• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan ilmu pendidikan NU K.H Hasy (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Perkembangan ilmu pendidikan NU K.H Hasy (1)"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

M A K A L A H

Sejarah Indonesia dan Dunia

Perkembangan Ilmu Pendidikan NU K.H Hasyim Asyari dan

Ahmad Dahlan

DOSEN

Dr. Muh. Idris Tunru, M.Ag

Penyusun

Yolpanda Potabuga

15.2.1.024

PRODI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN (FTIK)

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

K.H. Ahmad Dahlan dilahirkan di Yogyakarta pada tanggal 1 Agustus 1868. Beliau tumbuh besar di kota tersebut. Ayahnya bernama Kyai Haji Abu Bakar, seorang ulama besar dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kesultanan.

Muhammad Darwis atau sekarang yang lebih dikenal K.H. Ahmad Dahlan adalah anak ke empat dari tujuh bersaudara. Beliau dididik oleh ayahnya sendiri sebagai seorang putra kyai. Pendidikan dasarnya dimulai dari belajar membaca, belajar menulis, mengaji Al-Qur‟an dan kitab-kitab agama.

Menjelang dewasa Ia belajar kepada beberapa ulama besar pada waktu itu. Tak heran jika dalam usia relatif muda, ia telah menguasai berbagai disiplin ilmu keislaman. Setelah beberapa waktu belajar dengan beberapa gurunya, Ia berangkat ke Makkah pada tahun 1883 M, dalam usianya yang relatif mudah (15 tahun) untuk menunaikan ibadah haji dan menimba ilmu agama.

Karena merasa tidak puas dengan kunjungan pertama di Makkah, Ia berencana untuk menunaikan ibadah haji yang kedua dan menimba ilmu agama pada tahun 1902, dalam usia35 tahun. Pada saat itu pula, Dahlan mulai berkenalan dengan ide-ide pembaharuan yang dilakukan melalui penganalisaan kitab-kitab yang dikarang oleh reformer Islam, seperti Ibn Taimiyah, Ibn Qoyyim al-Jauziyah, Muhammad bin Abd al-Wahab, Jamal al Din al Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha dan lain sebagainya.

Muhammad Darwis merupakan pendiri organiasi Muhammadiyah. Muhammadiyah didirikan pada tahun 1912 M. Ahmad Dahlan ingin mengadakan suatu pembaruan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam

(3)

KH Hasyim Asy'ari merupakan pendiri Nahdlatul Ulama yaitu sebuah organisasi massa Islam Yang terbesarnya di Indonesia. KH Hasyim Asyari merupakan putra bangsa dari pasangan Kyai Asyari dan Halimah, Ayahnya Kyai Ashari merupakan seorang pemimpin Pesantren Keras Yang berada di sebelah Selatan Jombang.

Pada tahun 1926 Nahdlatul Ulama atau yang populer disebut NU pun berdiri atas inisiatif ulama-ulama pada waktu itu. Salah satu pendiri organisasi ini

adalah K.H Hasyim Asy‟ari. Organisasi ini berusaha mengembalikan dan

mengikuti salah satu madzhab yang telah ada (Maliki, Hanafi, Syafi‟i, dan Hambali). Asy‟ari mengemukakan dua tujuan diberikannya pendidikan islam bagi

manusia, yaitu :

1. Menjadi insan purna yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT 2. Menjadi insan purna yang bertujuan mendapatkan kebahagiaan dunia dan

akhirat.

K.H. Hasyim Asy‟ari adalah seorang ahli dalam bidang Hadits, terutama

Shahih Bukhori dan Shahih Muslim. Selain sebagai intelektual yang mempunyai spesialisasi, beliau adalah tokoh yang pertama kali menciptakan sistem pendidikan terutama di Pesantren dengan menggunakan metode kelas.

K.H. Hasyim Asy‟ari juga pernah menimba ilmu agama di kota Makkah.

Pada masa anak-anak bakat kepemimpinan dan kecerdasan sudah nampak pada dirinya. Ia pernah membantu ayahnya untuk mengajar beberapa santri-santri yang lebih besar darinya.

Dari kedua tokoh tersebut memberikan gambaran kepada kita, bahwa pendidikan adalah hal yang sangat penting dan merupakan suatu kebutuhan bagi manusia. Dengan pendidikan manusia akan mampu melihat sesuatu yang belum pernah mereka lihat, dan akan mampu membedakan hal-hal yang baik dan buruk.

(4)

keadaan yang lain, dari kita tidak mengetahui sesuatu menjadi kita mengetahui sesuatu.

Seperti halnya saat kita masih bayi, masih dalam dekapan seorang ibu kita tidak bisa melakukan apapun kecuali hanya bisa menangis, mengompol, dan lain-lain. Namun saat kita tumbuh dewasa dengan pendidikan dari orang tua kita, kita bisa belajar untuk menghargai sesuatu.

Pendidikan Islam saat ini belum mampu menanamkan nilai-nilai Islam dikalangana masyarakat. Sebagai contoh adalah pada zaman sekarang banyak para pelajar ataupun mahasiswa yang statusnya masih dididik, melakukan hal-hal yang melanggar dan merusak moral, misalnya maraknya narkoba, tawuran, perkelahian.

Hitam dan putihnya perjalanan hidup seseorang ditentukan dari salah satunya adalah faktor pendidikan. Dimana ketika manusia mengetahui tugas dankewajibannya melalui sarana pendidikan, maka dengan sendirinya dan sadar diri manusia akan menjalankan sesuatu yang diperintahkan dan menjahui sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT.

Kondisi pendidikan yang demikian, khususnya pendidikan islam, maka harus segera diatasi dengan cara menumbuhkembangkan pendidikan islam itu sendiri. Dalam mengatasi permasalahan itu tidak harus menemukan ide baru, akan tetapi bisa juga menghadirkan kembali tokoh-tokoh atau intelektual muslim yang bergelut dalam pendidikan islam dan memiliki kejayaan pada masa itu.

Dengan mempelajari atau mengetahui pemikiran kedua tokoh yang begitu cemerlang pada saat itu, kemungkinan besar akan memberikan dampak yang besar pula jika diterapkan pda zaman sekarang, tentu dengan adanya penyelarasan zaman.

Kedua tokoh inilah yang pada perkembangan selanjutnya mampu merekonstruksi konsep pendidikan islam yang disesuaikan dengan realitas dan kebutuhan zaman.

B. Rumusan Masalah

(5)

1. Bagaimana Biografi K.H Ahmad Dahlan dan K.H. Hasyim Asyari ?

2. Bagaimana Pemikiran K.H Ahmad Dahlan dan K.H Hasyim Asari tentang Pendidikan ?

3. Bagaimana Hubungan K.H Ahmad Dahlan dan K.H Hasyim Asari dengan NU?

4. Bagaiman Sejarah NU?

(6)

BAB II

PEMBAHASAN

A. Biografi KH. Ahmad Dahlan dan K.H Hasyim Asyari

1. Biografi K.H Ahmad Dahlan

Seperti yang kita ketahui bahwa penulisan riwayat hidup K.H. Ahmad Dahlan telah banyak dilakukan oleh para sarjana. K.H. Ahmad Dahlan lahir di Kauman Yogyakarta, 8 julhijah 1330. Nama kecilnya adalah Muhammad Darwisy dan merupakan anak keempat dari K.H. Abu Bakar (seorang ulama dan khatib terkemuka di Mesjid Besar Kesultanan Yogyakarta) dan ibunya merupakan putrid dari H. Ibrahim yang menjabat sebagai penghlu kesultanan juga.Ia merupakan anak keempat dari tujuh ornag bersudara yang keseluruhan saudaranya perempuan kecuali adik bungsunya. 1

Dalam silsilah ia termasuk keturunan yang keduabelas dari maulana malik Ibrahim, seorang wali besar dan seorang yang terkemuka diantara Wali Songo, yang merupakan pelopor pertama dari penyebaran dan pengembangan Islam di tanah Jawa. Ia dikenal jujur dan sederhana dan inilah yang membuatnya disukai orang. Untuk mempelajari ilmu-ilmu agama ia berpindah dari satu sekolah ke sekolah lainnya. Ia mempunya sikap kritis terhadap pola pendidikan tradisional, tetapi tidak punya kekuatan untuk mengubahnya. Dalam keadaan seperti ini Ia beruntung memproleh kesempatan melanjutkan pendidikannya ke Mekah pada tahun 1890.2

Di sinilah Ia berinteraksi dengan pemikir-pemikir pembaharu dalam dunia Islam, seperti Muhammad Abduh, al-Afgani, Rasyid RIdha, dan Ibnu Taimiyah. Pemikiran tokoh-tokoh Islam ini mempunyai pengaruh yang besar padanya. Jiwa dan pemikirannya penuh disemangati oleh aliran pembaharuan ini sehingga kelak

1 Imron Arifin, Kepemimpinan Kyai: Kasus Pondok Pesantren Tebu Ireng (Malang:

Kalimasada Press, 1983), h. 71.

2 Imron Arifin, Kepemimpinan Kyai: Kasus Pondok Pesantren Tebu Ireng (Malang:

(7)

kemudian hari menampilkan corak keagamaan yang sama, yaitu melalui Muhammadiyah, yang bertujuan untuk memperbaharui pemahaman keagamaan (ke-Islaman) di sebagian dunia Islma saat itu yang masih bersifat ortodoks. Melalui kitab-kitab yang dikarang oleh reformer Islam, telah membuka wawasan beliau tentang universalitas Islam.Ide-ide tentang reenterpretasi Islam dengan gagasan kembali kepada al-Qur‟an dan Sunnah mendapat perhatian khususnya saat itu.Ia juga merupakan murid Syaikh Ahmad Khatib (1899-1916), tokoh kelahiran Indonsea yang saat itu menempati posisi yang unggul dalam penguasaannya atas ilmu-ilmu agama di Mekkah.

Keteguhan hatinya untuk melanjutkan cita-cita dan perjuangan pembaharuan Islam di tanah air bisa mengatasi semua rintangan tersebut. Namun, pada saat Muhammadiyah teratur dan kuat, K.H. Ahmad Dahlan berpulang ke rahmatullah pada tanggal 23 Februari 1923 dalam usia 55 tahun. Dan sekarang kita dapat menyaksikan Muhammadiyah menjadi semakin maju dan berkembang di seluruh nusantara dengan berbagai amal usahanya tidak terlepas dari usaha beliau yang sangat luar biasa.

2. Biografi K.H Hasyim Asyari

Nama lengkap K. H. Hasyim Asy‟ari adalah Muhammad Hasyim Asy‟ari ibn „Abd Al-Wahid. Ia lahir di Gedang, sebuah desa di daerah Jombang, Jawa Timur, pada hari selasa kliwon 24 Dzu Al-Qa‟idah 1287 H. bertepatan dengan tanggal 14 Februari 1871.3

Asal-usul dan keturunan K.H M.Hasyim Asy‟ari tidak dapat dipisahkan dari riwayat kerajaan Majapahit dan kerajaan Islam Demak. Silsilah keturunannya, sebagaimana diterangkan oleh K.H. A.Wahab Hasbullah menunjukkan bahawa leluhurnya yang tertinggi ialah neneknya yang kedua yiaitu Brawijaya VI. Ada yang mengatakan bahawa Brawijaya VI adalah Kartawijaya

(8)

atau Damarwulan dari perkahwinannya dengan Puteri Champa lahirlah Lembu Peteng (Brawijaya VII).

Semasa hidupnya, ia mendapatkan pendidikan dari ayahnya sendiri, terutama pendidikan di bidang ilmu-ilmu Al-Qur‟an dan literatur agama lainnya. Setelah itu, ia menjelajah menuntut ilmu ke berbagai pondok pesantren, terutama di Jawa, yang meliputi Shone, Siwilan Buduran, Langitan Tuban, Demangan

Bangkalan, dan Sidoarjo, ternyata K. H. Hasyim Asy‟ari merasa terkesan untuk terus melanjutkan studinya. Ia berguru kepada K. H. Ya‟kub yang merupaka kiai

di pesantren tersebut.

Kiai Ya‟kub lambat laun merasakan kebaikan dan ketulusan Hasyim

Asy‟ari dalam perilaku kesehariannya, sehingga kemudian ia menjodohkannya dengan putrinya, Khadijah. Tepat pada usia 21 tahun, tahun 1892, Hasyim Asy‟ari melangsungkan pernikahan dengan putri K. H. Ya‟kub tersebut.

Setelah nikah, K. H. Hasyim Asy‟ari bersama istrinya segera melakukan

ibadah haji. Sekembalinya dari tanah suci, mertua K. H. Hasyim Asy‟ari

menganjurkannya menuntut ilmu di Mekkah. Dimungkinkan, hal ini didorong oleh tradisi pada saat itu bahwa seorang ulama belumlah dikatakan cukup ilmunya jika belum mengaji di Mekkah selama bertahun-tahun. Di tempat itu, K. H.

Hasyim Asy‟ari mempelajari berbagai macam disiplin ilmu, diantaranya adalah ilmu fiqh Syafi‟iyah dan ilmu Hadits, terutama literatur Shahih Bukhari dan

Muslim.

Disaat K. H. Hasyim Asy‟ari bersemangat belajar, tepatnya ketika telah menetap 7 bulan di Mekkah, istrinya meninggal dunia pada waktu melahirkan anaknya yang pertama sehingga bayinya pun tidak terselamatkan. Walaupun demikian, hal ini tidak mematahkan semangat belajarnya untuk menuntut ilmu.4

K. H. Hasyim Asy‟ari semasa tinggal di Mekkah berguru kepada Syekh

Ahmad Amin Athar, Sayyid Sultan ibn Hasyim, Sayyid Ahmad ibn Hasan Al-Athar, Syekh Sayyid Yamani, Sayyid Alawi ibn Ahmad As-Saqqaf, Sayyid Abbas

(9)

Maliki, Sayid „Abd Allah Al-Zawawi. Syekh Shaleh Bafadhal, dan Syekh Sultan Hasyim Dagastani.

Ia tinggal di Mekkah selama 7 tahun. Dan pada tahun 1900 M. atau 1314

H. K. H. Hasyim Asy‟ari pulang ke kampung halamannya. Di tempat itu ia

membuka pengajian keagamaan yang dalam waktu yang relatif singkat menjadi terkenal di wilayah Jawa.

B. Pemikiran Pendidikan KH. Ahmad Dahlan dan K.H Hasyim Asyari

1. Pemikiran Pendidikan K.H Ahmad Dahlan

Buya merasa tidak puas dengan system dan praktik pendidikan saat itu, dibuktikan dengan pandangannya mengenai tujuan pendidikan adalah untuk menciptakan manusia yang baik budi, luas pandangan, dan bersedia berjuang untuk kemajuan masyarakat. Karena itu buya merentaskan beberapa pandangannya mengenai pendidikan dalam bentuk pendidikan model Muhammadiyah khususnya, antara lain:5

a. Pendidikan Integralistik

K.H Ahmad Dahlan (1868-1923) adalah tipe man of action sehingga sudah pada tempatnya apabila mewariskan cukup banyak amal usaha bukan tulisan. Oleh sebab itu untuk menelusuri bagaimana orientasi filosofis pendidikan Beliau musti lebih banyak merujuk pada bagaimana beliau membangun sistem pendidikan.Namun naskah pidato terakhir beliau yang berjudul Tali Pengikat Hidup menarik untuk dicermati karena menunjukkan secara eksplisit konsen Beliau terhadap pencerahan akal suci melalui filsafat dan logika.Sedikitnya ada tiga kalimat kunci yang menggambarkan tingginya minat Beliau dalam pencerahan akal, yaitu: (1) pengetahuan tertinggi adalah pengetahuan tentang kesatuan hidup yang dapat dicapai dengan sikap kritis dan terbuka dengan mempergunakan akal sehat dan istiqomah terhadap kebenaran akali dengan di dasari hati yang suci; (2) akal adalah kebutuhan dasar hidup manusia; (3) ilmu

5 Choirul Anam, Pertumbuhan dan perkembangan Nahdlatul Ulama,Solo: Jatayu,

(10)

mantiq atau logika adalah pendidikan tertinggi bagi akal manusia yang hanya akan dicapai hanya jika manusia menyerah kepada petunjuk Allah swt.

Pribadi K.H. Ahmad Dahlan adalah pencari kebenaran hakiki yang menangkap apa yang tersirat dalam tafsir Al-Manaar sehingga meskipun tidak punya latar belakang pendidikan Barat tapi ia membuka lebar-lebar gerbang rasionalitas melalui ajaran Islam sendiri, menyerukan ijtihad dan menolak taqlid.Dia dapat dikatakan sebagai suatu model dari bangkitnya sebuah generasi yang merupakan titik pusat dari suatu pergerakan yang bangkit untuk menjawab tantangan-tantangan yang dihadapi golongan Islam yang berupa ketertinggalan dalam sistem pendidikan dan kejumudan paham agama Islam.

Cita-cita pendidikan yang digagas Beliau adalah lahirnya manusia-manusia baru yang mampu tampil sebagai ulama-intelek• atau intelek-ulama, yaitu seorang muslim yang memiliki keteguhan iman dan ilmu yang luas, kuat jasmani dan rohani. Dalam rangka mengintegrasikan kedua sistem pendidikan tersebut, K.H. Ahmad Dahlan melakukan dua tindakan sekaligus; memberi pelajaran agama di sekolah-sekolah Belanda yang sekuler, dan mendirikan sekolah-sekolah sendiri di mana agama dan pengetahuan umum bersama-sama diajarkan. Dalam rangka menjamin kelangsungan sekolahan yang ia dirikan maka atas saran murid-muridnya Beliau akhirnya mendirikan persyarikatan Muhammadiyah tahun 1912. Metode pembelajaran yang dikembangkan K.H. Ahmad Dahlan bercorak kontekstual melalui proses penyadaran.6

Mengadopsi Substansi dan Metodologi Pendidikan Modern Belanda dalam Madrasah-madrasah Pendidikan Agama yaitu mengambil beberapa komponen pendidikan yang dipakai oleh lembaga pendidikan Belanda.Dari ide ini, K.H. Ahmad Dahlan dapat menyerap dan kemudian dengan gagasan dan prektek pendidikannya dapat menerapkan metode pendidikan yang dianggap baru saat itu ke dalam sekolah yang didirikannya dan madrasah-madrasah tradisional.Metode yang ditawarkan adalah sintesis antara metode pendidikan modern Barat dengan

6 Choirul Anam, Pertumbuhan dan perkembangan Nahdlatul Ulama,Solo: Jatayu,

(11)

tradisional. Dari sini tampak bahwa lembaga pendidikan yang didirikan K.H. Ahmad Dahlan berbeda dengan lembaga pendidikan yang dikelola oleh masyarakat pribumi saat ini.

Sebagai contoh, K.H. Ahmad Dahlan mula-mula mendirikan SR di Kauman dan daerah lainnya di sekitar Yogyakarta, lalu sekolah menengah yang diberi nama al-Qism al-Arqa yang kelak menjadi bibit madrasah Mu‟allimin dan

Mu‟allimat Muhammadiyah Yogyakarta. Sebagai catatan, tujuan umum lembaga

pendidikan di atas baru disadari sesudah 24 tahun Muhammadiyah berdiri, tapi Amir Hamzah menyimpulkan bahwa tujuan umum pendidikan Muhammadiyah menurut K.H. Ahmad Dahlan adalah:

1. Baik budi, alim dalam agama

2. Luas pandangan, alim dalam ilmu-ilmu dunia (umum) 3. Bersedia berjuang untuk kemajuan masyarakatnya

Mungkin ada benarnya jika dikaitkan dengan latar belakang timbulnya pemikiran pendidikan Islam K.H. Ahmad Dahlan yang antara lain disebabkan oleh rasa tidak puas terhadap system pendidikan yang ada dan hanya mengembangkan salah satu bidang pengetahuan dari kedua pengetahuan yang ingin dirangkul oleh K.H. Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyahnya. Ijtihad pemikiran pendidikan yang dicetuskan K.H. Ahmad Dahlan melalui gagasan dan praktek pendidikan Islamnya merupakan cikal bakal dan dijadkan estafet dalam pembaharuan system pendidikan Muhammadiyah, sebagai contoh pondok Muhammadiyah7.

2. Pemikiran Pendidikan K.H Hasyim Asyari

Karya-karya Kiai Hasyim banyak yang merupakan jawaban atas berbagai problematika masyarakat. Misalnya, ketika umat Islam banyak yang belum faham persoalan tauhid atau aqidah, Kiai Hasyim lalu menyusun kitab tentang aqidah, diantaranya Al-Qalaid fi Bayani ma Yajib min Aqaid, Ar-Risalah

7 Choirul Anam, Pertumbuhan dan perkembangan Nahdlatul Ulama,Solo: Jatayu,

(12)

Tauhidiyah, Risalah Ahli Sunnah Wa al-Jama‟ah, Al-Risalah fi al-Tasawwuf, dan lain sebagainya.

Kiai Hasyim juga sering menjadi kolumnis di majalah-majalah, seperti

Majalah Nahdhatul Ulama‟, Panji Masyarakat, dan Swara Nahdhotoel Oelama‟.

Biasanya tulisan Kiai Hasyim berisi jawaban-jawaban atas masalah-masalah fiqhiyyah yang ditanyakan banyak orang, seperti hukum memakai dasi, hukum mengajari tulisan kepada kaum wanita, hukum rokok, dll. Selain membahas tentang masail fiqhiyah, Kiai Hasyim juga mengeluarkan fatwa dan nasehat kepada kaum muslimin, seperti al-Mawaidz, doa-doa untuk kalangan Nahdhiyyin, keutamaan bercocok tanam, anjuran menegakkan keadilan, dan lain-lain.

Sebagai seorang intelektual, K. H. Hasyim Asy‟ari telah menyumbangkan banyak hal yang berharga bagi pengembangan peradaban, diantaranya adalah sejumlah literatur yang berhasil ditulisnya. Karya-karya tulis K. H. Hasyim

Asy‟ari yang terkenal adalah sebagai berikut: (1)Adab Al-‘Alim wa Al

-Muta’allimin, (2) Ziyadat Ta’liqat, (3) Al-Tanbihat Al-Wajibat Liman, (4)

Al-Risalat Al-Jami’at, (5) An-Nur Al-Mubin fi Mahabbah Sayyid Al-Mursalin,

(6) Hasyiyah ‘Ala Fath Al-Rahman bi Syarh Risalat Wali Ruslan li Syekh

Al-Isam Zakariya Al-Anshari, (7) Al-Durr Al-Muntatsirah fi Al-Masail Al-Tis’i Asyrat, (8) Al-Tibyan Al-Nahy’an Muqathi’ah Al-Ikhwan, (9) Risalat Al-Tauhidiyah, (10) Al-QalaidfiBayan ma Yajib min Al-‘Aqaid.8

Kitab ada Al-‘Alim wa Al-Muta’allimin merupakan kitab yang berisi tentang konsep pendidikan. Kitab ini selesai disusun hari Ahad pada tanggal 22 Jumadi Al-Tsani tahun 1343. K. H. Hasyim Asy‟ari menulis kitab ini didasari oleh kesadaran akan perlunya literatur yang membahas tentang etika (adab) dalam mencari ilmu pengetahuan. Menuntut ilmu merupakan pekerjaan agama yang sangat luhur sehingga orang yang mencarinya harus memperlihatkan etika-etika yang luhur pula

KH Hasyim Asy‟ari menganjurkan kepada para kiai dan guru-guru agama agar memiliki perhatian serius kepada masalah ekonomi untuk kemaslahatan;

(13)

“kenapa tidak kalian dirikan saja satu badan usaha, yang setiap wilayah ada satu badan usaha yang mandiri.” Demikian pernyataan KH Hasyim Asy‟ari ketika

mendeklarasikan berdirinya Nahdlah at-Tujjar.

Berangkat dari kesadaran itulah Nahdlah at-Tujjar didirikan, dengan satu badan usaha yang ketika itu disebut Syirkah al-Inan, yang kemudian hari ketika NU berdiri wadah ekonomi tersebut berganti nama dengan Syirkah

al-Mu‟awanah.

Ketika organisasi sosial keagamaan masyumi dijadikan partai politik pada 1945, Kiai Hasyim terpilih sebagai ketua umum. Setahun kemudian, 7 September

1947 (1367 H), K. H. Muhammad Hasyim Asy‟ari, yang bergelarHadrat Asy-Syaikh wafat. Berdasarkan keputusan Presiden No. 29/1964, ia diakui sebagai seorang pahlawan kemerdekaan nasional, suatu bukti bahwa ia bukan saja tokoh utama agama, tetapi juga sebagai tokoh nasional.9

Pada tahun 1930 dalam muktamar NU ke-3 kiai Hasyim selaku Rais Akbar menyampaikan pokok-pokok pikiran mengenai organisasi NU. Pokok-pokok pikiran inilah yang kemudian dikenal sebagai Qanun Asasi Jamiah NU (undang-undang dasar jamiah NU).

Tepat pada tanggal 26 Rabi‟ Al-Awwal 120 H. bertepatan 6 Februari 1906

M., Hasyim Asy‟ari mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng. Oleh karena kegigihannya dan keikhlasannya dalam menyosialisakan ilmu pengetahuan, dalam beberapa tahun kemudian pesantren relatif ramai dan terkenal

C. K.H Hasyim Asyari Dengan Nahdratu Ulama

Tanggal 31 Januari 1926, bersama dengan tokoh-tokoh Islam tradisional,

Kiai Hasyim Asy‟ari mendirikan Nahdlatul Ulama, yang berarti kebangkitan

ulama. Organisasi ini pun berkembang dan banyak anggotanya. Pengaruh Kiai

Hasyim Asy‟ari pun semakin besar dengan mendirikan organisasi NU, bersama

teman-temannya. Itu dibuktikan dengan dukungan dari ulama di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

(14)

K. H. Hasyim Asy‟ari dikenal sebagai salah seorang pendiri NU (Nahdatul Ulama). Pada masa pendudukan Jepang, Hasyim Asy‟ari pernah ditahan selama 6

bulan, karena dianggap menentang penjajahan Jepang di Indonesia. Karena tuduhan itu tidak terbukti, ia dibebaskan dari tahanan, atas jasa-jasanya dalam

perjuangan melawan penjajah Belanda dan Jepang, Hasyim Asy‟ari dianugerahi

gelar pahlawan kemerdekaan nasional oleh Presiden RI. 10

Selain itu terdapat juga tentang bagaiman analisis terhadap perbedaan dan persamaan K.H. Ahmad Dahlan dengan K.H. Hasyim Asy‟ari tentang Pendidikan.

NO

(15)
(16)

untuk menumbuhkan

Kalangan pesantren gigih melawan kolonialisme dengan membentuk organisasi pergerakan, seperti Nahdlatut Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada tahun 1916. Kemudian tahun 1918 didirikan Taswirul Afkar atau dikenal juga dengan Nahdlatul Fikri (Kebangkitan Pemikiran), sebagai wahana pendidikan sosial politik kaum dan keagamaan kaum santri.11

Selanjutnya didirikanlah Nahdlatut Tujjar, (Pergerakan Kaum Sudagar) yang dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat. Dengan adanya Nahdlatul Tujjar itu, maka Taswirul Afkar, selain tampil sebagi kelompok studi juga menjadi lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota.

11 Alfan Alfian, “Memahami Polarisasi Politik Ulama”, Kompas, 25

(17)

Sementara itu, keterbelakangan, baik secara mental, maupun ekonomi yang dialami bangsa Indonesia, akibat penjajahan maupun akibat kungkungan tradisi, menggugah kesadaran kaum terpelajar untuk memperjuangkan martabat bangsa ini, melalui jalan pendidikan dan organisasi. Gerakan yang muncul 1908 tersebut dikenal dengan Kebangkitan Nasional. Semangat kebangkitan memang terus menyebar ke mana-mana–setelah rakyat pribumi sadar terhadap penderitaan dan ketertinggalannya dengan bangsa lain, sebagai jawabannya, muncullah berbagai organisai pendidikan dan pembebasan.12

Ketika Raja Ibnu Saud hendak menerapkan asas tunggal yakni mazhab wahabi di Mekah, serta hendak menghancurkan semua peninggalan sejarah Islam maupun pra-Islam, yang selama ini banyak diziarahi karena dianggap bi‟dah. Gagasan kaum wahabi tersebut mendapat sambutan hangat dari kaum modernis di Indonesia, baik kalangan Muhammadiyah di bawah pimpinan Ahmad Dahlan, maupun PSII di bahwah pimpinan H.O.S. Tjokroaminoto. Sebaliknya, kalangan pesantren yang selama ini membela keberagaman, menolak pembatasan bermadzhab dan penghancuran warisan peradaban tersebut.

Sikapnya yang berbeda, kalangan pesantren dikeluarkan dari anggota Kongres Al Islam di Yogyakarta 1925, akibatnya kalangan pesantren juga tidak

dilibatkan sebagai delegasi dalam Mu‟tamar „Alam Islami (Kongres Islam

Internasional) di Mekah yang akan mengesahkan keputusan tersebut.

Didorong oleh minatnya yang gigih untuk menciptakan kebebsan bermadzhab serta peduli terhadap pelestarian warisan peradaban, maka kalangan pesantren terpaksa membuat delegasi sendiri yang dinamai dengan Komite Hejaz, yang diketuai oleh KH. Wahab Hasbullah.

Atas desakan kalangan pesantren yang terhimpun dalam Komite Hejaz, dan tantangan dari segala penjuru umat Islam di dunia, Raja Ibnu Saud mengurungkan niatnya. Hasilnya hingga saat ini di Mekah bebas dilaksanakan ibadah sesuai dengan madzhab mereka masing-masing. Itulah peran internasional kalangan pesantren pertama, yang berhasil memperjuangkan kebebasan

(18)

bermadzhab dan berhasil menyelamatkan peninggalan sejarah serta peradaban yang sangat berharga.

Berangkat dari komite dan berbagai organisasi yang bersifat embrional dan ad hoc, maka setelah itu dirasa perlu untuk membentuk organisasi yang lebih mencakup dan lebih sistematis, untuk mengantisipasi perkembangan zaman. Maka setelah berkordinasi dengan berbagai kiai, akhirnya muncul kesepakatan untuk membentuk organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926). Organisasi ini dipimpin oleh KH.

Hasyim Asy‟ari sebagi Rais Akbar.

Untuk menegaskan prisip dasar orgasnisai ini, maka KH. Hasyim Asy‟ari merumuskan Kitab Qanun Asasi (prinsip dasar), kemudian juga merumuskan

kitab I‟tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah. Kedua kitab tersebut kemudian

diejawantahkan dalam Khittah NU , yang dijadikan dasar dan rujukan warga NU dalam berpikir dan bertindak dalam bidang sosial, keagamaan dan politik.

E. Paham Keagamaan Nahdratul Ulama

Nahdlatul Ulama (NU) menganut paham Ahlussunah Wal Jama‟ah,

sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrim aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrim naqli (skripturalis). Karena itu sumber pemikiran bagi NU tidak hanya Al-Qur‟an, Sunnah, tetapi juga menggunakan kemampuan akal ditambah dengan realitas empirik.13 Cara berpikir semacam itu dirujuk dari pemikir terdahulu, seperti Abu Hasan Al-Asy‟ari dan Abu Mansur Al-Maturidi dalam bidang teologi. Kemudian dalam bidang fikih mengikuti empat madzhab;

Hanafi, Maliki, Syafi‟i, dan Hanbali. Sementara dalam bidang tasawuf,

mengembangkan metode Al-Ghazali dan Junaid Al-Baghdadi, yang mengintegrasikan antara tasawuf dengan syariat.

Gagasan kembali ke khittah pada tahun 1984, merupakan momentum penting untuk menafsirkan kembali ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah, serta merumuskan kembali metode berpikir, baik dalam bidang fikih maupun sosial.

13 Faisal Ismail, Pijar-pijar Islam: Pergumulan Kultur dan Struktur, (Jakarta:

(19)

Serta merumuskan kembali hubungan NU dengan negara. Gerakan tersebut berhasil membangkitkan kembali gairah pemikiran dan dinamika sosial dalam NU.

Jumlah warga Nahdlatul Ulama (NU) atau basis pendukungnya diperkirakan mencapai lebih dari 40 juta orang, dari beragam profesi. Sebagian besar dari mereka adalah rakyat jelata, baik di kota maupun di desa. Mereka memiliki kohesifitas yang tinggi karena secara sosial-ekonomi memiliki masalah yang sama, selain itu mereka juga sangat menjiwai ajaran Ahlusunnah Wal Jamaah. Pada umumnya mereka memiliki ikatan cukup kuat dengan dunia pesantren yang merupakan pusat pendidikan rakyat dan cagar budaya NU.

Basis pendukung NU ini mengalami pergeseran, sejalan dengan pembangunan dan perkembangan industrialisasi. Warga NU di desa banyak yang bermigrasi ke kota memasuki sektor industri. Jika selama ini basis NU lebih kuat di sektor pertanian di pedesaan, maka saat ini, pada sektor perburuhan di perkotaan, juga cukup dominan. Demikian juga dengan terbukanya sistem pendidikan, basis intelektual dalam NU juga semakin meluas, sejalan dengan cepatnya mobilitas sosial yang terjadi selama ini.

Prinsip-prinsip dasar yang dicanangkan Nahdlatul Ulama (NU) telah diterjemahkan dalam perilaku kongkrit. NU banyak mengambil kepeloporan dalam sejarah bangsa Indonesia. Hal itu menunjukkan bahwa organisasi ini hidup secara dinamis dan responsif terhadap perkembangan zaman. Prestasi NU antara lain:14

1. Menghidupkan kembali gerakan pribumisasi Islam, sebagaimana diwariskan oleh para walisongo dan pendahulunya.

2. Mempelopori perjuangan kebebasan bermadzhab di Mekah, sehingga umat Islam sedunia bisa menjalankan ibadah sesuai dengan madzhab masing-masing.

3. Mempelopori berdirinya Majlis Islami A‟la Indonesia (MIAI) tahun 1937, yang kemudian ikut memperjuangkan tuntutan Indonesia berparlemen.

(20)

4. Memobilisasi perlawanan fisik terhadap kekuatan imperialis melalui Resolusi Jihad yang dikeluarkan pada tanggal 22 Oktober 1945.

5. Berubah menjadi partai politik, yang pada Pemilu 1955 berhasil menempati urutan ketiga dalam peroleh suara secara nasional.15

6. Memprakarsai penyelenggaraan Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA) 1965 yang diikuti oleh perwakilan dari 37 negara.

7. Memperlopori gerakan Islam kultural dan penguatan civil society di Indonesia sepanjang dekade 90-an.

Menegakkan ajaran Islam menurut paham Ahlussunnah Wal Jama‟ah di tengah-tengah kehidupan masyarakat, di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)16

1. Di bidang agama, melaksanakan dakwah Islamiyah dan meningkatkan rasa persaudaraan yang berpijak pada semangat persatuan dalam perbedaan. 2. Di bidang pendidikan, menyelenggarakan pendidikan yang sesuai dengan

nilai-nilai Islam, untuk membentuk muslim yang bertakwa, berbudi luhur, berpengetahuan luas.

3. Di bidang sosial-budaya, mengusahakan kesejahteraan rakyat serta kebudayaan yang sesuai dengan nilai ke-Islaman dan kemanusiaan.

4. Di bidang ekonomi, mengusahakan pemerataan kesempatan untuk menikmati hasil pembangunan, dengan mengutamakan berkembangnya ekonomi rakyat.

5. Mengembangkan usaha lain yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

15 Fuad Fahrudin, Agama dan Pendidikan Demokrasi Pengalaman Muhammadiyah dan

Nahdlatul Ulama, Pustaka Alvabet Jakarta. 2009, h. 4.

16 Al Barry, Dahlan, Kamus Ilmiah Populer, Arkola. Surabaya, 1994Sutarmo, Gerakan

(21)

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari pemaparan di atas, dapatlah diketahui bahwa ketokohan kiai Hasyim

Asy‟ari dikalangan masyarakat dan organisasi Islam tradisional bukan saja sangat

sentral tetapi juga menjadi tipe utama seorang pemimpin, sebagaimana diketahui dalam sejarah pendidikan tradisional, khususnya di Jawa. Peranan kiai Hasyim

Asy‟ari yang kemudian dikenal dengan sebutanHadrat Asy-Syaikh (guru besar di lingkungan pesantren).

Peranan kiai Hasyim Asy‟ari sangat besar dalam pembentukan kader -kader ulama pemimpin pesantren, terutama yang berkembang di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Dalam bidang organisasi keagamaan, ia pun aktif mengoganisir perjuangan politik melawan kolonial untuk menggerakkan masa, dalam upaya menentang dominasi politik Belanda.

Dan pada tanggal 7 September 1947 (1367 H), K. H. Hasyim Asy‟ari,

yang bergelar Hadrat Asy-Syaikh wafat. Berdasarkan keputusan Presiden No. 29/1964, ia diakui sebagai seorang pahlawan kemerdekaan nasional, suatu bukti bahwa ia bukan saja tokoh utama agama, tetapi juga sebagai tokoh nasional.

Gerakan Muhammadiyah dikenal luas sebagai gerakan yang sangat dipengaruhi oleh gagasan modern dan reformis pembaru Mesir Muhammad Aabduh (1849-1905), yaitu dimaksudkan untuk memurnikan Islam di Indonesia dari praktik-praktik khurafat tradisional yang tidak Islami. Dalam rangka memajukan program pembaruannya, Muhammadiyah menyerukan agar kaum Muslim kembali kepada Islam yang murni dan menafsirkan untur-unsur kebudayaan Barat dalam kerangka ajaran Islam.

(22)

sekarang sudah menjadi fenomena umum; yang pertama sudah diakomodir negara dan yang kedua sudah banyak dilakukan oleh yayasan pendidikan Islam lain. Namun, ide Beliau tentang model pendidikan integralistik yang mampu melahirkan muslim ulama-intelek masih terus dalam proses pencarian. Sistem pendidikan integralistik inilah sebenarnya warisan yang musti kita eksplorasi terus sesuai dengan konteks ruang dan waktu, masalah teknik pendidikan bisa berubah sesau dengan perkembangan ilmu pendidikan atau psikologi perkembangan.

Setelah melihat sepak terjang K.H. Ahmad Dahlan dalam gagasan dan praktek pendidikan Islam melalui Muhammadiyahnya, kita tahu besar sekali jasa beliau dalam meletakkan pelajaran agama sebagai mata pelajaran di sekolah-sekolah pemerintah sampai saat ini dari pendidikan kanak-kanak sampai perguruan tinggi.

Gagasan K.H. Ahmad Dahlan selanjutnya dijadikan inspirasi bagi penetapan bidang studi umum dan agama Islam yang wajib diberikan di sekolah dasar dan diikuti oleh murid-murid yang beragama Islam.

Pemikiran K.H. Ahmad Dahlan dalam bidang pendidikan berangkat dari keinginan untuk mewujudkan manusia yang mewakili kepribadian yang integral dan pengetahuan yang seimbang.Sehingga dipandang pentingnya memberikan pengetahuan agama bagi mereka yang berada di sekolha-sekolah umum dan pengetahuan umum bagi mereka yang selama ini belum pernah mendapatkannya.

Tampak jelas dalam kurikulumnya bahwa kurikululum yang ditetapkan DikNas, pendidikan Muhammadiyah juga mengkompromikan pengetahuan agama dan pengetahuan umum. Pada sekolah negeri pelajaran agama merupakan satu bidang studi. Sedang di pendidikan Muhammadiyah dibagi menjadi empat, yaitu akidah, al-Qur’an, tarikh dan akhlaq

(23)

Lembaga-lembaga pendidikan inilah yang kemudian menjadi sarana pelestarian hasil-hasil keputusan tarjih.

B. Saran

(24)

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Taufik, Agama dan Perubahan Sosial, (Jakarta: Rajawali Press, 1983).

Al Barry, Dahlan, Kamus Ilmiah Populer, Arkola. Surabaya, 1994Sutarmo, Gerakan Sosial Keagamaan Modernis, Suaka Alva. Jogyakarta. 2005

Arifin, Imron, Kepemimpinan Kyai: Kasus Pondok Pesantren Tebu Ireng, (Malang: Kalimasada Press, 1983).

Alfian, Alfan, “Memahami Polarisasi Politik Ulama”, Kompas, 25 Agustus 1999.

Anam, Choirul, Pertumbuhan dan perkembangan Nahdlatul Ulama, (Solo: Jatayu, 1985).

Anggaran Dasar NU, (tanpa kota dan penerbit).

Barton, Greg, Biografi Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid, (Yogyakarta: LKIS, 2002).

Ecip, Sinansari, (ed.), NU, Khittah dan Godaan Politik, (Bandung: Mizan, 1994).

Fahrudin, Fuad, Agama dan Pendidikan Demokrasi Pengalaman Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, Pustaka Alvabet Jakarta. 2009

Feillard, Andree, NU Vis a Vis Negara, (Yogyakarta: LkiS, 1999).

Ismail, Faisal, Pijar-pijar Islam: Pergumulan Kultur dan Struktur, (Jakarta: Departemen Agama Proyek Peningkatan Kerukunan Hidup Umat Beragama, 1992).

Khuluq, Latiful, Hasyim Asy‟ari: Religious Thought and Polirical

(25)

Ma‟sum, Saifullah, Kehidupan Ringkas 26 Tokoh NU, (Bandung:

Mizan, 1998).

Referensi

Dokumen terkait

RIKA MELIANSYAH. Peranan Gulma sebagai Inang Alternatif Geminivirus di Pertanaman Cabai di Jawa. Dibimbing oleh SRI HENDRASTUTI HIDAYAT dan KIKIN HAMZAH MUTAQIN. Geminivirus

Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas enam sekolah dasar di Kota Denpasar, Bali yang berjumlah 12.268 siswa (DepDikNas Propinsi Bali, 2012). Denpasar dipilih

Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mendetksi dan memprediksi potensi kejadian hujan es berdasrkan hasil pengamatan radar cuaca dan radiosonde adalah SHI

INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Analisis Variasi Diameter Tandon Tungku dan Biopelet terhadap Efisiensi Energi

Menimbang, bahwa permohonan banding a quo diajukan dalam tenggang waktu masa banding dan sesuai dengan tata-cara yang ditentukan oleh peraturan

Perlakuan akuntansi untuk penjualan produk utama dan produk sampingan pada Pabrik Tahu dan Tempe Padang Tarok dapat dilakukan dalam 4 metode yaitu; penjualan produk

Perusahaan logistik yang memakai jalur laut akan membutuhkan pelabuhan dalam pengoperasiannya sehari - hari karena pelabuhan adalah tempat untuk transisi antara jalur