• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nasionalisme Globalisasi dan Globalisme pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Nasionalisme Globalisasi dan Globalisme pdf"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

Nasionalisme, Globalisasi dan Globalisme Efrial Ruliandi Silalahi

Abstrak

Dalam logika kebudayaan, globalisasi tidak berarti tanggalnya

identitas lokal-nasional menuju satu identitas global, melainkan

lahirnya dialektika identitas global, nasional, lokal dan individual

yang disebut dengan glokalisasi. Globalisasi tidak meratakan jalan

bagi keseragaman cita rasa budaya, melainkan mendorong proses

kreolisasi dan hibridisasi. Kebudayaan lokal tidak tenggelam

dalam arus budaya global, melainkan terjadi interpenetrasi yang

particular ke dalam yang universal dan yang universal ke dalam

yang particular.

Kata kunci : Glokalisasi, Hibridisasi. 1. Memaknai Nasionalisme

Nasionalisme menurut Ernest Gellner, merujuk kepada keterkaitan

antara etnisitas dan negara. Nasionalisme menurut pandangan ini

adalah ideologi etnik yang dipelihara sedemikian sehingga

kelompok etik ini mendominasi suatu negara. Negara-bangsa

dengan sendirinya adalah negara yang didominasi oleh suatu

(2)

agama kerapkali terkandung dalam simbolisme resmi dan institusi

perundang-undangan.1

Dalam dimensi antropologi, nasionalisme dipandang sebagai

sistem budaya yang mencakup kesetiaan, komitmen, emosi,

perasaan kepada bangsa dan negara, dan rasa memiliki bangsa dan

negara itu. Dalam dimensi ini, Benedict Anderson mengatakan

bahwa nation (bangsa) adalah suatu komunitas politik yang

terbatas dan berdaulat yang dibayangkan (imagined communities).

Komunitas politik itu dikatakan sebagai imagined communities

sebab suatu komunitas tidak mungkin mengenal seluruh warganya,

tidak mungkin saling bertemu, atau saling mendengar. Akan tetapi,

mereka memiliki gambaran atau bayangan yang sama tentang

komunitas mereka. Suatu bangsa dapat terbentuk, jika sejumlah

warga dalam suatu komunitas mau menetapkan diri sebagai suatu

bangsa yang mereka angankan atau bayangkan.2

Anderson sendiri berupaya memberikan penjelasan terhadap apa

yang disebut anomali nasionalisme. Menurut pandangan Marxis

dan teori-teori sosial liberal tentang modernisasi, nasionalisme

seharusnya tidak lagi relevan di dunia individualis pasca

pencerahan, karena nasionalisme itu berbau kesetiaan primordial

dan solidaritas yang berbasis asal-usul dan kebudayaan yang sama.

1 Gellner, E. 1983, Nations and Nationalisme (Oxford: Blackwell), hal.1. 2 Anderson, Benedict, Imagined Communities Reflections on The Origin and

(3)

Maka, kalau kita kini menyaksikan goyahnya nasionalisme di

Indonesia, hal ini mungkin disebabkan antara lain oleh masuk dan

berkembangnya pemikiran liberal dalam ilmu sosial di Indonesia,

dan menjadi bagian dari cara ilmu sosial memikirkan

negara-bangsa dan nasionalisme kita sendiri.

Karena komitmen dan keinginan untuk mengikatkan diri dalam

komunitas bangsa ini, dapat muncul kesetiaan yang tinggi pada

nation state (negara kebangsaan). Bahkan, banyak warga suatu

negara kebangsaan rela mengorbankan jiwa-raga untuk membela

bangsa dan negara mereka. Senada dengan Benedict Anderson,

Ernest Renan mengatakan bahwa unsur utama dalam pembentukan

suatu bangsa adalah le desir de’etre ensemble (keinginan untuk

bersatu).3

Dalam dimensi politik, nasionalisme merupakan ideologi yang

meyakini bahwa kesetiaan tertinggi individu harus diserahkan

kepada negara kebangsaan, yaitu suatu negara yang penduduknya

memiliki hak dan kewajiban sama serta mau mengikatkan dirinya

dalam suatu negara.4 Demikian juga Soekarno, mengatakan bahwa bangsa adalah sebuah konstruksi yang dihasilkan oleh sebuah visi

yang diperjuangkan. Dalam pengertian politik ini, prinsip-prinsip

3

Abdullah, Taufik, Nasionalisme dan Sejarah, Bandung: Satya Historika, 2001. Hlm. 49.

4 Kohn, Hans, Nasionalisme Arti dan Sejarahnya , Jakarta: PT Pembangunan dan

(4)

utama dalam nasionalisme adalah kebebasan, kesatuan, keadilan,

dan kepribadian yang menjadi orientasi kehidupan kolektif suatu

kelompok untuk mencapai tujuan politik, yaitu negara nasional.5

Sebagai doktrin politik, nasionalisme merupakan basis serta

pembenaran ideologis bagi setiap bangsa di dunia untuk

mengorganisasi diri dalam entitas-entitas yang bebas atau otonom,

dan entitas itu mengambil bentuk negara nasional yang merdeka.6

Nasionalisme juga diartikan sebagai supreme loyality terhadap

kelompok bangsa. Kesetiaan ini muncul karena adanya kesadaran

akan identitas kolektif yang berbeda dengan yang lain. Pada

kebanyakan kasus, hal itu terjadi karena kesamaan keturunan,

bahasa atau kebudayaan. Akan tetapi, ini semua bukanlah unsur

yang substansial paling penting dalam nasionalisme adalah adanya

kemauan untuk bersatu. Oleh karena itu, bangsa merupakan konsep

yang selalu berubah, tidak statis, dan juga bukan pemberian,

sejalan dengan dinamika kekuatan-kekuatan yang melahirkannya.

Nasionalisme tidak selamanya tumbuh dalam masyarakat multi ras,

bahasa, budaya, dan bahkan multi agama. Amerika dan Singapura

misalnya, adalah bangsa yang multi ras, Switzerland adalah bangsa

dengan multi bahasa, dan Indonesia adalah bangsa yang

5

Kartodirdjo, Sartono, Pembangunan Bangsa tentang Nasionalisme, Kesadaran dan Kebudayaan Nasional,Yogyakarta: Aditya Media, 1993. Hlm. 3

6 Riff, Michael A., Kamus Ideologi Politik Modern, Yogyakarta: Pustaka

(5)

merupakan integrasi dari berbagai suku yang mempunyai aneka

bahasa, budaya dan juga agama.7

2. Globalisasi

Globalisasi sebagai sebuah kajian ilmiah dalam ilmu sosial

sebenarnya menempati posisi akademis yang cukup menarik

karena langsung berkaitan dengan realitas kehidupan yang

berlangsung saat ini. Secara teoritis memang belum ditemukan satu

kesepakatan diantara para pemikir sosial tentang defenisi

globalisasi. Hal itu menimbulkan perbedaan pandangan, apakah

globalisasi hanya sebuah fenomena atau dapat dibahas secara

teoritis.

Giovanni E. Reyes membaginya ke dalam dua kategori, pertama

sebagai sebuah fenomena, globalisasi mengimplikasikan bahwa

ketergantungan yang sangat kuat tengah berlangsung diantara

wilayah-wilayah dan negara-negara di dunia., terutama dalam hal

keuangan, perdagangan, dan komunikasi. Sebagai sebuah teori

perkembangan ekonomi, salah satu asumsi dasarnya adalah sebuah

level integrasi yang lebih besar berlangsung diantara

wilayah-wilayah dunia yang berbeda. Dimana integrasi ini menyebabkan

7 Ali Maschan Moesa, Nasionalisme Kyai, (Jogjakarta: LKIS, 2007). Cet.I hlm.

(6)

pengaruh yang cukup penting dalam pertumbuhan ekonomi dan

indikator-indikator sosial.8

Merujuk pendapat Reyes, bisa dikatakan bahwa globalisasi

awalnya memang sebuah fenomena, namun pada akhirnya bisa

dikaji secara teoritis. Adapaun elemen penting dari globalisasi

adalah keuangan, perdagangan dan komunikasi yang mempunyai

pengaruh penting dalam indikator sosial pada semua negara di

dunia yang terhubung dalam sistem global.

Merujuk logika berpikir diatas, paling tidak terdapat tiga kutub

pemikiran dalam setiap perdebatan yang sering hadir dalam

wacana-wacana akademis. Pertama, globalisasi sebagai proses

ekonomi. Para pemikir dalam kutub ini meyakini bahwa

globalisasi pada dasarnya merupakan sebuah proses meningkatnya

keterkaitan ekonomi nasional melalui perdagangan, aliran modal,

dan investasi asing (foreign direct investment/FDI), sehingga

kegiatan ekonomi yang ekspansif diidentifikasi sebagai aspek dan

mesin utama dibalik berlangsungnya globalisasi.9 Sebagai proses ekonomi, globalisasi telah membuka kontestasi perdagangan antar

negara di dunia.

8 Giovanni E. Reyes. 2001. Theory of Globalization: Fundamental Basis, dalam

http://sincronia.cucsh.udg.mx/globaliz.htm, diakses pada 1 Agustus 2016 pukul 9.05 pm.

9 Manfred B. Steger. 2006. Globalisme, Bangkitnya Ideologi Pasar terj. Heru

(7)

Kedua, globalisasi sebagai proses politik lahir dari pembacaan

ekspansi pasar terhadap kondisi negara bangsa. Ada beberapa

pemikiran yang berangkat dari asumsi tersebut. pertama, bahwa

kekuatan politik pemerintah sebuah negara bangsa menjadi tidak

berdaya menghadapi logika-logika technocapitalism.10 Pandangan ini menganggap bahwa kombinasi antara kepentingan ekonomi dan

inovasi teknologilah (semisal internet) yang mengantarkan fase

baru sejarah dunia dimana peran pemerintah akan tereduksi

menjadi kaki tangan kapitalisme global.11 Konsekuensi dari realitas ini adalah kinerja pasar kapital global yang lebih berperan dalam

mengendalikan ekonomi suatu negara. Kedua, ekspansi pasar

perusahaan transnasional tidak sepenuhnya meruntuhkan peran

politik pemerintah sebuah negara.12 Artinya, memang ada pengaruh ekspansi pasar terhadap eksistensi lalu lintas ekonomi

antarnegara yang lebih teknologis sifatnya, lebih cepat dan praktis.

Namun, peran politik negara tetap menjadi faktor signifikan

sehingga keputusan-keputusan politiklah yang sebenarnya

membuka jalan bagi masuknya ekspansi ekonomi transnasional.

10 Technocapitalism merupakan sintesa antara kapital dan teknologi dalam

organisasi masyarakat kontemporer. Konsep ini menekankan pada meningkatnya peran teknologi serta semakin kompleksnya relasi capital dalam proses produksi. Struktur organisasi masyarakat, dengan demikian, tetap saja berada dalam lingkaran produksi dan akumulasi capital dimana kaum kapitalis semakin mendominasi proses produksi, distribusi, dan konsumsi. Lihat, Douglas Kellner, Theorizing Globalization, dalam

http://www.gseis.ucla.edu/faculty/kellner/

(8)

Ketiga, globalisasi sebagai proses kultural. Asumsi dasar dari

kutub pemikiran ini adalah bahwa berlangsungnya globalisasi akan

membawa dampak pada perubahan budaya dunia kontemporer.

Tomlison menyatakan bahwa globalisasi kultural sebagai semakin

meningkatnya jaringan kesalingterkaitan dan interdependensi

kultural yang kompleks yang menjadi ciri kehidupan manusia

modern.13 Ironisnya, saat ini kita melihat sebuah realitas betapa globalisasi kultural sebenarnya lebih banyak memanfaatkan

kemajuan teknologi komunikasi massa untuk memasarkan

produk-produk industri budayanya melampaui batas-batas negara dan

kebudayaan. Citra-citra budaya dibentuk oleh produk-produk

tersebut semisal tanyangan televisi maupun film. Pada akhirnya

akan mempengaruhi kultur bangsa lain. Inilah yang kemudian akan

melahirkan suatu kondisi dimana identitas kultural sebuah bangsa

tidak sepenuhnya berlandaskan pada lokalitas, namun juga

merefleksikan kecepatan perubahan budaya global. Dalam konteks

itulah, globalisasi diklaim sebagai penyebab lahirnya bentuk dunia

yang serba homogen karena digerakkan oleh satu poros kultural,

yaitu Amerika.

Globalisasi yang disebarluaskan oleh teknologi yang mampu

mentransfer barang dan informasi dengan tinggi dan efektif

cenderung mengarah pada McWorld yang serba homogen, dimana

(9)

semua perbedaan bahasa dan budaya yang ada sebelumnya

berangsur menghilang dan menjelma budaya konsumsi global

dengan lingua franca Bahasa Inggris dan aktivitas utama

kulturalnya berupa perdagangan.14 Eropa, Jepang, Amerika Latin, India maupun China juga kini menggerakkan perdagangan budaya

dunia. Bagi negara tersebut ekonomi tidak harus dipisahkan dari

budaya, karena budaya juga bisa menjadi alat akumulasi modal

yang cukup efektif karena langsung bersentuhan dengan kebutuhan

estetik manusia secara universal.

Sebaliknya, ada yang menganggap bahwa akan muncul variasi

budaya lokal sebagai akibat kuatnya budaya global. Robertson,

meramalkan lahirnya pluralitas dunia ketika kekuatan kultur lokal

melakukan tanggapan kultural yang unik terhadap

kekuatan-kekuatan budaya global. Akibatnya bukanlah homogenisasi

cultural, tetapi glokalisasi, yakni sebuah interaksi yang kompleks

antara kultur global dan lokal yang bercirikan peminjaman budaya

(cultural borrowing) sehingga menghasilkan budaya baru yang

bersifat hibrid serta direfleksikan dalam bentuk film, music,

fashion, bahasa, dan bentuk-bentuk ekspresi simbolik lainnya.15

14 Dikutip dari Charles Ess. 2001. Introduction. Culture, Technology,

Communication: Toward an Intercultural Global Village (New York: State University of New York Press). Hal. 2

15 Roland Robertson, 1995. Globalization and Glocalization: Time-Space and

(10)

Bisa ditarik satu defenisi tentang globalisasi dari perspektif

kultural bahwa globalisasi sebagai sebuah proses dimana terjadi

kesalingterkaitan dan kesalinghubungan negara-negara dalam

proses ekonomi-politik dan kultural serta ditunjang oleh eksistensi

institusi-institusi internasional dan teknologi komunikasi

massa-global yang kemudian melahirkan perubahan bentuk sosio-kultural

sebagai hasil dari proses adaptasi dan hibridasi.

3. Identitas Nasional

Identitas nasional adalah sebuah kesatuan yang terikat dengan

wilayah dan selalu memiliki wilayah (tanah tumpah darah mereka

sendiri), kesamaan sejarah, sistem hukum perundang-undangan,

hak dan kewajiban serta pembagian kerja berdasarkan profesi.

Demikian hal ini juga sangat ditentukan oleh proses bagaimana

bangsa tersebut terbentuk secara historis. Maka identitas nasional

suatu bangsa tidak dapat dipisahkan dengan jati diri suatu bangsa

atau kepribadian suatu bangsa.16

Identitas nasional pada hakekatnya merupakan manifestasi

nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang dalam berbagai aspek

kehidupan suatu bangsa dengan ciri-ciri khas. Diletakkan dalam

konteks Indonesia, maka identitas nasional itu merupakan

manifestasi nilai-nilai budaya yang sudah tumbuh dan berkembang

16 Ismaun, Pancasila sebagai Kepribadian Bangsa Indonesia , (Bandung: Carya

(11)

sebelum masuknya agama-agama besar di bumi nusantara ini

dalam berbagai aspek kehidupan dari ratusan suku yang kemudian

dihimpun dalam satu kesatuan Indonesia menjadi kebudayaan

nasional dengan acuan Pancasila dan roh Bhinneka Tunggal Ika

sebagai dasar dan arah pengembangannya dalam kehidupan

berbangsa dan bernegara.17

Identitas nasional Indonesia merujuk pada suatu bangsa yang

majemuk. Kemajemukan itu merupakan gabungan unsur-unsur

pembentuk identitas nasional Indonesia,18 diantaranya pertama, suku bangsa adalah kesatuan sosial yang dapat dibedakan dari

kesatuan sosial lain berdasarkan kesadaran akan identitas

perbedaan kebudayaan, khususnya bahasa. Kesadaran nasional

merupakan hal yang paling dasar menyatukan bangsa, yaitu sadar

berbangsa dan bernegara Indonesia, dengan semangat persatuan

dan kesatuan untuk mewujudkan cita-cita bersama dalam satu

negara. Kedua, Indonesia merupakan negara yang multi agama.

Semua agama di Indonesia harus menganjurkan para umatnya

untuk bersatu dan saling menghormati dalam beragama. Indonesia

merupakan negara Theis Demokratis yakni negara yang

Berketuhanan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi semua agama,

17

Hamid Darmadi, Pengantar Pendidikan Kewargaan, (Bandung: Alfabeta, 2010), hal. 245.

18 Noor Ms Bakry, Pendidikan Kewarganegaraan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,

(12)

melindungi dan menjamin agama-agama yang diberi kesempatan

yang sama. Ketiga, kebudayaan merupakan keseluruhan

pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan

untuk memahami lingkungan serta pengalamannya dan menjadi

pedoman tingkah laku dan amal perbuatan.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dapat dikatakan bahwa

kebudayaan daerah merupakan kerangka dasar yang saling

berintegrasi menuju kesatuan budaya bangsa dan kebudayaan

nasional. Integrasi kebudayaan merupakan kerangka dasar untuk

mewujudkan integrasi bangsa atau integrasi nasional yang kukuh

dan tangguh. Integrasi nasional yang dimaksudkan adalah proses

penyatuan berbagai kelompok sosial budaya ke dalam kesatuan

wilayah dan pembentuk suatu identitas nasional. Keempat, bahasa

adalah sistem lambang yang dibentuk atas unsur-unsur bunyi

ucapan manusia dan digunakan sebagai sarana komunikasi untuk

melahirkan perasaan dan pikiran. Di Indonesia banyak terdapat

berbagai ragam bahasa daerah sebagai sarana interaksi antar

manusia yang mewakili banyak suku bangsa atau etnis. Negara

menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan

budaya nasional.

Dalam kaitannya antara identitas nasional dengan globalisasi

ditandai dengan pengaruh terhadap nilai-nilai budaya bangsa

(13)

internasional yang terjadi karena pertukaran pandangan dunia,

produk, pemikiran dan aspek kebudayan lainnya. Era globalisasi

datang dan menggeser nilai-nilai yang telah ada. Nilai tersebut

bersifat positif dan negatif. Pergaulan antar bangsa semakin ketat,

batas negara dan batas wilayah tidak menjadi penghalang.

Dalam pergaulan antar bangsa yang semakin kental itu akan terjadi

proses akulturasi, saling meniru dan mempengaruhi antara budaya

masing-masing. Sehingga pada proses akulturasi dimungkinkan

dapat melunturkan tata nilai yang merupakan jati diri bangsa

Indonesia. Pengaruh negatif akibat proses akulturasi dapat

merongrong nilai-nilai yang telah ada di dalam masyarakat kita.

Untuk membendung arus globalisasi yang sangat deras itu, kita

harus berupaya menciptakan suatu kondisi agar ketahanan nasional

dapat terjaga dengan cara membangun sebuah konsep nasionalisme

kebangsaan yang mengarah kepada konsep identitas nasional.19

Dari aspek ideologi, Pancasila yang merupakan way of life bangsa

Indonesia saat ini menghadapi tantatangan serius, bukan saja orang

enggan bicara tentang Pancasila, tetapi justru nilai-nilai yang

terkandung di dalamnya nyaris tidak lagi dihayati dan diamalkan.

Mungkin hal ini adalah akibat dan sikap traumatis dari pengalaman

masa lalu, atau dapat pula karena terlahir generasi baru yang telah

19 Heri dan Jumanta, Cerdas, Kritis dan aktif dalam berwarganegara (Jakarta:

(14)

menganggap bahwa Pancasila sudah tidak bermakna lagi. Distorsi

pemahaman dan implementasi yang terjadi saat ini, dapat kita

amati fenomenanya, diantaranya terjadinya kemerosotan

(dekadensi) moral, watak, mental dan perilaku/etika hidup

bermasyarakat dan berbangsa terutama pada generasi muda. Gaya

hidup yang hedonistik, materialistik konsumtif dan cenderung

melahirkan sifat ketamakan atau keserakahan, serta mengarah pada

sifat dan sikap individualistik. Timbulnya gejala politik yang

berorientasi kepada kekuatan, kekuasaan dan kekerasan, sehingga

hukum sulit ditegakkan. Persepsi yang dangkal, wawasan yang

sempit, beda pendapat yang berujung permusuhan, anti terhadap

kritik serta sulit menerima perubahan yang pada akhirnya

cenderung anarkis. Serta birokrasi pemerintahan terlihat semakin

arogan, cenderung KKN dan sukar menempatkan diri sebagai

pelayan masyarakat. Pemberantasan korupsi yang berakar pada

birokrasi ini yang terasakan amat sulit karena telah membudaya.

Saat ini dapat kita lihat bahwa Indonesia telah mengalami krisis

identitas nasional. Banyak penduduk Indonesia telah melupakan

unsur-unsur kebudayaan yang merupakan basis dari identitas

nasional suatu bangsa. Budaya barat yang masuk melalui

globalisasi telah banyak mengubah pola hidup generasi muda saat

ini, salah satunya yaitu melupakan kultur budaya bangsa sendiri.

Ada puluhan budaya yang telah diklaim oleh negara lain, antara

(15)

Sulawesi Tenggara, Masakan Rendang dari Sumatera Barat, Lagu

Rasa Sayang Sayange dari Maluku, Tari Reog Ponorogo, Lagu

Soleram dari Riau, Lagu Injit-Injit Semut dari Jambi, Alat Musik

Gamelan dari Jawa, Tari Kuda Lumping dari Jawa Timur, Tari

Piring dari Sumatera Barat, Lagu Kakak Tua dari Maluku, Lagu

Anak Kambing Saya dari Nusa Tenggara, Motif Batik Parang dari

Yogyakarta, Badik Tumbuk Lada, Musik Indang Sungai

Garingiang dari Sumatera Barat, Kain Ulos dari Tapanuli,

Sumatera Utara, Alat musik Angklung dari Jawa Barat, Lagu

Jali-Jali dari Betawi, Jakarta, Tari Pendet dari Bali yang diklaim oleh

pemerintah Malaysia.20

Kecenderungan akselerasi perekonomian global yang bebas

menembus batas negara, melalui banjirnya produk, jasa, dana dan

informasi ke berbagai pelosok dunia, menjadikan Indonesia hanya

sebagai sasaran dan arena pemasaran. Sementara produk dalam

negeri mengalami kelesuan sulit menembus pasar di luar negeri.

Produk-produk luar negeri dengan kualitas yang baik dan harga

yang relatif murah, terus masuk dengan dilandasi komitmen free

trade. Kondisi ekonomi yang melanda Indonesia saat ini juga

disebabkan oleh iklim politik, penegakan hukum, dan keamanan

yang tidak menunjang. Stabilitas nasional selalu terganggu,

keamanan usaha tidak dilindungi, akibatnya produktivitas anjlok.

(16)

Sesungguhnya nilai-nilai nasionalisme (paham kebangsaan) itu

bersumber dari sosio-kultural dan bumi Indonesia. Sekalipun akan

mengalami interaksi dengan dunia luar dalam era globalisasi, tetapi

hakekatnya tidak boleh berubah.

4. Kritik Atas Otonomi Daerah dalam Arus Globalisasi

Otonomi daerah dan globalisasi sesungguhnya bukan sesuatu yang

bersifat saling menolak atau menegasikan satu sama lain. Memang

semangat desentralisasi adalah untuk mendorong peningkatan

kapasitas pemerintahan lokal dan kemandirian masyarakat lokal

dalam menjalankan urusan-urusan berskala lokal. Sebaliknya,

globalisasi bukan pula merupakan sesuatu yang superior terhadap

lokalisasi (segala sesuatu yang bersifat kedaerahan).

Idealnya, diantara keduanya dapat membentuk konvergensi

globalisasi atas otonomisasi, yakni kondisi dimana globalisasi

dapat berjalan dengan baik tanpa menimbulkan gesekan terhadap

desentralisasi/otonomi. Kondisi ini oleh beberapa pakar menyebut

pula sebagai glokalisasi atau sintesa antara globalisasi dan

lokalisasi.

Dapatkah kita menolak globalisasi? Selain melawan sejarah

peradaban, menolak globalisasi berarti pula menolak berbagai

kemanfaatan yang menyertai proses integrasi ekonomi politik

(17)

adalah bagaimana mengatasi dampak buruk globalisasi, sekaligus

mempromosikan lokalisme. Kongkritnya, segala sesuatu yang bisa

diproduksi di suatu negara atau daerah, harus dilakukan (jangan

mendatangkan produk asing). Hal ini penting agar meningkatkan

kontrol lokal atas ekonomi dan segala potensi untuk dapat

disebarkan secara lebih adil diantara penduduk lokal.

Ditengah tarik ulur antara globalisasi dan lokalisasi tadi, kebijakan

desentralisasi/otonomi daerah nampaknya merupakan jawaban

yang cukup ideal untuk membangun potensi daerah dan

memperkuat identitas lokal tanpa harus menolak mentah-mentah

arus globalisasi. Tentu saja, urgensi otonomi daerah disini

bukanlah untuk menghilangkan secara langsung dampak negatif

globalisasi. Esensi otonomi lebih pada upaya menciptakan

landasan politis-yuridis-sosiologis yang kuat bagi daerah untuk

membangun dirinya berdasarkan kebutuhan, karakteristik dan

potensi yang dimilikinya. Dari sini, diharapkan akan lahir dua

prasyarat penting untuk menghadapi globalisasi yaitu pertama,

kapasitas lokal baik dalam hal sumber daya manusia (SDM)

maupun kemampuan ekonomis, dan kedua, sebuah blue-print

pembangunan daerah jangka panjang yang inklusif, akomodatif,

visioner, dan berkesinambungan. Dengan kata lain, otonomi daerah

sesungguhnya hanya menyediakan anti-body terhadap virus

(18)

Pada gilirannya, blue-print pembangunan yang matang dan terarah,

ditunjang oleh kapasitas lokal yang mantap diharapkan akan

bermuara pada proteksi dan promosi tiga faktor strategis di daerah,

yakni: local culture and values, local commodities, dan local

resources. Disisi lain, daerah juga harus mampu mengenali dan

menggali potensi sendiri, agar sedikit demi sedikit makin

memperkecil ketergantungan kepada pusat atau juga dunia luar.

Dalam hal ini, perlu dipertimbangkan adanya reorientasi

pembangunan industri yang berfokus pada daerah (district level

industrialization). Artinya, suatu industri hendaknya tidak melulu

dibangun di wilayah metropolitan dan sekitarnya, tapi perlu

digeser ke daerah pinggiran (periphery) dengan mengoptimalkan

bahan baku lokal, tenaga kerja lokal, serta untuk memenuhi

kebutuhan masyarakat lokal. Strategi seperti ini telah berhasil di

negara-negara Eropa beberapa dekade lalu.

Satu hal yang tidak bisa ditinggalkan adalah, untuk membangun

dan memperkokoh local identity dan local competitiveness di era

otonomi, harus dimulai dari reformasi birokrasi publik, terutama di

level daerah. Dalam hal ini, regulasi harus benar-benar dirumuskan

secara efektif demi merangsang majunya local entrepreneurs,

sementara korupsi, pungli serta retribusi ganda atau berlebih, harus

segera dihentikan. Reformasi birokrasi lokal, diyakini akan

(19)

pembangunan daerah diantara arus globalisme dan lokalisme

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Koentjaraningrat konsep suku bangsa sama dengan budaya lokal, dimana suatu golongan manusia yang terikat oleh kesadaran dan identitas akan kesatuan

Ada yang berpendapat bahwa globalisasi merupakan proses sosial, proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara berada dalam ikatan yang

Identitas nasional Indonesia ialah jatidiri yang membentuk bangsa yaitu berbagai suku bangsa, agama, bahasa Indonesia, budaya nasional, wilayah nusantara, ideologi

Globalisasi menunjuk pada integrasi ekonomi secara global dari mereka yang sebelumnya berbentuk ekonomi nasional, menjadi satu kesatuan ekonomi global.. Kata ’integrasi’ berasal

salah satu bentuk dari identitas sosial seseorang dalam kelompok bangsa

Identitas nasional sebagai ciri khas yang membedakan sebuah bangsa dari bangsa yang lain, maksudnya dengan definisi dari identitas nasional bahwa dikatan identitas nasional sebagai

Integrasi bangsa menunjuk pada proses penyatuan berbagai kelompok budaya dan sosial dalam satu kesatuan wilayah dan dalam suatu pembentukan identitas nasional Integrasi wilayah

Globalisasi dan peranan Pancasila dalam menjaga identitas nasional dan nilai-nilai luhur bangsa