• Tidak ada hasil yang ditemukan

DIVESTASI SAHAM PERTAMBANGAN YANG DIKELO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "DIVESTASI SAHAM PERTAMBANGAN YANG DIKELO"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

(Studi PT. Freeport Indonesia) A. Latar Belakang

Indonesia adalah salah satu negara berkembang dengan tingkat perekonomian

yang setiap tahunnya mengalami perkembangan pesat. Laju perekonomi Indonesia

yang pesat menjadi salah satu faktor pendorong masuknya investasi dari luar negeri.

Investasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah penanaman uang atau

modal dalam suatu perusahaan atau proyek untuk tujuan memperoleh keuntungan1.

Secara umum investasi atau penanaman modal dapat diartikan sebagai suatu kegiatan

yang dilakukan baik oleh orang pribadi (natural person) maupun badan hukum

(juruidical person) dalam upaya untuk meningkatkan dan atau mempertahankan nilai

modalnya, baik yang berbentuk uang tunai (cash money), peralatan (equipment), asset

tidak bergerak, hak katas kekeyaan intelektual, maupun keahlian.2

Dalam ekonomi ada terminologi there is no (economic) growth without

investment. 3 Pernyataan ini mengandung arti bahwa investasi memiliki peran yang

penting dalam pembangunan ekonomi, walaupun investasi bukan satu-satunya

komponen pertumbuhan ekonomi. Dalam pembangunan ekonomi, investasi memiliki

1 Menurut KBBI dikutip dari website http://kbbi.web.id/investasi, pada tanggal 30 oktober 2016, pukul 14.00 WIB

2 Ana Rokhmatuss’dyah dan Suratman, Hukum Investasi dan Penanaman modal, Sinar Grafika, 2015, hlm 3

3 Faisal Santiago, Pengantar Hukum Bisnis, mitra wacana media, Jakarta, 2012, hlm 25

(2)

dua peranan penting. Pertama, peran dalam jangka pendek berupa pengaruh terhadap

permintaan agregat yang akan mendorong meningkatnya output dan kesempatan

kerja. Kedua, efeknya terhadap pembentukan kapital. Investasi akan menambah

berbagai peralatan, mesin, bangunan dan sebagainya. Dalam jangka panjang, tindakan

ini akan meningkatkan potensi output dan mendorong pertumbuhan ekonomi secara

berkelanjutan.

Investasi dibedakan menjadi 2 yakni investasi tidak langsung dan investasi

langsung. Pertama ialah Investasi Tidak Langsung (Portfolio Investment) dimana

investor dapat melakukan investasi namun tidak terlibat secara langsung dan cukup

dengan memegangnya dalam bentuk saham dan obligasi. Investasi tidak langsung

pada umumnya merupakan investasi jangka pendek yang mencakup kegiatan

transaksi di pasar modal dan di pasar uang.4 Investasi ini disebut sebagai investasi

jangka pendek karena pada umumnya mereka melakukan jual saham dan atau mata

uang dalam jangka waktu yang relatif singkat, tergantung kepada fluktuasi nilai

saham dan atau mata uang yang hendak mereka perjual belikan. Undang-Undang

Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal yang selanjutnya disingkat dengan

UUPM sebenarnya sudah membedakan secara tegas antara investasi langsung (direct

investment) dan investasi tidak langsung (portfolio investment). Penanaman modal di

semua sektor di wilayah negara Republik Indonesia adalah penanaman modal

langsung dan tidak termasuk penanaman modal tidak langsung atau portofolio.5

4Sihombing Jonker, Hukum Penanaman Modal di Indonesia, PT. Alumni, Bandung, 2009, hlm. 5

(3)

Kedua ialah Investasi Langsung (Direct Investment) dimana investor dapat

langsung berinvestasi dengan membeli secara langsung suatu aktiva keuangan dari

suatu perusahaan6. Investasi ini merupakan aset-aset riil (real assets) yang melibatkan

aset berwujud, misalkan pembelian aset produktif, pendirian pabrik, pembukaan

pertambangan, pembukaan perkebunan, dan lainnya. Investasi secara langsung selalu

dikaitkan adanya keterlibatan secara langsung dari pemilik modal dalam kegiatan

pengelolaan modal. Penanaman modal secara langsung, pihak investor langsung

terlibat dalam kegiatan pengelolaan usaha dan bertanggung jawab secara langsung

apabila terjadi suatu kerugian.

Sumber daya alam serta sumber daya manusia yang berlimpah juga menjadi

salah satu pendorong banyaknya investor yang ingin melakukan investasi secara

langsung. Eksploitasi sumber daya alam Indonesia yang masih sangat minim dikelola

oleh pemerintah maupun investor dalam negeri, mendorong investor asing

berbondong-bondong datang ke Indonesia untuk mengelola sumber daya alam dengan

tujuan mendapatkan keuntungan yang besar.

Salah satu sumber daya alam yang dimiliki Indonesia yang belum bisa

dikelola oleh dalam negri adalah dalam hal pertambangan mineral. Bermunculannya

investor asing yang melakukan pengeksploitasian terhadap pertambangan mineral

memicu banyak pro dan kontra yang berkepanjangan. Pembagian hasil yang dirasa

tidak seimbang dan adil antara pihak pengelola dan negara sebagai pemilik dari

(4)

sumber daya alam tersebut dianggap masyarakat tidak memiliki efek yang signifikan

terhadap Indonesia.

Tambang mineral adalah salah satu sumber daya alam yang sangat potensial

yang dimiliki Indonesia di beberapa pulau dan daerah yang berada dalam lingkaran

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sumber daya alam ini dianggap

sebagai sebuah peluang bisnis yang sangat menjanjikan untuk dikelola oleh pihak

asing. Potesi mendapatkan keuntungan yang sangat besar dari pengeksploitasian

sumber daya ini menjadi faktor utamnya.

Keluarnya Undang-Undang Nomor 4 tahun 2009 tentang Mineral dan

Batubara (UU Minerba) yang mewajibkan perusahaan tambang asing

mendivestasikan sahamnya kepada pihak nasional bertujuan agar dikemudian hari

indonesia dapat mengelola dan mengambil alih pengelolahan pertambangan yang

kemudian dapat dipergunakan hasilnya untuk kepentingan rakyat indonesia. Divestasi

adalah penjualan surat berharga dan atau kepemilikan pemerintah ataupun saham

pihak asing kepada pihak lain.7 Dalam finansial dan ekonomi, divestasi adalah

pengurangan beberapa jenis aset baik dalam bentuk finansial atau barang, dapat pula

disebut penjualan dari bisnis yang dimiliki oleh perusahaan. Ini adalah kebalikan dari

investasi pada aset yang baru.

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang mineral dan batubara

kemudian diperkuat dengan munculnya Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2012

(5)

atas perubahan Peraturan Pemerintah Nomor 23 tahun 2010 tentang pelaksanaan

kegiatan usaha mineral dan batubara yang mewajibkan pemegang IUP (Ijin Usaha

Pertambangan) yang dikelola oleh pihak asing untuk mendivestasikan minimum 51%

sahamnya kepada pihak nasional yang dilakukan secara bertahap yakni dimulai dari

setelah tahun kelima pertambangan tersebut berlangsung. Tujuan dari dikeluarkan nya

kewajiban divestasi tersebut dimaksudkan agar dikemudian hari Indonesia dapat

mandiri dalam mengelola sumber daya alam yang dimilikinya serta dapat merasakan

keuntungan yang seharusnya sehingga, dapat mendorong pertumbuhan pendapatan

perkapita yang semakin baik serta menjalankan amanat dari Undang-Undang Dasar

1945 pasal 33 yakni negara berdaulat secara mayoritas terhadap bumi, air serta yang

terkandung didalam nya untuk digunakan bagi kepentingan rakyat indonesia8.

Pada tahun 2014 pemerintah merevisi kembali Peraturan Pelaksana

pertambangan mineral dan batubara yang dituangkan dalam Peraturan Pemerintah

Nomor 77 Tahun 2014 sebagai perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun

2010, munculnya Peraturan Pemerintah tersebut membuat banyak pihak merasa

undang-undang ini tidak berpihak pada kepentingan rakyat. Saham yang semula

seharusnya di divestasikan oleh pemilik UIP dan IUPK yang dikelola oleh pihak

asing adalah 51% kemudian di klasifikasikan kembali menjadi beberapa bagian

berdasarkan jenis pertambangan yang dilakukan. Ketentuan ini dimuat dalam pasal 97

Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun 2014.

(6)

Kenyataan dilapangan tidak selaras dengan peraturan yang telah ditetapkan

oleh pemerintah, masih banyak perusahaan asing yang enggan melakukan divestasi

sahamnya. Salah satu contohnya adalah PT. Freeport Indonesia. PT. Freeport

Indonesia dan pemerintah daerah Papua telah melakukan negoisasi guna melakukan

penjualan 9.36 persen9 saham. Proses negoisasi tersebut terjadi sekitar tanggal 8

Januari 2010 yang lalu.

Lima tahun setelahnya, sekitar bulan Oktober 2015 mendatang perusahaan

tambang asal Amerika Serikat, PT. Freeport Indonesia, siap meningkatkan divestasi

saham kepada pihak nasional dari saat itu 9,36 menjadi 20 persen. Divestasi

selanjutnya dilakukan pada Oktober 2019 hingga mencapai total 30 persen. Sesuai

ketentuan, saham tersebut ditawarkan kepada pihak nasional, yakni ke pemerintah

pusat, berikutnya pemda setempat, dan terakhir perusahaan swasta nasional.

Sesuai dengan ketentuan baru berdasarkan Pasal 97 ayat (1d) yang

menyatakan bahwa:

Kewajiban divestasi saham sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bagi

pemegang IUP Operasi produksi dan IUPK Operasi produksi yang melakukan

kegiatan penambangan dengan menggunakan metode penambangan bawah tanah,

setelah akhir tahunkelima sejak berproduksi palin sedikit sebagai berikut:

a. tahun keenam 20% (dua puluh persen)

b. tahun kesepuluh 25% (dua puluh lima persen)

(7)

c. tahun kelimabelas 30% (tiga puluh persen)

dari jumlah seluruh saham10

PT. Freeport Indonesia sebagai salah satu pemegang UIP dengan metode

penambangan bawah tanah dengan demikian hanya dikenakan kewajiban untuk

melakukan divestasi 30%. Namun, divestasi yang dilakukan oleh PT. Freeport

Indonesia ini terkesan mengulur-ngulur waktu dalam pelaksanaannya. Ketidak

tegasan pemerintah dalam meminta PT. Freeport Indonesia untuk segera

mendivestasikan sahamnya juga menjadi kendala yang sangat berarti. Munculnya

Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun 2014 membuat publik semakin dibuat

bingung karena terjadi pengurangan jumlah saham yang harus nya di divestasikan

oleh perusahaan asing yakni dari 51% menjadi hanya 30% saham yang harus yang

didivestasikan.

Proses negosiasi yang terlalu lama mencapai kesepakatan antara pemerintah

dan PT. Freeport indonesia untuk membeli saham yang akan dilepas oleh PT. Freeport

Indonesia juga menjadi kendala yang sangat berarti. Bila diingat bahwasannya

pertambangan mineral yang dilakukan oleh PT. Freeport Indonesia terus berjalan dan

dikhawatirkan dengan lamanya proses divestasi yang mengulur-ngulur waktu karena

tidak tercapainya proses negosiasi yang menemukan titik terang akan membuat

semakin menipisnya kandungan mineral yang terkandung di dalam lahan

pertambangan tersebut.

(8)

Sanksi penerapan sanksi administrasi yang tidak tegas pun membuat

perusahaan tambang emas ini menjadi semakin mengulur-ngulur waktu untuk

melakukan divestasi sesuai dengan ketentuan peraturan yang dibuat oleh pemerintah.

B. Identifikasi Masalah

1. Bagaimana pelaksanaan divestasi saham di PT. Freeport Indonesia ditinjau

dari Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 dan Peraturan Pemerintah Nomor

77 Tahun 2014 tentang Mineral dan Batubara serta hambatan dalam

melakukan divestasi ?

2. Bagaimana penerapan sanksi terhadap perusahaan asing yang tidak

melaksanakan divestasi saham berdasarkan UU No. 4 tahun 2009 tentang

mineral dan batubara serta peraturan pemerintah No. 77 tahun 2014 tentang

divestasi (Studi Kasus PT. Freeport Indonesia) ?

C. Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui Bagaimana pelaksanaan divestasi saham di PT. Freeport

Indonesia ditinjau dari Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 dan Peraturan

Pemerintah Nomor 77 Tahun 2014 tentang Mineral dan Batubara serta

hambatan dalam melakukan divestasi

2. Untuk mengetahui bagaimana penerapan sanksi terhadap perusahaan asing

yang tidak melaksanakan divestasi saham berdasarkan UU No. 4 tahun 2009

tentang mineral dan batubara serta peraturan pemerintah No. 77 tahun 2014

(9)

D. Kegunaan Penelitian

Kegunaan penelitian dibagi menjadi dua yaitu kegunaan teoritis dan

kegunaan praktis.

1. Kegunaan Teoritis

a. Penelitian ini diharapkan dapat memperluas wawasan ilmu

pengetahuan dalam bidang ilmu hukum perdata pada umumnya serta

hukum divestasi pada khususnya terutama mengenai divestasi saham

pertambangan yang dikelola oleh pihak asing

b. Penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan pemahaman serta

mampu memberikan jawaban terhadap permasalahan yang diteliti

berkaitan dengan divestasi saham pertambangan mineral dan batubara

yang dikelola oleh pihak asing

2. Kegunaan Praktis

a. Penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi mengenai

kewajiban bagi perusahaan asing untuk mendivestasikan sahamnya,

terutama perusahaan yang bergerak dalam bidang pertambangan

mineral dan barubara.

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi serta dapat

dijadikan masukan bagi pemerintah serta lembaga-lembaga yang terakait

seperti kementerian Energi Sumber Daya Mineral dan institusi terkait untuk

dapat menegakan hukum sebagaimana yang telah diamanatkan didalam

(10)

menginvestasikan uangnya dalam bidang pertambangan. Pemerintah juga

diharapkan untuk senantiasa mengedepankan selalu kepentingan rakyat diatas

kepentingan pribadi dan golongan.

E. Kerangka Pemikiran

1. Kerangka Teoritis

Menurut Soerjono Soekanto ada beberapa kegunaan dari teori atau

kerangka teoritis yakni bahwa teori tersebut berguna untuk lebih

mempertajam atau lebih mengkhususkan fakta yang hendak diselidiki atau

diuji kebenarannya, teori sangat berguna di dalam mengembangkan sistem

klarifikasi fakta, membina struktur konsep-konsep serta memperkembangkan

definisi-definisi dan teori, biasanya merupakan suatu ikhtisar daripada hal-hal

yang telah diketahui serta diuji kebenarannya yang menyangkut objek yang

diteliti11.

Adapun dalam penelitian ini teori yang digunakan sebagai berikut:

a) Teori Kepastian Hukum

Tujuan hukum yang mendekati realistis adalah kepastian hukum dan

kemanfaatan hukum. Kaum Positivisme lebih menekankan pada kepastian hukum,

sedangkan Kaum Fungsionalis mengutamakan kemanfaatan hukum, dan sekiranya

dapat dikemukakan bahwa “summum ius, summa injuria, summa lex, summa

crux” yang artinya adalah hukum yang keras dapat melukai, kecuali keadilan yang

dapat menolongnya, dengan demikian kendatipun keadilan bukan merupakan tujuan

(11)

hukum satu-satunya akan tetapi tujuan hukum yang paling substantif adalah

keadilan12. Penegakan hukum dapat menciptakan rasa adil bagi seluruh rakyat

indonesia.

Menurut Utrecht, kepastian hukum mengandung dua pengertian yaitu

pertama, adanya aturan yang bersifat umum membuat individu mengetahui perbuatan

apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan, dan kedua, berupa keamanan hukum bagi

individu dari kesewenangan pemerintah karena dengan adanya aturan yang bersifat

umum itu individu dapat mengetahui apa saja yang boleh dibebankan atau dilakukan

oleh Negara terhadap individu13.

Penegakan hukum yang harus diterapkan oleh pemerintah dalam hal ini

kepada setiap pemegang Izin Usaha Pertambangan sangatlah dideperlukan. Hal ini

guna untuk membuat para pemegang izin tersebut tidak melakukan pelanggaran

terhadap ketentuan yang telah ditetapkan didalam undang-undang. Pelaksaan

divestasi yang semakin hari semakin mengulur-ngulur dan tidak adanya tindakan

hukum yang dilakukan oleh pemerintah membuat penegakan hukum di indonesia

semakin lemah terhadap pelaku usaha pertambangan terutama terhadap PT Freeport

indonesia.

b) Teori Negara Kesejahteraan

Teori negara kesejahteraan adalah negara yang pemerintahannya menjamin

terselenggaranya kesejahteraan rakyat. Dalam mewujudkan kesejahteraan rakyatnya

12 Dominikus Rato, Filsafat Hukum Mencari: Memahami dan Memahami Hukum, Laksbang Pressindo, Yogyakarta, 2010, hlm.59.

(12)

harus didasarkan pada lima pilar kenegaraan, yaitu : Demokrasi (Democracy).

Penegakan Hukum (Rule of Law), perlindungan Hak Asasi Manusia, Keadilan Sosial

(Social Juctice) dan anti diskriminasi.

Menurut R. Kranenburg, negara harus secara aktif dapat mengupayakan

kesejahteraan, bertindak adil yang dapat dirasakan seluruh masyarakat secara merata

dan seimbang, bukan mensejahterakan golongan tertentu tapi seluruh rakyat.14 Maka

akan sangat ceroboh jika pembangunan ekonomi dipinggirkan, lalu kemudian

pertumbuhan ekonomi hanya dipandang dan dikonsentrasikan pada angka persentase

belaka. Kesejahteraan rakyat adalah indikator yang sesungguhnya.

Sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar Tahun 1945 Pasal 33 dimana

dikatakan dalam ayat (2) bahwa cabang-cabang produksi yang penting bagi negara

dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. Didalam ayat (3)

kemudian dijelaskan lebih lanjut bumi dan air serta kekayaan yang terkandung

didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya

kemakmuran rakyat15. Tertulis jelas bahwa negara harus memegang peranan penting

dalam pengelolaan sumber daya alam yang ada di indonesia yang kemudian hasilnya

digunakan untuk kesejahteraan masyarakat indonesia.

Berkaitan dengan divestasi pertambangan asing, teori ini memberikan

penjelasan bahwasannya negara harus dapat menerapkan hukum sebagaimana yang

telah diatur didalam undang-undang dan selalu mementingkan kepentingan umum

14http://insanakademis.blogspot.co.id/2011/10/teori-welfare-state-menurut-jm-keynes.html

diakses pada tanggal 30 Oktober 2016 pada pukul 23.09 WIB.

(13)

daripada kepentingan golongan. Sesuai dengan tujuan dilakukannya divestasi

terhadap perusahaan pertambangan yang dikelola asing, yakni agara dikemudian hari

indonesia dapat mandiri dalam mengelola sumber daya alamnya sehingga sumber

daya alam ersebut dapat digunakan untuk kepentingan rakyat dan memberikan

kesejahteraan bagi masyarakat secara luas.

2. Kerangka Konseptual

Suatu kerangka konseptusional, merupakan kerangka yang menggambarkan

hubungan antara konsep-konsep khusus, yang ingin atau akan diteliti. Suatu konsep

bukan merupakan gejala yang akan diteliti, akan tetapi merupakan suatu abstraksi

dari gejala tersebut. Gejala tersebut biasanya dinamakan fakta, sedangkan konsep

merupakan suatu uraina mengenai hubungan-hubungan dalam fakta tersebut.16

Kerangka konseptual dalam penelitian ini sebagai berikut:

Penanaman Modal Langsung

Penanam modal langsung adalah penanam modal yang dilakukan dengan

membeli langsung (tanpa lewat pasar modal) saham perusahaan baru, baik melalui

badan koordinasi penanaman modal (BKPM), maupun departemen lain17. Penanam

modal biasa disebut sebagi investor atau orang yang memiliki dana untuk di

investasikan kedalam sebuah perusahaan dengan tujuan mendapatkan keuntungan

diwaktu tertentu yang telah disepakati. Penanam modal secara langsung dapat

16 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, univetsitas Indonesia, Jakarta, 2010, hlm 132.

(14)

diartikan pula bahwa secara fisik ia hadir dalam menjalankan usahanya. Dengan

hadirnya atau tepatnya dengan didirakannya badan usaha.18

Divestasi

Divestasi merupakan ketentuan yang mengatur tentang penjualan saham yang

dimiliki oleh perusahaan atau cara mendapatkan uang dari invetasi yang dimiliki oleh

seseorang19. Divestasi juga dapat diartikan kebijakan terhadap perusahaan yang

seluruh sahamnya dimiliki oleh investor asing untuk secara bertahap tetapi pasti

mengalihkan saham-sahamnya itu kepada mitra bisnis local atau pemerintah sesuai

dengan ketetapan yang telah diatur didalam Undang-undang atau Peraturan lainnya.

Saham

Menurut Darmadji dan Fakhruddin yang dimaksud dengan saham adalah

Sebagai tanda penyertaan atau pemilikan seseorang atau badan dalam suatu

perusahaan atau perseorangan terbatas. Wujud saham adalah selembar kertas yang

menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemilik perusahaan yang

menerbitkan surat berharga tersebut. Porsi kepemilikan ditentukan oleh seberapa

besar penyertaan yang ditanamkan di perusahaan tersebut.20 Saham juga dapat berupa

surat berharga yang menunjukan bagian kepemilikan atas suatu perusahaan. Pemilik

saham berhak menerima keuntungan atau deviden dari suatu perusahaan tergantung

presentasi kepemilikan saham yang dimilikinya.

18 Sentosa Sembiring, Hukum Investasi, Nuansa Alia, Bandung, 2010, hlm 41

19 Salim HS dan Erlies Septiana Nurbani, Op. Cit, hlm 36.

(15)

Mineral

Pengertian mineral adalah senyawa organik yang terbentuk dialam, yang

memiliki sifat fisik dan kimia tertentu serta susunan Kristal teratur atau gabungailnya

yang membentuk batuan, baik dalam bentuk lepas atau padu.21

Tambang

Tambang adalah proses penggalian ditanah untuk menemukan atau

mengekstrak mineral, atau proses penggalian yang diperlukan untuk memperoleh

bijih metal atau kandungan lain didalam tanah.

Modal Asing

Dalam UU No. 25 tahun 2007 tentang penanaman modal, dijelaskan bahwa

yang dimaksud dengan modal asing adalah modal yang dimiliki oleh negara asing,

perseroan warga negara asing, badan usaha asing, dan atau badan hukum Indonesia

yang sebagain atau seluruh modalnya dimiliki oleh pihak asing.

F. Metode Penelitian

Penelitian hukum merupakan suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan pada

metode, sistematika, dan pemikiran tertentu, yang bertujuan untuk mempelajari satu

atau beberapa gejala hukum tertentu dengan jalan menganalisisnya. Maka diadakan

juga pemeriksaan yang mendalam terhadap fakta hukum tersebut untuk kemudian

mengusahakan suatu pemecahan atas permasalahan-permasalahan yang timbul di

dalam gejala yang bersangkutan.22

21 Lihat pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 4 tahun 2009 Tentang pertambangan Mineral dan Batubara

(16)

Oleh sebab itu dalam penyusunan penelitian skripsi ini digunakan metode

penelitian sebagai berikut:

1. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan penelitian yuridis normatif yaitu penelitian

dengan cara meneliti data yang diperoleh dari studi kepustakaan (library research)

yang meliputi buku-buku serta peraturan perundang-undangan, adapun yang

berkaitan dari penelitian ini dengan melihat aturan yang berkenaan dengan

Penanaman Modal Asing dan Pertambangan Mineral dan Batubara.

2. Pendekatan Penelitian

Pendekatan penelitian menggunakan pendekatan terhadap Undang-undang.23

Pendekatan ini menelaah Undang-undang yang berkaitan dengan Penanaman Modal

Asing yakni Undang-undang nomor 1 tahun 1967 tentang penanaman modal asing,

pertambangan mineral dan batubara yakni Undang-undang nomor 4 tahun 2009

tentang Mineral Dan Batubara serta Peraturan Pemerintah nomor 77 tahun 2012

tentang pelaksanaan usaha pertambangan mineral dan batubara.

3. Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis data sekunder yang

berkaitan dengan penelitian serta bahan-bahan hukum yang mengikat dan data primer

berupa wawancara sebagai data pendukung. Data sekunder yang diperoleh dalam

penelitian ini melalui studi dokumen terhadap bahan kepustakaan dengan

mempelajari:

(17)

a. Bahan hukum primer yaitu bahan hukum yang mengikat yang terdiri dari

peraturan perundang-undangan yang terkait dengan obkjek penelitiannya,

diantaranya meliputi:

1) Undang-Undang Dasar Tahun 1945

2) Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal

3) Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral

dan Batubara

4) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2012 Tentang Perubahan atas

Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 Tentang Pelaksanaan

Usaha Mineral dan Batubara

5) Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun 2014 atas Perubahan Ketiga

atas Aturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2012 Tentang Pelaksanaan

Usaha Mineral dan Batubara

b. Bahan hukum sekunder yaitu buku-buku, dokumen-dokumen, makalah dan

jurnal hukum yang berkaitan dengan penelitian serta memberikan

penjelasan mengenai bahan hukum primer.

c. Bahan hukum tersier adalah petunjuk atau penjelasan mengenai bahan

hukum primer atau bahan hukum sekunder yang berasal dari black’s law

dictionary, artikel, kamus besar bahasa Indonesia , internet dan lain-lain.

4. Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini

(18)

pengumpulan data sekunder melalui penelaahan terhadap konsep, teori,

peraturan-peraturan dan bahan-bahan tertulis lainnya yang berkenaan dalam penelitian.

5. Analisis Data

Setelah data terkumpul, maka langkah selanjutnya adalah menganalisis dan

menafsirkan data tersebut. Adapun teknik atau metode yang digunakan dalam

menganalisis data adalah Yuridis Kualitatif. Oleh karena penelitian ini merupakan

penelitian yuridis normatif yang bersifat deskriptif maka data dianalisis secara

kualitatif yakni analisis yang menggunakan pendekatan logika. Hal ini

diklasifikasikan dan diinterpretasikan dalam bentuk tulisan sehingga objek penelitian

dapat tergambarkan dengan jelas.24

G. Sistematika Penulisan

Dalam penulisan proposal penelitian ini, penulisan membagi penelitian kedalam 5

(lima) bab, dimana setiap bab terdiri dari sub-sub bab guna memberikan penjelasan

yang sistematis dan efektif.

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini membahas mengenai latar belakang masalah, identifikasi

masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, kerangka pemikiran

yang terdiri dari kerangka teoritis dan kerangka konseptual, metode

penelitian dan sistematika penulisan.

(19)

BAB II TINJUAN TEORI TENTANG DIVESTASI SAHAM

Bab ini menguraikan tinjauan teoritis mengenai divestasi saham

pertambangan yang dikelola oleh pihak asing meliputi pengertian,

tujuan dan kewajiban divestasi saham serta fungsi dari divestasi,

tahap-tahap melakukan divestasi saham.

BAB III PERMASALAHAN YANG TIMBUL DALAM PELAKSANAAN

DIVESTASI SAHAM PADA PT. FREEPORT INDONESIA

Bab ini membahas tentang masalah-masalah yang timbul dalam

program divestasi saham pada PT. Freeport indonesia.

Masalah-masalah yang penulis bahas dalam bab ini yaitu proses divestasi saham

yang mengulur-ngulur waktu sehingga menyebabkan terhambat dan

lama nya proses negoisasi dalam penawaran saham yang akan dibeli,

masalah harga saham yang akan dialihkan, serta masalah ketersediaan

dana yang memadai untuk pembelian saham.

BAB IV ANALISIS DIVESTASI SAHAM PERTAMBANGAN ASING

SESUAI DENGAN KETENTUAN PP NO 77 TAHUN 2012 TENTANG MINERAL DAN BATUBARA (STUDI KASUS PT FREEPORT INDONESIA)

Bab ini berisika tentang analisi mengenai kasus-kasus yang terkait

dengan pelaksanaan kewajiban divestasi di Indonesia dengan

mengambil satu contoh dalam proses divestasi PT. Freeport Indonesia

(20)

sebanyak yang telah ditentukan oleh undang-undang no. 4 tahun 2009

tentang pertambangan mineral dan batu bara serta Peraturan

Pemerintah nomor 77 tahun 2012 tentang pelaksanaan usaha

pertambangan mineral dan batubara.

BAB V PENUTUP

Bab ini berisikan kesimpulan penulis terhadap keseluruhan penelitian

yang telah penulis lakukan dan merupakan jawaban atas identifikasi

masalah yang penulis rumuskan, serta saran penulis terkait dengan

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Menjaga lingkungan hidup tentu saja tidak sekadar ditentukan oleh keberhasilan menjaga kualitas udara dengan program Car Free Day, melainkan juga dari keberhasilan kita

Dari beberapa perbedaan tersebut, menjadi daya tarik bagi peneliti untuk meneliti tentang manajemen pembelajaran yang ada di MTsN Tambakberas, baik yang berada di kelas

Penulis mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala Rahmat yang telah diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul

Tabel 3: Daftar Kode Angka Inventaris UMM (Barang dan Asset). No Nama Aset dan

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber... yang sesuai dan bermanfaat bagi kenyataan yang terdapat di seluruh

Pengawalan dan pengamanan tahanan pada setiap tahap sebagaimana dimaksud dalarn Pasal 5, pasal 6, pasal 7 dan pasal g dilakukan minimal oleh 2 (dua) orang

Dengan doa dan partisipasi aktif dari semua pihak, melalui serangkaian strategi yang akan dievaluasi pada berbagai tahapannya, diharapkan visi-misi yang dirumuskan dapat tercapai