Hubungan Safety climate dengan Safety performance pada Karyawan PT. Waskita Karya proyek Jembatan Musi
Vania Galih Prinasti
Prof. Dr. Cholichul Hadi, Drs., M.Si., Psikolog Dewi Syarifah, M.Psi., Psikolog
Dr. Fajrianthi, Psikolog
Fakultas Psikologi Universitas Airlangga
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara safety climate dengan safety performance pada karyawan PT. Waskita Karya proyek Jembatan Musi. Safety climate merupakan persepsi masing-masing karyawan yang berkaitan dengan aspek – aspek keselamatan dan keamanan kerja (Neal, dkk., 2000). Safety performance adalah perilaku kerja yang relevan terhadap keselamatan yang dapat dikonseptualisasikan sama dengan perilaku kerja lainnya dalam lingkungan kerja (Neal, dkk., 2000).
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik survey pada 65 karyawan PT. Waskita Karya proyek Jembatan Musi. Safety climate diukur dengan menggunakan skala yang dikembangkan oleh Neal, dkk., (2000) yang terdiri atas 24 aitem. Dan safety performance diukur dengan menggunakan skala yang dikembangkan oleh Neal, dkk., (2000) yang terdiri atas 18 aitem. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik korelasi Pearson product moment dengan bantuan program SPSS versi 20.
Dari hasil analisis data diperoleh nilai korelasi antara variabel safety climate dan safety performance adalah sebesar 0,744 dengan taraf signifikansi 0,000 (p<0,05). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara safety climate dengan safety performance pada karyawan PT. Waskita Karya proyek Jembatan Musi.
Kata Kunci : Safety climate, Safety performance
cacat fisik baik sementara maupun permanen, cidera, bahkan meninggal dunia, tetapi juga berdampak pada perusahaan yang tidak hanya merugi secara finansial dan material namun juga dapat merusak citra perusahaan dan dapat bermasalah secara hukum.
Di Indonesia, BPJS Ketenagakerjaan juga mencatat pada tahun 2015, terjadi 105.182 kasus kecelakaan kerja, dengan korban jiwa mencapai 2.375 orang. Meskipun begitu, Kementrian Ketenagakerjaan RI mengatakan pada 2016 terjadi penurunan angka kecelakaan kerja sebesar 8% menjadi 101.367 kasus. Akan tetapi, jumlah pekerja yang meninggal akibat kecelakaan kerja meningkat tajam dari 2015 ke 2016. Pada 2015, jumlah pekerja yang meninggal sebesar 530 orang. Sedangkan di 2016 sebesar 2.382 orang atau naik 349,4% Penelitian lain mengenai kecelakaan kerja juga menemukan bahwa korban luka, baik traumatis dan juga fisik serta kematian paling banyak terjadi pada pekerja konstruksi dibandingkan sektor industri lain di negara berkembang (Probst et al., 2008; Moore et al., 2013; Khosravi et al., 2014 dalam Mersha, 2016). Dalam industri konstruksi, resiko kematian juga 5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan industri manufaktur, sementara resiko kecelakaan utama 2.5 kali lebih tinggi (Sawacha et al., 1999 dalam Mersha, 2016). Hal ini disebabkan karena karyawan pada industri konstruksi lebih mudah terekspos bahaya yang ditimbulkan pada saat bekerja (Mersha, 2016).
Berdasarkan data tersebut, diketahui bahwa ada beberapa faktor yang sering menjadi penyebab utama terjadinya kecelakaan kerja di industri konstruksi. Hal ini juga selaras dengan hasil penelitian Neal & Griffin (2000. Dalam Marshe, 2016) yang menemukan bahwa 3/5 pekerja konstruksi juga tidak yakin untuk memakai peralatan penunjang keselamatan pada lokasi konstruksi karena mereka merasa tidak nyaman untuk memakai peralatan tersebut pada saat bekerja dan juga penelitian yang dilakukan oleh Speegle (2005) yang menemukan bahwa human error merupakan penyebab kecelakaan kerja paling besar disusul oleh penyebab lainnya.
Permasalahan serupa kerap terjadi di PT. Waskita Karya. Hal ini dapat telihat dari peningkatan kecelakaan kerja yang meningkat dari tahun ke tahun. Jumlah dalam laporan ini tidak termasuk dengan kecelakaan yang terjadi pada tahun 2017 khususnya pada proyek PT. Waskita Karya di kota Palembang dan proyek – proyek PT. Waskita Karya lainnya.
Mullen (2002) juga mendeskripsikan faktor – faktor yang dapat memengaruhi safety performance seseorang seperti pekerja yang menginginkan mengerjakan sesuatu dengan cepat (menggunakan shortcut) sehingga mereka seakan mengabaikan keselamatanya sendiri, kurangnya pelatihan yang diterima, persepsi bahwa mereka tidak akan mengalami kecelakan kerja, ketidakpedulian terhadap bahaya yang dapat mengancam mereka, kurangnya komitmen perusahaan terhadap keselamatan pekerja, waktu kerja yang terbatas, atasan dan rekan kerja yang tidak mendukung dan image yang buruk ketika mereka menggunakan alat pelindung diri sepeti tidak macho dan yang lain-lain.
Selain itu, untuk meningkatkan safety performance, beberapa penelitian menemukan bahwa bahwa safety climate mempunyai hubungan yang kuat dengan safety performance seperti penelitian yang dilakukan oleh Neal, dkk., (2000) yang menemukan bahwa safety climate memiliki hubungan langsung dengan safety compliance dan juga safety participation yang tidak lain adalah indikator dari safety performance. Pada hasil penelitian juga ditemukan bahwa faktor – faktor dari safety climate yang berhubungan dengan safety performance dimediasi oleh motivasi dan pengetahuan. Hasil ini juga berhubungan dengan penelitian yang dilakukan oleh Cheyne, dkk., (1998 dalam Clarke, 2006) menyimpulkan bahwa iklim keselamatan yang positif akan meningkatkan perilaku aman termasuk juga keterlibatan pada aktivitas keselamatan. Iklim keselamatan organisasi yang baik juga akan berdampak pada meningkatnya performa pekerja dan juga meningkatkan standar dari keadaan lingkungan kerja (Zohar, 1980). Penelitian lain yang dilakukan oleh Lingard et al, (2012) juga menemukan hubungan positif safety climate dengan safety performance.
Berdasarkan hasil beberapa penelitian di atas, dapat diketahui bahwa dengan melakukan prinsip kesehatan dan keselamatan kerja melalui safety performance dapat membantu perusahaan untuk menekan angka kecelekaan kerja dan menciptakan zero accident. Namun, dalam proyek Jembatan Musi, masih terjadi ketidakseimbangan antara safety climate dan safety performance yang terbukti dari hasil wawancara dan kasus yang terjadi di PT. Waskita Karya proyek jembatan Musi. Untuk itu, penulis tertarik untuk mengkaji variabel terkait safety climate dengan safety performance pada karyawan PT. Waskita Karya proyek Jembatan Musi.
Safety performance
ditampilkan oleh individu pada setiap pekerjaannya untuk mendukung keamanan dan keselamatan pekerja, klien, masyarakat umum dan juga lingkungan. Burke, dkk., (2002, dalam Christian, 2009) juga mencantumkan 4 faktor penting dalam safety performance yaitu pengunaan alat pelindung diri, praktik kerja yang mengurangi resiko bahaya, mengkomunikasikan bahaya dan kecelakaan, mensosialisasikan hak dan tanggung jawab pekerja.
Beberapa peneliti melakukan riset tentang beberapa hal yang berhubungan dengan safety performance seperti pada penelitian yang dilakukan oleh Cai (2005) di sebuah perusahaan konstruksi di Inggris, hasil dari penelitian ini menemukan bahwa safety culture yang positif akan berpengaruh pada tingginya safety performance pekerja. Penelitian ini berdasarkan pada perbedaan hasil beberapa perusahaan yang telah mengimplementasikan program keselamatan namun masih memiliki tingkat safety performance yang rendah dan juga pandangan tradisional tentang keselamatan di lingkungan kerja yang hanya berfokus pada aspek teknik dan perilaku manusia yang terlalu terbatas untuk mengerti konstrak safety performance secara mendalam (Turner,1978 dalam Cai, 2005).
Selain penelitian tersebut, peneliti yang melakukan riset tentang safety performance adalah Kao (2015) yang meneliti hubungan antara safety knowledge dan safety performance yang dimediasi oleh safety priority, supervisor feedback, dan sikap keselamatan dari supervisor. Penelitian ini dilakukan pada perusahaan konstruksi minyak di Amerika serikat dan partisipannnya merupakan 249 pekerja dari perusahaan tersebut. Hasil dari penelitian ini menemukan bahwa safety priority pada pekerja memediasi sebagian hubungan antara safety knowledge dan safety performance. Selain itu, pekerja yang menerima lebih banyak supervisor feedback akan meningkatkan efek positif dari safety knowledge pada safety performance dan safety priority yang lebih kuat. Selain itu, ketika sikap supervisor terhadap keselamatan lebih positif, hubungan antara safety priorty dan safety performance dan hubungan tidak langsung antara safety knowledge dan safety performance menjadi lebih kuat (Kao, 2015).
membentuk peran dari job design dan person variable dalam menjelaskan safety performance.
Safety climate
Setiap organisasi pasti mengingkan adanya iklim organisasi (Organizational climate) yang baik agar bisa tercapainya tujuan organisasi dan menciptakan suatu kondisi dimana segala aktivitas kerja dapat berjalan dengan aman dan produktif. Namun seringkali kenyataan yang ada di lapangan berbeda dengan harapan maupun tujuan dari organisasi tersebut khususnya di Indonesia dimana kecelakaan kerja masih kerap terjadi. Safety climate pada suatu organisasi menjadi salah satu anteseden yang berhubungan dengan keselamatan pada lingkungan kerja (Huang, dkk. 2005).
Cheyenne et al (1998) melihat safety climate sebagai suatu kondisi aman sementara pada suatu organisasi yang mempunyai karakteristik yaitu persepsi karyawaan secara bersamaan. Sementara itu Zohar (2003) mendefinisikan safety climate sebagai persepsi pekerja yang berkaitan dengan praktik keselamatan, prosedur, peraturan dan hubungannya dengan pentingnya keselamatan di lingkungan kerja. Zohar dan Luria (2005) juga menambahkan bahwa makna utama dari safety climate berhubungan dengan konstruksi sosial yang mengindikasikan adanya perilaku yang diharapkan muncul secara spontan yang berasal dari peraturan dan prosedur dari top management dan praktik dari supervisor. Sementara Neal,dkk (2000) mendefinisikan safety climate sebagai persepsi bersama pekerja berkaitan dengan aspek – aspek keselematan dan keamanan kerjanya (dalam Brondino,dkk. 2012). Definisi lain mengenai safety climate dijelaskan Kim & Park ( 2002) yang menjelaskan bahwa safety climate merupakan jaringan persepsi yang didasarkan pada penilaian personal pekerja terhadap karakterstik keamanan lingkungan kerjanya. Dari beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa safety climate merupakan persepi dari pekerja mengenai aspek aspek keselamatan dan keamanan di lingkungan kerja yang dapat berpengaruh terhdapat kesejahteraan mereka.
safety climate merupakan persepsi pekerja mengenai praktik – praktik yang dilakukan oleh manajemen yang berkaitan dengan keselamatan mereka.
Kerangka Konseptual
Industri Konstruksi sebagai industri yang paling berbahaya
Tingginya tingkat kecelakaan kerja di industri konstruksi
Karyawan sebagai pelaksana utama aktivitas kerja harus
bekerja dengan aman
Safety Performance (Y) (Neal, dkk., 2000)
Safety Compliance
(Neal, dkk., 2000) Safety Participation(Neal, dkk., 2000) Safety Climate (X)
(Neal, dkk., 2000)
Management Value (Neal, dkk., 2000)
Communication (Neal, dkk., 2000)
Organizational Practice (Neal, dkk., 2000)
Employee Involvement (Neal, dkk., 2000)
Safety Performance (Y) (Neal, dkk., 2000)
METODE
Sesuai dengan tujuan penelitian yang untuk mencari hubungan antara safety climate dengan safety performance maka penelitian ini menggunakan tipe penelitian kuantitatif-eksplanatoris. Penelitian eksplanatoris bertujuan untuk mengidentifikasi perilaku dan fenomena tertentu dengan menggunakan pengujian teori yang didasarkan pada pertanyaan mengenai penyebab suatu fenomena ataupun perilaku yang kemudian dijelaskan dengan teori yang ada (Neuman, 2007). Berdasarkan dimensi waktunya, penelitian ini memakai metode cross sectional yang bertujuan mengumpulkan data dari beberapa subyek dalam satu waktu (Neuman, 2007).
Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah sesuatu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan bertujuan memperoleh informasi mengenai hal yang ingin diteliti untuk kemudian ditarik kesimpulan berdasarkan hasil penelitian tersebut (Sugiyono, 2010). Terdapat tiga variabel dalam penelitian ini yaitu:
1. Variabel dependen (Terikat / Y) : Safety performance 2. Variabel independen 1 (Bebas / X) : Safety climate
Hubungan antar ketiga variabel di dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 1. Hubungan Antar Variabel
Definisi Operasional Variabel Penelitian
Definisi operasional adalah bentuk operasionalisasi definisi konseptual variabel penelitian sehingga dapat diukur atau diobservasi (Neuman, 2007). Tujuan dari adanya definisi operasional adalah untuk menentukan batasan yang
Safety Climate
jelas terhadap variabel agar sesuai dengan teori yang digunakan. Pada variabel safety climate, pengukuran menggunakan alat ukur safety climate yang mengacu pada teori safety climate menurut Neal, dkk., (2000). Alat ukur ini tersusun atas 24 aitem untuk mengukur 4 dimensi yang ada. Terdapat 8 aitem untuk mengukur dimensi management value, 4 aitem untuk mengukur dimensi management & organizational practice, 4 aitem untuk mengukur dimensi communication dan 8 aitem untuk mengukur dimensi employee involvement. Pada dimensi management value, Aitem yang ada mengukur bagaimana persepsi karyawan terkait nilai yang dimiliki manajemen terkait keselamatan dan keamanan kerja (Neal, dkk., 2000). Pada dimensi management & organizational practice, aitem yang ada mengukur persepsi karyawan terkait praktik-praktik yang dilakukan oleh manajemen terkait keselamatan dan keamanan kerja (Neal, dkk., 2000). Pada dimensi communication, aitem yang ada mengukur persepsi karyawan terkait proses komunikasi yang terjadi selama menjalankan aktivitas pekerjaan (Neal, dkk., 2000). Dan pada dimensi employee involvement, aitem yang ada mengukur persepsi karyawan terkait keterlibatannya dalam segala aktivitas yang menunjang keselamatan dan keamanan pada saat bekerja (Neal, dkk., 2000).
Pada konstrak safety performance, pengukuran menggunakan skala yang sesuai dengan teori safety performance milik Neal, dkk., (2000). Alat ukur ini tersusun atas 18 aitem untuk mengukur 2 dimensi yang ada. Terdapat 11 aitem untuk mengukur dimensi safety compliance dan 7 aitem untuk mengukur dimensi safety participation.Pada dimensi safety compliance, aitem yang ada menilai bagaimana karyawan menjalankan pekerjaan utamanya sesuai dengan peraturan terkait keselamatan dan keamanan yang berlaku (Neal, dkk., 2000). Pada dimensi safety participation, aitem yang ada ini menilai bagaimana karyawan berpartisipasi pada setiap aktivitas yang menunjang pekerjaannya yang berhubungan dengan keselamatan dan keamanan kerja (Neal, dkk., 2000).
Subjek Penelitian
Populasi penelitian merupakan keseluruhan dari objek yang akan diteliti (Neuman, 2007). Populasi yang digunakan dalam penelitian kali ini adalah Karyawan PT. Waskita Karya proyek Jembatan Musi sejumlah 95 orang.
Teknik Pengumpulan data
Validitas menunjukkan suatu kondisi yang sebenarnya dan mengacu pada kesesuaian antara konstruk atau cara peneliti mengkonseptualisasikan suatu ide dan ukuruan. Validitas mengacu pada seberapa baik ide tentang realitas dan sesuai dengan keadaan sebenarnya. Sederhananya, validitas membahas tentang seberapa baik realitas sosial yang diukur dalam penelitian sesuai dengan konstrak yang digunakan oleh peneliti untuk memahaminya. (Neuman, 2007). Dalam penelitian ini, pendekatan validitas yang digunakan adalah content validity, dimana validitas diestimasi lewat pengujian terhadap isi tes dengan analisis rasional atau lewat professional judgement (Azwar, 2010). Dalam validasi ini, penilaian dilakukan untuk mengetahui sejauhmana item-item tes mewakili komponen-komponen dalam keseluruhan isi objek yang hendak diukur (aspek representasi) dan sejauh mana item-item tes mencerminkan ciri perilaku yang hendak diukur (aspek relevansi) (Azwar, 2010).
Penulis menggunakan professional judgement pada alat ukur safety climate dan safety performance untuk melihat apakah aitem-aitem dalam tes sesuai dengan indikator perilaku yang akan diukur. Judgement diberikan oleh tenaga ahli lulusan fakultas Psikologi Universitas Trisakti dan Universitas Indonesia yang bekerja di bidang SDM PT. Waskita Karya dan PT. HM. Sampoerna.Tbk.
Reliabilitas mengacu pada suatu konsistensi yang menunjukkan bahwa pengukuran atribut yang sama dan diulang akan memberikan hasil kondisi yang sangat mirip. (Neuman, 2007). Dalam penelitain kuantitatif, reliabilitas ditunjukkan dengan hasil numerik yang dihasilkan oleh suatu indikator yang sama karena karakteristik dari proses pengukuran atau instrumen dari pengukuran itu sendiri (Neuman, 2007). Pengujian reliabilitas menggunakan pendekatan konsistensi internal dengan teknik Alpha Cronbach melalui perhitungan program SPSS 20 for Windows.
Uji Korelasi Variabel Safety climate dengan Safety performance
Uji korelasi pada penelitian ini menggunakan korelasi Pearson Product Moment. Pengukuran ini diperlukan untuk mengetahui ada atau tidak hubungan antar variabel yang dapat dilihat dari nilai p (taraf signifikansi). Selain melihat ada atau tidak hubungan antar variabel, teknik korelasi juga dapat menunjukkan kekuatan hubungan (r).
memiliki hubungan yang positif sehingga semakin tinggi nilai dari variabel safety climate maka semakin tinggi pula nilai dari variabel safety performance.
Kesimpulan
Berdasarkan analisa data yang diperoleh dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa hipotesis penelitian yaitu terdapat hubungan antara safety climate dengan safety performance pada karyawan PT. Waskita Karya proyek Jembatan Musi dapat diterima.
Daftar Pustaka
Azwar, Saifuddin. (2012). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Barnabelli,C., Petitta, L., & Probst, T.M. (2015). Does safety climate predict safety performance in Italy and the USA? Cross-cultural validation of a theoretical model of safety climate. Journal of Accident Analysis and Prevention, 77,35-44.
Burke, M. J., Sarpy, S. A., Tesluk, P. E., & Smith-Crowe, K. (2002). General safety performance: A Test Of a Grounded Theoretical Model. Personnel Psychology, 429-457.
Christian, M. S., Bradley, J. C., Wallace, J. C., & Burke, M. J. (2009). Workplace safety: A meta-analysis of the roles of person and situation factors. Journal of Applied Psychology, 1103-1127.
Clarke, S. (2006). The relationship between safety climate and safety performance: DeJoy., D.M Schaffer, B.S., Wilson, M.G Vandenberg, R.J. & Butts, M.M. (2004). Creating safer workplaces: Assesing the determinants and the role of safety climate. Journal of Safety Research.
Feng, Y. (2013). Effect of safety investments on safety performance of building projects. Safety Science, 59, 28-45.
Griffin, M. A., & Neal, A. (2000). Perceptions of safety at work: A framework for linking safety climate to safety performance, knowledge, and motivation. Journal of Occupational Health Psychology, 347-358.
Griffin, M. A., Neal, A., & Parker, S. K. (2007). Work Performance Scale. Psyctest Dataset.
Guldenmund, F.W. (2000). The nature of safety culture: A review of theory and research. Journal of Safety Scienes.A meta-analytic review. Journal of Occupational Health Psychology, 315-327.
Huang, Y., Zohar, D., Lee, J., & Robertson, M. (2014). A mediation model linking dispatcher leadership and work ownership with safety climate as predictors of truck driver safety performance. Journal of Applied Ergonomics.
Huang, Y., Lee, J., Mcfadden, A. C., Murphy, L. A., Robertson, M. M., & Zohar, D. (2016). Beyond safety outcomes: An investigation of the impact of safety climate on job satisfaction, employee engagement and turnover using social exchange theory as the theoretical framework. Journal of Applied Ergonomics, 248-257.
Lingard, H., Cooke, T., & Blismas, N. (2012). Do Perceptions of Supervisors’ Safety Responses Mediate the Relationship between Perceptions of the Organizational Safety climate and Incident Rates in the Construction Supply Chain?. Journal of Construction Engineering and Management, 234-241.
Liu, X., Huang, G., Huang, H., Wang, S., Xiao, Y., & Chen, W., (2015) Safety climate, safety behavior and worker injuries in Chinese manufacturing industry. Journal of Safety Scienes, 173-178.
Nahrgang, J. D., Morgeson, F. P., & Hofmann, D. A. (2011). Safety at work: A meta-analytic investigation of the link between job demands, job resources, burnout, engagement, and safety outcomes. Journal of Applied Psychology, 96 (1), 71-94.
Neal, A., Griffin, M., & Hart, P. (2000). The impact of organizational climate on safety climate and individual behavior. Safety Science, 34 (1-3), 99-109. Neal, A., Griffin, M. A., & Hart, P. M. (2000). Safety climate
Measure. PsycTESTS Dataset.
Neal, A., & Griffin, M. A. (2002). Safety climate and Safety Behaviour. Australian Journal of Management, 67-75.
Neal, A., & Griffin, M. A. (2006). A study of the lagged relationships among safety climate, safety motivation, safety behavior, and accidents at the individual and group levels. Journal of Applied Psychology, 91 (4), 946-953.
Neuman, W. L. (2007). Basics of Social Research: Qualitative and Quantitative Approaches (2nd ed.). Boston: Pearson Education, Inc.
Sawacha, E., Naoum, S., & Fong, D. (1999). Factors affecting safety performance on construction sites. International Journal of Project Management, 17 (5), 309-315.
Schneider, B., & Barbera, K. M. (2014). The Oxford handbook of organizational climate and culture. Oxford: Oxford University Press.
Wu, T., Chang, S., Shu, C., Chen, C., & Wang, C. (2011). Safety leadership and safety performance in petrochemical industries: The mediating role of safety climate.
Yuan, Z., Li, Y., & Tetrick, L. E. (2015). Job hindrances, job resources, and safety performance: The mediating role of job engagement. Applied Ergonomics, 51, 163-171.
Zahoor, H., Chan, A. P., Utama, W. P., & Gao, R. (2017). A Research Framework for Investigating the Relationship between Safety climate and Safety performance in the Construction of Multi-storey Buildings in Pakistan. Procedia Engineering, 118, 581-589.
Zohar, D. (1980). Safety climate in industrial organizations: Theoretical and applied implications. Journal of Applied Psychology, 65 (1), 96-102.