• Tidak ada hasil yang ditemukan

Seni dalam Arena Produksi Kultural Pierr

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Seni dalam Arena Produksi Kultural Pierr"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

SENI DALAM ARENA PRODUKSI KULTURAL

PIERRE BOURDIEU:

Memahami Teks dan Konteks Produksi Seni dengan Caranya

Oleh: Olav Iban (Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, UGM)

Saya memulai tulisan ini dengan menarik kesimpulan sederhana sebagai

landasan awal, bahwa untuk memahami teks dan konteks produksi (maupun

konsumsi) seni diperlukan suatu pemahaman terhadap minimal dua hal, yakni

semesta si pencipta dan semesta ciptaannya. Saya mengacunya pada konsep Arena

Produksi Kultural, Pierre Bourdieu. Bourdieu (2010: 211) menyatakan secara tepat

kondisi yang saya maksud ini dengan analisisnya terhadap Gustave Flaubert, “di satu

sisi ada sosiologi Flaubert, yaitu sosiologi yang diproduksi oleh Flaubert, sedangkan

di sisi lain sosiologi tentang Flaubert sendiri, yaitu sosiologi yang menjadikan

Flaubert sebagai objek kajian.” Pendeknya, setiap dari kita memiliki sebuah sosiologi

makro, dan di sisi lain sebuah psikologi mikro, sehingga tanpa hubungan keduanya

pemahaman terhadap teks dan konteks akan sulit dilanjutkan.

Produksi kultural, yang termasuk di dalamnya adalah seni sebagai objek

kultural, berbeda dari produksi objek-objek pada umumnya, karena di dalamnya

(2)

namun juga nilai dari objek tersebut, yakni pengakuan terhadap legitimasi artistiknya.

Produksi kultural, dengan demikian, tidak bisa dipisahkan dari produksi seniman

sebagai pencipta nilai (Bourdieu, 2010: 216).

Ringkasnya, dalam arena produksi kultural terdapat tiga produksi yang

diproduksi, yaitu objek material (lukisan/sastra dengan segala kualitas terindranya),

pencipta (dengan segala latar historis serta arena kulturalnya sendiri), dan nilai-nilai

legitimasi yang ada di dalam (dan di regangan) objek akibat status penciptanya dan

kekuatan luar. Kekuatan luar yang saya maksudkan ialah kritikus/kurator sebagai

pengkaji; institusi pedagogis sebagai peletak hukum-hukum; lembaga-lembaga seni

sebagai wadah (kawan sekaligus lawan) bagi para seniman; dan museum sebagai

wadah legitimasi objek, yang kesemuanya memiliki kemampuan legitimasi di arena

seni (dan arena kekuasaan secara tidak langsung).

Berdasar hal-hal di atas, maka ada beberapa term yang perlu kita kuasai.

Pertama, arena kekuasaan yang mendominasi arena seni. Arena adalah ruang yang

terstruktur dengan kaidah-kaidah keberfungsiannya sendiri, dengan relasi

kekuasaannya sendiri yang melingkupi berbagai arena seperti politik, ekonomi,

kultural, dan seterusnya (Bourdieu, 2010: xvii). Setiap arena memiliki otonominya

sendiri yang relatif, dan saling terkait satu sama lain. Keterkaitan antararena

menimbulkan arena-arena terdominasi dan mendominasi karena perubahan

posisi-posisi agen di dalamnya selalu memberikan kemungkinan pergeseran kekuasaan

(3)

Arena seni berada di posisi terdominasi oleh arena yang lebih berkuasa, yang

mempengaruhi. Tetapi ia memiliki otonomi relatif yang mampu menolak pengaruh

dari arena kekuasaan, walau tidak sepenuhnya bebas dominasi. Arena otonom ini

disebut oleh Bourdieu (2010: 216) sebagai coin de folie (pojok kegilaan) yang di

dalamnya agen-agen berpartisipasi dalam dominasi-mendominasi, suatu struktural

kontradiktif. Mereka menempati sebuah posisi terdominasi dalam kelas dominan.

Para seniman sebagai agen arena seni, menurut Bourdieu, menempati posisi genting

yang menakdirkan mereka mengalami sejenis ketidakpastian objektif sekaligus

objektif: citra yang dikirimkan kembali kepada mereka oleh orang lain, terutama

mereka yang mendominasi di arena kekuasaan –sebenarnya juga di arena seni sendiri,

yakni pihak pelegitimasi nilai suatu karya– ditandai oleh ambivalensi yang diciptakan

semua masyarakat karena menjadi penentang klasifikasi umum, atau pendeknya,

memiliki status rangkap antara peran yang berkuasa dan peran sebagai pengacau

ilusi-ilusi sosial. Bourdieu sebenarnya juga mengkategorikan seniman dalam arena ini

sebagai individu kelas dominan-minus-uang, atau diistilahkannya parents pauvres

(kerabat miskin), namun ini sulit kita ikut sertakan melihat sekarang banyak timbul

individu kaya modal ekonomi yang sengaja tertarik ke arena seni.

Kedua, segala unsur yang membentuk sekaligus terlibat di dalam arena seni.

seni. Unsur-unsur ini sederhananya diklasifikasikan: (1) semesta besar atau arena

(sudah dijabarkan di atas) yang melingkupi segalanya, semesta sesungguhnya, tempat

terjadinya akumulasi bentuk-bentuk modal tertentu, sekaligus tempat relasi-relasi

(4)

kompetensi artistis untuk memberi legitimasi terhadap ciptaan dan pencipta; (3)

pihak-pihak, komun maupun individu, yang menjadi konsumen tanpa memiliki latar

belakang artistik; (4) karya seni, yakni segala objek kultural yang memenuhi

syarat-syarat bahwa objek tersebut mampu disebut karya seni (sebenarnya pada bagian ini

Bourdieu merangkul lebih luas, yakni melibatkan nama pencipta, nama konsep baru,

nama mahzab, apapun itu asalkan mampu menjadi tanda sehingga bisa dijadikan

(5)

Bagan di atas –walau tidak lengkap karena menyisihkan penerbit, penjual,

seniman senior, guru, pencari talenta dan banyak mediator artistik lainnya–

menggambarkan bagaimana sebuah arena produksi seni dipengaruhi oleh unsur-unsur

di dalamnya. Tiap pergeseran unsur (agen menurut Bourdieu), mau tak mau

menyebabkan adanya struktur arena, dan setiap pergeseran atau (jika dimungkinkan)

pergantian unsur akan merubah arenanya bahkan karya-karyanya. Relasi antarunsur

oleh karenanya punya peran penting untuk kita mengerti.

Bourdieu (2010: xxxvii-xxxviii) memiliki konsep kunci menjelaskan hal

tersebut, yaitu konsep strategi dan konsep lintasan. Strategi bisa dimengerti sebagai

orientasi spesifik praktik sebagai produk habitus yang merupakan hasil dari disposisi

tidak sadar terhadap praktik. Ia bergantung pada agen dalam arena, dan juga pada

problematika legitimasi. Sementara lintasan suatu cara di mana hubungan antara agen

dan arena diobjektivikasikan. Lintasan mendeskripsikan serangkaian posisi yang silih

berganti ditempati seorang seniman di tengah keadaan arena seni yang juga silih

berganti. Artinya, posisi yang silih berganti ini hanya bisa didefinisikan menurut

struktur arenanya.

Menurut Bourdieu (2010: 148), makna publik (atau orang biasa pada bagan)

terhadap sebuah karya berakar di dalam proses sirkulasi dan konsumsi yang

didominasi oleh hubungan-hubungan objektif antara institusi-institusi dan agen-agen

yang terlibat di dalam proses. Relasi-relasi sosial yang memproduksi makna publik

(6)

Relasi-relasi semisal relasi seniman dan galeri, tersingkap sebagai rangkaian relasi

yang hadir di dalam publikasi sebuah karya, yaitu ketika karya menjadi objek publik.

Satu hal lagi yang perlu dicermati ialah relasi antara nilai legitimasi hasil

produksi kritikus (institusi/individu) membaca ciptaan dengan publik. Pada posisi ini

terjadi pengetatan makna akibat posisi internal publik (misal, ia adalah kaum jetset)

dan eksternal (misal, legitim seni rakyat) terhadap sebuah karya seni (misal, Jatilan).

Dengan demikian setiap agen di dalam arena seni memiliki ciri posisi-posisinya di

arena kekuasaan sekaligus juga memiliki fungsi posisi-posisi di arena seni, yang

dengan kata lain, posisi arena seni di dalam arena kekuasaan mempengaruhi segala

sesuatu yang terjadi pada arena kekuasaan serta sebaliknya.

Memahami pencipta dan semestanya adalah hal selanjutnya yang perlu

didalami sebelum melangkah kepada karya ciptaannya. Di sini, saya mencoba

meringkas apa yang dilakukan Bourdieu (2010: 211-232) dalam analisisnya terhadap

Flaubert sebagai landasan bagaimana memahami pencipta dan semestanya. Pertama,

Bourdieu melihat Flaubert sedikitnya melalui dua bentuk besar, yakni psikologi

mikro dan sosiologi makro Flaubert. Pada bentuk pertama, dapat dipilah menjadi dua

bentuk kecil, yakni Bourdieu melihat Flaubert melalui (1) karya-karya terpublikasi

(novel) sebagai representasi samar si pencipta, dan (2) karya-karya tersembunyi

(surat-surat pribadi) sebagai representasi mendekati nyata si pencipta. Kemudian pada

bentuk kedua, dapat dipilah menjadi empat bentuk kecil, yakni Flaubert dilihat

(7)

status Flaubert sendiri; (3) historitas keluarga Flaubert, atau latar belakang sosial dan

pendidikan; dan terakhir (4) lingkungan fisik dan psikis Flaubert.

Kedua, Bourdieu menganalisis dua bentuk besar tadi dengan pertama-tama

mengurai hubungan relasional Flaubert dengan keluarganya (kakaknya, Achille) yang

secara tak langsung merujuk ke relasi dengan kelas-kelas sosial di sekeliling

keluarganya, sehingga Bourdieu menemukan tumpang tindih determinasi yang luar

biasa. Selanjutnya Bourdieu mengurai relasi Flaubert dengan lingkungannya sehingga

nampak suatu arena kekuasaan. Pada posisi ini, ia mencari siapakah Flaubert sebagai

penulis dari posisi yang ditentukan baginya di arena itu. Selanjutnya, ia berusaha

membentuk ulang hubungan pihak dominan dan terdominasi di arena sastra di mana

ia menemukan struktur yang homolog yang terdapat di arena kekuasaan. Setelah

menemukan strategi habitus Flaubert sekaligus posisi-disposisi serta struktur arena, ia

menguji posisi awal Flaubert di ruang sosial untuk menemukan bagaimana lintasan

Flaubert. Hingga akhirnya, melalui analisis yang baik, ia mampu melihat lebih

banyak visi-visi dalam karya-karya Flaubert.

Dengan bermodalkan sistematika analisis Bourdieu di atas, maka kita

dipermudah untuk memahami ciptaan (karya seni) dan semestanya. Pada prinsipnya,

menurut Bourdieu (2010: 301), keterbacaan/pemaknaan sebuah karya seni bagi

individu tertentu bergantung kepada divergensi/ketersebaran tingkat-tingkat emisinya.

Tingkat emisi ini dibentuk oleh dua komponen: (1) tingkat keterbacaan karya seni

yang ditentukan oleh taraf kompleksitas dan kehalusan kode yang intrinsik di

(8)

penguasaan individu atas kode-kode sosial yang kurang lebih memenuhi syarat bagi

kode-kode yang dibutuhkan untuk menafsirkan karya seni tersebut.

Setiap individu memiliki kapasitas yang terbatas untuk memahami kode-kode

di dalam sebuah karya seni. Kapasitas ini bergantung sepenuhnya pada pengetahuan

mereka tentang kode lazim untuk menerima pesan terkait. Ketika pesan melebihi

kemungkinan pemahamannya, atau lebih tepatnya, saat kode karya seni melebihi

kehalusan dan kompleksitas kode yang dipahami pengamatnya, maka dia akan

kehilangan minat karena menganggap karya tersebut percampuran tanpa sajak atau

birama, atau seperangkat warna yang tidak dibutuhkan olehnya (Bourdieu, 2010:

301).

Untuk meningkatkan keterbacaan karya seni dan untuk mereduksi

kesalahpahaman oleh pengamat, maka yang diperlukan adalah menurunkan taraf

emisinya atau menaikan taraf penerimaannya (Bourdieu, 2010: 302). Pilihan yang

disebut terakhir merupakan opsi yang paling menyenangkan. Di satu sisi seniman

tidak perlu menyederhanakan karyanya, sementara di sisi lain pengamat meraih

kemampuan baru dalam upaya mengasah kompetensi diri. Opsi ini tentunya dapat

diraih, selain melalui capaian di lembaga/institusi pendidikan seni, lewat banyaknya

modal kultural yang dimiliki pengamat.

Modal kultural adalah suatu bentuk pengetahuan, suatu kode internal atau

suatu akuisisi kognitif yang melengkapi agen sosial dengan empati, atau apresiasi,

atau kompetensi terhadap pemilahan relasi-relasi dan artefak-artefak kultural.

(9)

kepentingan hanya bagi orang yang memiliki kompetensi kultural yakni kode, tempat

ke mana karya itu dikodekan.” Kepemilikan terhadap kode, atau modal kultural ini,

diakumulasikan melalui satu proses panjang akuisisi atau kalkulasi yang mencakup

tindakan pedagogis keluarga, formasi sosial dan lembaga-lembaga sosial (Bourdieu,

2010: xix-xx).

Keterkaitan antara modal kultural, karya seni, seniman, arena produksi dan

segala unsurnya, pada dasarnya memberi pandangan yang serupa tentang bagaimana

memahami relasi teks karya seni dengan konteks yang melingkarinya, bahkan mampu

memberi peluang memahami relasi antarteks. Bourdieu menyuguhkan cara berpikir

sosiologis, psikologis sekaligus antropologis (dalam konteks keterlibatan) untuk

memahami lebih dalam setiap karya-karya seni tanpa perlu kita terkecoh pengaruh

laten akademi, institusi, museum, atau pandangan la vie en rose maupun en noir, atau

apapun itu.

Dengan memahami apa yang dijabarkan di atas, mulai arena seni hingga

modal kultural, mengacu pada konsep yang ditawarkan Pierre Bourdieu, sudah

barang tentu akan mempermudah pemahaman terhadap teks dan konteks produksi

(maupun konsumi) seni. Oleh karenanya sebagai penutup, saya simpulkan dengan

mengutip Bourdieu, “setiap karya seni dibuat dua kali, pertama oleh penciptanya dan

(10)

Daftar Pustaka

Bourdieu, Pierre. 2010. Arena Produksi Kultural: Sebuah Kajian Sosiologi Budaya.

Referensi

Dokumen terkait

Untuk memberikan gambaran yang jelas terhadap permasalahan yang terjadi atas dikeluarkannya kebijakan pemerintah ini, maka penulis membatasi pembahasan hanya pada

Hal ini berarti ada perbedaan tingkat hasil belajar IPA yang signifikan dengan menggunakan model SAVI dibandingkan dengan model CTL pada siswa kelas V Gugus Ki Hajar

[r]

Dapat disimpulkan bahwa Program Dinas Pariwisata dalam hal meningkatkan kunjungan wisata ke kota Pariaman sudah dibuat dengan matang dengan memperhatikan berbagai

Berdasarkan tujuan yang telah dirumuskan, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kesadaran merek ( brand awareness ) dengan minat

pada tahun 2017 berarti peningkatan aktiva ini tidak diiringi dengan perputaran aktiva secara keseluruhan sehingga tidak memberikan perubahan terhadap peningkatan

Diharapkan melalui penelitian ini akan dihasilkan katalis abu yang memiliki kinerja yang cukup baik pada konversi minyak jelantah menjadi dengan melakukan

Adapun persoalan-persoalan dalam penelitian ini adalah melihat bagaimana keberadaan kegiatan industri batu bata (lokasi industri, proses pembuatan batu bata dan