Analisis Kasus Putusan Mahkamah Agung No. 439 K Pid 2010 Atas Tuduhan Penipuan Yang Dilakukan Oleh Oknum Notaris

Teks penuh

(1)

A. Latar Belakang

Peranan hukum dalam mengatur kehidupan masyarakat sudah dikenal sejak masyarakat mengenal hukum itu sendiri, sebab hukum itu dibuat untuk mengatur kehidupan manusia sebagai makhluk sosial. hubungan antara masyarakat dan hukum diungkapkan dengan sebuah adagium yang sangat terkenal dalam ilmu hukum yaitu

ubi societes ibi ius(dimana ada masyarakat di sana ada hukum).1

Melihat perkembangan masyarakat, maka akan ditemukan bahwa peranan hukum dalam mengatur kehidupan masyarakat mengalami perubahan dan perbedaan dari suatu kurun waktu ke waktu lain. Dalam masyarakat yang sederhana, hukum berfungsi untuk menciptakan dan memelihara keamanan serta ketertiban. Fungsi ini berkembang sesuai dengan perkembangan masyarakat itu sendiri yang meliputi berbagai aspek kehidupan masyarakat yang bersifat dinamis yang memerlukan kepastian, ketertiban, dan perlindungan hukum yang berintikan kebenaran dan keadilan.

Kehidupan masyarakat yang memerlukan kepastian hukum memerlukan sektor pelayanan jasa publik yang saat ini semakin berkembang seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat atas pelayanan jasa. Hal ini berdampak pula pada peningkatan di bidang jasa Notaris. Peran Notaris dalam sektor pelayanan jasa adalah sebagai

(2)

pejabat yang diberi wewenang oleh negara untuk melayani masyarakat dalam bidang perdata khususnya pembuatan akta otentik. Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (UUJN) “Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta otentik dan kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini.”

Landasan filosofis dibentuknya Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris adalah terwujudnya jaminan kepastian hukum, ketertiban dan perlindungan hukum yang berintikan kebenaran dan keadilan melalui akta yang dibuatnya, Notaris harus dapat memberikan kepastian hukum kepada masyarakat pengguna jasa Notaris.2

Tugas pokok Notaris dalam hal membuat akta otentik, yang menurut Pasal 1870 KUHPerdata akta otentik itu memberikan kepada pihak-pihak yang membuatnya suatu pembuktian yang mutlak. Notaris oleh undang-undang diberi wewenang untuk menciptakan alat pembuktian yang mutlak, dalam pengertian bahwa apa yang tersebut dalam akta otentik itu pada pokoknya dianggap benar. Hal ini sangat penting untuk mereka yang membutuhkan alat pembuktian untuk keperluan, baik untuk kepentingan pribadi maupun untuk kepentingan suatu usaha. Kepentingan pribadi misalnya membuat testament, mengakui anak yang dilahirkan di luar perkawinan yang sah, memberikan dan menerima hibah, mengadakan pembagian warisan, dan lain-lain. Sedangkan yang dimaksud untuk kepentingan suatu usaha

2Hasbullah,Notaris dan Jaminan Kepastian Hukum,

http://www.wawasanhukum.blogspot.com/,

(3)

ialah akta-akta yang dibuat untuk kegiatan di bidang usaha, antara lain akta-kata mendirikan perseroan terbatas, firma, comanditair venootschap (CV) dan sebagainya.3

Notaris sebagai pejabat umum kepadanya dituntut tanggung jawab terhadap akta yang dibuatnya. Apabila akta yang dibuat ternyata di belakang hari mengandung sengketa maka hal ini perlu dipertanyakan, apakah akta ini merupakan kesalahan Notaris atau kesalahan para pihak yang tidak memberikan dokumen dengan sebenarnya dan para pihak memberikan keterangan yang tidak benar diluar sepengetahuan Notaris ataukah adanya kesepakatan yang dibuat antara Notaris dengan salah satu pihak yang menghadap. Apabila akta yang dibuat Notaris mengandung cacat hukum karena kesalahan Notaris baik karena kelalaian maupun karena kesengajaan Notaris itu sendiri, maka Notaris itu harus memberikan pertanggungjawaban baik secara moral maupun secara hukum.

Perbuatan hukum yang tertuang dalam suatu akta Notaris bukanlah perbuatan hukum dari Notaris, melainkan akta tersebut memuat perbuatan hukum dari para pihak yang meminta atau menghendaki secara mufakat perbuatan hukum tersebut untuk dituangkan dalam suatu akta otentik.4Pihak dalam akta itulah yang terikat pada isi dari suatu akta otentik. Jika dalam suatu akta lahir suatu hak dan kewajiban, maka suatu pihak wajib memenuhi materi apa yang diperjanjikan dan pihak lain berhak

3Soegondo Notodisoerjo,Hukum Notariat di Indonesia Suatu Penjelasan,(Jakarta: Rajawali Pers, 1982), hlm.9.

(4)

untuk menuntut. Notaris hanyalah pembuat untuk lahirnya suatu akta otentik.5 Jika terjadi suatu sengketa mengenai apa yang diperjanjikan dalam suatu akta Notaris, Notaris tidak terlibat sama sekali dalam pelaksanaan suatu kewajiban atau dalam hal menuntut suatu hak. Notaris berada diluar hukum para pihak.6

Namun demikian, dalam prakteknya Notaris sering dilibatkan jika terjadi perkara antara para pihak, padahal sengketa yang terjadi bukanlah antara para pihak dengan Notaris mengingat Notaris bukan pihak dalam akta yang dibuatnya, namun Notaris sering harus berurusan dengan proses hukum baik di tahap penyelidikan, penyidikan maupun persidangan untuk mempertanggungjawabkan akta yang dibuatnya. Tetapi, tidak dapat dipungkiri, bahwa ada kalanya Notaris dalam melakukan pembuatan akta juga dapat melakukan suatu kesalahan atau kelalaian.

Notaris rentan mendapat gugatan dari para pihak yang merasa dirugikan dalam pembuatan suatu akta. Kesalahan Notaris dalam melaksanakan jabatannya, disebabkan kekurangan pengetahuan, pengalaman dan pengertian mengenai permasalahan hukum yang melandasi dalam pembuatan suatu akta, bertindak tidak jujur, lalai/tidak hati-hati serta memihak salah satu pihak.7 Oleh karena itu, seorang Notaris yang melakukan kesalahan atau kelalaian dalam melaksanakan profesi jabatannya dapat dikenakan sanksi baik berupa sanksi pidana, perdata maupun sanksi administratif.

5Ibid.

6 Irfan Fachruddin, ”Kedudukan Notaris dan Akta-Aktanya Dalam Sengketa Tata Usaha Negara”, Varia Peradilan Nomor 111, Desember 1994, hlm.144.

(5)

Salah satu kasus penjatuhan sanksi pidana kepada Notaris tampak dalam perkara kasus penipuan yang dituduhkan pada BN, Notaris Pejabat Pembuat Akta Tanah di Kabupaten Dumai, Propinsi Riau. Dalam putusan Mahkamah Agung Nomor 439 K/Pid/2010 tertanggal 20 Juli 2010, yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, permohonan kasasi dari terdakwa Notaris BN ditolak oleh Mahkamah Agung karena terdakwa dianggap telah melakukan perbuatan pidana berupa penipuan yang menimbulkan kerugian bagi AWL dan rekan-rekannya. Kasus penipuan yang dituduhkan kepada Notaris BN bermula ketika seseorang bernama ICHK menawarkan sebidang tanah milik BS seluas 7.150 meter persegi dengan harga 400 ribu rupiah permeter persegi kepada AWL dan kawan-kawan. ICHK tersebut telah mendapat Surat Kuasa Jual Beli dari pemilik tanah yaitu BS tersebut.8

Setelah harga disepakati para pihak, maka dilakukanlah pengikatan jual beli di hadapan Notaris BN. Selanjutnya pihak pembeli, AWL mentransfer sejumlah dana uang muka yang disepakati kepada pihak ICHK. Selanjutnya setelah pembayaran yang disepakati dibayarkan pihak pembeli yaitu AWL, maka Notaris BN beserta ICHK berangkat ke Jakarta bertemu dengan pemilik tanah BS untuk menandatangani Akta Jual Beli dengan disetujui istri pemilik tanah yaitu RT. Setelah Akta Jual Beli ditandatangani pemilik tanah, maka pihak AWL melunasi sisa pembayaran atas pembelian tanah tersebut kepada ICHK, yang ternyata sejumlah dana tersebut tidak disetorkannya kepada pihak penjual BS. Karena itu akhirnya pihak BS menarik

(6)

kembali sertipikat hak atas tanah yang dititipkannya kepada Notaris BN, yang menyebabkan proses jual beli beserta balik nama ke atas nama pembeli AWL dan kawan-kawan tidak dapat dilanjutkan, karena itu pihak AWL yang merasa telah membayar lunas dana pembelian tanah tersebut melaporkan pihak ICHK dan Notaris BN kepada pihak berwajib dengan alasan Notaris BN telah melakukan tindak pidana yang melakukan, yang menyuruh lakukan dan yang turut serta melakukan perbuatan dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum dengan memakai nama palsu atau martabat palsu, dengan tipu muslihat, atapun rangkaian kebohongan, menggerakkan orang lain menyerahkan barang sesuatu kepadanya atau supaya memberi hutang maupun menghapuskan piutang.

Pengadilan Negeri Dumai dalam putusannya memvonis Notaris BN telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana secara bersama-sama melakukan penipuan serta menjatuhkan pidana penjara kepada Notaris BN selama 1 (satu) tahun dan 6 (enam) bulan. Selanjutnya Pengadilan Tinggi Riau menguatkan serta memperbaiki putusan Pengadilan Negeri Dumai dengan menjatuhkan pidana penjara selama 2 (dua) tahun. Lebih lanjut Mahkamah Agung dalam putusannya menolak kasasi dari Notaris BN, sehingga dengan demikian Notaris BN terbukti bersalah di pengadilan dan menjadi terpidana dalam kasus tindak pidana yaitu secara bersama-sama melakukan penipuan.

(7)

bersama-sama para penghadap/para pihak untuk membuat suatu akta yang sejak awal diniatkan untuk melakukan tindak pidana. Dalam praktek Notaris seringkali ditarik sebagai pihak yang turut serta melakukan atau membantu melakukan suatu tindak pidana, apabila dalam pelaksanaan perjanjian yang dibuat para pihak terjadi wanprestasi yang menyebabkan kerugian kepada salah satu pihak dalam perjanjian.

Seharusnya seorang Notaris yang menjalankan jabatan Notaris tidak dapat dihukum oleh karena atau berdasarkan perbuatan yang dilakukannya menurut undang-undang yaitu melakukan perbuatan mengkonstatir maksud/kehendak dari pihak-pihak yang menghendaki perbuatan hukum yang mereka lakukan dapat dibuktikan dengan akta otentik, sepanjang dalam melaksanakan jabatannya telah mengikuti prosedur yang ditentukan oleh Undang-undang (lihat khususnya Pasal 16 dan Pasal 17 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 yang berkaitan dengan kewajiban dan larangan).9

Dalam kasus penipuan yang melibatkan seorang Notaris tersebut di atas, tampak bahwa permasalahan penipuan yang diajukan oleh AWL bermula ketika ICHK tidak membayarkan sejumlah uang pelunasan harga jual beli tanah yang telah disepakati kepada pemilik tanah yang menyebabkan pihak pemilik tanah BS membatalkan perjanjian dengan tidak mau menyerahkan sertipikat hak atas tanahnya untuk dilakukan proses balik nama ke atas nama pembeli AWL dan kawan-kawan sehingga tidak dapat diproses sampai selesai oleh Notaris BN. Jadi permasalahan

(8)

timbul bukan pada prosedur atau pembuatan aktanya namun pada tindakan penggelapan atau penipuan yang dilakukan ICHK yang menyebabkan terkendalanya proses pelaksanaan perjanjian.

Berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas, perlu suatu penelitian lebih lanjut mengenai tindak pidana penipuan yang dilakukan oleh Notaris yang akan dituangkan ke dalam judul tesis “Analisis Kasus Putusan Mahkamah Agung No. 439 K/Pid/2010 Atas Tuduhan Penipuan Yang Dilakukan Oleh Oknum Notaris”.

B. Permasalahan

Adapun permasalahan yang akan diteliti lebih lanjut dalam tesis ini adalah: 1. Bagaimana bentuk-bentuk perbuatan Notaris yang dapat dikelompokkan sebagai

tindak pidana penipuan?

2. Bagaimana pertimbangan Mahkamah Agung dalam putusan No. 439 K/Pid/2010 atas tuduhan penipuan yang dilakukan oleh Notaris?

3. Bagaimana perlindungan hukum bagi Notaris atas tuduhan penipuan yang dilakukan Notaris dalam menjalankan tugas dan kewenangannya?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukan di atas maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah :

(9)

2. Untuk mengetahui benar atau tidaknya pertimbangan Mahkamah Agung dalam putusan No. 439 K/Pid/2010 atas tuduhan penipuan yang dilakukan oleh Notaris. 3. Untuk perlindungan hukum bagi Notaris atas tuduhan penipuan yang dilakukan

Notaris dalam menjalankan tugas dan kewenangannya.

D. Manfaat Penelitian

Tujuan Penelitian dan manfaat penelitian merupakan satu rangkaian yang hendak dicapai bersama, dengan demikian dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :

1. Secara teoritis, diharapkan penelitian ini dapat menambah bahan pustaka/literatur mengenai tuduhan penipuan terhadap Notaris dalam menjalankan tugas dan kewenangannya, selain itu penelitian ini diharapkan juga dapat menjadi dasar bagi penelitian pada bidang yang sama.

2. Secara praktis, dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pihak-pihak yang terkait dengan masalah tuduhan penipuan terhadap Notaris dalam menjalankan tugas dan kewenangannya.

E. Keaslian Penelitian

(10)

tetapi ada beberapa penelitian yang menyangkut masalah tugas dan kewenangan Notaris, antara lain penelitian yang dilakukan oleh :

1. Saudari Maria Magdalena Barus (NIM. 087011069), Mahasiwa Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, dengan judul penelitian “Pelanggaran Hukum Pidana Yang Dilakukan Oleh Notaris Dalam Membuat Akta Otentik”, dengan permasalahan yang diteliti adalah:

a. Bagaimana bentuk pelanggaran hukum pidana yang dilakukan oleh Notaris dalam membuat akta otentik?

b. Bagaimana faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya tindak pidana yang dilakukan oleh Notaris dalam membuat akta otentik?

c. Bagaimana upaya hukum dalam mengatasi perbuatan tindak pidana yang dilakukan oleh Notaris dalam membuat akta otentik?

2. Saudari Berlian (NIM. 027005005), Mahasiwa Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, dengan judul penelitian “Perlindungan Hak Asasi Manusia Terhadap Saksi Dalam Proses Penyidikan Tindak Pidana Penipuan di Wilayah hukum Polres Tanah Karo”, dengan permasalahan yang diteliti adalah:

a. Bagaimana hak asasi manusia terhadap seorang saksi dalam proses penyidikan tindak pidana penipuan harus dilindungi?

b. Bagaimana pelaksanaan perlindungan hak asasi manusia terhadap saksi? c. Apa yang menjadi hambatan polisi dalam penegakkan hak asasi manusia

(11)

3. Saudara Wimphy Lasamana (NIM. 077011074), Mahasiwa Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, dengan judul penelitian “Analisis Hukum Terhadap Keterlibatan Notaris Dalam Perkara Pidana”, dengan permasalahan yang diteliti adalah:

a. Apa yang menyebabkan Notaris terlibat dalam perkara pidana?

b. Bagaimana prosedur pemeriksaan Notaris yang diduga terlibat dalam perkara pidana?

c. Bagaimana pertanggung jawaban Notaris yang terbukti secara sah dan meyakinkan terlibat dalam perkara pidana?

4. Saudara Mirza Baharsan (NIM. 047011045), Mahasiwa Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, dengan judul penelitian “Identifikasi Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Sengketa Atas Akta Jual Beli Yang Dibuat Oleh Notaris (Kajian Putusan Suatu Penelitian di Pengadilan Negeri Medan)”, dengan permasalahan yang diteliti adalah:

a. Faktor-faktor apakah yang menyebabkan terjadinya sengketa atas akta jual beli yang dibuat di hadapan Notaris/ Pejabat Pembuat Akta Tanah?

b. Apa akibat hukum bagi Notaris/ Pejabat Pembuat Akta Tanah setelah perkaranya diputus oleh Pengadilan Negeri Medan?

c. Bagaimana cara mencegah terjadinya sengketa atas akta jual beli yang dibuat di hadapan Notaris/ Pejabat Pembuat Akta Tanah?

(12)

Terhadap Akta Otentik yang Dibuat Dan Berindikasi Perbuatan Pidana”, dengan permasalahan yang diteliti adalah:

a. Faktor apakah yang menyebabkan Notaris diperlukan kehadirannya dalam pemeriksaan perkara pidana?

b. Bagaimana tanggung jawab Notaris sebagai pejabat umum terhadap akta otentik yang dibuat dan berindikasi perbuatan pidana?

c. Bagaimana fungsi dan peranan Majelis Pengawas Daerah terhadap pemanggilan Notaris pada pemeriksaan perkara pidana?

6. Saudara Andi Mulia Azmi (NIM. 097011010), Mahasiswa Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, dengan judul penelitian “Perlindungan Hukum Bagi Notaris Terhadap Akta Yang Dijadikan Dasar Pemeriksaan Polisi”, dengan permasalahan yang diteliti adalah :

a. Bagaimana kriteria akta Notaris yang dapat diberikan MPD untuk dapat diperiksa polisi ?

b. Bagaimana pelaksanaan perlindungan hukum bagi Notaris yang aktanya menjadi dasar pemeriksaan oleh polisi?

(13)

F. Kerangka Teori dan Konsepsi

1. Kerangka Teori

Dalam setiap penelitian harus disertai dengan pemikiran-pemikiran teoritis, teori adalah untuk menerangkan dan menjelaskan gejala spesifik untuk proses tertentu terjadi.10 Teori menguraikan jalan pikiran menurut kerangka yang logis artinya mendudukkan masalah penelitian yang telah dirumuskan didalam kerangka teoritis yang relevan, yang mampu menerangkan masalah tersebut.

Teori yang digunakan sebagai pisau analisis dalam penelitian ini adalah teori dari Hans Kelsen tentang tanggung jawab hukum. Satu konsep yang berhubungan dengan konsep kewajiban hukum adalah konsep tanggung jawab hukum. Bahwa seseorang bertanggung jawab secara hukum atas suatu perbuatan tertentu atau bahwa dia memikul tanggung jawab hukum, subyek berarti bahwa dia bertanggung jawab atas suatu sanksi dalam hal perbuatan yang bertentangan.11

Teori tanggung jawab hukum diperlukan untuk dapat menjelaskan antara tanggung jawab Notaris yang berkaitan dengan kewenangan Notaris berdasarkan UUJN yang berada dalam bidang hukum perdata. Kewenangan ini salah satunya adalah menciptakan alat bukti yang dapat memberikan kepastian hukum bagi para pihak, kemudian menjadi suatu delik atau perbuatan yang harus dipertanggung jawabkan secara pidana. Pertanggung jawaban secara pidana berarti berkaitan dengan

10 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Universitas Indonesia Press, Jakarta, 1986, hal. 122

11Hans Kelsen (Alih Bahasa oleh Somardi),General Theory Of Law and State,Teori Umum

Hukum dan Negara, Dasar-dasar Ilmu Hukum Normatif Sebagai Ilmu Hukum Deskriptif-Empirik,

(14)

delik. Dari sudut pandang ilmu hukum murni, delik dikarakterisasi sebagai kondisi dari sanksi. Menurut pengertian ilmu hukum delik adalah perbuatan seseorang terhadap siapa sanksi sebagai konsekuensi dari perbuatannya itu diancamkan.12

Definisi delik sebagai perbuatan seseorang individu terhadap siapa sanksi sebagai konsekuensi dari perbuatannya itu diancamkan, mensyaratkan bahwa sanksi itu diancamkan terhadap seseorang individu yang perbuatannya dianggap oleh pembuat undang-undang membahayakan masyarakat, oleh karena itu oleh pembuat undang-undang diberikan sanksi untuk mencegahnya. Menurut ketentuan hukum pidana sanksi biasanya ditetapka hanya untuk kasus-kasus dimana akibat yang tidak dikehendaki oleh masyarakat telah ditimbulkan baik secara sengaja maupun tidak. Menurut Hans Kelsen:

Kegagalan untuk melakukan kehati-hatian yang diharuskan oleh hukum disebut "kekhilapan" (negligence); dan kekhilapan biasanya dipandang sebagai satu jenis lain dari "kesalahan" (culpa), walaupun tidak sekeras kesalahan yang terpenuhi karena mengantisipasi dan menghendaki, dengan atau tanpa maksud jahat, akibat yang membahayakan.13

Adanya kewenangan Notaris yang diberikan oleh undang-undang Jabatan Notaris, berkaitan dengan kebenaran materiil atas akta otentiknya, jika dilakukan tanpa kehati-hatian sehingga membahayakan masyarakat dan atau menimbulkan kerugian baik yang dilakukan dengan sengaja maupun tidak dan perbuatan tersebut diancam dan atau memenuhi unsur-unsur tindak pidana, maka Notaris harus mempertanggung jawabkan perbuatan tersebut secara pidana.

(15)

Konsep ini menunjukkan adanya kompromi antara hukum yang bersifat tertulis sebagai suatu kebutuhan masyarakat hukum demi kepastian hukum danliving law sebagai wujud dari pembentukan dari pentingnya peranan masyarakat dalam pembentukan dan orientasi hukum.14 Aktualisasi dari living law tersebut bahwa hukum tidak dilihat dalam wujud kaidah melainkan perkembangannya dalam masyarakat itu sendiri.

Lembaga notariat merupakan salah satu lembaga penegak hukum yang diperlukan masyarakat untuk ikut serta menjaga tetap tegaknya hukum, sehingga Notaris diharapkan dapat membantu dalam menciptakan ketertiban, keamanan dan menciptakan kepastian hukum dalam masyarakat.

Profesi Notaris merupakan suatu pekerjaan dengan keahlian khusus yang menuntut pengetahuan luas, serta tanggung jawab yang berat untuk melayani kepentingan umum dan inti tugas Notaris adalah mengatur secara tertulis dan otentik hubungan-hubungan hukum antara para pihak yang secara mufakat meminta jasa Notaris. Notaris perlu memperhatikan apa yang disebut sebagai perilaku profesi yang memiliki unsur-unsur sebagai berikut:15

a. Memiliki integritas moral yang mantap; b. Harus jujur terhadap klien maupun diri sendiri; c. Sadar akan batas-batas kewenangannya;

14 Lili Rasjidi dan I. B. Wiyasa Putra, Hukum Sebagai Suatu System, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1986), hlm.79.

(16)

d. Tidak semata-mata berdasarkan pertimbangan uang.

Notaris dalam menjalankan jabatannya harus memperhatikan dan tunduk pada Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris disingkat UUJN dan Kode Etik Notaris yang merupakan peraturan yang berlaku bagi pedoman moral profesi Notaris.

Kewenangan Notaris sebagai penjabaran dari Pasal 1 angka 1 UUJN terdapat dalam Pasal 15 UUJN:16

(1)Notaris berwenang membuat akta otentik mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan ketetapan yang diharuskan oleh peraturan perundang-undangan dan/atau yang dikehendaki oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam akta otentik, menjamin kepastian tanggal pembuatan akta, menyimpan akta, memberikan grosse, salinan dan kutipan akta, semuanya itu sepanjang pembuatan akta-akta itu tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat lain atau orang lain yang ditetapkan oleh Undang-undang. (2)Notaris berwenang pula :

a. mengesahkan tanda tangan dan menetapkan kepastian tanggal surat di bawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus;

b. membukukan surat-surat di bawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus;

c. membuat kopi dari asli surat-surat di bawah tangan berupa salinan yang memuat uraian sebagaimana ditulis dan digambarkan dalam surat yang bersangkutan;

d. melakukan pengesahan kecocokan fotokopi dengan surat aslinya; e. memberikan penyuluhan hukum sehubungan dengan pembuatan akta; f. membuat akta yang berkaitan dengan pertanahan; atau

g. membuat akta risalah lelang.

(3)Selain kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), Notaris mempunyai kewenangan lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.

16Hadi Setia Tunggal,Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Jabatan Notaris dilengkapi

(17)

Dari Pasal tersebut dapat disimpulkan bahwa kewenangan Notaris selain untuk membuat akta otentik juga ditugaskan untuk melakukan pendaftaran dan mengesahkan (waarmerken dan legaliseren)17 surat-surat/akta-akta yang dibuat dibawah tangan serta memberikan nasehat/penyuluhan hukum dan penjelasan

mengenai undang-undang terutama yang berkaitan dengan isi dari akta yang dibuat para pihak di hadapan Notaris.

Dari definisi dan kewenangan Notaris berdasarkan UUJN tersebut, selanjutnya Sutrisno dalam bukunya Komentar Atas UU Jabatan Notaris, berpendapat bahwa Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta otentik, mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan ketetapan yang diharuskan oleh peraturan perundang-undangan dan/atau yang dikehendaki oleh yang berkepentingan, untuk dinyatakan dalam akta otentik, menjamin kepastian tanggal pembuatan akta, menyimpan akta, memberikan grosse, salinan dan kutipan akta, semuanya itu sepanjang pembuatan akta-akta itu tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat lain atau orang lain yang ditetapkan oleh undang-undang.18

Notaris sebagai pejabat umum karena Notaris diangkat dan diberhentikan oleh kekuasaan pemerintah dan diberikan wewenang serta kewajiban untuk melayani publik (kepentingan umum) dalam hal-hal tertentu, oleh karena itu Notaris ikut melaksanakan kewibawaan pemerintah.

17 Waarmerking, yaitu membukukan surat-surat di bawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus, sedangkan Legalisasi adalah mengesahkan tanda tangan dan menetapkan kepastian tanggal surat di bawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus.

(18)

Notaris sebagai pejabat umum melaksanakan bentuk pelayanan Negara kepada rakyatnya yaitu Negara memberikan kesempatan kepada rakyatnya untuk memperoleh tanda bukti atau dokumen hukum yang berkaitan dengan perbuatan hukum dalam lingkup hukum perdata. Untuk keperluan tersebut diberikan kewenangan kepada Pejabat Umum yang dijabat oleh Notaris, dan minuta atas akta tersebut menjadi milik Negara yang harus disimpan dan dijaga oleh Notaris sampai batas waktu yang ditentukan.

Sebagai bentuk menjalankan kekuasaan Negara maka yang diterima oleh Notaris dalam kedudukan sebagai Jabatan (bukan profesi), karena menjalankan jabatan seperti itu, maka Notaris memakai lambang Negara, yaitu Burung Garuda. Dengan kedudukan seperti tersebut diatas, maka dapat dikatakan bahwa Notaris menjalankan sebagian kekuasaan Negara dalam bidang hukum perdata, yaitu untuk melayani kepentingan rakyat yang memerlukan bukti atau dokumen hukum berbentuk akta otentik yang diakui oleh Negara sebagai bukti yang sempurna. Sebagai pejabat umum Notaris mempunyai tugas yang berat yaitu memberikan pelayanan hukum kepada masyarakat yaitu pembuatan akta otentik guna tercapainya kepastian hukum.

(19)

kepentingan tersebut diperlukan tindakan-tindakan preventif yang khusus, antara lain juga mempertahankan kedudukan akta-akta otentik khususnya akta-akta Notaris.19

Dari batasan pengertian dan kewenangan Notaris tersebut jelas bahwa produk akta yang dibuat oleh Notaris adalah merupakan alat bukti otentik yang kuat dan penuh. Agar akta tersebut berfungsi sesuai tujuannya yaitu sebagai alat bukti otentik hendaknya akta tersebut dapat dibuktikan keotentikannya, sehingga akta tersebut secara yuridis dapat menjamin adanya kepastian hukum. Untuk itu hendaknya dalam pembuatan akta tersebut harus memenuhi ketentuan pembuatan dan persyaratan yang ditentukan oleh undang-undang baik secara formil maupun materiil bahwa isinya tidak bertentangan dengan undang-undang. Untuk membuat akte otentik, seseorang harus mempunyai kedudukan sebagai pejabat umum. Di Indonesia, seorang advokat, meskipun ia seorang yang ahli dalam bidang hukum, tidak berwenang untuk membuat akte otentik, karena ia tidak mempunyai kedudukan sebagai pejabat umum, sebaliknya seorang Pegawai Catatan Sipil meskipun ia bukan ahli hukum, ia berhak membuat akta-akta otentik untuk hal-hal tertentu, umpamanya untuk membuat akte kelahiran atau akte kematian. Demikian itu karena ia oleh Undang-undang ditetapkan sebagai pejabat umum dan diberi wewenang untuk membuat akta-akta itu.20

(20)

menghendaki perbuatan hukum yang dituangkan ke dalam akta otentik, namun dalam prakteknya Notaris seringkali ditarik sebagai pihak yang turut serta melakukan atau membantu melakukan suatu tindak pidana, apabila dalam pelaksanaan perjanjian terjadi wanprestasi oleh salah satu pihak.

2. Konsepsi

Konsepsi adalah salah satu bagian terpenting dari teori, peranan konsepsi dalam penelitian ini untuk menggabungkan teori dengan observasi, antara abstrak dan kenyataan. Konsep diartikan sebagai kata yang menyatukan abstraksi yang digeneralisasikan dari hal-hal yang khusus yang disebut defenisi operasional.21 Menurut Burhan Ashshofa, suatu konsep merupakan abstraksi mengenai suatu fenomena yang dirumuskan atas dasar generalisasi dari jumlah karakteristik kejadian, keadaan, kelompok atau individu tertentu.22

Adapun uraian dari pada konsep yang dipakai dalam penelitian ini adalah: a. Konsekuensi Hukum adalah akibat hukum yang timbul dari adanya suatu

perbuatan/peristiwa.

b. Tindak Pidana adalah tindakan kriminal yaitu tindakan yang berkaitan dengan kejahatan atau pelanggaran hukum yang dapat dihukum menurut undang-undang hukum pidana.

c. Penipuan adalah segala perbuatan-perbuatan yang bersifat menipu dan membohongi orang lain.

(21)

d. Notaris adalah Pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta otentik dan kewenangan lainnya yang sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Jabatan Notaris.23

e. akta otentik ialah suatu akta yang didalam bentuk yang ditentukan oleh undang-undang, dibuat oleh atau di hadapan pegawai-pegawai umum yang berkuasa untuk itu di tempat di mana akta dibuatnya

G. Metode Penelitian

1. Sifat dan Jenis Penelitian

Sifat dari penelitian ini adalah bersifat deskriptif analisis, bersifat deskriptif analisis maksudnya dari penelitian ini diharapkan diperoleh gambaran secara rinci dan sistematis tentang permasalahan yang akan diteliti. Analisis dimaksudkan berdasarkan gambaran, fakta yang diperoleh akan dilakukan analisis secara cermat untuk menjawab permasalahan.24

Dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian hukum yuridis normatif, yang disebabkan karena penelitian ini merupakan penelitian hukum doktriner yang disebut juga penelitian kepustakaan atau studi dokumen yang dilakukan atau ditujukan hanya pada peraturan-peraturan yang tertulis atau bahan hukum yang lain.25 Meliputi penelitian terhadap asas-asas hukum, sumber-sumber hukum, peraturan perundang-undangan yang bersifat teoritis ilmiah serta dapat menganalisis 23Republik Indonesia, Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, Pasal 1 angka (1)

24Sunaryati Hartono,Penelitian Hukum Indonesia Pada Akhir Abad ke-20, Alumni, Bandung, 1994, hal. 101

25B

(22)

permasalahan yang dibahas,26 serta menjawab pertanyaan sesuai permasalahan-permasalahan dalam penulisan tesis ini.

2. Sumber Data/Bahan Hukum

Sumber data dalam penelitian ini adalah data sekunder. Sumber data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a). Bahan hukum primer.27

Yaitu bahan hukum yang mempunyai kekuatan mengikat sebagai landasan utama yang dipakai dalam rangka penelitian ini di antaranya adalah Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014, Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah beserta peraturan pelaksanaannya, serta peraturan-peraturan lain yang berkaitan ketentuan jabatan dan kode etik Notaris di Indonesia.

b). Bahan hukum sekunder.28

Yaitu bahan-bahan yang erat hubungannya dengan bahan hukum primer dan dapat membantu menganalisis dan memahami bahan hukum primer, seperti hasil-hasil penelitian, hasil seminar, hasil karya dari para ahli hukum, serta dokumen-dokumen lain yang berkaitan dengan masalah tuduhan tindak pidana penipuan yang dilakukan Notaris.

26Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji,Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1995, hal. 13

27Ronny Hanitijo Soemitro,Metodologi Penelitian Hukum dan Juritmetri, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1990, hal. 53

(23)

c). Bahan hukum tertier.29

Yaitu bahan-bahan yang memberikan informasi tentang bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder seperti kamus hukum, surat kabar, makalah yang berkaitan dengan objek penelitian.

Selain data sekunder sebagai sumber data utama, dalam penelitian ini juga digunakan data primer sebagai data pendukung yang diperoleh dari wawancara dengan pihak-pihak yang telah ditentukan sebagai informan atau narasumber.

3. Teknik Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan data yang diperlukan, pengumpulan data dilakukan melalui tahap-tahap penelitian antara lain sebagai berikut :

a. Studi Kepustakaan (Library Research).

Studi Kepustakaan ini dilakukan untuk mendapatkan atau mencari konsepsi-konsepsi, teori-teori, asas-asas dan hasil-hasil pemikiran lainnya yang berkaitan dengan permasalahan penelitian ini.

b. Wawancara.

Hasil wawancara yang diperoleh akan digunakan sebagai data penunjang dalam penelitian ini. Data tersebut diperoleh dari pihak-pihak yang telah ditentukan sebagai informan atau narasumber yang dianggap mengetahui kaidah-kaidah serta etika profesi Notaris terkait masalah tuduhan tindak pidana penipuan yang dilakukan Notaris yaitu pihak Majelis Pengawas Daerah dan Majelis Pengawas Wilayah Notaris.

(24)

Alat yang digunakan dalam wawancara yaitu menggunakan pedoman wawancara sehingga data yang diperoleh langsung dari sumbernya dan lebih mendalam sehingga dapat dijadikan bahan guna menjawab permasalahan dalam tesis ini.

4. Analisis Data

Dalam suatu penelitian sangat diperlukan suatu analisis data yang berguna untuk memberikan jawaban terhadap permasalahan yang diteliti. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Penelitian dengan menggunakan metode kualitatif bertolak dari asumsi tentang realitas atau fenomena sosial yang bersifat unik dan kompleks. Padanya terdapat regularitas atau pola tertentu, namun penuh dengan variasi (keragaman).30

Selanjutnya, data sekunder yang diperoleh dari penelitian kepustakaan (library research) disusun secara berurutan dan sistematis dengan menggunakan metode kualitatif sehingga diperoleh gambaran secara menyeluruh tentang gejala dan fakta yang terdapat dalam masalah konsekuensi hukum tindak pidana penipuan yang dilakukan Notaris. Selanjutnya ditarik kesimpulan dengan menggunakan metode berpikir deduktif, yaitu cara berpikir yang dimulai dari hal-hal yang umum untuk selanjutnya menarik hal-hal yang khusus, dengan menggunakan ketentuan berdasarkan pengetahuan umum seperti teori-teori, dalil-dalil, atau prinsip-prinsip dalam bentuk proposisi-proposisi untuk menarik kesimpulan terhadap fakta-fakta yang bersifat khusus,31 guna menjawab permasalahan-permasalahan yang telah dirumuskan dalam penelitian ini.

30Burhan Bungin,Analisa Data Penelitian Kualitatif, Pemahaman Filosofis dan Metodologis

Kearah Penguasaan Modal Aplikasi, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2003, hal. 53

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...