• Tidak ada hasil yang ditemukan

Al quran dan Hadits tentang Konsep Diri

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Al quran dan Hadits tentang Konsep Diri"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

LANDASAN QURAN DAN HADIST

TENTANG PENGENALAN DIRI

Oleh :

Pritandra Chusnuludin Shofani

PS-3A/16

PROGRAM SARJANA TERAPAN (S. Tr)

PRODI PERBANKAN SYARIAH JURUSAN AKUNTANSI

POLITEKNIK NEGERI SEMARANG

(2)

BAB 3

3.1 LANDASAN QURAN DAN HADIST TENTANG

PENGENALAN DIRI

Pengenalan diri pertama kali adalah dari mengenal siapa yang menciptakan kita dan untuk apa kita diciptakan. Lalu bagaimana kita dapat mengenal pencipta manusia? Pencipta manusia adalah Allah, seperti di jelaskan dalam QS. al-Hassyr: 22-24 yang berbunyi :

“Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (22)

“Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, raja, yang Maha suci, yang Maha Sejahtera, yang Mengaruniakan Keamanan, yang Maha Memelihara, yang Maha Perkasa, yang Maha Kuasa, yang memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (23)

“Dialah Allah yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang membentuk Rupa, yang mempunyai asmaaul Husna. bertasbih kepadanya apa yang di langit dan bumi. dan dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (24)

Nabi Muhammad SAW juga pernah bersabda:

(3)

Sebagaimana ayat dan sabda Nabi diatas, pertama yang harus dikenal seorang muslim adalah Allah. Jika seorang muslim mengenal Allah dengan baik, maka kita juga akan memiliki kepribadian yang baik. Dengan mengenal Allah, seorang muslim dapat mengetahui perintah, larangan yang telah dituliskan oleh Allah dalam Al qur’an.

Lalu diri mana yang wajib kita kenal? Sungguhnya diri kita terbagi dua sebagaimana firman Allah dalam surat Luqman ayat 20:

Artinya :

“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.”

Jadi berdasarkan ayat di atas, diri kita sesungguhnya terbagi dua:

1. Diri Zahir yaitu diri yang dapat dilihat oleh mata dan dapat diraba oleh tangan.

2. Diri batin yaitu yang tidak dapat dipandang oleh mata dan tidak dapat diraba oleh tangan, tetapi dapat dirasakan oleh mata hati. Adapun dalil mengenai terbaginya diri manusia

Karena sedemikian pentingnya peran diri yang batin ini di dalam upaya untuk memperoleh pengenalan kepada Allah, itulah sebabnya kenapa kita disuruh melihat ke dalam diri (introspeksi diri) sebagimana firman Allah dalam surat az-Zariat ayat 20-21:

(4)

“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin.” (20)

“dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (21)

Allah memerintahkan kepada manusia untuk memperhatikan ke dalam dirinya disebabkan karena di dalam diri manusia itu Allah telah menciptakan sebuah mahligai yang mana di dalamnya Allah telah menanamkan rahasia-Nya sebagaimana sabda Nabi di dalam Hadis Qudsi:

Artinya:

“Aku jadikan dalam rongga anak Adam itu mahligai dan dalam mahligai itu ada dada dan dalam dada itu ada hati (qalbu) namanya dan dalam hati (qalbu) ada mata hati (fuad) dan dalam mata hati (fuad) itu ada penutup mata hati (saghaf) dan dibalik penutup mata hati (saghaf) itu ada nur/cahaya (labban), dan di dalam nur/cahaya (labban) ada rahasia (sirr) dan di dalam rahasia (sirr) itulah Aku kata Allah”. (Hadis Qudsi)

Pengenalan diri ini selain berkaitan dengan didalam diri manusia, juga berkaitan dengan apa hakikat manusia itu sebenarnya. Manusia memiliki hakikat sebagai makhluk biologis, makhluk pribadi, makhluk sosial dan makhluk religius. Semua hakikat ini ada di dalam Al qur’an.

a. Manusia Sebagai Makhluk Biologis

(5)

sehingga dirahmati oleh Allah swt.. Ia akan mendorong kepada ketakwaan dalam arti mendorong kepada hal-hal yang positif (Al-Fajr:27-30).

b. Manusia Sebagai Makhluk Pribadi

Manusia sebagai makhluk pribadi memiliki ciri-ciri kepribadian pokok sebagai berikut: (1) memiliki potensi akal untuk berpikir rasional dan mampu menjadi hidup sehat, kreatif, produktif dan efektif, tetapi juga ada kecendrungan dorongan berpikir tidak rasional (2) memiliki kesadaran diri, (3) memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan dan bertanggung jawab, (4) merasakan kecemasan sebagai bagian dari kondisi hidup, (5) memiliki kesadaran akan kematiandan ketiadaan, (6) selalu terlibat dalam proses aktualisasi diri.Berdasarkan keterangan Al Qur’an, manusia mempunyai potensi akal untuk berpikir secara rasional dalam mengarahkan hidupnya ke arah maju dan berkembang Baqarah:164, Al-Hadid:17, dan Al-Baqarah:242), memiliki kesadaran diri (as-syu’ru) (Al-Baqarah:9 dan 12), memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan (Fushilat:40, Al-Kahfi:29, dan Al-Baqarah:256) serta tanggung jawab (Al-Muddatsir:38, Al-Isra:36, Al-Takatsur:8). Sekalipun demikian, manusia juga memiliki kondisi kecemasan dalam hidupnya sebagai ujian dari Allah yang disebut al khauf (Al-Baqarah:155), memiliki kemampuan untuk mengaktualisasikan fitrahnya kepadapribadi takwa (Ar-Ruum:30, A’raf:172-174, Al-An’am:74-79, Ali-Imran:185, An-Nahl:61,dan An-Nisa: 78).

c. Manusia Sebagai Makhluk Sosial

Menurut konsep konseling, seperti yang diungkapkan dalam Terapi Adler, Terapi Behavioral, dan Terapi Transaksional, manusia sebagai memiliki sifat dan ciri-ciri pokok sebagai berikut: (1) manusia merupakan agen positif yang tergantung pada pengaruh lingkungan, tetapi juga sekaligus sebagai produser terhadap lingkungannya, (2) perilaku sangat dipengaruhi oleh kehidupan masa kanak-kanak, yaitu pengaruh orang tua (orang lain yang signifikan), (3) keputusan awal dapat dirubah atau ditinjau kembali, (4) selalu terlibat menjalin hubungan dengan orang lain dengan cinta kasih dan kekeluargaan.

(6)

d. Manusia Sebagai Makhluk Religius

Konsep konseling tidak ada menerangkan manusia sebagai makhluk religius. Sebagai makhluk religius manusia lahir sudah membawa fitrah, yaitu potensi nilai-nilai keimanan dan nilai-nilai kebenaran hakiki. Fitrah ini berkedudukan di kalbu, sehingga dengan fitrah ini manusia secara rohani akan selalu menuntut aktualisasi diri kepada iman dan takwa dimanapun manusia berada (Ar-Ruum:30 dan Al-A’raf:172-174). Namun tidak ada yang bisa teraktualisasikan dengan baik dan ada pula yang tidak, dalam hal ini faktor lingkungan pada usia anak sangat menentukan. Manusia sebagai makhluk religius berkedudukan sebagai abidullah dan sebagai khalifatullah di muka bumi. Abidullah merupakan pribadi yang mengabdi dan beribadah kepada Allah sesuai dengan tuntunan dan petunjuk Allah (Adz-Dzariyat:56). Hal ini disebut ibadah mahdhah. Khalifatullah merupakan tugas manusia untuk mengolah dan memakmurkan alam ini sesuai dengankemampuannya untuk kesejahteraan umat manusia, serta menjadi rahmat bagi orang lain atau yang disebut rahmatan lil’alamin (Al-Baqarah:30).

(7)

Daftar Pustaka

Arsini, Yenti. Konseling Berdasarkan Al qur’an. www.academia.edu/5623544/KONSELING _BERDASARKAN_AL_QUR_AN

Risal, Muhammad. Pengenalan Jati Diri dalam Al-Quran dan Hadits. www.artikelbagus.com /2014/08/pengenalan-jati-diri-dalam-al-quran-dan-hadits.html# (diakses tanggal 15 Maret 2015)

Referensi

Dokumen terkait

Al-Qurtubi (2009) mengatakan al-qalb dalam ayat di atas bermaksud al-‘aql iaitu akal untuk ia bertadabbur padanya maka digunakan perkataan qalb untuk maksud akal kerana pada hati

Al-Qur’an menekankan pentingnya analisis yang mendalam terhadap fenomena alam melalui proses penalaran yang kritis dan sehat untuk mencapai kesimpulan yang

Dengan kata lain, al-dakhîl adalah penafsiran yang tidak memiliki landasan yang valid dan ilmiah, baik dari Alquran, hadis sahih, pendapat sahabat dan tabiin, maupun dari

Manusia pada dasarnya diciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang sempurna yang diberikan berbagai kelebihan seperti dianugrahi aspek jasmani yang paling sempurna daripada

Jawaban: manusia sebagai makhluk pribadi artinya manusia adalah manusia ciptaan Tuhan yang terdiri dari jiwa dan raga dilengkapi potensi dan kemampuan akal, pikiran dan perasaan

Pendidikan Islam sebagai manifestasi insan kamil makhluk terbaik yang memiliki orientasi tujuan untuk mengembangkan potensi fitrah nya serta mengembangkannya secara tawazun seimbang

Ruang lingkup filsafat meliputi ontologi, epistemologi, dan aksiologi, tujuannya adalah pengertian dan kebijaksanaan, dengan ciri-ciri berpikir yang menyeluruh, mendasar, rasional, dan

Pendidikan adalah suatu proses yang mengarahkan manusia untuk menjadi manusia yang berkualitas, memiliki keunggulan akal untuk berpikir dan mengembangkan potensi