolaan lingkungan, konservasi lingkungan, pembangunan berkelanjutan, konservasi sumberdaya alam (SDA), eko-efisiensi dan masih banyak lagi yang lain. Jika dibaca sekilas, konsep-konsep tersebut hampir tidak memiliki perbedaan yang signifikan, namun pada kenyataanya masing-masing istilah memiliki titik berat yang berbeda. Guna mengetahui pengertian-pengertian dan sekaligus keterkaitan antara konsep-konsep tersebut, maka perlu dilakukan kajian secara teoritik berkaitan dengan konsep-konsep dan sekaligus hubungannya.

(2)

permasalahan lingkungan, sehingga dapat ditarik sebuah kesimpulan yang mudah dipahami dan dapat diaplikasikan dalam lingkungan kehidupan beraktifitas sehari-hari.

B.PENEGRTIAN KONSEP 1.Pengelolaan Lingkungan

Pengelolaan lingkungan adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan, dan pengendalian lingkungan hidup (Arifin, 2011), selaras dengan UU RI NO 32 TH 2009 tentang Perlindungan Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup adalah upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum. Pengelolaan lingkungan hidup diselenggarakan dengan asas tanggung jawab negara, asas keberlanjutan, dan asas manfaat.

Menurut Danusaputro (1980), sasaran pengelolaan lingkungan hidup adalah : (a) tercapainya keselarasan, keserasian, dan keseimbgangan antara manusia dan lingkungan hidup; (b) terwujudnya manusia Indonesia sebagai insan lingkungan hidup yang memiliki sikap dan tindak melindungi dan membina lingkungan hidup; (c) terjaminnya kepentingan generasi masa kini dan generasi masa depan; (d) tercapainya kelestarian fungsi lingkungan hidup; (e) terkendalinya pemanfaatan sumberdaya secara bijaksana; (f) terlindungnya NKRI terhadap dampak usaha dan/atau kegiatan di luar wilayah negara yang menyebabkan perusakan lingkungan hidup. Kemandirian dan keberdayaan masyarakat merupakan prasyarat untuk menumbuhkan kemampuan masyarakat sebagai pelaku dalam pengelolaan lingkungan hidup bersama dengan pemerintah dan pelaku pembangunan yang lain. Meningkatnya kemampuan dan kepeloporan masyarakat akan meningkatkan efektifitas peran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup.

(3)

lingkungan hidup yang dilakukan secara sistematis guna mencegah kerusakan lingkungan, upaya tersebut dimulai dari perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum baik sosial maupun nonsosial.

2.Konservasi Lingkungan

Konservasi adalah upaya-upaya pelestarian lingkungan akan tetapi tetap memperhatikan manfaat yang bisa didapatkan pada saat itu dengan cara tetap mempertahankan keberadaan setiap komponen-konponen lingkungan untuk pemanfaatan di masa yang akan datang (Arsyad, 2010). Utomo (1989), mengemukakan bahwa konservasi adalah suatu upaya yang dilakukan oleh manusia untuk dapat melestarikan alam, konservasi bisa juga disebut dengan pelestarian ataupun perlindungan, sedangkan menurut Rocan (2014), Konservasi merupakan pengaturan pemanfaatan biosfer oleh manusia sehingga diperoleh hasil yang berkelanjutan bagi generasi sekarang dengan menjaga potensi untuk kebutuhan generasi mendatang. Atau secara lebih luas dapat diartika bahwa konservasi adalah upaya pelestarian lingkungan, tetapi tetap memperhatikan manfaat yang dapat diperoleh pada saat itu dengan tetap mempertahankan keberadaan setiap komponen lingkungan untuk pemanfaatan masa depan

Dari beberapa pendapat diatas tentang pengertian konservasi lingkungan Sehingga dapat kita simpulkan bahwasannya konservasi lingkungan lebih menitik beratkan pada kemanfaatan lingkungan sebagai tempat tinggal manusia. Mengingat lingkungan hidup memiliki sifat terbatas, mengalami perubahan, tak terduga, dapat memicu timbulnya masalah, dan kompleks, maka yang dapat dikonservasi adalah fungsi lingkungan hidup. Tugas utama manusia adalah bagaimana tetap menjaga fungsi lingkungan dengan ketidakpastian, keterbatasan dan berbagai masalah yang ditimbulkanya. Dengan demikian, konservasi lingkungan adalah upaya untuk mengatur fungsi lingkungan hidup agar kebermanfaatnya dapat terus terjaga hingga dimasa yang akan datang guna mencapai kualitas hidup yang terbaik

3.Pembangunan Berkelanjutan

(4)

tiga dimensi yang menjadi acuan yaitu dimensi ekonomi, ekologi dan kesejahteraan sosial.

Pembangunan berkelanjutan menghendaki keselarasan antara bidang ekonomi dengan aspek ekologi guna mencapai kesejahteraan sosial melalui pendistribusian sumber daya alam yang tepat dan efisien. Berlangsungnya kegiatan ekonomi disertai dengan adanya upaya pemeliharaan dan pelestarian sumber daya alam dan lingkungan untuk pembangunan yang berkesinambungan. Menghadapi permasalahan tersebut maka perlu memahami rancangan pengelolaan lingkungan dalam mendukung kegiatan ekonomi agar pembangunan dapat dilakukan dengan optimal dan berkelanjutan tanpa mengalami produktivitas yang menurun dari waktu-waktu. Bruntland dalam Bruce Mitchell, dkk. (2000), juga mengemukakan bahwa pembangunan berkelanjutan berpusat pada manusia, oleh karena itu semua aspek yang akan diatur dalam pembangunan berkelanjutan hakikatnya adalah mengatur manusia dalam membangun, memanfaatkan dan mengkonservasi lingkungan hidupnya.

4.Eko-efisiensi

(5)

didaur-ulang, kegunaan berkelanjutan yang maksimal sumber daya alam yang dapat diperbarui, peningkatan intensitas layanan terhadap barang dan jasa, menunjang inisiatif untuk keberhasilan produksi bersih terhadap produksi berkelanjutan dan pola konsumsi.

Peran sikap dan perilaku perorangan (individu) sebagai diri, anggota masyarakat dan pengambil keputusan sangat menentukan seluruh tindakan manusia terhadap alam atau lingkungan. Oleh sebab itu dalam rangka pelestarian lingkungan, kewajiban bagi setiap orang untuk melakukan upaya mewujudkan lingkungan yang memberi dukungan kepada kehidupan semua manusia, adalah sangat menentiukan. pemanfaatan sumber daya alam tersebut pada tingkat eksploitasi yang tidak ramah terhadap lingkungan (ekologi). Bahkan demi kelangsungan proses pembangunan ekonomi, dalam konteks efisiensi diperlukan adanya perencanaan penggunaan, pengelolaan, dan penyelamatan sumber daya alam yang dilakukan dengan cermat. Perhitungan hubungan – hubungan ekologis perlu dilakukan untuk mengurangi akibat-akibat yang merugikan baik bagi kelangsungan pembangunan maupun kelangsungan ekosistem.

5.Konservasi Sumber Daya Alam

Menurut Hadi (2009), Konservasi sumberdaya alam adalah penghematan penggunaan sumberdaya alam dan memperlakukannya berdasarkan hukum alam. Allaby (2010), mengemukakan bahwa konservasi sumberdaya alam adalah pengelolaan biosfer secara aktif demi menjamin kelangsungan keanekaragaman spesies maksimum serta pemeliharaan keragaman genetik dalam suatu spesies. Termasuk di dalamnya adalah pemeliharaan fungsi biosfer misalnya siklus nutrisi dan fungsi ekosistem. Sedangkan menurut Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem, konservasi sumber daya hayati adalah pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya.

Menurut Choesin, dkk. (2004), Sumber Daya Alam dapat dibedakan menjadi 3, yaitu:

a. Sumber daya terbaharui (tidak habis): misalnya, sumberdaya matahari, angin dan

(6)

b. Sumber daya tidak terbaharui: misalnya, bahan bakar fosil, mineral, logam dan

nonlogam.

c. Sumber daya yang berpontensi untuk diperbaharui: misalnya, udara segar, air bersih,

tumbuhan dan hewan (keanekaragaman hayati).

Sumberdaya alam merupakan bagian dari lingkungan hidup dan lingkungan merupakan bagian dari ekosistem. Dengan mengefisiensikan ekologi, maka secara tidak langsung akan mengefisiensikan lingkungan dan sumberdaya alam.

C.PERBANDINGAN DAN HUBUNGAN ANTAR KONSEP

Setelah mengetahui berbagai pengertian konsep-konsep yang digunakan dalam ilmu lingkungan, dari pengertian-pengertian tersebut kita bisa menarik sebuah pola atau bagan yang menghubungkan antar konsep. Konsep-konsep tersebut sebenarnya bukanlah konsep yang berjalan secara terpisah, melainkan saling berhubungan satu sama lain dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam dinamika lingkungan.

Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut, dapat digambarkan bahwa pengelolaan lingkungan memiliki tujuan untuk konservasi atau pelestarian. Konservasi tersebut meliputi konservasi lingkungan dan konservasi Sumberdaya Alam. Dalam pelaksanaanya untuk mencapai tujuan, pengelolaan lingkungan menggunakan prinsip atau konsep eko-efisiensi. Dimana salah satu contoh pelaksanaan ekoefisiensi adalah dengan 4R (Reduce, Reuse, Recycling, dan Recovery). Pengelolaan Lingkungan tersebut memiliki sebuah target pencapaian dalam jangka panjang yang disebut dengan pembangunan berkelanjutan. Dimana dalam pembangunan berkelanjutan bertumpu pada dua asas, yakni asas pemenuhan kebutuhan masa kini dan kebutuhan generasi yang akan datang atau anak cucu kita.

(7)

D. POSISI EKO-EFISIENSI

Eko-efisiensi memiliki peran yang sangat penting bagi pegelolaan lingkungan. Dalam mencapai tujuan dan target pengelolaan lingkungan yang meliputi konservasi dan pembangunan berkelanjutan, diperlukan prinsip efisiensi dalam pelaksanaanya. Dengan kata lain, eko-efisiensi memiliki peran utama dalam keterlaksaan tujuan dan target pengelolaan lingkungan.

Eko-efisiensi berperan dalam berbagai proses konservasi lingkungan maupun Sumberdaya Alam. Efisien ekonomi dapat diperoleh ketika manusia menggunakan Sumberdaya Alam untuk sebuah proses produksi maupun konsumsi. Sedangkan efisien ekologi dapat diperoleh saat manusia dapat menggunakan ketersediaan lingkungan dengan bijak. Selain itu, efisien ekologi juga dapat diperoleh dari pengolahan limbah hasil produksi penggunaan Sumberdaya Alam. Semakin sedikit limbah yang dihasilkan melalui proses 4R, maka akan semakin seimbang pula lingkungan hidup. Oleh karena itu, efisiensi ekonomi dan efisiensi ekologi menjadi sebuah kesatuan yang tak terpisahkan dalam pengelolaan lingkungan.

Ekoefisiensi merupakan suatu usaha untuk mengefisiensikan penggunaan sumber daya alam agar dapat digunakan dalam jangka panjang. Dalam konteks ini, efisiensi mengacu pada perencanaan penggunaan, pengelolaan, dan penyelamatan sumber daya alam. Dengan memperhitungkan akibat dari penggunaan sumber daya alam terhadap kelangsungan pembangunan maupun kelangsungan ekosistem. Sebelum menerapkan ekoefisiensi, diperlukan pemahaman mengenai jenis, kondisi, dan nilai setiap sumber daya alam. Secara garis besar sumberdaya alam terbagi menjadi dua, yaitu sumberdaya alam yang dapat diperbaharui dan sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui.

(8)

pun juga perlu digunakan dengan bijak supaya dapat dimanfaatkan dalam jangka waktu yang panjang. Prinsip eko-efisiensi menekankan pada minimisasi bahan dan energi yang tidak termanfaatkan dalam suatu sistem proses produksi (limbah padat,cair, dan gas) dan menyebabkan meningkatkannya social cost untuk proses pengolahan selanjutnya. Melaui penerapan ekoefisiensi diharapkan akan semakin banyak bahan dan energi yang termanfaatkan dalam proses produksi sehingga semakin sedikit yang terbuang.

Ditinjau dari aspek ekonomi, peningkatan efisiensi akan mengurangi bahan baku sebagai faktor produksi dan energi yang dibutuhkan, sehingga biaya produksi turun dan berpotensi untuk meningkatkan profit. Sedangkan dari aspek lingkungan hidup berarti makin sedikit bahan baku dan energi yang terbuang percuma, sehingga semakin sedikit limbah yang dihasilkan. Sehingga secara lanjut, dampak kerusakan terhadap lingkungan hidup dapat ditekan. Langkah-langkah yang dapat diambil dalam proses produksi suatu industri dalam menerapkan prinsip eko-efisiensi adalah sebagai berikut : 1). Meminimalkan penggunaan bahan baku dan energy, 2). Meminimalkan pelepasan limbah beracun ke lingkungan, 3). Menghasilkan produk yang dapat didaur ulang, 4). Pemanfaatan sumber daya alam yang dapat diperbarui, dan 5). Mampu menghasilkan produk yang tahan lama.

Prinsip ekoefisiensi mencakup penggunaan secara efisien, menjaga kondisi ekosistem, dan melestarikan ekosistem. Prinsip ekoefisiensi berperan penting dalam pembangunan berkelanjutan. 1). penggunaan secara efisiensi, yakni dengan eksploitasi tidak berlebihan dan mempertimbangkan keterbatasan jumlah dan kualitas sumber daya alam serta penggunaan sumber daya alam tidak boros, 2). menjaga kondisi ekosistem, dengan cara memperhatikan lokasi sumber daya alam dan pengaruhnya terhadap ekosistem setempat jika dilakukan eksploitasi, memperhitungkan dampak negative pengolahan dan pemecahan secara bijaksana serta menggunakan teknologi yang tidak merusak ekosistem, dan 3). melestarikan ekosistem, dengan cara pengolahan disertai dengan pambaruan, melakukan kegiatan pemulihan ekosistem, dan dampak negative pengolahan turut dikelola.

E. CONTOH IMPLIKASI

(9)

diproduksi. Yang berlandaskan pada Pasal 4, UU No.41/1999 KEWENANGAN, PP Republik Indonesia No. 72 tahun 2010 tentang Perusahaan Umum (PERUM) Kehutanan Negara dan Perarturan Presiden Republik Indonesia No. 28 tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional.

Berbicara tentang lahan perhutani erat hubungannya dengan yang namanya hutan, dimana hutan sebagai suatu ekosistem tidak hanya menyimpan sumberdaya alam berupa kayu, tetapi masih banyak potensi non kayu yang dapat diambil manfaatnya oleh masyarakat melalui budidaya tanaman pertanian pada lahan hutan. Sebagai fungsi ekosistem, hutan sangat berperan dalam berbagai hal seperti penyedia sumber air, penghasil oksigen, tempat hidup berjuta tumbuhan dan fauna, dan peran penyeimbang lingkungan, serta mencegah timbulnya pemanasan global. Sebagai fungsi penyedia air bagi kehidupan, hutan adalah salah satu kawasan yang sangat penting, hal ini dikarenakan hutan adalah tempat bertumbuhnya berjuta tanaman.

Hutan juga sebagai salah satu modal dasar pembangunan. Sebagai modal dasar, hutan harus dimanfaatkan sepenuhnya dengan cara yang tidak merusak. Oleh sebab itu, pemanfaatan hutan harus dilakukan secara ekoefisiensi, artinya tidak merusak ekosistem, pengambilan secara efisiensi dan memikirkan kelangsungan dan kelanjutan sumber daya hutan itu. Pembangunan berkelanjutan memiliki tujuan untuk mewujudkan kelestarian sumberdaya hutan sehingga mendukung kesejahteraan manusia. Pengelolaan hutan dalam pembangunan berkelanjutan atau pengelolaan hutan lestari adalah kegiatan pengelolaan sumberdaya hutan untuk mencapai satu atau lebih tujuan yang ditetapkan, berkaitan dengan produksi kayu dan non kayu dengan mengoptimalkan peran dan fungsi hutan secara lestari ekonomi, lestari lingkungan dan lestari sosial kemasyarakatan tanpa mengurangi manfaat bagi generasi selanjutnya dan tidak menimbulkan akibat negatif bagi lingkungan fisik atau sosial kemasyarakatan. Secara langsung, dalam mengelola lahan perhutani oleh pabrik/industry pembuat kerta harus melakukan pengelolaan lingkungan dengan sistematis yang dimulai dari perencanaan hingga pengawasan bahkan membuat hutan produktif sendiri. Akan tetapi tetap industry-industri tersebut berproduksi harus sesuai dan mentaati akan pengaturan khusus tentang AMDAL, Dokumen Lingkungan Hidup (KLH), dan proses pengelolaan limbahnya. Pada bidang industry kertas juga perlu adanya pengelolaan lingkungan dalam upaya penegakan hukum.

(10)

sehingga limbah yang dihasilkan tidak terlalu banyak dan tidak menimbulkan terjadinya pencemaran lingkungan. Debu dan gas buangan dalam proses industri disaring melalui filter atau disertai dengan penanaman pepohonan sehingga polutan dapat diserap oleh beraneka ragam pepohonan. Pepohonan yang ditanam adalah bukan tanaman buah-buahan melainkan tanaman yang diusahakan kayunya agar tidak mencemari manusia.

Air yang digunakan dalam proses industri tidak mengurangi kebutuhan air masyarakat sekitar, misalnya diambil dari sungai. Air buangannya kemudian ditampung dan diolah kembali sehingga air yang dibuang ke sungai kualitasnya sama dengan air sebelumnya yang digunakan. Limbah bubur kayu (pulp) dan debu kertas ditampung untuk kemudian digunakan sebagai bio gas dan pupuk pertanian. Berdasarkan contoh di atas, pemanfaatan sumberdaya alam berdasarkan prinsip ekoefisiensi berdampak pada penghematan sumber daya dengan hasil yang setinggi-tingginya, tidak mencemari lingkungan, dan dapat dilakukan secara berkelanjutan. Hal tersebut dapat memberikan mutu kehidupan yang jauh lebih layak dan proses energi yang berlangsung di alam mencapai keseimbangan.

F. KESIMPULAN

Referensi

Dokumen terkait

Dengan itu di antara tahun 1960 sehingga 1969 pendidkan di Malaysia telah memperlihatkan pelaksanaan Laporan Razak dan Laporan Rahman Talib yang telah memperkenalkan

Kelompok Tani Lestari berlokasi di Desa Baleagung, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang. Kelompok Tani Lestari terbentuk pada tahun 2015 yang diketuai oleh Pak Supriadi

Proses Kreativitas dalam Pembelajaran Koposisi Tari Seni Tari FSP Pemula Dosen 8,000,000 DIPA.. DATA USULAN PROPOSAL PENELITIAN TAHUN 2008 DI DANAI TAHUN 2008 FAKULTAS

Pelepah tanaman pisang biasa dimanfaatkan oleh beberapa masyarakat di Indonesia sebagai obat luka, beberapa bagian lain dari tanaman pisang telah diteliti manfaatnya

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkat, rahmat dan bimbingan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang disusun untuk memenuhi salah satu syarat

1) Aset adalah sumber daya yang dikuasai oleh entitas sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi di masa depan diharapkan

Artinya, tidak pernah terjadi kasus pelecehan seksual dan tindak perkosaan yang diberitakan media massa melaporkan bahwa si pelaku adalah adik, anak si korban, murid ataukah

Pemberian konsentrasi sodium siklamat berpengaruh terhadap frekuensi NDJ karena siklamat di dalam tubuh akan mengalami metabolisme dengan bantuan flora bakteri